Disclaimer : Lee Myoung Joon and Lyto corp.
_________________________________________________________________________________
Freya Lincarge, seorang pewaris darah warlock kenamaan. Berparas jelita dengan kulit putih merona, helai demi helai biru langit bermega yang selalu mengundang embusan angin menyapu di sekeliling, manik biru langit malam yang kerap kali menenggelamkan pasang-pasang mata yang berebut sesuap kerling mata tanda cinta atau hanya goda manis sekejap semata. Atau juga seorang gadis sembilan belas tahun yang tengah dipersiapkan untuk menjadi pengantin yang sempurna bagi sang mempelai pria, dengan pelatihan memasak dari sang kakak kedua, kursus menjahit kilat dari sang kakak sulung, tak lupa seni berkebun dan merangkai bunga dari sang ibu.
Banyak mata demi mata kelaparan menatap dirinya? Oh, jangan pernah berani untuk bertanya.
Meski sayangnya, setiap kali para entitas yang dinamakan laki-laki itu bernyali untuk mengajaknya berkencan, dapat dipastikan hari esoknya Freya tak akan pernah lagi menemukan wajah laki-laki yang bersangkutan... setidaknya tidak untuk satu tahun ke depan.
Freya pun tidak peduli. Toh matanya berhasil menangkap figur dambaan dari sang rune knight muda, tak peduli meski pujaan hatinya alih-alih menambatkan hidup pada, ehm, adik angkatnya. Sakit? Tentu saja. Apa yang kurang darinya? Cantik, pintar, berbakat di profesinya sebagai pengguna kekuatan sihir kelas profesional. Dibandingkan Echo yang punya tubuh lemah, yang hanya berprofesi sebagai boneka kesayangan para petarung istana dengan kekuatan penyembuh-di-jalan-Tuhannya.
Namun, takdir tinggal takdir. Bahkan ketika sang adik bungsu meninggalkan Rune Midgard untuk selamanya, Freyr tidak pernah satu detik pun mengalihkan pandang padanya, bahkan untuk sekedar pelarian semata. Tidak pernah.
Freyr yang selamanya menjadi Freyr, mencintai Echo dalam dukanya.
Freya yang selamanya... mencintai Freyr dalam perih cemburu mengusik di hati? Oh, maaf saja.
Midgard masih punya segudang pria-pria tolol-lapar-cinta yang mampu bertekuk lutut di hadapannya dalam hitungan waktu setengah jam saja.
Yang jadi masalah... mengapa selama ini semuanya tidak pernah berjalan semudah perkiraannya?
****
Malam hari. Pintu rumah yang dibuka. Berpasang-pasang mata yang akrab di ingatan. Awalnya Freya berjengit. Magus wajar saja berada di sana--apalagi kalau bukan atas alasan mengapel sang kakak sulung? Faux? Ah, kurang bosan apa ranger satu itu untuk terus membuntuti dirinya, menghujaninya dengan bergalon-galon rasa cinta, perhatian, dan curahan rindu tiada terperi? Tapi sampai ada si kembar Leon dan Freyr...
... wajah Freya disengat panas membakar seketika.
Sapa hangat Magus. "Hei, Frey... gimana kencannya hari ini?"
Dengus gerutu Faux. "Kamu engga diapa-apain sama si whitesmith-baru-jadi itu, 'kan?"
"Eng--engga kok. Seperti biasa, sih... makan malem, di tengah-tengah dia permisi, katanya mau bawa kejutan buat aku... dikasih tiaranya Maya, sih, lumayan, tapi habis itu tampangnya pucet, terus buru-buru nganter aku pulang, Kutawarin masuk dulu buat minum teh juga engga mau."
"Hmm.... Jadi, masih lebih mending Faux dong ya, ketimbang cowok ingusan barusan?"
Kalau melihat mantan pujaan hati hanya sebatas menimbulkan sensasi panas menggeletik di wajah, celetukan tengil-penuh-kesengajaan Leon berhasil membuat jantung Freya berdebar tiga kali lipat dari biasanya. Satu gerakan cepat, gerak mulut yang tidak dapat ditangkap gendang telinga, dan Freya menghilang dari kaki tangga, buru-buru masuk ke dalam kamarnya, demi mendinginkan wajah merah padamnya dalam pelukan bantal raksasa dengan aroma wangi mawar yang memabukkan.
****
"BUAHHAHAAHAHAHAAA--"
Satu lemparan bantal duduk. Pelakunya adalah seorang guillotine cross wanita yang duduk menyilangkan tangan dengan raut wajah yang tak bisa dibaca. Korbannya adalah seorang royal guard tampan dengan seringai maut-yang-sebetulnya-membuatnya-berkali-kali-lebih-tampan bertengger menghiasi wajah.
"Magus, Magus... berani bener lo, nanya dengan intonasi sok polos kayak tadi?"
"Sorry, Guys. Tangan gue bersih kali ini. Gue dateng telat, bahkan hampir engga kebagian kejadian serunya. Dan kalian masih bisa bilang ini ulah gue?"
Satu cubitan menyengat di pinggang sang sorcerer dari sang kekasih tercinta.
"Tapi itu 'kan ide lo, gila! Masih berani mungkir--"
"Hey...! Gimana Freya barusan?"
"Woi, barusan bukan ide gue! Itu ide gila si om mesum yang baru aja dateng, tuh!"
"Harap maklum... otak om biasanya langsung encer kalau menyangkut komplikasi cinta para anak laki-laki om."
"Yang pasti ini membuktikan kalau cowok barusan cuma pecundang sok jago yang engga pantes buat Freya. Ditakutin pake katar karatan dapet minjem punya Aka aja ngibrit."
"Yoi, Faux anakku... belum kayak calon guild master-nya minstrel yang gigih berjuang selama sebulan sebelum akhirnya dia dilempar ke Pulau Dewata buat dapet tanda tangannya Leak. Dan kamu masih hutang satu buah Yggdrasil atas jasa warp-portal-tepat-di-depan-mata-Leak, layanan khusus ayah gantengmu ini."
"... bapak sama anak sama gilanya."
"Apa, Freyr??"
"Err... engga, lupakan."
"Jadi, tuan putri kita masih aman, nih?"
"Tinggal tunggu waktu aja, sampai tuan putri mau membuka hatinya untuk Faux, sang pangeran berkuda putih yang dipastikan akan memenangkan hati sang putri...."
"... dengan cara apapun."
Satu desah napas. Akachi melengos dari tempat duduknya.
Ternyata bukan cuma kakak sulung keluarga Lincarge yang mati-matian menjaga sang adik bungsu dari ancaman serangga-serangga nakal....
Oom Rayaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa *peluk cium sampe penyet*
ReplyDeletebegitu gw baca lagi, gw jadi merasa prihatin sama Freya.... =_____=
Deletekenapa prihatin? karena perjalanan cintanya selalu diinterupsi oleh seorang hunter kurang kerjaan?
Deletecara warga sekampung nyomblangin dia secara ngga langsung sama Faux itu loh... #ketawagulingguling #disantetkorban2nyaFreya
Deletedan kenapa Freyr selalu melontarkan komentar-komentar sableng? Ga sadar diri apa dia?
Delete