K: Missing Kings, a fanfiction
Disclaimer: GoRa & GoHands
dedicated for Mikoto's birthday, August 13rd.
_________________________________________________________________________________
13 Agustus. Musim panas menyengat. Mentari yang mulai naik dari selepas dini hari menjadi alasan tersendiri bagi Reishi untuk menderap langkah pelan--namun mantap--ke pekarangan sebuah pemakaman. Lengan kanannya menenteng sebuah keranjang anyaman, bau teh hijau menguar dari dalam, sementara lengan kirinya memeluk satu buket bunga, dihiasi
cosmos--
daisy kecil berwarna putih, lili putih, dan bunga matahari.
Cosmos yang katanya tentang kemurnian. Lili yang dalam bahasa Jepang--ironisnya--tentang pemenggalan kepala.
Namun juga bunga matahari... yang memiliki arti sesungguhnya sebagai cinta yang terpendam.
Tubuhnya berbelok dan ia menghentikan langkahnya tepat di depan sebuah batu nisan kelabu yang membisu. Ia mengamati batu itu lekat-lekat. Mengamati kelabu yang masih bersih tanpa lumut serta pahatan nama yang belum lapuk dimakan usia.
Nama yang tertera di sana adalah Suoh Mikoto.
Lengkung di bibir Reishi terulas. Ia berjongkok di hadapan nisan itu, meletakkan bunga pada altar sempit di depan nisan, lalu merogoh isi keranjang, menemukan dupa, kemudian membakarnya. Kedua tangan yang kemudian terkatup depan wajah. Matanya terpejam. Hatinya menggulirkan doa.
Sebuah doa yang tulus. Yang selalu, sebenarnya, diiringi dengan sebuah permintaan maaf.
Permohonan ampunan.
Reishi membuka mata, tersenyum kecil sembari mengeluarkan sisa isi keranjangnya. Dua buah cawan hitam dan setermos teh hijau. Reishi menyeduhkan satu cawan yang lantas ia letakkan di altar sempit tersebut, sementara satunya lagi tergenggam di tangannya.
Ia mulai menghirup tehnya. Reishi lalu menyesap tehnya.
"Hampir dua tahun berlalu, Suoh. Bagaimana kabarmu?"
Suaranya mengalun. Tidak gemetar. Tidak ada getir. Meski sarat kerinduan. Seolah Reishi tengah menyapa seorang teman lama dan teman itu akan membalas kata-katanya.
"Anna sudah jadi Raja Merah yang baru sekarang. Kau tidak perlu cemas. Klan Biru dan Merah kini memiliki kesepakatan damai yang tidak pernah terucap. Kau bisa tenang sekarang... atau kau memang sebenarnya selalu tenang setiap saat dan tidak lagi memedulikan segala hal trivial yang terjadi di dunia. Aku bisa membayangkannya, Suoh, kau bergelung manja, tertidur dan mendengkur rendah di pangkuan anggota klan kesayanganmu itu."
Reishi meneguk lagi teh hijau dalam cawannya. Lengkung senyum tidak pernah pergi dari wajahnya.
Meski sesuatu dalam dadanya mulai memerih.
"Aku... akan baik-baik saja, Suoh. Damocles-ku mulai meruntuh... sama sepertimu saat itu. Namun aku tahu aku tidak akan sebodoh dirimu yang membiarkan diriku dimakan oleh kekuatan itu. Aku menerima takdirku sebagai Raja Biru."
'... menerima tanggung jawab dan konsekuensi karena telah membunuh seorang raja. Ironisnya, itu adalah kau, Suoh.'
Menghabiskan isi cawannya dalam satu tegukan, Reishi lantas membereskan termos dan cawan miliknya, memasukkannya kembali ke dalam keranjang, namun tetap membiarkan cawan satunya mengepul hangat di altar Mikoto.
"Terakhir... selamat ulang tahun, Suoh."
Yang kali ini, Reishi tidak mampu menahan pahit yang mendesak ingin meluncur dari pangkal lidahnya. Suaranya bergetar.
"Semoga kita bisa bertemu lagi di ruang dan waktu yang lain. Dan jika saat itu tiba, kupastikan bahwa akulah yang akan datang menemuimu, memastikan bahwa persimpangan takdir kita tidak akan pernah menjadi sebentuk tragedi satir lainnya."
.
Tiupan angin dingin. Menyelusup, menggelitik kulitnya yang terbalut seragam lengkap Scepter 4. Reishi terbelalak. Sementara indera penciumannya menangkap semilir tembakau yang akrab di ujung ingatannya, bersatu dengan aroma teh hijau dari cawan yang ditinggalkannya.
Reishi terpaku. Reishi tercekat. Ia tidak bisa bernapas.
Meski ia tetap tersenyum.
Ada tetes perak meluncur, membingkai sisi wajahnya.
.
"Terima kasih, Munakata. Kau tahu? Aku mencintaimu. Selalu."
.
Reishi melepas kacamatanya. Mengusap sisi wajahnya perlahan. Tetes perak itu tidak muncul lagi. Ia kemudian menenggerkan kacamatanya lagi di atas batang hidungnya, tidak peduli matanya yang masih terasa panas dan dadanya yang sesak. Diserbu jalaran kehangatan.
Mengangguk dan membungkuk. Reishi menenteng keranjangnya dan berbalik, setelah sebelumnya melontarkan kalimat perpisahannya.
.
"Aku tahu. Terima kasih dan sampai jumpa, Suoh. Aku mencintaimu."
****
"Karangan bunga dan... cawan berisi teh hijau...?"
Anna mengangguk-angguk penuh semangat menanggapi sorot Misaki yang kebingungan.
"Kita selalu kalah cepat dan kali ini yang kedua kalinya ya, Anna," tambah Izumo, menyalakan rokok dengan jentikan jemarinya. "Ini masih jam delapan pagi dan aku heran jam berapa tepatnya orang itu tiba di sini."
"Reishi tidak punya satu hari penuh untuk berkabung ataupun merayakannya seperti kita, Izumo. Reishi punya tugasnya sendiri. Dan lima menit di pagi harinya sangatlah berharga untuk ia habiskan di tempat ini. Mengobrol dan minum teh bersama Mikoto."
"Mereka mengobrol, Anna?"
Anna mengangguk lagi menjawab pertanyaan Izumo. Sang pemilik bar yang kemudian melayangkan tatapan pada nisan kelabu itu.
Tidak ada lagi kata yang ditukar. Sepuluh orang yang berdiri di depan nisan Mikoto itu lantas terdiam, menunduk dan berdoa dan kekhusyukan masing-masing. Hingga terakhir, mereka semua berpandangan, saling melempar senyum, lalu membisik.
.
"Selamat ulang tahun... raja kami, Suoh Mikoto."