20160803

Hutan (di ujung) Sumur #6

Derak dan derapnya merah, menari di belantara hutan rimbanya tak ayal sebatas irama peneman tidur lenanya. Sementara tubuhnya meringkuk di dalam rumah pohonnya. Hangat. Berselimut tenteram. Berbantal angan.

Mengacuhkan kobar jilat api di sekitarnya. Menghanguskan. Meluluhlantahkan. Mengirim arang demi arang mengungkung ke angkasa merah.

Aku... hidup? Sudah berapa lama....

Hutanku... terbakar...?

Ah... tidak mengapa. Bakar dan hanguskan segalanya. Biarkan dahan dan daun penuh dusta itu kembali ke tanah, bersetubuh dengan bumi.

Ia membuka matanya. Namanya yang dipanggil. Namun bukan dari bibir sumur seperti biasanya. Suara yang meratap dari seberang dimensinya. Dari ruang di antara kabut es dan gunung-gunung beku menjulang tinggi. Bersahutan di antara nyinyir tiup badai yang terhempas hingga teritorinya. Seolah berusaha menghentikan bara amarahnya.

"Kenapa kau bakar hutanmu?!"

Lengkung senyum di bibir. Melebar. Merekah menelurkan tawa. Dingin dan menggema. Bagai ringkik kuda berteriak parau ke kaki langit. Penuh kegilaan. Sarat deraan.

Karena hutanku telah tercemar. Dirusak dan diinjak oleh tangan dan kaki para muka dua. Kini biarkan hutanku meranggas. Terbakar. Menjadi abu. Hingga kusemai benih dan kupupuk akar-akar itu menjadi ranting tak berdaun, berbunga, maupun berbuah. Biarkan mereka menjadi duri. Biarkan mereka menumpahkan merah di hutan ini.

Karena yang bisa membakar hutanku bukan cuma kamu.