20130106

Blue Feather #part2

Berita mengenai berakhirnya hubungan kedua senior mereka lantas menjadi topik perbincangan makan siang hangat di atap sekolah siang hari itu. Ya, tepat satu hari setelah tragedi pemutusan cinta yang dilakukan sepihak oleh Asaka, hingga gosip santer tentang Akito yang lantas menggerayangi mantan pacarnya itu sebagai salah satu bentuk protes kekecewaan karena tidak bisa memiliki Asaka seutuhnya di masa depan.

Dan kedua tokoh utama berita hangat itu tak ada di tempat untungnya, tentu saja.

"Serius Asaka-senpai dan Akito-senpai putus?"

"Mereka 'kan serasi banget! Kok Inoue-san tega sih misahin putrinya sama orang yang jelas-jelas disayangin banget dan malah dijodohin sama laki-laki lain?! Aaaahh engga tega lah, engga tega!!"

"Aaaaaarrghhh!! Sia-sia udaaaah usahaku selama tiga tahun nyomblangin mereka berdua!! Dasar sinting emang si bapak tua satu itu!!"

"Tapi Akito-san berani juga, ya... langsung ambil langkah destruktif begitu, mueheheheheheee~"

"... yang destruktif itu ketawa lo, cebol mesum."

"Lagian lo percaya aja. Kagak mungkin lah tampang-sekuriti-hati-hello-kitty macem si Akito gitu berani."

"Lalu, sekarang keduanya ada di mana?"

Satu senyum damai dari Nandi yang kemudian menjawab pertanyaan Andreas. Satu raut yang sangat kontras berada di antara kicauan para penggosip tersebut. "Mereka engga bakal bareng makan siang sama kita sampai... at least Senin depan."

Shinji lantas nyengir lebar, sembari menyapu helaian rambut yang menyapa dahinya. "Pede amat. Tau dari mana?"

Sekali lagi, Nandi hanya tersenyum. Senyum yang--tentu saja--hanya Andreas, Nara, Leyka, dan Rio yang berhasil mengetahui maknanya.

"Intuisi perempuan, Senpai...."

****

Sementara dua hari setelahnya, pada Sabtu siang setelah bel bubar kelas dibunyikan, telah tercium aroma manis yang lembut dari ruang PKK.

Tak perlu ditebak... karena Asaka dan Akito nyatanya siang itu tengah menghabiskan sisa waktu terakhir mereka. Waktu kebersamaan mereka, untuk terakhir kalinya. Kali ini, Asaka meminta tolong Akito untuk mengajarinya membuat kue untuk diberikannya pada calon tunangannya itu.

Rasa miris yang menjalari dada dan isi perut Akito hingga jungkir balik? Tentu saja.

Meski Akito tetap tersenyum dan menyanggupinya. Entah memang hujaman cinta yang telah membutakannya... atau dirinya memang telah ditinggalkan sang logika.

"Apelnya panggang dulu... sip. Cowok biasanya engga terlalu suka manis... gulanya kamu ganti pakai madu aja, toh lebih sehat juga.... Jangan lupa tambahin kayu manisnya...."

Dan dalam waktu kurang lebih satu jam, di salah satu meja ruang PKK telah tersaji apple pie lezat cokelat keemasan. Betapa Asaka dan Akito tidak tahu bahwa murid-murid lain telah berbondong-bondong mengintip dari jendela buram ruangan tersebut untuk setidaknya mengintip benda apa yang telah berdosa menggelitik indera penciuman, indera perasa, tak lupa membunyikan orkestra di perut mereka.

"Selesai juga. Thanks ya, Aki...."

"Sama-sama. Akhirnya bisa bikin kue kayak gini juga kamu, Sa."

Asaka mengangguk. Dalam benaknya berkecamuk berbagai macam rasa. Namun ia tak ingin menunjukannya. Tidak di depan Akito. Akito memintanya untuk bahagia. Akito menginginkannya untuk terus tersenyum. Maka untuk Akito... hanya untuk laki-laki itu saja....

Tanpa sadar, satu kecupan hangat mampir di puncak kepalanya. Membuat wajahnya memerah seketika.

"Barusan yang terakhir. Aku... akan selalu di sini. Jadi kamu harus inget janji kamu ya, Asa."

Matanya yang lantas memanas, dan Asaka pun berani bersumpah bahwa kilat yang sama baru saja melintas dan bersembunyi secara sempurna dari manik cokelat susu Akito... ah, kalau saja tetes itu boleh membasahi pipinya....

... hanya untuk yang terakhir kalinya. Ia berjanji. Yang terakhir.

****

Sore hari, Asaka dalam balutan furisode merah dengan motif kupu-kupu hitam berpadu dengan obi berwarna keemasannya... sementara raut wajahnya yang menajam--setengah murka akibat kalimat yang baru saja diungkapkan Wataru dan Rio.

"Kalian... UDAH BOOKING RUANGAN JUGA DI GENMYUJI?!! Dan di SEBELAH ruangan omiai-ku?! Astaga... KALIAN MAU NYEBAR GOSIP APA LAGI, HEH?!!!! Lagian Restoran Genmyuji itu kan mahaaaalll!! Kalian mau bayar pake apa?? Jangan bilang duit orang tuanya Andre--"

"--Asa... kalem, kalem... kalau engga kalem, entar cantiknya ilang, loh. Sayang, udah make-up-an cantik kayak gitu...."

Sayangnya bujuk rayu Wataru nyatanya tak berhasil meluluhkan amarah Asaka. Bergegas ia berbalik dan mencari Nandi, yang ternyata tengah bercengkerama bersama Andreas, Leyka, Nara, dan Luke di ruang rekreasi.

"Nandi, kasih-tau-aku-sekarang-juga," perintah Asaka, lambat-lambat mengucapkan setiap katanya, juga dalam nada yang mengerikan. "Beri tahu aku, apa-yang-ada-dalam-kepalamu-itu, Nandi!"

Namun kali ini Asaka salah sasaran, karena Nandi... diancam bagaimanapun juga gadis beriris hijau zamrud itu hanya akan tersenyum. Dan kata-kata terakhirnya yang begitu mengusik Asaka. Semakin membuat lubuk hatinya tenggelam dalam berbagai perasaan kalut, cemas, dan takut untuk melangkah menghadapi setiap detik-detik waktunya. Semakin membayang-bayangi isi kepalanya dengan satu nama dan satu wajah yang semakin sulit untuk dimusnahkan.

"Senpai jangan khawatir. Karena Senpai orang yang beruntung... Senpai bakal dapetin tunangan yang memang... jodohnya Senpai. Makanya, sekarang Senpai siap-siap aja, bentar lagi dijemput loh sama Inoue-san."

No comments:

Post a Comment