Copyright (or disclaimer??) : Arriman Maulana Makmoen
also featuring English translation lyrics of Kizuato by Kalafina
_________________________________________________________________________________
I was born from the silence
without knowing what it called as warmth
What I know is that I wanted to come in life
And with it, I pass the night
"Ryou, ya ampuuun... kamu sedang apa? Siang hari sudah tidur-tiduran di sini...."
Anak laki-laki berumur sembilan tahun itu membuka kelopak matanya, ogah-ogahan, hanya untuk menemukan wajah bulat dengan pipi merona kemerahan dan iris biru tua menatapnya hangat. Hanya untuk ia rutuki dalam hati kedatangannya. Hanya untuk ia serapahi sapaan manisnya yang membangunkannya dari mimpi-mimpi buruk. Sebenarnya, Ryou kecil harus berterima kasih akan hal itu.
Alih-alih bangun, Ryou hanya bergelung, meringkuk dengan punggung menghadap gadis itu. Mengacuhkan gadis itu. Membiarkan adanya sedikit sirat kecewa yang lantas diterima punggung dinginnya.
Dan satu helaan napas kecil. Betapa telinga Ryou tergelitik mendengarnya.
"Ma--maaf kalau ternyata aku ganggu istirahat siang kamu. Ini, aku bawakan makan siang. Sandwich isi tuna mayonaise dan telur, kamu suka 'kan? Aku tahu dari Ray sih, hehee.... Sudah, ya, aku pulang duluan. Selamat istirahat, Ryou."
Lalu sepi. Ryou kembali ditemani dengan suara gemerisik pepohonan dan rumput di sekeliling tubuhnya. Juga suara langkah yang kian menjauh. Lama ia terdiam, berusaha memejamkan mata kembali. Namun ada gelisah yang ikut bermain. Ryou kecil bangun, menggaruk-garuk bagian belakang kepalanya dengan marah. Enggan. Emosi anak kecil yang tak jelas rupanya. Barulah manik cokelatnya menangkap sebuah keranjang anyaman kecil tergeletak di sampingnya. Juga tiga tumpuk roti segitiga favoritnya.
Ryou kecil mengutuk dalam diam. Kalau ia pulang nanti, ia tidak boleh lupa untuk meminta maaf pada Tyria atas kelakuan dinginnya siang itu.
****
I'm walking out from the silence
toward the scenery of love that I've never seen before
Believing in these wounds
I pass the night
Ryou lima belas tahun. Rambut gondrong berantakan yang masih sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Mata yang masih sama tajamnya. Hanya mulut dan perilaku yang tidak sedingin dahulu. Ryou muda yang mulai terbuka. Ryou muda yang mulai mengenal 'teman'. Ryou yang sudah tak lagi dihantui mimpi-mimpinya.
Masa lalu. Derak bara si kuda merah. Jeritan memekik gendang telinga. Dendam yang meninggalkan bekas luka di relung terdalamnya....
"Ryou? Kamu masih di sini?"
Hari itu senja, ada pemandangan mega jingga lembut yang memanjakannya. Bersama dengan gadis itu, gadis yang tak pernah berhenti mengiriminya makan siang dari semenjak hari pertamanya menginjakan kaki di Ciara.
Ryou menoleh, menemukan Tyria, tetap dengan sorot mata gadis itu yang hangat, berdiri di sampingnya. Satu senyum tipis lantas terlukis di bibir Ryou. Cukup jadi satu jawaban untuk Tyria. Ryou tahu gadis itu mengerti. Ah, rasanya Tyria memang tidak pernah salah untuk mengerti setiap warna yang menggenangi dirinya.
"Kamu memang suka banget ya, sama tempat ini? Dulu juga kalau kabur dari kota, bosan sama kelakuannya Ray, kamu pasti menyendiri di sini. Ingat tidak, dulu aku sering sekali mengirimimu makan siang, hampir setiap kali kamu ke sini...."
"Dan terima kasih banyak untukmu, Tyria... aku rasanya hampir trauma dengan sandwich isi tuna mayonaise dan telur. Bukannya masakanmu tidak enak, tapi kalau kamu memakan makanan yang sama setiap hari...."
Gendang telinganya menangkap tawa renyah gadis itu. Menggelitik mulut dan pita suaranya untuk ikut tertawa. Awalnya hambar, tapi Ryou telah belajar caranya untuk tertawa lepas. Tulus. Dan kali ini termasuk salah satunya.
"Senja di sini memang indah ya, Ryou? Aku juga kalau sedang sedih, selalu ke sini sore-sore...."
"Dan besoknya, taruhan kamu pasti langsung sakit demam selama tiga hari karena masuk angin."
Sekali lagi, Ryou tertawa. Begitu lepas. Gemerincing tawa yang terasa begitu senada harmonis dengan tawa gadis itu.
On the cold skin
finally the flower petals got burnt
as I am here expressing my happiness
"Kamu sudah tidak lagi bermimpi buruk 'kan, Ryou?"
Ryou menggelengkan kepala. Pundaknya yang kemudian menangkap satu sentuhan lembut dari Tyria.
"Kalau ada apa-apa, jangan lupa cerita. Kamu punya Ray, Karen, Phoebe, Yuvelia, Daichi, dan aku. Jangan pernah simpan semuanya sendirian lagi. Kamu punya kami. Err... walau kamu kayaknya sudah bosan dengan kata-kata seperti ini dari Ray...."
Sekali lagi, Ryou menggerakan kepalanya. Dadanya terasa panas dan sesak, entah mengapa. Sementara langit semakin menggelap, warna jingga yang semakin dilahap hitam. Ryou berbalik, melangkah kembali ke Ciara, setelah sebelumnya ia menyampirkan jaketnya di bahu Tyria.
"Ayo pulang. Dan jangan berani lepas jaketnya. Aku tidak mau tanggung kalau kamu sampai sakit lagi besok."
Satu senyum dan ucapan terima kasih dari Tyria. Membuat perut Ryou panas serasa dijungkir balik.
****
When the stardust disappear
inside the light unseen before
Ryou tujuh belas tahun. Gempuran yang terjadi di kota Ciara. Satu rantai takdir yang mengikat raganya begitu erat mulai bermain.
"Ryou... kamu mau pergi?"
"Aku harus pergi, Tyria. Ini kesempatanku membalas dendamku, orang tuaku... semuanya!"
"Padahal kamu tahu bahwa balas dendam itu--"
"--tidak baik. Aku sudah tahu hal itu, dan hal itulah yang tetap akan kulakukan. Jangan halangi aku, Tyria."
Satu tatapan tajam darinya, yang hanya mampu dibalas sendu oleh kedua manik biru tua itu.
"Aku tidak akan menghalangimu. Ha--hati-hati di jalan, kalau begitu...."
"... kamu juga. Aku titip Ciara padamu dan yang lain. Sedikit banyak, aku tetap ingin kota ini aman dan tentram... aku berhutang banyak pada kota ini."
Gadis itu mengangguk. Mendung masih menggelayuti wajahnya. Ryou hanya menghela napas sejenak, hingga ia membalikan tubuhnya...
... untuk satu desiran lain yang tak pernah ia duga sebelumnya. Tyria memeluknya. Gadis itu membenamkan wajah di punggungnya. Ryou dapat merasakannya, embusan napas pendek-pendek Tyria terasa panas membakar menembus tiap helai kain yang membalut kulitnya.
The happiness and sadness
I want them to be engraved deeply
As you're here together with me
withing my memory of happiness
Gerak tubuh Tyria yang sontak melepas pelukannya, senyum manis yang menyembunyikan bulir air mata agar tidak jatuh ke pipi... hal itulah yang terakhir Ryou ingat dari gadis itu. Bersamaan dengan panas mengiris perih yang membuncah di dada, yang masih tidak ia ketahui apa artinya.
****
"Tyria! Tyria!! Kumohon, bertahanlah!!"
"Air! Mana air?! Beri dia minum... atau obat... atau apapun!! Siapapun!!"
Ryou membeku. Mata cokelatnya membulat. Tak kuasa dengan pemandangan keji di hadapannya. Tali-tali nasib dan takdir yang dipermainkan di sekelilingnya, yang tak berhenti mengoyak raganya.
Tyria melancarkan serangan... untuk melindunginya. Padahal ia tahu bahwa gadis itu sama sekali tak boleh menggunakan kekuatan sihirnya. Kutukan masa lalu yang membelenggu tubuh lemah itu, dan Tyria melanggar garis nasibnya... untuk melindunginya.
Untuknya. Untuk dirinya....
Tyria... Tyria....
On this chest that you've touched
there's only one graceful wound
The tear that I've always hidden until now
is now broken into crimson
Suara gadis itu yang menggaung di gendang telinganya. Siluet-siluet senyum yang selalu mampir mengisi hari-harinya. Dadanya yang panas terbakar, dihujam dan disayat-sayat dengan bengis. Masa lalu yang tak lagi membayang, hanya sorot mata lembut yang menemaninya selama ini. Membuat Ryou mengerti. Ryou baru saja mengerti.
Tentang perasaannya. Tentang keinginannya. Tentang mimpi indahnya. Tentang belai hangat dan nyanyian merdu yang mengisi bunga tidurnya, mengganti setiap tetes peluh mimpi buruknya.
"Tyria... Tyria, jangan.... Aku...."
Sementara senyum itu masih di sana, bertahan meski semakin melemah. Tangan pucat gemetar yang berusaha menggapainya. Bola mata yang meredup dan memberat. Jerit tangis pilu teman-temannya yang memecah.
Within those eyes, within the kisses
please leave the proof that I was loved
As I'll probably live in cries from now onward
'Ryou....'
Dan tubuh pucat yang lantas tergolek lunglai, tak lagi bernapas. Satu nyawa yang kembali ke bumi. Bersamaan dengan tubuhnya yang limbung. Sekujur tubuhnya yang gemetar. Bola matanya yang melebar. Tangannya yang kemudian dikepal erat.
Dunianya yang serasa berputar cepat di sekelilingnya. Berubah.
Ryou tersungkur, berlutut di atas tanah. Meski tidak ada suara apapun yang terdengar dari mulutnya, namun relung terdalamnya berkali-kali meneriakan nama itu. Berkali-kali. Perih. Tanpa henti. Mengalirkan luka dan asanya yang diselimuti duka, rasa bersalah. Penyesalan.
Aaaaaaaaakkkhh!!!
****
The nostalgic rain of summer
please escort me
to the place where that person and I
first believed in each other
Padang rumput berbukit di dekat danau di pinggiran kota, untuk kesekian kalinya. Namun kali ini Ryou seorang diri. Tidak ditemani senja. Hanya tetes-tetes air yang mengguyur tanpa ampun dari langit. Upacara pemakaman yang hanya sebentar saja dihadirinya. Betapa ia--untuk kesekian kalinya--kembali berlari dari hidup hingga melabuhkan lelahnya di tempat itu.
Karena Ryou tidak bisa. Mungkin hanya Ryou yang tidak bisa, tidak sanggup menyaksikan peti yang berisikan tubuh gadis itu dikubur dalam tanah. Sama seperti yang terjadi pada keluarganya di masa lalu.
Masa lalu. Kelam dan hitamnya. Mimpi-mimpi yang kembali menghantuinya. Sementara tak ada lagi hangat yang bisa mengusirnya. Menguatkan jiwanya.
Now the dream has ended
by the time stardust disappear
Hey, if only I know you're alive
I'll surely embrace you
Ryou membalikan tubuhnya, berjalan gontai di bawah naungan tirai hujan. Dendam yang semakin membekas. Hitamnya yang semakin pekat. Bekas lukanya yang semakin dalam tergores. Walau ia tetap membiarkan imaji-imaji itu berkeliaran. Sentuhan lembut dan paras wajah yang selalu terbayang. Ryou memerlukannya. Ryou butuh hal itu untuk tetap membuat kakinya melangkah di jalurnya. Tak peduli jalan seterjal apa yang akan ia tempuh nanti.
Walking out from the silence
toward the far daybreak that I've never seen
I just want my wish to come true
and with that thought, I pass the night
_________________________________________________________________________________
a/n. Seandainya yang punya cerita baca... mohon maaf kalau mellow dan drama banget m(_ _)m cuman gara-gara dengerin Kizuato dan baca lagi file CM yang kamu kasih ke aku, tiba-tiba kepikiran buat bikin ini. Hope you like it... dan maaf kalau ternyata mengecewakan....