20120820

Blue Feather #part1

"Putus?"

"... iya, Aki. Aku minta, kita putus."

"Hah?! Kok tiba-tiba? Kamu sakit? Galau? Aku ada salah ya sama kamu? Kenapa--"

"Aki, dengerin dulu. Ini bukan masalah kamu ada salah atau apa. Kamu engga pernah salah apa-apa. Ini cuma... kita engga bisa bareng lagi, engga bisa."

"Iya, tapi kenapa?"

"... aku bakal ditunangin, sama calon pilihan ayah. Hari Sabtu nanti aku ketemu sama calon tunanganku itu. Maaf ya, Aki. Maaf...."


****


Akito keras-keras mendentingkan tuts-tuts piano di ruang kesenian. Hatinya gusar. Gundah. Perasaan yang ia sendiri tidak mengerti apa. Membayangkannya saja membuatnya mengigil dalam geram. Lalu bagaimana ia mau mengerti?

Semudah itu Asaka mencampakannya. Semudah itu, dan Asaka berpaling darinya, jatuh pada pelukan seorang pria yang sama sekali belum dikenal. Dan semudah itu ia menyerah. Ia tidak mengatakan apapun. Lidahnya kelu. Tengkuknya mandi keringat dingin. Akito tidak ingin mengakhiri, tapi juga tidak tahu bagaimana caranya.

Karena Asaka, yang ia inginkan hanya kebahagiaan gadis itu. Seorang laki-laki lain pilihan keluarga, Akito yakin bahwa pilihan itu akan membuat Asaka bahagia.

Tapi, benarkah begitu?

Kenyataan bahwa sensasi bibir lembut Asaka yang masih tertinggal di ujung bibirnya itu membelenggunya. Lemah. Untuk pertama kalinya Akito merasa dirinya sedang naik kapal laut yang diombang-ambing badai samudera luas. Gelap. Kosong. Ia tidak bisa melihat daratan. Ia tidak bisa melihat kenyataan.

Ia tidak bisa melihat hari esok.

Meski Akito tahu satu hal...

... seperti ini rasanya dihujam oleh cinta.


****


"Kamu... bener-bener bakal milih dia?"

Diam. Asaka tidak menjawab apapun. Hanya menunduk. Menyembunyikan tangis yang nyaris meluncur ke pipi.

Satu helaan napas dari pemuda di hadapannya itu.

"Oke, kita putus. Tapi, aku minta satu syarat."

Asaka mendongak. Matanya menemukan iris cokelat susu itu menatapnya dalam. Penuh arti. Penuh luka. Tapi juga penuh cinta.

"Syaratnya, kayak gimana pun cowoknya... kamu harus bahagia. Kamu denger aku, Asa? Kamu--harus--bahagia."

Asaka mengangguk pelan. Tenggorokannya tidak lagi bisa mengeluarkan sepatah kata pun. Bagaimana ia bisa bahagia apabila ia--andaikan seekor burung--harus berpisah dengan satu sayap yang selalu mampu membawanya terbang tinggi? Namun itu adalah keinginan Akito untuknya. Agar ia selalu bahagia, ada atau tidak ada pemuda itu dalam hidupnya.

Lantas bulir-bulir air mata itu tak sanggup lagi ia bendung. Bahunya bergetar. Asaka menangis dalam diam.

Dan detik berikutnya, yang ia rasa hanyalah bibir yang mencuri perhatiannya, mencumbu lembut di bibirnya. Ciuman pertamanya, yang penuh luka dan kata perpisahan.


20120814

Sloka

<Sampaikan seruanku pada Brahma, aku tidak takut meskipun kau mampu menghancurkan sekutuku sekalipun!>

<Langit dan Bumi memang miliknya, tapi waktu dan kematian ada di tanganku!>



****


"Engga ada cara sama sekali, Yo?"

Rio menunduk dalam-dalam, menyembunyikan bulir-bulir keringat besar yang menghujani dahinya, sebagaimana gusar dan gemetar yang ia tutup rapat-rapat di hadapanku.

Aku mengulang pertanyaanku,

"Tidak ada jalan lain, Satrio? Tidak ada satu pun?"

Di antara asa yang menguap tinggi, ia menjawab, lirih. Kepalanya menggeleng lemah.

"Engga ada, Ndre.... Engga ada."

Aku menghela napas--tanpa sadar. Kurebahkan tubuhku di atas sofa hitam berlengan di belakangku. Bunyinya berdebam keras, seolah beban tubuhku melipat ganda dari yang kelihatannya. Ah, tentu saja. Betapa pundak ini terasa jauh... jauh lebih berat dari sebelumnya. Dan sesuatu dalam diriku yang meraung-raung kesakitan, penuh luka.

"Ndre?"

Aku tak menjawab. Hanya kutatap nanar pemuda di depanku itu. Rio yang tak lagi berusaha menenggelamkan gelisahnya mati-matian terhadapku... meski sorot matanya begitu ragu dan takut-takut.

"Ndre... maaf."

Bola mataku sedikit melebar. Dan Rio yang kembali berkutat dengan segala rasa dalam dirinya. Aku tahu, bukan hanya aku yang dikekang perih ini. Rio juga sama. Tidak, mungkin Rio lebih parah. Ia yang pulang dalam keadaan babak belur, harga yang harus dibayarnya untuk membawa pulang kenyataan padaku. Rio yang tak lepas dari mimpi buruk dan kubangan peluh di malam harinya. Rio yang melihat lebih banyak lagi tentang mereka.

Nama-nama yang sering diteriakan Rio dalam mimpinya. Nara. Dan... Nandi.

Nandi....

Sesuatu dalam dadaku seolah diperas.

"Lo... engga perlu minta maaf, Yo," ucapku pada akhirnya. Aku berdiri, melangkah ke hadapannya, meninju pelan bahunya. "Lo udah berusaha yang terbaik. Lo masih bisa pulang juga gue udah bersyukur banget. Sekarang lo istirahat aja. Urusan langkah selanjutnya, gue butuh mikirin lebih lanjut malem ini."

Rio lantas menatapku. Ada sorot matanya yang berusaha menguliti isi otakku habis-habisan.

"... jangan terlarut dengan cerita yang gue sampein tadi. Tentang dia... tentang Nandi...."

Aku terhenyak. Sepertinya Rio tahu apa isi kepalaku.

Pemuda itu lantas membungkuk hormat padaku singkat, sebelum membalikan tubuhnya dan pergi meninggalkanku seorang diri dalam ruangan itu. Tanpa sedikit pun melihat ke belakang. Tanpa memastikan raut wajah apa yang menggenangi mukaku saat itu.

Aku? Ya....

Dan sisa malamku lantas kuhabiskan hanya dengan satu nama berlarian di otakku. Nama yang manis, seindah aku melihat seekor angsa putih berenang elok di danau berteratai dan nyanyian kodok. Begitu manis dan rindu, bahkan hingga mampu mengeringkan tenggorokanku.

Nama itu... Nandi. Nandi....


"Ndre, Nandi udah engga ada. Jiwanya yang habis dimakan manifestasi Shiva, Ma Kali... gue lihat sendiri. Dan engga ada yang bisa kita lakuin. Kita cuma bisa kalahin Shiva, tapi Nandi engga bisa kita tolong lagi."

"Nandi engga akan balik lagi sama kita, Ndre. Engga akan...."


Malam itu, suara parauku hanya sanggup meneriakan satu nama. Membiarkan perih yang terus bermain dalam jiwa, tanpa pernah mengizinkan satu tetes air mata turun membasahi sisi wajahku.


****


"Ndre gimana?"

"... haha, engga tau. Kayak mayat idup, Ley."

Satu jitakan mampir di kepala Rio.

"Jangan ngomong gitu! Lo engga tau, segimana Andre berusaha bertahan di sini, masih berusaha berpikir positif, masih berusaha nyari cara-cara lain, masih berusaha--"

"--karena dia engga lihat apa yang gue lihat, Ley."

Kali ini, sebuah tamparan menyengat mampir di pipi Rio.

"Tugas lo, Satrio... tugas lo untuk jadi mata bagi Ndre, untuk melihat hal-hal yang engga bisa dia lihat... hal-hal yang engga sanggup untuk dia lihat. Kita udah janji, bahkan sama diri sendiri, kita akan saling ngejaga satu sama lain. Lo lupa akan hal itu, Yo? Terus kalau lo lupa, buat apa lo nekat pergi ke Sarang Naga? Buat apa lo bela-belain--"

Kepala Rio mendarat di bahu Leyka. Ada helaan napas berat. Lelah.

"Maaf, Ley. Maaf.... Maaf...."

"... Rio."

"Haha... lo ikutan marahin gue. Lo jadi kesel gara-gara gue...."

Dan kedua tangan yang dilengkung, hangat mendekap Rio.

"Bego. Ini namanya saling ngejaga, tau."

Air mata yang lantas jatuh dari kedua pasang mata. Satu-satu. Untuk menggantikan bagian luka yang tidak bisa dialirkan.

20120805

Frozen Forest

Di ambang sebuah jendela, bibir pemuda itu menggumam sebuah lagu, tidak peduli suara seraknya yang terdengar janggal di telinga. Sorot mata elangnya mengelana, mencari-cari sejauh batas ufuk. Sementara jemari tak henti memainkan helai rambut kecokelatan seorang gadis yang tertidur lelap di pangkuannya.

Pemuda itu menghela napas. Pendek. Alunan nada janggalnya terhenti. Dan iris cokelat keemasannya berlari.

Pada gadis itu. Pada raut lelah dan derak napas teratur pendek-pendek. Pada peluh yang sempat menempel di kulit. Pada luka-luka yang tak kunjung menutup. Pada bibir yang tak urung dicumbu setiap malamnya.

Pemuda itu menggeram. Ada getir mampir di geramnya. Dan kepalan tangan yang kebas sehabis ia daratkan dengan telak pada sebuah wajah, wajah dengan garis yang mirip dengannya.

"Aku mencintainya, Aniki. Aku yang akan ada di sampingnya, menjadi penjaganya. Aku tidak akan kalah darimu."


Menjaga? Jangan sinting. Sudah berapa kali ia menemukan si gadis terbaring tak sadarkan diri di atap sekolah, kafetaria, dapur, atau bahkan di depan pintu kamar sendiri?


"Tidak selamanya kamu bisa mengambil semua hal yang kupunya, Aniki."


Mengambil? Jangan gila. Sudah berapa banyak yang ia rela pertaruhkan demi separuh nyawa-nyawa di pundaknya?

Dan pemuda itu lantas mengulas satu senyum sinis. Perih.

Punya adik laki-laki dengan nyawa dibebankan padanya, dan si adik dengan besar kepalanya memutuskan untuk menjadi saingan cintanya?

Tahu apa dia?




****


"Aniki...."

Satu-satu butir asap rokok membumbung tinggi hingga hilang ke langit.

"Aku akan membawa Lyra pergi."

Satu suara. Dingin dan melecehkan. "Ke mana?"

"Sejauh yang aku bisa."

Satu bogem mentah yang detik berikutnya melayang menghajar telak wajahnya.

Yuuji nyaris terjatuh. Matanya menatap tak percaya. Sementara Shinji hanya melempar dan menginjak puntung rokoknya, sembari berjalan meninggalkannya yang mematung ditemani angin.

Yang Yuuji tidak percaya bukanlah alasan mengapa ia ditonjok....

... yang ia tidak percaya adalah mengapa kilat perih itu menggenang di mata sang kakak. Bahu yang gemetar. Tangan terkepal yang lantas disembunyikan di kantung celana. Dan langkah gontai Shinji ditemani punggung yang baginya selalu terlihat menjauh.

Dan menjauh, hilang ditelan hutan harapan yang membeku.