20121129

Crimson Scars

Crystal Master, a fanfiction
Copyright (or disclaimer??) : Arriman Maulana Makmoen
also featuring English translation lyrics of Kizuato by Kalafina

_________________________________________________________________________________


I was born from the silence
without knowing what it called as warmth
What I know is that I wanted to come in life
And with it, I pass the night


"Ryou, ya ampuuun... kamu sedang apa? Siang hari sudah tidur-tiduran di sini...."

Anak laki-laki berumur sembilan tahun itu membuka kelopak matanya, ogah-ogahan, hanya untuk menemukan wajah bulat dengan pipi merona kemerahan dan iris biru tua menatapnya hangat. Hanya untuk ia rutuki dalam hati kedatangannya. Hanya untuk ia serapahi sapaan manisnya yang membangunkannya dari mimpi-mimpi buruk. Sebenarnya, Ryou kecil harus berterima kasih akan hal itu.

Alih-alih bangun, Ryou hanya bergelung, meringkuk dengan punggung menghadap gadis itu. Mengacuhkan gadis itu. Membiarkan adanya sedikit sirat kecewa yang lantas diterima punggung dinginnya.

Dan satu helaan napas kecil. Betapa telinga Ryou tergelitik mendengarnya.

"Ma--maaf kalau ternyata aku ganggu istirahat siang kamu. Ini, aku bawakan makan siang. Sandwich isi tuna mayonaise dan telur, kamu suka 'kan? Aku tahu dari Ray sih, hehee.... Sudah, ya, aku pulang duluan. Selamat istirahat, Ryou."

Lalu sepi. Ryou kembali ditemani dengan suara gemerisik pepohonan dan rumput di sekeliling tubuhnya. Juga suara langkah yang kian menjauh. Lama ia terdiam, berusaha memejamkan mata kembali. Namun ada gelisah yang ikut bermain. Ryou kecil bangun, menggaruk-garuk bagian belakang kepalanya dengan marah. Enggan. Emosi anak kecil yang tak jelas rupanya. Barulah manik cokelatnya menangkap sebuah keranjang anyaman kecil tergeletak di sampingnya. Juga tiga tumpuk roti segitiga favoritnya.

Ryou kecil mengutuk dalam diam. Kalau ia pulang nanti, ia tidak boleh lupa untuk meminta maaf pada Tyria atas kelakuan dinginnya siang itu.


****


I'm walking out from the silence
toward the scenery of love that I've never seen before
Believing in these wounds
I pass the night


Ryou lima belas tahun. Rambut gondrong berantakan yang masih sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Mata yang masih sama tajamnya. Hanya mulut dan perilaku yang tidak sedingin dahulu. Ryou muda yang mulai terbuka. Ryou muda yang mulai mengenal 'teman'. Ryou yang sudah tak lagi dihantui mimpi-mimpinya.

Masa lalu. Derak bara si kuda merah. Jeritan memekik gendang telinga. Dendam yang meninggalkan bekas luka di relung terdalamnya....

"Ryou? Kamu masih di sini?"

Hari itu senja, ada pemandangan mega jingga lembut yang memanjakannya. Bersama dengan gadis itu, gadis yang tak pernah berhenti mengiriminya makan siang dari semenjak hari pertamanya menginjakan kaki di Ciara.

Ryou menoleh, menemukan Tyria, tetap dengan sorot mata gadis itu yang hangat, berdiri di sampingnya. Satu senyum tipis lantas terlukis di bibir Ryou. Cukup jadi satu jawaban untuk Tyria. Ryou tahu gadis itu mengerti. Ah, rasanya Tyria memang tidak pernah salah untuk mengerti setiap warna yang menggenangi dirinya.

"Kamu memang suka banget ya, sama tempat ini? Dulu juga kalau kabur dari kota, bosan sama kelakuannya Ray, kamu pasti menyendiri di sini. Ingat tidak, dulu aku sering sekali mengirimimu makan siang, hampir setiap kali kamu ke sini...."

"Dan terima kasih banyak untukmu, Tyria... aku rasanya hampir trauma dengan sandwich isi tuna mayonaise dan telur. Bukannya masakanmu tidak enak, tapi kalau kamu memakan makanan yang sama setiap hari...."

Gendang telinganya menangkap tawa renyah gadis itu. Menggelitik mulut dan pita suaranya untuk ikut tertawa. Awalnya hambar, tapi Ryou telah belajar caranya untuk tertawa lepas. Tulus. Dan kali ini termasuk salah satunya.

"Senja di sini memang indah ya, Ryou? Aku juga kalau sedang sedih, selalu ke sini sore-sore...."

"Dan besoknya, taruhan kamu pasti langsung sakit demam selama tiga hari karena masuk angin."

Sekali lagi, Ryou tertawa. Begitu lepas. Gemerincing tawa yang terasa begitu senada harmonis dengan tawa gadis itu.


On the cold skin
finally the flower petals got burnt
as I am here expressing my happiness


"Kamu sudah tidak lagi bermimpi buruk 'kan, Ryou?"

Ryou menggelengkan kepala. Pundaknya yang kemudian menangkap satu sentuhan lembut dari Tyria.

"Kalau ada apa-apa, jangan lupa cerita. Kamu punya Ray, Karen, Phoebe, Yuvelia, Daichi, dan aku. Jangan pernah simpan semuanya sendirian lagi. Kamu punya kami. Err... walau kamu kayaknya sudah bosan dengan kata-kata seperti ini dari Ray...."

Sekali lagi, Ryou menggerakan kepalanya. Dadanya terasa panas dan sesak, entah mengapa. Sementara langit semakin menggelap, warna jingga yang semakin dilahap hitam. Ryou berbalik, melangkah kembali ke Ciara, setelah sebelumnya ia menyampirkan jaketnya di bahu Tyria.

"Ayo pulang. Dan jangan berani lepas jaketnya. Aku tidak mau tanggung kalau kamu sampai sakit lagi besok."

Satu senyum dan ucapan terima kasih dari Tyria. Membuat perut Ryou panas serasa dijungkir balik.


****


When the stardust disappear
inside the light unseen before


Ryou tujuh belas tahun. Gempuran yang terjadi di kota Ciara. Satu rantai takdir yang mengikat raganya begitu erat mulai bermain.

"Ryou... kamu mau pergi?"

"Aku harus pergi, Tyria. Ini kesempatanku membalas dendamku, orang tuaku... semuanya!"

"Padahal kamu tahu bahwa balas dendam itu--"

"--tidak baik. Aku sudah tahu hal itu, dan hal itulah yang tetap akan kulakukan. Jangan halangi aku, Tyria."

Satu tatapan tajam darinya, yang hanya mampu dibalas sendu oleh kedua manik biru tua itu.

"Aku tidak akan menghalangimu. Ha--hati-hati di jalan, kalau begitu...."

"... kamu juga. Aku titip Ciara padamu dan yang lain. Sedikit banyak, aku tetap ingin kota ini aman dan tentram... aku berhutang banyak pada kota ini."

Gadis itu mengangguk. Mendung masih menggelayuti wajahnya. Ryou hanya menghela napas sejenak, hingga ia membalikan tubuhnya...

... untuk satu desiran lain yang tak pernah ia duga sebelumnya. Tyria memeluknya. Gadis itu membenamkan wajah di punggungnya. Ryou dapat merasakannya, embusan napas pendek-pendek Tyria terasa panas membakar menembus tiap helai kain yang membalut kulitnya.


The happiness and sadness
I want them to be engraved deeply
As you're here together with me
withing my memory of happiness


Gerak tubuh Tyria yang sontak melepas pelukannya, senyum manis yang menyembunyikan bulir air mata agar tidak jatuh ke pipi... hal itulah yang terakhir Ryou ingat dari gadis itu. Bersamaan dengan panas mengiris perih yang membuncah di dada, yang masih tidak ia ketahui apa artinya.


****


"Tyria! Tyria!! Kumohon, bertahanlah!!"

"Air! Mana air?! Beri dia minum... atau obat... atau apapun!! Siapapun!!"

Ryou membeku. Mata cokelatnya membulat. Tak kuasa dengan pemandangan keji di hadapannya. Tali-tali nasib dan takdir yang dipermainkan di sekelilingnya, yang tak berhenti mengoyak raganya.

Tyria melancarkan serangan... untuk melindunginya. Padahal ia tahu bahwa gadis itu sama sekali tak boleh menggunakan kekuatan sihirnya. Kutukan masa lalu yang membelenggu tubuh lemah itu, dan Tyria melanggar garis nasibnya... untuk melindunginya.

Untuknya. Untuk dirinya....

Tyria... Tyria....


On this chest that you've touched
there's only one graceful wound
The tear that I've always hidden until now
is now broken into crimson


Suara gadis itu yang menggaung di gendang telinganya. Siluet-siluet senyum yang selalu mampir mengisi hari-harinya. Dadanya yang panas terbakar, dihujam dan disayat-sayat dengan bengis. Masa lalu yang tak lagi membayang, hanya sorot mata lembut yang menemaninya selama ini. Membuat Ryou mengerti. Ryou baru saja mengerti.

Tentang perasaannya. Tentang keinginannya. Tentang mimpi indahnya. Tentang belai hangat dan nyanyian merdu yang mengisi bunga tidurnya, mengganti setiap tetes peluh mimpi buruknya.

"Tyria... Tyria, jangan.... Aku...."

Sementara senyum itu masih di sana, bertahan meski semakin melemah. Tangan pucat gemetar yang berusaha menggapainya. Bola mata yang meredup dan memberat. Jerit tangis pilu teman-temannya yang memecah.


Within those eyes, within the kisses
please leave the proof that I was loved
As I'll probably live in cries from now onward


'Ryou....'

Dan tubuh pucat yang lantas tergolek lunglai, tak lagi bernapas. Satu nyawa yang kembali ke bumi. Bersamaan dengan tubuhnya yang limbung. Sekujur tubuhnya yang gemetar. Bola matanya yang melebar. Tangannya yang kemudian dikepal erat.

Dunianya yang serasa berputar cepat di sekelilingnya. Berubah.

Ryou tersungkur, berlutut di atas tanah. Meski tidak ada suara apapun yang terdengar dari mulutnya, namun relung terdalamnya berkali-kali meneriakan nama itu. Berkali-kali. Perih. Tanpa henti. Mengalirkan luka dan asanya yang diselimuti duka, rasa bersalah. Penyesalan.

Aaaaaaaaakkkhh!!!


****


The nostalgic rain of summer
please escort me
to the place where that person and I
first believed in each other


Padang rumput berbukit di dekat danau di pinggiran kota, untuk kesekian kalinya. Namun kali ini Ryou seorang diri. Tidak ditemani senja. Hanya tetes-tetes air yang mengguyur tanpa ampun dari langit. Upacara pemakaman yang hanya sebentar saja dihadirinya. Betapa ia--untuk kesekian kalinya--kembali berlari dari hidup hingga melabuhkan lelahnya di tempat itu.

Karena Ryou tidak bisa. Mungkin hanya Ryou yang tidak bisa, tidak sanggup menyaksikan peti yang berisikan tubuh gadis itu dikubur dalam tanah. Sama seperti yang terjadi pada keluarganya di masa lalu.

Masa lalu. Kelam dan hitamnya. Mimpi-mimpi yang kembali menghantuinya. Sementara tak ada lagi hangat yang bisa mengusirnya. Menguatkan jiwanya.


Now the dream has ended
by the time stardust disappear
Hey, if only I know you're alive
I'll surely embrace you


Ryou membalikan tubuhnya, berjalan gontai di bawah naungan tirai hujan. Dendam yang semakin membekas. Hitamnya yang semakin pekat. Bekas lukanya yang semakin dalam tergores. Walau ia tetap membiarkan imaji-imaji itu berkeliaran. Sentuhan lembut dan paras wajah yang selalu terbayang. Ryou memerlukannya. Ryou butuh hal itu untuk tetap membuat kakinya melangkah di jalurnya. Tak peduli jalan seterjal apa yang akan ia tempuh nanti.


Walking out from the silence
toward the far daybreak that I've never seen
I just want my wish to come true
and with that thought, I pass the night


_________________________________________________________________________________

a/n. Seandainya yang punya cerita baca... mohon maaf kalau mellow dan drama banget m(_ _)m cuman gara-gara dengerin Kizuato dan baca lagi file CM yang kamu kasih ke aku, tiba-tiba kepikiran buat bikin ini. Hope you like it... dan maaf kalau ternyata mengecewakan....

20121122

Swan Legend: Cygnia #prolog1

Scorpus pagi itu cerah. Derak gemeratak kereta kuda, deru mesin-mesin uap, dan derap langkah prajurit kerajaan telah terdengar dari seluruh pelosok kota. Memang, pagi hari di Scorpus tidak lagi ditandai kicau mesra burung-burung dari atap rumah… tidak, tentu saja, mengingat Scorpus adalah ibukota Kerajaan Acrusian, sebuah kerajaan subtropis di dataran Benua Demetrious yang cukup maju akan teknologi dan kekuatan militernya.

Bahkan dari pinggiran kota sekalipun, Leon dapat mendengar kebisingan kota kelahirannya itu.

Pemuda itu menghela napas. Tangan kanannya lantas merogoh arloji emas yang talinya terkait di saku kemejanya. Pukul enam pagi, dan ia sudah berada di perbatasan kota, lengkap dengan sebuah pedang tersarung manis di pinggang dan seekor kuda hitam besar gagah dengan tali kekang tergenggam sempurna di tangan kirinya.

“Hendak bertualang ke mana lagi hari ini, Pangeran?”

Leon mendongak. Salah seorang prajurit penjaga pintu masuk Scorpus, menyapanya ramah—atau malah terlalu ramah untuk ukuran seorang prajurit yang menyapa pangerannya di pagi hari.

Pangeran? Ah ya, tentu saja. Leon, atau lengkapnya Leonard von Acruxias IV, merupakan pewaris tahta Kerajaan Acrusian berikutnya. Calon raja, atau apalah itu namanya, meski sifat urakannya yang sering meninggalkan istana lantas membuat seluruh lapisan kerajaan mempertanyakan kapabilitasnya untuk menjadi seorang raja.

“Seperti biasa, mengunjungi teman di Dabien,” jawab Leon sembari meregangkan tubuhnya. “Katanya di pusat pelabuhan hari ini akan dilakukan lelang senjata antik. Menarik, bukan? Kau mau ikut, Dave?”

Dave, si prajurit itu lantas tertawa kecil, “Lelang? Pangeran jauh-jauh melintas keluar Acrusian hanya untuk lelang senjata antik? Lelang seperti itu juga ada di Ophus, Pangeran….”

“Kalau aku pergi ke Ophus, aku bisa-bisa ditangkap si guru tua itu dan dijebloskan kembali ke istana! Ayolah, Dave… beri aku kesenangan sedikit!”

“Baiklah, baiklah,” ujar Dave, masih berusaha menahan kikik tawa akibat rajukan sang pangerannya itu. Dave lantas mengeluarkan secarik kertas yang telah dibubuhi sebuah cap lambang Kerajaan Acrusian. “Ini surat untuk melewati perbatasan negara. Dan seperti biasa, Pangeran, Anda berhutang satu kepala saya di tangan Anda karena surat izin ilegal ini.”

Dengan senyum puas merekah lebar, Leon menerima surat izinnya. “Kubayar dengan satu pedang bermanik lapis lazuli, bagaimana?” tawarnya, sembari menggoyangkan kantong emas di hadapan muka Dave.

“Maaf, Pangeran… hamba sejujurnya lebih tertarik dengan tombak ketimbang pedang. Ah ya, dan hamba dengar permata sepertinya mampu memotong lebih tajam ketimbang logam.”

“… sementara harga tombak di Dabien itu berlipat kali lebih mahal daripada pedang dan kamu masih meminta permata, dasar prajurit kere tapi matre!”

“Maaf, Pangeran. Selera hamba hanya terlalu tinggi untuk seorang prajurit kelas bawah.”

“Ya ya, sesukamu saja, Dave,” potong Leon, sudah cukup bosan mendengarkan cerocos Dave tentang senjata. Toh memang pengetahuan Dave akan senjata jauh lebih matang dari Leon, tentunya sering membuat Leon sebal sendiri dibuatnya. “Oke, Dave. Aku pergi dulu. Kalau ada orang istana yang mencari….”

“Cukup bilang Anda pergi ke Dabien untuk menghadiri lelang senjata, bukan? Tenang saja, kejujuran hamba sudah menjadi mesin otomatis tahap pertama untuk menyelamatkan kepala hamba sendiri dari tebasan guillotine Paduka Raja.”

Leon nyengir, yang dibalas dengan senyum satir Dave, dan dengan lincah pemuda itu naik ke punggung kuda hitamnya, Eques. Ia menghela kudanya. Eques lantas meringkik lantang.

“Sampai nanti, Dave!!”

Leon melaju secepat kilat. Lambaian tangan dan teriakan nyaringnya masih membekas di pos penjagaan Dave. Sementara Dave hanya mendesah. Mata pemuda itu yang berbicara.

‘Ah, kelakuan calon raja….’


..oo00oo..


Pagi hari, pukul tujuh lebih lima belas menit, di Istana Acrusian….

“Pangeran? Pangeran! Pangeran Leon, Anda di mana?!”

Seluruh istana panik. Rusuh. Gempar. Meski ini bukan kali pertama sang pangeran lenyap di pagi hari buta dari kastilnya sendiri. Hulu balang lalu-lalang, para pelayan tergopoh-gopoh mencari dari satu ruangan ke ruangan lainnya. Mungkin mereka berpikir bahwa pangeran mereka itu masih merupakan bocah berumur sepuluh tahun yang hobi bermain petak umpat karena tidak mau sarapan pagi. Ya, mungkin saja.

Sementara itu di salah satu kamar, seorang gadis hanya mendecak gemas dan menggeleng-gelengkan kepala atas keributan pagi hari itu.

“Hilang lagi? Dasar otak monyet,” umpatnya pelan, membangunkan satu gelak tawa hebat dari seberang ruangan, dari seorang pemuda berparas tampan yang tengah memandang ke luar jendela.

“Jangan sebut Leon dengan sebutan seperti itu dong, adikku sayang…. Kalau dia otak monyet, lalu aku sebagai adik kembarnya punya otak apa? Otak udang? Otak sapi?”

“Otak-otak! Huh, kalian berdua sama saja! Di saat seperti ini masih tidak bisa serius.”

Lilica, gadis itu, menggembungkan kedua pipinya tanda tak suka. Sedangkan sang kakak, Lion, tetap tertawa lepas sembari berjalan menuju Lilica, mengusek habis rambut Lilica yang masih mencuat ke sana kemari.

“Justru kamu yang terlalu serius, adik kecil. Yah, memang sih… satu setengah tahun lagi adalah penobatan Leon menjadi raja, dan kelakuan malfungsinya itu masih ia gunakan di mana-mana. Satu setengah tahun memang waktu yang lama, sih….”

“Bukan itu, aku mengkhawatirkan hal lain.”

Lion terdiam. Sejenak, ia memperhatikan baik-baik raut wajah adiknya. Cemas, getir, takut. Semua tergambar dengan jelas di wajah polos Lilica. Lion tersenyum, betapa adiknya itu tidak bisa berbohong di saat seperti apapun. Begitu transparan dan nyata.

“Kamu mengkhawatirkan agresi Ursian belakangan ini?”

Dengan enggan, gadis itu mengangguk. “Memang belum bisa dipastikan serangan belakangan ini disebabkan oleh Ursian atau bukan, tapi… kalau orang-orang tahu putra mahkota Kerajaan Acrusian hobi berkeliaran seenak jidat bahkan sampai menyebrang perbatasan negara dan bermain di negara dagang… bukankah Kak Leon bisa habis dalam hitungan detik?”

“Hahaha… jangan khawatir. Leon itu ganas, disenggol sedikit pasti langsung balas membacok. Pertahanan dirinya bagus, dan Leon jago menyamar plus melarikan diri. Bukan hanya otaknya yang monyet, otot-ototnya juga mirip otot monyet.”

Namun gadis itu masih ragu. Masih terdiam. Membuat Lion lama-lama kasihan. Lilica adalah segalanya bagi Lion, kupu-kupu kecilnya yang selalu ingin Lion lihat dalam senyuman. Namun bagi Lilica, segalanya bukanlah Lion. Masih ada Leon. Masih ada ayah dan ibu. Masih ada hal-hal lain. Lion tersenyum hangat, terlalu hangat untuk hatinya yang miris.

“Makanya, kamu sekarang mandi, dan kita cari Leon sama-sama, oke?”

Barulah dengan begitu, Lion dapat melihat satu senyuman baru terbit di wajah Lilica, begitu manis.


..oo00oo..


Suara Lilica memekik, melengking nyaring dari atas kudanya.

“Pergi?! Lewat sini?! Dua setengah jam yang lalu?! Ke Dabien?! UNTUK LELANG SENJATA?!! Astaga Dave… sebegitunya kamu bosan hidup sampai berulang kali membiarkan Kak Leon menyebrang batas negara begitu saja?!”

Dave menggaruk-garuk bagian belakang kepalanya yang sebenarnya terasa gatal pun tidak. Ya, ritual lain yang hampir pasti Dave alami setiap kali pangeran mudanya itu meminta izin menyebrangi perbatasan adalah mendengar cerocos dan umpatan tuan putri kerajaannya yang tercinta. Sang putri yang polos, manis, lugu, tapi bibirnya bisa sepedas cabai bila hal-hal—yang dirasa buruk—menimpa dua calon raja itu.

Dan tentunya, adik kembar sang pangeran selalu hadir di sana untuk meredam kemurkaan sang putri kecil.

“Sudah, sudah… kamu tenang dulu. Dabien ‘kan tidak jauh, tidak sampai menyebrangi Danau Piccana. Leon akan baik-baik saja,” ujar Lion menenangkan. Dan pemuda itu kembali beralih pada Dave. “Ada lagi hal-hal lain yang Leon katakan?”

“Tidak ada, Pangeran Lion. Paling-paling Pangeran Leon hanya menawari hamba sebuah pedang bermanik lapis lazuli, yang hamba tolak karena hamba sejujurnya lebih menyukai tombak ketimbang pedang.”

“Begitu? Baiklah, kami akan mengejarnya dan menyeretnya kembali ke istana. Sore hari ini akan ada perjamuan, dan Leon sudah harus kembali sebelum tengah hari. Dave, bisa beri kami surat izin untuk menyebrang perbatasan?”

Dave mengangguk. Lagi-lagi hal yang telah diantisipasinya. Dikeluarkannya dua carik kertas yang sama seperti yang ia berikan pada Leon sebelumnya. Satu untuk Lion dan satu untuk Lilica. Lion sudah berumur sembilan belas tahun dan Lilica lima belas, sementara penduduk di atas lima belas tahun diwajibkan membawa surat izin kenegaraan apabila ingin memasuki kawasan negara lain.

Diserahkannya dua carik surat itu pada Lion. Dave lantas membungkuk dalam-dalam di hadapan Lion dan Lilica.

“Mohon maaf karena hamba telah lancang mengeluarkan Pangeran Leon dari negara ini, Pangeran Lion, Putri Lilica. Bahkan tidak mengetahui bahwa beliau memiliki agenda penting untuk hari ini. Mohon maaf yang sebesar-besarnya.”

Lion mengibaskan tangannya tak sabar, menyuruh Dave untuk cepat-cepat menegakan tubuhnya. “Sudahlah, namanya juga Leon. Kalau dia tidak begini, kurasa besok dunia akan kiamat. Meskipun, yah… sebagai teman seperguruan semasa kecilnya, kau juga tidak seharusnya terlalu memanjakannya seperti ini, Dave.”

“Hamba mengerti. Salah hamba, hamba selalu memanjakan Pangeran Leon bahkan semenjak beliau masih sering memukuli pantat hamba dengan pedang kayu setiap sore seusai latihan.”

Lion terkikik geli, sementara dengus kesal keluar dari bibir Lilica. “Baiklah. Terima kasih surat izinnya, Dave. Kami berangkat sekarang.”

Prajurit penjaga itu membungkuk hormat, sekali lagi. “Semoga selamat dalam perjalanan Anda, Pangeran dan Tuan Putri.”

Lion mengangguk lalu melompat ke atas kudanya. Ia lantas menghela kuda cokelatnya, sementara Lilica mengeratkan dekapan pada pinggangnya. Keduanya melaju, secepat mungkin, menembus hutan dan semak belukar sebagai jalan pintas yang Lion ketahui sebagai jalan tercepat menuju perbatasan Acrusian dan Capprice, kota selanjutnya, Orin.

“Dabien, ya? Aku heran kenapa Kak Leon sering sekali ke sana.”

“Wajar saja… Capprice ‘kan negara dagang bebas tanpa penguasa, hanya ada penegak hukum perdagangannya saja. Orang-orang baik dari Acrusian maupun Ursian bebas keluar masuk dan berbelanja di sana, syaratnya hanya membawa surat izin negara untuk melintas. Dan kenapa Dabien? Daripada Nashira, Dabien lebih mudah dijangkau karena Nashira terletak di seberang Danau Piccana yang membelah dua dataran Demetrious ini.”

“Hanya itu saja? Hanya letak yang strategis untuk membeli barang yang tidak ada di Acrusian? Kalau soal daratan sih, aku juga sudah belajar, Kak….”

Lion terdiam. Wajahnya terlihat berpikir, sebelum ia lantas tertawa dan membuat Lilica kebingungan.

“Ah, ya. Kalau Dabien, pasti masih ada alasan lain kenapa Leon rajin sekali mengapel ke sana.”

“… yaitu?”

Sang kakak tidak menjawab, hanya menoleh sejenak pada Lilica dengan cengiran lebar menghiasi wajah. Dan pada detik yang sama, Lilica lantas mengerti jawabannya.

“Kakak-adik Caellum, ya?”

Dan gelak tawa Lion terdengar membahana, memecah keheningan hutan belantara.

20120820

Blue Feather #part1

"Putus?"

"... iya, Aki. Aku minta, kita putus."

"Hah?! Kok tiba-tiba? Kamu sakit? Galau? Aku ada salah ya sama kamu? Kenapa--"

"Aki, dengerin dulu. Ini bukan masalah kamu ada salah atau apa. Kamu engga pernah salah apa-apa. Ini cuma... kita engga bisa bareng lagi, engga bisa."

"Iya, tapi kenapa?"

"... aku bakal ditunangin, sama calon pilihan ayah. Hari Sabtu nanti aku ketemu sama calon tunanganku itu. Maaf ya, Aki. Maaf...."


****


Akito keras-keras mendentingkan tuts-tuts piano di ruang kesenian. Hatinya gusar. Gundah. Perasaan yang ia sendiri tidak mengerti apa. Membayangkannya saja membuatnya mengigil dalam geram. Lalu bagaimana ia mau mengerti?

Semudah itu Asaka mencampakannya. Semudah itu, dan Asaka berpaling darinya, jatuh pada pelukan seorang pria yang sama sekali belum dikenal. Dan semudah itu ia menyerah. Ia tidak mengatakan apapun. Lidahnya kelu. Tengkuknya mandi keringat dingin. Akito tidak ingin mengakhiri, tapi juga tidak tahu bagaimana caranya.

Karena Asaka, yang ia inginkan hanya kebahagiaan gadis itu. Seorang laki-laki lain pilihan keluarga, Akito yakin bahwa pilihan itu akan membuat Asaka bahagia.

Tapi, benarkah begitu?

Kenyataan bahwa sensasi bibir lembut Asaka yang masih tertinggal di ujung bibirnya itu membelenggunya. Lemah. Untuk pertama kalinya Akito merasa dirinya sedang naik kapal laut yang diombang-ambing badai samudera luas. Gelap. Kosong. Ia tidak bisa melihat daratan. Ia tidak bisa melihat kenyataan.

Ia tidak bisa melihat hari esok.

Meski Akito tahu satu hal...

... seperti ini rasanya dihujam oleh cinta.


****


"Kamu... bener-bener bakal milih dia?"

Diam. Asaka tidak menjawab apapun. Hanya menunduk. Menyembunyikan tangis yang nyaris meluncur ke pipi.

Satu helaan napas dari pemuda di hadapannya itu.

"Oke, kita putus. Tapi, aku minta satu syarat."

Asaka mendongak. Matanya menemukan iris cokelat susu itu menatapnya dalam. Penuh arti. Penuh luka. Tapi juga penuh cinta.

"Syaratnya, kayak gimana pun cowoknya... kamu harus bahagia. Kamu denger aku, Asa? Kamu--harus--bahagia."

Asaka mengangguk pelan. Tenggorokannya tidak lagi bisa mengeluarkan sepatah kata pun. Bagaimana ia bisa bahagia apabila ia--andaikan seekor burung--harus berpisah dengan satu sayap yang selalu mampu membawanya terbang tinggi? Namun itu adalah keinginan Akito untuknya. Agar ia selalu bahagia, ada atau tidak ada pemuda itu dalam hidupnya.

Lantas bulir-bulir air mata itu tak sanggup lagi ia bendung. Bahunya bergetar. Asaka menangis dalam diam.

Dan detik berikutnya, yang ia rasa hanyalah bibir yang mencuri perhatiannya, mencumbu lembut di bibirnya. Ciuman pertamanya, yang penuh luka dan kata perpisahan.


20120814

Sloka

<Sampaikan seruanku pada Brahma, aku tidak takut meskipun kau mampu menghancurkan sekutuku sekalipun!>

<Langit dan Bumi memang miliknya, tapi waktu dan kematian ada di tanganku!>



****


"Engga ada cara sama sekali, Yo?"

Rio menunduk dalam-dalam, menyembunyikan bulir-bulir keringat besar yang menghujani dahinya, sebagaimana gusar dan gemetar yang ia tutup rapat-rapat di hadapanku.

Aku mengulang pertanyaanku,

"Tidak ada jalan lain, Satrio? Tidak ada satu pun?"

Di antara asa yang menguap tinggi, ia menjawab, lirih. Kepalanya menggeleng lemah.

"Engga ada, Ndre.... Engga ada."

Aku menghela napas--tanpa sadar. Kurebahkan tubuhku di atas sofa hitam berlengan di belakangku. Bunyinya berdebam keras, seolah beban tubuhku melipat ganda dari yang kelihatannya. Ah, tentu saja. Betapa pundak ini terasa jauh... jauh lebih berat dari sebelumnya. Dan sesuatu dalam diriku yang meraung-raung kesakitan, penuh luka.

"Ndre?"

Aku tak menjawab. Hanya kutatap nanar pemuda di depanku itu. Rio yang tak lagi berusaha menenggelamkan gelisahnya mati-matian terhadapku... meski sorot matanya begitu ragu dan takut-takut.

"Ndre... maaf."

Bola mataku sedikit melebar. Dan Rio yang kembali berkutat dengan segala rasa dalam dirinya. Aku tahu, bukan hanya aku yang dikekang perih ini. Rio juga sama. Tidak, mungkin Rio lebih parah. Ia yang pulang dalam keadaan babak belur, harga yang harus dibayarnya untuk membawa pulang kenyataan padaku. Rio yang tak lepas dari mimpi buruk dan kubangan peluh di malam harinya. Rio yang melihat lebih banyak lagi tentang mereka.

Nama-nama yang sering diteriakan Rio dalam mimpinya. Nara. Dan... Nandi.

Nandi....

Sesuatu dalam dadaku seolah diperas.

"Lo... engga perlu minta maaf, Yo," ucapku pada akhirnya. Aku berdiri, melangkah ke hadapannya, meninju pelan bahunya. "Lo udah berusaha yang terbaik. Lo masih bisa pulang juga gue udah bersyukur banget. Sekarang lo istirahat aja. Urusan langkah selanjutnya, gue butuh mikirin lebih lanjut malem ini."

Rio lantas menatapku. Ada sorot matanya yang berusaha menguliti isi otakku habis-habisan.

"... jangan terlarut dengan cerita yang gue sampein tadi. Tentang dia... tentang Nandi...."

Aku terhenyak. Sepertinya Rio tahu apa isi kepalaku.

Pemuda itu lantas membungkuk hormat padaku singkat, sebelum membalikan tubuhnya dan pergi meninggalkanku seorang diri dalam ruangan itu. Tanpa sedikit pun melihat ke belakang. Tanpa memastikan raut wajah apa yang menggenangi mukaku saat itu.

Aku? Ya....

Dan sisa malamku lantas kuhabiskan hanya dengan satu nama berlarian di otakku. Nama yang manis, seindah aku melihat seekor angsa putih berenang elok di danau berteratai dan nyanyian kodok. Begitu manis dan rindu, bahkan hingga mampu mengeringkan tenggorokanku.

Nama itu... Nandi. Nandi....


"Ndre, Nandi udah engga ada. Jiwanya yang habis dimakan manifestasi Shiva, Ma Kali... gue lihat sendiri. Dan engga ada yang bisa kita lakuin. Kita cuma bisa kalahin Shiva, tapi Nandi engga bisa kita tolong lagi."

"Nandi engga akan balik lagi sama kita, Ndre. Engga akan...."


Malam itu, suara parauku hanya sanggup meneriakan satu nama. Membiarkan perih yang terus bermain dalam jiwa, tanpa pernah mengizinkan satu tetes air mata turun membasahi sisi wajahku.


****


"Ndre gimana?"

"... haha, engga tau. Kayak mayat idup, Ley."

Satu jitakan mampir di kepala Rio.

"Jangan ngomong gitu! Lo engga tau, segimana Andre berusaha bertahan di sini, masih berusaha berpikir positif, masih berusaha nyari cara-cara lain, masih berusaha--"

"--karena dia engga lihat apa yang gue lihat, Ley."

Kali ini, sebuah tamparan menyengat mampir di pipi Rio.

"Tugas lo, Satrio... tugas lo untuk jadi mata bagi Ndre, untuk melihat hal-hal yang engga bisa dia lihat... hal-hal yang engga sanggup untuk dia lihat. Kita udah janji, bahkan sama diri sendiri, kita akan saling ngejaga satu sama lain. Lo lupa akan hal itu, Yo? Terus kalau lo lupa, buat apa lo nekat pergi ke Sarang Naga? Buat apa lo bela-belain--"

Kepala Rio mendarat di bahu Leyka. Ada helaan napas berat. Lelah.

"Maaf, Ley. Maaf.... Maaf...."

"... Rio."

"Haha... lo ikutan marahin gue. Lo jadi kesel gara-gara gue...."

Dan kedua tangan yang dilengkung, hangat mendekap Rio.

"Bego. Ini namanya saling ngejaga, tau."

Air mata yang lantas jatuh dari kedua pasang mata. Satu-satu. Untuk menggantikan bagian luka yang tidak bisa dialirkan.

20120805

Frozen Forest

Di ambang sebuah jendela, bibir pemuda itu menggumam sebuah lagu, tidak peduli suara seraknya yang terdengar janggal di telinga. Sorot mata elangnya mengelana, mencari-cari sejauh batas ufuk. Sementara jemari tak henti memainkan helai rambut kecokelatan seorang gadis yang tertidur lelap di pangkuannya.

Pemuda itu menghela napas. Pendek. Alunan nada janggalnya terhenti. Dan iris cokelat keemasannya berlari.

Pada gadis itu. Pada raut lelah dan derak napas teratur pendek-pendek. Pada peluh yang sempat menempel di kulit. Pada luka-luka yang tak kunjung menutup. Pada bibir yang tak urung dicumbu setiap malamnya.

Pemuda itu menggeram. Ada getir mampir di geramnya. Dan kepalan tangan yang kebas sehabis ia daratkan dengan telak pada sebuah wajah, wajah dengan garis yang mirip dengannya.

"Aku mencintainya, Aniki. Aku yang akan ada di sampingnya, menjadi penjaganya. Aku tidak akan kalah darimu."


Menjaga? Jangan sinting. Sudah berapa kali ia menemukan si gadis terbaring tak sadarkan diri di atap sekolah, kafetaria, dapur, atau bahkan di depan pintu kamar sendiri?


"Tidak selamanya kamu bisa mengambil semua hal yang kupunya, Aniki."


Mengambil? Jangan gila. Sudah berapa banyak yang ia rela pertaruhkan demi separuh nyawa-nyawa di pundaknya?

Dan pemuda itu lantas mengulas satu senyum sinis. Perih.

Punya adik laki-laki dengan nyawa dibebankan padanya, dan si adik dengan besar kepalanya memutuskan untuk menjadi saingan cintanya?

Tahu apa dia?




****


"Aniki...."

Satu-satu butir asap rokok membumbung tinggi hingga hilang ke langit.

"Aku akan membawa Lyra pergi."

Satu suara. Dingin dan melecehkan. "Ke mana?"

"Sejauh yang aku bisa."

Satu bogem mentah yang detik berikutnya melayang menghajar telak wajahnya.

Yuuji nyaris terjatuh. Matanya menatap tak percaya. Sementara Shinji hanya melempar dan menginjak puntung rokoknya, sembari berjalan meninggalkannya yang mematung ditemani angin.

Yang Yuuji tidak percaya bukanlah alasan mengapa ia ditonjok....

... yang ia tidak percaya adalah mengapa kilat perih itu menggenang di mata sang kakak. Bahu yang gemetar. Tangan terkepal yang lantas disembunyikan di kantung celana. Dan langkah gontai Shinji ditemani punggung yang baginya selalu terlihat menjauh.

Dan menjauh, hilang ditelan hutan harapan yang membeku.

20120729

One-Winged Bird

[1] Il giudizio finale sta per essere emesso
Nessuno può emendarsi dal peccato che scorre nelle vene


Di tengah mandi peluhnya, Nandi terjaga. Napasnya tersengal. Kepalanya terasa berat. Sakit. Bergemuruh. Seperti digedor-gedor.

"Kakak?"

Sementara di sampingnya, Nara, wajah yang serupa dengannya itu memandang sarat kecemasan.

"Kakak kenapa? Baik-baik saja? Kakak mimpi buruk?"

Suaranya tercekat, tertinggal tak mau pergi dari tenggorokannya. Nandi hanya memaksakan sebuah senyum. Senyumnya yang biasa.

"Kakak...."

"Aku... baik-baik saja, Nara... jangan khawatir--"


[2] --spepare
ѐ peccato?


Nandi mengerang, kedua tangan memegang sisi kepalanya. Merasakan gaung-gaung dari kejauhan yang memenuhi otaknya. Gema asa yang dikandaskan. Gema mimpi yang tak lagi terjamah. Digantikan gaung-gaung memekik mengerikan yang membakar bara jauh di benaknya. Satu kata;

benci.

Namun betapa Nandi telah mengunci rapat kata-kata itu dalam-dalam.

"... Kak? Kakak? Kakak!!"


[3] Serbare il segreto
ѐ peccato?


Dalam setiap malamnya, mimpi-mimpi selalu bercerita. Tentang manusia. Tentang dusta. Ya, dusta-dusta yang seringkali berhasil bersembunyi di balik topeng-topeng manis berbau harum. Sementara iris hijaunya mampu menelanjangi dusta, secepat apapun mereka berlari. Sedangkan bibirnya yang lantas melukis satu lengkung yang sama, yang biasa.

Sesederhana apapun, dusta selalu menemani. Dan Nandi belajar, bahkan untuk mendustai dirinya sendiri. Dengan topeng senyumnya. Dustanya pada hati kecilnya.

Bahwa ia membenci pendusta. Meski di atas semua itu,

ia membenci kekuatannya, kemampuannya untuk mengejar sedalam apapun dusta bersembunyi.

Dan berlari dari hidup bukanlah jalan keluarnya. Tidak dengan Nara, dan manusia-manusia lain dalam hidupnya yang menawarkan kehangatan. Kehangatan yang ia tahu bukannya dusta. Pribadi-pribadi yang menjadi cahaya baginya, tak peduli titik-titik dusta yang tetap ia temukan di sana.

Andai saja manusia.... Ah, bahkan dirinya sendiri pun seorang pendusta.


[4] Tu sei senza peccato?
Quanto sarà pesante il mio castigo?
Ti accorgi delle voci senza voce?
Ti accorgi dei tuoi peccati?


"Kakak!!"

Nandi mengerjap. Rasa sakit yang berangsur memudar. Dan tubuh mandi peluhnya yang didekap erat wangi laut.

"Sakit, Kak?"

Ia hanya mengangguk, menenggelamkan diri pada wangi laut penuh kehangatan di sekelilingnya. Tangan besar yang membungkus tubuhnya. Ia hanya mampu tersenyum lemah dalam diam. Entah sejak kapan... tangan adik kecilnya bisa sebesar dan sekekar ini?

"Kakak... apa yang--"

"--nanti, Nara. Nanti, aku akan cerita. Sekarang... aku ingin tidur. Aku ingin istirahat."

Tak ada lagi kata yang ditukar. Sebagaimana dirinya, Nara lantas menarik tubuhnya, sedekat apapun jarak sanggup mengikat keduanya. Juga dusta yang Nandi kesampingkan, bersamaan dengan rasa sakit menusuk yang masih membelasah, yang Nandi sembunyikan.

"Selamat malam, Kakak. Selamat tidur."

"Ya... selamat tidur, Nara...."


Il giudizio finale sta per essere emesso
Nessuno può emendarsi dal peccato che scorre nelle vene

_________________________________________________________________________________

author's note:

Short-fiction ini sebenernya bisa dibilang sebagai song-fiction juga. Tulisan bahasa Italia di atas diambil dari lagunya Shikata Akiko yang berjudul Katayoku no Tori (One-Winged Bird), dengan terjemahan bahasa sebagai berikut.

[1] The final judgment shall be delivered.
      Nobody can escape the sins that flows their veins
[2] This hope
      is it a sin?
[3] This secret
      is it a sin?
[4] Are you without a sin?
     How heavy is my punishment?
     Are you aware of that which has no voice?
     Are you aware of your own sins?

20120709

Dynasty Xan~Red Deep Sea

"Kamu nolak untuk jadi cenayang istana?"

"... yang nawarin juga engga ada."

Han Yao tergelak, terpingkal jatuh dari kursinya, melupakan mangkuk nasi dan ikan saus bawang di mejanya. Menurutnya ini sangat lucu. Seorang gadis pintar dan berbakat, selaiknya seantero negeri telah mengenalnya dengan baik, kini menolak tawarannya--sebagai pelajar senior di akademi perawatan dan pengobatan--untuk bekerja di istana. Begitu banyak tingkah tak terduga dari gadis ini, pikirnya. Dan ia suka tantangan. Apalagi menghadapi gadis ini, hidupnya terasa lebih berwarna.

Sama dengan setiap detik yang dilalui Han Yao bersama putra mahkota. Selalu berbeda. Selalu tak terduga. Bahkan sebagai sahabat terbaik putra mahkota, ia tidak pernah bisa menebak kapan waktunya sang calon raja akan tenggelam dalam gelisah politik atau tertawa setelah gagal berburu burung dara.

Sedikit banyak, gadis yang dipanggilnya hanya dengan sebutan 'Mei' ini... begitu mirip dengan Xiao Lan.

"Serius engga mau?" Nada bicara Han Yao berubah, menggoda, di balik senyum jenaka yang menawan. Namun tetap saja, Mei menggeleng untuk keseribu kalinya.

Ditambah hari ini, Mei sedang pasang wajah dingin. Wajar saja, salju pertama musim dingin baru turun beberapa jam yang lalu di ibukota, Changyuan.

"Kalau masalah susah dana, itu bisa dicariin, kok."

"Kenapa kamu maksa?"

Mata gadis itu menatap tajam iris cokelat susu Han Yao. Biasanya jika dalam keadaan seperti ini, Mei malah balas mengatainya dengan canda-canda segar, atau tanpa basa-basi menjejalkan acar buah plum ke mulut bawelnya. Namun untuk pertama kalinya, Han Yao ditodong kejujuran. Karena gadis itu lain. Tidak manipulatif. Tapi juga tidak sederhana sama sekali. Mei selalu mengukir setiap makna di dalam kata-katanya.

Dan yang terpenting, Mei tidak suka kebohongan.

Berat hati, Han Yao menghela napas. Ada semburat merah jambu di pipi. Mendadak isi perutnya serasa dijungkir balik.

"Ini klise, sungguh. Tapi aku cuma ingin kamu selalu ada di dekatku."

"... maksudmu?"

"Aku suka padamu, Mei."

****

Malam itu malam gelap bulan mati. Di salah satu balkon taman istana, Xiao Lan berdiri dengan tatapan lurus menatap langit. Mulutnya mengulas satu senyum sinis.

"Kamu, nembak Mei?"

Sahabat karibnya, dengan bekas tamparan merah di pipi, mengangguk sambil tersenyum jenaka, khasnya.

"Mau engga mau, Paduka. Tau sendiri, 'kan? Gadis yang satu itu engga suka dibohongi. Kebetulan tadi mood-nya mungkin lagi jelek, jadi saya ditodong jawaban jujur."

Seringai di bibir Xiao Lan semakin melebar.

"Terus? Ditolak?"

"Sayangnya saya ditampar dulu, Paduka... baru diterima."

Xiao Lan lantas tertawa. Sahabatnya itu pun ikut tertawa. Namun detik berikutnya, tawa Han Yao tercekat oleh suara desing tipis yang menggantikan tawa Xiao Lan. Sebuah pedang pendek, dingin menempel pada tenggorokan Han Yao.

Putra mahkota melihat, ada keringat sebesar butir jagung muncul di dahi sahabat karibnya. Padahal hawa begitu dingin, penanda sebentar lagi akan turun hujan salju.

"Kalau begitu, sekarang kamu mengaku menjadi kekasih Mei, eh, Han Yao? Satu tetes darah atau air mata keluar darinya karena kamu, maka satu sentimeter pedang ini akan menancap di lehermu."

Pemuda itu mengangguk, setengah ngeri. Xiao Lan menarik kembali pedangnya, dalam satu sapuan anggun memasukannya kembali dalam sarungnya. Tanpa sadar, tatapan mata sahabat karibnya menempel lekat, penuh tanya.

"Kenapa Paduka bersikap seperti ini--jangan bilang kalau Paduka juga menyukainya?"

"Perasaan yang kupunya terhadap gadis itu berbeda denganmu, idiot."

"... lalu, kenapa--"

Sejenak, Xiao Lan balas menatap Han Yao. Sorot mata yang sama-sama tidak bisa diartikan. Ada luka. Ada kenangan. Seakan rasanya manis dan pahit. Xiao Lan mengigit bibir. Tangannya mengepal erat.

"Karena Xiao Mei Xan, sang cenayang muda berbakat di seantero Chinling itu adalah adikku, adik kembarku, yang dibuang oleh Raja delapan belas tahun yang lalu karena tidak ingin ramalan tentang hancurnya negeri ini sampai terjadi."

Butir salju kemudian turun dari langit. Sama seperti siang tadi.

.

Dan mulai saat itu, Han Yao menjawab sendiri pertanyaan-pertanyaan menggelitik dalam benaknya. Disangkal sebagaimanapun, logikanya tetap berteriak keras-keras. Mei dan Xiao Lan begitu mirip. Bahkan terlalu mirip. Tak peduli setengah wajah Mei yang berbekas luka bakar yang bahkan entah mengapa tidak mengalihkan keelokan paras yang memiliki bentuk dan warna mata... ah bahkan bingkai wajah yang serupa.

Mei dan Xiao Lan bersaudara. Mereka kembar di rahim yang sama. Kakak dan adik yang selalu menangis dan tertawa di waktu yang sama, meski jurang takdir memisahkan keduanya dalam jarak.

Tapi itu artinya... ia sedang berpacaran dengan seorang yang sebenarnya... putri kerajaan?

Han Yao mendadak pingsan di tempat.

20120708

Dynasty Xan~Blind Spot

Mereka hanya sepasang anak kembar yang dipisah paksa oleh takdir yang dikedok adat dan tabu. Mereka, hanya bocah-bocah polos dan lugu, yang lahir di bawah gemerlap darah biru mengaliri nadi-nadi. Sang kakak, penerus tahta dinasti dengan tanda lahir menyerupai naga di punggung. Sementara sang adik, bayi mungil cantik dengan helai rambut dan iris sehitam malam bulan mati. Keduanya begitu dekat, berenang dalam satu rahim yang sama.

Mereka dekat, begitu dekat,
bahkan ketika sang adik nyaris tak mampu melihat dunia, sang kakak menyobek jalan keluar demi hidup kembarannya.

Merah pekat yang lantas menggenang. Tak berhenti. Raja yang tahu kebenarannya jadi murka.

Dan di malam yang sama, saat pertama kali tangis mereka pecah di angkasa, Raja mengirim salah seorang ajudan setianya,

untuk melenyapkan sang adik, jauh dari pandangannya.

****

"Kamu itu adikku. Ayo kita pulang sama-sama!"

"Aku tidak mau!"

"Kenapa? Kamu tidak mau hidup di istana? Kamu tidak mau hidup bersama aku, kakakmu satu-satunya? Sungguh, istana itu jauh lebih menyenangkan ketimbang gubuk kecilmu di tengah hutan ini."

"Kalau begitu, kenapa Raja membuangku sewaktu kecil? Kenapa aku bisa ada di sini? Kenapa tidak sejak awal saja aku tinggal di istana emas itu?"

"... dari mana kamu tau?"

"Paman hulubalang yang merawatku dalam pelarian di sini."

"Jadi, kamu tidak mau pulang."

"Tiiiidak!"

"Kamu memang keras kepala."

"Kamu juga sama."

"Hehe, karena kita dekat, sangaaaat dekat."

"... iya. Kita dekat, sejak dulu dari rahim yang sama."

****

Xiao Lan Xan, penerus sah Dinasti Xan, tinggal di istana megah dengan segala tetek bengek tentang ilmu kenegaraan, sosiologi, politik, antropologi, dan wajib-militernya di umur delapan belas tahun.
Dan di umur delapan belas tahun, Xiao Mei, adik kembar yang disingkirkan Raja, terkenal sebagai seorang gadis cenayang sakti dengan ilmu mediasi rohnya, terdengar hingga ke seluk-beluk istana.

Orang hanya tahu jika nama depan Xiao Mei sama dengan nama putra mahkota. Hanya Raja, Xiao Lan, dan tentunya mantan hulubalang Raja yang membesarkan Xiao Mei, yang tahu jika gadis itu tak lain merupakan adik dari putra mahkota.

Sembilan tahun silam, Xiao Mei membakar wajah sisi kanannya sendiri. Agar tidak ada yang menyadari kemiripannya dengan putra mahkota.

Karena Dinasti Xan memiliki ramalan. Dan sejarah. Barang siapa melahirkan kembar dengan sang adik perempuan sebagai cenayang istana yang sanggup lahir ketika sang kakak menyobek rahim ibunya, maka di umur mereka yang ke dua puluh satu, dinasti itu akan binasa.

20120707

Silver Wings

Hanya lewat mimpi aku dapat menyentuhnya. Hanya lewat mimpi aku mampu membelai rambut hitam bulu gagak yang halus itu, merasakan sentuhan lembut jemari lentik itu. Hanya lewat mimpi aku sanggup mendengar gemuruh napas itu, detak jantung itu, desah itu. Hanya lewat mimpi, dan senyum itu kembali menyapaku.

Mungkin Sang Brahma memberiku kekuatan. Atau Sang Shiva memberiku pengampunan. Atau juga Sang Vishnu memberiku kehidupan.

Aku mencumbu bibir itu berkali-kali. Dingin, dan aku tak peduli. Rasa rindu tumpah-ruah dari sekujur tubuh. Kulitku beradu dengan miliknya yang kuning langsat. Dingin, dan setiap jengkal sentuhan itu terasa membakar di kulitku. Rasa cinta menari dan bernyanyi dari setiap derak tarikan napas putus-putus. Mulutku memanggil namanya. Berkali-kali.

Nandi... Nandi....

Dingin, dan telingaku menangkap suara lirih itu. Memanggil namaku. Berkali-kali.

Andre... Andreas....

... ahh....


Gelora itu menggelegak. Aku dan dirinya. Segala rasa yang sudah tak terbendung. Aku dan dirinya, menumpahkannya malam itu. Lewat mimpi yang begitu nyata. Mimpi yang memperlihatkan segala tentangnya yang tak pernah kuketahui sebelumnya.

Nandi... Nandi....

Aku mencintaimu....



.


Dan baginya, suatu pengampunan tersendiri bahwa ia dapat turun ke Bumi, merasuk sebagai roh ke dalam mimpi lelaki itu. Andreas.

Andreas. Andreas-nya tercinta.

Setetes air mata jatuh di pelupuknya. Bukan. Bukan karena rasa sakit dari cinta. Itu bukan air mata kesedihan. Air mata itu adalah tangis terakhir yang sanggup Nandi berikan pada lelaki itu. Air mata kebahagiaan. Di antara wangi peluh yang menyatu. Di antara erang yang beradu.

"Kamu menangis, Nandi? Kenapa?"

"Bukan apa-apa," jawabnya, menghapus segala kecemasan dalam sorot mata Andreas. "Aku menangis karena bahagia. Aku menangis... karena aku telah dicintai olehmu."

Lelaki itu tersenyum mendengar jawabnya.

"Tidak pernah ada kata telah bagiku, Nandi. Untuk saat ini, aku ingin kata selamanya."

Dan bibir dinginnya kembali dilumat oleh lelaki itu. Nandi tak peduli. Nandi tahu, tak ada kata yang bernama selamanya bagi mereka, insan saling mencintai yang telah terpisah jarak dan waktu. Hanya saja, Nandi ingin sepenuhnya menikmati saat itu. Belum tentu Sang Brahma memberinya lagi kekuatan. Belum tentu Sang Shiva memberinya lagi pengampunan. Belum tentu Sang Vishnu memberinya lagi kehidupan.

"Aku mencintaimu, Nandi...."

"Aku juga, Andreas."

A Cup of Wedding Tea, General?

Fullmetal Alchemist, a fan-fiction
disclaimer : Arakawa Hiromu, saya cuma numpang satu OC (original character) yang bakal muncul di akhir cerita :p


_________________________________________________________________________________


Jendral Roy Mustang duduk gelisah di kursi kulit hitam kebesarannya. Tidak tenang. Iris hitam legamnya sesekali melirik gugup, bergantian pada pintu dan jendela ruang kerjanya. Jemarinya yang selalu terbungkus sarung tangan putih bersih bermain-main di atas meja, memilin-milin pulpen atau mengetuk meja demi membuat sebuah irama janggal di telinga. Ada keringat sebesar biji jagung mengaliri dahi dan tengkuknya.

Sementara Letnan Satu kesayangannya, Kain Fuery--yang pada akhirnya berhasil naik pangkat setelah dua tahun berjibaku dengan kabel radio bawah tanah di Area Selatan--memandang cemas pada sang atasan.

"Jendral, apa... Anda baik-baik saja?"

Satu hentakan tangan--tidak sengaja, tentunya--dari Roy yang lantas membuat Fuery nyaris tersedak onderdil radionya.

"Ba--baik. Tentu saja. Aku baik, Fuery. Lanjutkan saja pekerjaanmu."

Pemuda berkaca mata itu pada akhirnya hanya sanggup menghela napas, sebelum kembali pada pekerjaannya mereparasi radio panggil di ruang sang atasan. Meski berkali-kali Fuery menangkap suara-suara aneh, gumam-gumam menggelitik, bukan dari objek reparasinya melainkan dari bibir Roy.

"... baik. Aku... baik-baik saja.... Ini bukan apa-apa.... Oke, Roy... tenang, tarik napas... tenaaangg...."

Kemungkinan pertama yang terbersit di otak Fuery: jendralnya ini sedang sembelit. Kemungkinan kedua: jendralnya ini sedang bertransmutasi menjadi wanita yang mau melahirkan. Kemungkinan ketiga: dalam beberapa hitungan ke depan jendralnya akan berubah menjadi homunculus--

"--TENTU SAJA TIDAK, ROY MUSTANG!! KAMU--TIDAK--BAIK--BAIK--SAJA!!"

Atau tidak. Menurut Fuery, Roy tidak akan berubah menjadi homunculus. Roy yang lantas menggebrak meja dan pergi meninggalkan ruang kerjanya dengan terburu-buru itu sepertinya baru saja berubah menjadi seekor chimera ganas kelaparan.

Yang Fuery tidak tahu hanyalah alasan di balik transmutasi tidak beres dari sang jendral chimera-nya itu.

***

"Umurmu sudah tiga puluh dua tahun, Jendral. Kapan kau akan menikah?"

"Sampai kapan aku harus memiliki seorang Jendral muda berbakat, tapi masih melajang? Astaga, kau mau jadi perjaka tua?"

"Ini, secangkir modal pernikahan untukmu, Jendral. Carilah gadis yang baik, atau dalam dua puluh empat jam maka satu bintang di bahumu itu akan kucopot."

Dan kata-kata Führer Grumman lima belas jam yang lalu itu masih begitu jelas terngiang di telinga Roy. Ia memandang jengah kotak beludru merah darah di tangannya. Sebuah cincin tunangan. Cincin perak bertahtakan delapan batu permata mungil, mengelilingi manik safir berkilau di tengahnya. Roy mengutuk dalam geramnya. Sembilan jam lagi ia harus menentukan pilihannya, antara menyerahkan setengah bagian hidupnya pada gadis yang dikenalnya-saja-belum, atau merelakan pangkat bintang tiganya berkurang satu. Hanya satu. Namun betapa harga diri Roy meraung tidak terima.

Hanya saja, siapa? Siapakah gadis nan cantik jelita, berparas bagai bidadari kahyangan turun ke Amestris, yang beruntung menerima pinangannya?

Kalau saja melamar gadis itu semudah membeli kacang, maka sudah ia lakukan bertahun-tahun yang lalu.

Roy memutar otak, memaksakan sel-sel yang selama ini bekerja untuk Ishval dan Area Timur kini berganti fungsi, secara paksa. Pikir, Roy, pikir. Apa yang menyebabkannya tidak membutuhkan wanita dalam hidup? Bahkan Havoc sudah menggaet jabatan veteran menyangkut masalah gonta-ganti pacar, sementara Breda dan Falman saja bisa mendapatkan istri hanya dengan setengah tahun masa 'perkenalan'. Apa yang salah dengan dirinya. Pikir, Roy, pikir. Kenapa dirinya tidak perlu wanita?

Karena sudah ada wanita di sampingku. Wanita yang siap menembakiku kapan saja aku melenceng dari jalur hidupku. Wanita yang siap mengikuti bahkan sampai ke ujung neraka sekalipun. Wanita yang....

Roy lantas menangkap sesuatu yang salah pada laju kerja logikanya. Salah, namun menjadi jalan keluar di saat yang bersamaan. Wanita itu, dialah masalahnya.

Riza Hawkeye.

****

"Kau mencintai Jendral?"

Riza melebarkan bola matanya, bulat-bulat, membidik tepat sorot jenaka dari Brigadir Jendral Jean Havoc, pada suatu sore di meja sudut kafetaria.

Detik berikutnya, Riza hampir tertawa terjungkal. "Kau gila?"

"Ditanya malah balik bertanya. Jawab dulu, Letnan Riza Hawkeye, apakah kau mencintai Jendral Roy Mustang?"

Havoc menatapnya dalam-dalam, kali ini penuh makna. Membuat Riza sedikit merasakan panas membakar pipi hingga tengkuknya.

Tanpa pertimbangan, Riza menjawab mantap. Kepalanya mengangguk dengan anggun. Dan satu senyum puas terbit di bibir Havoc.

"Kalau Jendral melamarmu, kau akan menerimanya?"

Satu jawaban spontan yang lain. Sama mantapnya. Namun kali ini jelas menenggelamkan segala rupa ekspresi di wajah si laki-laki berambut pirang.

Riza menggelengkan kepalanya.

"Kenapa--"

"Kau tahu benar jawabannya, Brigjen Jean Havoc. Pernikahan sesama tentara dalam tubuh militer itu dilarang. Dan... apabila aku memutuskan untuk mundur dari militer, maka aku tidak bisa lagi menepati janjiku untuk terus mengikutinya hingga ke lubang neraka sekalipun."

Beberapa detik bisu, dan Havoc lantas tertawa tergelak. Riza ikut tersenyum. Meski Riza tidak melihat, Roy membeku di depan pintu kafetaria. Mendengar apa yang tidak ingin didengar logikanya. Meruntuhkan egonya.

Lalu pada siapa lagi ia harus berharap?

****

Sisa waktu Roy hanya kurang dari satu jam. Kotak beludru merah darah itu masih tergenggam erat di tangannya. Dan selama tiga jam, Roy habiskan waktunya dengan terduduk diam di sebuah kapel di sisi utara bagian Central. Roy bukan penganut suatu sekte, hanya saja kafe, rumah makan, dan markas militer sudah menjadi nuansa yang satir bagi dirinya saat itu.

Bisa saja ia menganggap main-main apa yang dikatakan Fürher. Bisa saja ia berlari. Tapi harga dirinya tidak akan pernah mengizinkannya.

Roy tertawa. Parau. Sesuatu dalam dadanya menggelegak. Perih. Bukan karena 'modal' konyol yang seenak jidat dibebankan Grumman di pundaknya. Bukan karena waktunya yang tinggal satu jam. Bukan karena itu, seorang homunculus bernama 'Putus Asa' lantas menyerang logika dan egonya bertubi-tubi.

Karena penolakan. Bukan, kenyataan.

Bahwa Riza Hawkeye mencintainya. Dan Riza telah membuat pilihan untuk selalu berada di sisinya.

Bukankah seharusnya itu sudah cukup?

Lalu, untuk apa fungsinya wanita? Wanita sebagai peneman lelahnya, pasangan hidupnya, teman hidup hingga matinya. Apa bedanya dengan Riza? Mengapa Havoc begitu berbinar setiap kali pacar-entah-yang-mana-nya mengirimkan makan siang untuknya? Bahkan dulu Hughes... ah, betapa Hughes begitu mengagung-agungkan Gracia, bahkan di tengah medan perang sekalipun.

Roy menengadah. Patung dewa dengan rambut dan jenggot panjang berdiri kokoh di hadapannya. Tak sadar, bibirnya melengkung sebuah senyum tipis, mulutnya berbisik,

Jika Tuhan memang ada, kali ini, kupikir aku boleh minta jawaban dari pertanyaan tololku ini....

"Siapa di sana?"

Sebuah suara lembut, menyapa Roy dari balik keremangan kapel. Dan suara langkah kaki yang mendekat. Roy menoleh, menajamkan matanya. Hanya untuk menemukan satu sosok berparas manis dengan iris biru safir balas menatapnya dengan teduh.

Ada satu senyum yang menyapa.

Dan Roy merasa dunia di sekelilinginya berhenti berputar.

Dan terbalik.

"Maaf, apakah Anda masih butuh pelayanan? Mungkin saya bisa panggilkan Pastor untuk memberikan pelayanan--"

"Akubutuhsecangkirpernikahan."

Iris biru safir itu mengerjap kebingungan.

"Ap--apa? Maaf, saya tidak begitu mengerti...."

"Aku... kamu. Maksudku... kamu mau menikah denganku?"

Bau manis mengambang di udara. Jarum jam dunianya yang berhenti kini kembali berputar. Lebih cepat dalam debar gemuruh yang nyata. Karena sejak detik itu, Roy tahu hidupnya tak akan lagi sama.

20120510

Kupu-Kupu Kertas


“Jadi gimana, Se? Kamu udah nemu yang baru, nih?”

“Nemu sih udah, tapi….”

“… tapi? Beda agama lagi?”

“… iya.”

“Yah, sabar aja ya, Se. No offense, tapi, penganut agama kamu di negeri ini ‘kan emang minoritas banget.”

“Ada masalah lagi selain itu, Len.”

“Hmm… yaitu?”

“Aku suka sama perempuan yang udah punya pacar.”

“Astaga Wisesaaaa!! Engga ada perempuan lain, apa?!”

“Nah itu dia, Len. Abis mau gimana lagi? Ini perempuan emang sering banget ngobrol sama aku, baik banget sama aku, udah deket juga sama aku. Tapi ya mau digimanain lagi? Aku deket sama perempuan ini juga karena… pacarnya si perempuan ini ya temen baikku juga.”

….

Daun telinga Aki memerah. Genggaman di pulpennya terasa kian erat. Sontak kepalanya terasa begitu penuh oleh percakapan menyebalkan yang ia dengar di punggungnya itu.

Aki berbalik. Menemukan teman satu jurusannya, Wisesa, sedang melakukan ritual curhat colongan seperti biasa pada Alena.

Mulut Aki lantas melukis satu senyum sinis.

“Se, lo engga sekalian aja pengakuan ke Alena soal perasaan lo?”

Dan Aki tidak mau lagi peduli. Peduli dengan Wisesa yang jelas-jelas berargumen panjang lebar menutupi tingkah kikuknya. Peduli dengan Alena yang kemudian bertanya-tanya dengan semburat merah di pipi. Aki tidak mau peduli.

Wisesa boleh saja jadi partner di segala tugas kuliahnya. Tapi ia tidak sudi kalau ada lagi “Zen” lain yang menganggu hidup-damai-bersama-Alena-nya.

20120420

Untold


Dalam setiap malam-malam gelapnya, lelaki itu tidak pernah berhenti bercerita. Bercerita ia pada bintang-bintang tak kasatmata tentang luka. Bercerita ia pada bulan yang kerap kali terhalang malam tentang perih. Bercerita ia pada awan yang menghitam tentang tangis yang telah mongering namun dirindunya. Setiap malamnya, dan cerita itu akan selalu berulang, hingga ia terlelap dalam lelah berselimutkan kubangan peluhnya.

Dalam setiap malam-malam panjangnya, lelaki itu tidak pernah berhenti bermimpi. Pada langit luas ia bermimpi tentang angin yang meniup helai demi helai hitam dan manik hijau yang hangat. Pada bias lampu gedung-gedung menjulang ia bermimpi tentang suara lembut yang memanjakannya untuk terus berada di alam mimpi. Dan pada malam menjelang fajar ia bermimpi akan malaikat maut yang mengalungkan sabit kematian di lehernya. Meski dalam mimpinya, sabit itu tidak pernah membelah lehernya. Seakan waktu berhenti. Ia dan sang malaikat maut hanya terpaku di sana, dengan pemandangan sebuah altar yang telah hancur menjadi puing.

Dan dalam setiap fajarnya, lelaki itu selalu mengutuk pagi. Ia membenci pagi. Ia membenci hari. Ia membenci waktu. Karena waktu tidak pernah sudi ikut berduka bersamanya. Karena pagi tetap menjemput tak peduli selama apa ia membasuh luka-lukanya. Karena hari selalu berganti, seolah menertawakannya yang tidak pernah lagi melangkah dari mimpinya.

Karena ia ingin bermimpi. Karena hanya di dalam mimpi-mimpinya, maka malaikat maut itu akan menjadi nyata. Malaikat maut berparas cantik, bermata garang namun air mata tidak pernah berhenti mengaliri sisi wajahnya. Betapa lelaki itu mengenalnya. Betapa ia ingin merengkuh sang malaikat maut dalam dekapan. Betapa ia ingin sang malaikat maut menjemputnya agar mereka selalu bersama.

Hal klise. Juga menjadi hal yang paling diinginkannya. Malaikat mautnya tidak pernah membawanya pergi ke dalam keabadian. Ia ditinggalkan dalam hampa yang nyata.

Dalam setiap akhir malamnya, lelaki itu selalu melihatnya.

Sabit itu tidak pernah memenggal kepalanya. Sabit itu beralih ke tangannya untuk memenggal leher malaikat mautnya itu.

20120214

Cokelat-Merah Jambu


Hari itu hujan deras. Seharian tiada ampun. Seolah langit tengah menganga dan lantas dibanjuri bergalon-galon ember bocor.

Sama seperti Zen. Mulutnya menganga. Mangap lebar. Jantungnya nyaris berhenti berdetak hampir satu detik lamanya. Kalau saja terjadi, ia sudah bisa mengucap selamat tinggal pada dunia ini.

Bagaimana tidak? Satu bungkusan kotak berwarna merah terang dengan pita baby pink tiba-tiba saja disorongkan padanya. Dan senyum dua orang yang merekah. Yang satu begitu manis hingga mampu melelehkan hatinya…

… sementara yang satunya lagi, senyum jahil penuh kelicikan yang seolah menantang Zen menghadapi penderitaan.

“I—ini… apaan—”

“Cokelat,” jawab Alena dan Aki bersamaan. Pasangan sejoli itu lantas nyengir lebar.

“Cokelat? Kalian berdua… ngerayain Valentine?”

“Kagak,” jawab Aki, menaikkan bahu, “Alena diminta bikinin cokelat sama kakak sepupunya….”

Kedua mata Zen memicing. Curiga. Dengan kata-kata yang di telinganya seolah penuh tipu muslihat. “Terus?”

“Berhubung sisa bahannya banyak, ya udah deh, gue sama Alena mutusin bikin cokelat buat lo. Lo sebenernya termasuk cowok yang suka cokelat ‘kan, Ze?”

“Terus? Kenapa kalian kasih ini buat gue? Kenapa engga kalian saling bikinin buat kalian aja?”

Kali ini, gadis itu yang menjawab. Wajahnya masih cerah dan berbinar, membuat debar kesal Zen menguap seketika. Ah, selalu saja, akan selalu Alena yang menjadi titik lemah baginya. “Engga boleh, kita ngasih cokelat ini sebagai rasa sayang kami buat kamu, Ze?”

Dan Zen dapat merasakannya. Wajahnya panas seketika. Tangannya terkepal erat. Ia mengumpat dalam diam. Tapi juga tidak sanggup menyembunyikan senyum yang malu-malu menyembul manis di bibirnya.

.

.

.

Hujan sore itu sudah berhenti mengguyur. Sementara brownies cokelat itu terbagi tiga bagian. Kertas pembungkusnya yang berwarna merah terang dan pita berwarna manis itu telah terlupakan begitu saja. Dan di bangku taman di sudut kampus, Zen tertawa sembari sesekali mengumpat. Ada hangat yang memanjakan monster dalam benaknya, semanis rasa cokelat di mulutnya.

“Jadi, gimana? Rasa sayang dari gue sama Alena, diterima engga?”

Aki dan Alena tersenyum. Bagi Zen, itu saja sudah sama manisnya.

“… emang sialan lo jadi orang, Ki….”

20120213

Happy Unbirthday

“Jadi, minggu depan ya. Makan enak nih, gue.”

“… gue sih mau-mau aja, Ley, tapi….”

“Tapi apa, hemm? Ada yang udah bikin janji sama lo?”

“… iya….”

“Ooh…. Hah?? Siapa? Nara?”

“Bukan. Itu Ley, Andre….”

“….”

“… sorry, Ley. Nanti gue bawa pulang makanan sama kue, deh, biar seasrama juga bisa makan enak.”

“Ah, emang lo ya. Padahal kelas gue udah bakal selesai jam sebelas loh.”


****


Satu janji yang tidak pernah bisa kamu tepati. Satu senyum penuh rasa bersalah yang saat itu kamu berikan padaku. Dan satu ucapan selamat yang satu minggu setelahnya tidak sanggup aku sampaikan padamu.

Bagaimana tidak? Tepat satu hari sebelum hari ulang tahunmu, kamu malah melenggang pergi, diculik cecunguk-cecunguk sialan itu.

Aku tidak peduli dengan traktiran. Aku tidak peduli dengan makanan enak apapun yang akan kamu bawa pulang ke asrama sehabis kencan manismu dengan si dia. Aku juga sudah tidak peduli lagi dengan sebungkus boneka lumba-lumba besar yang telah kusiapkan jauh-jauh hari sebelum hari ulang tahunmu. Aku tidak peduli lagi dengan kartu ucapan yang dibubuhi tanda tangan teman-teman lain, tanda bahwa hadiah itu kami siapkan murni untukmu.

Tidak. Karena nyatanya, kamu tidak pernah kembali.

Bahkan untuk satu menit saja bertemu kembali denganku, menyapaku dengan senyum lugumu itu, kamu tidak pernah….

Nandi….

.

.

.

“Ley, boneka lumba-lumba yang waktu itu mau kita kasih ke dia, masih ada di kamu?”

“Hmm? Masih, Ndre. Kenapa? Mau kamu bawa?”

Satu gerakan kepala. Dan senyum getir yang disamarkan dengan lihai. “Engga usah. Buat anakmu aja nanti. Karena aku engga yakin, Rio bakal sanggup beliin boneka besar seperti itu kalau anak kalian nanti kepingin.”

Wajahku memerah. Aku mencibir. Andreas tertawa dan menepuk pelan kepalaku. Lalu melenggang pergi.

Dan aku? Ditinggal sendiri bersama kenangan tentang si boneka lumba-lumba biru.

Ah, rasanya aku jadi ingin menangis….