20130115

Love Potion #4

"Jadi, mau pasang berapa?"

"E--senpai, ini seriusan mau dijadiin taruhan?"

"Ahou! Ini namanya k-o-n-s-p-i-r-a-s-i, bukan taruhan! Siapa yang mau pasang duluan?"

"Tapi kalau ketauan...."

"... masih untung kita peduli, betul engga?"

"Yoi, Akito emang paling ngerti. So, siapa duluan, nih?"

"Gue pasang, tiga minggu dari sekarang!"

"Haha, punya nyali juga lo, Wataru. Yang lain?"

"Hmm, satu tahun?"

"Kelamaan, Luke... si Nandi keburu disamber Kaito kalau gitu ceritanya, sih."

"Lo sendiri pasang berapa, Shinji?"

"Gue? Seminggu cukup."

"Eh gembel...! Huahahahaaa!!"

"Rio?"

"Taruhan paling spesifik, pas Nandi ulang tahun!!"

"Artinya sebulan lagi, ya? Orisinil dan sangat memungkinkan untuk terjadi, apalagi buat cowok macem Andreas. Wah, bisa-bisa kamu kalah, Aniki."

"Bodo. Gue sih penganut aliran makin-cepat-makin-baik-toh-cowoknya-pun-udah-kebelet, jadi yaaa--"

"Kalian ngapain?"

Senyum-senyum tolol, seringai pongah, tak lupa lembar maupun keping lima ratus sampai seribu yen yang kemudian disembunyikan. Sempurna. Membuat Andreas, Nandi, Leyka, dan Asaka saling mengerutkan kening.

"Gimana Lyra?"

"Udah baikan, masih demam tapinya. Chiharu yang nemenin di ruang kesehatan."

"Ooh...."

"Terus, kalian barusan ngapain? Kok pada mesam-mesem-mesum gitu?"

Belum sempat ada yang menjawab, wajah Nandi keburu merona matang sementara Asaka mengacungkan bogemnya, satu pitak urat menyembul di pelipis.

Para lelaki yang punya gangguan otak kronis itu sepertinya harus bersiap-siap untuk memasuki stadium empat penyakit mereka.... Dan mereka menyebut reaksi Nandi dan Asaka tadi sebagai, ehm, intuisi wanita.

Betapa intuisi wanita merupakan suatu kata benda yang sakral dan sederhana, namun bisa berbalik menjadi sangat, sangat berbahaya.

No comments:

Post a Comment