Featuring Ciel, (c) Tasya Aniza, 2013
_________________________________________________________________________________
"Apa sih, yang bikin kalian, entitas yang dinamakan cowok ini bersitegang cuma untuk seseorang macem gue?"
"Kenapa, ya? Gue sendiri engga tau, dan gue juga engga tahu isi otaknya Shiozaki bersaudara. Kalau buat gue sih, karena elo ya elo. Udah."
"Gue adalah gue? Heh, engga waras lo, Ciel. Dan siapa gue? Entitas yang lebih engga jelas lagi apaan. Cuma jadi benalu yang numpang idup doang di badan orang."
"Stop, engga ada kata-kata sarkas lagi. Seenggaknya engga untuk diri lo sendiri, Noir."
"Cih. Emang apa peduli lo?"
"Apa peduli gue? Gue peduli sama lo, Mulut Cabe! Atau, kalimat gue yang tadi perlu gue ulangin lagi? Bahwa gue su--"
"Diem dan jangan bawel dan gue-udah-denger! Dan, sorry, gue engga bisa sama lo."
"...."
"... toh gue bakal pergi, Ciel."
"... kapan?"
"Entah. Sampai Lyra siap, mungkin?"
"Kalau lo mau pergi, pastiin kalau lo pamit dulu sama gue, oke?"
"Engga janji."
****
Jimat itu berbercak darah kehitaman, sudah mengering. Jimat dari Kuil Kiyomizu yang sengaja Ciel belikan jauh-jauh di Kyoto, bahkan Ciel sendiri masih ingat jelas ketika ia mengalungkan jimat tersebut di leher jenjang Lyra. Jimat untuk penolak bala, jimat untuk keselamatan. Toh gadis itu sudah mentah-mentah menolak dirinya. Apalagi yang bisa Ciel lakukan sebagai bukti rasa yang selalu menari-nari dalam senyap rindunya?
Dan jimat itu kembali padanya. Lusuh dan--ya, berbercak noda kehitaman. Diserahkan padanya oleh tangan dingin dan gemetar seorang Shiozaki Shinji. Ciel menggeram. Nyaris saja ia butuh kelas manajemen emosi tambahan jika ia memutuskan untuk melayangkan tinjunya ke wajah Shinji saat itu juga.
Meski Ciel tidak bisa.
"Lyra... mana?"
Tak ada jawaban. Tak perlu melihat raut wajah Shinji pun, Ciel sudah tahu jawabannya.
Dan kali ini, Ciel tidak tahan. Detik berikutnya Shinji telah terpuruk di tanah. Tanpa perlawanan.
Sial... sial sial siaal...!
Ciel menendang dan memukul. Membati buta. Sementara Shinji membiarkan pukulan-pukulan itu menghujani dirinya. Pertarungan dua entitas bernama laki-laki dalam kekalutan, duka, dan nyeri tak terperi. Tak perlu adanya kata-kata yang ditukar, teriakan amarah dan luka yang dibiarkan menjerit di sisi terdalam sang jiwa. Ciel yang tidak tampak mau mengampuni. Begitu pula Shinji yang tidak butuh diampuni.
Siaaall...!! Aaaaaaakkhh!!!
Jimat yang semula berwarna biru itu kini semakin pekat menghitam. Diguyur bercak kemerahan baru yang masih segar. Ciel tidak lagi melihatnya. Ciel tidak lagi mau memedulikannya. Memento terakhirnya dengan gadis itu, Lyra--atau juga Noir, biar saja Shinji yang merengkuhnya erat dalam dekapan. Biar saja Shinji yang menanggung sakitnya, bahkan untuk bagian Ciel sekalipun.
Semua salah Shinji. Semua gara-gara keluarga Shiozaki yang tidak melindunginya....
Mereka bilang itu cinta. Tapi kenapa Lyra dan Noir harus....
Sosoknya yang berbalik pergi, sedikit demi sedikit hilang di tengah guyuran hujan. Membasuh satu-satu imaji dan kenangannya.
Dan Ciel membiarkan hujan membaurkan hangatnya air mata yang membasahi sisi-sisi wajahnya.
****
"Lo--masih belum jera juga?"
"Ada juga cowok yang engga kenal kata nyerah, tau."
"Dan lo termasuk salah satunya? Hobi bener lo nyiksa diri."
"Heheh... siapa dulu dong gurunya?"
"Ah, bawel! Dan engga pake enggol-senggol!"
"Marah apa marah? Kok senyum-senyum? Ih, coba lo banyak senyum deh, pasti cantik...."
"... basi banget lo jadi cowok, Ciel...."
No comments:
Post a Comment