20140214

PadLock: Valentine's Struggles

A fanfiction
Disclaimer: Becky Sloan & Joseph Pelling
Paige as the notepad and Tony as the clock
_________________________________________________________________________________

Bukan hari yang sama seperti biasanya. Setidaknya, tidak ada denting peperangan memecah antara pulpen dan jarum jam ketika tirai gorden dibuka di awal serangan fajar. Suasana yang tenang. Sunyi dan senyap. Sesekali terdengar detik jarum jam di satu ruang. Sesekali terdengar gesek gores pena di satu ruang lainnya.

Oh ya, hari ini Valentine. Hari yang katanya sebagai perlambang hari kasih sayang penuh kontroversi dibalut berjuta macam bentuk komersialisme. Hari yang penuh rasa cokelat dan warna merah jambu dihiasi pita-pita besar merah menyala. Hari di antara hari-hari besar lainnya (seperti Natal, Paskah, dan Tahun Baru) di mana pulpen dan jarum jam tidak harus berjibaku dan saling mengancam bahkan sebelum fajar berhasil terbit di ufuk Timur.

Tony akan membiarkan Paige dengan kreasi dan imajinasinya, tertuang entah di atas kanvas maupun di antara lembar-lembar bukunya. Dan Paige akan dengan senang hati memanfaatkan kelapangan Tony sebagai bentuk liburan dari pedang jarum Tony yang, biasanya, selalu nyaris memenggal kepalanya saat ia tidur.

Meski tetap saja. Namanya saja penguasa waktu. Maka jangan heran jika Paige yang kini dalam dua puluh empat jam berevolusi menjadi putri cantik dan mempekerjakan sang waktu, tetap akan berubah kembali menjadi Cinderella dengan celemek kusamnya ketika lewat jam dua belas tengah malam nanti. Tentu saja, dengan Tony sebagai ibu tirinya yang siap mengacungkan pedang kapanpun, dimanapun.

****

Tiga kanvas. Lima buku terisi penuh. Jeda waktu delapan belas jam. Paige yang teramat puas dengan hasil kerjanya dan Tony yang geleng-geleng kepala mengamati lekat-lekat arloji di sakunya. Paige yang kemudian pergi mandi dan bersolek sementara Tony yang mulai berteriak tentang pesta nanti malam.

"Sayang, pesta dimulai tepat satu jam lima puluh delapan menit tiga puluh detik lagi," ujar Tony, menekankan panggilan mesra itu hingga terdengar begitu ironi. "Kuharap kau segera menyelesaikan ritualmu, dan--"

"Oh, jangan khawatir, Darling... aku sudah selesai memilih baju. Aku tidak akan berdandan menor seperti pesta tahun baru kemarin, jadi kau tidak perlu menunggu begitu lama."

Dan jarum pun berdetik. Melangkah. Berderap dalam stagnansinya yang terbuang tanpa arti.

Tony menunggu. Menunggu. Menunggu.

"Sayang, sudah pukul delapan belas lewat tiga puluh empat menit sebelas detik, kita akan terlambat jika--"

"Sebentar lagi selesai~ bajuku tadi tidak serasi dengan warna bedakku jadi aku menggantinya lagi--"

"--apa...?! Kau mengganti--"

"--oh sudahlah, sebentar lagi aku selesai. Jangan cemas dan jangan MENDOBRAK masuk ke kamarku seperti yang kau lakukan di hari Natal dua tahun yang lalu!"

Tony terdiam. Jarum jam kembali berdetik. Melangkah. Berderap dalam konsistensinya untuk disia-siakan selanjutnya.

Tony menunggu. Menunggu. Menunggu.

Detik jarum yang menggema menabuh gendang telinganya. Dan mulutnya yang mulai mengeluarkan sungut khasnya.

Meh.

"Paige, sekarang pukul tujuh belas lewat satu menit tiga puluh dua detik dan--"

"--sebentar, oh kau laki-laki tidak sabar! Aku sedang memilih maskara...."

Meh.

Meh. Meh. Meh.

"Paige... jika dalam satu menit lagi kau tidak keluar--"

"..lipstick! Hanya tinggal lipstick dan--"

Brakk!

Satu detik dalam bisu. Tony bersumpah untuk membuat Paige membayar setiap detak anak-anaknya yang terbuang dengan percuma.

"Tony...! Aku sudah bilang untuk tidak--"

"--kau tahu aku tidak bisa menunggu, Paige."

Dan Tony tidak lagi membuang-buang waktunya yang berharga. Satu gerakan cepat, tanpa suara. Tak ada pedang yang dihunus. Tak ada gertak ancaman. Tak ada jerat melukai. Semuanya ia lakukan dengan mulus. Tanpa ragu.

Mencabik raga Paige merupakan perkara mudah. Namun Tony lebih memilih untuk mengoyak Paige dari dalam. Dimulai dari benaknya. Dimulai dari rasa yang menggeliat meliar. Hingga Paige akan berakhir gemetar di tangannya... dalam pelukannya.

.

"Don't... hug me.... I'm scared... it hurts...."

.

Tony tersenyum. Penuh kemenangan. Penggalan waktunya yang terlupa kini terbalaskan dendamnya. Ia berbalik dan melangkah pergi. Tidak lagi memedulikan pesta dan ritual hari-hari besar lainnya. Dan di ambang pintu, senyum puasnya menyapa Paige yang telah terduduk lemas di karpet beludru hijau toska dengan kedua bola mata mengucurkan derai-derai kehitaman, sehitam tinta.

"Selamat malam dan selamat beristirahat, My Valentine."

Re:trace #5

Zen? Seorang pemuda pecicilan sekelas Teru dan Rio yang hobi balapan liar sebulan sekali di akhir minggu? Jangan salah. Itu semua hanyalah akal-akalan si pemuda tanggung untuk menyembunyikan wajah yang sebenarnya.

Tidak ada yang tahu, dan tidak ada yang perlu tahu, bahwa Zen lahir di kalangan keluarga elit penyandang status dokter spesialis kawakan dengan gelar merepet layaknya kereta api mengikuti nama. Tidak ada yang perlu tahu bahwa Zen besar di lingkungan serba sempurna dan ideal yang bahkan Zen sendiri tidak paham mana realita dan mana pembohongan besar yang didalangi orang tuanya. Tidak ada yang perlu tahu bahwa tidak mudah menjadi Zen, yang dicekoki segudang prestasi sang bapak dengan gelar profesor di pertengahan kepala empat dan sang ibu yang sibuk mengajar dari kampus ke kampus. Oh, jangan lupakan sang kakak sebagai penyabet predikat setan-kelas-percepatan dan berhasil lulus sebagai sarjana kedokteran di usia dua puluh tahun.

Zen membencinya. Zen merutuki setiap kerlap-kerlip kesuksesan yang bertebaran di sekelilingnya layaknya cerita novel tidak laris yang selalu berakhir mulus tanpa konflik. Zen telah memulai ritme hidupnya sendiri, di mana stress dan depresi stadium empat akan menghadangnya di setiap pergantian jenjang pendidikannya, sementara tahun-tahun di antaranya ia habiskan dalam tawa dan pongah polos untuk membayar semua makian terpendamnya.

Zen yang riang. Zen yang senang bergaul. Tidak perlu ada yang tahu sosok Zen yang destruktif di kala menghadapi ujian kenaikan kelas atau kelulusan sekolah.

Sampai ia bertemu seorang Dylan Satrio Paramadireja yang hidup berkecukupan di asrama bersama empat orang temannya. Sampai ia menghirup sejumput kata iri pada kehidupan Rio yang bebas dari tuntutan nilai akademis tinggi. Sampai ia mengecap segudang kata simpati dan empati pada kehidupan Rio dan keempat temannya yang jauh dari lingkaran bernama keluarga, lalu iri itu akan datang lagi karena bentukan lingkaran pertemanan Rio di asrama yang seolah mampu menggantikan ruang kosong bernama keluarga itu. Berkali-kali Zen berusaha mendekati lingkaran itu, namun berkali-kali pula Zen terpental dan hanya mampu melihat dari luar.

Ada hal yang janggal namun unik yang Zen tangkap dari hubungan antara Rio, Leyka, Nara, Nandi, dan seniornya, Andreas. Rasa kesalnya karena tidak pernah bisa membaur sempurna dalam lingkaran itu yang silih berganti dengan rasa kagum dalam pacuan adrenalin. Ia kesal, tapi juga senang di saat bersamaan. Menggapai lingkaran terdalam itu masih menjadi hasrat terpendamnya, setidaknya itulah tujuan di tahun pertamanya di bangku SMA untuk melarikan diri dari tuntutan demi tuntutan yang sudah duduk manis menunggunya dua tahun ke depan.

Hingga di ujung pencariannya, ia bertemu dengan senior itu. Senior serba sempurna yang selalu mengingatkan Zen akan kesempurnaan sang bapak dan kehidupan-yang-seharusnya-ideal miliknya. Senior yang lebih sering menerbitkan awan-awan kekesalan namun berpadu dalam balutan adrenalin menghentak.

Zen ingin bisa melebihi seniornya itu. Tapi, bisakah...?

Dan Andreas nyatanya memang sudah memegang kartu jawaban Zen itu erat-erat di genggaman.

****

"Lo... engga mau coba jadi Ketua OSIS tahun depan, gantiin gue?"

"Haha, Kak Andre bercanda. Orang kayak gue? Ketua OSIS? Lo mimpi buruk ya semalem, Kak?"

"Engga. Gue ngomong kayak gini sama lo juga sambil melek, Zen. Toh, gue sama lo juga engga beda jauh, 'kan? Gue bisa dan sanggup, kenapa lo engga?"

"Sama di mana? Gue engga serba bisa seperti lo, gue engga--"

"Lo bisa, dan kata siapa lo engga bisa untuk serba bisa kayak gue? Lo bukannya engga bisa, tapi engga mau."

"... bedanya?"

"Gue tahu latar belakang keluarga lo, Zen. Dan lo pikir, sekolah ini nerima murid sembarangan gitu aja? Lo pikir orang yang engga punya talenta bisa masuk sekolah ini? Gue di sini udah mau lima tahun, dan gue engga pernah nemu satupun murid di sini yang engga punya talenta dan potensi di bidang mereka masing-masing. At least tiap murid punya satu bidang yang mereka kuasai dan masing-masing akan giat di bidang itu. Dan lihat diri lo sekarang. Lo tidur di kelas dan ngerjain PR pakai acara nyontek punya Rio aja lo masih bisa peringkat tiga besar di kelas dan lima besar di angkatan. Lo aktif menyampaikan pendapat dan aktif cari temen. Itu potensi diri lo yang bahkan lo anggap itu sebagai topeng lo doang."

"Jadi intinya, gue sukses bohongin dan bertopeng depan orang lain? Atau malah gue sukses bikin topeng yang bagus banget sampai bisa nipu orang abis-abisan kayak gitu?"

"Lo engga mungkin bisa bikin topeng yang beda total dari pondasi muka asli lo, Zen. Dan lo engga mungkin bikin cetakan topengnya dari wajah orang lain yang berbeda dari wajah lo, karena lo sangat nyaman dengan topeng lo yang sekarang ini."

"...."

"Kena telak, ya? Yah, pikirin aja kata-kata gue barusan. Toh lo baru aja dapet wejangan dari seorang ahli topeng yang lagi mati-matian berusaha bikin topengnya yang dari pondasi wajah orang lain ini nyaman dipakai di muka sendiri."

"... heh, lo nopeng juga ternyata, Kak?"

"Harus, Zen. Semua orang butuh topeng, gue pun engga memungkiri hal itu."

"Dan lo nasehatin gue sementara lo sendiri engga nyaman dengan topeng lo, Kak?"

"Iya. Aneh, ya? Anggap aja gue sebagai sebuah stase di atas lo, bayangkan ketika lo nanti harus pakai topeng tuntutan-tuntutan keluarga lo itu di wajah lo. Keadaan gue kurang lebih sama."

"Lah, gue sih engga mau. Berat banget."

"Nah, lo engga mau, 'kan? Itu bedanya gue sama lo, dan yang jadi kelebihan buat lo dibandingin gue yang lo anggap serba bisa ini."

"... dan tentang apa yang ada di antara lo, Rio, Nara, Leyka, dan Nandi... gue sama sekali engga akan bisa tahu, ya?"

"... ya. Lo engga akan pernah bisa masuk. Bahkan engga akan pernah ada yang bisa."

"Jadi, gue harus nyerah soal Nandi?"

"... maaf, tadi lo bilang apa...?"

"Engga, engga jadi. Masih ada yang mau Kak Andre omongin sama gue, engga? Kalau engga, gue mau balik ke klub basket, udah telat pemanasan sepuluh menit."

"Oh, oke. Sorry gue pakai waktu latihan lo. Nanti gue mintain izin ke pembinanya deh."

"Engga perlu, Kak. Oh ya, boleh ngomong satu hal lagi?"

"Silakan."

"Gue engga kenal kata nyerah. So, kalau ada apa-apa, gue akan terobos masuk dan ngambil dia dari lo, sip?"

"...."

"Udah ya, Kak. Gue permisi dulu. Trims banget pencerahannya...!"

"... tunggu--"

Blam!

Re:trace #4

"Malem, Kak."

"Malem. Oh, kalian anak kelas satu C, ya? Dulu waktu masa orientasi, sama gue, 'kan?"

"Hehehe, Kakak masih inget aja."

"Iya. Tapi maaf ya, gue lupa lagi nama lo. Kalau yang ini sih, Teru, 'kan?"

"Santai, Kak. Gue Zen. Tapi kok Kakak masih inget aja sama Teru?"

"Yah, gimana bisa lupa? Hari pertama orientasi aja dia udah tag team sama Rio, bikin rusuh di koridor kelas tiga, entah ngapain sampai koridor kebanjiran air dari WC."

"Hahaha...! Ya, engga apalah, Kak. Boleh 'kan, anak kelas satu udah numpang tenar di antara pengurus OSIS? Hehehehe...."

"Lo kalau mau tenar ngajak-ngajak dong, Ter. 'Kan lumayan buat gue cari jodoh."

"Emang kalian minat sama yang lebih tua?"

"Engga, Kak. Gue sih... lagi ngincer yang seangkatan dulu aja."

****

Serentetan kalimat itu berdenging di telinga Andreas, padahal sudah berbulan-bulan lamanya dan mungkin si pelontar kalimat pun sudah lupa. Atau hanya Andreas saja yang menolak untuk melupakannya. Toh imaji tentang pandang mata yang kemudian dijatuhkan pemuda kemarin sore itu pada gadis pujaannya terasa begitu manis dan nyata. Atau... hanya Andreas saja yang menolak untuk merekam adegan itu sebagai sebuah kenyataan pahit.

Ditambah lagi dengan lembar demi lembar formulir pendaftaran kepengurusan MPS...(i) yang baru saja disodorkan si ketua MPS ke tangannya. Andreas tiba-tiba saja merasa ruang OSIS di sekelilingnya berputar dalam spiral.

"Jadi gimana, Ndre? Calon-calon angkatan di bawah kita, potensial semua, 'kan?"

Andreas memaksakan sebuah senyum standar khasnya. "Dari prestasi akademik selama semester satu sih oke, semuanya di atas rata-rata. Dari keaktifan di ekstrakurikuler juga sama...."

"... tapi? Kalimat lo itu belum beres, Ndre."

Kali ini Andreas bisa sedikit menghela napas lega. Dia sudah tidak lagi bertanya berapa banyak orang yang memiliki kelebihan seperti Nandi dalam membaca isi pikiran manusia lain. Atau hanya Andreas saja yang terlalu transparan dan gampang ditebak--setidaknya, itulah yang berkali-kali temannya ini katakan padanya.

Pemuda itu, Dityo, kemudian tertawa lantang. "Gue temenan sama lo dari SMP, dan keliatannya lo engga pernah memperhitungkan gue sebagai orang yang deket sama lo, selain adik-adik asrama lo itu," ujar si pemuda, yang lantas melanjutkan, "Jadi lanjutannya gimana, Ndre? Ada yang lo rasa engga cocok dari calon-calon ini?"

"Bukan itu. Gue malah mengharapkan beberapa dari nama ini yang justru ngisi pendaftaran pengurus OSIS, bukan MPS."

"Hahahaha...!! Oportunis, lo! Terus, nama yang mana aja yang lo harepin sampai sebegitunya untuk masuk OSIS? Dan alasan lo? Jangan bilang semata-mata alasan pribadi?"

"Ngawur. Gue cuma merasa tiga orang ini akan lebih maju di OSIS, dan beberapa bidang OSIS pun butuh orang-orang dengan kapabilitas seperti mereka. Yang dua, gue udah tahu potensi mereka dari SMP, sementara yang satu dulunya anak didik gue waktu dia orientasi. Jadi gue tahu persis tiga orang ini lebih dan kurangnya ada di mana."

Andreas menyodorkan balik tiga set formulir pendaftaran pada Dityo, menyambut raut penasaran dan sorot mata lekat Dityo yang kemudian menyisir seksama lembar-lembar kertas itu.

Nararyana Areswata.

Nandini Areswari.

Adriantama Zein.

Andreas menangkap kikik geli yang disembunyikan oleh temannya itu. "Kalau Nara dan Nandi, kayaknya gue bisa setuju sama argumen lo. Tapi yang terakhir ini...."

Tersenyum simpul, Andreas menjawab dengan mantap. "Anak ini harus ada di OSIS. Harus dia yang jadi pengganti gue, bukan orang lain."

"Taking interest, eh, Ndre?"

Senyum simpul lainnya. Atau hanya Andreas saja yang ingin menguji bocah ingusan itu sampai ke jurang batas yang tidak bisa lagi digapai. Sampai Andreas tahu apa yang menjadi dasar pemuda itu. Sampai segala kejanggalan dalam deru laju logikanya terjawab dengan formulasi yang menghasilkan solusi pasti.

Sampai Andreas benar-benar yakin bahwa saingannya ini bukan sekedar bocah kemarin sore yang tidak patut diperhitungkan namun mampu kapanpun untuk merebut mimpi yang digantungnya membumbung tinggi di langit.

****

"Yang tadi... maaf, ya. Kalian lagi jalan dan aku malah maksa kalian pulang."

"Engga apa-apa. Aku juga sebetulnya engga begitu nyaman dengan acara kayak gitu. Apalagi Nara, mukanya udah asem banget, aku sampai engga tega. Tapi mau pulang duluan juga engga enak sama Rio yang udah ngajak main."

"Hahahaa... masih lebih nyaman jalan berlima, ya?"

"Iya. Tuh, Kakak tahu ternyata. Bahaya nih... kita udah keseringan pergi berlima, sulit banget untuk keluar zona nyaman."

"Nikmatin aja dulu. Dan aku udah nyuruh kamu berkali-kali untuk engga manggil aku pake embel-embel 'kakak' lagi, 'kan?"

"Hehehe... maaf, kebiasaan. Takutnya canggung."

"Geli tahu, saking kelamaan kalian panggil pake embel-embel itu."

"Segitunya engga pengen jadi kakak ya, Ndre?"

"... iya. Apalagi kalau jadi kakak kamu, Ndi... ogah banget."

"Terus, maunya jadi apa?"

"... Ndi, stop, please, jangan tatap mata aku atau--"

Cklek!

"... selangkah lagi lo deketin Kakak, karena gue engga peduli lo siapa, Andreas...."

"...."

"...."

"... oke, masuk ke dalem, yuk. Angin malem, engga bagus buat badan, nanti masuk angin. Dan Nara, tolong, itu beretta buat nembak monster jejadian, bukan buat bolongin kepala gue."

_________________________________________________________________________________


(i)... MPS, singkatan dari Majelis Permusyawaratan Siswa, mungkin nama lainnya MPK (Majelis Perwakilan Kelas atau Majelis Permusyawaratan Kelas... selama sekolah dulu penulis nemu dua jenis akronim ini, tergantung sekolahnya masing-masing meski definisinya sama aja). Ibarat presiden dan MPR, OSIS itu presiden dan MPS itu MPR-nya.

20140213

Re:trace #3

Akhir pekan. Hari Sabtu. Dan kencan buta untuk pertama kalinya yang diikuti Rio, juga Leyka, Nandi, dan tak lupa... Nara. Kencan buta yang diikuti oleh total peserta enam orang dari sekolah yang sama namun kelas yang berbeda... membuat Nara bersumpah untuk menjadikan kegiatan yang disebutnya sebagai buang-buang waktu itu sebagai kencan buta pertama dan terakhirnya.

Intinya, ini sama saja dengan kegiatan main-bersama dengan personel minus Andreas yang digantikan oleh Zen dan teman sekelas Zen yang lain, Teru. Dari yang berhasil Nara curi-dengar tanpa perlu bersusah payah, tema kencan buta hari ini adalah mengakrabkan Rio dan Leyka diikuti dengan pendekatan berkala antara Zen dan Nandi. Teru hanya numpang senang saja di sana, sebagaimana Nara yang mau tidak mau ikut menjadi korban numpang-memisuh sepanjang acara.

Untuk agenda pertama, Nara masih bisa tidak acuh dan tidak ambil pusing. Namun untuk agenda kedua, tentu saja. Tidak perlu lagi ada izin darinya untuk sang kakak mengikuti kencan-kencan buta selanjutnya.

Nara sendiri tidak paham apa yang terjadi, namun setelah menjejak lima belas tahun sang kakak nyatanya telah berubah menjadi ratu lebah yang sanggup mengundang berbagai jenis lebah pejantan untuk berlomba-lomba membuat sarang nyaman penuh madu cinta bersama sang kakak. Nara sudah tidak peduli apa yang terjadi, namun sudah menjadi tugas utama bagi Nara sebagai lebah penjaga ratu lebah untuk tidak sembarangan membiarkan sang ratu disengat lebah-lebah pejantan bau kencur. Menjaga Nandi dari Andreas saja sudah setengah mati rasanya, lalu sekarang Nara harus berhadapan dengan lebah pejantan besar kepala dengan degung sayap berisik seperti Zen. Kalau saja bukan karena ancaman undangan-kencan-buta-lanjutan-dari-Rio-untuk-Nandi dan tatapan maut sang kakak yang memintanya untuk bersikap sopan, mungkin Nara bisa memastikan Zen terpotong-potong rapi dan hanyut tenggelam di dasar Pelabuhan Tanjung Priok.

"Adek lo kenapa, Ndi? Lagi sakit, ya?" tanya Zen, kentara sekali berusaha terdengar ramah dan perhatian di ujung telinga Nara.

"Hahaha... engga kok, mukanya dia emang kayak gitu."

"Mukanya Nara kenapa? Asem? Ha, lo harus hidup tiga tahun dulu sama dia baru tahu dia punya ekspresi muka kayak gimana aja, Zen."

Celetukan Rio, sontak membuat satu tatapan maut dari pupil kucingnya menusuk tajam pada pemuda kontet itu. Sudah cukup Rio ikut campur dengan ritme hidupnya dan Nandi. Sudah cukup Rio mengganggu kedamaian di sarang lebah mereka. Sudah cukup Rio melemparkan celetuk-celetuk jahil yang menyengat panas di telinganya.

Bahkan, sudah cukup Rio menggeser-geser tempatnya di sisi Nandi untuk kemudian digantikan lebah pejantan lain... entah Zen, maupun Andreas sekalipun.

****

"Ndi, temennya Rio... lumayan juga, ya?"

"Siapa, Ley? Zen, maksudnya? Atau Teru?"

"Yah... aku mah kagak demen sama yang pecicilan macem anak monyet begitu, Ndi."

"Jadi, Zen...? Hmm... lumayan, sih. Kamu minat sama dia?"

"Yaa, anaknya asyik sih diajak ngobrolnya. Tapi kayaknya dia interest-nya sama kamu sih, Ndi. Meper banget kayaknya ke kamu."

"... tuh 'kan, Kak. Bukan aku aja yang ngerasa kayak gitu."

"Hahaha.... Maaf ya, kalian berdua."

"Jadi, Zen itu pelarian lo dari Andreas?"

"... ah sumpah nih mata kucing satu minta dipites banget. Engga usah bawa-bawa luka lama, bisa?"

"Terus, Rio mau lo kemanain, Le?"

"... kok, Rio? Apa hubungannya...?"

"Woi!! Ngomongin apa kaliaaan...? Tega lah, gue engga diajakin gini, padahal gue yang ngajak kalian ke kencan buta."

"Nanti, Yo. Di asrama."

"Oh. Oke, Ra."

"...."

****

Akhir pekan. Kencan buta. Dari bioskop, restoran fast food, toko buku, game center, hingga berakhir di toko cokelat dan permen penuh warna merah jambu. Jam tujuh malam. Nara semakin memantapkan hati untuk tidak lagi mengikuti kencan buta di lain hari.

"Kalian pulang sama siapa? Kalau engga ada kendaraan, mobil gue kosong, sih. SIM tembak tapi, hehehe...."

Sebuah tawaran dari Zen yang membuat wajah Nara memerah sampai telinga.

Meski surga sepertinya berkata lain... ah, Nara sebetulnya tidak tahu apakah ini merupakan suatu pertolongan dari surga ataukah ternyata tantangan perang baru dari neraka. Karena tepat ketika Rio bersikeras mereka akan pulang ke asrama menggunakan metro mini, tiba-tiba saja sosok lain sudah bergabung di antara mereka. Seorang pemuda berparas tampan, berpostur tinggi tegap dengan helai-helai rambut hitam legamnya mampir membingkai wajah bergaris lonjongnya.

Andreas.

"Di sini toh kalian rupanya. Udah pada beres? Gue baru banget dari Gramed. Kalau udah pada mau balik, bareng aja, gue bawa mobil."

Tatapan nanar dari Zen. Bongkah-bongkah mengganjal di benak Nara setidaknya terangkat sedikit. Ya, hanya sedikit. Sayangnya.

"Gue sih terserah. Yang lain, gimana?"

"Gue ngikut Nandi."

"Gue juga sama, ngikut Kakak."

"Ndi, jadi?"

Perlu waktu beberapa detik untuk ruang dan waktu menghampa di antara sorot mata Nandi dan Andreas. Seolah membekukan jarak di antara mereka. Seolah mengembuskan derak napas setajam jarum es di paru-paru Nara.

"Pulang aja, engga apa-apa? Agak engga enak kalau pulang kemaleman. Dari Pondok Indah ke Tangerang juga lumayan jauh, 'kan?"

Suasana yang sedetik menjadi canggung, yang dengan lihai disamarkan Rio dan Zen menjadi tepukan pamit dan ucapan sampai-bertemu-lagi-di-sekolah. Namun tak bisa melupakan sebuah perkenalan singkat diiringi tatapan berarti lain di antara dua lebah pejantan yang baru saja memulai ronde pertama perebutan cinta sang ratu lebah.

Nara, si lebah penjaga sang ratu lebah, harus semakin mengasah sengat dan sayapnya untuk terbang lebih cepat dan menukik lebih tajam dari biasanya.