20140427

Kings #5

Project [K], a fanfiction
Disclaimer: GoRa and GoHands
_________________________________________________________________________________

Bar HOMRA, Izumo menuang minuman racikannya dengan pandangan antara ngeri dan mual. Bagaimana tidak? Cocktail kebanggaannya yang kaya akan rasa pahit dan manis kini harus ditambahkan pelengkap berupa pasta kacang edamame... berterima kasih pada seorang pelanggan setia yang juga merupakan maniak pasta dan selai kacang kelas mahawahid. Izumo menelan ludah dan menyuguhkan minuman tersebut pada sang pelanggan... padahal ini sudah kali kedua puluh satu Izumo menyajikan substansi maut itu dalam berbagai variasi.

Tetap saja, untuk seorang Awashima Seri, cocktail pesanannya sudah menjadi sekelas minuman raja-raja Bangsa Babylonia.

"Terima kasih minumannya," ujar Seri, dengan anggun menenggak cocktail-nya perlahan, juga memunculkan gurat-gurat panggilan-muntah-di-tempat pada wajah tampan Izumo.

"Eh iya, sama-sama...," dengus Izumo, masih berusaha seramah dan sesopan mungkin pada pelanggan berkelakuan minusnya. "Lalu, ada berita apa untuk hari ini, Seri-chan?"

Letnan Scepter 4 itu meletakkan gelasnya yang sudah setengah kosong di meja bar, lalu pandangannya beralih menyusuri rak-rak koleksi minuman beralkohol si bartender. "Biasa saja. Pihak militer negara yang protes atas penghasilan pajak yang dipotong untuk menggaji Scepter 4, Hidaka yang harus dirawat permanen setelah tujuh belas kali ditendang White Bean Tofu Stew, Kapten Munakata yang bolak-balik mengunjungi kediaman Raja Emas di sela-sela waktu sibuknya--entah untuk apa, dan...."

"Dan...?"

Mata Izumo menyelidik. Seri melengkungkan bibirnya dan sudah gatal ingin berbicara.

"Fushimi mengajukan cuti kerja selama satu minggu."

Telinga Izumo tergelitik. Kali ini ia yang mengulas senyum tipis. Kali ini Seri yang menatap penuh rasa ingin tahu.

"Kau tahu alasannya?"

"Ha...! Dia 'kan anggota Scepter 4, kenapa harus aku yang tahu alasan dia cuti seminggu?"

"Apa ini tidak ada hubungannya dengan Raja Merah yang baru?"

Izumo tergelak. Seri menaikkan sebelah alisnya.

"Yata-chan? Mungkin ada. Karena hampir satu minggu rajaku hanya mampir ke bar barang satu-dua jam saja, dan setelah itu dia pergi lagi."

"Ke mana?"

"Entah. Tim mata-mata yang diketuai oleh Kamamoto dan Shouhei mengatakan bahwa Yata-chan menyibukkan dirinya dengan berbagai macam kerja sambilan... jadi penjaga supermarket hingga kuli angkut bangunan."

"Hee.... Raja Merah, sedang krisis keuangan?"

"Jangan bercanda, Seri-chan. Mikoto saja bisa hidup hanya dengan uang dari barku ini, lalu kenapa dia tidak bisa?"

Seri mengangguk-angguk, lalu menghabiskan minumannya dalam beberapa teguk. Wanita itu berdiri, melangkah meninggalkan bar, setelah sebelumnya melempar pandang dan senyum manis pada Anna yang, sebetulnya, sedari tadi duduk diam di sofa, menguping percakapan para orang dewasa itu sembari memainkan kelereng merahnya.

Suara kecil Anna kemudian tertangkap ujung gendang telinga Izumo. "Kau tidak mengatakannya dengan lengkap."

"Mengatakan... apanya?"

"Alasan Misaki sibuk kerja."

"Karena tidak ingin menumpang hidup padaku, begitu 'kan?"

Anna mengangkat kelerengnya, mengintip Izumo dari balik bola kaca merah menyala itu.

"Izumo... kau pembohong kelas kakap."

****

"Ada perkembangan?"

"A--Kusanagi-san...! Masih sama, dalam dua puluh menit lagi dia akan bergerak menuju tempat penjual bento."

"Bagus, ikuti terus. Kalau ada perkembangan, jangan lupa beri tahu aku."

"Kusanagi-san, mau ke mana...?"

"... menghubungi mantan anggota HOMRA."

"... eh??"

****

"Halo, di sini Fushimi."

"Ara, Fushimi-kun... kau tentunya sudah membaca pesan di PDA-mu bahwa--"

"--Letnan Awashima bergosip apa lagi kali ini, Kusanagi-san?"

"Hei, jangan sewot dulu. Aku melakukan ini untuk membantumu."

"... aku tidak butuh bantuan."

"Hahhaa~ Fushimi Saruhiko si anggota Scepter 4 masih jadi Fushimi-kun yang tsundere, eh?"

"... tch, kau memang merepotkan. Ya, aku sudah membaca pesanmu. Lalu? Jangan bilang Kapten Munakata tiba-tiba saja memberiku izin cuti karena ikut bersekongkol denganmu."

"Loh? Bukannya kau sendiri yang minta cuti?"

"... tch. Sudahlah. Jadi rencananya, seperti itu?"

"Betul sekali. Dan ingat, Monyet Bodoh, dia melakukan ini untukmu, jadi kau pun harus melakukan hal serupa--"

"--Tidak perlu diingatkan, aku sudah tahu. Tch... menyebalkan."

"Dan ingat bahwa ini juga merupakan--ehm, balas jasa antara Raja Biru dan Mikoto, jadi...."

"... bahkan Kapten Munakata pun tidak bisa melepaskan tali nasibnya bersama Mikoto-san, begitu?"

"Dia hanya tidak ingin kalian berdua mengalami nasib yang sama."

"... tch. Kalian ini benar-benar sekumpulan orang-orang yang senang ikut campur."

"Hahahaaa... kau bisa katakan itu berkali-kali nantinya, Fushimi-kun. Dan... selamat datang kembali di HOMRA. Selamat berjuang."

"... tch."

... trek.

Tut... tut... tut....


20140425

Kings #4

Project [K], a fanfiction
Disclaimer: GoRa and GoHands
_________________________________________________________________________________

"HUAAAAAAA...!!!!"

Bunyi berdebam benda jatuh. Memekak telinga. Jantung berpacu kencang. Kusanagi Izumo tidak bisa menahan dirinya untuk tidak panik dan berlari menyambangi kamar si raja cilik di lantai dua bar miliknya. Astaga... baru saja tiga menit ia tiba di bar dan rajanya sudah bikin ulah lagi. Dua hari yang lalu rajanya bermimpi aneh tentang dijejali satai kelinci oleh Raja Biru hingga tanpa sengaja membakar habis kasurnya sendiri... lalu lima hari yang lalu rajanya juga bermimpi dikejar-kejar segerombolan kuda putih bersayap dengan Kamamoto Rikio menunggangi kuda paling depan, lengkap dengan setelan jubah a la bangsawan kuno di abad 18, sehingga--konon di dalam mimpi, katanya--si raja kecil berusaha melenyapkan pasukan kuda putih itu namun dengan bayaran Bar HOMRA yang nyaris dilalap kuda merah hanya dalam waktu kurang dari lima belas menit.

Semua ini hanya karena sepenggal frase: mimpi buruk... atau mimpi konyol?

Izumo bersumpah. Raja barunya itu harus dipaksa mengikuti sesi terapi kesehatan jiwa dan kelas managemen emosi diri.

Namun kali ini, Izumo tidak mencium bau pelitur ruangan yang terbakar. Matanya tidak bertemu asap hitam. Telinganya tidak menangkap derak-derak raungan si kuda merah. Tidak biasanya.

Izumo memutuskan untuk mengetuk pintu.

"Yata-chan... kau tidak apa-apa?"

Terdengar suara dari dalam. Serak. Gemetaran.

"Masuk saja... Kusanagi-san... tidak dikunci."

Izumo membuka pintu kamar... kemudian menemukan Yata Misaki terduduk di atas ranjangnya. Dada naik-turun. Pupil mengecil. Sekujur tubuh pemuda itu mandi peluh.

"Yata-chan... mimpi buruk lagi?"

Raja kecilnya tidak menjawab. Raja kecilnya hanya melipat lutut dan menenggelamkan wajahnya. Lalu terisak kecil.

Sepertinya sebentar lagi Izumo akan mengalami serangan jantung stadium satu.

Dihampirinya si raja kecil. Izumo lantas duduk di sisi ranjang, menepuk pelan rambut berantakan Misaki. Tidak berkata apa-apa. Izumo menunggu rajanya menenangkan diri.

"Saru... Saru...."

Izumo menghela napas. Entah mengapa, situasi ini sudah terbayang jelas di otaknya dari beberapa saat yang lalu, terutama tentang nama yang baru saja diucapkan Misaki.

"Si monyet itu, kenapa?"

"Aku melihat... dia mati...."

Yang kali ini, Izumo benar-benar seperti disambar petir. Ia pikir rajanya bermimpi dikejar-kejar si monyet bodoh itu, disudutkan di suatu gang, beralih pada pertempuran tak terelakkan, sampai pada akhirnya si monyet akan mengaku berbagai hal, dari alasan berkhianat hingga sebagai tertuduh pencuri kaos oblong sang raja.

Rupa-rupanya tidak. Atau Izumo mungkin sudah terlalu terbiasa berimajinasi mengenai mimpi unik yang selalu diceritakan Misaki padanya.

"Aku melihat Totsuka-san... lalu Mikoto-san... satu-satu lenyap dibakar api dan jadi abu, menghilang.... Lalu Saru... dia juga... dia...."

"Sudahlah, semua cuma mimpi."

Kata-kata Izumo tidak pernah sampai di telinga Misaki. Pemuda itu tetap menggigil, dengan lengan terjulur dan jemari yang menggenggam erat ujung kemeja Izumo.

Sekali lagi, Izumo menghela napas.

Rajanya kini tidak akan pernah bisa dijinakkan sebagaimana ia mampu menjadi pengendali emosi raja sebelumnya. Tidak bisa dirinya, tidak juga Rikio, Chitose, Bandou, Eric, atau Anna sekalipun. Rajanya sudah punya penarik tali kekangnya sendiri, meskipun semua orang tahu bahwa tali itu dibawa kabur oleh seekor monyet bodoh yang tak bertanggung jawab dan membiarkan semua orang menanggung akibat dari perbuatan imbisilnya itu.

Tidak ada yang bisa menjadi seorang Fushimi Saruhiko di HOMRA. Dan tidak ada seorang pun yang bisa menggantikannya, terutama bagi Misaki.

****

"Fushimi-san hari ini kenapa? Sewot banget dari pagi...."

"Engga tahu. Kata Kamo-san yang ketemu di kamar mandi pas sikat gigi, mata Fushimi-san udah merah banget dan agak bengkak."

"Dia habis berantem? Sama siapa?"

"Atau habis begadang dan mabuk sake?"

"Hei, meski jenius umurnya masih di bawah dua puluh tahun, loh...."

"Bengkaknya bukan bengkak ditonjok gitu, sih. Aneh tapi bengkaknya... kayak...."

"Kalau kata Kamo-san sih... kayak mata istrinya kalau habis nangis semalam suntuk."

"Hahahahaa... becanda banget. Mana mungkin Fushimi-san...."

"... tapi iya, sih... belakangan, atau udah seminggu ini dia jadi aneh. Gampang marah, sewot... denger-denger Letnan Awashima kemarin baru nyembur Fushimi-san gara-gara sepiring anko yang dibanting tepat di mata Letnan...."

"... minta dibunuh di tempat banget tuh sama Letnan Awashima...."

"Kamarku sebelahan sama kamarnya Fushimi-san... dan emang beberapa malem ini aku kebangun terus gara-gara suara aneh dari kamarnya. Suara semacam benda dibanting lah, setelah sebelumnya dia teriak-teriak kayak habis dapet mimpi buruk atau kedatengan setan."

"Hahahaa... ya kali kedatengan setan. Orang macem dia sih mana percaya yang begituan?"

"Berarti... mimpi buruk?"

"Oh ya... dia juga sempet manggil-manggil nama orang."

"Eh? Manggil-manggil siapa?"

"Engga tahu, engga jelas. Sesuatu yang ada 'Misa'-nya... kayak nama cewek."

"Hooo... jadi Fushimi-san, mimpi buruk soal cewek?"

"Eh, emang dia punya pacar?"

"Misa... Misa... hmm, kayak pernah denger nama itu di mana, ya?"

"Tanya orangnya aja, gimana?"

"Dih, ogah. Mending aku makan satu panci bubur kacang hijau buatan Letnan Awashima ketimbang nanya langsung hal ini ke Fushimi-san."

"Hahahaha... gila kalian. Udah, ayo kerja lagi...!"

.
.
.

Saruhiko menggeram dari balik pintu. Niatnya urung untuk memasuki ruang kerja. Sepertinya ia hari ini akan minta cuti pada sang atasan untuk jalan-jalan dan membersihkan pikirannya. Ya, pikirannya yang penuh akan percakapan menyebalkan para rekan kerja yang membuatnya selalu teringat pada pemilik warna madu di balik kupluk bulukan, yang selama tujuh hari ini terus menghantui setiap malam-malam gelapnya....

... dalam kubangan darah dan tubuh terkulai lemah yang akan selalu ia peluk di akhir mimpinya.

20140424

Kings #3

Project [K], a fanfiction
Disclaimer: GoRa and GoHands
_________________________________________________________________________________

Bar HOMRA sedang tutup. Katanya merayakan satu bulan hari jadi raja kecil mereka yang baru. Padahal bilang saja hari itu Izumo sedang kehabisan persediaan alkoholnya dan Kamamoto Rikio yang diduga mengalami ritual akhir musim dinginnya... ya, ritual beruang kutub hibernasi.

"King, mau minum apa?" Izumo menawarkan raja kecilnya dengan santai, setelah membagikan sisa eggnog pada anggota HOMRA yang lain... yang tentunya sudah mencapai umur ilegal untuk mengkonsumsi alkohol.

Dari ujung ruangan, terdengar suara serak Eric Surt bergumam dalam Bahasa Inggris-nya.

"Cihuahua tidak minum alkohol, Kusanagi-san."

Maka jangan heran kalau si raja kecil, Yata Misaki, langsung menggebrak meja dan memburu Eric dengan aura merahnya yang meletup-letup.

"Kau--berhenti berbicara denganku dengan bahasa asingmu itu...!! Kau pikir aku TIDAK MENGERTI apa yang kau ucapkan, hah? HAH?! Kusanagi-san, dia tadi mengejekku, 'kan...?!"

"Yata-chan~ kalau marah-marah kau jadi makin mirip cihuahua, loh...."

"JANGAN IKUTAN NGEJEK JUGA, KUSANAGI-SAN--"

"Tapi bukannya King belum legal buat minum alkohol, ya?" tambah Chitose sambil menyeruput dalam-dalam minumannya, membuat si raja kecil menggaruk-garuk bagian belakang kepalanya.

""Heeiii... tujuh bulan lagi umurku dua puluh tahun...!" sembur Misaki, semakin kesal. Izumo lantas tertawa dan menepuk-nepuk punggung rajanya.

"Jadi, Yata-chan mau minum apa?"

Misaki terdiam sesaat, sampai ia memberikan jawabannya yang--

"... susu."

--membuat hampir separuh isi bar menyemburkan isi minuman yang telah dikulum di mulut masing-masing, ditambah Rikio yang jatuh terjungkal dari kursinya.

"Yata-san...."

"... cihuahua...."

"... minum...."

"... SUSU...???!!!!"

Lalu hening yang melanda. Antara Misaki yang mendadak kehilangan akal untuk menanggapi reaksi berlebihan para bawahan ataupun para bawahan yang tidak tahu lagi ekspresi apa yang harus ditunjukkan menghadapi jawaban maut sang raja kecil.

"Yata-chan, kamu sakit?"

Tidak butuh satu detik lebih lama lagi untuk membuat Misaki berteriak kesal dan berjalan menghentak-hentak kaki penuh amarah, kembali ke kamarnya di lantai dua. Namun tidak butuh satu menit lebih lama bagi Izumo untuk mengantarkan segelas susu hangat ke kamar rajanya... tentunya dengan menyembunyikan cengiran lebar agar wajah tampannya tidak habis terbakar emosi labil sang raja cilik.

****

Kantin Scepter 4. Benzai Yuujirou dan Hidaka Akira yang saling berpandangan dalam gugup.

"Fushimi-san...."

"... sayurnya...."

Fushimi Saruhiko menoleh. Berdecak. Meninggalkan bekas makan malamnya dan melangkah keluar dari kantin dalam langkah terburu-buru.

Cukup lima menit jeda waktu yang dibutuhkan sampai kabar burung tersebut tiba di gendang telinga Munakata Reishi.

"Jadi, kamu sudah bisa makan sayur?" tanya Reishi, tanpa nada interogasi, pada Saruhiko di ruang minum teh pribadi milik ketua Scepter 4 itu.

"Tch. Urusan Anda?"

"Tidak ada," jawab Reishi, menyodorkan segelas teh hijau ekstra pekat ke hadapan Saruhiko. "Aku hanya berpikir, perubahan signifikan ini akan berujung pada persimpangan jalan yang membawamu pada... persimpangan lain yang telah kau lalui."

"... jadi intinya...?"

Reishi menyesap teh hijaunya. Bibirnya melengkung sempurna dalam beragam makna.

"Kau mau pergi, Fushimi-kun?"

Membelalak mata. Disusul decakan berikutnya.

"Tidak berniat, Kapten."

"Tapi kau tahu separuh dirimu tertinggal di persimpangan jalan itu."

.
.
.

Decakan lain. Saruhiko menenggak cepat-cepat tehnya dan mohon pamit pada Reishi. Ia harus cepat kembali ke kamar asramanya. Kepalanya sakit. Perutnya melilit. Mungkin efek terlalu banyak makan sayuran....

... atau terlalu dalam jatuh pada masa lalu yang mati-matian tengah menggapainya untuk kembali.

20140417

Kings #2

Project [K], a fanfiction
Disclaimer: GoRa and GoHands
Also a little bit from K - Lost Small World
_________________________________________________________________________________

"Merah...."

Misaki menoleh pada Anna, sementara gadis kecil itu tengah mengamatinya lekat-lekat tanpa perlu mengintip dari kelereng merahnya.

"Yata... merah...."

"Oh... errr... mungkin karena aku sudah jadi... raja?"

Misaki gelagapan. Ia masih tidak suka mengucapkan kata terakhir dalam kalimatnya itu.

"Merah... seperti Mikoto...."

... eh?

Sontak tawa Izumo memecah dari balik bar, diikuti teriakan panik Kamamoto yang nyaris memecahkan gelas wine mahal dan antik koleksi pribadi sang pemilik bar.

"Tuh, 'kan, Yata-chan? Anna sudah bilang, loh... lalu apa lagi yang bisa kau sangkal?"

Misaki mendecak lidah. Semburat kemerahan mampir di tulang pipinya yang sama sekali tidak menonjol. Perlu berapa lama lagi sampai ia bisa membiasakan diri dengan titel barunya itu?

****

"Fushimi-kun, laporan pengejaran strain kemarin...."

"Ini, Ma'am."

"Fushimi-kun, dokumen tentang perdagangan senjata ilegal dari blok sembilan...."

"Sedang diunduh, Ma'am."

"Fushimi-kun, Domyouji-kun bilang kau belum menandatangani laporan yang ia kerjakan...."

"Sudah ditaruh di meja Kapten, Ma'am."

"... Fushimi-kun...."

"Iya, Ma'am?"

"... bisakah kau melepaskan pandanganmu dari layar komputer? Aku berbicara di sebelahmu, bukan dari dalam layar. Oh, bahkan kau memberikan laporanmu dengan--tangan--kirimu. Kau mulai tidak sopan, Fushimi-kun."

"... tch."

"Perlu kuberitahu Kapten Munakata tentang kondisimu supaya kau dibebastugaskan untuk menyelesaikan segala permasalahan di kepalamu itu?"

"... maaf, Ma'am?"

"Iya, isi kepalamu sedang kacau. Dan jangan kau pikir aku tidak tahu, Fushimi-kun."

... heh, jangan ngawur. Kau memang tidak tahu apa-apa, perempuan cerewet.

"Ah ya, dan jika kau sedang senggang, aku sudah menaruh pasta kacang merah dan bubur kacang hijau di kulkas kamar asramamu. Jangan lupa kau makan atau aku akan memberi porsi yang lebih banyak lagi."

"...."

"Fushimi-kun, jawabanmu?"

"... iya. Terima kasih banyak, Ma'am."

****

"Fushimi, kenapa kau memilih jalan ini?"

Kenapa? Kenapa... apakah penting untuk kau ketahui, Totsuka-san? Dan kenapa kau yang bertanya? Kenapa kau yang mengejarku dan bertanya... dan bukannya....

Oh ya. Dia sudah pernah bertanya. Hanya saja aku tidak memberikan jawaban yang sebenarnya. Aku berbohong.

Hahaha....

"Jawaban pertanyaan itu bukan untukku. Kau simpan saja, untuk kau jawab pada seseorang, suatu saat nanti."

Tch, senior hobi ikut campur yang dengan mudahnya mati tertembak calon raja gila.

Mati... kau memang sudah mati, ya, Totsuka-san? Bersama dengan Mikoto-san... sehingga dia kini harus menjadi raja.

"Fushimi, kenapa kau memilih jalan ini?"

Tch.

Sial.

Sial. Sial. Siaaaall...!!

"Kenapa... Saruhiko...?!!"

****

"Birunya... memerah...."

Kali ini Anna mengintip dari balik kelereng merahnya. Misaki hanya memperhatikan, setengah tidak tertarik, kebanyakan bosan. Yang menangkap maknanya adalah Izumo.

"Biru? Menjadi merah?"

Gadis kecil itu mengangguk. "Ia bimbang. Antara merah... dan biru. Masa lalu... atau masa sekarang. Tidak mau membuang... tapi tidak mau meraih....

"Saruhiko itu...."

Sekejap Misaki membeku, tubuhnya menggigil ngilu sebagai reaksi dari nama yang Anna ucapkan dengan lirih. Misaki tidak percaya. Tidak ingin percaya. Ia menatap Anna. Lekat-lekat. Ia ingin tahu lebih banyak akan apa yang Anna lihat. Kalau bisa, ia ingin melihatnya sendiri. Dengan kedua matanya.

Namun Anna tidak mengatakan apa-apa lagi. Ia menyimpan kelerengnya dan berjalan anggun menaiki tangga menuju kamarnya di lantai dua. Misaki terdiam, dihampiri juluran tepukan pemberi semangat dari Izumo.

"Yata-chan, terakhir kau bertemu si monyet itu, dia bilang apa?"

Ditanya seperti itu, lidah kelu Misaki tidak bisa berkata apapun, satu patah kata pun.

****

"Misaki, aku... tidak bisa."

"... alasanmu?"

"Yang kau lihat dari Mikoto-san, itu pula yang kulihat dari Kapten Munakata."

"... hanya itu?"

"...."

"Jangan bohong, Saru. Aku tahu kapan kau berbohong dan tidak."

"Karena aku tidak bisa jujur, Misaki. Aku tidak sepertimu."

"... heh. Setelah apa yang aku lakukan selama ini? Mengikutimu? Kau bilang kau tidak suka SMA karena itu aku tidak masuk SMA. Setelah kau membenci rumahmu, selalu terngiang-ngiang atas virus tentang ayahmu dan aku mengajakmu tinggal bersamaku? Bahkan setelah--setelah Aya merutuki dirinya sendiri karena tidak pernah jujur terhadapmu... sekarang kau masih melakukan hal yang sama?

"Butuh lebih banyak alasan untuk menjawab pengkhianatanmu, Saru."

"... tch."

"Saruhiko...!"

"...."

"...."

.
.
.

'Karena kau pernah jadi duniaku. Dan aku menghancurkannya dengan kedua tanganku. Karena itu aku tidak berhak menyusunnya kembali, seberapapun kau memintaku untuk melakukannya... ataupun egoku yang berteriak untuk menjadikanmu duniaku lagi... sekali lagi....'

Kings

Project [K], a fanfiction
Disclaimer: GoRa and GoHands
also a song fiction
featuring Kings by Angela, translated
_________________________________________________________________________________


Worries slowly come and kiss
Tell me what's your name?


Raja Merah baru telah terpilih. Pedang Damocles merah menari-nari di langit Kota Shizume tepat delapan jam yang lalu. Sementara Fushimi Saruhiko masih belum bisa mempercayai telinganya atas informasi tak masuk akal dari atasannya yang juga diragukan tingkat kewarasannya.

“Raja Merah baru telah ditentukan. Kini kita tidak bisa lagi sembarangan menangkap anggota Klan Merah dengan keberadaan raja baru mereka,” ujar Munakata Reishi dengan datar di awal pembukaan pidato singkatnya, “terlebih lagi untuk menangkap strain di antara mereka, Kushina Anna.”

“Jadi, segala perintah untuk menangkap Kushina Anna, dibatalkan?”

Reishi mengangguk menjawab pertanyaan Awashima Seri. Saruhiko sendiri sudah gatal ingin melontarkan sebuah pertanyaan dari ujung lidahnya.

“Dan? Yang beruntung menjadi raja baru HOMRA?”

Jeda singkat. Mungkin bagi anggota Scepter 4 lainnya, wajah Reishi masih sama datarnya. Namun Saruhiko bersumpah baru saja melihat sudut bibir atasannya tertarik sekitar beberapa millimeter dengan kilat biru menyala melintasi matanya, tertancap di kedua bola mata Saruhiko.

Saruhiko juga tidak mungkin pernah menyangka bahwa jawaban yang diluncurkan Reishi satu detik kemudian akan memutarbalikkan dunianya, melontarkannya dari kenyataan untuk sampai dan mendarat pada… entahlah, ketiadaan? Kehampaan?

Yang pasti, Saruhiko tidak akan pernah kembali lagi pada akal sehatnya. Karena….

“Yang terpilih menjadi Raja Merah yang baru adalah sang vanguard HOMRA….

Deg!

“… Yata Misaki.”

Saruhiko mendadak merasa dikungkung kegelapan dan dicekik udara penuh karbondioksida.


****


We're attracted to each other again
Yet we'll end up comparing and insulting each other


"Saruhiko! Sudah kubilang jangan makan sendirian di halaman belakang begini!"

"Lalu? Aku harus makan di atap, mengikuti kebiasaanmu, di antara kerumunan orang berisik itu, Misaki?"

"Jangan sebut nama depanku! Dan--maksudku... kau 'kan bisa, maksudku... mengajakku untuk menemanimu makan di sini."

"...."

"Oi! Katakan sesuatu--"


No matter how many nights pass
Somewhere in this pitch black


"--kau bodoh, Misaki."

"... ap--puaaaa...?!!"

"Hehe... si bodoh."


There's a piece of myself I'm missing
So I'll search, and kiss, and destroy


****


Big wave
A twisted impulse in this tantalizing echo
Am I... shaking?


"Yata-san, selamat...!"

"Semoga bisa jadi raja yang sehebat Mikoto-san!"

"Jangan meleng lagi kalau pakai skateboard di jalan...!"

"Sebagai tanda selamat, buatkan aku nasi goreng Yata-rice... ya, Yata-san?"

"Jadi... aku harus memanggilmu dengan Yata-san atau masih boleh Yata-chan?"

Yata Misaki geleng-geleng kepala dan menghela napas pasrah dengan rentetan konveti dan komentar teman-teman satu klannya. Klan Merah. Klan peninggalan raja terdahulu, yang baginya yang terhebat, dan yang kini harus ia lindungi dengan segenap jiwa raga. Cih, memikirkannya saja membuatnya merinding. Ia tidak ingin jadi raja. Ia merasa pundaknya mendadak dibebani berton-ton karung beras.

Ia bukan raja. Ia tidak mungkin jadi seorang raja. Rajanya hanyalah Suoh Mikoto, seorang. Dan kenapa tidak Kusanagi Izumo saja yang jadi raja? Secara kekuatan, Izumo masih menjadi yang nomor dua setelah Mikoto dan dirinya hanyalah nomor tiga.

Kenapa Pedang Damocles memilihnya? Apa yang jadi dasarnya untuk menjadi seorang raja?

Dipikir-pikir... ia juga tidak pernah tahu mengapa Mikoto naik sebagai Raja Merah. Yang ia lihat hanyalah keagungan sosok Mikoto di hadapannya; wajah garang meliar dengan punggung selebar sabana dan lengan sekuat baja untuk melindungi anggota klannya... imaji yang kemudian membuatnya selalu melupakan sepenggal kalimat yang diucapkan mendiang rajanya itu beberapa tahun lalu, dalam sorot lelah Mikoto yang, saat itu, tidak ia mengerti apa artinya.

"Yata, aku tidak ingin jadi raja. Aku tidak tahu kenapa aku jadi raja. Dan aku tidak pernah berlaku layaknya seorang raja."

Tuh, 'kan? Teringat lagi. Misaki tahu hiruk-pikuk di sekelilingnya, namun raganya lelah. Baru beberapa jam ia menopang tubuhnya dengan titel baru itu, dan ia merasa sudah hidup ratusan tahun lamanya.

Ah... mungkin seperti ini perasaan Mikoto dahulu. Memilih diam namun memperhatikan satu-satu di sekeliling. Apakah ia juga harus jadi seperti itu? Mengawasi, tidak lagi bersikap gegabah... dan seakan-akan melakukan segalanya sendirian? Mikoto dulu kerap kali terlihat pergi sendiri, tanpa ditemani Izumo, Tatara, ataupun Anna sekalipun. Sendiri... padahal ia yakin Mikoto pun tahu bahwa tanpa diminta pun anggota HOMRA akan siap menemaninya ke manapun, kapanpun.

Sendiri? Seperti itukah? Haruskah raja bergerak dalam kesendirian seperti itu? Kenapa...?

"Yata-chan, Mikoto juga tidak pernah ingin jadi raja."

Ucapan Izumo membuyarkan lamunannya. Ia lalu memandang lekat-lekat segelas jus jeruk dingin yang disodorkan sang bartender padanya. Setengah berharap, tanpa harus berkata-kata, Izumo akan melanjutkan kalimatnya dengan jawaban lain yang tengah ia butuhkan.

"Dan Mikoto sadar ia tidak pernah sendirian. Bagaimana denganmu?"


Big bang
A barbaric impulse in this cold conflict
Do I press on until there's blood?


Misaki mengumpat dalam hati. Ia tahu apa yang salah. Ia tahu mengapa ia tidak bisa menegakkan kepala dengan bangga untuk menyambut julukan barunya. Ia tahu mengapa riuh di sekitarnya bisa tersamarkan-nyaris-tertulikan hanya dengan sebuah perasaan ambigu. Ya, pertanyaan terakhir Izumo itu sama efeknya seperti menghantamkan kepalanya ke tembok. Isi kepalanya jernih seketika.

Masalahnya adalah pada orang itu. Pria bodoh sekelas monyet yang seharusnya ada di sampingnya, mendukungnya, berdiri berdampingan sebagai partnernya... sebagaimana algoritma fungsi seorang Kusanagi Izumo terhadap Suoh Mikoto.


I want to make sure
I want to hold your hand
But am I... actually scared?


Cepat atau lambat, Misaki tahu ia harus menyelesaikan segala urusannya dengan Saruhiko.


****


They say we have a lot of things in common, so
I can't help but keep you in my sight


"Oi, Saru...! Itu kotak bekalku!!"

"Hmm? Oh, aku sisakan untukmu juga, kok."

"... TAPI INI ISINYA SAYUR SEMUAAAA--"

"--Misaki, itu bagian ganti rugi karena aku selalu meminum jatah susu yang tidak suka kau minum. Kalau kamu tidak mau minum susu, kapan kamu bertambah tinggi?"

"Kamu sendiri juga engga suka makan sayur...!!"

"... tch."


We're all just people who flock to a conflicting justice
And snuggle together for one last moment


"Kamu... suka sekali berperan sebagai pembela kebenaran, ya?"

"Pembela kebenaran itu keren...! Berperang melawan yang jahat, melindungi yang lemah... memangnya kamu tidak suka, Saru?"

"Tapi 'kan tidak ada pembela kebenaran yang cebol."

"Pembela kebenaran juga engga ada yang pilih-pilih makanan dan engga suka makan sayur."

"... karena aku tidak bisa jadi seperti itu...."

"Ha? Kamu bilang apa, Saru?"

"Bukan apa-apa. Oh ya, game yang kamu pesen udah sampai. Kapan mau main ke rumahku?"

"Hari ini! Langsung! Pulang sekolah! Yeaaahh...!!"


I realize the future is uncertain and the past can't be changed
So I'll search, and kiss, and destroy


****


Kedai tempura dan okonomiyaki. Orang ketiga Scepter 4 dan yang sebelumnya juga merupakan orang ketiga HOMRA berbagi meja. Tidak ada pedang. Tidak ada skateboard. Tidak ada hawa peperangan. Tidak ada agenda permusuhan.

Tidak ada Pedang Damocles Merah menari di langit malam itu.

Patah-patah kata yang kaku. "Selamat atas... err, promosimu?"

"... Saru, kamu pikir HOMRA itu sejenis lembaga pemerintahan seperti Scepter 4? Jangan bercanda. Dan... yah, terima kasih."


I want to compete againts you
I want to feel excited
Are you... secretly scared?


"Aku sudah bilang pada Raja Biru untuk menghentikan penangkapan terhadap Anna. Anna anggota kami, tidak peduli dia strain. Aku... berani menjamin tidak perlu ada yang dikhawatirkan tentang Anna."

"Hmm...."

"...."

"...."

"Oi, Saru... katakan sesuatu--"


Though we have no wounds to lick
Our prides will make fools out of us


"Katakan... apa?"

"Tch... kau tahu? Aku tidak suka situasi sulit serba canggung dan kau membuatnya jadi seperti itu...! Sama seperti ketika aku menghadapi perempuan dan...."

"...."

"Saru...! Berhenti diam dan--memakilah seperti biasa, atau mengutukiku untuk mati seperti biasa, atau--"


Can I feel? Can't you feel?
I want to know you
But I can't
And never could....


"Daripada menungguku bicara... kau punya sesuatu untuk dikatakan padaku, Misaki?"

Terdiam. Tenggelam dalam emosi. Larut dalam ego. Telapak yang digenggam erat hanya untuk dilepaskan pada akhirnya.

Satu tarikan napas. "Tidak bisakah... kau kembali pada HOMRA?"

Bibir yang melengkung, melecehkan. "Apa yang terjadi pada harga dirimu setelah kau jadi raja, Mi--sa--kiii~~?"

Dengus napas yang lain. "Peduli setan, Saru. Aku bicara bukan sebagai raja. Bukan sebagai anggota HOMRA. Aku bicara, sebagai seorang Yata Misaki...."

'... maukah kau kembali berjalan di sampingku?'

Tertegun. Penggal kalimat itu tidak perlu diucap lantang hingga didengar udara.


Life is a moment
I want to break free
Just to hug you


Senyum yang lain. Kali ini lengkungnya sederhana.

 Tulus.

"Misaki, aku...."


Worries slowly come and kiss
Search, and kiss... and destroy


****

20140412

Run for Your....

A collaboration fiction
Featuring Leon Halverg (c) Tasya Aniza
_________________________________________________________________________________

"... selebaran apa nih, Zen?"

Zen nyengir lebar, mengibaskan flyer berukuran A5 itu di hadapan wajah Leyka. "Acaranya anak koas stase bedah, Ka. Yaa, kali-kali mau dateng. Terbuka untuk umum, kok."

Leyka lantas mengambil kertas tersebut dan mengamatinya lekat-lekat. "Hemm... acara lomba lari pasangan... Run for Your... Love?? Hah?? Harus pasangan banget nih, Zen?"

"Engga. Mau kakak-adik, bapak-anak, ibu-anak, kakek-cucu, sobat karib, tetangga apartemen, semua boleh asal berpasangan. Sebetulnya bisa aja sih jadi kompetitor individu, cuma harga tiketnya aja lebih mahal dan hadiahnya cuma dapet separuh, hahaha...."

"Dih, dasar otak marketing. Terus, kenapa kamu ikutan ngasih selebaran ini ke aku? Residen macem kamu ikutan ngurusin juga emangnya?"

Zen tertawa lepas. Teman seangkatannya dari SMA yang kini mengambil jalur spesialis yang berbeda dengannya itu tetap saja tidak berubah; kritis dan berlidah tajam. Ia masih belum bisa berhenti menerka atas alasan apa Rio jatuh dari kepala hingga ujung kaki pada perempuan ini.

"Iseng, abis kelihatannya acaranya bakal seru. Dan bakal lucu kalau lihat kamu partisipasi juga sama Rio, Ka."

"Kamu sendiri engga mau daftar?"

"Aku? Hehehe... kalau ada pasangannya sih mau aja, Ka. Tapi, siapa?"

Sepertinya beban kerja dan begadangnya selama beberapa malam ke belakang mulai membuat Zen melupakan imaji seorang pria berprofesi detektif swasta yang tidak pernah absen mengiriminya bekal makanan di setiap jadwal jaga malam Zen.

****

"Maaf, benar di sini tempat pendaftaran lomba lari pasangan?"

Desis dan teriakan tertahan perawat dan dokter muda di sekeliling. "Eh--iya, betul. Anda mau daftar? Individu atau pasangan?"

"Pasangan."

Decak dan dengung kecewa, sarat patah hati. "Oh... emm, baik... erhm--silakan tulis nama Anda di kolom ini, lalu umur, tinggi badan, berat badan, golongan darah, dan pekerjaan Anda. Lalu silakan isi nama dan identitas pasangan lomba Anda di kolom sebelahnya...."

"... hmm, hmm...."

"Lalu silakan tanda tangani di bawah... wah, cepat sekali. Anda sudah hapal identitas pasangan Anda, ya?"

"Hmm, kurang lebih."

"Baik, saya cek kembali, ya? Nama Anda, Leon Halverg, umur tiga puluh satu tahun, tinggi badan seratus delapan puluh tiga sentimeter, berat badan tujuh puluh lima kilogram, golongan darah B, pekerjaan sebagai detektif swasta. Dan yang akan menjadi pasangan Anda adalah...."

Diam yang menggantung.

"... ya? Ada yang salah?"

"... ehm--yang jadi pasangan Anda adalah... Dokter Adriantama Zein, umur tiga puluh tahun, tinggi badan seratus tujuh puluh sentimeter, berat badan lima puluh sembilan kilogram, golongan darah O, pekerjaan sebagai... residen bedah Rumah Sakit Pusat Shinjuku? Ta--tapi ini 'kan--"

"--iya, Dokter Zen. Sekali lagi, ada yang salah? Atau Dokter Zen sudah mendaftar perlombaan ini dengan pasangan lain?"

"Eh... oh, be--belum, sih... tapi...."

"Baiklah. Kalau begitu, ini uang pendaftarannya. Dan bisa saya bertemu Dokter Zen? Ponselnya tertinggal di apartemen saya tadi pagi dan saya sekalian ke sini untuk mengantarkannya."

"...."

****

"Zen? Nyari apa?"

"Shit... HP gue--"

"--woi, Zen! Ada yang nyariin, tuh! Katanya bawain HP lo yang ketinggalan. Ah, sumpah deh lo kayak anak kecil banget, barang ketinggalan minta dianterin."

"Hei, bukan gue juga ya yang minta. Terus, siapa yang nyariin? Orangnya di mana?"

"Di lobi ruang tunggu depan IGD. Gue engga tahu namanya, cuma disampein sama anak koas doang. Tapi katanya sih, cowok yang daftarin diri sebagai pasangan lo buat lomba lari minggu depan."

Hah? Cowok...? Daftarin diri buat lomba lari pasangan...?

... astaga.

AS--TA--GA...!!

.
.
.

"... Dokter Zen!! Jangan lari-lari di koridor rumah sakit...!!"

20140403

Re:trace #9

"Noir, please, gantiin aku, ya...?"


"Kenapa? Kamu engga mau pergi kencan sama dia?

"Err... mau, sih... tapi salting... engga tahu, ah!"


"... jadi intinya Shinji, bukan Yuuji?"

"A--bukan, maksudnya--"


"Tch. Awas ya, sebagai gantinya, kamu engga boleh sakit, se-bu-lan."



****


Shinji sudah memperkirakan hal ini sebelumnya. Raut wajah merah padam semerah kepiting rebus dari Lyra sudah cukup meyakinkannya bahwa korban ajakan kencannya hari itu bukanlah Lyra, tapi Noir. Mereka jadian? Oh, tidak, jangan khawatir... atau mungkin, belum. Pemuda yang bungkus luarnya semakin mirip preman pasar ini belum sudi untuk menyangkut-pautkan antara logika, ego, napsu, dan hatinya untuk dirangkai menjadi satu kata: cinta. Iya, belum. Karena ego Shinji yang mulai merajuk-rajuk untuk menembak gadis itu sepulang kencan nanti.

Masalah kencan, heh, jangan salah. Pengalaman kencan Shinji sudah selayaknya bayi singa laut yang bisa langsung berenang ketika dicemplungkan ke samudra luas. Oke, tidak nyambung. Intinya, kalau ditanya berapa kali jumlah kencan, Shinji bisa memastikan bahwa ini adalah kencan kesepuluh yang pernah dilaluinya, dengan rincian kencan buta lima kali dan kencan-berdua-saja-dengan-perempuan sebanyak empat kali. Dan setelah kencan? Pasti ada saja alasan para perempuan itu untuk meninggalkan Shinji. Entah karena kelalaiannya yang sering telat hampir satu jam dari waktu perjanjian, hobi merokoknya satu batang per jam, kebiasaannya mendengkur keras di bioskop hingga dijejali popcorn oleh penonton dari kursi sebelah, atau memesan tiga gelas ukuran besar minuman bersoda alih-alih memesan makan malam.

Entah kebiasaan Shinji ini yang memang, errh, sangatlah 'antik'... atau perempuan-perempuan korban kencannya yang masih diberkahi kewarasan otak.

Untuk kencan kali ini, karena pasangan kencannya pun sama-sama orang yang tidak-begitu-waras, maka Shinji telah mempersiapkan berbagai macam rencana. Salah satunya, sebagai pembuka, dengan tiba di tempat yang telah dijanjikan lebih cepat tiga puluh menit dari yang seharusnya....

... dan betapa Shinji merasa tertohok ketika sosok gadis berambut panjang yang digerai sepinggang, memakai tunik hitam-putih tanpa lengan dan legging hitam itu sudah berdiri di sana, menunggunya di samping mesin pembelian karcis kereta api.

"... lelet."

Shinji menepak jidat. "Kita janjian 'kan jam sebelas."

"Tetep aja, cowok harusnya dateng duluan ketimbang ceweknya. Harusnya sekalian aja kamu dateng pas jam sebelas, atau telat satu jam kayak waktu kamu jalan sama cewek-cewek lainnya."

'... dateng duluan ketimbang ceweknya...'

'... ceweknya...,' entah mengapa Shinji merasa begitu terusik dengan kata tersebut.

Meski pada akhirnya Shinji menyerah beradu argumen ronde dua dengan gadis itu dan memutuskan untuk mulai menjalankan rencana kencan yang telah disusunnya matang-matang di dalam kepala.

.

1. Lihat mood-nya, bagus atau jelek? Bagus maupun jelek, ajak dulu dia ke Game Center. Kamu tahu itu adalah kegiatan favorit kalian dan peduli setan dengan setelan baju yang dikenakannya, kamu--harus--membuatnya--minimal--bersemangat! ... tapi ingat, kalau dia-dan-dandanannya terlalu mencolok untuk berada di tempat itu, kamu tidak boleh meninggalkannya sendirian di mesin archade atau kamu--akan--tahu--sendiri--akibatnya.

"... game center? Kamu kalau ngajak cewek kencan, biasanya ke tempat kayak gini...?"

"Gue engga peduli sama tanggapan lo. Gue mau main, dan setahu gue serial tembak-tembakan kesukaan lo udah rilis yang episode baru tadi pagi."

Survei kilat dini hari, membuat Shinji yakin rencana pertamanya berjalan mulus. Tanpa gangguan....

'... pssh, apa-apaan tuh cewek? Manis gitu, terus masuk tempat ginian?'

'Cowoknya berandal kali, ya? Mau-mau aja diajakin....'

'Masih SMP? Seleranya mesin tembak... boleh juga dipepet selesai dia main....'

Begitu besar hasrat Shinji untuk berbalik dan membogem mentah mulut-mulut bersuara serak dan mesum tak tahu diri itu. Yah, minimal sampai semua gigi di rongga mulut mengalami keretakan permanen atau dislokasi rahang beberapa sentimeter.

"... ikut main? Tumben. Setahu aku kamu engga suka mesin tembak...."

"Karakter ceweknya seksi. Dan gue udah capek latihan di markas, butuh suasana baru."

Berterima kasih pada mulut sembrononya, skor tertinggi telah terpampang sempurna di mesin yang baru saja enam jam terpasang di sana. Diduga penyebab utamanya adalah kerumitan intrik dan bos terakhir yang butuh berbagai macam amunisi untuk dijatuhkan, sementara dugaan lainnya tertuduh atas kalimat spontan Shinji mengenai karakter-cewek-yang-seksi.

Bagus. Shinji harus belajar caranya mengontrol mulut frontalnya.

.

2. Distrik belanja, dan biarkan dia berjalan-jalan kemanapun yang dia mau. Ikuti saja, sampai tiba saatnya dia menatap suatu barang di etalase. Kalau harganya masuk akal, tawarkan diri untuk membelikannya. Hei, seketus dan sedingin apapun luarannya, kamu tahu dia tetaplah seorang perempuan cuek yang, ironisnya, mudah terpikat oleh benda-benda lucu seperti boneka kelinci atau tas beruang madu.

Hampir dua jam. Tangan kiri Shinji sudah menggenggam satu kantong belanja berisi sabut cuci piring, detergen, pewangi pakaian, kamper lemari sepatu, deodoran, shampo, sikat gigi dan handuk baru. Salahkan Kaho dan titipan daftar belanja bulanannya. Tapi tenang saja, uang untuk membayar belanjaan itu tidak keluar dari koceknya. Kaho masih sangat baik dengan turut menitipkan sejumlah uang dalam jumlah ekstra pas-pasan.

Lalu toko boneka tepat di samping supermarket. Shinji hampir tidak sadar kalau Noir telah mematung di depan etalase toko tersebut. Sementara binar mata yang Shinji temukan....

... Shinji nyaris tidak bisa bernapas. Bukan. Bukan karena label harga. Namun karena, detik itu, ia bersumpah imaji Lyra dan Noir saling bertumpuk satu sama lain. Tidak bisa dibedakan.

"Lo mau itu?"

"Hmm? Oh--engga, tentu aja. Gue cuma liatin hiasan beruang yang gothic di belakang sana. Beruangnya lucu, digantung di leher. Coba matanya sebelah copot--"

"--yang lo lihat, beruang yang di belakang, atau boneka kelinci putih pita merah yang pas banget di depan lo ini?"

Semburat merah padam. Sematang kepiting rebus. Lagi-lagi. Namun kali ini Shinji melihat jelas sorot tajam yang kemudian tertancap di kedua manik cokelat keemasannya, membuatnya sadar dengan siapa ia tengah berhadapan. Tanpa basa-basi dan sebelum lehernya dijerat senar biola, ia buru-buru masuk dan membeli boneka kelinci di etalase itu.

Keduanya keluar toko. Shinji yang menyeringai puas dengan tato merah berbentuk telapak tangan di pipi kanan dan Noir yang menunduk seraya mendumel, melupakan kantong cokelat berisi si boneka kelinci yang gadis itu peluk erat di dadanya.

.

3. Makan siang tepat pada waktunya, atau kamu akan membuat pemilik badan yang satunya kelelahan dan bolos sekolah untuk dua hari ke depan. Menu makanan? Lebih baik kedai okonomiyaki daripada junk food. Jangan lupa obrolan ringan (jangan--berani--bicarakan--tentang--hubungan--kalian) dan jangan lupa pula membayari pesanannya.

Kedai donburi. Shinji merelakan dirinya hanya makan menu paling murah demi menraktir gadis itu makan siang.

... oh, rupanya ia salah besar. Noir terlalu jeli untuk melihat apa yang ada di balik segala motifnya.

"Aku pesan unagi donburi dan soft cream matcha. Mahal, 'kan? Udah, sekalian kamu kupesenin salmon donburi. Dusta banget kamu cuma makan inari doang. Aku tahu kamu engga ada duit abis beliin aku boneka, jadi sekarang harus aku yang bayarin kamu."

Lidah Shinji kelu. Mulutnya terkunci rapat. Dan selama makan siang berlangsung, Shinji hanya bisa menggeram pasrah menanggapi senyum lebar Noir, penuh keculasan, tanda kemenangan dan invasi kesetaraan.

.

4. Nonton film atau ke toko buku. Err... coret opsi pertama karena isi dompetmu pasti sudah meraung keras minta dikasihani. Pergilah ke toko buku. Pura-pura tenggelam membaca buku dan tetap perhatikan dia. Perhatikan ke lorong mana dia pergi. Pastikan dia aman tanpa dikuntit maniak yang hobi mangkal di toko buku. Hei, ini bukan posesif dan obsesif. Kamu sendiri tahu kalau toko buku di negeri ini bukanlah tempat yang aman sebagaimana seharusnya.

Yang jadi masalah dari rencana ini adalah: betapa rak serial komik pria yang biasa Shinji baca terpaut dua lorong paralel dari rak lite-novel kegemaran Noir maupun Lyra. Lyra mungkin masih bisa dibujuk-bujuk Kaho maupun Yuuji untuk membaca komik bergenre roman dan percintaan, tapi tidak dengan Noir. Noir tidak suka dengan sistematika penyuguhan cerita dalam ekspresi rupa, wajah, dan gestur yang tertuang dalam bentuk gambar, sebagaimana Shinji malas membaca novel yang minim gambar dan kebanyakan tulisan. Buku diktat sekolahnya saja masih banyak gambarnya, lalu kenapa ia harus memaksakan diri membaca satu buku yang penuh dengan tulisan semua?

Shinji mulai gerah. Canggung. Kikuk. Sel-sel otaknya mulai dipaksa untuk merajut rencana-rencana baru, sampai....

"Ayo pulang."

"... hah?"

"Kamu 'kan engga suka buku. Engga usah maksain ke sini kalau cuma gara-gara aku, dan aku bisa ke sini lagi kapan-kapan sama Kaho, kalau kamu segitu engga sukanya aku pergi sendiri atau aku ke sini dianter Yuuji."

Telak. Shinji mengumpat dalam hati, mengutuk karena seluruh tulisan yang ditempel rapi di dinding-dinding neuron otaknya meruntuh. Hilang tak berbekas. Bahkan ketika tangannya ditarik dan kedua kakinya dipaksa melangkah, sinar matahari nyaris membutakan matanya hingga ia tidak bisa lagi mengolah informasi ke mana Noir menyeretnya saat itu.

.

5. Kalau sudah kepepet, tidak ada pilihan lain, atau masih ada sisa waktu dan, oh ayolah, katakan saja kamu masih ingin menghabiskan waktu bersamanya... maka kamu tahu harus pergi ke mana.

Taman distrik Ueno. Tempat pertama kali mereka bertemu... sebetulnya dengan Lyra, bukan Noir. Tempat pelariannya dan tempat rahasianya melatih kekuatannya. Tempatnya terjatuh dari pohon hanya untuk menyelamatkan Lyra yang jatuh saat berusaha memanjat pohonnya. Tempatnya untuk menemukan Noir berdiri seorang diri di tepi danau pada malam-malam tertentu, dengan tatapan yang menyiratkan bahwa keinginan terpendam gadis itu adalah menenggelamkan diri ke danau di musim dingin.

Untungnya kali ini musim panas. Untungnya air danau sedang menghangat. Untungnya jingga di langit masih menggantung. Shinji tidak perlu khawatir akan apapun.

Khawatir? Itukah kata-katanya? Khawatir akan apa... akan siapa?

"Trims udah ngajak kencan," gadis itu memulai pembicaraan, "meski yang kamu ajak awalnya bukan aku."

Shinji mendengus. "Aku harus bilang berapa kali? Kalian itu sama, dan engga ada gunanya dibeda-bedain."

"... Lyra tahu."

"Hah?"

"Aku membagi perasaan dan kenangan ini. Dia saat ini ada, sama-sama melihat, sama-sama merasakan. Dia juga bilang makasih. Kencannya seru."

"Heh. Sama-sama."

"Kalau kamu pergi kencan, selalu kayak gini?"

"Engga. Ini kencan pertama gue yang berhasil. Sisanya gue ditinggal di tengah jalan. Tapi tetep aja sih, gue selalu kena tampar."

"Dan hari ini, kamu engga ngerokok sebatang pun."

"Bakal, nanti di rumah."

"Kamu berusaha dateng setengah jam sebelum waktu janjian."

"Kebetulan aja gue lagi bangun pagi."

"Kamu makan nasi pakai lauk, engga cuman soda tiga gelas jumbo."

"Lo pikir gue orang yang tega buang-buang makanan yang udah dibeliin buat gue?"

"Dan kamu pelit, tapi kamu beliin aku boneka."

Frase kalimat yang ini, Shinji tidak bisa menjawabnya.

Manik biru itu kemudian menatapnya. Sarat makna yang tidak kuasa ia artikan. Sorot itu mencari-cari jawaban dalam matanya. Sorot yang tajam sekaligus teduh dalam waktu bersamaan. Menguapkan lelahnya menjadi bentuk debaran-debaran hangat di sekujur tubuhnya. Shinji sudah tahu jawabannya. Egonya hanya terlalu keras kepala untuk mengakuinya.

"Jadi intinya... Lyra, atau aku?"

Mau tidak mau Shinji tersenyum. Lengannya sontak terjulur, menyentuh puncak kepala gadis itu.

"Kalian berdua."

"...."

"...."

"... dasar cowok maruk. Sekarang, ajarin aku manjat pohon."

"... ha??"


****


"Nyesel, 'kan? Harusnya kamu yang nikmatin kencan tadi."

"Engga kok, engga apa. Kalau aku yang muncul, pasti awkward."

"Kamu engga akan tahu sebelum dicoba. Minggu depan aku udah bikin janji kencan lagi sama dia. Awas kalau sampai kamu tolak."

"Hahaha... iya deh, aku nyerah. Makasih, ya...."

"Hmm."

"Ngomong-ngomong, Noir...."

"... hmm?"

"... badan aku sakit semua. Masa ini gara-gara kamu belingsatan di game center? Atau pas di taman... ada sesuatu yang terjadi dan kamu sembunyiin?"

"Oh, itu? Sorry, aku cuma nyoba manjat pohon dengan kebodohan yang sama persis sama yang kamu lakuin. Dan kamu udah janji untuk engga sakit sebulan, so, bear with it, honey."

"... NOOOIIIRRR...!!!!!"

20140402

Re:trace #8

"Sebenernya udah lama aku pengen nanya ini sama kamu."

"Hmm? Tentang apa?"

"Kenapa kamu manggil Shinji pakai sebutan 'kakak' tapi engga dengan Yuuji? Padahal secara umur, Yuuji juga 'kan lebih tua dari kamu...."

"Hmm... kenapa, ya? Kayaknya...."

"Aku tahu! Itu pasti karena kamu udah nganggep aniki sebagai calon kakak ipar kamu... bener 'kan, Lyra?"

Dari jauh, terdengar gaduh suara perabot kaca yang pecah.

****

Musim dingin. Salju belum turun. Ingin rasanya Shinji melelehkan ego langit agar salju turun dengan cepat. Atau jadi hujan atau apalah. Ia tidak tahan dengan dinginnya. Ia tidak tahan dengan hawa yang membuatnya membeku tapi ia tidak tahu apa yang menyebabkannya membeku.

Ia lalu merogoh sakunya. Umurnya memang baru dua belas tahun, tapi ia sudah berhasil mencuri satu-dua dus linting tembakau dari lemari rahasia ayahnya yang juga dipenuhi oleh minuman keras. Peduli setan dengan umur. Peduli setan dengan legalitas. Peduli setan dengan kesehatan indera pernapasannya. Tidak pernah ada yang mengacuhkan. Bahkan pasangan yang secara hukum dan norma masyarakat menuntut untuk dipanggilnya sebagai 'orang tua' itu malah menghabiskan dua puluh empat per tujuh di laboratorium dengan hasil percobaan mereka, tertawa-tawa gembira dalam permainan mereka yang menggulirkan nyawa tak berdosa sebagai dadu di atas papan taruhan.

Peduli setan. Shinji tidak mau lagi ambil pusing.

Yang membuatnya pusing, seperti biasa, adalah Yuuji. Adik kecilnya yang tidak tahu apa-apa akan dunia di sekelilingnya. Adik kecilnya yang terjerumus lingkaran setan yang sama dan tak tahu di mana pintu keluar. Adik kecilnya yang harus ia jaga dan lindungi, tidak peduli sikap sang adik yang semakin bandel dan tak tahu aturan.

Seringkali Shinji ingin meninggalkan adiknya, membiusnya, membungkusnya dalam kotak besar berpita merah terang, lalu membuangnya di taman, panti asuhan, atau tenggelamkan saja di Teluk Tokyo. Sayang, Shinji masih tidak tega.

Dan satu lagi yang membuatnya pening adalah perempuan itu. Iya. Gadis kecil cengeng yang harus disogok bunga agar tidak terus-terusan menangis.

Ah, perempuan ini. Perempuan yang entah sejak kapan sudah berdiri di sampingnya. Manik birunya menatap jauh hingga ke seberang danau... tidak, lebih jauh lagi.

"Kamu ngapain di sini? Udah malem, nanti sakit."

Perempuan itu tidak menjawab. Atau malah dirinya tidak dianggap ada di sana?

"Hei, Lyra--"

Tangannya ditepis perempuan itu. Ada sorot mata melayang ke arahnya. Sinis. Tajam. Bukan binar ceria yang biasa Shinji temukan.

Shinji terkekeh. Kepalanya tambah pusing.

"Noir, eh? Tumben keluar. Ada apa?"

"... kamu tahu?"

"Heh. Cuma orang bego dan buta macem Yuuji yang bisa sukses lo bodoh-bodohin dengan berpura-pura jadi Lyra."

Dua kepribadian dalam satu tubuh. Jiwa yang satu yang kini menjadi dua, oh, berterima kasihlah pada percobaan-percobaan gila yang dilakukan orang tuanya pada perempuan itu. Manifestasi dewa, menanam entitas dewa pada perempuan itu, atau katakanlah berbagai macam alasan lainnya agar Shinji peduli.

Mereka hanya tidak tahu. Yang tersayat ngilu bukan hanya isi kepalanya. Tapi juga sesuatu dalam dadanya.

Sementara salju mulai turun. Mencarikan kebekuan kata di antara mereka berdua.

****

"Lyra bilang, Kaho itu kakaknya...."

"Bukan. Kakak kandungnya peranakan Indo-Belanda yang sekarang tinggal di Indonesia."

"Hee... lo inget?"

"Inget. Aku inget semuanya. Dan cuma aku yang inget. Kalau Lyra tahu, dia bakal merengek pulang ke Indonesia buat ketemu sama Leyka."

"Kalian deket banget dulu?"

"Lebih deket dari Lyra sama Kaho sekarang. Dan yang deket sama Leyka itu Lyra. Engga ada urusan sama aku."

"Ada. Lo itu dia-dia juga, 'kan?"

"... kata siapa?"

"Kata gue barusan, hahahaha...!"

"Cowok bereng--"

"--ups, terlalu lambat buat nampar gue. Semakin lo marah, semakin nunjukin kalau lo sebenernya pengen disamain sama dia~"

"Aku engga--"

"--engga perlu nyangkal, Noir. Engga ada entitas dewa terus labil dan galau kayak lo. Lo harus kejam, dan ngebayangin lo kejam? Heh, bahkan semut di piring makan lo pun engga lo sentil dan malah lo turunin ke lantai dan lo biarin pergi dengan remah makanan lo."

"Tapi kamu engga tahu apa jadinya kalau aku menyerah atas eksistensi ini, 'kan?"

"Tahu. Kalian bakal jadi satu. Engga bakal ada Lyra yang sekarang tapi juga engga bakal ada lo yang kayak gini."

"... dan kamu, engga akan kehilangan...?"

"Heh. Gue udah biasa. Kalem aja."

"...."

****

"Seribu lima ratus yen, karena yang lo pecahin tadi adalah mug limited edition punya gue."

Shinji mendengus membalas uluran tangan Kaho, menagih ganti rugi mug yang ia pecahkan hanya dalam satu genggaman penuh emosi.

Shinji merogoh saku blazer seragamnya. Mengeluarkan keping-keping kuning dan menjatuhkannya di atas telapak tangan Kaho yang masih terbuka. "Tiga ratus tujuh puluh lima yen, dan itu uang gue sampai bulan depan."

"Makanya, jangan ngerokok melulu."

"Eh, sorry, semua rokok gue gratisan, dapet nyolong dari lemari si tua."

"Ya, ya, whatever," ketus Kaho seraya mengembalikan uang-uang koin itu ke saku Shinji. "Bayarnya pake jasa aja."

"Heh. Jasa apaan?"

"Jagain adik gue."

"... ha?"

"Jagain Lyra. Jagain Noir. Dari apapun. Dari siapapun. Oh, terutama dari adik lo sendiri."

"... tch. Hobi banget sih lo, ngerepotin orang?"

"Lo-nya sendiri, mau-mau aja 'kan, direpotin?"

Shinji menarik sudut bibirnya. Sebagian bangga. Separuhnya kalut dicampur gamang. Sisanya?

.
.
.

"Lyra...! Udah malem, jangan keluar--eh... oh! Err... Noir? He--hei, tunggu... kenapa kamu marah--"

--blam!!

.
.
.

"Tuh, 'kan... baru aja dibilangin...."

Shinji menghela napas. Lengkung di bibirnya belum hilang, justru semakin lebar. Ia beranjak dari sofa, membiarkan kakinya melangkah, digiring hawa dingin yang menyelimuti setiap saat salju hendak turun menyapa Bumi.

20140401

Re:trace #7 ~Dear You~

A song fiction
Featuring Dear You~Cry by Yudzuki
_________________________________________________________________________________

"Oniichaaan, di manaaa...??"

Teriakan sember adik bungsunya membuat Shinji kecil menggerutu kesal. Sudah berkali-kali ia melarang-nyaris-membentak si adik untuk tidak mengekornya kemanapun ia pergi. Sudah berkali-kali pula Yuuji kecil akan berjalan masuk ke hutan kota untuk mencarinya, yang hanya akan berakhir menjadi sasaran sengatan segerombolan lebah atau serudukan kumbang tanduk yang protes kawannya terinjak.

Shinji kesal. Punya adik laki-laki tidak melulu tentang bermain perang-perangan dan tendang-kaleng sepulang sekolah. Shinji kecil pun punya ritme hidupnya sendiri. Shinji kecil sudah senang menyendiri di atas pohon, menatap biru langit di sela-sela gemerisik dedaunan yang membuatnya jatuh tertidur hingga malam menjemput... atau karena teriakan cengeng Yuuji dari kejauhan.

Pokoknya hari ini ia tidak mau ambil pusing soal Yuuji. Tidak mau. Enak saja.

Pada salah satu pohon favoritnya tak jauh dari tepi danau di Ueno Park, Shinji memanjat naik menuju dahan tertinggi dan merebahkan tubuhnya. Angin sore mulai menyapanya. Angsa-angsa danau mulai menenggelamkan paruhnya di permukaan danau dan mematuk-matuk ikan di sekeliling. Shinji kecil tersenyum.

Shinji kecil yang periang dan banyak temannya, jago bermain bola sepak dan digandrungi banyak gadis kecil di sekolahnya. Siapa yang sangka hobi lainnya adalah menikmati pemandangan hutan kota ataupun taman kota seperti ini.

Kelopaknya mulai meredup. Memberat. Ah, ia mulai mengantuk....

"Huu... huuu... hik...."

... yang benar saja. Baru ia naik ke atas pohon dan kupingnya sudah menangkap suara tangis? Secepat itukah Yuuji menyerah karena kehilangan jejaknya.

"Huuu... oneechan...."

Eh? Tadi dia bilang apa? Oneechan? Kakak perempuan? Shinji tidak ingat Yuuji pernah salah memanggilnya seperti itu.

Dan suaranya... kecil dan lembut, begitu tipis. Jauh dari suara Yuuji yang nyaring dan sember menyebalkan hingga menusuk ke gendang telinganya.

Shinji menghela napas kesal. Ia melongok ke bawah, hanya untuk menemukan seorang gadis kecil berjongkok dan menyembunyikan wajah di antara kedua lututnya, tepat di kaki pohon tempatnya bernaung. Gadis kecil itu mungkin seumuran Yuuji, atau mungkin lebih muda lagi. Pandangannya lalu mengedar ke sekeliling. Tidak ada orang. Gadis kecil itu memanggil-manggil kakak perempuannya, dan tidak ada siapa-siapa di sana.

Intinya satu. Gadis kecil itu tersesat. Tinggal Shinji menunggu ada orang lewat untuk mengantarkan gadis itu ke pos polisi terdekat atau harus ia yang turun dari pohon untuk menolongnya.

Shinji menggaruk-garuk bagian belakang kepalanya. Selalu saja berakhir seperti ini. Waktu luangnya yang terusik. Menyebalkan.

Satu gerakan, Shinji melompat dari dahan pohonnya dan mendarat tepat di hadapan gadis kecil itu.


****

The steady rising of the summer's scent
I want to feel it next to you


"Nama kamu?"

Gadis kecil itu menatapnya nanar. Manik birunya berkilat sembab dibasahi air mata.

"Hei, jangan nangis terus. Aku mau nolong kamu. Umm... kamu luka? Bisa berdiri?"

Gadis kecil itu menggeleng. Masih terisak.

"Oh, lutut kamu berdarah? Sini lihat bentar."

Gadis kecil itu ragu. Sementara bocah di hadapannya itu menarik cepat kaki kanannya dan membungkus luka di lututnya dengan saputangan cokelat susunya.

"Ayo naik ke punggungku. Aku anter kamu ke pos polisi."

Gadis kecil itu menurut. Punggung itu sama kecilnya. Tapi hangatnya luar biasa. Ia sampai melupakan isak tangis dan perih di lukanya.

"Nama kamu?"

Pertanyaan yang sama. Gadis kecil itu masih membisu.

"Aku Shinji."

"Shin...ji...?"

"Oh, bisa ngomong ternyata? Jadi, nama kamu? Jangan sampai aku harus nanya empat kali, ya."

"... Lyra...."

"Hee... kamu bule?"

"Bule...?"

"Bukan orang Jepang maksudnya."

Gadis kecil itu menangis lagi. Ia tidak bisa menjawab pertanyaan si bocah yang menggendongnya.


Please don't cry
Please listen to me
Please don't be afraid, I won't do anything


"Aaargh, kok kamu nangis lagi, sih? Cengeng banget, sama aja sama Yuuji."

"... Yuu... ji...?"

"Adik cowokku. Anaknya cengeng dan manja, kemana-mana maunya ngekor terus. Bikin pusing. Bikin capek. Kamu sendiri, punya kakak?"

"Iya. Perempuan...."

"Hoo...."

Gadis kecil itu sampai di pos polisi. Dilihatnya bocah kecil itu menyampaikan sesuatu pada polisi yang berjaga, kalimat-kalimat yang tidak begitu ia mengerti artinya. Dan ketika bocah itu berbalik hendak pergi dari pos, tanpa sadar kedua tangannya mencengkeram erat ujung kaos oblong si bocah.

"Jangan... pergi...."

"LYRAAAA~~!!!!"

"Tuh, udah ada yang nyariin kamu. Aku pergi, ya. Oh, ya... anak perempuan emang manis sih kalau pakai bunga."

Gadis kecil itu tertegun. Sorot mata si bocah memang galak pada awalnya, membuatnya takut. Tapi bocah itu juga tertawa. Hangat. Sehangat punggung kecilnya tadi. Dan ketika bocah itu berlari meninggalkannya, yang bisa ia lakukan hanyalah mengusap setangkai bunga yang bersarang sederhana di telinganya.


Please stay shining
Stay and smile here for always


****


"Kak Shinji...! Di atas sana ternyata... dicariin Yuuji, tuh!"

"Berisik, Lyra. Aku mau tidur."

"Terus...? Di atas pohon?"

"... urusan kamu?"

"Kalau Kak Shinji engga turun, aku yang naik!"

"Heh, bercanda. Mana bisa kamu manjat pohon--LYRA JANGAN INJEK DAHAN YANG ITU--"

Krakk--

--brukk!!

.
.
.


The cicadas said it was too late
But I still reach out to you
Please, believe in me


Dua tubuh beradu. Lyra sukses mendarat di atas tubuh Shinji.

"... kamu...."

"Kak Shin... maaf, aku--"

"--jangan lagi... jangan sekali-kali lagi...."

"... maaf...."

Lalu tubuhnya yang dipeluk erat Shinji. Lyra tertegun. Diamnya melayangkan ingatan pada saat Shinji kecil mengaitkan bunga di telinganya, bertahun-tahun yang lalu.


The cry of the summer
Drowns out my voice
Even a small bit is alright, please don't cry


"Kak...."

"Dasar bego. Jangan suka bikin orang lain takut.... Kamu engga apa-apa?"

"Justru aku yang harusnya tanya! Kak Shinji... luka?"

"Engga."

"Terus kenapa engga bangun?!"

"... biarin aku kayak gini, bentar...."

"...."


Please, believe in me
I want to say,
"You don't have to cry anymore."

I'll forgive you, please don't cry


"Jangan nangis. Aku paling sebel lihat kamu nangis."

"Abisnya... gara-gara aku...."

"Lagian kamu pake acara naik pohon. Ayo senyum! Aku udah babak belur gini dan masih harus liat kamu nangis, bah, mimpi buruk apa aku semalem?"

"... anak perempuan, lebih manis kalau senyum, ya? Kalau gitu... mana bunganya?"

Shinji lalu tersenyum. Senyum yang masih sama seperti empat tahun yang lalu. Senyum hangat yang sehangat dekapannya pada Lyra.

"Tch. Repot banget sih kamu jadi cewek...."


Those moments that might feel like nothing
are treasures worth more than jewels
Let this moment be enveloped in soft sunlight
and be protected for always


****

Re:trace #6 ~Even if We We're so Close~

A song fiction
Featuring: Konna ni Chikaku de by Crystal Kay, translated
_________________________________________________________________________________

Malam itu, di ruang belajar asrama, Andreas terpekur menatapi segunung pekerjaannya. Bundel makalah, slide presentasi, proposal kegiatan pentas seni... mungkin sudah saatnya ia memikirkan ulang mengenai sifatnya yang tidak pernah tanggung dalam menjadi panutan sosial. Jabatan ketua kelas, ketua OSIS, bahkan hingga penanggung jawab pentas seni... ya, untungnya ia tahu kalau dirinya bukan manusia biasa. Oh, ayolah, mana ada manusia normal yang tahan tidur hanya 5 jam sehari hanya karena pikiran yang disita onggokan laporan?

Andreas memilih untuk membiasakan dirinya. Beban tugas-tugas sekolah dan keorganisasian hanyalah sebutir debu dibandingkan tanggung jawab lain yang dipikulkan secara paksa di pundaknya. Hal ini menyangkut nyawa manusia lainnya. Sedikit terbersit di pikiran saja bisa membuatnya kehilangan waktu tidur 5 jam yang berharga karena dihantui mimpi buruk.

Untungnya, sebagaimana fiksi-fiksi roman yang--biasanya--akan berakhir bahagia, Andreas masih memiliki oasenya sendiri di belantara sahara rutinitas yang mengekang. Angin sejuk akan membelainya lembut setiap kali dentang suara lembut itu terdengar dari ruangan sebelah atau dari lantai bawah asrama. Kerongkongan keringnya akan serasa dibasuh bergalon-galon air suci menyejukkan setiap kali sosok itu melintas cepat di sudut matanya, membujuk mesra tatapannya untuk mengikuti ke mana gadis itu akan pergi selanjutnya.


Love is so sad
I realized it that night you were next to me
Cause better than anybody else
I know you so well


Dan jantungnya akan berlari dua kali lebih kencang setiap saat Nandi membawakan makan malam--khusus--untuknya yang hampir selalu menghabiskan malam di ruang belajar asrama.

"Masih banyak yang dikerjain, Ndre?"

"Hmm, lumayan," gumam Andreas, masih menancapkan sorot mata pada perbaikan makalah di layar laptopnya sementara hasrat mengajaknya bermain untuk memandang lekat wajah di sisinya. "Makan malem hari ini apa, Ndi?"

"Cah brokoli jamur dan tumis sosis kecap cabai hijau. Maaf seadanya, sekarang akhir bulan dan Lady belum ngasih uang belanja."

Andreas tertawa. Akhirnya ia mengalah pada jalaran rasa di benaknya. Ia melepas kacamatanya dan beralih menatap manik hijau itu. Hidungnya mendadak menangkap wangi yang dikenal namun nampak tidak biasa. "Ekstra bawang bombay?"

"Kamu tahu Nara engga bisa hidup tanpa bawang bombay setiap kali aku masak sesuatu yang ada cabainya. Aku bahkan engga paham kenapa hidung tajamnya toleran banget sama semua jenis bawang."

Ia tertawa lagi. Setelah mengucap kata terima kasih, ia mulai menyuap nasi dan lauk-pauk yang dibawakan Nandi untuknya. Nandi selalu punya waktu sendiri untuk menyiapkan sarapan, bekal makan siang, hingga hidangan makan malam a la empat sehat lima sempurna di sela-sela rutinitas sekolah. Ia tahu Nandi akan selalu terjaga lebih awal untuk menyiapkan semuanya, dibantu oleh Nara. Ia tahu bahwa Nandi akan selalu menyediakan waktu untuk memanjakan dirinya, Nara, Rio, juga Leyka di atas kepentingan yang lain.

Ia tahu. Dan desir di dadanya akan semakin menguat. Meliar. Menggeliat.


Even your casual kindness
Makes my chest tighten


"Kalau ada yang bisa aku bantu, kasih tau aja."

Kata-kata yang seolah tergelincir begitu manis dan sempurna itu hampir membuatnya menenggak bulat-bulat potongan brokoli tanpa dikunyah.

"Thanks, Nandi. Bakal lebih baik kalau kamu bisa keterima jadi anggota OSIS... tapi kamu maunya di MPS, ya?"

Gadis itu kemudian tertawa lepas. "Aku dan Nara berusaha untuk yang terbaik. Hasil akhirnya tetap di kamu, Ndre. Dan mungkin sedikit campur tangan Kak Dityo, hehehe...."

Tidak peduli masalah sekolah, masalah organisasi, sampai urusan nyawa, harus selalu dirinya yang menjadi penentu nasib, pemegang komando hingga kartu hasil akhir. Dan beban berat di pundaknya itu yang membuat Andreas tidak lagi bisa meraih hal-hal yang menjadi impiannya. Yang menjadi hasratnya. Yang menjadi keinginan dan kepuasannya. Bahkan untuk mengutarakan ribuan kupu-kupu yang melilit di perutnya... apa lagi yang harus ia bayar untuk memenuhi ego yang selalu ia kesampingkan tapi tetap tidak bisa dilupakan?

Andreas mulai merasa ingin menjadi manusia. Biasa. Saja.


****


This, this close I'm watching you
Why, why are we only friends?
No matter how, no matter how strong my feelings are
They don't reach you, you don't understand
I'm so in love in you


Sorak riuh di lapangan. Sore hari. Terik. Pertandingan persahabatan antara sekolahnya dan SMA tetangga. Andreas merasa tenggorokannya mulai panas terbakar dan pandangan di sekelilingnya berputar--

"--ANDREAS AWAS BOLA--"

BUAGH!!!

Terlambat. Bola karet yang melayang cepat dari striker sekolah tetangga itu telak mengenai pundak--

--seorang gadis berambut panjang dibuntut kuda yang jelas-jelas menghalangi tubuh Andreas dari hantaman mendadak itu.

Tiupan peluit panjang. Nyaring. Kedua bola matanya melebar dan lengannya yang sontak terjulur ke depan, meraih dan menangkap tubuh limbung itu ke dalam dekapnya.

"Nandi--oi, Nandi...!"

Kemudian satu tawa lirih, kentara menyembunyikan nyeri yang menjalar.

"Jangan maksain... kamu lagi sakit... kamu--"

"--Dityo, medik...!! Petugas medik!! CEPET ENGGA PAKE LAMA!!!"

"... Ndre, aku--"

"--udah, Nandi. Kita ke UKS dan tolong, kamu juga jangan maksain...."

Andreas tahu. Sekujur tubuhnya gemetar. Kedua lengan yang mendadak mati rasa. Kehilangan kendali bahkan hanya untuk membopong tubuh Nandi ke ruang kesehatan. Karena egonya yang menari liar untuk terus mendekap tubuh itu. Merasakan detak jantung itu. Beradu bersama detaknya yang semakin mengguruh.

Untuk pertama kalinya, Andreas tahu ia tidak ingin melepaskan.


****


Every day, every day my heart is in pain
Countless, countless sleepless nights overcome
That first, that first day we met
It'd be so great if I could return to it

I'm so in love with you


"Ndre, pertandingannya...?"

"Dilanjut. Masih ada Dityo yang ngawas. Dan Rio di lapangan udah gemes buat adu penalti."

Lalu diam. Hanya ada suara Andreas yang menenggak bulat-bulat obat demamnya dan wangi balsam dari balik salah satu bilik bersekat pembatas, dan tak lama Leyka keluar dari bilik tersebut, memamerkan dengusan kecut dan sorot tajam pada Andreas.

"Kalau sampai Nandi masih ngerasa sakit sampai dua-tiga hari ke depan, kita harus bawa dia ke dokter, atau minimal tukang urut. Tulangnya engga masalah tapi gue engga tahu sendi-sendi engsel atau ototnya ada yang kena apa engga."

"... thanks... dan maaf banget, Ley."

"Jangan minta maaf sama gue. Tuh sama Nandi. Dan nanti gue siapin kompres lebam deh, kali-kali lo jadi sasaran latihan tinju Nara lagi. Udah, gue keluar dulu, bawain barangnya Nandi ke sini."

Debam pintu yang setengah dibanting. Lalu hening lagi.

.
.
.

"...."

"... Ndi, maaf--"

"--jangan, Ndre. Aku yang minta maaf."

"... kenapa?"

"Karena kamu dan isi kepala kamu. Ada aku di sana, 'kan?"

'Ah... lagi-lagi... selalu saja....'


If I confess that, "I love you"
I probably won't be able to smile again



"Dan kenapa kamu nolong aku, Ndi? Karena memang kamu tahu ini yang akan terjadi... atau kamu memang akan selalu tahu segala hal?"

"...."

"...."

"... kita, udah sedekat ini, Ndre."

"Aku tahu...."

"Dan selamanya akan tetap ada tirai yang menghalangi, kayak sekarang kita ngobrol gini?"

"...."


The current me, who keeps pilling up
The lies to my most important person


"Ndre, harus selalu aku yang bilang kalau--"

Sraakk!!


But to continue as friends, with fake smiles
I can't take it anymore


"--stop, Ndi. Oke, aku bilang nih, ya. Sebenernya aku selama ini--"

--brakk!!

"Ayam! Abis ngapain lagi lo sama kakak gue?!"

"Woy!! Ribut sih nanti aja di asrama!! Jangan di sekolah atau gue gundulin juga kepala lo!!"

"Beke macem lo engga usah ikutan rewel atau--"

"--ya tapi lo juga engga usah apa-apa nyerang Andreas gitu sih, Ra."

"Pasangan beke, bisanya ikut campur."

"Ap--barusan lo bilang apa?!"

"UDAAAAHH...!!! Ayo pulang atau GUE BOTAKIN KALIAN SEMUA SATU-SATU...!!!"


****