“Lalu, kau di sini hanya karena dia?”
“Sebagian ya, dan sebagian lagi bukan. Aku di sini bukan karena Merpati Kecil. Aku di sini, sebagian besar karena aku Jalak.”
“Maksudmu? Jangan bertele-tele.”
“Begini. Aku bertengger di tempat kesenanganmu ini bukan untuk mengganggumu. Bukan pula aku di sini karena permintaannya. Aku berkicau di sini, semata-mata karena aku Jalak yang ingin tahu tentang Elang.”
“Begitu? Lalu, apa yang ingin kau tahu dariku? Apakah tentang lukaku?”
“Bukan. Aku ingin tahu tentang matamu.”
“Mataku?”
“Ya. Karena matamu serupa dengan mata Merpati Kecil. Mata yang sama-sama keruh dan berkabut. Hanya saja ia menutupinya dengan kebeningan lugu, sementara kau membiarkannya bertambah keruh.”
“… lantas?”
“Tidak. Aku hanya penasaran, mengapa kalian bisa memiliki mata yang serupa seperti itu?”
“Haha. Dan ketika kau tahu, kau mau apa?”
“Tidak ada. Itu semua hanya akan menjawab kicau terdalamku.”
“Ho. Dan kicau apakah gerangan?”
“Tentang saat-saat di mana Merpati Kecil tidak melihatku sebagai Jalak.”
“… maksudmu?”
“Ia kerap kali melihatku sebagai Elang.”
“….”
“Ia masih mengharapkanmu. Ia masih berharap untuk menemanimu, untuk menjahit luka-luka kecilmu. Ia masih mengharap sarang yang nyaman yang akan kau bangun untuknya.”
“… kau salah.”
“Maaf?”
“Belum lama ini… dia menemuiku.”
“Nah, sudah kubilang, bukan?”
“Jangan salah paham. Dia datang bukan untuk mengajakku bertengger seperti biasanya. Dia datang… untuk mengucap salam perpisahan.”
“Eh? Kenapa…?”
“Mau tahu alasannya?”
“Tentu!”
“Dia melakukannya karena Jalak.”
“Jalak? Maksudmu, aku?”
“Memang ada jalak-jalak lain di hidupnya?”
“Tidak, sih…. Tapi tetap saja—”
“Dia bilang dia begitu senang mendengar kicauanmu.”
“Aku tidak—”
“Katanya, dia begitu tersanjung setiap kali kau menemaninya berburu.”
“Ya, memang. Tapi aku—”
“Dia nyaris menangis ketika menceritakan tentang kau yang tengah mempersiapkan sarang baru untuknya.”
“A—aku, maksudku—”
“Masih menyangkal, hei Jalak-Banyak-Mulut? Tidakkah kau lihat kenyataannya? Bahwa semua yang kau pikir selama ini hanyalah ketakutanmu, kekhawatiranmu. Lihat sekarang, siapa yang dia harapkan. Dia menginginkan Jalak, bukan lagi Elang.”
“Tapi, matanya—”
“Jalak, satu hal yang perlu kau ketahui baik-baik. Aku dan Merpati Kecil pernah menempuh perjalanan panjang yang sama. Kami pernah terjatuh bersama, bangkit lagi, sadar maupun tidak seringkali kami saling melukai. Kau pikir, merpati dapat hidup bersama paruh dan cakar tajam seekor elang? Tidak. Dan jika kau bicara mengenai mata yang keruh, perjalanan terjal kami yang menjadi awalnya. Tapi kau tahu? Selama dia bersamaku, tidak pernah dia mampu menciptakan kembali sorot mata beningnya itu. Sorot itu ada, ketika dia berkisah tentangmu. Tentang Jalak bawel yang mengisi hidupnya, membersihkan bulu-bulu kelabunya menjadi putih bersih kembali.”
“Meski begitu, mengapa ia masih—”
“—masih menyisakan bayangan Elang di matanya, itu maksudmu? Pada kenyataannya, luka-luka di masa lalu memang teramat sulit untuk disembuhkan. Seperti kau lihat pada sayapku, cabik dan goresannya masih terlihat di setiap jengkalnya. Begitu pula dengannya. Dia tidak terus-terusan melihatku. Di saat sulitnyalah dia baru menemukan bayanganku. Kutanya padamu, Jalak, apakah bayanganku begitu mengganggumu?”
“Tidak. Sejujurnya tidak. Karena aku tahu, aku tidak bisa menghapus keruh itu.”
“Tapi kau sudah melakukannya. Bening itu bukanlah pura-pura. Putih itu bukanlah imitasi. Itulah dia yang sebenarnya. Dan kau telah mengembalikannya, sedikit demi sedikit.”
“Benarkah… semua seperti itu?”
“Kau bebas percaya padaku atau tidak. Kau tahu sendiri seperti apa tabiat Elang.”
“Tapi kau adalah Elang yang berharga bagi Merpati Kecil. Merpati Kecil tak akan sudi bersusah payah menemani burung jahat di langit tempatnya mengepak sayap.”
“Sudah tahu sedalam itu, rupanya.”
“Sedikit-banyak. Meski perjalanan kalian sepertinya akan tetap menjadi misteri untukku.”
“Masa lalu adalah masa lalu. Kau hanya perlu menatap ke depan.”
“Kau benar. Kau memang Elang bijaksana, seperti yang pernah ia kisahkan. Satu hal lagi yang ingin kutanyakan, mengapa kau membiarkan matamu keruh?”
“… karena aku tidak seperti Merpati Kecil.”
“Maksudmu? Lagi-lagi kau membuatku bingung dengan jawabanmu.”
“Ya, karena aku adalah Elang. Aku bukan dia yang telah menemukanmu di ujung jalannya.”
“Dan ketika kau telah menemukannya, apakah kau akan menghilangkan keruh itu?”
“Apa ini? Pertanyaan tambahan?”
“Jawab saja. Apa susahnya, sih?”
“Baik-baik. Dasar Jalak cerewet. Kalau soal itu… aku tidak tahu.”
“Tidak tahu?”
“Ya. Aku tidak tahu. Mau protes?”
“Ahaha, tidak, tidak. Maaf, aku hanya bergurau. Di sisi lain, kau Elang yang menarik dan menyenangkan untuk diajak bertengger bersama.”
“Hmph. Sesukamu. Hei, Jalak….”
“Ya?”
"Tolong jaga Merpati Kecil, ya?"
"...."
"Jangan biarkan ia terluka lagi."
“Baiklah. Aku akan berusaha.”
“Kau benar-benar beruntung.”
“Beruntung? Apanya?”
“Merpati Kecil telah memilihmu.”
“Ahaha. Aku tidak mau menganggapnya demikian. Bagiku, baik Jalak maupun Elang sama-sama burung yang beruntung.”
“Karena?”
“Sama-sama dicintai oleh Merpati Kecil, bukankah itu merupakan hal paling berharga bagimu, hei Elang?”
“… heh. Kau memang cerewet, hei Jalak….”