20130114

Love Potion #1

Leyka umur empat belas tahun. Dan Rio pun sama-sama berumur empat belas tahun.

Keduanya telah sama-sama menyimpan rasa. Sejumput manis di sudut benak terdalam yang menanti untuk meretas menjadi bunga-bunga merah jambu dengan wangi memabukkan. Sayangnya, alamat tujuan mereka tidak pernah sama.

Atau mungkin... belum sama.

Rio yang tak pernah berhenti terpukau oleh polah polos Leyka, setiap lemparan kata pedas maupun ledak tawa hasil guyonan kebanggaannya sendiri. Leyka yang selalu apa adanya, ribut dikejar kecoak dan semenit kemudian cekikikan dijilati Ringgo si kucing hitam-putih campuran persia-angora.

Sementara Leyka dan rasa manisnya yang memerih terhadap Andreas. Sang senior berotak secanggih prosesor komputer teranyar, tubuh atletis yang jago bela diri, ketua OSIS kebanggaan SMP Lazura, dan sikap gentleman memesona yang berhasil menaklukkan hati para wanita... bahkan guru-guru dengan setengah kepala ditumbuhi uban sekalipun.

Dan alamat tujuan lima huruf picisan Andreas? Tentu saja bukan Leyka.

Inilah yang membuat Rio panas dingin pada malam sebelum kelulusan Andreas. Tentang rencana yang Andreas bisikkan padanya siang tadi. Tentang keterlibatan Leyka, juga Nandi--si gadis berparas elok seolah malaikat yang harus selalu ada di setiap cerita-cerita novel maupun komik yang berhasil menyita segenap hati dan pikiran Andreas.

Malam itu, Rio disodori dua pilihan.

Bilang. Atau diam.

Yang memiliki arti lain : peduli pada perasaan Leyka, atau tidak peduli.

Rio tidak bisa tidur. Gelisah dan resah. Padahal bukan ia yang besok akan dipanggil menaiki podium untuk mengucapkan pidato pelepasan.

****


"... gue jadi Kak Ndre juga… kalau gue mau sekalian nembak Nandi, gue juga pasti pengen ngobrol berdua aja, bahkan engga ada Nara kalau bisa.”

“Terus, lo masih cemburu? Masih sedih?”

“Kalau sama Nandi sih, gue rela kalah, Yo. Beneran. Ketimbang Kak Ndre jadian sama cewek yang lebih engga jelas dan gue engga kenal, masih mending Nandi ke mana-mana. Lagian, kayak kata Kak Ndre, dia udah anggep gue kayak adik, dan lama-lama pun gue anggep dia udah kayak kakak gue sendiri.”

“Hoo…. Jadi, gue punya kesempatan dong, Le?”

“Kesempatan? Maksud lo?”

“Kalau gue bilang gue suka sama lo, dan sekarang gue tawarin lo jadi cewek gue, lo mau engga?”

Leyka nyaris tersedak es campurnya. Dan gedoran di dada Rio semakin meliar. Rahangnya sampai ikut-ikutan mengeras. Seringai selebar pintu aulanya yang membeku--ia agak khawatir kalau-kalau setelan wajahnya tidak bisa kembali normal lagi seumur hidupnya.

“Hahahaa… becanda ya lo, Yo? Becanda banget.”

Rio bergeming. Untuk sepersekian detik, hatinya serasa busa sabut cuci yang diperas hingga kering kerontang.

“Iya, Le. Gue cuma bercanda, wahhahahahahaaaa!! Ya ampun, muka lo, Le… muka lo… BUAHAHAHAHAHAAAAA!!!!”

Kali itu, Rio tertawa. Memilih konsekuensinya untuk diguyur semangkuk es campur tepat di atas kepala cepak-hampir-botaknya. Memilih yang ia yakini sebagai pilihan terbaik dalam hal peduli-akan-perasaan-Leyka. Toh Leyka tertawa. Toh Leyka akan punya waktunya sendiri untuk membenahi isi hatinya. Menata ruang baru yang bisa ia susupi nanti... atau mungkin yang memang Leyka bereskan untuk dirinya huni, dalam hitungan satu kata : selamanya.

Yang jadi pertanyaan, kapan?

****

Rio umur tujuh belas tahun. Dan Leyka yang sama-sama berumur tujuh belas tahun.

Sudah ada rona merah menggemaskan di pipi Leyka setiap kali mereka bertatap mata. Dan Rio pun semakin nyata menempelkan tulisan "Hanya-Ada-Cinta-Bang-Rio-Buat-Neng-Ule" di jidat lebarnya. Hari-hari seperti drama sinetron kejar-daku-kumakin-kabur-kaumakin-maksa-tapi-aku-suka tak pernah berhenti barang sedetik saja. Membuat teman-teman mereka yang lain semakin gemas--terlebih lagi Andreas, yang semakin dipanasi sang ego untuk memulai aksi serupa pada sang pujaan hati.

"Le, udah tiga tahun...."

"Hmm? Tiga tahun apanya?"

"... ah, lo lupa, Le? Parah bener. Katanya punya fotografi memori...."

"Apaan sih? Kalau ngomong yang jelas, ah! Tiga tahun yang lalu itu selama tiga ratus enam puluh lima hari, banyak banget hal yang kita lalui sama-sama, tau! Apa, yang lo makan gehu dari idung?"

"Yah, giliran gue cacat aja lo inget, Le. Bukan itu. Yang pas kelulusan Ndre."

"Hah? ... ooh, yang lo gue siram pake es campur?"

"He-eh... sebelumnya lagi ada apa, Le?"

Satu semburat merona di pipi, kentara membuat Rio mengulum senyum penuh kemenangan.

"Hahaha... yang... yang lo becanda itu, 'kan?"

"Emang gue becanda apa, Le?"

Leyka menahan napas. Ludah yang tercekat di tenggorokan. Seringai Rio yang sama lebarnya seperti tiga tahun lalu.

Dan satu pertanyaan dari suara kecil Leyka yang membisik. Gemetar. Seisi perut Rio yang lantas serasa dijungkir balik.

"... masih berlaku engga, Yo? Tawaran dan becandaan lo yang waktu itu...."

"Apa, Le? Lo kalau ngomong yang keras, engga kedengeran!"

Bohong. Padahal kedua indera pendengaran Rio menangkap satu per satu rentetan huruf itu dengan jelas. Sangat jelas. Egonya hanya tak tahan untuk mendengarnya sekali lagi, terucap dari mulut Leyka.

Satu jitakan mampir di kepalanya. Leyka memonyongkan bibir, membuang muka. Untuk satu gerakan yang tak pernah disangka-sangka. Bahkan gagak Wataru yang numpang hinggap di tiang listrik dengan tujuan awal untuk memata-matai pun bisa mati jantungan melihatnya.

Kecupan kilat. Bibir ke bibir. Rio dan Leyka. Sepasang manik yang membelalak dan sepasang lagi yang terpejam. Kedua wajah yang lantas merona merah. Latar belakang mega jingga senja matahari terbenam. Kurang apa lagi? Oh ya, kurang backsound disertai burung-burung merpati yang menari-nari di angkasa.

"Menurut lo sendiri, Le? Yang kayak gini, masih bisa dibilang engga berlaku?"

"...."

"... Le? Err... kok nangis? Le... sorry, Le... sumpah gue engga maksud--"

PLAK!!

BRUKK!!

Tato berbentuk telapak tangan di pipi Rio. Dan jarak di antara mereka yang semakin menipis dengan Leyka menubrukkan tubuh mungil di dadanya, membenamkan tangis sesengukan sambil menyumpahinya, membuat seragam sekolahnya basah seketika. Tapi Rio tak mampu menghentikan tawanya. Tawa lepasnya yang begitu bahagia. Adrenalin rush-nya yang baru saja berhenti dan menimbulkan sensasi melayang hingga langit ke tujuh.

Kalau sudah begini, Rio harus siap dipalak pajak jadian oleh makhluk-makhluk-lapar-gersang-cinta yang menunggunya di asrama nanti.

No comments:

Post a Comment