20120729

One-Winged Bird

[1] Il giudizio finale sta per essere emesso
Nessuno può emendarsi dal peccato che scorre nelle vene


Di tengah mandi peluhnya, Nandi terjaga. Napasnya tersengal. Kepalanya terasa berat. Sakit. Bergemuruh. Seperti digedor-gedor.

"Kakak?"

Sementara di sampingnya, Nara, wajah yang serupa dengannya itu memandang sarat kecemasan.

"Kakak kenapa? Baik-baik saja? Kakak mimpi buruk?"

Suaranya tercekat, tertinggal tak mau pergi dari tenggorokannya. Nandi hanya memaksakan sebuah senyum. Senyumnya yang biasa.

"Kakak...."

"Aku... baik-baik saja, Nara... jangan khawatir--"


[2] --spepare
ѐ peccato?


Nandi mengerang, kedua tangan memegang sisi kepalanya. Merasakan gaung-gaung dari kejauhan yang memenuhi otaknya. Gema asa yang dikandaskan. Gema mimpi yang tak lagi terjamah. Digantikan gaung-gaung memekik mengerikan yang membakar bara jauh di benaknya. Satu kata;

benci.

Namun betapa Nandi telah mengunci rapat kata-kata itu dalam-dalam.

"... Kak? Kakak? Kakak!!"


[3] Serbare il segreto
ѐ peccato?


Dalam setiap malamnya, mimpi-mimpi selalu bercerita. Tentang manusia. Tentang dusta. Ya, dusta-dusta yang seringkali berhasil bersembunyi di balik topeng-topeng manis berbau harum. Sementara iris hijaunya mampu menelanjangi dusta, secepat apapun mereka berlari. Sedangkan bibirnya yang lantas melukis satu lengkung yang sama, yang biasa.

Sesederhana apapun, dusta selalu menemani. Dan Nandi belajar, bahkan untuk mendustai dirinya sendiri. Dengan topeng senyumnya. Dustanya pada hati kecilnya.

Bahwa ia membenci pendusta. Meski di atas semua itu,

ia membenci kekuatannya, kemampuannya untuk mengejar sedalam apapun dusta bersembunyi.

Dan berlari dari hidup bukanlah jalan keluarnya. Tidak dengan Nara, dan manusia-manusia lain dalam hidupnya yang menawarkan kehangatan. Kehangatan yang ia tahu bukannya dusta. Pribadi-pribadi yang menjadi cahaya baginya, tak peduli titik-titik dusta yang tetap ia temukan di sana.

Andai saja manusia.... Ah, bahkan dirinya sendiri pun seorang pendusta.


[4] Tu sei senza peccato?
Quanto sarà pesante il mio castigo?
Ti accorgi delle voci senza voce?
Ti accorgi dei tuoi peccati?


"Kakak!!"

Nandi mengerjap. Rasa sakit yang berangsur memudar. Dan tubuh mandi peluhnya yang didekap erat wangi laut.

"Sakit, Kak?"

Ia hanya mengangguk, menenggelamkan diri pada wangi laut penuh kehangatan di sekelilingnya. Tangan besar yang membungkus tubuhnya. Ia hanya mampu tersenyum lemah dalam diam. Entah sejak kapan... tangan adik kecilnya bisa sebesar dan sekekar ini?

"Kakak... apa yang--"

"--nanti, Nara. Nanti, aku akan cerita. Sekarang... aku ingin tidur. Aku ingin istirahat."

Tak ada lagi kata yang ditukar. Sebagaimana dirinya, Nara lantas menarik tubuhnya, sedekat apapun jarak sanggup mengikat keduanya. Juga dusta yang Nandi kesampingkan, bersamaan dengan rasa sakit menusuk yang masih membelasah, yang Nandi sembunyikan.

"Selamat malam, Kakak. Selamat tidur."

"Ya... selamat tidur, Nara...."


Il giudizio finale sta per essere emesso
Nessuno può emendarsi dal peccato che scorre nelle vene

_________________________________________________________________________________

author's note:

Short-fiction ini sebenernya bisa dibilang sebagai song-fiction juga. Tulisan bahasa Italia di atas diambil dari lagunya Shikata Akiko yang berjudul Katayoku no Tori (One-Winged Bird), dengan terjemahan bahasa sebagai berikut.

[1] The final judgment shall be delivered.
      Nobody can escape the sins that flows their veins
[2] This hope
      is it a sin?
[3] This secret
      is it a sin?
[4] Are you without a sin?
     How heavy is my punishment?
     Are you aware of that which has no voice?
     Are you aware of your own sins?

20120709

Dynasty Xan~Red Deep Sea

"Kamu nolak untuk jadi cenayang istana?"

"... yang nawarin juga engga ada."

Han Yao tergelak, terpingkal jatuh dari kursinya, melupakan mangkuk nasi dan ikan saus bawang di mejanya. Menurutnya ini sangat lucu. Seorang gadis pintar dan berbakat, selaiknya seantero negeri telah mengenalnya dengan baik, kini menolak tawarannya--sebagai pelajar senior di akademi perawatan dan pengobatan--untuk bekerja di istana. Begitu banyak tingkah tak terduga dari gadis ini, pikirnya. Dan ia suka tantangan. Apalagi menghadapi gadis ini, hidupnya terasa lebih berwarna.

Sama dengan setiap detik yang dilalui Han Yao bersama putra mahkota. Selalu berbeda. Selalu tak terduga. Bahkan sebagai sahabat terbaik putra mahkota, ia tidak pernah bisa menebak kapan waktunya sang calon raja akan tenggelam dalam gelisah politik atau tertawa setelah gagal berburu burung dara.

Sedikit banyak, gadis yang dipanggilnya hanya dengan sebutan 'Mei' ini... begitu mirip dengan Xiao Lan.

"Serius engga mau?" Nada bicara Han Yao berubah, menggoda, di balik senyum jenaka yang menawan. Namun tetap saja, Mei menggeleng untuk keseribu kalinya.

Ditambah hari ini, Mei sedang pasang wajah dingin. Wajar saja, salju pertama musim dingin baru turun beberapa jam yang lalu di ibukota, Changyuan.

"Kalau masalah susah dana, itu bisa dicariin, kok."

"Kenapa kamu maksa?"

Mata gadis itu menatap tajam iris cokelat susu Han Yao. Biasanya jika dalam keadaan seperti ini, Mei malah balas mengatainya dengan canda-canda segar, atau tanpa basa-basi menjejalkan acar buah plum ke mulut bawelnya. Namun untuk pertama kalinya, Han Yao ditodong kejujuran. Karena gadis itu lain. Tidak manipulatif. Tapi juga tidak sederhana sama sekali. Mei selalu mengukir setiap makna di dalam kata-katanya.

Dan yang terpenting, Mei tidak suka kebohongan.

Berat hati, Han Yao menghela napas. Ada semburat merah jambu di pipi. Mendadak isi perutnya serasa dijungkir balik.

"Ini klise, sungguh. Tapi aku cuma ingin kamu selalu ada di dekatku."

"... maksudmu?"

"Aku suka padamu, Mei."

****

Malam itu malam gelap bulan mati. Di salah satu balkon taman istana, Xiao Lan berdiri dengan tatapan lurus menatap langit. Mulutnya mengulas satu senyum sinis.

"Kamu, nembak Mei?"

Sahabat karibnya, dengan bekas tamparan merah di pipi, mengangguk sambil tersenyum jenaka, khasnya.

"Mau engga mau, Paduka. Tau sendiri, 'kan? Gadis yang satu itu engga suka dibohongi. Kebetulan tadi mood-nya mungkin lagi jelek, jadi saya ditodong jawaban jujur."

Seringai di bibir Xiao Lan semakin melebar.

"Terus? Ditolak?"

"Sayangnya saya ditampar dulu, Paduka... baru diterima."

Xiao Lan lantas tertawa. Sahabatnya itu pun ikut tertawa. Namun detik berikutnya, tawa Han Yao tercekat oleh suara desing tipis yang menggantikan tawa Xiao Lan. Sebuah pedang pendek, dingin menempel pada tenggorokan Han Yao.

Putra mahkota melihat, ada keringat sebesar butir jagung muncul di dahi sahabat karibnya. Padahal hawa begitu dingin, penanda sebentar lagi akan turun hujan salju.

"Kalau begitu, sekarang kamu mengaku menjadi kekasih Mei, eh, Han Yao? Satu tetes darah atau air mata keluar darinya karena kamu, maka satu sentimeter pedang ini akan menancap di lehermu."

Pemuda itu mengangguk, setengah ngeri. Xiao Lan menarik kembali pedangnya, dalam satu sapuan anggun memasukannya kembali dalam sarungnya. Tanpa sadar, tatapan mata sahabat karibnya menempel lekat, penuh tanya.

"Kenapa Paduka bersikap seperti ini--jangan bilang kalau Paduka juga menyukainya?"

"Perasaan yang kupunya terhadap gadis itu berbeda denganmu, idiot."

"... lalu, kenapa--"

Sejenak, Xiao Lan balas menatap Han Yao. Sorot mata yang sama-sama tidak bisa diartikan. Ada luka. Ada kenangan. Seakan rasanya manis dan pahit. Xiao Lan mengigit bibir. Tangannya mengepal erat.

"Karena Xiao Mei Xan, sang cenayang muda berbakat di seantero Chinling itu adalah adikku, adik kembarku, yang dibuang oleh Raja delapan belas tahun yang lalu karena tidak ingin ramalan tentang hancurnya negeri ini sampai terjadi."

Butir salju kemudian turun dari langit. Sama seperti siang tadi.

.

Dan mulai saat itu, Han Yao menjawab sendiri pertanyaan-pertanyaan menggelitik dalam benaknya. Disangkal sebagaimanapun, logikanya tetap berteriak keras-keras. Mei dan Xiao Lan begitu mirip. Bahkan terlalu mirip. Tak peduli setengah wajah Mei yang berbekas luka bakar yang bahkan entah mengapa tidak mengalihkan keelokan paras yang memiliki bentuk dan warna mata... ah bahkan bingkai wajah yang serupa.

Mei dan Xiao Lan bersaudara. Mereka kembar di rahim yang sama. Kakak dan adik yang selalu menangis dan tertawa di waktu yang sama, meski jurang takdir memisahkan keduanya dalam jarak.

Tapi itu artinya... ia sedang berpacaran dengan seorang yang sebenarnya... putri kerajaan?

Han Yao mendadak pingsan di tempat.

20120708

Dynasty Xan~Blind Spot

Mereka hanya sepasang anak kembar yang dipisah paksa oleh takdir yang dikedok adat dan tabu. Mereka, hanya bocah-bocah polos dan lugu, yang lahir di bawah gemerlap darah biru mengaliri nadi-nadi. Sang kakak, penerus tahta dinasti dengan tanda lahir menyerupai naga di punggung. Sementara sang adik, bayi mungil cantik dengan helai rambut dan iris sehitam malam bulan mati. Keduanya begitu dekat, berenang dalam satu rahim yang sama.

Mereka dekat, begitu dekat,
bahkan ketika sang adik nyaris tak mampu melihat dunia, sang kakak menyobek jalan keluar demi hidup kembarannya.

Merah pekat yang lantas menggenang. Tak berhenti. Raja yang tahu kebenarannya jadi murka.

Dan di malam yang sama, saat pertama kali tangis mereka pecah di angkasa, Raja mengirim salah seorang ajudan setianya,

untuk melenyapkan sang adik, jauh dari pandangannya.

****

"Kamu itu adikku. Ayo kita pulang sama-sama!"

"Aku tidak mau!"

"Kenapa? Kamu tidak mau hidup di istana? Kamu tidak mau hidup bersama aku, kakakmu satu-satunya? Sungguh, istana itu jauh lebih menyenangkan ketimbang gubuk kecilmu di tengah hutan ini."

"Kalau begitu, kenapa Raja membuangku sewaktu kecil? Kenapa aku bisa ada di sini? Kenapa tidak sejak awal saja aku tinggal di istana emas itu?"

"... dari mana kamu tau?"

"Paman hulubalang yang merawatku dalam pelarian di sini."

"Jadi, kamu tidak mau pulang."

"Tiiiidak!"

"Kamu memang keras kepala."

"Kamu juga sama."

"Hehe, karena kita dekat, sangaaaat dekat."

"... iya. Kita dekat, sejak dulu dari rahim yang sama."

****

Xiao Lan Xan, penerus sah Dinasti Xan, tinggal di istana megah dengan segala tetek bengek tentang ilmu kenegaraan, sosiologi, politik, antropologi, dan wajib-militernya di umur delapan belas tahun.
Dan di umur delapan belas tahun, Xiao Mei, adik kembar yang disingkirkan Raja, terkenal sebagai seorang gadis cenayang sakti dengan ilmu mediasi rohnya, terdengar hingga ke seluk-beluk istana.

Orang hanya tahu jika nama depan Xiao Mei sama dengan nama putra mahkota. Hanya Raja, Xiao Lan, dan tentunya mantan hulubalang Raja yang membesarkan Xiao Mei, yang tahu jika gadis itu tak lain merupakan adik dari putra mahkota.

Sembilan tahun silam, Xiao Mei membakar wajah sisi kanannya sendiri. Agar tidak ada yang menyadari kemiripannya dengan putra mahkota.

Karena Dinasti Xan memiliki ramalan. Dan sejarah. Barang siapa melahirkan kembar dengan sang adik perempuan sebagai cenayang istana yang sanggup lahir ketika sang kakak menyobek rahim ibunya, maka di umur mereka yang ke dua puluh satu, dinasti itu akan binasa.

20120707

Silver Wings

Hanya lewat mimpi aku dapat menyentuhnya. Hanya lewat mimpi aku mampu membelai rambut hitam bulu gagak yang halus itu, merasakan sentuhan lembut jemari lentik itu. Hanya lewat mimpi aku sanggup mendengar gemuruh napas itu, detak jantung itu, desah itu. Hanya lewat mimpi, dan senyum itu kembali menyapaku.

Mungkin Sang Brahma memberiku kekuatan. Atau Sang Shiva memberiku pengampunan. Atau juga Sang Vishnu memberiku kehidupan.

Aku mencumbu bibir itu berkali-kali. Dingin, dan aku tak peduli. Rasa rindu tumpah-ruah dari sekujur tubuh. Kulitku beradu dengan miliknya yang kuning langsat. Dingin, dan setiap jengkal sentuhan itu terasa membakar di kulitku. Rasa cinta menari dan bernyanyi dari setiap derak tarikan napas putus-putus. Mulutku memanggil namanya. Berkali-kali.

Nandi... Nandi....

Dingin, dan telingaku menangkap suara lirih itu. Memanggil namaku. Berkali-kali.

Andre... Andreas....

... ahh....


Gelora itu menggelegak. Aku dan dirinya. Segala rasa yang sudah tak terbendung. Aku dan dirinya, menumpahkannya malam itu. Lewat mimpi yang begitu nyata. Mimpi yang memperlihatkan segala tentangnya yang tak pernah kuketahui sebelumnya.

Nandi... Nandi....

Aku mencintaimu....



.


Dan baginya, suatu pengampunan tersendiri bahwa ia dapat turun ke Bumi, merasuk sebagai roh ke dalam mimpi lelaki itu. Andreas.

Andreas. Andreas-nya tercinta.

Setetes air mata jatuh di pelupuknya. Bukan. Bukan karena rasa sakit dari cinta. Itu bukan air mata kesedihan. Air mata itu adalah tangis terakhir yang sanggup Nandi berikan pada lelaki itu. Air mata kebahagiaan. Di antara wangi peluh yang menyatu. Di antara erang yang beradu.

"Kamu menangis, Nandi? Kenapa?"

"Bukan apa-apa," jawabnya, menghapus segala kecemasan dalam sorot mata Andreas. "Aku menangis karena bahagia. Aku menangis... karena aku telah dicintai olehmu."

Lelaki itu tersenyum mendengar jawabnya.

"Tidak pernah ada kata telah bagiku, Nandi. Untuk saat ini, aku ingin kata selamanya."

Dan bibir dinginnya kembali dilumat oleh lelaki itu. Nandi tak peduli. Nandi tahu, tak ada kata yang bernama selamanya bagi mereka, insan saling mencintai yang telah terpisah jarak dan waktu. Hanya saja, Nandi ingin sepenuhnya menikmati saat itu. Belum tentu Sang Brahma memberinya lagi kekuatan. Belum tentu Sang Shiva memberinya lagi pengampunan. Belum tentu Sang Vishnu memberinya lagi kehidupan.

"Aku mencintaimu, Nandi...."

"Aku juga, Andreas."

A Cup of Wedding Tea, General?

Fullmetal Alchemist, a fan-fiction
disclaimer : Arakawa Hiromu, saya cuma numpang satu OC (original character) yang bakal muncul di akhir cerita :p


_________________________________________________________________________________


Jendral Roy Mustang duduk gelisah di kursi kulit hitam kebesarannya. Tidak tenang. Iris hitam legamnya sesekali melirik gugup, bergantian pada pintu dan jendela ruang kerjanya. Jemarinya yang selalu terbungkus sarung tangan putih bersih bermain-main di atas meja, memilin-milin pulpen atau mengetuk meja demi membuat sebuah irama janggal di telinga. Ada keringat sebesar biji jagung mengaliri dahi dan tengkuknya.

Sementara Letnan Satu kesayangannya, Kain Fuery--yang pada akhirnya berhasil naik pangkat setelah dua tahun berjibaku dengan kabel radio bawah tanah di Area Selatan--memandang cemas pada sang atasan.

"Jendral, apa... Anda baik-baik saja?"

Satu hentakan tangan--tidak sengaja, tentunya--dari Roy yang lantas membuat Fuery nyaris tersedak onderdil radionya.

"Ba--baik. Tentu saja. Aku baik, Fuery. Lanjutkan saja pekerjaanmu."

Pemuda berkaca mata itu pada akhirnya hanya sanggup menghela napas, sebelum kembali pada pekerjaannya mereparasi radio panggil di ruang sang atasan. Meski berkali-kali Fuery menangkap suara-suara aneh, gumam-gumam menggelitik, bukan dari objek reparasinya melainkan dari bibir Roy.

"... baik. Aku... baik-baik saja.... Ini bukan apa-apa.... Oke, Roy... tenang, tarik napas... tenaaangg...."

Kemungkinan pertama yang terbersit di otak Fuery: jendralnya ini sedang sembelit. Kemungkinan kedua: jendralnya ini sedang bertransmutasi menjadi wanita yang mau melahirkan. Kemungkinan ketiga: dalam beberapa hitungan ke depan jendralnya akan berubah menjadi homunculus--

"--TENTU SAJA TIDAK, ROY MUSTANG!! KAMU--TIDAK--BAIK--BAIK--SAJA!!"

Atau tidak. Menurut Fuery, Roy tidak akan berubah menjadi homunculus. Roy yang lantas menggebrak meja dan pergi meninggalkan ruang kerjanya dengan terburu-buru itu sepertinya baru saja berubah menjadi seekor chimera ganas kelaparan.

Yang Fuery tidak tahu hanyalah alasan di balik transmutasi tidak beres dari sang jendral chimera-nya itu.

***

"Umurmu sudah tiga puluh dua tahun, Jendral. Kapan kau akan menikah?"

"Sampai kapan aku harus memiliki seorang Jendral muda berbakat, tapi masih melajang? Astaga, kau mau jadi perjaka tua?"

"Ini, secangkir modal pernikahan untukmu, Jendral. Carilah gadis yang baik, atau dalam dua puluh empat jam maka satu bintang di bahumu itu akan kucopot."

Dan kata-kata Führer Grumman lima belas jam yang lalu itu masih begitu jelas terngiang di telinga Roy. Ia memandang jengah kotak beludru merah darah di tangannya. Sebuah cincin tunangan. Cincin perak bertahtakan delapan batu permata mungil, mengelilingi manik safir berkilau di tengahnya. Roy mengutuk dalam geramnya. Sembilan jam lagi ia harus menentukan pilihannya, antara menyerahkan setengah bagian hidupnya pada gadis yang dikenalnya-saja-belum, atau merelakan pangkat bintang tiganya berkurang satu. Hanya satu. Namun betapa harga diri Roy meraung tidak terima.

Hanya saja, siapa? Siapakah gadis nan cantik jelita, berparas bagai bidadari kahyangan turun ke Amestris, yang beruntung menerima pinangannya?

Kalau saja melamar gadis itu semudah membeli kacang, maka sudah ia lakukan bertahun-tahun yang lalu.

Roy memutar otak, memaksakan sel-sel yang selama ini bekerja untuk Ishval dan Area Timur kini berganti fungsi, secara paksa. Pikir, Roy, pikir. Apa yang menyebabkannya tidak membutuhkan wanita dalam hidup? Bahkan Havoc sudah menggaet jabatan veteran menyangkut masalah gonta-ganti pacar, sementara Breda dan Falman saja bisa mendapatkan istri hanya dengan setengah tahun masa 'perkenalan'. Apa yang salah dengan dirinya. Pikir, Roy, pikir. Kenapa dirinya tidak perlu wanita?

Karena sudah ada wanita di sampingku. Wanita yang siap menembakiku kapan saja aku melenceng dari jalur hidupku. Wanita yang siap mengikuti bahkan sampai ke ujung neraka sekalipun. Wanita yang....

Roy lantas menangkap sesuatu yang salah pada laju kerja logikanya. Salah, namun menjadi jalan keluar di saat yang bersamaan. Wanita itu, dialah masalahnya.

Riza Hawkeye.

****

"Kau mencintai Jendral?"

Riza melebarkan bola matanya, bulat-bulat, membidik tepat sorot jenaka dari Brigadir Jendral Jean Havoc, pada suatu sore di meja sudut kafetaria.

Detik berikutnya, Riza hampir tertawa terjungkal. "Kau gila?"

"Ditanya malah balik bertanya. Jawab dulu, Letnan Riza Hawkeye, apakah kau mencintai Jendral Roy Mustang?"

Havoc menatapnya dalam-dalam, kali ini penuh makna. Membuat Riza sedikit merasakan panas membakar pipi hingga tengkuknya.

Tanpa pertimbangan, Riza menjawab mantap. Kepalanya mengangguk dengan anggun. Dan satu senyum puas terbit di bibir Havoc.

"Kalau Jendral melamarmu, kau akan menerimanya?"

Satu jawaban spontan yang lain. Sama mantapnya. Namun kali ini jelas menenggelamkan segala rupa ekspresi di wajah si laki-laki berambut pirang.

Riza menggelengkan kepalanya.

"Kenapa--"

"Kau tahu benar jawabannya, Brigjen Jean Havoc. Pernikahan sesama tentara dalam tubuh militer itu dilarang. Dan... apabila aku memutuskan untuk mundur dari militer, maka aku tidak bisa lagi menepati janjiku untuk terus mengikutinya hingga ke lubang neraka sekalipun."

Beberapa detik bisu, dan Havoc lantas tertawa tergelak. Riza ikut tersenyum. Meski Riza tidak melihat, Roy membeku di depan pintu kafetaria. Mendengar apa yang tidak ingin didengar logikanya. Meruntuhkan egonya.

Lalu pada siapa lagi ia harus berharap?

****

Sisa waktu Roy hanya kurang dari satu jam. Kotak beludru merah darah itu masih tergenggam erat di tangannya. Dan selama tiga jam, Roy habiskan waktunya dengan terduduk diam di sebuah kapel di sisi utara bagian Central. Roy bukan penganut suatu sekte, hanya saja kafe, rumah makan, dan markas militer sudah menjadi nuansa yang satir bagi dirinya saat itu.

Bisa saja ia menganggap main-main apa yang dikatakan Fürher. Bisa saja ia berlari. Tapi harga dirinya tidak akan pernah mengizinkannya.

Roy tertawa. Parau. Sesuatu dalam dadanya menggelegak. Perih. Bukan karena 'modal' konyol yang seenak jidat dibebankan Grumman di pundaknya. Bukan karena waktunya yang tinggal satu jam. Bukan karena itu, seorang homunculus bernama 'Putus Asa' lantas menyerang logika dan egonya bertubi-tubi.

Karena penolakan. Bukan, kenyataan.

Bahwa Riza Hawkeye mencintainya. Dan Riza telah membuat pilihan untuk selalu berada di sisinya.

Bukankah seharusnya itu sudah cukup?

Lalu, untuk apa fungsinya wanita? Wanita sebagai peneman lelahnya, pasangan hidupnya, teman hidup hingga matinya. Apa bedanya dengan Riza? Mengapa Havoc begitu berbinar setiap kali pacar-entah-yang-mana-nya mengirimkan makan siang untuknya? Bahkan dulu Hughes... ah, betapa Hughes begitu mengagung-agungkan Gracia, bahkan di tengah medan perang sekalipun.

Roy menengadah. Patung dewa dengan rambut dan jenggot panjang berdiri kokoh di hadapannya. Tak sadar, bibirnya melengkung sebuah senyum tipis, mulutnya berbisik,

Jika Tuhan memang ada, kali ini, kupikir aku boleh minta jawaban dari pertanyaan tololku ini....

"Siapa di sana?"

Sebuah suara lembut, menyapa Roy dari balik keremangan kapel. Dan suara langkah kaki yang mendekat. Roy menoleh, menajamkan matanya. Hanya untuk menemukan satu sosok berparas manis dengan iris biru safir balas menatapnya dengan teduh.

Ada satu senyum yang menyapa.

Dan Roy merasa dunia di sekelilinginya berhenti berputar.

Dan terbalik.

"Maaf, apakah Anda masih butuh pelayanan? Mungkin saya bisa panggilkan Pastor untuk memberikan pelayanan--"

"Akubutuhsecangkirpernikahan."

Iris biru safir itu mengerjap kebingungan.

"Ap--apa? Maaf, saya tidak begitu mengerti...."

"Aku... kamu. Maksudku... kamu mau menikah denganku?"

Bau manis mengambang di udara. Jarum jam dunianya yang berhenti kini kembali berputar. Lebih cepat dalam debar gemuruh yang nyata. Karena sejak detik itu, Roy tahu hidupnya tak akan lagi sama.