Bagaimana tidak? Punya sepupu imortal yang hobi tebar pesona saja sudah membuatnya mengurut dada, ditambah lagi feromon penuh dosa dari pria-mapan-berusia-akhir-kepala-tiga-namun-tampang-tampan-di-penghujung-kepala-dua itu (ngakunya) tanpa sengaja berhasil menyentil dan menjungkirbalikkan isi otak hingga ke dasar jiwa dari gadis kesayangannya itu.
Dunia sudah gila. Memang.
Bahkan sudah dari dua puluh tahun yang lalu, Rio mengucapkan selamat tinggal pada kata waras akan hal-hal yang berputar dalam otaknya.
"Astaga, Nandi! Ayah harus bilang berapa kali lagi sampai kamu ngerti kalau--"
"--aku--udah--ngerti!! Aku cuma engga setuju--"
"--apa lagi yang harus kamu engga setujuin?! Andreas itu PAMAN KAMU dan Andreas sendiri sekarang--"
"--udaaaah!! Aku engga mau denger!! Ayah sama Haru sama aja! Aku benci kalian semua!!"
BRAKK!!
"Nandi!! NANDI BALIK KE SINI KAMU...!!"
****
"Jadi gitu masalahnya?"
Satu embusan rokok. Asapnya tebal. Napas Rio nyaris tercekat.
Shinji terkekeh. "Terus, urusannya sama gue?"
"Gue butuh tau di mana Andreas."
Satu isapan lagi. Rio gatal ingin memotong-motong batang tembakau itu sampai habis.
"Terus, kalau udah tau, mau lo labrak?"
"Engga. Gue butuh bicara aja sama dia. Supaya dia bisa sedikit jaga jarak sama anak gue...."
Gendang telinga Rio lantas menangkap satu dengus tawa yang disembunyikan sempurna. "Andreas udah jarang pulang ke apartemennya, bahkan dari berbulan-bulan sebelum hubungan lo sama anak lo memburuk, dan lo masih pengen dia jaga jarak? Sejauh apa jarak yang lo minta itu emangnya, hmm?"
"... lo bisa ngomong gini karena lo engga punya anak, Shin."
Satu tawa lainnya, terkekeh. "Memang. Dan yang butuh jarak itu anak lo, atau sebatas ego lo sendiri, yang bahkan buta kalau Andreas udah punya hidupnya sendiri sekarang?"
Rio merasa tangan tak kasat mata tiba-tiba saja menghajar sisi wajahnya. Telak.
Ia hanya tinggal menyiapkan tangan besarnya sebagai seorang ayah... jika sewaktu-waktu Nandi pulang untuk bergelayut dan menangis semalam suntuk di dadanya.
Ya. Rangkul hangat seorang ayah. Dan hati besar seorang ayah.
Yang membuatnya gelisah tinggal satu... sejauh mana hati besar kebapakannya mampu memaafkan si brengsek yang tega membuat anak gadisnya merapuh sejadi-jadinya... tanpa memperhitungkan bahwa si brengsek itu nyatanya memiliki darah persaudaraan yang begitu erat dengannya?
****
"Andreee~!! Kamu ada di dalam, 'kan? Ayo buka pintunya...."
Cklek.
"Ah, halo. Cari Andreas, ya? Tunggu bentar, ya... Andreas lagi mandi."
"Kamu... siapa...?"
"Aku Kanami. Salam kenal. Ah, kamu pasti Nandi ya, keponakannya Andreas? Dia sering cerita soal kamu... waaah dilihat-lihat ada miripnya juga kamu sama dia. Ayo masuk dulu, kebetulan aku lagi bikin sarapan. Nandi mau sarapan apa?"
"A--"
Krak!