Dalam setiap malam-malam gelapnya, lelaki itu tidak pernah
berhenti bercerita. Bercerita ia pada bintang-bintang tak kasatmata tentang
luka. Bercerita ia pada bulan yang kerap kali terhalang malam tentang perih.
Bercerita ia pada awan yang menghitam tentang tangis yang telah mongering namun
dirindunya. Setiap malamnya, dan cerita itu akan selalu berulang, hingga ia
terlelap dalam lelah berselimutkan kubangan peluhnya.
Dalam setiap malam-malam panjangnya, lelaki itu tidak pernah
berhenti bermimpi. Pada langit luas ia bermimpi tentang angin yang meniup helai
demi helai hitam dan manik hijau yang hangat. Pada bias lampu gedung-gedung
menjulang ia bermimpi tentang suara lembut yang memanjakannya untuk terus
berada di alam mimpi. Dan pada malam menjelang fajar ia bermimpi akan malaikat
maut yang mengalungkan sabit kematian di lehernya. Meski dalam mimpinya, sabit
itu tidak pernah membelah lehernya. Seakan waktu berhenti. Ia dan sang malaikat
maut hanya terpaku di sana, dengan pemandangan sebuah altar yang telah hancur
menjadi puing.
Dan dalam setiap fajarnya, lelaki itu selalu mengutuk pagi.
Ia membenci pagi. Ia membenci hari. Ia membenci waktu. Karena waktu tidak
pernah sudi ikut berduka bersamanya. Karena pagi tetap menjemput tak peduli
selama apa ia membasuh luka-lukanya. Karena hari selalu berganti, seolah
menertawakannya yang tidak pernah lagi melangkah dari mimpinya.
Karena ia ingin bermimpi. Karena hanya di dalam
mimpi-mimpinya, maka malaikat maut itu akan menjadi nyata. Malaikat maut
berparas cantik, bermata garang namun air mata tidak pernah berhenti mengaliri
sisi wajahnya. Betapa lelaki itu mengenalnya. Betapa ia ingin merengkuh sang
malaikat maut dalam dekapan. Betapa ia ingin sang malaikat maut menjemputnya
agar mereka selalu bersama.
Hal klise. Juga menjadi hal yang paling diinginkannya.
Malaikat mautnya tidak pernah membawanya pergi ke dalam keabadian. Ia
ditinggalkan dalam hampa yang nyata.
Dalam setiap akhir malamnya, lelaki itu selalu melihatnya.
Sabit itu tidak pernah memenggal kepalanya. Sabit itu
beralih ke tangannya untuk memenggal leher malaikat mautnya itu.