20130828

Immortality #4

Satu gebrak di meja makan. Atau tidak biasanya Rio seganas itu pada anak gadis sematawayangnya.

Bagaimana tidak? Punya sepupu imortal yang hobi tebar pesona saja sudah membuatnya mengurut dada, ditambah lagi feromon penuh dosa dari pria-mapan-berusia-akhir-kepala-tiga-namun-tampang-tampan-di-penghujung-kepala-dua itu (ngakunya) tanpa sengaja berhasil menyentil dan menjungkirbalikkan isi otak hingga ke dasar jiwa dari gadis kesayangannya itu.

Dunia sudah gila. Memang.

Bahkan sudah dari dua puluh tahun yang lalu, Rio mengucapkan selamat tinggal pada kata waras akan hal-hal yang berputar dalam otaknya.

"Astaga, Nandi! Ayah harus bilang berapa kali lagi sampai kamu ngerti kalau--"

"--aku--udah--ngerti!! Aku cuma engga setuju--"

"--apa lagi yang harus kamu engga setujuin?! Andreas itu PAMAN KAMU dan Andreas sendiri sekarang--"

"--udaaaah!! Aku engga mau denger!! Ayah sama Haru sama aja! Aku benci kalian semua!!"

BRAKK!!

"Nandi!! NANDI BALIK KE SINI KAMU...!!"


****

"Jadi gitu masalahnya?"

Satu embusan rokok. Asapnya tebal. Napas Rio nyaris tercekat.

Shinji terkekeh. "Terus, urusannya sama gue?"

"Gue butuh tau di mana Andreas."

Satu isapan lagi. Rio gatal ingin memotong-motong batang tembakau itu sampai habis.

"Terus, kalau udah tau, mau lo labrak?"

"Engga. Gue butuh bicara aja sama dia. Supaya dia bisa sedikit jaga jarak sama anak gue...."

Gendang telinga Rio lantas menangkap satu dengus tawa yang disembunyikan sempurna. "Andreas udah jarang pulang ke apartemennya, bahkan dari berbulan-bulan sebelum hubungan lo sama anak lo memburuk, dan lo masih pengen dia jaga jarak? Sejauh apa jarak yang lo minta itu emangnya, hmm?"

"... lo bisa ngomong gini karena lo engga punya anak, Shin."

Satu tawa lainnya, terkekeh. "Memang. Dan yang butuh jarak itu anak lo, atau sebatas ego lo sendiri, yang bahkan buta kalau Andreas udah punya hidupnya sendiri sekarang?"

Rio merasa tangan tak kasat mata tiba-tiba saja menghajar sisi wajahnya. Telak.

Ia hanya tinggal menyiapkan tangan besarnya sebagai seorang ayah... jika sewaktu-waktu Nandi pulang untuk bergelayut dan menangis semalam suntuk di dadanya.

Ya. Rangkul hangat seorang ayah. Dan hati besar seorang ayah.

Yang membuatnya gelisah tinggal satu... sejauh mana hati besar kebapakannya mampu memaafkan si brengsek yang tega membuat anak gadisnya merapuh sejadi-jadinya... tanpa memperhitungkan bahwa si brengsek itu nyatanya memiliki darah persaudaraan yang begitu erat dengannya?

****

"Andreee~!! Kamu ada di dalam, 'kan? Ayo buka pintunya...."

Cklek.

"Ah, halo. Cari Andreas, ya? Tunggu bentar, ya... Andreas lagi mandi."

"Kamu... siapa...?"

"Aku Kanami. Salam kenal. Ah, kamu pasti Nandi ya, keponakannya Andreas? Dia sering cerita soal kamu... waaah dilihat-lihat ada miripnya juga kamu sama dia. Ayo masuk dulu, kebetulan aku lagi bikin sarapan. Nandi mau sarapan apa?"

"A--"

Krak!

Hutan (di ujung) Sumur

Ada ceritanya tentang sebuah sumur tua. Yang tak seperti sumur pada umumnya. Ia tak memiliki atap maupun katrol untuk menimba ember. Ia tidak didirikan di sebuah kamar mandi umum yang juga bisa dipakai mencuci piring. Ia juga tidak selegendaris sumur Sadako hingga bisa memunculkan makhluk cantik gentayangan dari dalamnya.

Meski demikian, berbicara tentang wanita cantik... dialah yang menjadi jantung sumur itu.

Sumur itu didirikan di taman belakang sebuah rumah kecil tak berpagar, di mana rumah itu sering menjadi tempat singgah  jiwa-jiwa kelam nyaris berputus daya, yang hanya sekedar mampir untuk minum teh di beranda atau bermain air di kolam ikan di halaman depan. Sang pemilik rumah, seorang gadis manis berpipi tembem dengan kacamata kotak bertengger di tulang hidung melesaknya pun tak pernah terlihat letih untuk menyapa setiap tamu-tamunya yang datang silih berganti.

Atau mungkin... seperti itu yang bisa dilihat.

Kenyataan bahwa setiap manusia pasti punya batas kewajaran dan kesabarannya sendiri itu membelenggunya erat. Ia tidak ingin terlihat mengecewakan. Ia ingin menjadi sosok sempurna dalam dunianya, yang berkontradiksi dengan raga manusianya. Ironis. Sungguh.

Untungnya ia tahu ke mana harus pergi.

Sumur itu. Sumur tua di taman belakang rumahnya, taman yang tidak pernah diketahui keberadaannya oleh tamu-tamunya. Toh ia tidak pernah mengizinkan jiwa-jiwa lalu-lalang itu untuk masuk, bahkan hanya melongok melewati jendela teras sekalipun. Rumahnya terkunci rapat. Tertutup gelap-gulita. Ia hanya menyuguhkan asri dan damai muka rumahnya.

Di sumur itu ia mengadu. Ia menjerit. Meneriakkan pilunya. Menyandarkan peluhnya. Membisik lukanya. Menggemakan setiap tanya yang tidak pernah dijawab dunianya.

Untuk menunggu jawaban dari balik sumurnya....

... jawaban?

Oh ya, tentu saja. Toh ada yang selalu menjawab setiap penatnya. Masih ada suara yang selalu bergaung dari dasar sumur. Dari ujung sumur yang lain. Dari sebuah dimensi yang lain.

Suara yang sama, menggaung dan terasa begitu dekat. Dan riak air yang menampakkan wajah yang serupa dengannya, yang selalu membalas celoteh asanya.

****

Kembarannya boleh tinggal dan menjadi tuan rumah yang ramah bagi napas-napas yang diundangnya. Namun tidak baginya.

Ia sang penjaga hutan, yang kemudian dinamainya sebagai Hutan Kenangan. Hutan yang lebat dan gelap tanpa sedikitpun cahaya Matahari mampu menyelusup hingga ke tanah, dan hanya melalui sumur tua itulah satu-satunya pintu menuju hutan tersebut.

Bahkan kembarannya itu tidak pernah mampir barang sejenak. Ruang dan waktu yang berbeda untuk dijaga, dan keduanya memang ditakdirkan untuk tidak pernah saling meninggalkan tempat mereka masing-masing.

Anehnya, tetap saja ada deru napas yang berhasil lolos dan menceburkan diri ke dalam sumur, hingga berakhir di tepi Hutan Kenangannya.

Awalnya, ia mengira itu suatu kesalahan. Tak mungkin kembarannya sebodoh itu sampai membiarkan tamunya berkelana hingga dimensi yang berbeda. Tapi ternyata, disfungsi mental cukup akut ia yakini tengah menggerogoti kembarannya. Mereka yang lalu-lalang di Hutan Kenangannya adalah orang-orang bodoh dan tak tahu terima kasih. Mereka menjarah sana-sini, menebang habis kayu-kayu sekokoh jatinya, menanggalkan daun-daun hijau lebarnya untuk mendirikan pondok, bahkan menguras sungai jernihnya dari hulu hanya untuk peredam dahaga semenit saja.

Mereka boleh bilang Hutan Kenangan adalah surga. Namun ia bersumpah untuk membuktikan bahwa mereka adalah neraka baginya.

Maka ia mengutuk dalam dendamnya. Ia bersumpah untuk membumihaguskan siapa saja yang sudi menjulurkan tangan untuk keluar dari sumur tua itu. Dan ia membakar habis semuanya... jiwa-jiwa itu, pohon-pohon meranggasnya, gunung dan hulu sungainya... ia membakar habis dan melumatkan segalanya hingga tak berbekas abunya sekalipun.

Nihil. Kosong. Tinggal sumur tua di sana. Dan air sumur yang tidak pernah mengering yang kemudian menjadi benih barunya untuk menciptakan Hutan Kenangan yang baru.

Seperti itu. Terus berulang. Dan berulang. Berkali-kali.

Sampai kapan? Ia sendiri tidak tahu jawabannya.

Yang ia tahu pasti, tawanya selalu menggelegar setiap kali kuda merah berderak dan berlomba menghanguskan benci di dasar sukmanya.

****

"Ada sejumput abu yang ia kubur di dasar sumur."

"Oh, ada?" Seorang pemuda berambut ikal tersenyum tipis. Kilat penasaran mengambang di iris cokelatnya. "Kupikir, sudah tidak ada lagi yang tersisa."

Seorang gadis bertubuh mungil di samping pemuda itu lantas meninju pelan pundak si pemuda. "Jadi intinya, kamu engga boleh kalah!"

"Malu-maluin banget kalau sampai kalah. Pintu masuk ke dalem rumah udah dikasih, jangan sampai harus ngebakar isi sumur," gurau satu pemuda terakhir. Rambutnya mencuat ke sana kemari.

Pemuda berambut ikal itu terkekeh pelan. Ada rasa mengambang di matanya. Yang si gadis bertubuh mungil bilang itu cinta. Yang si pemuda berambut jabrik bilang itu tulus.

"Jadi, kapan aku boleh nyelam masuk sumur?"

Gadis si pemilik rumah hanya mampu menggemakan tawanya... hingga ke dasar sumur.

20130807

Seashore

A song fiction
Featuring Tomadoi - Fujita Maiko
_________________________________________________________________________________

Di antara seluruh pemandangan alam yang ada di Bumi, kelima inderaku yang luar biasa tajamnya ini hanya mampu menangkap tenang dan lembut alunan suara laut. Ya, laut, suatu pemandangan yang begitu akrab di ingatan bahkan semenjak kali pertama otakku mampu dipakai mengingat hal-hal di sekitarku. Sudah bertahun-tahun lamanya? Ya, dan aku tidak pernah bosen dengan bunyi debur ombak dan riaknya memecah batu karang yang selalu berbeda, tertangkap oleh gendang telingaku.

Dua belas tahun aku dibuai wangi laut, dininabobokan nyanyian angin darat setiap malamnya....

... bersama-sama dengannya, Kakak, yang sosoknya berdiri di salah satu tebing sisi laut itu begitu mesra menggelayut di dalam ingatanku.



Kaihin kouen no yuuhodou
Futari aruite
Itsumo yori sukoshi
Gouin ni kanjiru no wa ki no sei



Karena seringkali, waktu-waktu berdua yang tercipta di antara mereka,
Nara tidak pernah bisa mengerti artinya.
Rasa itu menggeliat, bergejolak, terkadang mendidih hingga ke ubun-ubun
bahkan sanggup mendisfungsikan kelima inderanya yang bagai hewan pemangsa itu.
Dan semakin ia merutuki diamnya, bahasa tubuhnya, sorot matanya,
ia hanya akan menemukan sorot sendu Nandi, menembus hingga pembuluh nadi terkecilnya.



Terkadang, aku ingin tahu hal apa saja yang selalu bercokol dalam kepala Kakak.

Kakak boleh saja memasang senyum untuk setiap detik napasnya di Bumi, tapi artinya tidak pernah sama bagiku. Aku mulai tahu setiap arti dari senyumannya. Senyum gemasnya setiap kali Rio mencomot ayam asam manis yang belum disajikan di meja makan, senyum maklumnya setiap saat Leyka meminta masukan tentang kisah cintanya yang bertepuk sebelah tangan... serta senyum manisnya yang selalu ia berikan setiap kali Andreas melempar satu bentuk senyum apapun, tak lupa disertai oleh semburat merah jambu di pipi keduanya.

Cih, menceritakan sedikit saja tentang Andreas membuatku sedikit mual.

Tapi yang tidak pernah kumengerti adalah setiap senyum yang Kakak berikan padaku. Tentu saja aku tahu senyum tipe mana... eits, aku tidak akan memberitahumu, enak saja. Yang tidak kuketahui adalah alasan mengapa Kakak memberikan senyum itu padaku.

Bahkan semenjak kali pertama aku bisa mematri segala hal tentang Kakak dalam kepalaku, senyum itulah yang kemudian berkenalan denganku.



Tomadou riyuu wa
Kowai no hikarete
Guuzen ni fureru dake de
Kodou wa myaku wo utsu
Suki ni natte mo ii no?



Nara memang tidak pernah tahu, tapi tidak sama halnya dengan Nandi.
Nandi sudah membacanya. Nandi mampu melihatnya.
Ada ruang yang tercipta di sudut hati Nara. Penuh warna. Penuh rasa. Penuh musik dan tarian indah,
dan semua itu ditujukan hanya untuknya.
Awalnya kecil, namun titik demi titik yang terajut menenggelamkan Nandi dalam kalut.
Ruang tinggalnya yang semakin melebar... namun Nandi tidak mampu menerimanya.
Karena itulah, satu senyum sendunya, dan hanya bagi Nara seorang.
Nandi memang tidak pernah bisa tahu masa depan, meski Nara pun tidak akan pernah tahu
arti di balik senyum pertama dan (mungkin) terakhirnya untuk Nara.



Kikitai kotoba
Hagurakasu you na henji
Motto shiritaku no ni



"Aku suka Kakak."

Dan Kakak tersenyum. Rambut hitam mengilapnya disibak angin laut.

"Aku juga sayang Nara."

"... tapi bukan itu jawaban yang aku ingin dengar, Kak."



Kuuki mo, anata mo
Itsumo to chigau
Dare ni demo konna modokashii
Kimochi ni naru wake janai
Kidzuite hoshii kokoro

Susunde shimau kokoro



Hati yang ingin disadari keberadaannya,
hati yang ingin disadarkan dari segala jerat lika-liku napsunya
dan satu lagi hati yang ingin melangkah jauh, bebas.
Dan untuk memilih...
Nara merasa lebih baik waktunya berhenti saja.



Shizumaru oto
Takanaru mune
Chikadzuku kyori
Toki ga tomaru



****

"Nara... Nara...!! Ra, jawab gue... please... maafin gue... maafin gue...."


Ah... Rio nangis. Kenapa?
                                              Sakit... panas....
                                                                          Waktuku... sudah mau berhenti, ya?
                                   ... tapi... Kakak engga di sini....
                                                                                      Kakak... di mana?


"Lo bedebah.... bajingan!! Bisa-bisanya... bisa-bisanya lo... DIA ADIK LO SENDIRI...!!"

"Rio...!"


Ada suara tawa... memekik...
                                                ... siapa?
                                                                                Kakak... Kakak.... Di mana--
                             --ah iya... Kakak... udah lama pergi... ninngalin aku, ya?
                                                                                                              Yang di sini... bukan Kakak...
                       ... dia neraka....
Tapi di ujung sana... ada suara laut...
                                                                ... suara Kakak... dan Kakak tersenyum....
                                                                               Ah... senyum itu....


"Ri... o...."

"Ra... Nara?! Nara lo engga--"

"--ma... af...."

"...."

.

.

.

Jangan nangis, Beke....
                                      Kalau lo nangis, gue engga bisa denger suara laut...
                ... dan bikin gue engga bisa pulang ke tempat Kakak...
... dan senyum manisnya itu terbit juga buat gue... di tempat ini... yang penuh debur ombak
                                                             ... dan wangi laut....

                                                                                                           Jadi, sampai ketemu lagi....

20130804

Immortality #3

A duet fiction
Featuring Freyr Halverg (c) Tasya Aniza
_________________________________________________________________________________

"Kana-chaaan...! Oh, ayolah... sebotol lagi engga akan bikin kamu mati, 'kan?"

Kanami tersenyum memaklumi. Segala rengekan tetangga apartemennya itu telah menjadi angin lalu baginya. Padahal keduanya sudah sama-sama menjejak tengah-tengah rentang kepala dua mereka, dan Kanami masih sering saja dibuat geleng-geleng oleh perilaku kekanakan seorang Freyr Halverg.

Toh Kanami percaya, hanya pada dirinyalah lelaki balsteran Jepang-Eropa itu bisa menunjukkan wajah lain dari segala bentuk topeng yang dimiliki.

Ah ya, semua orang memang bertopeng. Dan apakah keluguan lelaki di hadapannya ini juga merupakan salah satu bentuk topeng yang lain?

Kanami tertawa lepas. Tangannya mengulur satu botol sake besar dan menggoyang-goyangkannya tepat di depan kedua mata Freyr. "Minggu depan, traktir aku makan sampai puas di kaitenzushi*) di Funabashi, oke? Tanpa botol sake terakhirku, aku engga tahu malam ini aku akan berakhir jadi apa."

"Sudahlah... biasanya si dia akan mengajakmu keluar untuk minum-minum dan akan kembali berakhir di tempat tidur, toh? Dan kau juga masih berhutang satu perkenalannya denganku," kilah Freyr, namun tanpa ragu mengambil botol hitam itu dari genggaman Kanami.

"Sekalian malam ini saja, bagaimana? Toh pacar barumu itu juga akan datang menjemputmu sekarang, 'kan? Meski aku heran, Freyr... perempuan mana yang hobi menghabiskan sebotol sake setiap kali berkencan denganmu, bahkan sampai bolak-balik menjemputmu ke apartemen? Aku tidak habis pikir...."

Dan Kanami tidak pernah mendapatkan jawaban berupa kata-kata dari bibir lelaki itu. Atau setidaknya, tidak untuk selang waktu tiga puluh empat menit ke depan.

****

"Kamu ngapain di sini?"

Shinji melempar pandang singkat sebelum menjawab pertanyaan dan sirat keheranan Andreas yang baru saja turun dan mengunci pintu mobilnya. "Hmm? Oh, jemput temen. Lo sendiri?"

"Sama. Jemput juga."

"Hmm...."

"Kok lucu, ya? Kita baru selesai misi, pulang ke kamar apartemen masing-masing... dan sekarang ketemu lagi di sini."

Shinji menyalakan rokoknya. Asap membumbung tinggi, menjawab pertanyaan Andreas.

Derap langkah menuju lobi. Guruh tawa dan langkah lain tergesa-gesa dari tangga. Untuk berikutnya dijemput empat bola mata membelalak dan tentang kemelut kenyataan yang... entah untuk ditangisi atau untuk ditertawakan.

"Malem, Shin. Udah lama nunggu?"

"Baru dateng. Itu... botol sake?"

"Yup. Aku dapet ini dari Kana-chan, tetanggaku. Kana-chan, kenalin, ini Shinji. Loh? Kamu dateng sama Andreas, Shin?"

"...."

"... Nami... ini...?"

"... err, Freyr... kenalian, ini Andreas... pacar baruku."

****

"... kamu engga pernah bilang kalau Freyr itu pacarnya... partner kerjamu."

"Kamu sendiri engga pernah bilang kalau kamu dan Freyr itu tetanggaan."

Diam yang tidak biasa, dan menggantung.

"... terus... cowok tulen...?"

Andreas menaikkan sebelah alisnya. "Bukannya kamu seharusnya udah biasa dengan hal-hal berbau percintaan sejenis? Kamu dicampakkan tunanganmu juga alasannya karena--"

"--karena tunanganku menyukai teman sesama jenisnya, oke, dan tolong jangan ingatkan aku akan hal itu, Andre! Astaga... ini gila. Gila, sungguh... rasanya kepalaku mau meledak. Iya, gila, sangat...."

Satu senyum melengkung. Dan bibir Andreas yang menempel tepat di daun telinga Kanami, embus napas yang terasa bagai racun memabukkan.

"Kamu sendiri yang mencintai seorang makhluk imortal dan menyiksanya untuk menonton kematianmu nanti, bukankah kamu juga sama gilanya, Nami?"

_________________________________________________________________________________

*) conveyor sushi