20121129

Crimson Scars

Crystal Master, a fanfiction
Copyright (or disclaimer??) : Arriman Maulana Makmoen
also featuring English translation lyrics of Kizuato by Kalafina

_________________________________________________________________________________


I was born from the silence
without knowing what it called as warmth
What I know is that I wanted to come in life
And with it, I pass the night


"Ryou, ya ampuuun... kamu sedang apa? Siang hari sudah tidur-tiduran di sini...."

Anak laki-laki berumur sembilan tahun itu membuka kelopak matanya, ogah-ogahan, hanya untuk menemukan wajah bulat dengan pipi merona kemerahan dan iris biru tua menatapnya hangat. Hanya untuk ia rutuki dalam hati kedatangannya. Hanya untuk ia serapahi sapaan manisnya yang membangunkannya dari mimpi-mimpi buruk. Sebenarnya, Ryou kecil harus berterima kasih akan hal itu.

Alih-alih bangun, Ryou hanya bergelung, meringkuk dengan punggung menghadap gadis itu. Mengacuhkan gadis itu. Membiarkan adanya sedikit sirat kecewa yang lantas diterima punggung dinginnya.

Dan satu helaan napas kecil. Betapa telinga Ryou tergelitik mendengarnya.

"Ma--maaf kalau ternyata aku ganggu istirahat siang kamu. Ini, aku bawakan makan siang. Sandwich isi tuna mayonaise dan telur, kamu suka 'kan? Aku tahu dari Ray sih, hehee.... Sudah, ya, aku pulang duluan. Selamat istirahat, Ryou."

Lalu sepi. Ryou kembali ditemani dengan suara gemerisik pepohonan dan rumput di sekeliling tubuhnya. Juga suara langkah yang kian menjauh. Lama ia terdiam, berusaha memejamkan mata kembali. Namun ada gelisah yang ikut bermain. Ryou kecil bangun, menggaruk-garuk bagian belakang kepalanya dengan marah. Enggan. Emosi anak kecil yang tak jelas rupanya. Barulah manik cokelatnya menangkap sebuah keranjang anyaman kecil tergeletak di sampingnya. Juga tiga tumpuk roti segitiga favoritnya.

Ryou kecil mengutuk dalam diam. Kalau ia pulang nanti, ia tidak boleh lupa untuk meminta maaf pada Tyria atas kelakuan dinginnya siang itu.


****


I'm walking out from the silence
toward the scenery of love that I've never seen before
Believing in these wounds
I pass the night


Ryou lima belas tahun. Rambut gondrong berantakan yang masih sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Mata yang masih sama tajamnya. Hanya mulut dan perilaku yang tidak sedingin dahulu. Ryou muda yang mulai terbuka. Ryou muda yang mulai mengenal 'teman'. Ryou yang sudah tak lagi dihantui mimpi-mimpinya.

Masa lalu. Derak bara si kuda merah. Jeritan memekik gendang telinga. Dendam yang meninggalkan bekas luka di relung terdalamnya....

"Ryou? Kamu masih di sini?"

Hari itu senja, ada pemandangan mega jingga lembut yang memanjakannya. Bersama dengan gadis itu, gadis yang tak pernah berhenti mengiriminya makan siang dari semenjak hari pertamanya menginjakan kaki di Ciara.

Ryou menoleh, menemukan Tyria, tetap dengan sorot mata gadis itu yang hangat, berdiri di sampingnya. Satu senyum tipis lantas terlukis di bibir Ryou. Cukup jadi satu jawaban untuk Tyria. Ryou tahu gadis itu mengerti. Ah, rasanya Tyria memang tidak pernah salah untuk mengerti setiap warna yang menggenangi dirinya.

"Kamu memang suka banget ya, sama tempat ini? Dulu juga kalau kabur dari kota, bosan sama kelakuannya Ray, kamu pasti menyendiri di sini. Ingat tidak, dulu aku sering sekali mengirimimu makan siang, hampir setiap kali kamu ke sini...."

"Dan terima kasih banyak untukmu, Tyria... aku rasanya hampir trauma dengan sandwich isi tuna mayonaise dan telur. Bukannya masakanmu tidak enak, tapi kalau kamu memakan makanan yang sama setiap hari...."

Gendang telinganya menangkap tawa renyah gadis itu. Menggelitik mulut dan pita suaranya untuk ikut tertawa. Awalnya hambar, tapi Ryou telah belajar caranya untuk tertawa lepas. Tulus. Dan kali ini termasuk salah satunya.

"Senja di sini memang indah ya, Ryou? Aku juga kalau sedang sedih, selalu ke sini sore-sore...."

"Dan besoknya, taruhan kamu pasti langsung sakit demam selama tiga hari karena masuk angin."

Sekali lagi, Ryou tertawa. Begitu lepas. Gemerincing tawa yang terasa begitu senada harmonis dengan tawa gadis itu.


On the cold skin
finally the flower petals got burnt
as I am here expressing my happiness


"Kamu sudah tidak lagi bermimpi buruk 'kan, Ryou?"

Ryou menggelengkan kepala. Pundaknya yang kemudian menangkap satu sentuhan lembut dari Tyria.

"Kalau ada apa-apa, jangan lupa cerita. Kamu punya Ray, Karen, Phoebe, Yuvelia, Daichi, dan aku. Jangan pernah simpan semuanya sendirian lagi. Kamu punya kami. Err... walau kamu kayaknya sudah bosan dengan kata-kata seperti ini dari Ray...."

Sekali lagi, Ryou menggerakan kepalanya. Dadanya terasa panas dan sesak, entah mengapa. Sementara langit semakin menggelap, warna jingga yang semakin dilahap hitam. Ryou berbalik, melangkah kembali ke Ciara, setelah sebelumnya ia menyampirkan jaketnya di bahu Tyria.

"Ayo pulang. Dan jangan berani lepas jaketnya. Aku tidak mau tanggung kalau kamu sampai sakit lagi besok."

Satu senyum dan ucapan terima kasih dari Tyria. Membuat perut Ryou panas serasa dijungkir balik.


****


When the stardust disappear
inside the light unseen before


Ryou tujuh belas tahun. Gempuran yang terjadi di kota Ciara. Satu rantai takdir yang mengikat raganya begitu erat mulai bermain.

"Ryou... kamu mau pergi?"

"Aku harus pergi, Tyria. Ini kesempatanku membalas dendamku, orang tuaku... semuanya!"

"Padahal kamu tahu bahwa balas dendam itu--"

"--tidak baik. Aku sudah tahu hal itu, dan hal itulah yang tetap akan kulakukan. Jangan halangi aku, Tyria."

Satu tatapan tajam darinya, yang hanya mampu dibalas sendu oleh kedua manik biru tua itu.

"Aku tidak akan menghalangimu. Ha--hati-hati di jalan, kalau begitu...."

"... kamu juga. Aku titip Ciara padamu dan yang lain. Sedikit banyak, aku tetap ingin kota ini aman dan tentram... aku berhutang banyak pada kota ini."

Gadis itu mengangguk. Mendung masih menggelayuti wajahnya. Ryou hanya menghela napas sejenak, hingga ia membalikan tubuhnya...

... untuk satu desiran lain yang tak pernah ia duga sebelumnya. Tyria memeluknya. Gadis itu membenamkan wajah di punggungnya. Ryou dapat merasakannya, embusan napas pendek-pendek Tyria terasa panas membakar menembus tiap helai kain yang membalut kulitnya.


The happiness and sadness
I want them to be engraved deeply
As you're here together with me
withing my memory of happiness


Gerak tubuh Tyria yang sontak melepas pelukannya, senyum manis yang menyembunyikan bulir air mata agar tidak jatuh ke pipi... hal itulah yang terakhir Ryou ingat dari gadis itu. Bersamaan dengan panas mengiris perih yang membuncah di dada, yang masih tidak ia ketahui apa artinya.


****


"Tyria! Tyria!! Kumohon, bertahanlah!!"

"Air! Mana air?! Beri dia minum... atau obat... atau apapun!! Siapapun!!"

Ryou membeku. Mata cokelatnya membulat. Tak kuasa dengan pemandangan keji di hadapannya. Tali-tali nasib dan takdir yang dipermainkan di sekelilingnya, yang tak berhenti mengoyak raganya.

Tyria melancarkan serangan... untuk melindunginya. Padahal ia tahu bahwa gadis itu sama sekali tak boleh menggunakan kekuatan sihirnya. Kutukan masa lalu yang membelenggu tubuh lemah itu, dan Tyria melanggar garis nasibnya... untuk melindunginya.

Untuknya. Untuk dirinya....

Tyria... Tyria....


On this chest that you've touched
there's only one graceful wound
The tear that I've always hidden until now
is now broken into crimson


Suara gadis itu yang menggaung di gendang telinganya. Siluet-siluet senyum yang selalu mampir mengisi hari-harinya. Dadanya yang panas terbakar, dihujam dan disayat-sayat dengan bengis. Masa lalu yang tak lagi membayang, hanya sorot mata lembut yang menemaninya selama ini. Membuat Ryou mengerti. Ryou baru saja mengerti.

Tentang perasaannya. Tentang keinginannya. Tentang mimpi indahnya. Tentang belai hangat dan nyanyian merdu yang mengisi bunga tidurnya, mengganti setiap tetes peluh mimpi buruknya.

"Tyria... Tyria, jangan.... Aku...."

Sementara senyum itu masih di sana, bertahan meski semakin melemah. Tangan pucat gemetar yang berusaha menggapainya. Bola mata yang meredup dan memberat. Jerit tangis pilu teman-temannya yang memecah.


Within those eyes, within the kisses
please leave the proof that I was loved
As I'll probably live in cries from now onward


'Ryou....'

Dan tubuh pucat yang lantas tergolek lunglai, tak lagi bernapas. Satu nyawa yang kembali ke bumi. Bersamaan dengan tubuhnya yang limbung. Sekujur tubuhnya yang gemetar. Bola matanya yang melebar. Tangannya yang kemudian dikepal erat.

Dunianya yang serasa berputar cepat di sekelilingnya. Berubah.

Ryou tersungkur, berlutut di atas tanah. Meski tidak ada suara apapun yang terdengar dari mulutnya, namun relung terdalamnya berkali-kali meneriakan nama itu. Berkali-kali. Perih. Tanpa henti. Mengalirkan luka dan asanya yang diselimuti duka, rasa bersalah. Penyesalan.

Aaaaaaaaakkkhh!!!


****


The nostalgic rain of summer
please escort me
to the place where that person and I
first believed in each other


Padang rumput berbukit di dekat danau di pinggiran kota, untuk kesekian kalinya. Namun kali ini Ryou seorang diri. Tidak ditemani senja. Hanya tetes-tetes air yang mengguyur tanpa ampun dari langit. Upacara pemakaman yang hanya sebentar saja dihadirinya. Betapa ia--untuk kesekian kalinya--kembali berlari dari hidup hingga melabuhkan lelahnya di tempat itu.

Karena Ryou tidak bisa. Mungkin hanya Ryou yang tidak bisa, tidak sanggup menyaksikan peti yang berisikan tubuh gadis itu dikubur dalam tanah. Sama seperti yang terjadi pada keluarganya di masa lalu.

Masa lalu. Kelam dan hitamnya. Mimpi-mimpi yang kembali menghantuinya. Sementara tak ada lagi hangat yang bisa mengusirnya. Menguatkan jiwanya.


Now the dream has ended
by the time stardust disappear
Hey, if only I know you're alive
I'll surely embrace you


Ryou membalikan tubuhnya, berjalan gontai di bawah naungan tirai hujan. Dendam yang semakin membekas. Hitamnya yang semakin pekat. Bekas lukanya yang semakin dalam tergores. Walau ia tetap membiarkan imaji-imaji itu berkeliaran. Sentuhan lembut dan paras wajah yang selalu terbayang. Ryou memerlukannya. Ryou butuh hal itu untuk tetap membuat kakinya melangkah di jalurnya. Tak peduli jalan seterjal apa yang akan ia tempuh nanti.


Walking out from the silence
toward the far daybreak that I've never seen
I just want my wish to come true
and with that thought, I pass the night


_________________________________________________________________________________

a/n. Seandainya yang punya cerita baca... mohon maaf kalau mellow dan drama banget m(_ _)m cuman gara-gara dengerin Kizuato dan baca lagi file CM yang kamu kasih ke aku, tiba-tiba kepikiran buat bikin ini. Hope you like it... dan maaf kalau ternyata mengecewakan....

20121122

Swan Legend: Cygnia #prolog1

Scorpus pagi itu cerah. Derak gemeratak kereta kuda, deru mesin-mesin uap, dan derap langkah prajurit kerajaan telah terdengar dari seluruh pelosok kota. Memang, pagi hari di Scorpus tidak lagi ditandai kicau mesra burung-burung dari atap rumah… tidak, tentu saja, mengingat Scorpus adalah ibukota Kerajaan Acrusian, sebuah kerajaan subtropis di dataran Benua Demetrious yang cukup maju akan teknologi dan kekuatan militernya.

Bahkan dari pinggiran kota sekalipun, Leon dapat mendengar kebisingan kota kelahirannya itu.

Pemuda itu menghela napas. Tangan kanannya lantas merogoh arloji emas yang talinya terkait di saku kemejanya. Pukul enam pagi, dan ia sudah berada di perbatasan kota, lengkap dengan sebuah pedang tersarung manis di pinggang dan seekor kuda hitam besar gagah dengan tali kekang tergenggam sempurna di tangan kirinya.

“Hendak bertualang ke mana lagi hari ini, Pangeran?”

Leon mendongak. Salah seorang prajurit penjaga pintu masuk Scorpus, menyapanya ramah—atau malah terlalu ramah untuk ukuran seorang prajurit yang menyapa pangerannya di pagi hari.

Pangeran? Ah ya, tentu saja. Leon, atau lengkapnya Leonard von Acruxias IV, merupakan pewaris tahta Kerajaan Acrusian berikutnya. Calon raja, atau apalah itu namanya, meski sifat urakannya yang sering meninggalkan istana lantas membuat seluruh lapisan kerajaan mempertanyakan kapabilitasnya untuk menjadi seorang raja.

“Seperti biasa, mengunjungi teman di Dabien,” jawab Leon sembari meregangkan tubuhnya. “Katanya di pusat pelabuhan hari ini akan dilakukan lelang senjata antik. Menarik, bukan? Kau mau ikut, Dave?”

Dave, si prajurit itu lantas tertawa kecil, “Lelang? Pangeran jauh-jauh melintas keluar Acrusian hanya untuk lelang senjata antik? Lelang seperti itu juga ada di Ophus, Pangeran….”

“Kalau aku pergi ke Ophus, aku bisa-bisa ditangkap si guru tua itu dan dijebloskan kembali ke istana! Ayolah, Dave… beri aku kesenangan sedikit!”

“Baiklah, baiklah,” ujar Dave, masih berusaha menahan kikik tawa akibat rajukan sang pangerannya itu. Dave lantas mengeluarkan secarik kertas yang telah dibubuhi sebuah cap lambang Kerajaan Acrusian. “Ini surat untuk melewati perbatasan negara. Dan seperti biasa, Pangeran, Anda berhutang satu kepala saya di tangan Anda karena surat izin ilegal ini.”

Dengan senyum puas merekah lebar, Leon menerima surat izinnya. “Kubayar dengan satu pedang bermanik lapis lazuli, bagaimana?” tawarnya, sembari menggoyangkan kantong emas di hadapan muka Dave.

“Maaf, Pangeran… hamba sejujurnya lebih tertarik dengan tombak ketimbang pedang. Ah ya, dan hamba dengar permata sepertinya mampu memotong lebih tajam ketimbang logam.”

“… sementara harga tombak di Dabien itu berlipat kali lebih mahal daripada pedang dan kamu masih meminta permata, dasar prajurit kere tapi matre!”

“Maaf, Pangeran. Selera hamba hanya terlalu tinggi untuk seorang prajurit kelas bawah.”

“Ya ya, sesukamu saja, Dave,” potong Leon, sudah cukup bosan mendengarkan cerocos Dave tentang senjata. Toh memang pengetahuan Dave akan senjata jauh lebih matang dari Leon, tentunya sering membuat Leon sebal sendiri dibuatnya. “Oke, Dave. Aku pergi dulu. Kalau ada orang istana yang mencari….”

“Cukup bilang Anda pergi ke Dabien untuk menghadiri lelang senjata, bukan? Tenang saja, kejujuran hamba sudah menjadi mesin otomatis tahap pertama untuk menyelamatkan kepala hamba sendiri dari tebasan guillotine Paduka Raja.”

Leon nyengir, yang dibalas dengan senyum satir Dave, dan dengan lincah pemuda itu naik ke punggung kuda hitamnya, Eques. Ia menghela kudanya. Eques lantas meringkik lantang.

“Sampai nanti, Dave!!”

Leon melaju secepat kilat. Lambaian tangan dan teriakan nyaringnya masih membekas di pos penjagaan Dave. Sementara Dave hanya mendesah. Mata pemuda itu yang berbicara.

‘Ah, kelakuan calon raja….’


..oo00oo..


Pagi hari, pukul tujuh lebih lima belas menit, di Istana Acrusian….

“Pangeran? Pangeran! Pangeran Leon, Anda di mana?!”

Seluruh istana panik. Rusuh. Gempar. Meski ini bukan kali pertama sang pangeran lenyap di pagi hari buta dari kastilnya sendiri. Hulu balang lalu-lalang, para pelayan tergopoh-gopoh mencari dari satu ruangan ke ruangan lainnya. Mungkin mereka berpikir bahwa pangeran mereka itu masih merupakan bocah berumur sepuluh tahun yang hobi bermain petak umpat karena tidak mau sarapan pagi. Ya, mungkin saja.

Sementara itu di salah satu kamar, seorang gadis hanya mendecak gemas dan menggeleng-gelengkan kepala atas keributan pagi hari itu.

“Hilang lagi? Dasar otak monyet,” umpatnya pelan, membangunkan satu gelak tawa hebat dari seberang ruangan, dari seorang pemuda berparas tampan yang tengah memandang ke luar jendela.

“Jangan sebut Leon dengan sebutan seperti itu dong, adikku sayang…. Kalau dia otak monyet, lalu aku sebagai adik kembarnya punya otak apa? Otak udang? Otak sapi?”

“Otak-otak! Huh, kalian berdua sama saja! Di saat seperti ini masih tidak bisa serius.”

Lilica, gadis itu, menggembungkan kedua pipinya tanda tak suka. Sedangkan sang kakak, Lion, tetap tertawa lepas sembari berjalan menuju Lilica, mengusek habis rambut Lilica yang masih mencuat ke sana kemari.

“Justru kamu yang terlalu serius, adik kecil. Yah, memang sih… satu setengah tahun lagi adalah penobatan Leon menjadi raja, dan kelakuan malfungsinya itu masih ia gunakan di mana-mana. Satu setengah tahun memang waktu yang lama, sih….”

“Bukan itu, aku mengkhawatirkan hal lain.”

Lion terdiam. Sejenak, ia memperhatikan baik-baik raut wajah adiknya. Cemas, getir, takut. Semua tergambar dengan jelas di wajah polos Lilica. Lion tersenyum, betapa adiknya itu tidak bisa berbohong di saat seperti apapun. Begitu transparan dan nyata.

“Kamu mengkhawatirkan agresi Ursian belakangan ini?”

Dengan enggan, gadis itu mengangguk. “Memang belum bisa dipastikan serangan belakangan ini disebabkan oleh Ursian atau bukan, tapi… kalau orang-orang tahu putra mahkota Kerajaan Acrusian hobi berkeliaran seenak jidat bahkan sampai menyebrang perbatasan negara dan bermain di negara dagang… bukankah Kak Leon bisa habis dalam hitungan detik?”

“Hahaha… jangan khawatir. Leon itu ganas, disenggol sedikit pasti langsung balas membacok. Pertahanan dirinya bagus, dan Leon jago menyamar plus melarikan diri. Bukan hanya otaknya yang monyet, otot-ototnya juga mirip otot monyet.”

Namun gadis itu masih ragu. Masih terdiam. Membuat Lion lama-lama kasihan. Lilica adalah segalanya bagi Lion, kupu-kupu kecilnya yang selalu ingin Lion lihat dalam senyuman. Namun bagi Lilica, segalanya bukanlah Lion. Masih ada Leon. Masih ada ayah dan ibu. Masih ada hal-hal lain. Lion tersenyum hangat, terlalu hangat untuk hatinya yang miris.

“Makanya, kamu sekarang mandi, dan kita cari Leon sama-sama, oke?”

Barulah dengan begitu, Lion dapat melihat satu senyuman baru terbit di wajah Lilica, begitu manis.


..oo00oo..


Suara Lilica memekik, melengking nyaring dari atas kudanya.

“Pergi?! Lewat sini?! Dua setengah jam yang lalu?! Ke Dabien?! UNTUK LELANG SENJATA?!! Astaga Dave… sebegitunya kamu bosan hidup sampai berulang kali membiarkan Kak Leon menyebrang batas negara begitu saja?!”

Dave menggaruk-garuk bagian belakang kepalanya yang sebenarnya terasa gatal pun tidak. Ya, ritual lain yang hampir pasti Dave alami setiap kali pangeran mudanya itu meminta izin menyebrangi perbatasan adalah mendengar cerocos dan umpatan tuan putri kerajaannya yang tercinta. Sang putri yang polos, manis, lugu, tapi bibirnya bisa sepedas cabai bila hal-hal—yang dirasa buruk—menimpa dua calon raja itu.

Dan tentunya, adik kembar sang pangeran selalu hadir di sana untuk meredam kemurkaan sang putri kecil.

“Sudah, sudah… kamu tenang dulu. Dabien ‘kan tidak jauh, tidak sampai menyebrangi Danau Piccana. Leon akan baik-baik saja,” ujar Lion menenangkan. Dan pemuda itu kembali beralih pada Dave. “Ada lagi hal-hal lain yang Leon katakan?”

“Tidak ada, Pangeran Lion. Paling-paling Pangeran Leon hanya menawari hamba sebuah pedang bermanik lapis lazuli, yang hamba tolak karena hamba sejujurnya lebih menyukai tombak ketimbang pedang.”

“Begitu? Baiklah, kami akan mengejarnya dan menyeretnya kembali ke istana. Sore hari ini akan ada perjamuan, dan Leon sudah harus kembali sebelum tengah hari. Dave, bisa beri kami surat izin untuk menyebrang perbatasan?”

Dave mengangguk. Lagi-lagi hal yang telah diantisipasinya. Dikeluarkannya dua carik kertas yang sama seperti yang ia berikan pada Leon sebelumnya. Satu untuk Lion dan satu untuk Lilica. Lion sudah berumur sembilan belas tahun dan Lilica lima belas, sementara penduduk di atas lima belas tahun diwajibkan membawa surat izin kenegaraan apabila ingin memasuki kawasan negara lain.

Diserahkannya dua carik surat itu pada Lion. Dave lantas membungkuk dalam-dalam di hadapan Lion dan Lilica.

“Mohon maaf karena hamba telah lancang mengeluarkan Pangeran Leon dari negara ini, Pangeran Lion, Putri Lilica. Bahkan tidak mengetahui bahwa beliau memiliki agenda penting untuk hari ini. Mohon maaf yang sebesar-besarnya.”

Lion mengibaskan tangannya tak sabar, menyuruh Dave untuk cepat-cepat menegakan tubuhnya. “Sudahlah, namanya juga Leon. Kalau dia tidak begini, kurasa besok dunia akan kiamat. Meskipun, yah… sebagai teman seperguruan semasa kecilnya, kau juga tidak seharusnya terlalu memanjakannya seperti ini, Dave.”

“Hamba mengerti. Salah hamba, hamba selalu memanjakan Pangeran Leon bahkan semenjak beliau masih sering memukuli pantat hamba dengan pedang kayu setiap sore seusai latihan.”

Lion terkikik geli, sementara dengus kesal keluar dari bibir Lilica. “Baiklah. Terima kasih surat izinnya, Dave. Kami berangkat sekarang.”

Prajurit penjaga itu membungkuk hormat, sekali lagi. “Semoga selamat dalam perjalanan Anda, Pangeran dan Tuan Putri.”

Lion mengangguk lalu melompat ke atas kudanya. Ia lantas menghela kuda cokelatnya, sementara Lilica mengeratkan dekapan pada pinggangnya. Keduanya melaju, secepat mungkin, menembus hutan dan semak belukar sebagai jalan pintas yang Lion ketahui sebagai jalan tercepat menuju perbatasan Acrusian dan Capprice, kota selanjutnya, Orin.

“Dabien, ya? Aku heran kenapa Kak Leon sering sekali ke sana.”

“Wajar saja… Capprice ‘kan negara dagang bebas tanpa penguasa, hanya ada penegak hukum perdagangannya saja. Orang-orang baik dari Acrusian maupun Ursian bebas keluar masuk dan berbelanja di sana, syaratnya hanya membawa surat izin negara untuk melintas. Dan kenapa Dabien? Daripada Nashira, Dabien lebih mudah dijangkau karena Nashira terletak di seberang Danau Piccana yang membelah dua dataran Demetrious ini.”

“Hanya itu saja? Hanya letak yang strategis untuk membeli barang yang tidak ada di Acrusian? Kalau soal daratan sih, aku juga sudah belajar, Kak….”

Lion terdiam. Wajahnya terlihat berpikir, sebelum ia lantas tertawa dan membuat Lilica kebingungan.

“Ah, ya. Kalau Dabien, pasti masih ada alasan lain kenapa Leon rajin sekali mengapel ke sana.”

“… yaitu?”

Sang kakak tidak menjawab, hanya menoleh sejenak pada Lilica dengan cengiran lebar menghiasi wajah. Dan pada detik yang sama, Lilica lantas mengerti jawabannya.

“Kakak-adik Caellum, ya?”

Dan gelak tawa Lion terdengar membahana, memecah keheningan hutan belantara.