Jika wangi bunga plum putih di antara sentuhan jemari lembut itu hanya sebatas gerbang mimpi masa depan, maka jangan pernah bangunkan aku dari tidur lenaku.
"... Andre?"
Lelaki itu menggigil dalam tidurnya. Tubuh meringkuk di sudut tempat tidur. Bibir dinginnya yang seolah komat-kamit membaca mantra... yang tak ayal menjadi secercah harap bagi waktunya yang tak tahu di mana ujungnya.
Mengerang dan merintih. Peluh membanjir sana-sini. Dan Kanami tidak tahu lagi apa yang harus dilakukannya.
"Andre... Andreas...."
Jika surai-surai hitam legam di antara sibak tirai jendela itu hanya sebatas jalan setapak menuju masa lalu, maka jangan pernah tarik lenganku untuk kembali.
Satu tetes air mata, meluncur dan telak mendarat di pipi lelaki itu. Namun Kanami tahu, Andreas tak akan merasakan apapun. Bahkan pendaran kehangatannya pun tak pernah sampai hingga kalbu lelaki itu. Kanami tidak pernah lagi berharap. Ia sudah tahu... bahkan untuk seratus tahun ke depan, Andreas tidak akan pernah menjadi miliknya, seutuhnya.
Ada malaikat maut yang telah jauh membawa pergi setengah bagian dari Andreas. Dan yang setengahnya lagi ditinggalkan, terpuruk, entah untuk Kanami miliki atau hanya dibiarkan saja tersapu sisa-sisa asa yang semakin menguap. Kanami memilih untuk merawat dan menjaganya, meski usahanya sama saja seperti mencairkan padang bunga yang terlanjur membeku dikepung hawa dingin Kutub Utara.
Kanami terisak. Mulutnya masih belum berhenti memanggil lirih nama lelaki itu. Merembeskan segala bentuk luapan cinta yang tidak pernah akan terbalas. Hanya untuk Andreas. Hanya untuknya. Dengan begitu, Kanami tidak butuh lagi arti kata bahagia.
Jika suara semerdu kicau pelikan berpadu debur ombak itu yang akan membawaku menuju bentang dunia bawah, maka jangan pernah halangi aku untuk berlari... menggapainya....
... tidak. Bukan.... Aku....
Jika pada akhirnya kedua tangan ini hanya tetap berlumur merah di antara senyumnya yang menjemput mentari pagi, maka aku....
Satu nama, dibisikkan lelaki itu di tengah pertarungan melawan hidupnya. Satu nama, ditangkap begitu jelas di ujung telinga Kanami. Satu nama, memerangkap keduanya dalam labirin keabadian; luka yang abadi, duka yang selamanya tidak mengenal caranya berganti menjadi suka.
Harus sampai mana Andreas berjalan dalam lelah dosa masa lalunya? Dan harus sampai kapan Kanami berkorban dalam cintanya yang dibalas kata hampa?
****
Jika pada akhirnya tubuh ini tetap berlumur merah yang semakin menggelap, maka aku....
Ah, cahaya.... Sudah berapa lama aku berbalik, memunggungi cahaya itu?
Dan jika memang pijar cahaya hangat ini mampu menanggung harap yang tidak lagi kuucap, pantaskah aku untuk merengkuhnya, dan menjanjikan kata keabadian untuknya?