Asha Kirana
Air mata yang enggan jatuh
menapaki Bumi dan luluh
Senyum yang kerap disentuh
jemari-jemari digenggam rapuh
Seakan tak kenal luka
langkah kecilnya akan asa
walau hampa
di sinilah deritanya
Ganesh Aksara
Kemana sinar dicari
lentera temaram lantas
menari
di antara titik api-api
labuh lelahnya yang
menepi
Dan tak dikenal katanya
henti
hingga tak ada lagi
mimpi
hanya arti
saat raga kelu dipeluk
sepi
Airlangga Dwisuman
Tubuh-tubuh mati
diguyur hujan
bengis, tanpa ampunan
Tak butuh tangan kiri
kanan
Tak pula jiwa masih
bertahan
Tinggal matanya
nyalang
dalam badai ditantang
Bibir yang berteriak
lantang
gurat takdir yang
ditentang