20131029

Immortality #5

Jika wangi bunga plum putih di antara sentuhan jemari lembut itu hanya sebatas gerbang mimpi masa depan, maka jangan pernah bangunkan aku dari tidur lenaku.


"... Andre?"

Lelaki itu menggigil dalam tidurnya. Tubuh meringkuk di sudut tempat tidur. Bibir dinginnya yang seolah komat-kamit membaca mantra... yang tak ayal menjadi secercah harap bagi waktunya yang tak tahu di mana ujungnya.

Mengerang dan merintih. Peluh membanjir sana-sini. Dan Kanami tidak tahu lagi apa yang harus dilakukannya.

"Andre... Andreas...."


Jika surai-surai hitam legam di antara sibak tirai jendela itu hanya sebatas jalan setapak menuju masa lalu, maka jangan pernah tarik lenganku untuk kembali.


Satu tetes air mata, meluncur dan telak mendarat di pipi lelaki itu. Namun Kanami tahu, Andreas tak akan merasakan apapun. Bahkan pendaran kehangatannya pun tak pernah sampai hingga kalbu lelaki itu. Kanami tidak pernah lagi berharap. Ia sudah tahu... bahkan untuk seratus tahun ke depan, Andreas tidak akan pernah menjadi miliknya, seutuhnya.

Ada malaikat maut yang telah jauh membawa pergi setengah bagian dari Andreas. Dan yang setengahnya lagi ditinggalkan, terpuruk, entah untuk Kanami miliki atau hanya dibiarkan saja tersapu sisa-sisa asa yang semakin menguap. Kanami memilih untuk merawat dan menjaganya, meski usahanya sama saja seperti mencairkan padang bunga yang terlanjur membeku dikepung hawa dingin Kutub Utara.

Kanami terisak. Mulutnya masih belum berhenti memanggil lirih nama lelaki itu. Merembeskan segala bentuk luapan cinta yang tidak pernah akan terbalas. Hanya untuk Andreas. Hanya untuknya. Dengan begitu, Kanami tidak butuh lagi arti kata bahagia.


Jika suara semerdu kicau pelikan berpadu debur ombak itu yang akan membawaku menuju bentang dunia bawah, maka jangan pernah halangi aku untuk berlari... menggapainya....

... tidak. Bukan.... Aku....

Jika pada akhirnya kedua tangan ini hanya tetap berlumur merah di antara senyumnya yang menjemput mentari pagi, maka aku....


Satu nama, dibisikkan lelaki itu di tengah pertarungan melawan hidupnya. Satu nama, ditangkap begitu jelas di ujung telinga Kanami. Satu nama, memerangkap keduanya dalam labirin keabadian; luka yang abadi, duka yang selamanya tidak mengenal caranya berganti menjadi suka.

Harus sampai mana Andreas berjalan dalam lelah dosa masa lalunya? Dan harus sampai kapan Kanami berkorban dalam cintanya yang dibalas kata hampa?


****


Jika pada akhirnya tubuh ini tetap berlumur merah yang semakin menggelap, maka aku....

Ah, cahaya.... Sudah berapa lama aku berbalik, memunggungi cahaya itu?

Dan jika memang pijar cahaya hangat ini mampu menanggung harap yang tidak lagi kuucap, pantaskah aku untuk merengkuhnya, dan menjanjikan kata keabadian untuknya?

20131006

Endless Darkness

Senar-senar shamisen dan koto mengalun di ujung telinganya bagaikan gemerincing genta tertiup angin, menemani hentak berirama kaki jenjangnya dan kibasan sayap furisode-nya. Jemarinya lentik meliuk kanan-kiri, ke sana kemari, sesekali membentang kipas lipat yang kerap mengeluarkan bunyi gesek mesra.

Asaka menari. Seorang diri. Melenggok di antara melodi lembut senar terpetik. Bahasa tubuhnya yang menceritakan legenda seribu kelopak Sakura. Di satu sisi keindahannya menjerumuskan. Di sisi lain, ada yang tak kasat mata yang membuatnya kerap kali kehabisan napas setiap kali ia mendarat dari lompatan anggunnya.

'Asaka-senpai... sejauh apa gerbang neraka itu?'

Asaka memejamkan mata. Berusaha mengembalikan fokusnya. Bulir-bulir keperakan mulai menyapa membasahi kerah furisode-nya.

'Asaka-senpai... aku ingin kembali. Perjamuan penuh api mendidih ini bukan untukku.'

Hawa di sekelilingnya memanas. Napasnya tercekat. Ia nyaris tidak lagi bisa membedakan oksigen dari sesak penuh karbon yang seolah mengurungnya erat.

'Asaka-senpai... apakah aku memang tidak bisa kembali? Hanya untuk sekedar bertemu dengannya? Hanya sekedar untuk... membalas perasaannya?'

Panggung beraksen kayu itu kini lembab oleh peluhnya. Sekujur tubuhnya basah kuyup. Dan ia yakin ia melihat dunia berputar di sekelilingnya. Perlahan. Namun Asaka tidak berhenti. Tidak sampai nada terakhir menabuh gendang telinganya.

Asaka menari. Seorang diri. Melenggok di bawah lampu sorot meredup.


****


Pesta ini bukan sekedar pesta kelulusan baginya, maupun bagi Asaka, Akito, Wataru, dan Andreas sekalipun. Ini adalah perhelatan perpisahan. Satu gerbang hidup lainnya yang harus ia lalui untuk melangkah maju. Yang jadi pertanyaan... sanggupkah ia melangkah ke dalam hitam tak berujung di balik gerbang hidupnya?

Hitam yang tak berujung... atau memang itulah harapnya sejak awal.

Ia sudah tidak mampu menghitung berapa puluh batang rokok yang habis dalam waktu tiga jam itu, atau wangi sake yang hilir-mudik menyapa ramah indera penciumannya. Ia tidak peduli dengan bising celoteh di sekelilingnya, ataupun hardik kesal Kaho akan sikap arogannya. Ia tidak mau ambil pusing.

Toh waktu juga telah lama berhenti mengacuhkan dirinya.

Yang tidak bisa ia lupakan adalah kilasan manis pertunjukan Asaka. Bukan, bukan Asaka yang membuatnya termangu dan berhasil melupakan batang rokoknya selama tiga setengah menit. Yang membuat lidahnya kelu dan punggungnya dibanjiri keringat dingin adalah siluet yang hadir menemani Asaka menari. Siluet seorang gadis berparas teduh yang tidak pernah pergi dari ingatan terdalamnya....

... tak lupa sirat manik biru siluet itu yang menusuk perih hingga jantungnya.

Sedih. Penuh luka. Sementara lukanya sendiri tertoreh kian dalam hanya dengan menyaksikan siluet itu berputar-putar lincah di sisi Asaka.

Ia yakin Asaka mengetahuinya, merasakan kehadiran siluet itu dengan nyata. Atau malah Asaka yang mengundangnya kemari melalui gerbang neraka di antara lenggokan tubuhnya. Ia ingin bertanya pada gadis itu. Sungguh. Namun dengan raganya yang lelah, apa lagi yang sanggup ia lakukan?

Di bawah pohon Sakura yang mulai meranggas, Shinji merebahkan tubuhnya. Meninggalkan hiruk-pikuk pestanya. Menenggelamkan imaji-imaji berkeliaran dalam otaknya untuk terus ia perangkap agar tidak pernah lagi pergi meninggalkannya.


****


"Kamu sudah pergi sampai sejauh mana?"

'Sejauh neraka yang tidak punya batas, Senpai....'

"Lalu, kenapa kamu kembali?"

'Karena aku ingin bertemu dengannya. Tapi ternyata tidak bisa. Dia tidak ada lagi di sini....'

"Apa maksudmu, Lyra? Jelas-jelas Shinji ada di sini. Dia datang dan dia tadi melihat pertunjukan kita dan--"

'Itu bukan Shinji, Senpai.... Ternyata benar. Shinji... sudah terlanjur mencariku hingga ke dasar neraka.'

"...."

'Aku menemukannya. Bayangan dirinya. Aku berdiri di hadapannya. Tapi ia terus berteriak mencariku. Aku menggapainya. Namun bahkan suaraku tidak pernah lagi sampai ke dasar hatinya. Ia mengubur dirinya jauh ke dasar neraka... satu lapisan lain yang tidak pernah bisa kugapai.'

"Lyra...."

'Ternyata... perjamuan ini bukan untukku, tapi untuknya. Karena jika seperti ini... ia tidak akan pernah bisa menemuiku lagi.'

.

'... dan aku akan selamanya terjebak dalam labirin neraka yang mengisi penuh setiap sel-sel otaknya....'