20130122

Irato

"Bapak tua itu engga bakal kenapa-kenapa, jangan khawatir."

"Kakak! Bisa-bisanya Kakak ngomong kayak gitu! Engga cemas kalau beliau terlibat kecelakaan? Engga cemas kalau--"

"Engga lah, ngapain? Kalau emang udah waktunya mati ya, mati aja. Hidup jangan dibikin susah, Ran."

"...."

"Rana?"

"... setelah kita sama-sama kehilangan ibu, terus Kakak berani bicara gini tentang Bapak?! Padahal Kakak yang paling tahu gimana sakitnya rasa yang disebut 'kehilangan' itu, terus kenapa--"

"--karena aku TAHU makanya aku BEGINI...!"

"Engga. Kakak cuma lari, lari dari kenyataan tentang mereka. Kakak lari, cuma untuk melabuhkan diri Kakak ke perasaan Kakak tentang aku! Kalau aku yang pergi, kalau aku yang mati...."

"... diam dan jangan ngomong apa-apa lagi, Rana! Ran? KIRANA, BALIK KE SINI KAMU...!!"

****

"Itu yang terjadi?"

Rehan mengangguk. Mulutnya terasa begitu kering seusai bercerita. Menenggak segelas teh hijau di hadapannya pun tak menghilangkan dahaga yang membakar kerongkongannya, pahit di pangkal lidahnya.

Satu helaan napas, dan lawan bicaranya, sekali lagi, merebahkan tubuhnya di sandaran sofa. "Setelah tiga tahun Asha pergi, dan Kak Rehan baru cerita hal ini sama aku, sekarang?

"Kenapa?"

"Karena kupikir, kamu yang sekarang udah bisa maafin Airlangga, atas semua kejadian ini."

Pemuda itu menyesap kopi robustanya dalam-dalam. Rehan melihat dengan jelas, kilat perih merayap melewati manik cokelat susu si lawan bicaranya. Rehan tidak bisa berharap, tidak akan pernah bisa. Menjadi penyambung lidah tidak akan membawanya pada konklusi yang semula ia inginkan. Seolah bertaruh di atas papan judi, Rehan telah mengeluarkan seluruh langkah dan wajah dadunya, tanpa sekalipun dipertunjukkan permainan apa yang digenggam wajah dadu lawannya.

"Kalau gitu, biar kata-katanya Airlangga aku ucapin balik," tukas Aksara. Raut wajah pemuda itu mengeras. "Kalau memang udah waktunya mati ya, mati aja. Tolong sampaikan hal itu ke Airlangga... meski sebenernya aku bakal lebih puas kalau ngomong langsung ke depan muka orangnya."

Rehan mau tidak mau tersenyum. Ya, ia telah kehabisan langkah. Lawannya hanya punya satu sisi dadu untuk menggulingkannya dari arena permainan.

"Kamu... membenci Airlangga?"

Satu senyum sinis. Aksara berdiri dan merapikan jaket parasut hitamnya.

"Engga ada yang perlu dibenci atau disesali, Kak. Toh Asha akan lebih bahagia di tempatnya sekarang. Dunia ini... udah terlalu penuh polutan, udah engga bisa lagi dia sinarin dengan sinar-sinar kecilnya yang hangat."

****

'Sha, kamu bahagia, 'kan? Bahagia dengan tempat kamu sekarang?'

                                                                           'Apa? Aku engga bisa denger jawaban kamu....'

                   'Aku? Masih berusaha untuk bahagia, Sha....'

_________________________________________________________________________________

Irato, in music terminology, it means 'angrily'

No comments:

Post a Comment