20111031

Interlude


“Kemukus?”

“Iya, kemukus. Kapan ya, negara kita kedatangan kemukus?”

“Sebentar… memangnya kemukus itu apa, Sha?”

“Astaga. Kamu engga tahu kemukus, Sa? Kemukus itu bintang berekor….”


****


“Nay, tau yang namanya kemukus?”

Wajah Naya yang muncul dari balik onggokan buku-buku tebal dan carik-carik kertas menghambur. Bola matanya membulat. “Hah?? Apaan tuh, Nesh?”

“Bintang berekor.”

“… bedanya sama komet, apa?”

“Komet ‘kan bahasa serapan. Sementara Bahasa Indonesia aslinya, bintang berekor itu namanya kemukus.”

“… oooh…. Terus? Tau dari mana lo, bahasa macem gitu?”

Lengkung kecil mampir di bibir Aksara. Ada desah yang dihembus setitik pilunya.

“Cuma dari orang yang suka sastra dan punya cita-cita jadi astronom.”

20111025

Lullaby

Sore itu hujan. Deras. Bagai titik-titik air mengguyur bumi tanpa ampun. Dinginnya pun sampai ke kulit. Tak peduli berapa lapis baju yang dipakai. Tak peduli berapa dekat jarak pada perapian. Secangkir kopi robusta dan teh susu panas mengepul pun tak ayal mendingin dalam hitungan menit.

“Sha, darimana? Kenapa basah kuyup gitu?”

Gemuruh jantungnya masih menderu. Napasnya masih tercekat. Kata-katanya hilang. Ada perih yang begitu mengikat. Namun bibir selalu melengkung senyum. Meski gemetarnya serta-merta mengintip malu-malu.

“Engga apa-apa, aku cuma….”

“Bohong, Sha. Kamu boleh basah karena hujan. Tapi mata kamu juga kayak yang lagi hujan.”

Dan tangan lain lantas mendekapnya. Dua pemilik mata beriris sama, yang sama-sama selalu menyanyikan irama lagu kasih padanya. Kini kedua pasang tangan yang tengah mendekap, lewat raga maupun jiwa.

Ia menangis. Namun bibir tak henti melengkung senyum. Antara dingin dan hangat yang membaur jadi satu. Perlahan, ia ceritakan lukanya.

“Tak selamanya Mentari ingin bersinar lagi. Bolehkah aku… sore ini bersembunyi di pelukan awan-awan menggelap?”


****


“Kakak?”

Lamunan Aksara membuyar. Kepingan-kepingan ingatan itu kembali melebur dalam otaknya.

“Ya?”

“Kok ngelamun? Mikirin apa, hayoo?”

Aksara tersenyum, melihat polah jenaka sang adik di hadapannya. Dua mata beriris sama, yang sama-sama tengah memandang ke luar jendela. Sore hari yang hujan. Hujan bengis tanpa ampun.

“Engga. Cuma inget Asha.”

“Ooh.”

Ah, nama yang sudah mampu diucap dengan lugas. Betapa waktu mungkin telah memulihkan segalanya. Membuatnya kuat untuk kembali melangkah dan mendekap takdir hidup.

Seorang lelaki lantas datang membawakan nampan berisi dua cangkir minuman.

“Ini pesanannya, secangkir kopi robusta dan teh susu panas. Ada lagi pesanannya yang belum keluar?”

“Mau pesen si mas yang bawain pesenannya dong, biar bisa diajak ngobrol bareng. Lagi sepi ini kan, caffee-nya?”

Si pelayan kedai itu tertawa menanggapi celoteh riang satu-satunya gadis yang ada di sana. Sofa yang mulanya kosong itu kini telah terisi. Dan lelaki itu pun turut memandang melewati jendela.

“Coba ada Asha. Pasti makin anget.”

Diam-diam, Aksara mengangguk. Seulas senyum yang terbit. Diikuti gerakan mulutnya yang meneguk tetes demi tetes kopi panas langganannya.

“Kita masih inget dia dalam senyum kayak gini aja, udah bikin dia anget kok, di sana….

_________________________________________________________________________________

judul diambil dari 'Lullaby' karya Bond

20110723

Encore


Nocturne for Violin and Piano (Chopin)

Kedai minum mulai sepi pengunjung. Malam melarut. Hanya tinggal satu dua yang masih melepas lelah sembari sesekali menyesap apapun pesanannya dalam-dalam. Seorang wanita muda berkacamata persegi dengan laptopnya, dan seorang pria paruh baya dengan ponsel di genggaman. Dua orang itu, tampak serupa dengannya. Tak acuh pada malam yang makin jelas wajahnya.

Karena sang malam milik siapa saja. Tua muda. Pria wanita. Kaya miskin. Siapapun yang ingin bernapas di bawah naungnya. Lantas, cahaya temaram bulan perak yang menggantung pun tak ayal menjadi dambaan.

Ah. Cahaya bulan.

Piano Sonata no. 14 in C Sharp Moonlight (Beethoven)

Sebuah lagu diputar memenuhi seluruh ruangan beraksen kayu itu. Lagu yang kemudian untai nadanya memerangkap gendang telinga Aksara. Ia terdiam. Terjebak dalam irama yang—baginya—terasa pilu. Membawanya pada kedalaman dekap ilusi. Tirai-tirai memori yang tak seharusnya lagi ia singkap.

Aksara tahu. Seperti membuka kotak Pandora. Hal yang akan menjadi malapetaka jika ia tidak siap untuk kembali meraihnya.

Berbicara tentang hal yang pernah hilang. Banyak orang mengumbarnya. Tahu sedalam apa pedihnya. Namun di bibir, Aksara mencemooh. Mereka tahu apa?

Ah, sejak kapan perasaannya berubah menjadi sentimentil seperti ini? Apakah pengaruh irama yang menyeruak disisipi aroma robusta di hadapannya itu?

Clair De Lune (Debussy)

Lagu kemudian berganti. Kini nada-nada merdu yang mengalun. Denting-denting piano menggelitik. Manis.

Aksara teringat. Ada jemari lentik yang pernah mencoba memainkannya. Sudah lama sekali berlalu. Ingatannya lantas melayang, pada suatu sore dengan riuh gemericik hujan seolah ingin mendobrak langit-langit ruang kesenian di sekolahnya dulu. Sore hari mendung di mana dirinya dan si pemain lagu tersebut terjebak di tengah hujan. Piano usang berdebu di sudut ruangan menjadi peneman keduanya. Tertatih dan tidak rapi. Namun si pemain lagu itu tetap berusaha menyelesaikan rangkai nada-nadanya.
Satu lagu. Satu senyum manis penuh kebanggaan mengembang. Diikuti tepuk tangan Aksara muda. Keduanya tertawa. Sesaat melupakan mendung dan hujan.

Sudah lama. Kenangan yang sudah begitu usang. Namun sama seperti piano tua di ruang kesenian sekolahnya, Aksara tetap menyimpan memori akan orang itu di sudut ruang batinnya yang terdalam.

Canon in D Major for Piano (Pachelbel)

Ah, lagu ini, batin Aksara. Betapa ia mengenalnya. Orang itu selalu memainkan untuknya. Lagu ini, lagu yang sama, dimainkan begitu halus. Bahkan grand piano di tengah kedai minum itu pun pernah merasakan sentuhan jemari lentiknya. Baik pelayan maupun pengunjung tetap kedai itu seringkali menunggu kedatangannya. Menunggu saat di mana musik klasik atau jazz dari pengeras suara digantikan oleh sahutan tuts-tuts piano.

Meski kini, tak ada lagi yang dapat ditunggu. Piano yang berdiri kokoh dan membisu. Musik yang hanya terdengar dari pengeras suara saja.

Sesekali, Aksara melempar pandang pada piano itu. Menunggu. Berharap akan adanya sosok yang kembali bermain dengan tuts hitam putihnya. Siapapun. Siapa saja.

Walau Aksara tahu. Piano itu hanya pernah disentuh oleh satu orang saja. Yang tak akan pernah kembali.

“Masih menunggu?”

Aksara tak sadar. Seorang pria bercelemek berdiri di belakangnya. Menepuk pundaknya pelan. Senyum simpul yang menyapanya.

“Dia tak akan kembali.”

“… aku tahu.”

Pria itu lantas melepas celemek kerjanya, melipatnya dengan cepat dan memasukkannya ke dalam sebuah ransel berwarna hitam.

“Ayo pulang.”

“Ya.”

****

Kedai minum itu telah sepi pengunjung. Wanita muda berkacamata persegi dan pria paruh baya telah pergi. Lampu kedai dan musik pengiring kemudian dimatikan. Papan yang dibalik. Pintu dan jendela yang ditutup.

Samar-samar, masih terasa wangi kopi dan denting lembut piano memenuhi ruangan beraksen kayu itu.

20110625

Cantata


“Pulang.”

“….”

“Pulang, Sha.”

“Pulang ke mana?”

“Terserah. Yang pasti pulang. Kalau kamu belum bisa melakukannya untuk kamu, lakukan untuk orang lain… untuk aku, untuk kakak juga.”

“… iya.”

“Janji, Sha. Janji kamu bakal pulang untuk kami, untuk dia. Janji karena kamu orang yang dicintainya, karena dia engga akan mencintai perempuan lemah. Janji?”

“Iya. Aku janji, aku pasti pulang.”

“Untuk aku juga, Sha.”

“… ya?”

“Karena kamu juga bukan siapa-siapa lagi dalam hidupku.”


****


Satu janji, pertama dan terakhir, yang Lakia tahu tak akan pernah ditepati.

Satu janji, yang membuat Aksara meraung memeluk sebuah nisan dingin membeku.

Satu janji, yang Lakia yakin tak akan pernah terucap dari bibirnya di hadapan Aksara. Karena rasa tak ingin menyakiti. Tak ingin disakiti. Oleh rasa benci yang mengalir. Sekaligus sesal yang tak dapat sirna. Oleh waktu sekalipun.

Ah, penyesalan memang selalu datang terlambat….

Karena keduanya begitu serupa. Kakak adik yang terikat perasaan yang sama. Rasa yang konon katanya bernama cinta. Bahasa universal untuk menyatakan kasih dan sayang. Yang bagi Lakia, berubah menjadi benci ketika tulus tak diikutsertakan dalam kamus katanya.

Setidaknya, waktu berlalu. Bagi Lakia. Dan bagi Aksara. Waktu dapat menyembuhkan, begitu kata orang bilang.

“Kak….”

“Hmm?”

“Kakak sudah tidak membencinya?”

“Tidak.”

“Kakak sudah tidak melupakannya?”

“Tidak.”

“Kakak… masih mencintainya?”

“… masih.”

Ada angin yang membelai. Meniup mesra. Bulir-bulir rindu menjelma. Ada hangat. Dan ada perih. Semua berbaur. Kali ini, Lakia berusaha menikmatinya. Ia tersenyum.

Lalu telapak tangan hangat mendarat di kepalanya. Ia menoleh. Aksara ikut tersenyum di sampingnya.

“Kamu sendiri… sudah bisa merelakan kepergiannya, ‘kan?”

Lakia mengangguk. Dipejamkan matanya. Dan untuk sesaat, ia mampu melihat sebuah senyum yang lain. Senyum manis yang nyaris terlupa. Senyum yang pernah merenggut kebahagiaan Aksara, yang memenjarakan keduanya dalam rasa benci, yang kini mengajarkan keduanya pula terhadap apa artinya kata tulus.


****


“Terima kasih….”

“Sama-sama, Sha. Sampai ketemu lagi.

“… iya.”

20110530

ashAksara


Asha Kirana
Air mata yang enggan jatuh
menapaki Bumi dan luluh
Senyum yang kerap disentuh
jemari-jemari digenggam rapuh
Seakan tak kenal luka
langkah kecilnya akan asa
walau hampa
di sinilah deritanya


Ganesh Aksara
Kemana sinar dicari
lentera temaram lantas menari
di antara titik api-api
labuh lelahnya yang menepi
Dan tak dikenal katanya henti
hingga tak ada lagi mimpi
hanya arti
saat raga kelu dipeluk sepi


Airlangga Dwisuman
Tubuh-tubuh mati diguyur hujan
bengis, tanpa ampunan
Tak butuh tangan kiri kanan
Tak pula jiwa masih bertahan
Tinggal matanya nyalang
dalam badai ditantang
Bibir yang berteriak lantang
gurat takdir yang ditentang

20110331

Ketika Jalak dan Elang Bersua

“Hai, aku Jalak. Apakah kau Elang?”

“Ya, aku Elang. Ada apa?”

“Salam kenal, Elang. Boleh kududuk di dahan kosong di sampingmu?”

“Silakan.”

“Pohon ini rindang, dan tinggi. Kau suka dahan yang tinggi, ya?”

“Ya. Karena dahan tinggi memudahkanku mencari mangsa.”

Tapi dahan tempatmu bertengger ini begitu tajam, kasar, dan tak tertutup dedaunan. Tak apakah kau? Tidak tersengat panaskah kau?”

“Aku sudah terbiasa.”

“Bahkan dengan bulu sayapmu yang koyak, kau masih terbiasa bertengger di tempat seperti ini?”

“… kicau paruhmu itu memang riuh, Jalak.”

“Karena aku Jalak. Dan kau Elang dengan sayap koyak.”

“Kau pintar bermain kata-kata.”

“Tentu. Aku Jalak yang banyak belajar.”

“Ho. Dari mana kau mempelajarinya?”

“Dari Merpati.”

"... Merpati, katamu?"

“Ya. Namanya Merpati Kecil. Ia burung kecil putih yang pintar berkata-kata. Ia merpati lugu yang lucu, mudah tersenyum dan tertawa, meski bola mata hitamnya kerap kali mengalirkan bulir-bulir keperakan.”

"...."

“Ia Merpati Kecil yang menjahitkan luka di sayapmu.”

"... kau tahu, eh?"

“Ya. Ia yang mengisahkannya padaku.”

"He. Lalu?"

“Lalu? Apa yang lalu?”

“Lalu, kau di sini hanya karena dia?”

“Sebagian ya, dan sebagian lagi bukan. Aku di sini bukan karena Merpati Kecil. Aku di sini, sebagian besar karena aku Jalak.”

“Maksudmu? Jangan bertele-tele.”

“Begini. Aku bertengger di tempat kesenanganmu ini bukan untuk mengganggumu. Bukan pula aku di sini karena permintaannya. Aku berkicau di sini, semata-mata karena aku Jalak yang ingin tahu tentang Elang.”

“Begitu? Lalu, apa yang ingin kau tahu dariku? Apakah tentang lukaku?”

“Bukan. Aku ingin tahu tentang matamu.”

“Mataku?”

“Ya. Karena matamu serupa dengan mata Merpati Kecil. Mata yang sama-sama keruh dan berkabut. Hanya saja ia menutupinya dengan kebeningan lugu, sementara kau membiarkannya bertambah keruh.”

“… lantas?”

“Tidak. Aku hanya penasaran, mengapa kalian bisa memiliki mata yang serupa seperti itu?”

“Haha. Dan ketika kau tahu, kau mau apa?”

“Tidak ada. Itu semua hanya akan menjawab kicau terdalamku.”

“Ho. Dan kicau apakah gerangan?”

“Tentang saat-saat di mana Merpati Kecil tidak melihatku sebagai Jalak.”

“… maksudmu?”

“Ia kerap kali melihatku sebagai Elang.”

“….”

“Ia masih mengharapkanmu. Ia masih berharap untuk menemanimu, untuk menjahit luka-luka kecilmu. Ia masih mengharap sarang yang nyaman yang akan kau bangun untuknya.”

“… kau salah.”

“Maaf?”

“Belum lama ini… dia menemuiku.”

“Nah, sudah kubilang, bukan?”

“Jangan salah paham. Dia datang bukan untuk mengajakku bertengger seperti biasanya. Dia datang… untuk mengucap salam perpisahan.”

“Eh? Kenapa…?”

“Mau tahu alasannya?”

“Tentu!”

“Dia melakukannya karena Jalak.”

“Jalak? Maksudmu, aku?”

“Memang ada jalak-jalak lain di hidupnya?”

“Tidak, sih…. Tapi tetap saja—”

“Dia bilang dia begitu senang mendengar kicauanmu.”

“Aku tidak—”

“Katanya, dia begitu tersanjung setiap kali kau menemaninya berburu.”

“Ya, memang. Tapi aku—”

“Dia nyaris menangis ketika menceritakan tentang kau yang tengah mempersiapkan sarang baru untuknya.”

“A—aku, maksudku—”

“Masih menyangkal, hei Jalak-Banyak-Mulut? Tidakkah kau lihat kenyataannya? Bahwa semua yang kau pikir selama ini hanyalah ketakutanmu, kekhawatiranmu. Lihat sekarang, siapa yang dia harapkan. Dia menginginkan Jalak, bukan lagi Elang.”

“Tapi, matanya—”

“Jalak, satu hal yang perlu kau ketahui baik-baik. Aku dan Merpati Kecil pernah menempuh perjalanan panjang yang sama. Kami pernah terjatuh bersama, bangkit lagi, sadar maupun tidak seringkali kami saling melukai. Kau pikir, merpati dapat hidup bersama paruh dan cakar tajam seekor elang? Tidak. Dan jika kau bicara mengenai mata yang keruh, perjalanan terjal kami yang menjadi awalnya. Tapi kau tahu? Selama dia bersamaku, tidak pernah dia mampu menciptakan kembali sorot mata beningnya itu. Sorot itu ada, ketika dia berkisah tentangmu. Tentang Jalak bawel yang mengisi hidupnya, membersihkan bulu-bulu kelabunya menjadi putih bersih kembali.”

“Meski begitu, mengapa ia masih—”

“—masih menyisakan bayangan Elang di matanya, itu maksudmu? Pada kenyataannya, luka-luka di masa lalu memang teramat sulit untuk disembuhkan. Seperti kau lihat pada sayapku, cabik dan goresannya masih terlihat di setiap jengkalnya. Begitu pula dengannya. Dia tidak terus-terusan melihatku. Di saat sulitnyalah dia baru menemukan bayanganku. Kutanya padamu, Jalak, apakah bayanganku begitu mengganggumu?”

“Tidak. Sejujurnya tidak. Karena aku tahu, aku tidak bisa menghapus keruh itu.”

“Tapi kau sudah melakukannya. Bening itu bukanlah pura-pura. Putih itu bukanlah imitasi. Itulah dia yang sebenarnya. Dan kau telah mengembalikannya, sedikit demi sedikit.”

“Benarkah… semua seperti itu?”

“Kau bebas percaya padaku atau tidak. Kau tahu sendiri seperti apa tabiat Elang.”

“Tapi kau adalah Elang yang berharga bagi Merpati Kecil. Merpati Kecil tak akan sudi bersusah payah menemani burung jahat di langit tempatnya mengepak sayap.”

“Sudah tahu sedalam itu, rupanya.”

“Sedikit-banyak. Meski perjalanan kalian sepertinya akan tetap menjadi misteri untukku.”

“Masa lalu adalah masa lalu. Kau hanya perlu menatap ke depan.”

“Kau benar. Kau memang Elang bijaksana, seperti yang pernah ia kisahkan. Satu hal lagi yang ingin kutanyakan, mengapa kau membiarkan matamu keruh?”

“… karena aku tidak seperti Merpati Kecil.”

“Maksudmu? Lagi-lagi kau membuatku bingung dengan jawabanmu.”

“Ya, karena aku adalah Elang. Aku bukan dia yang telah menemukanmu di ujung jalannya.”

“Dan ketika kau telah menemukannya, apakah kau akan menghilangkan keruh itu?”

“Apa ini? Pertanyaan tambahan?”

“Jawab saja. Apa susahnya, sih?”

“Baik-baik. Dasar Jalak cerewet. Kalau soal itu… aku tidak tahu.”

“Tidak tahu?”

“Ya. Aku tidak tahu. Mau protes?”

“Ahaha, tidak, tidak. Maaf, aku hanya bergurau. Di sisi lain, kau Elang yang menarik dan menyenangkan untuk diajak bertengger bersama.”

“Hmph. Sesukamu. Hei, Jalak….”

“Ya?”

"Tolong jaga Merpati Kecil, ya?"

"...."

"Jangan biarkan ia terluka lagi."

“Baiklah. Aku akan berusaha.”

“Kau benar-benar beruntung.”

“Beruntung? Apanya?”

“Merpati Kecil telah memilihmu.”

“Ahaha. Aku tidak mau menganggapnya demikian. Bagiku, baik Jalak maupun Elang sama-sama burung yang beruntung.”

“Karena?”

“Sama-sama dicintai oleh Merpati Kecil, bukankah itu merupakan hal paling berharga bagimu, hei Elang?”

“… heh. Kau memang cerewet, hei Jalak….”