20131130

Immortality #8

A duet fiction, featuring Freyr (c) Tasya Aniza
_________________________________________________________________________________

Wangi laut. Desir angin dan sapuan ombaknya. Nyanyian pelikan yang tidak lagi terdengar di ujung telinganya. Adalah sebuah kenangan tentang sang malaikat maut berparas elok setiap kali ia berhadapan dengan pemandangan itu.

Laut. Terekam jelas di ingatan. Nandi mencintai laut, keindahannya, ketenangannya....

... juga amarah murkanya.

Andreas mendesah. Wangi laut yang menyesakkan dadanya. Matanya terasa panas dengan warna-warni di sekelilingnya. Sementara gambaran itu selalu hadir di mimpi penghujung paginya, dengan lengannya yang selalu berusaha menggapai sosok itu di seberang jurang.

Dan selalu berakhir sama. Sama. Tidak pernah berubah.

Andreas ingin sekali menghentikan laju waktunya. Terlebih setelah seorang wanita berhasil mengorban nyawa karenanya, karena egonya, karmanya yang selalu ia putar seorang diri, menghasilkan chaos dan mengembalikan segalanya pada titik nol. Bagai seekor keledai yang selalu terjerembab dalam lubang yang sama... bahkan kata imbisil sudah tidak bisa lagi mewakilkannya.

Ia ingin berhenti. Ia lelah. Peluhnya tak kasat mata yang menjadi duri-duri membebani tengkuk. Namun bagaimana caranya? Dihantam rentetan peluru gatling gun atau potong kepala sekalipun tidak mampu membuat jantungnya berhenti berdetak.

Tolonglah... siapa saja. Ia ingin menyerah pada hidup. Ia ingin bertemu malaikat mautnya. Ia ingin tenang bersama malaikatnya itu, entah di surga ataupun neraka....

'Tolong....'

Andreas mengerjap. Manik hitamnya membulat di balik kacamata tanpa bingkainya. Daun telinganya menangkap sebuah suara. Pilu. Penuh asa berarak. Api jiwa yang nyaris padam ditiup sisa waktu.

'Tolong... aku masih... ingin hidup... bersamanya.'

Diiringi debur ombak memecah ganas di kaki karang, Andreas melepaskan jaketnya dan menceburkan dirinya ke laut. Menjemput sejumput harap yang mungkin meminta pengampunannya.

****

Jika pada akhirnya ceritaku tidak pernah bahagia... ah, jika pada akhirnya aku tidak pernah bisa meraih kebahagiaan seperti Kana, maka aku....

Aku....

Akankah aku tetap tenggelam? Terbawa ombak? Terseret arus? Mati terbentur-bentur batu karang? Akankah aku diam? Ataukah aku harus melawan? Haruskah aku berenang ke permukaan?

Menggapai cahaya. Ah... hangat. Mungkin mereka akan datang menjemputku, menuju pintu penghubung dunia bawah....

'Freyr....'

Ada yang memanggilku. Siapa? Di mana?

'Freyr... jangan mati. Kamu belum boleh mati....'

Dadaku sesak. Napasku....

... tangan ini... ada yang menarikku....

Siapa...?

"FREYR...!!"

****

"... kenapa kamu malah nyelametin aku, Andre?"

"Karena kamu belum siap mati."

Andreas menemukan senyum masam di bibir Freyr yang kemudian dianggapnya sebagai ucapan terima kasih yang tidak pernah terlontar dari mulut pria basah kuyup itu. Andreas lalu melemparkan jaketnya, menutupi sebagian tubuh Freyr.

"Gara-gara kamu... Kana mati."

"... iya. Aku engga akan menyangkal soal itu."

"Dan gara-gara kamu... Shinji...."

Andreas terhenyak. Ada bulir-bulir keperakan mengalir dari sudut mata pria itu. Perih dan sakit yang tumpah-ruah... Andreas memang sudah siap untuk dijadikan pelampiasan sedemikian rupa.

Hela napas panjang. Matanya kembali menangkap warna jingga menggelap jauh di seberang.

"Karena alasan itulah aku nolong kamu, Freyr. Kamu harus hidup. Dan aku yang harus pergi."

"... kamu mau pergi? Kemana? Kenapa?"

"Kemanapun. Kenapa? Supaya Shinji engga terus-terusan mencari punggungku, supaya dia akhirnya bisa ngelihat hal-hal lain di sekelilingnya, termasuk kamu. Dan...."

"... dan?"

"Kamu pasti udah pernah denger tentang aku dari Kanami atau Shinji. Dan karena itu, aku menolak untuk menjadi orang terakhir yang hidup untuk melihat kalian menua dan mati duluan daripada aku."

Diam. Menggantung. Menjadi canggung. Debur ombak yang bagaikan nyanyian penghantar tidur masih menemani. Sementara telinganya menangkap derap-derap langkah terburu-buru yang begitu ia kenal, beriringan perlahan menuju tempat itu. Masih begitu jauh, namun Andreas mampu mendengarnya. Merasakannya. Satu senyum terbit di bibirnya. Lengannya terjulur, menepuk lembut puncak kepala Freyr.

"Titip Shinji. Dia pantas untuk bahagia, dan cuma kamu yang bisa."

"... lalu kamu? Kamu engga mau bahagia?"

Teriakan pelikan menyapa, seolah menggantikan separuh isi jiwanya yang ikut meraung bersama dengan pertanyaan Freyr.

"Aku udah cukup banyak mengambil kebahagiaan mereka. Aku engga pantas... dan sekarang biar kuambil satu lagi kebahagiaan mereka dengan kepergianku."

"...."

"Tolong ya, Freyr."

"... engga, Andre, kamu harus--

"--Andre...?"

****

Kata-kata Freyr terputus. Angin berhembus. Pelikan masih menari-nari di atas kepalanya. Debur ombak memecah masih mengisi kepalanya. Sementara ia sendiri di sana. Pria yang menjadi lawan bicaranya itu telah menghilang. Tak terasa bagai angin yang menyapu pasir untuk kemudian mengaburkan jejaknya.

Seolah sejak awal, Freyr hanya seorang diri di sana. Yang tertinggal hanya jaket hitam dan wangi parfum pria itu. Dan kekosongan melanda isi jiwanya.

Kalau sudah begini, Freyr harus putar akal untuk menjelaskan pada Shinji. Tentang salam perpisahan terakhir Andreas, tentang dirinya, tentang Shinji....

... dan tentu saja, tentang arti kebahagiaan itu sendiri.

20131108

Immortality #7

A duet fiction
Featuring Freyr (c) Tasya Aniza
_________________________________________________________________________________

Perjalanan terbang tujuh jam ternyata bukan suatu pengalaman yang ramah dan menyenangkan. Belum lagi jika Shinji harus menghitung jumlah peluru nyasar yang nyaris bersarang di tubuhnya akibat rasa posesif dan tidak rela seorang bapak-komisaris-besar-kepolisian ketika ia meminta izin untuk membawa serta Freyr dalam liburannya. Tak lupa berbagai alasan miring yang mau tidak mau harus dicerna indera pendengarannya. Astaga, memangnya Freyr masih bocah berumur tujuh tahun?

Tidak sampai di situ saja penderitaan Shinji selama dikurung dalam burung besi berbaling-baling tersebut. Begitu banyak hal berpacu dalam otaknya, lari dari ujung sel satu ke yang lainnya, sementara matanya seolah menangkap gambar-gambar masa lalu yang seharusnya sudah ia kubur dalam-dalam di suatu tempat.

Di saat begini, ia sebal mengapa Freyr bisa tertidur dengan lelapnya. Pulas dan mendengkur pelan dengan tarikan napas stabil. Sebal, tapi juga lega.

Karena Freyr hidup. Bernapas di sampingnya.

Ia tidak tahu akan segila apa dirinya jika Freyr sampai bernasib sama seperti tetangga apartemen pria itu... tidak.

Shinji sudah lelah kehilangan. Bahkan awalnya, Shinji sudah tidak lagi mau meraih. Tidak jika apapun yang ia raih nantinya hanya akan ia hancurkan dalam sekejap mata saja.

... meraih? Menghancurkan?

Kenapa tiba-tiba ia teringat Andreas?

****

Ada yang tidak pernah Shinji sampaikan pada Freyr, mengenai alasannya bergabung dalam setiap misi 'penyelamatan' yang dilakukan Andreas. Alasannya simpel, karena semata-mata Shinji hanya ingin punggung kesepian pria itu berjalan di depannya, sebagai papan berjalannya untuk mengingatkan bahwa....

... bukan dirinya yang menanggung beban paling berat dari masa lalu. Bukan, setidaknya bukan ia.

Shinji tidak akan pernah tahu seberapa dalam Andreas masuk ke dalam sumur neraka dunianya. Shinji tidak tahu, karena ia hanya menyaksikan kematian-karena-serangan-mendadak dan kematian-karena-ia-dilindungi. Ya, Shinji hanya melihat, dengan mata kepala sendiri, betapa kejadian yang hanya berlangsung kurang dari dua menit itu ternyata berhasil menyita seluruh waktunya, mungkin, hingga ajal menjemput.

Yang Shinji tidak tahu adalah bagaimana rasanya menjadi Andreas, yang mengalami sendiri kematian-karena-kau-membunuhnya. Tubuhnya dibanjiri ciprat kemerahan ketika tangan kekarnya menggapai dua tubuh limbung yang jatuh ke tanah itu, mungkin sama seperti Andreas. Tapi tak ada pisau miliknya yang harus Shinji tarik dari kedua tubuh itu... tidak seperti Andreas.

Shinji tidak akan pernah mengerti. Yang Shinji mengerti hanyalah penyesalan... dan sebuah karma.

Karmanya, karena jatuh terlalu dalam untuk Lyra... karena tidak pernah mau mengerti Yuuji... dan yang sekarang, karena tidak mau merangkak keluar sumur deritanya, untuk Freyr.

Mungkin Andreas juga sama. Karmanya, hingga kini lelaki itu harus kehilangan satu lagi perempuan yang selama dua tahun ini, Shinji yakini, selalu menari riang dalam benak Andreas.

Liburan ini tidak akan semenyenangkan seperti perkiraannya. Ia tidak akan destruktif memaki-maki Andreas seperti yang akan Rio dan Leyka lakukan. Ia juga tidak akan memohon-mohon lelaki itu untuk kembali ke Jepang seperti yang akan Asaka dan Akito lakukan. Alih-alih, Shinji tidak tahu apa yang akan dilakukannya ketika ia berhasil bertemu dengan lelaki itu. Marah? Kesal? Melempar kata-kata penghiburan? Semua terasa palsu baginya.

Lalu apa? Apa yang menjadi dasar bagi Shinji, untuk jauh-jauh datang ke negara itu dan kembali menemui punggung kesepian lelaki itu?

****

Shinji mungkin mengira ia tertidur pulas selama perjalanan. Tentu saja tidak. Dan untuk pertama kalinya, Freyr bangga akan kemampuan berakting yang diturunkan oleh ibunya.

Auranya kentara sekali. Shinji ada di sampingnya, tapi seolah pria itu berdiri berpuluh-puluh kilometer darinya. Jauh. Bukan untuk pertama kalinya, namun Freyr tahu bahwa di antara saat-saat kebersamaan mereka, Shinji terkadang menarik diri dengan berbatang-batang rokoknya, mengunci diri, tidak pernah sekalipun membiarkan Freyr masuk.

Padahal Freyr tahu persis jawaban dari pertanyaan paling mendasar yang sering dilontarkan batin pria itu. Freyr tahu, hanya dengan menebak perilakunya, ditambah bumbu cerita manis dari Kanami....

Ah, perempuan itu... sedang apa dia sekarang di dunia bawah?

Seketika Freyr teringat percakapannya belum lama ini bersama Kanami. Di kamar apartemennya. Malam itu Kanami menawarkan sepotong tuna tataki untuk ditukar dengan semangkuk sup bening asparagus kesukaannya.

"Sebagaimana kita yang deketnya sampai kayak gini tapi engga pernah saling suka satu sama lain... pasangan kita juga sama loh, Fre."

"Err... maksudnya?"

"Hush, jangan mikir macem-macem! Intinya sih, yah... Andreas dan  Shiozaki-kun itu mirip-mirip... eh, sama malahan!"

"Oh, ya? Mirip darimana? Emang Andreas hobi ngomong sarkas, sinis, susah senyum, dan hobi ngerokok?"

"Engga. Tapi dua-duanya punya kecenderungan menarik diri, balik ke sumur gelap masing-masing meski engga pernah lagi turun ke dasarnya."

"Kayak monyet, gitu? Gelantungan di bibir sumur?"

"Hahaha...!! Bisa jadi."

Freyr tersenyum tipis. Kalau memang ia sedang tidur, mimpinya barusan berhasil menghangatkan sekujur tubuhnya, dibalut kenangan.

.

"Karena menurut aku ya, Fre... Shiozaki-kun itu bukan ngejar punggung Andreas. Dia ngelihat... dirinya sendiri dalam Andreas. Dirinya yang engga mau maju, engga mau ngejar kebahagiaan. Dan kalaupun bener-bener ngejar, itu semua demi mengembalikan dirinya sendiri, seutuhnya, jawabannya dalam mencari caranya meraih kebahagiaan."

Immortality #6

A duet fiction
Featuring Freyr (c) Tasya Aniza
_________________________________________________________________________________

Pintu menjeblak terbuka. Sorot terkejut dan keheranan Shinji yang dibalas tatap murka Freyr. Tidak biasanya.

Ya.

Tidak biasa.

"Kamu... udah keluar dari rumah sakit? Kapan? Tumben engga minta jemput--"

"Mana Andreas?"

Shinji mengangkat sebelah alisnya. Ia tahu ada yang salah.

Semakin. Tidak. Biasa.

"Freyr, kalem--"

"Shin, tolong... di mana dia? Ada yang harus kukatakan, tentang dia... tentang Kanami...."

Satu hela napas. Shinji meraih batang rokok dan memantikkan ujung sumbunya. Asapnya lagi-lagi membuat Freyr berjengit. Kesal.

Berusaha, untuk terlihat biasa saja.

Menjadi. Keadaan. Biasa.

"Andreas, udah pergi."

....

'Eh?'

Isapan tembakau lainnya menyusul. Shinji tidak tahu, asapnya membakar perih hingga paru-paru Freyr. Hal yang seharusnya biasa saja, namun hanya untuk momen itu menjadi tidak biasa.

"Iya, pergi... balik ke negaranya kemarin malem. Kalau mau lihat, kamarnya udah kosong... bahkan aku engga ngerti gimana caranya dia bawa anjing sialannya masuk ke pesawat."

Kata-kata sinis yang biasa. Yang tidak biasanya adalah raut wajah Freyr, menggelap.

Isapan yang terakhir, disertai satu lengkung bibir sinis khasnya.

"Tenang, Freyr. Kamu adalah orang terakhir dari daftar temen-temennya dia yang dateng ke sini cuma buat capek-capek nyariin dia."

.

"So, berhubung kamu udah keluar dari rumah sakit... kamu mau ikut aku 'liburan' ke negara tropis, Freyr?"

20131107

Home

A duet fiction
Featuring Freyr and Leon (c) Tasya Aniza
_________________________________________________________________________________

Sejauh apa sih, surga dan neraka itu?

Freyr mengerjap bingung. Di sekelilingnya hanya ada kabut tebal, yang anehnya berwarna kelabu namun beberapa detik memunculkan semburat merah jambu yang lembut. Seperti permen kapas. Juga wangi yang manis. Hangat. Freyr terlena. Tapi ia tidak tahu dirinya di mana.

Di mana sih, letaknya surga dan neraka itu?

Perlahan Freyr melangkahkan kakinya, oh ya, bahkan kakinya pun tertutup asap tipis hingga ia tidak bisa melihat tekstur lunak yang dijejaknya. Tidak menimbulkan suara... ya, seolah ia sedang berjalan di atas tumpukan kapuk padat. Ia berjalan, maju. Dalam stagnansi. Nihil. Tidak ada apa-apa. Ia mulai berteriak, bertanya, mencari, namun yang balik menjawabnya hanyalah gaung suaranya dari kejauhan, membeo setiap suku kata yang diucapnya.

Hal ini tentu saja memaksa Freyr menggunakan otak cemerlangnya untuk berpikir keras. Berpikir. Sedang di mana dirinya berada? Bagaimana ceritanya hingga ia bisa tiba di tempat itu.

Dan satu sengatan di kepalanya menyerang. Tubuhnya limbung. Hampir membutakan matanya.

"I--ini di... aku...."

"... Freyr?"

****

Kabut memudar. Secara ajaib tiba-tiba saja Freyr tengah berdiri di tengah taman kota. Namun asap-asap berwangi manis masih hilir-mudik di ujung hidungnya. Bola matanya lantas menangkap sesosok perempuan yang tengah duduk manis di ayunan di hadapannya.

"Kanami? Kenapa... ada kamu?"

Perempuan itu tertawa. "Kamu kebentur keras ya, Fre? Kita 'kan baru aja tabrakan bis, lupa ya? Sini-sini, duduk dulu, kita cerita pelan-pelan."

Freyr mengangguk, menuruti kata-kata perempuan itu. Sementara perempuan di sisinya itu mulai mengayunkan tubuhnya ke depan dan belakang.

Ada semburat jingga yang menyambut. Freyr rasanya ingat kenangan ini. Taman kota, sore hari, momen yang selalu menjadi rutinitas tersendiri baginya dan perempuan itu untuk saling bercerita tentang hidup. Oh, tidak, bukan... mereka bukan pasangan kekasih, mereka hanya teman yang berbagi satu atap apartemen yang sama dan terkadang saling bertukar lauk makan malam atau botol sake, tidak lebih.

"Udah lama... kita engga ritual kayak gini ya, Fre...."

Freyr tersenyum. "Iya. Semenjak kamu sibuk ngurus kafe dan aku sibuk ngejar kasus."

"Bukannya semenjak kita sama-sama mengejar waktu dan setengah bagian hidup kita yang hilang?"

Freyr terdiam. Lidahnya mendadak kelu. Paru-parunya hanya bisa menarik napas berat. Ada rasa sakit yang tiba-tiba menghujam dadanya. Namun perempuan itu tidak menghiraukannya. Perempuan itu terus menatap langit, memandang mega jingga menggantung. Dari sudut matanya, Freyr mampu menangkap sorot teduh perempuan itu.

"Kamu bilang... kita ini baru kecelakaan bis? Terus, ini di mana?"

"Entah," jawab perempuan itu, mengangkat bahu. "Sepertinya terminal terakhir antara dunia manusia dan dunia bawah."

Freyr bergidik. Dunia bawah, maksudnya neraka. Ya, orang Jepang hanya tahu konsep bahwa orang mati semua dikirim ke dunia bawah, mereka tidak percaya konsep surga dan neraka. Suatu hal yang membuat blasteran sepertinya geleng-geleng kepala dan bingung sendiri untuk memegang konsep kehidupan-setelah-kematian yang mana.

Tunggu. Kalau begitu....

"... aku, sudah mati?"

"Setengah, sepertinya. Masih bisa ngerasa sakit, 'kan?"

Freyr mengangguk. Rasanya aneh, tapi... ya, rasa sakit menyengat di kepalanya hingga rasa sakit di dadanya, dua rasa sakit yang berbeda unsurnya namun masih bisa Freyr rasakan dengan jelas.

"Terus, kenapa kita di sini?"

Sejenak, perempuan itu menghela napas. Ada mendung bersenandung di wajahnya.

"Pilihan, Freyr. Antara pulang, atau lanjut terus tanpa bisa balik lagi."

"Kalau lanjut terus, bakal sampai dunia bawah?"

Freyr menangkap senyum jenaka perempuan itu. "Kenapa? Ada orang yang pengen kamu temui ya, di dunia bawah?"

Pertanyaan telak. Tepat sasaran. Memaksa ingatan Freyr untuk melaju sekencang-kencangnya menembus dinding masa lalu yang telah dibetonnya tebal-tebal. Dan beton itu seketika runtuh. Berguruh dalam benaknya. Monster masa lalunya yang terbangun, mengendus wangi kebebasan di udara, wangi harapan, dalam beberapa saat mematikan fungsi kerja logikanya.

"Aku... a--aku...."

"Kalau kamu udah yakin bahwa engga bakal ada yang nunggu kamu pulang, ya lanjut terus aja, Fre."

Tubuhnya seolah djjerat tali-tali tak kasat mata. Orang yang menunggu? Sekejap bayangan Leon dan adik-adiknya, ibu dan ayahnya, berkelebatan tak henti di otaknya. Semakin membuatnya bimbang. Keluarganya pasti menunggunya untuk membuka mata. Atau mungkin Leon saat ini tengah mendekam di rumah sakit, meninggalkan setumpuk pekerjaannya, dan akan memarahinya habis-habisan ketika ia bangun nanti. Ya, hal-hal normal yang biasa dilakukan keluarga.

Di luar itu, Freyr punya apa? Punya siapa?

Bahkan sebuah nama yang terbersit dari ujung ingatannya tak mampu menjawab. Ia hanya punya cinta keluarganya. Bentuk cinta yang lain... bahkan yang menunggunya di balik gerbang dunia bawah pun tak sepadan. Itu hanya cinta sepihak. Gelegak napsu dan emosi yang tidak pernah membuatnya bahagia. Cinta hanya menyeretnya ke jurang derita tanpa toleransi dan kompromi. Cintanya pada yang di balik gerbang dunia bawah, maupun pada yang (mungkin) menunggunya di kamar apartemen dengan bau tembakau menyengatnya. Yang mana pun sama saja.

Jadi, Freyr harus ke mana?

"Pulang, Fre."

Freyr melongo. Perempuan itu menggasak habis rambut platinanya, penuh kasih.

"Masih ada urusan yang belum selesai, 'kan? Kalau ke dunia bawah sih, semua roh juga bakal balik ke sana. Mumpung masih ada kesempatan, mendingan kamu pulang ke dunia kita. Gimana?"

Terkadang, Freyr mengutuki dalam diam kemampuan membujuk dan merayu dari tetangga apartemennya ini.

"Kamu sendiri, mau gimana? Urusan kamu juga belum selesai, 'kan?"

"Urusan aku sih, engga bisa aku selesaikan sendiri. Orangnya yang bermasalah, jadi ya cuma dia yang bisa. Aku udah mencoba, bahkan menjanjikan dua puluh empat per tujuh hidupku pun udah kulakukan. Kalaupun pergi sekarang, aku engga bakal nyesel. Eh... nyesel, sih."

"... nyesel apa?"

"Nyesel engga bisa nemenin dia sampai aku tua duluan ketimbang dia."

"Terus kenapa kamu engga pake kesempatan yang sama? Kita sama-sama di sini, terus kenapa kamu mau lanjut?"

Ada senyum terbit di sudut bibir perempuan itu. Hanya untuk membuat dada sesak Freyr diliputi bentuk kesedihan yang lainnya.

"Aku lelah, Fre. Udah cukup. Aku... pengen istirahat."

"Kalau gitu, istirahat di dunia kita aja! Ayolah Kana, pokoknya aku engga terima negosiasi," sembur Freyr sembari melompat dari bangku ayunannya dan menggamit tangan perempuan itu. "Kita dateng ke sini sama-sama, 'kan? Kita jadi korban kecelakaan di bis yang sama, 'kan? Yah, meskipun aku juga engga sadar sih kamu ada di bis itu juga, tapi... kalau kamu pulang, aku juga pulang, dan sebaliknya. Deal?"

"Tapi... cara aku ke sini engga sama kayak kamu, Fre, aku...."

"Aku udah bilang, engga ada negosiasi. Kita pulang sekarang, ya?"

Tidak ada jawaban dari perempuan itu, hanya sebuah senyuman manis. Dan yang Freyr ingat setelahnya, angin kencang menyapu dan menyerbu tubuhnya, meniup seluruh kenangannya untuk tertidur sementara, dan mendamparkan tubuhnya kembali ke tengah semilir obat kimia dan jarum-jarum menancap di tubuhnya.

'Maaf... dan terima kasih....'

****

"Udah denger beritanya?"

"Kecelakaan bis itu, 'kan? Kasihan supirnya, ikut meninggal padahal bukan salahnya."

"Tapi aku dengar kabar, penabraknya meninggal tadi pagi, ya?"

"Haah?!! Engga bisa didakwa, dong!!"

"Saksi mata yang lihat sih, katanya si penabrak yang emang nyebrang jalur dan nabrakin mobilnya... siapa sih yang bisa selamat setelah aksi bunuh diri kayak gitu?"

"Engga di bawah pengaruh alkohol?"

"Nope. Denger-denger sih negatif."

"Hahh... dunia makin gila aja."

Gendang telinga Freyr tergelitik. Seiring dengan suara bantingan pintu kamarnya. Dan suara gerutuan kembarannya yang belum pulang menungguinya dari kemarin malam.

"Ngegosip kok di depan pintu kamar orang, gila."

"Leon...."

"Hmm? Mau apa? Minum?"

"Yang nabrak... meninggal, ya?"

"Iya, tadi pagi."

"Yang nabrak... cewek?"

"Ya. Katanya percobaan bunuh diri, spontan nabrakin diri ke pembatas jalan sampai nyebrang jalur, dan kebetulan bis yang kamu tumpangin lagi lewat."

"Keadaannya... gimana?"

"Patah tulang sana-sini, rusuk nembus sampai paru. Yah, baguslah, ganjaran buat orang gila dan semena-mena sama nyawa macem gitu. Kenapa? Penasaran?"

"Tadinya. Sekarang udah engga lagi."

"... heh?"

Freyr tersenyum. Dadanya mendadak terasa panas, menggelegak. Ada tetes air meluncur dari ujung matanya yang terpejam. Dan sekarang ia paham arti senyum terakhir yang Kanami berikan padanya di perbatasan menuju dunia bawah.

.

'Maaf, dan terima kasih, Fre.... Selamat tinggal, dan semoga kamu menemukan kebahagiaan yang tidak pernah sempat aku raih.'