"Noir, please
, gantiin aku, ya...?"
"Kenapa? Kamu engga mau pergi kencan sama dia?
"Err... mau, sih... tapi salting... engga tahu, ah!"
"... jadi intinya Shinji, bukan Yuuji?"
"A--bukan, maksudnya--"
"Tch. Awas ya, sebagai gantinya, kamu engga boleh sakit, se-bu-lan."
****
Shinji sudah memperkirakan hal ini sebelumnya. Raut wajah merah padam semerah kepiting rebus dari Lyra sudah cukup meyakinkannya bahwa korban ajakan kencannya hari itu bukanlah Lyra, tapi Noir. Mereka jadian? Oh, tidak, jangan khawatir... atau mungkin,
belum. Pemuda yang bungkus luarnya semakin mirip preman pasar ini belum sudi untuk menyangkut-pautkan antara logika, ego, napsu, dan hatinya untuk dirangkai menjadi satu kata: cinta. Iya, belum. Karena ego Shinji yang mulai merajuk-rajuk untuk menembak gadis itu sepulang kencan nanti.
Masalah kencan, heh, jangan salah. Pengalaman kencan Shinji sudah selayaknya bayi singa laut yang bisa langsung berenang ketika dicemplungkan ke samudra luas. Oke, tidak nyambung. Intinya, kalau ditanya berapa kali jumlah kencan, Shinji bisa memastikan bahwa ini adalah kencan kesepuluh yang pernah dilaluinya, dengan rincian kencan buta lima kali dan kencan-berdua-saja-dengan-perempuan sebanyak empat kali. Dan setelah kencan? Pasti ada saja alasan para perempuan itu untuk meninggalkan Shinji. Entah karena kelalaiannya yang sering telat hampir satu jam dari waktu perjanjian, hobi merokoknya satu batang per jam, kebiasaannya mendengkur keras di bioskop hingga dijejali
popcorn oleh penonton dari kursi sebelah, atau memesan tiga gelas ukuran besar minuman bersoda alih-alih memesan makan malam.
Entah kebiasaan Shinji ini yang memang, errh, sangatlah 'antik'... atau perempuan-perempuan korban kencannya yang masih diberkahi kewarasan otak.
Untuk kencan kali ini, karena pasangan kencannya pun sama-sama orang yang tidak-begitu-waras, maka Shinji telah mempersiapkan berbagai macam rencana. Salah satunya, sebagai pembuka, dengan tiba di tempat yang telah dijanjikan lebih cepat tiga puluh menit dari yang seharusnya....
... dan betapa Shinji merasa tertohok ketika sosok gadis berambut panjang yang digerai sepinggang, memakai tunik hitam-putih tanpa lengan dan
legging hitam itu sudah berdiri di sana, menunggunya di samping mesin pembelian karcis kereta api.
"... lelet."
Shinji menepak jidat. "Kita janjian 'kan jam sebelas."
"Tetep aja, cowok harusnya dateng duluan ketimbang ceweknya. Harusnya sekalian aja kamu dateng pas jam sebelas, atau telat satu jam kayak waktu kamu jalan sama cewek-cewek lainnya."
'... dateng duluan ketimbang ceweknya...'
'... ceweknya...,' entah mengapa Shinji merasa begitu terusik dengan kata tersebut.
Meski pada akhirnya Shinji menyerah beradu argumen ronde dua dengan gadis itu dan memutuskan untuk mulai menjalankan rencana kencan yang telah disusunnya matang-matang di dalam kepala.
.
1. Lihat mood-nya, bagus atau jelek? Bagus maupun jelek, ajak dulu dia ke Game Center. Kamu tahu itu adalah kegiatan favorit kalian dan peduli setan dengan setelan baju yang dikenakannya, kamu--harus--membuatnya--minimal--bersemangat! ... tapi ingat, kalau dia-dan-dandanannya terlalu mencolok untuk berada di tempat itu, kamu tidak boleh meninggalkannya sendirian di mesin archade atau kamu--akan--tahu--sendiri--akibatnya.
"...
game center? Kamu kalau ngajak cewek kencan, biasanya ke tempat kayak gini...?"
"Gue engga peduli sama tanggapan lo. Gue mau main, dan setahu gue serial tembak-tembakan kesukaan lo udah rilis yang episode baru tadi pagi."
Survei kilat dini hari, membuat Shinji yakin rencana pertamanya berjalan mulus. Tanpa gangguan....
'... pssh, apa-apaan tuh cewek? Manis gitu, terus masuk tempat ginian?'
'Cowoknya berandal kali, ya? Mau-mau aja diajakin....'
'Masih SMP? Seleranya mesin tembak... boleh juga dipepet selesai dia main....'
Begitu besar hasrat Shinji untuk berbalik dan membogem mentah mulut-mulut bersuara serak dan mesum tak tahu diri itu. Yah, minimal sampai semua gigi di rongga mulut mengalami keretakan permanen atau dislokasi rahang beberapa sentimeter.
"... ikut main? Tumben. Setahu aku kamu engga suka mesin tembak...."
"Karakter ceweknya seksi. Dan gue udah capek latihan di markas, butuh suasana baru."
Berterima kasih pada mulut sembrononya, skor tertinggi telah terpampang sempurna di mesin yang baru saja enam jam terpasang di sana. Diduga penyebab utamanya adalah kerumitan intrik dan bos terakhir yang butuh berbagai macam amunisi untuk dijatuhkan, sementara dugaan lainnya tertuduh atas kalimat spontan Shinji mengenai karakter-cewek-yang-seksi.
Bagus. Shinji harus belajar caranya mengontrol mulut frontalnya.
.
2. Distrik belanja, dan biarkan dia berjalan-jalan kemanapun yang dia mau. Ikuti saja, sampai tiba saatnya dia menatap suatu barang di etalase. Kalau harganya masuk akal, tawarkan diri untuk membelikannya. Hei, seketus dan sedingin apapun luarannya, kamu tahu dia tetaplah seorang perempuan cuek yang, ironisnya, mudah terpikat oleh benda-benda lucu seperti boneka kelinci atau tas beruang madu.
Hampir dua jam. Tangan kiri Shinji sudah menggenggam satu kantong belanja berisi sabut cuci piring, detergen, pewangi pakaian, kamper lemari sepatu, deodoran, shampo, sikat gigi dan handuk baru. Salahkan Kaho dan titipan daftar belanja bulanannya. Tapi tenang saja, uang untuk membayar belanjaan itu tidak keluar dari koceknya. Kaho masih sangat baik dengan turut menitipkan sejumlah uang dalam jumlah ekstra pas-pasan.
Lalu toko boneka tepat di samping supermarket. Shinji hampir tidak sadar kalau Noir telah mematung di depan etalase toko tersebut. Sementara binar mata yang Shinji temukan....
... Shinji nyaris tidak bisa bernapas. Bukan. Bukan karena label harga. Namun karena, detik itu, ia bersumpah imaji Lyra dan Noir saling bertumpuk satu sama lain. Tidak bisa dibedakan.
"Lo mau itu?"
"Hmm? Oh--engga, tentu aja. Gue cuma liatin hiasan beruang yang
gothic di belakang sana. Beruangnya lucu, digantung di leher. Coba matanya sebelah copot--"
"--yang lo lihat, beruang yang di belakang, atau boneka kelinci putih pita merah yang pas banget di depan lo ini?"
Semburat merah padam. Sematang kepiting rebus. Lagi-lagi. Namun kali ini Shinji melihat jelas sorot tajam yang kemudian tertancap di kedua manik cokelat keemasannya, membuatnya sadar dengan siapa ia tengah berhadapan. Tanpa basa-basi dan sebelum lehernya dijerat senar biola, ia buru-buru masuk dan membeli boneka kelinci di etalase itu.
Keduanya keluar toko. Shinji yang menyeringai puas dengan tato merah berbentuk telapak tangan di pipi kanan dan Noir yang menunduk seraya mendumel, melupakan kantong cokelat berisi si boneka kelinci yang gadis itu peluk erat di dadanya.
.
3. Makan siang tepat pada waktunya, atau kamu akan membuat pemilik badan yang satunya kelelahan dan bolos sekolah untuk dua hari ke depan. Menu makanan? Lebih baik kedai okonomiyaki daripada junk food. Jangan lupa obrolan ringan (jangan--berani--bicarakan--tentang--hubungan--kalian) dan jangan lupa pula membayari pesanannya.
Kedai
donburi. Shinji merelakan dirinya hanya makan menu paling murah demi menraktir gadis itu makan siang.
... oh, rupanya ia salah besar. Noir terlalu jeli untuk melihat apa yang ada di balik segala motifnya.
"Aku pesan
unagi donburi dan
soft cream matcha. Mahal, 'kan? Udah, sekalian kamu kupesenin
salmon donburi. Dusta banget kamu cuma makan
inari doang. Aku tahu kamu engga ada duit abis beliin aku boneka, jadi sekarang harus aku yang bayarin kamu."
Lidah Shinji kelu. Mulutnya terkunci rapat. Dan selama makan siang berlangsung, Shinji hanya bisa menggeram pasrah menanggapi senyum lebar Noir, penuh keculasan, tanda kemenangan dan invasi kesetaraan.
.
4. Nonton film atau ke toko buku. Err... coret opsi pertama karena isi dompetmu pasti sudah meraung keras minta dikasihani. Pergilah ke toko buku. Pura-pura tenggelam membaca buku dan tetap perhatikan dia. Perhatikan ke lorong mana dia pergi. Pastikan dia aman tanpa dikuntit maniak yang hobi mangkal di toko buku. Hei, ini bukan posesif dan obsesif. Kamu sendiri tahu kalau toko buku di negeri ini bukanlah tempat yang aman sebagaimana seharusnya.
Yang jadi masalah dari rencana ini adalah: betapa rak serial komik pria yang biasa Shinji baca terpaut dua lorong paralel dari rak
lite-novel kegemaran Noir maupun Lyra. Lyra mungkin masih bisa dibujuk-bujuk Kaho maupun Yuuji untuk membaca komik bergenre roman dan percintaan, tapi tidak dengan Noir. Noir tidak suka dengan sistematika penyuguhan cerita dalam ekspresi rupa, wajah, dan gestur yang tertuang dalam bentuk gambar, sebagaimana Shinji malas membaca novel yang minim gambar dan kebanyakan tulisan. Buku diktat sekolahnya saja masih banyak gambarnya, lalu kenapa ia harus memaksakan diri membaca satu buku yang penuh dengan tulisan semua?
Shinji mulai gerah. Canggung. Kikuk. Sel-sel otaknya mulai dipaksa untuk merajut rencana-rencana baru, sampai....
"Ayo pulang."
"... hah?"
"Kamu 'kan engga suka buku. Engga usah maksain ke sini kalau cuma gara-gara aku, dan aku bisa ke sini lagi kapan-kapan sama Kaho, kalau kamu segitu engga sukanya aku pergi sendiri atau aku ke sini dianter Yuuji."
Telak. Shinji mengumpat dalam hati, mengutuk karena seluruh tulisan yang ditempel rapi di dinding-dinding neuron otaknya meruntuh. Hilang tak berbekas. Bahkan ketika tangannya ditarik dan kedua kakinya dipaksa melangkah, sinar matahari nyaris membutakan matanya hingga ia tidak bisa lagi mengolah informasi ke mana Noir menyeretnya saat itu.
.
5. Kalau sudah kepepet, tidak ada pilihan lain, atau masih ada sisa waktu dan, oh ayolah, katakan saja kamu masih ingin menghabiskan waktu bersamanya... maka kamu tahu harus pergi ke mana.
Taman distrik Ueno. Tempat pertama kali mereka bertemu... sebetulnya dengan Lyra, bukan Noir. Tempat pelariannya dan tempat rahasianya melatih kekuatannya. Tempatnya terjatuh dari pohon hanya untuk menyelamatkan Lyra yang jatuh saat berusaha memanjat pohonnya. Tempatnya untuk menemukan Noir berdiri seorang diri di tepi danau pada malam-malam tertentu, dengan tatapan yang menyiratkan bahwa keinginan terpendam gadis itu adalah menenggelamkan diri ke danau di musim dingin.
Untungnya kali ini musim panas. Untungnya air danau sedang menghangat. Untungnya jingga di langit masih menggantung. Shinji tidak perlu khawatir akan apapun.
Khawatir? Itukah kata-katanya? Khawatir akan apa... akan
siapa?
"
Trims udah ngajak kencan," gadis itu memulai pembicaraan, "meski yang kamu ajak awalnya bukan aku."
Shinji mendengus. "Aku harus bilang berapa kali? Kalian itu sama, dan engga ada gunanya dibeda-bedain."
"... Lyra tahu."
"Hah?"
"Aku membagi perasaan dan kenangan ini. Dia saat ini ada, sama-sama melihat, sama-sama merasakan. Dia juga bilang makasih. Kencannya seru."
"Heh. Sama-sama."
"Kalau kamu pergi kencan, selalu kayak gini?"
"Engga. Ini kencan pertama gue yang berhasil. Sisanya gue ditinggal di tengah jalan. Tapi tetep aja sih, gue selalu kena tampar."
"Dan hari ini, kamu engga ngerokok sebatang pun."
"Bakal, nanti di rumah."
"Kamu berusaha dateng setengah jam sebelum waktu janjian."
"Kebetulan aja gue lagi bangun pagi."
"Kamu makan nasi pakai lauk, engga cuman soda tiga gelas jumbo."
"Lo pikir gue orang yang tega buang-buang makanan yang udah dibeliin buat gue?"
"Dan kamu pelit, tapi kamu beliin aku boneka."
Frase kalimat yang ini, Shinji tidak bisa menjawabnya.
Manik biru itu kemudian menatapnya. Sarat makna yang tidak kuasa ia artikan. Sorot itu mencari-cari jawaban dalam matanya. Sorot yang tajam sekaligus teduh dalam waktu bersamaan. Menguapkan lelahnya menjadi bentuk debaran-debaran hangat di sekujur tubuhnya. Shinji sudah tahu jawabannya. Egonya hanya terlalu keras kepala untuk mengakuinya.
"Jadi intinya... Lyra, atau
aku?"
Mau tidak mau Shinji tersenyum. Lengannya sontak terjulur, menyentuh puncak kepala gadis itu.
"Kalian berdua."
"...."
"...."
"... dasar cowok maruk. Sekarang, ajarin aku manjat pohon."
"... ha??"
****
"Nyesel, 'kan? Harusnya kamu yang nikmatin kencan tadi."
"Engga kok, engga apa. Kalau aku yang muncul, pasti awkward."
"Kamu engga akan tahu sebelum dicoba. Minggu depan aku udah bikin janji kencan lagi sama dia. Awas kalau sampai kamu tolak."
"Hahaha... iya deh, aku nyerah. Makasih, ya...."
"Hmm."
"Ngomong-ngomong, Noir...."
"... hmm?"
"... badan aku sakit semua. Masa ini gara-gara kamu belingsatan di game center? Atau pas di taman... ada sesuatu yang terjadi dan kamu sembunyiin?"
"Oh, itu? Sorry, aku cuma nyoba manjat pohon dengan kebodohan yang sama persis sama yang kamu lakuin. Dan kamu udah janji untuk engga sakit sebulan, so, bear with it, honey."
"... NOOOIIIRRR...!!!!!"