20140708

Hutan (di ujung) Sumur #3

It hurts.
It hurts. It hurts. It hurts. It hurts. It hurts.

It hurts so much to know that you'd still care enough to share.
To laugh and to tease.
To smile.

To be rejected, in the end.
Like you used to be.
By me.

It hurts.
It hurts. It hurts. It hurts. It hurts. It hurts.

And it hurts me too much just to hurt you.
Like how I used to.
Hurting you.

Yet here I am.
Standing still, bleeding.
As always as I will be.

It hurts.
It hurts. It hurts. It hurts. It hurts. It hurts.

It hurts to know in the end.
It is me who's being hurt all the time.

Dream-mist

"Asa, suatu hari... kau dan aku...."

"Kita akan... selamanya...."

.

.

.

"Asaka-senpai?"

Ia mengerjap. Kacamatanya nyaris melorot dari batang hidungnya. Dan pemandangan wajahnya yang mengantuk telak menjadi bahan tertawaan untuk Rio--yang langsung kena jurus-cubitan-maut dari Leyka.

"Ngantuk, Senpai?"

Ia mengangguk, sembari menarik kacamata dan menekan pangkal tulang hidungnya keras. "Beberapa malam ini aku susah tidur. Mungkin jam biologisku masih belum melupakan ritme penelitian malamku."

"Atau mungkin... Senpai sedang ada beban pikiran?"

Kali ini Leyka yang melemparkan pertanyaan padanya. Manik biru Leyka kentara bercampur cemas dan menuntut jawab darinya. Ia menghela napas. Menyempatkan diri untuk menempelkan cangkir di ujung bibirnya, menyesap wangi teh hijau yang telah bercampur dengan susu.

"Aku tidak bisa mengelak darimu sepertinya, hei calon dokter?"

Perempuan di hadapannya itu menggembungkan pipi.

"Habisnya... kantung mata menebal dan pipi yang semakin tirus. Senpai sudah berkecimpung dengan penelitian malam semenjak empat tahun yang lalu, tidak mungkin kalau baru jetlag sekarang, 'kan?"

Mendengus menahan tawa. Ia hanya bisa menatap substansi koloid yang kini berwarna hijau pucat dalam cangkirnya.

"Iya, Ley. Sepertinya aku sakit."

"Ahahaha.... Sakit lima huruf yang huruf depannya r dan huruf belakangnya u itu ya, Senpai?"

Ia tersenyum lagi. Kali ini menenggak habis isi cangkirnya.

"Ley, pacarmu ini... boleh kusikat pakai sikat WC?"

"Silakan, Senpai. Mau pakai sikat kawat juga boleh."


****


"Akito, dipanggil kepala bagian, tuh...!"

"Aaaarrghh...!! Sebentar, sebentar...!! Tinggal satu slide lagi, aduuuuuhh...!!!"

"... haahhh.... Lo kebiasaan, deh. Masa kerjaan dari dua bulan lalu terus lo tumpuk semua seminggu ini? Gila apa ya, lo? Dasar setan deadline."

"Wataruuu berisiiiiikk...!! Mendingan lo tolongin gue isiin tinta printer, deh!"

"Iyaa iyaaa...."

"...."

"Udah kontak sama Asaka?"

"Huh? Oh... udah."

"Hmm~ terus...?"

"Terus... apa? Oh, yah... dia sakit, udah semingguan kurang tidur. Engga ngobrol banyak soalnya gue suruh dia langsung tidur semalem. Tapi gue engga yakin dia tidur, sih... mengingat dia baru offline lima jam setelahnya."

"Oooh~ makanya lo langsung beresin proyek terakhir lo semingguan ini, ya? Udah pesen tiket balik, belum? Kalau mau balik, gue titip furikake, ya...! Sama boleh lah dakimakura sebiji... lo fotoin yang lagi booming di sana apa, nanti gue pilih gue mau nitip yang mana."

"...."

.

.

.

"Wataru, lo gerecokin gue terus, atau gue beliin lo dakimakura versi karakter cowok, mau?"