20140905

Hutan (di ujung) Sumur #5

"Manusia itu abu-abu."


"Di antara hitam dan putih?"


"Ya. Dan segala hal di dunia tidak ada yang benar-benar putih dan benar-benar hitam."


"Lalu mengapa Tuhan menciptakan malaikat dan iblis?"


"Karena kita hidup di dunia, Sayangku. Dunia adalah abu-abu. Manusia itu pula abu-abu. Lain ceritanya jika kau hanya memiliki kartu kependudukan surga atau neraka saja."


"Manusia tercipta di antara malaikat dan iblis?"


"Karena manusia adalah makhluk sempurna dari keduanya, Sayangku. Sempurna karena memiliki hitam dan putih itu dalam bejana raga yang sama."


"Bagaimana jika di matamu hanya terdapat satu warna saja, antara hitam atau putih?"


"Berarti kau hanya punya satu unsur dalam dirimu. Silakan pilih. Unsur itu dinamakan Id dan Ego. Ada pula yang menamainya Logika, Nurani, dan Napsu."


"Yang mana yang hitam dan yang mana yang putih?"


"Tidak ada yang tahu, Sayangku. Karena, sekali lagi, manusia adalah abu-abu. Lima macam nama itu bahkan tidak sanggup manusia definisikan mana putih dan hitam."


"Kalau abu-abu tercipta dari hitam dan putih, kenapa manusia tidak bisa memisahkannya?"


"Memang kau sendiri tahu, abu-abu milikmu itu terdiri dari berapa persen putih dan berapa persen hitamnya?"


"...."


"Bergembiralah, Sayangku. Kita adalah manusia yang mengerti tentang abu-abu di sekeliling kita. Polikromatik putih-hitam yang tidak akan pernah, sekalipun, kau menemukan dunia hanya dilukis Tuhan oleh putih dan hitam tanpa tercampur setitik pun. Tuhan sangat menyayangi manusia. Tuhan tidak membiarkan kedua warna ini saling mendominasi untuk kemudian saling meniadakan satu sama lain."


"Lalu... apa jadinya mereka yang hanya melihat hitam atau putih?"


"Itu adalah keputusan mereka. Dan klise adalah di mana kau turun tangan untuk mencampur kedua warna itu di hadapan mereka."


"Jadi mereka, tidak bahagia?"


"Bahagia adalah dengan menerima. Bahagia adalah dengan bersyukur. Apa jadinya jika kau menampik kodratmu? Akankah kau bahagia, Sayangku?"

20140901

What's Under the Red Bean Paste

Project K, a fanfiction
Disclaimer: GoRA & GoHands
Kings (c) Night Antares, semi-alternate universe
_________________________________________________________________________________

1 September. Seperti biasa. Dengan sebuah alasan klise paling manis--atau setidaknya paling bikin perut jungkir-balik dan tengkuk merinding mual, menurut Yata Misaki--Kusanagi Izumo akan menendang semua orang dari bar kesayangannya.

Semua orang. Ya, tolong catat itu. Karena nyatanya sang bartender tidak segan untuk 'menendang' rajanya sendiri sampai tuan putri tercinta HOMRA.

1 September yang kemudian akan dihabiskan Mikoto untuk tidur di sofa sebuah kondominium mewah milik sang Raja Biru--yang kerap sering masuk dalam fase habis-sabar dan sangat terobsesi untuk menumpahkan satu ember susu stroberi ke atas wajah tidur nan malas seorang Suoh Mikoto. 1 September yang kemudian akan dilalui Anna dengan berjalan-jalan berkeliling kota bersama Totsuka Tatara dan Kamamoto Rikio untuk membeli baju baru atau sekedar makan crepe vanila kacang. Dan 1 September yang kemudian harus dijalani Yata Misaki karena selalu terlibat dalam pertempuran Gagak vs. Monyet karena pada hari tersebut adalah tanggal wajib bagi Fushimi Saruhiko untuk mendapatkan waktu libur--berterima kasih pada dua atasannya yang tidak pernah absen ambil cuti di tanggal yang dimaksud.

Juga 1 September... yang membuat delapan orang personel khusus Munakata Reishi garuk-garuk belakang kepala, entah mensyukuri hari libur 'lokal' mereka karena absennya tiga orang atasan terhormat, atau harus merutuki nasib dan ikut lomba siapa-cepat-pesan-kamar-rumah-sakit demi menyelamatkan organ pencernaan dari satu liter pasta kacang merah yang sudah terpaket sempurna di depan pintu kamar asrama masing-masing.

Pasal permasalahan semua terletak pada tanggal 1 September itu sendiri, di mana 1 September merupakan hari ulang tahun dan hari kelahiran bagi sang vice commander Scepter 4, Awashima Seri.


****


Aquarium Shizume City, pukul satu tepat, Izumo menunggu di depan gerbang masuk dengan dua lembar tiket di tangan kanan dan tangan kiri di balik punggung, menyembunyikan satu buket tulip merah. Tanpa sempat melirik ulang pada panel jam di PDA-nya, derap langkah ritmik dari sepasang heels membuatnya mengangkat kepala... ah, mademoiselle tercantiknya hari ini sudah tiba, rupanya.

"Selamat siang, Mademoiselle. Kau tampak menawan sekali hari ini," ujar Izumo, menyelipkan dua lembar tiket di saku blazer hitamnya untuk kemudian menarik tangan Seri dan mengecup punggung tangan sang letnan Scepter 4. Wanita cantik yang bersangkutan hanya mengerjap sepersekian detik, kentara tidak siap menghadapi manuver menggelitik dari sang bartender, hingga akhirnya Seri tertawa pelan dan balas membungkuk.

"Kau selalu punya gayamu sendiri untuk membuatku lengah, Kusanagi. Terima kasih banyak. Dan boleh kuminta hadiah ulang tahunku sekarang?"

"Ahhahahaha~ kau benar-benar wanita agresif, Seri-chan. Baiklah, satu tiket masuk aquarium dan satu buket bunga tulip merah, jika kau tidak keberatan tentunya."

Menyerahkan buketnya, dan detik berikutnya berkuntum tulip merah itu sudah dipeluk erat di dada Seri, "Sungguh romantis, Kusanagi. Padahal kau tahu aku paling tidak suka warna merah."

"Karena tulip merah memiliki makna lain, Mademoiselle."

Tatapan memicing. Curiga. Disamarkan dalam sebentuk senyum simpul. "Yaitu...?"

"Pernyataan cinta."


****


Ini bukan kali pertama Seri mendengar kabar miring di telinganya mengenai sejumput rasa yang tersimpan di benak sang bartender kenamaan HOMRA, dengan namanya yang terukir indah sebagai tujuan dari untaian rasa di benak seorang Kusanagi Izumo. Si shitsuchou-nya sendiri kerap kali menasehati--kalau tidak mau dibilang 'memperingatkan'--dirinya tentang perbedaan tipis antara fase menyangkal dan jual mahal ("Jual mahal itu perlu, tapi kau tidak bisa selamanya menggunakan dalih tersebut untuk menutupi fase penyangkalanmu, Letnan," atau begitulah kata-kata shitsuchou, kalau Seri tidak salah ingat).

Yang lebih mengherankan adalah ketika Valentine beberapa bulan lalu dan sebuah homemade chocolate tiba di atas meja kerjanya (dark chocolate 75% kesukaannya dengan campuran aroma brandy dan tak lupa pasta kacang merah sebagai filling-nya, rasa yang pas sempurna di lidahnya, dan Seri tahu hanya ada satu orang di dunia--ya, ini bukan metafora maupun hiperbola berlebihan--yang tahu seleranya hingga se-detail itu), diikuti seringai tipis di wajah sang third in command yang dilanjutkan dengan kalimat sinis, "Letnan, sampai kapan kau mau menggantung Kusanagi-san seperti ini, eh?"

Sungguh. Kalau tidak ingat bahwa fakta membunuh Fushimi Saruhiko di tempat akan menjadikannya sasaran-pukul-bat-kasti-seumur-hidup oleh si vanguard HOMRA, mungkin Seri tidak segan untuk memutilasi Saruhiko dan menenggelamkan pemuda bermulut tajam itu di teluk terdekat.

Maka dari seluruh hal yang telah disebutkan itulah Seri hanya terdiam dan berusaha menikmati setiap detik yang tersaji dari kebersamaan hari liburnya, ditemani Kusanagi Izumo di sisinya. Izumo tidak sekalipun mencuri kesempatan untuk saling menautkan jemari, namun Seri pun tidak bisa berpaling setiap kali Izumo memandunya--mempersilakannya untuk melangkah terlebih dahulu di eskalator naik dan menyusul Seri satu undakan di setiap eskalator turun, membukakan pintu taksi, hingga hari menggelap keduanya tiba di bar HOMRA, dan Izumo dengan gesturnya yang tidak dibuat-buat mempersilakan Seri masuk hingga menarik kursi bar untuknya.

Seri yakin, bahkan shitsuchou-nya sekalipun tidak akan bisa memperlakukan wanita dengan lihai dan anggun seperti ini. Sesempurna seorang Kusanagi Izumo.

"Pesanan Anda untuk malam ini, Mademoiselle?"

"Hmm... kuserahkan padamu, Kusanagi. Berikan aku racikan cocktail terbaik darimu untuk hari spesialku ini."

"Suatu kehormatan untukku kalau begitu."

"Ah, dan jangan lupa pasta kacang merahnya."

"... baik, Mademoiselle."

Mengulum tawa tertahan di mulut, Seri memperhatikan sang bartender dan kelihaian kedua tangan dalam mencampur bahan-bahan yang dibutuhkan untuk meracik cocktail kejutan baginya. Diam-diam, betapa jantung Seri kerap kali berlari setiap kali sang bartender memperlihatkan kemampuannya. Aura mempesona yang menarik sepasang matanya untuk tidak berpaling. Raut wajah matang dan mantap setiap kali sang bartender memilih dan meraih botol-botol koleksi alkohol dari rak beserta bahan-bahan komplementer lainnya. Seri sering lupa bernapas. Seri sering terlarut hingga melupakan di mana dirinya berada, posisi dirinya, maupun latar belakang merah dan biru yang membayanginya serta Izumo.

"Silakan, pesanan Anda di hari istimewa ini, satu gelas Sea Breeze, perbandingan 4 vodka, 12 sari cranberry, dan 3 sari anggur hitam, dilengkapi topping pasta kacang merah dan hiasan potongan lemon, semoga menjadi hidangan penutup yang tepat untuk menyempurnakan hari ulang tahun Anda, Mademoiselle."

"Cranberry dan anggur hitam, Kusanagi? Perpaduan untuk melambangkan merah dan biru, begitu?"

Sang bartender hanya menjawab dalam gumaman bernada riang. Seri tertawa seraya menenggak isi gelas birnya. Rasa hambar vodka yang tertutup sempurna oleh asam manis cranberry dan anggur, tanpa memalingkan lidahnya dari serat pasta kacang merah... semuanya terasa begitu pas.

Ah, Kusanagi Izumo memang tidak pernah gagal untuk memuaskan indera perasanya.

Namun sesuatu yang kemudian menarik perhatian Seri. Tepat ketika cocktail-nya tinggal bersisa seperempat, dan sendoknya menyentuh benda padat di dasar gelasnya.

"Lebih baik kau keluarkan sebelum kau berakhir menelannya bulat-bulat, Seri-chan."

Mengernyitkan kening, Seri menyendok dasar gelas birnya.

Untuk kemudian menemukan jantungnya yang berhenti berdetak. Barang sepersekian detik lamanya.

Sebuah cincin. Disepuh emas putih. Pada matanya terdapat sebuah safir berkilau, ditemani dua rubi mungil di kanan-kiri.

Seri kehilangan kata-kata.

Lalu sebuah lagi diputar dari jukebox di sudut ruangan. The Way You Look At Me.

Sementara sosok sang bartender yang kini berdiri di sampingnya.

"Ku--kusanagi...."

"Aku hampir patah hati ketika kau tidak mempertanyakan arti tulip merah siang tadi, Seri-chan. Meski aku tahu aku sama bebalnya seperti Mikoto, orang paling keras kepala di HOMRA, sehingga aku tidak berhenti mencoba hingga detik terakhir sebelum hari ini berakhir. Dan cincin itu adalah satu dari bentuk keegoisanku yang lain."

Lidah Seri kelu. Kata-kata menguap dari kepalanya. Bahkan ia tidak bisa berbohong dari pipinya yang mulai terasa memanas.

Sayangnya, kebiasaan Seri bersilat lidah tidak akan membantunya maupun menyelamatkannya dari apa yang mulutnya lontarkan secara spontan berikutnya.

"Memangnya bentuk keegoisan apa lagi yang bisa kau lakukan untukku, Kusanagi?"

Dentang tawa Izumo memecah di telinganya. Dan dalam satu gerakan cepat, sang bartender menggamit tangan Seri, mendaratkannya tepat di atas dada bidang laki-laki itu.

"Berdansalah denganku."

"Ta--tapi aku--"

"--aku akan memandumu, jangan khawatir."

Dan Seri terlarut. Dalam wangi alkohol. Dalam alunan lagu-lagu ballad yang mengiring hentak kaki dan lenggok tubuhnya. Dalam sepasang tangan yang erat merangkul sisi tubuhnya, terasa begitu aman menjaganya. Dalam wangi tembakau yang menguar dari pria di hadapannya.

Tanpa lagi peduli merah dan biru. Tanpa peduli status dan julukan.

Dalam diri seorang Kusanagi Izumo, dan Seri tahu ia mampu menyandarkan seluruh hidupnya di pundak laki-laki itu.


****


I don't know how or why
I feel different in your eyes
All I know is it happens every time

'Cause there's something in the way you look at me
It's as if my heart knows you're the missing piece
You make me believe that there's nothing in this world I can't be
I never know what you see
But there's something in the way you look at me

.............................................

[The Way You Look At Me - Christian Bautista]


****


"Kau tahu, Izumo? Caramu memberiku cincin barusan adalah termasuk modus paling jorok yang pernah kutemui seumur hidup."

"Setidaknya kau menerimanya, 'kan, Seri?"

"Aku akan merindukan caramu memanggilku dengan akhiran -chan."

"Dan aku pun akan merindukan panggilan 'Kusanagi' darimu. Meski mendengar namaku terucap dari suara indahmu itu bukanlah hal yang buruk sama sekali."

"Hmm~ kau memang pandai merayu, Izumo."

"Jadi, selamat ulang tahun, Mademoiselle, My Lass."

"Terima kasih banyak, Monsieur."


****


Dan suatu keajaiban adalah ketika tanggal 2 September, khusus pada kali ini, sang vice commander Scepter 4 melangkahkan kaki ke dapur dan menemukan segunung pasta kacang merah yang teronggok di kulkas kafetaria Scepter 4, tidak tersentuh sama sekali. Alih-alih mengguratkan pitak di wajah ayunya maupun meneriakkan satu perintah hukuman pada delapan orang bawahannya, yang bersangkutan hanya menghela napas dan kembali menutup pintu kulkas, berjalan tenang meninggalkan dapur kafetaria.

Awalnya tidak ada satupun dari kedelapan personel khusus milik si shitsuchou yang berani menatap--atau bahkan sekedar curi-curi pandang--ke arah sang letnan demi mencari setiap jengkal perbedaan yang terjadi dalam diri Awashima Seri... tidak sampai kemudian sebuah e-mail masuk ke dalam PDA Saruhiko, raut wajah Saruhiko yang berubah, antara kentara menahan tawa namun mati-matian memasang wajah datar--yang nyatanya berhasil membuat Saruhiko benar-benar terlihat seperti orang senewen yang sedang menahan sembelit. Dan tidak butuh waktu lama hingga shitsuchou masuk ke ruang kerja mereka, lalu melempar pandang pada benda melingkar yang tersemat di jari manis tangan kanan Seri.

"Selamat dan semoga berbahagia, Awashima-kun. Apakah kau masih bersedia untuk kuundang minum teh berdua saja di ruanganku? Aku ingin mendengar detail kejadiannya, secara lengkap. Ah ya, dan kuharap kau tidak keberatan untuk memberikan masukan terhadap beberapa, masalah, yang sedang kualami belakangan ini."

Ketika kedua atasan mereka meninggalkan ruang kerja, Saruhiko tahu meja kerjanya tidak akan berhasil selamat dari kejaran dua orang biang gosip yang punya mulut paling ember di seantero Scepter 4. Oh ya, berterima kasih pada Hidaka dan Doumyouji, karena beberapa detik kemudian seluruh PDA dinas milik delapan personel Munakata Reishi itu dihiasi oleh foto eksotis seorang Kusanagi Izumo yang tanpa rupa setelah seluruh wajah dan separuh tubuh habis dicoleki oleh krim berwarna merah jambu, serta di pojok foto tampak sang tuan putri HOMRA tengah mengulum cokelat pipih yang berisikan tulisan, 'Selamat karena telah berhasil menjinakkan si Heartless-Woman, dear Kusanagi Izumo~!'.

20140831

Crimson Violet

K: Missing Kings, a fanfiction
Disclaimer: GoRA & GoHands
_________________________________________________________________________________

Aura merah dan biru.
Merah yang indah, berbaur bersama biru yang sama-sama cantik.

Meski terasa begitu salah.

Merah itu tidak seharusnya berada di sana.
Tidak seharusnya menggema bersama biru.

Aura merah dan biru.
Sosok pedang agung biru menghiasi langit malam.
Hari itu hujan.
Sementara tetesan hujan yang seolah memburamkan keping-keping pecahan sang pedang agung.

Aura merah dan biru.
Hujan yang belum berhenti mengguyur deras. Ganas.

Sementara si pemilik pedang bersimpuh di atas lututnya.
Sekujur tubuh gemetaran.
Tangan pucat yang memeluk tubuhnya sendiri.

Jatuh.
Si pemilik pedang jatuh.
Dalam dukanya.
Dalam lukanya.
Dalam masa lalu dan--yang menurutnya--adalah dosa baginya.

Aura merah dan biru.
Hujan yang belum berhenti mengguyur deras. Garang.
Pedang agung yang mengguruh di atas kepala.
Keping-keping yang terserak. Pecah. Berantakan.
Siap menghantam bumi.

Sementara si pemilik pedang bersimpuh di atas lututnya.
Jatuh.
Berteriak.

Menyambut pedang agung yang meluncur turun dari langit.


****


"Tidak biasanya kau datang ke kantorku dan setengah memaksa untuk mengadakan pertemuan denganku, Raja Merah."

Anna terdiam. Meski sepasang rubinya tajam menilik ke dalam ungu milik sang Raja Biru.

Reishi tersenyum.

"Ada apa, Anna?"

"... Reishi... belum bisa melepaskan?"

Senyum di wajah sang Raja Biru lenyap seketika. Oh, kedua raja di ruangan itu sudah tahu ke mana arah perbincangan akan bermuara.

Selalu. Tentang orang itu.

"Ah, aku tentunya tidak bisa berbohong di hadapanmu bukan, Anna?"

"Reishi sudah cukup berbohong pada diri sendiri. Juga pada Seri. Pada Saruhiko. Pada Izumo. Maupun anak buahmu sendiri. Reishi... masih mau berbohong?"

Sakit. Rasa itu menjelma di benak sang Raja Biru.

Satu gerakan cepat. Anna setengah berlari, mendekati Reishi, untuk menubrukkan tubuh mungilnya pada sang Raja Biru yang masih duduk tenang di singgasana kebesarannya.

"... Anna...."

"Lepaskan Mikoto, Reishi... Mikoto ingin Reishi hidup... dan bahagia.... Makanya Reishi... makanya...."

Satu desah napas. Sebentuk senyum yang dipaksakan. Namun rasanya teramat pahit.

Tangan Reishi yang kemudian balas mendekap sang Raja Merah. Menyesap hangat dari merah yang nyaris berkelit kabur dari sudut ingatannya.

"Maaf, Anna. Tapi aku... sudah tidak tahu lagi apa arti kata bahagia itu sendiri...."

.

'Karena aku menolak untuk bahagia tanpa dirinya.'

.

20140827

Hutan (di ujung) Sumur #4

Terkadang, kau masih bisa menemukan kepak sayapnya, hinggap di puncak tertinggi pohon ara. Terkadang, kau masih sanggup menemukan sosoknya, terduduk gagah dengan sebelah kaki menjuntai turun pada satu-satunya lubang pohon pada ara menjulang hingga angkasa itu.

Dan seringkali, senyumnya akan menyapamu, ketika ia melompat turun dari dahannya untuk menyapamu di kaki pohonnya.

"Kau masih mencariku? Merindukanku?"

Kau hanya bisa menatap nanar pada sepasang mata elangnya yang tajam namun merapuh.

"Kau tahu kau akan selalu menemukanku di sini. Aku akan selalu ada."

Sementara kau hanya diam terpaku. Lidahmu kelu. Tubuhmu kaku.

Dan ketika ia merentang lengannya untuk kemudian membungkusmu dalam satu dekap penuh jalaran rasa semu, sesuatu dalam dadamu akan menyesak. Sakit yang meluap. Air mata yang kemudian tanpa kau sadari tumpah meruah.

Satu kecup di keningmu.

Saat itu kau akan tahu.

Saat itu, dia mencintaimu.

"Sampai jumpa di mimpimu yang lain. Jangan pernah mencariku ketika kau membuka matamu nanti."

Dan saat itu kau akan tahu.

Sampai nanti, dia akan menunggumu. Dalam keabadiannya.

20140813

Happy Birthday, My Majesty Red King

K: Missing Kings, a fanfiction
Disclaimer: GoRa & GoHands
dedicated for Mikoto's birthday, August 13rd.
_________________________________________________________________________________

13 Agustus. Musim panas menyengat. Mentari yang mulai naik dari selepas dini hari menjadi alasan tersendiri bagi Reishi untuk menderap langkah pelan--namun mantap--ke pekarangan sebuah pemakaman. Lengan kanannya menenteng sebuah keranjang anyaman, bau teh hijau menguar dari dalam, sementara lengan kirinya memeluk satu buket bunga, dihiasi cosmos--daisy kecil berwarna putih, lili putih, dan bunga matahari.

Cosmos yang katanya tentang kemurnian. Lili yang dalam bahasa Jepang--ironisnya--tentang pemenggalan kepala.

Namun juga bunga matahari... yang memiliki arti sesungguhnya sebagai cinta yang terpendam.

Tubuhnya berbelok dan ia menghentikan langkahnya tepat di depan sebuah batu nisan kelabu yang membisu. Ia mengamati batu itu lekat-lekat. Mengamati kelabu yang masih bersih tanpa lumut serta pahatan nama yang belum lapuk dimakan usia.

Nama yang tertera di sana adalah Suoh Mikoto.

Lengkung di bibir Reishi terulas. Ia berjongkok di hadapan nisan itu, meletakkan bunga pada altar sempit di depan nisan, lalu merogoh isi keranjang, menemukan dupa, kemudian membakarnya. Kedua tangan yang kemudian terkatup depan wajah. Matanya terpejam. Hatinya menggulirkan doa.

Sebuah doa yang tulus. Yang selalu, sebenarnya, diiringi dengan sebuah permintaan maaf.

Permohonan ampunan.

Reishi membuka mata, tersenyum kecil sembari mengeluarkan sisa isi keranjangnya. Dua buah cawan hitam dan setermos teh hijau. Reishi menyeduhkan satu cawan yang lantas ia letakkan di altar sempit tersebut, sementara satunya lagi tergenggam di tangannya.

Ia mulai menghirup tehnya. Reishi lalu menyesap tehnya.

"Hampir dua tahun berlalu, Suoh. Bagaimana kabarmu?"

Suaranya mengalun. Tidak gemetar. Tidak ada getir. Meski sarat kerinduan. Seolah Reishi tengah menyapa seorang teman lama dan teman itu akan membalas kata-katanya.

"Anna sudah jadi Raja Merah yang baru sekarang. Kau tidak perlu cemas. Klan Biru dan Merah kini memiliki kesepakatan damai yang tidak pernah terucap. Kau bisa tenang sekarang... atau kau memang sebenarnya selalu tenang setiap saat dan tidak lagi memedulikan segala hal trivial yang terjadi di dunia. Aku bisa membayangkannya, Suoh, kau bergelung manja, tertidur dan mendengkur rendah di pangkuan anggota klan kesayanganmu itu."

Reishi meneguk lagi teh hijau dalam cawannya. Lengkung senyum tidak pernah pergi dari wajahnya.

Meski sesuatu dalam dadanya mulai memerih.

"Aku... akan baik-baik saja, Suoh. Damocles-ku mulai meruntuh... sama sepertimu saat itu. Namun aku tahu aku tidak akan sebodoh dirimu yang membiarkan diriku dimakan oleh kekuatan itu. Aku menerima takdirku sebagai Raja Biru."

'... menerima tanggung jawab dan konsekuensi karena telah membunuh seorang raja. Ironisnya, itu adalah kau, Suoh.'

Menghabiskan isi cawannya dalam satu tegukan, Reishi lantas membereskan termos dan cawan miliknya, memasukkannya kembali ke dalam keranjang, namun tetap membiarkan cawan satunya mengepul hangat di altar Mikoto.

"Terakhir... selamat ulang tahun, Suoh."

Yang kali ini, Reishi tidak mampu menahan pahit yang mendesak ingin meluncur dari pangkal lidahnya. Suaranya bergetar.

"Semoga kita bisa bertemu lagi di ruang dan waktu yang lain. Dan jika saat itu tiba, kupastikan bahwa akulah yang akan datang menemuimu, memastikan bahwa persimpangan takdir kita tidak akan pernah menjadi sebentuk tragedi satir lainnya."

.

Tiupan angin dingin. Menyelusup, menggelitik kulitnya yang terbalut seragam lengkap Scepter 4. Reishi terbelalak. Sementara indera penciumannya menangkap semilir tembakau yang akrab di ujung ingatannya, bersatu dengan aroma teh hijau dari cawan yang ditinggalkannya.

Reishi terpaku. Reishi tercekat. Ia tidak bisa bernapas.

Meski ia tetap tersenyum.

Ada tetes perak meluncur, membingkai sisi wajahnya.

.

"Terima kasih, Munakata. Kau tahu? Aku mencintaimu. Selalu."

.

Reishi melepas kacamatanya. Mengusap sisi wajahnya perlahan. Tetes perak itu tidak muncul lagi. Ia kemudian menenggerkan kacamatanya lagi di atas batang hidungnya, tidak peduli matanya yang masih terasa panas dan dadanya yang sesak. Diserbu jalaran kehangatan.

Mengangguk dan membungkuk. Reishi menenteng keranjangnya dan berbalik, setelah sebelumnya melontarkan kalimat perpisahannya.

.

"Aku tahu. Terima kasih dan sampai jumpa, Suoh. Aku mencintaimu."


****


"Karangan bunga dan... cawan berisi teh hijau...?"

Anna mengangguk-angguk penuh semangat menanggapi sorot Misaki yang kebingungan.

"Kita selalu kalah cepat dan kali ini yang kedua kalinya ya, Anna," tambah Izumo, menyalakan rokok dengan jentikan jemarinya. "Ini masih jam delapan pagi dan aku heran jam berapa tepatnya orang itu tiba di sini."

"Reishi tidak punya satu hari penuh untuk berkabung ataupun merayakannya seperti kita, Izumo. Reishi punya tugasnya sendiri. Dan lima menit di pagi harinya sangatlah berharga untuk ia habiskan di tempat ini. Mengobrol dan minum teh bersama Mikoto."

"Mereka mengobrol, Anna?"

Anna mengangguk lagi menjawab pertanyaan Izumo. Sang pemilik bar yang kemudian melayangkan tatapan pada nisan kelabu itu.

Tidak ada lagi kata yang ditukar. Sepuluh orang yang berdiri di depan nisan Mikoto itu lantas terdiam, menunduk dan berdoa dan kekhusyukan masing-masing. Hingga terakhir, mereka semua berpandangan, saling melempar senyum, lalu membisik.

.

"Selamat ulang tahun... raja kami, Suoh Mikoto."

20140708

Hutan (di ujung) Sumur #3

It hurts.
It hurts. It hurts. It hurts. It hurts. It hurts.

It hurts so much to know that you'd still care enough to share.
To laugh and to tease.
To smile.

To be rejected, in the end.
Like you used to be.
By me.

It hurts.
It hurts. It hurts. It hurts. It hurts. It hurts.

And it hurts me too much just to hurt you.
Like how I used to.
Hurting you.

Yet here I am.
Standing still, bleeding.
As always as I will be.

It hurts.
It hurts. It hurts. It hurts. It hurts. It hurts.

It hurts to know in the end.
It is me who's being hurt all the time.

Dream-mist

"Asa, suatu hari... kau dan aku...."

"Kita akan... selamanya...."

.

.

.

"Asaka-senpai?"

Ia mengerjap. Kacamatanya nyaris melorot dari batang hidungnya. Dan pemandangan wajahnya yang mengantuk telak menjadi bahan tertawaan untuk Rio--yang langsung kena jurus-cubitan-maut dari Leyka.

"Ngantuk, Senpai?"

Ia mengangguk, sembari menarik kacamata dan menekan pangkal tulang hidungnya keras. "Beberapa malam ini aku susah tidur. Mungkin jam biologisku masih belum melupakan ritme penelitian malamku."

"Atau mungkin... Senpai sedang ada beban pikiran?"

Kali ini Leyka yang melemparkan pertanyaan padanya. Manik biru Leyka kentara bercampur cemas dan menuntut jawab darinya. Ia menghela napas. Menyempatkan diri untuk menempelkan cangkir di ujung bibirnya, menyesap wangi teh hijau yang telah bercampur dengan susu.

"Aku tidak bisa mengelak darimu sepertinya, hei calon dokter?"

Perempuan di hadapannya itu menggembungkan pipi.

"Habisnya... kantung mata menebal dan pipi yang semakin tirus. Senpai sudah berkecimpung dengan penelitian malam semenjak empat tahun yang lalu, tidak mungkin kalau baru jetlag sekarang, 'kan?"

Mendengus menahan tawa. Ia hanya bisa menatap substansi koloid yang kini berwarna hijau pucat dalam cangkirnya.

"Iya, Ley. Sepertinya aku sakit."

"Ahahaha.... Sakit lima huruf yang huruf depannya r dan huruf belakangnya u itu ya, Senpai?"

Ia tersenyum lagi. Kali ini menenggak habis isi cangkirnya.

"Ley, pacarmu ini... boleh kusikat pakai sikat WC?"

"Silakan, Senpai. Mau pakai sikat kawat juga boleh."


****


"Akito, dipanggil kepala bagian, tuh...!"

"Aaaarrghh...!! Sebentar, sebentar...!! Tinggal satu slide lagi, aduuuuuhh...!!!"

"... haahhh.... Lo kebiasaan, deh. Masa kerjaan dari dua bulan lalu terus lo tumpuk semua seminggu ini? Gila apa ya, lo? Dasar setan deadline."

"Wataruuu berisiiiiikk...!! Mendingan lo tolongin gue isiin tinta printer, deh!"

"Iyaa iyaaa...."

"...."

"Udah kontak sama Asaka?"

"Huh? Oh... udah."

"Hmm~ terus...?"

"Terus... apa? Oh, yah... dia sakit, udah semingguan kurang tidur. Engga ngobrol banyak soalnya gue suruh dia langsung tidur semalem. Tapi gue engga yakin dia tidur, sih... mengingat dia baru offline lima jam setelahnya."

"Oooh~ makanya lo langsung beresin proyek terakhir lo semingguan ini, ya? Udah pesen tiket balik, belum? Kalau mau balik, gue titip furikake, ya...! Sama boleh lah dakimakura sebiji... lo fotoin yang lagi booming di sana apa, nanti gue pilih gue mau nitip yang mana."

"...."

.

.

.

"Wataru, lo gerecokin gue terus, atau gue beliin lo dakimakura versi karakter cowok, mau?"

20140612

Ring-a-Bell

Bravely Default: Flying Fairy, a fanfiction
Disclaimer: Kensuke Nakahara, Square Enix
_________________________________________________________________________________

"Ringabel, ini kopi hitam yang kau minta."

Aku menoleh, dan Edea tiba di sampingku dengan segelas kopi hitam yang mengepulkan uap-uap tipis, beserta lipatan selimut di tangan satunya. Tidak biasanya ia jauh-jauh membawakan minumanku dari bar ke geladak kapal. Biasanya ia akan berteriak-teriak memanggilku dari pintu bar dan ujung-ujungnya akan memarahiku yang seringkali membiarkan kopi seduhannya mendingin di atas meja.

Aku mengambil gelas dari tangannya dan tersenyum. "Trims, Edea. Ini benar kopi pesananku, 'kan? Tidak tertukar dengan kopi susu pesanan Tiz lagi?"

"Astaga, Ringabel... aku baru saja membuatkannya untukmu dan Tiz sedang berada di ruang mesin bersama Datz. Kau ini... kita hanya pernah salah tertukar gelas kopi satu kali saja dan kau sudah rewel seperti ini."

Aku tertawa. Edea, Edea... kau benar-benar lucu dan menggemaskan.

Aku lalu menyeruput kopiku. Rasanya panas dan pahit. Rasa yang kental. Sensasi yang biasanya melegakan kerongkonganku, yang kali ini terasa lebih... entahlah, pekat menyesakkan? Aku tidak tahu. Sensasi itu tidak muncul dari pangkal lidahku sekalipun. Rasa itu... muncul jauh dari benak terdalamku.

"Ringabel? Kau pucat... kau tidak apa-apa? Apakah... ingatanmu kembali lagi?"

Aku hanya tersenyum kecut dan menghela napas. Edea, betapa aku tidak bisa memberitahumu tentang apa yang saat ini berputar dalam kepalaku. Sebagai pemuda amnesia yang baru saja mulai berhasil mengingat-ingat potongan memorinya... ingatan yang kumiliki ini ternyata bukanlah hal yang menyenangkan. Sama sekali. Catat itu. Dan aku bersumpah bahwa aku lebih baik kehilangan ingatan se-la-ma-nya, daripada aku harus kembali melihat memori itu.

Ingatanku di hari aku... seolah kehilangan segalanya. Aku, Alternis Dim, salah satu dari enam petinggi Eternia, orang yang paling mencintai seorang Edea Lee di seluruh pelosok Luxendarc--oh ya, aku berani menjamin hal itu--harus berakhir tragis dengan memeluk jasad mendingin satu-satunya gadis yang kucinta.... Jangan salahkan aku jika aku lantas mengambil jalan pintas dan merusak dunia paralel yang lain, merasuk sebagai seorang Ringabel sang pemuda tampan penderita amnesia seraya tidak mengacuhkan adanya eksistensi nyata dan tunggal seorang Alternis Dim pada dunia paralel tersebut.

Oh ya, aku mungkin memang mengacaukan segalanya. Dan aku harus melakukannya, karena aku tidak bisa... aku benar-benar tidak bisa jika aku harus....

Harus....

Sebuah kehangatan tiba-tiba saja menyelimuti. Dan Edea, membentangkan selimut dari tangannya untuk menyelubungi tubuhku, rapat. Betapa jantungku nyaris berhenti berdetak ketika ia kemudian bersandar di pundakku. Terlihat begitu nyaman, begitu menikmati.

Sementara aku hanya bisa diam terpaku.

"Ringabel, ceritakan padaku... apa yang kau lihat? Masa lalu seperti apa yang kau lalui?"

Itu bukanlah masa lalu, Edea. Yang kulihat adalah sebuah dunia yang lain, di mana aku harus kehilangan dirimu dan... dan aku tidak bisa hidup tanpamu.

"Kau dan Alternis... kenapa wajah kalian betul-betul identik satu sama lain? Ah ya, dari pertama kali aku mengenal Alternis dan ia sama sekali tidak pernah membuka topengnya...."

Aku adalah Alternis, Edea. Aku adalah eksistensi yang sama seperti pemuda yang kau rutuki karena loyalitasnya pada ayahmu. Dan aku pernah menjadi eksistensi itu, Edea. Aku pernah mengalami dunia di mana kau membenciku... dan jika aku mengatakannya padamu, apakah kau akan kembali membenciku? Menjauhiku?

"Ringabel, kau ini... sebetulnya siapa?"

Lagi-lagi aku terdiam dan menghela napas. Namun sebelah tanganku yang semula bebas kini bergerak, di luar kesadaranku sendiri, menyusuri pinggang Edea dan menariknya dalam rangkulanku.

"Ri--Ringabel...?"

Aku tidak mempedulikan reaksi tubuhnya yang kaku, setengah hati ingin menolak meski setengahnya yang lain, aku tahu, sama-sama ingin semakin memperkecil jarak yang ada di antara aku dan dirinya. Aku tidak peduli apakah setelah sisi temperamen dan keras kepalanya berhasil melampaui situasi melankolis romantis seperti ini, ia akan kembali memukuli kepalaku atau mencubiti lenganku. Karena yang berputar dalam kepalaku kini hanyalah eksistensi tentang dirinya.

Sudah empat kali aku mengulang siklus dunia paralel yang sama. Yang pertama adalah satu-satunya dunia di mana aku kehilangan Edea. Dan jika dunia keduaku adalah dunia di mana aku tidak tahu siapa aku namun bidadari kecil ini masih bisa tersenyum dan tertawa... maka aku rela menukarnya. Akan berapa kali lagi? Aku tidak tahu, silakan tanya pada Agnes atau si peri mencurigakan itu.

Yang pasti, sumpahku hanya satu. Edea akan kupastikan selamat, tidak peduli ratusan atau ribuan kali lagi aku harus mengulang siklus dunia.


****


"Hey, Ringabel...."

"Ya...?"

"Sungguh lucu ketika setiap kali harus aku yang memicu ingatanmu untuk kembali."

"Ahahaha... mungkin karena kaulah dewi cantik yang membunyikan bel dalam kepalaku, Edea."

"... tidak lucu, Ringabel. Aku heran, Alternis tidak pernah sekalipun merayuku, dan kenapa setelah kehilangan ingatan lalu kau menjadi monster tukang tebar pesona seperti ini? Haahhh... aku benar-benar tidak bisa memahami kalian."

"Tidak perlu kau pahami soal yang itu, Edea. Itu urusanku dengan masa laluku. Yang perlu kau pahami cuma satu."

"Hmm? Apa itu memangnya?"

"Ringabel atau Alternis... pilih mana?"

.

.

.

"HOOIII KALIAN BERDUAAA...!!! Jangan bikin ribut di geladak kapal atau kutinggalkan kalian di Funk Francesca bersama hantunya Barbarossa...!!"

20140608

If I Were A....

Project [K], a fanfiction
Disclaimer: GoRA & GoHands
_________________________________________________________________________________

Desing nyaring pedang yang menggasak roda papan seluncur. Berkali-kali. Tanpa henti. Entah sudah yang ke berapa kali atau sudah berlangsung selama berapa jam. Izumo dan Seri bahkan sudah jengah dan terlalu lelah untuk menghentikan adu jotos kelas kakap imbisil tersebut.

Ditambah lagi, hari ini pertengkaran 'Monyet vs. Gagak' itu konon katanya ditengarai oleh lontaran kalimat seenak jidat dari si tersangka Monyet Bodoh yang tiba-tiba saja bertandang ke apartemen Gagak Temperamen, khusus untuk menyampaikan patah-patah katanya dalam bentuk bisikan di daun telinga si Gagak.

"Ne, Misaki... seandainya kau perempuan, kau sudah kunikahi sejak dulu."

Maka jangan heran kalau satu detik setelahnya seorang Fushimi Saruhiko lantas dihujani lemparan sendok, garpu, pisau daging, penggorengan, katel, penanak nasi, sampai kompor listrik. Tidak puas dengan aksi melempar-seisi-apartemen pada si tersangka yang melarikan diri dengan setelan wajah mesum, Misaki menyambar papan seluncurnya dan mengejar Saruhiko ke jalan.

Terjadi lagi. Ya, entah sudah berapa kali, dan warga Kota Shizume sendiri sepertinya sudah terbiasa dengan 'kiamat kecil' di kota mereka.


****


'Seandainya kau perempuan....'

Misaki menggeleng-gelengkan kepala, bahkan hampir bermaksud membenamkan kepalanya ke tembok terdekat. Karena kalimat bisikan penuh gelegak menggairahkan yang terus menghantuinya, tanpa ampun.

'Seandainya kau perempuan, kau sudah....'

....

"AAAAAAAAARRGHHH MONYET SIAALLAAAAANNN...!!!!"

--bugh!!

Kepalanya telak menghantam sesuatu. Sayangnya benda empuk, bukan benda keras semacam tembok atau meja.

Oh, rupanya ada yang sengaja melemparkan bantal padanya agar tembok apartemennya tidak jadi berlubang seukuran kepala batunya.

"Berisik, Mi--sa--kiiii~~... kau tidak lihat aku sedang kerja?"

"TAPI KENAPA KAU HARUS KERJA DI APARTEMENKU, DASAR KAU MONYET--"

Dan Misaki tidak bisa melanjutkan kata-katanya. Berterima kasih pada eksistensi benda lembut yang dingin dan menyegel erat bibirnya rapat-rapat. Jarak di antara ia dan Saruhiko yang raib dalam satu manuver dari Saruhiko. Misaki tidak bisa bernapas. Wajahnya merona sejadi-jadinya.

Namun Misaki juga tidak melawan. Tidak bergerak. Hanya terdiam. Membisu.

Menikmati.

....

"Sa--Saru... sudah, ah.... Kau 'kan sedang kerja...."

"Heeee... mengaktifkan mode tsundere-mu ya, Mi--sa--kiiii? Lagipula, siapa tadi yang menggangguku terlebih dahulu dengan niatan membuat tulang tengkorak retak sembari meneriakkan nama salah satu penghuni kebun binatang? Kau jahat sekali, Mi--sa--kiiii...."

"Haaaahh.... Iya, iyaaa, aku minta maaf.... Sudah, aku mau berangkat kerja sambilan. Kalau kau mau pulang ke asramamu, kuncinya letakkan saja di pot bunga seperti biasa. Jam kerjaku sampai toko tutup jam sebelas, jadi kau tidak perlu menungguku."

"Hmmm...."

"... ne, Saru?"

"Ya?"

"... tidak. Tidak jadi. Nanti saja. Sudah, ya...!"

--blam!!


****


Misaki ingin menyangkalnya. Menyangkal segala rasa manis dan pahit yang menggeliat di benaknya, yang melahirkan jutaan kepakan kupu-kupu yang melilit di perutnya. Rasa yang selalu hadir dan menyeruak setiap kali pemuda itu hadir dalam dunianya, tersebut namanya dari sudut otaknya, maupun imaji yang kerap kali memenuhi isi otaknya, mematri figur itu ke manapun Misaki menoleh dan melangkahkan kaki.

Yang jadi pertanyaan... bolehkah?

Atau malah... bisakah?

Karena pada kenyataannya, ketika Misaki pulang kerja begitu larut seusai ritual pertengkaran mereka siangnya, tidak seperti biasanya, Saruhiko belum beranjak dari apartemennya. Dan pemuda itu menyambutnya, dengan lengkung hangat di antara kulit pucat itu, disertai aroma menggoda sup miso dan ramen rasa kari yang Misaki ingat betul belum tercium ketika ia pergi dari apartemennya tadi.

Rasa itu kembali menyeruak. Membutakan matanya. Mengisi jiwanya. Menguapkan lelah raganya.

Misaki tidak bisa menahan bibirnya untuk melengkungkan sebuah senyum yang sama.


****


"Jadi, tadi kau mau tanya apa?"

"Heh? Tanya... yang mana?"

"Yang sebelum kau berangkat kerja."

"... ha? Memang tadi aku mau tanya apa?"

"...."

"...?"

"... Misaki, kau ini benar-benar...."


****


'Kau janji, tidak akan pernah meninggalkanku, lagi?'

'Ya.'

'Kita akan memulai semuanya lagi, bersama, tanpa peduli akan status klan kita?'

'Ya. Dan aku ingin kau berjanji satu hal padaku.'

'Apa?'

'Jangan pernah tinggalkan aku, lagi.'

'Ya.'

20140427

Kings #5

Project [K], a fanfiction
Disclaimer: GoRa and GoHands
_________________________________________________________________________________

Bar HOMRA, Izumo menuang minuman racikannya dengan pandangan antara ngeri dan mual. Bagaimana tidak? Cocktail kebanggaannya yang kaya akan rasa pahit dan manis kini harus ditambahkan pelengkap berupa pasta kacang edamame... berterima kasih pada seorang pelanggan setia yang juga merupakan maniak pasta dan selai kacang kelas mahawahid. Izumo menelan ludah dan menyuguhkan minuman tersebut pada sang pelanggan... padahal ini sudah kali kedua puluh satu Izumo menyajikan substansi maut itu dalam berbagai variasi.

Tetap saja, untuk seorang Awashima Seri, cocktail pesanannya sudah menjadi sekelas minuman raja-raja Bangsa Babylonia.

"Terima kasih minumannya," ujar Seri, dengan anggun menenggak cocktail-nya perlahan, juga memunculkan gurat-gurat panggilan-muntah-di-tempat pada wajah tampan Izumo.

"Eh iya, sama-sama...," dengus Izumo, masih berusaha seramah dan sesopan mungkin pada pelanggan berkelakuan minusnya. "Lalu, ada berita apa untuk hari ini, Seri-chan?"

Letnan Scepter 4 itu meletakkan gelasnya yang sudah setengah kosong di meja bar, lalu pandangannya beralih menyusuri rak-rak koleksi minuman beralkohol si bartender. "Biasa saja. Pihak militer negara yang protes atas penghasilan pajak yang dipotong untuk menggaji Scepter 4, Hidaka yang harus dirawat permanen setelah tujuh belas kali ditendang White Bean Tofu Stew, Kapten Munakata yang bolak-balik mengunjungi kediaman Raja Emas di sela-sela waktu sibuknya--entah untuk apa, dan...."

"Dan...?"

Mata Izumo menyelidik. Seri melengkungkan bibirnya dan sudah gatal ingin berbicara.

"Fushimi mengajukan cuti kerja selama satu minggu."

Telinga Izumo tergelitik. Kali ini ia yang mengulas senyum tipis. Kali ini Seri yang menatap penuh rasa ingin tahu.

"Kau tahu alasannya?"

"Ha...! Dia 'kan anggota Scepter 4, kenapa harus aku yang tahu alasan dia cuti seminggu?"

"Apa ini tidak ada hubungannya dengan Raja Merah yang baru?"

Izumo tergelak. Seri menaikkan sebelah alisnya.

"Yata-chan? Mungkin ada. Karena hampir satu minggu rajaku hanya mampir ke bar barang satu-dua jam saja, dan setelah itu dia pergi lagi."

"Ke mana?"

"Entah. Tim mata-mata yang diketuai oleh Kamamoto dan Shouhei mengatakan bahwa Yata-chan menyibukkan dirinya dengan berbagai macam kerja sambilan... jadi penjaga supermarket hingga kuli angkut bangunan."

"Hee.... Raja Merah, sedang krisis keuangan?"

"Jangan bercanda, Seri-chan. Mikoto saja bisa hidup hanya dengan uang dari barku ini, lalu kenapa dia tidak bisa?"

Seri mengangguk-angguk, lalu menghabiskan minumannya dalam beberapa teguk. Wanita itu berdiri, melangkah meninggalkan bar, setelah sebelumnya melempar pandang dan senyum manis pada Anna yang, sebetulnya, sedari tadi duduk diam di sofa, menguping percakapan para orang dewasa itu sembari memainkan kelereng merahnya.

Suara kecil Anna kemudian tertangkap ujung gendang telinga Izumo. "Kau tidak mengatakannya dengan lengkap."

"Mengatakan... apanya?"

"Alasan Misaki sibuk kerja."

"Karena tidak ingin menumpang hidup padaku, begitu 'kan?"

Anna mengangkat kelerengnya, mengintip Izumo dari balik bola kaca merah menyala itu.

"Izumo... kau pembohong kelas kakap."

****

"Ada perkembangan?"

"A--Kusanagi-san...! Masih sama, dalam dua puluh menit lagi dia akan bergerak menuju tempat penjual bento."

"Bagus, ikuti terus. Kalau ada perkembangan, jangan lupa beri tahu aku."

"Kusanagi-san, mau ke mana...?"

"... menghubungi mantan anggota HOMRA."

"... eh??"

****

"Halo, di sini Fushimi."

"Ara, Fushimi-kun... kau tentunya sudah membaca pesan di PDA-mu bahwa--"

"--Letnan Awashima bergosip apa lagi kali ini, Kusanagi-san?"

"Hei, jangan sewot dulu. Aku melakukan ini untuk membantumu."

"... aku tidak butuh bantuan."

"Hahhaa~ Fushimi Saruhiko si anggota Scepter 4 masih jadi Fushimi-kun yang tsundere, eh?"

"... tch, kau memang merepotkan. Ya, aku sudah membaca pesanmu. Lalu? Jangan bilang Kapten Munakata tiba-tiba saja memberiku izin cuti karena ikut bersekongkol denganmu."

"Loh? Bukannya kau sendiri yang minta cuti?"

"... tch. Sudahlah. Jadi rencananya, seperti itu?"

"Betul sekali. Dan ingat, Monyet Bodoh, dia melakukan ini untukmu, jadi kau pun harus melakukan hal serupa--"

"--Tidak perlu diingatkan, aku sudah tahu. Tch... menyebalkan."

"Dan ingat bahwa ini juga merupakan--ehm, balas jasa antara Raja Biru dan Mikoto, jadi...."

"... bahkan Kapten Munakata pun tidak bisa melepaskan tali nasibnya bersama Mikoto-san, begitu?"

"Dia hanya tidak ingin kalian berdua mengalami nasib yang sama."

"... tch. Kalian ini benar-benar sekumpulan orang-orang yang senang ikut campur."

"Hahahaaa... kau bisa katakan itu berkali-kali nantinya, Fushimi-kun. Dan... selamat datang kembali di HOMRA. Selamat berjuang."

"... tch."

... trek.

Tut... tut... tut....


20140425

Kings #4

Project [K], a fanfiction
Disclaimer: GoRa and GoHands
_________________________________________________________________________________

"HUAAAAAAA...!!!!"

Bunyi berdebam benda jatuh. Memekak telinga. Jantung berpacu kencang. Kusanagi Izumo tidak bisa menahan dirinya untuk tidak panik dan berlari menyambangi kamar si raja cilik di lantai dua bar miliknya. Astaga... baru saja tiga menit ia tiba di bar dan rajanya sudah bikin ulah lagi. Dua hari yang lalu rajanya bermimpi aneh tentang dijejali satai kelinci oleh Raja Biru hingga tanpa sengaja membakar habis kasurnya sendiri... lalu lima hari yang lalu rajanya juga bermimpi dikejar-kejar segerombolan kuda putih bersayap dengan Kamamoto Rikio menunggangi kuda paling depan, lengkap dengan setelan jubah a la bangsawan kuno di abad 18, sehingga--konon di dalam mimpi, katanya--si raja kecil berusaha melenyapkan pasukan kuda putih itu namun dengan bayaran Bar HOMRA yang nyaris dilalap kuda merah hanya dalam waktu kurang dari lima belas menit.

Semua ini hanya karena sepenggal frase: mimpi buruk... atau mimpi konyol?

Izumo bersumpah. Raja barunya itu harus dipaksa mengikuti sesi terapi kesehatan jiwa dan kelas managemen emosi diri.

Namun kali ini, Izumo tidak mencium bau pelitur ruangan yang terbakar. Matanya tidak bertemu asap hitam. Telinganya tidak menangkap derak-derak raungan si kuda merah. Tidak biasanya.

Izumo memutuskan untuk mengetuk pintu.

"Yata-chan... kau tidak apa-apa?"

Terdengar suara dari dalam. Serak. Gemetaran.

"Masuk saja... Kusanagi-san... tidak dikunci."

Izumo membuka pintu kamar... kemudian menemukan Yata Misaki terduduk di atas ranjangnya. Dada naik-turun. Pupil mengecil. Sekujur tubuh pemuda itu mandi peluh.

"Yata-chan... mimpi buruk lagi?"

Raja kecilnya tidak menjawab. Raja kecilnya hanya melipat lutut dan menenggelamkan wajahnya. Lalu terisak kecil.

Sepertinya sebentar lagi Izumo akan mengalami serangan jantung stadium satu.

Dihampirinya si raja kecil. Izumo lantas duduk di sisi ranjang, menepuk pelan rambut berantakan Misaki. Tidak berkata apa-apa. Izumo menunggu rajanya menenangkan diri.

"Saru... Saru...."

Izumo menghela napas. Entah mengapa, situasi ini sudah terbayang jelas di otaknya dari beberapa saat yang lalu, terutama tentang nama yang baru saja diucapkan Misaki.

"Si monyet itu, kenapa?"

"Aku melihat... dia mati...."

Yang kali ini, Izumo benar-benar seperti disambar petir. Ia pikir rajanya bermimpi dikejar-kejar si monyet bodoh itu, disudutkan di suatu gang, beralih pada pertempuran tak terelakkan, sampai pada akhirnya si monyet akan mengaku berbagai hal, dari alasan berkhianat hingga sebagai tertuduh pencuri kaos oblong sang raja.

Rupa-rupanya tidak. Atau Izumo mungkin sudah terlalu terbiasa berimajinasi mengenai mimpi unik yang selalu diceritakan Misaki padanya.

"Aku melihat Totsuka-san... lalu Mikoto-san... satu-satu lenyap dibakar api dan jadi abu, menghilang.... Lalu Saru... dia juga... dia...."

"Sudahlah, semua cuma mimpi."

Kata-kata Izumo tidak pernah sampai di telinga Misaki. Pemuda itu tetap menggigil, dengan lengan terjulur dan jemari yang menggenggam erat ujung kemeja Izumo.

Sekali lagi, Izumo menghela napas.

Rajanya kini tidak akan pernah bisa dijinakkan sebagaimana ia mampu menjadi pengendali emosi raja sebelumnya. Tidak bisa dirinya, tidak juga Rikio, Chitose, Bandou, Eric, atau Anna sekalipun. Rajanya sudah punya penarik tali kekangnya sendiri, meskipun semua orang tahu bahwa tali itu dibawa kabur oleh seekor monyet bodoh yang tak bertanggung jawab dan membiarkan semua orang menanggung akibat dari perbuatan imbisilnya itu.

Tidak ada yang bisa menjadi seorang Fushimi Saruhiko di HOMRA. Dan tidak ada seorang pun yang bisa menggantikannya, terutama bagi Misaki.

****

"Fushimi-san hari ini kenapa? Sewot banget dari pagi...."

"Engga tahu. Kata Kamo-san yang ketemu di kamar mandi pas sikat gigi, mata Fushimi-san udah merah banget dan agak bengkak."

"Dia habis berantem? Sama siapa?"

"Atau habis begadang dan mabuk sake?"

"Hei, meski jenius umurnya masih di bawah dua puluh tahun, loh...."

"Bengkaknya bukan bengkak ditonjok gitu, sih. Aneh tapi bengkaknya... kayak...."

"Kalau kata Kamo-san sih... kayak mata istrinya kalau habis nangis semalam suntuk."

"Hahahahaa... becanda banget. Mana mungkin Fushimi-san...."

"... tapi iya, sih... belakangan, atau udah seminggu ini dia jadi aneh. Gampang marah, sewot... denger-denger Letnan Awashima kemarin baru nyembur Fushimi-san gara-gara sepiring anko yang dibanting tepat di mata Letnan...."

"... minta dibunuh di tempat banget tuh sama Letnan Awashima...."

"Kamarku sebelahan sama kamarnya Fushimi-san... dan emang beberapa malem ini aku kebangun terus gara-gara suara aneh dari kamarnya. Suara semacam benda dibanting lah, setelah sebelumnya dia teriak-teriak kayak habis dapet mimpi buruk atau kedatengan setan."

"Hahahaa... ya kali kedatengan setan. Orang macem dia sih mana percaya yang begituan?"

"Berarti... mimpi buruk?"

"Oh ya... dia juga sempet manggil-manggil nama orang."

"Eh? Manggil-manggil siapa?"

"Engga tahu, engga jelas. Sesuatu yang ada 'Misa'-nya... kayak nama cewek."

"Hooo... jadi Fushimi-san, mimpi buruk soal cewek?"

"Eh, emang dia punya pacar?"

"Misa... Misa... hmm, kayak pernah denger nama itu di mana, ya?"

"Tanya orangnya aja, gimana?"

"Dih, ogah. Mending aku makan satu panci bubur kacang hijau buatan Letnan Awashima ketimbang nanya langsung hal ini ke Fushimi-san."

"Hahahaha... gila kalian. Udah, ayo kerja lagi...!"

.
.
.

Saruhiko menggeram dari balik pintu. Niatnya urung untuk memasuki ruang kerja. Sepertinya ia hari ini akan minta cuti pada sang atasan untuk jalan-jalan dan membersihkan pikirannya. Ya, pikirannya yang penuh akan percakapan menyebalkan para rekan kerja yang membuatnya selalu teringat pada pemilik warna madu di balik kupluk bulukan, yang selama tujuh hari ini terus menghantui setiap malam-malam gelapnya....

... dalam kubangan darah dan tubuh terkulai lemah yang akan selalu ia peluk di akhir mimpinya.

20140424

Kings #3

Project [K], a fanfiction
Disclaimer: GoRa and GoHands
_________________________________________________________________________________

Bar HOMRA sedang tutup. Katanya merayakan satu bulan hari jadi raja kecil mereka yang baru. Padahal bilang saja hari itu Izumo sedang kehabisan persediaan alkoholnya dan Kamamoto Rikio yang diduga mengalami ritual akhir musim dinginnya... ya, ritual beruang kutub hibernasi.

"King, mau minum apa?" Izumo menawarkan raja kecilnya dengan santai, setelah membagikan sisa eggnog pada anggota HOMRA yang lain... yang tentunya sudah mencapai umur ilegal untuk mengkonsumsi alkohol.

Dari ujung ruangan, terdengar suara serak Eric Surt bergumam dalam Bahasa Inggris-nya.

"Cihuahua tidak minum alkohol, Kusanagi-san."

Maka jangan heran kalau si raja kecil, Yata Misaki, langsung menggebrak meja dan memburu Eric dengan aura merahnya yang meletup-letup.

"Kau--berhenti berbicara denganku dengan bahasa asingmu itu...!! Kau pikir aku TIDAK MENGERTI apa yang kau ucapkan, hah? HAH?! Kusanagi-san, dia tadi mengejekku, 'kan...?!"

"Yata-chan~ kalau marah-marah kau jadi makin mirip cihuahua, loh...."

"JANGAN IKUTAN NGEJEK JUGA, KUSANAGI-SAN--"

"Tapi bukannya King belum legal buat minum alkohol, ya?" tambah Chitose sambil menyeruput dalam-dalam minumannya, membuat si raja kecil menggaruk-garuk bagian belakang kepalanya.

""Heeiii... tujuh bulan lagi umurku dua puluh tahun...!" sembur Misaki, semakin kesal. Izumo lantas tertawa dan menepuk-nepuk punggung rajanya.

"Jadi, Yata-chan mau minum apa?"

Misaki terdiam sesaat, sampai ia memberikan jawabannya yang--

"... susu."

--membuat hampir separuh isi bar menyemburkan isi minuman yang telah dikulum di mulut masing-masing, ditambah Rikio yang jatuh terjungkal dari kursinya.

"Yata-san...."

"... cihuahua...."

"... minum...."

"... SUSU...???!!!!"

Lalu hening yang melanda. Antara Misaki yang mendadak kehilangan akal untuk menanggapi reaksi berlebihan para bawahan ataupun para bawahan yang tidak tahu lagi ekspresi apa yang harus ditunjukkan menghadapi jawaban maut sang raja kecil.

"Yata-chan, kamu sakit?"

Tidak butuh satu detik lebih lama lagi untuk membuat Misaki berteriak kesal dan berjalan menghentak-hentak kaki penuh amarah, kembali ke kamarnya di lantai dua. Namun tidak butuh satu menit lebih lama bagi Izumo untuk mengantarkan segelas susu hangat ke kamar rajanya... tentunya dengan menyembunyikan cengiran lebar agar wajah tampannya tidak habis terbakar emosi labil sang raja cilik.

****

Kantin Scepter 4. Benzai Yuujirou dan Hidaka Akira yang saling berpandangan dalam gugup.

"Fushimi-san...."

"... sayurnya...."

Fushimi Saruhiko menoleh. Berdecak. Meninggalkan bekas makan malamnya dan melangkah keluar dari kantin dalam langkah terburu-buru.

Cukup lima menit jeda waktu yang dibutuhkan sampai kabar burung tersebut tiba di gendang telinga Munakata Reishi.

"Jadi, kamu sudah bisa makan sayur?" tanya Reishi, tanpa nada interogasi, pada Saruhiko di ruang minum teh pribadi milik ketua Scepter 4 itu.

"Tch. Urusan Anda?"

"Tidak ada," jawab Reishi, menyodorkan segelas teh hijau ekstra pekat ke hadapan Saruhiko. "Aku hanya berpikir, perubahan signifikan ini akan berujung pada persimpangan jalan yang membawamu pada... persimpangan lain yang telah kau lalui."

"... jadi intinya...?"

Reishi menyesap teh hijaunya. Bibirnya melengkung sempurna dalam beragam makna.

"Kau mau pergi, Fushimi-kun?"

Membelalak mata. Disusul decakan berikutnya.

"Tidak berniat, Kapten."

"Tapi kau tahu separuh dirimu tertinggal di persimpangan jalan itu."

.
.
.

Decakan lain. Saruhiko menenggak cepat-cepat tehnya dan mohon pamit pada Reishi. Ia harus cepat kembali ke kamar asramanya. Kepalanya sakit. Perutnya melilit. Mungkin efek terlalu banyak makan sayuran....

... atau terlalu dalam jatuh pada masa lalu yang mati-matian tengah menggapainya untuk kembali.

20140417

Kings #2

Project [K], a fanfiction
Disclaimer: GoRa and GoHands
Also a little bit from K - Lost Small World
_________________________________________________________________________________

"Merah...."

Misaki menoleh pada Anna, sementara gadis kecil itu tengah mengamatinya lekat-lekat tanpa perlu mengintip dari kelereng merahnya.

"Yata... merah...."

"Oh... errr... mungkin karena aku sudah jadi... raja?"

Misaki gelagapan. Ia masih tidak suka mengucapkan kata terakhir dalam kalimatnya itu.

"Merah... seperti Mikoto...."

... eh?

Sontak tawa Izumo memecah dari balik bar, diikuti teriakan panik Kamamoto yang nyaris memecahkan gelas wine mahal dan antik koleksi pribadi sang pemilik bar.

"Tuh, 'kan, Yata-chan? Anna sudah bilang, loh... lalu apa lagi yang bisa kau sangkal?"

Misaki mendecak lidah. Semburat kemerahan mampir di tulang pipinya yang sama sekali tidak menonjol. Perlu berapa lama lagi sampai ia bisa membiasakan diri dengan titel barunya itu?

****

"Fushimi-kun, laporan pengejaran strain kemarin...."

"Ini, Ma'am."

"Fushimi-kun, dokumen tentang perdagangan senjata ilegal dari blok sembilan...."

"Sedang diunduh, Ma'am."

"Fushimi-kun, Domyouji-kun bilang kau belum menandatangani laporan yang ia kerjakan...."

"Sudah ditaruh di meja Kapten, Ma'am."

"... Fushimi-kun...."

"Iya, Ma'am?"

"... bisakah kau melepaskan pandanganmu dari layar komputer? Aku berbicara di sebelahmu, bukan dari dalam layar. Oh, bahkan kau memberikan laporanmu dengan--tangan--kirimu. Kau mulai tidak sopan, Fushimi-kun."

"... tch."

"Perlu kuberitahu Kapten Munakata tentang kondisimu supaya kau dibebastugaskan untuk menyelesaikan segala permasalahan di kepalamu itu?"

"... maaf, Ma'am?"

"Iya, isi kepalamu sedang kacau. Dan jangan kau pikir aku tidak tahu, Fushimi-kun."

... heh, jangan ngawur. Kau memang tidak tahu apa-apa, perempuan cerewet.

"Ah ya, dan jika kau sedang senggang, aku sudah menaruh pasta kacang merah dan bubur kacang hijau di kulkas kamar asramamu. Jangan lupa kau makan atau aku akan memberi porsi yang lebih banyak lagi."

"...."

"Fushimi-kun, jawabanmu?"

"... iya. Terima kasih banyak, Ma'am."

****

"Fushimi, kenapa kau memilih jalan ini?"

Kenapa? Kenapa... apakah penting untuk kau ketahui, Totsuka-san? Dan kenapa kau yang bertanya? Kenapa kau yang mengejarku dan bertanya... dan bukannya....

Oh ya. Dia sudah pernah bertanya. Hanya saja aku tidak memberikan jawaban yang sebenarnya. Aku berbohong.

Hahaha....

"Jawaban pertanyaan itu bukan untukku. Kau simpan saja, untuk kau jawab pada seseorang, suatu saat nanti."

Tch, senior hobi ikut campur yang dengan mudahnya mati tertembak calon raja gila.

Mati... kau memang sudah mati, ya, Totsuka-san? Bersama dengan Mikoto-san... sehingga dia kini harus menjadi raja.

"Fushimi, kenapa kau memilih jalan ini?"

Tch.

Sial.

Sial. Sial. Siaaaall...!!

"Kenapa... Saruhiko...?!!"

****

"Birunya... memerah...."

Kali ini Anna mengintip dari balik kelereng merahnya. Misaki hanya memperhatikan, setengah tidak tertarik, kebanyakan bosan. Yang menangkap maknanya adalah Izumo.

"Biru? Menjadi merah?"

Gadis kecil itu mengangguk. "Ia bimbang. Antara merah... dan biru. Masa lalu... atau masa sekarang. Tidak mau membuang... tapi tidak mau meraih....

"Saruhiko itu...."

Sekejap Misaki membeku, tubuhnya menggigil ngilu sebagai reaksi dari nama yang Anna ucapkan dengan lirih. Misaki tidak percaya. Tidak ingin percaya. Ia menatap Anna. Lekat-lekat. Ia ingin tahu lebih banyak akan apa yang Anna lihat. Kalau bisa, ia ingin melihatnya sendiri. Dengan kedua matanya.

Namun Anna tidak mengatakan apa-apa lagi. Ia menyimpan kelerengnya dan berjalan anggun menaiki tangga menuju kamarnya di lantai dua. Misaki terdiam, dihampiri juluran tepukan pemberi semangat dari Izumo.

"Yata-chan, terakhir kau bertemu si monyet itu, dia bilang apa?"

Ditanya seperti itu, lidah kelu Misaki tidak bisa berkata apapun, satu patah kata pun.

****

"Misaki, aku... tidak bisa."

"... alasanmu?"

"Yang kau lihat dari Mikoto-san, itu pula yang kulihat dari Kapten Munakata."

"... hanya itu?"

"...."

"Jangan bohong, Saru. Aku tahu kapan kau berbohong dan tidak."

"Karena aku tidak bisa jujur, Misaki. Aku tidak sepertimu."

"... heh. Setelah apa yang aku lakukan selama ini? Mengikutimu? Kau bilang kau tidak suka SMA karena itu aku tidak masuk SMA. Setelah kau membenci rumahmu, selalu terngiang-ngiang atas virus tentang ayahmu dan aku mengajakmu tinggal bersamaku? Bahkan setelah--setelah Aya merutuki dirinya sendiri karena tidak pernah jujur terhadapmu... sekarang kau masih melakukan hal yang sama?

"Butuh lebih banyak alasan untuk menjawab pengkhianatanmu, Saru."

"... tch."

"Saruhiko...!"

"...."

"...."

.
.
.

'Karena kau pernah jadi duniaku. Dan aku menghancurkannya dengan kedua tanganku. Karena itu aku tidak berhak menyusunnya kembali, seberapapun kau memintaku untuk melakukannya... ataupun egoku yang berteriak untuk menjadikanmu duniaku lagi... sekali lagi....'

Kings

Project [K], a fanfiction
Disclaimer: GoRa and GoHands
also a song fiction
featuring Kings by Angela, translated
_________________________________________________________________________________


Worries slowly come and kiss
Tell me what's your name?


Raja Merah baru telah terpilih. Pedang Damocles merah menari-nari di langit Kota Shizume tepat delapan jam yang lalu. Sementara Fushimi Saruhiko masih belum bisa mempercayai telinganya atas informasi tak masuk akal dari atasannya yang juga diragukan tingkat kewarasannya.

“Raja Merah baru telah ditentukan. Kini kita tidak bisa lagi sembarangan menangkap anggota Klan Merah dengan keberadaan raja baru mereka,” ujar Munakata Reishi dengan datar di awal pembukaan pidato singkatnya, “terlebih lagi untuk menangkap strain di antara mereka, Kushina Anna.”

“Jadi, segala perintah untuk menangkap Kushina Anna, dibatalkan?”

Reishi mengangguk menjawab pertanyaan Awashima Seri. Saruhiko sendiri sudah gatal ingin melontarkan sebuah pertanyaan dari ujung lidahnya.

“Dan? Yang beruntung menjadi raja baru HOMRA?”

Jeda singkat. Mungkin bagi anggota Scepter 4 lainnya, wajah Reishi masih sama datarnya. Namun Saruhiko bersumpah baru saja melihat sudut bibir atasannya tertarik sekitar beberapa millimeter dengan kilat biru menyala melintasi matanya, tertancap di kedua bola mata Saruhiko.

Saruhiko juga tidak mungkin pernah menyangka bahwa jawaban yang diluncurkan Reishi satu detik kemudian akan memutarbalikkan dunianya, melontarkannya dari kenyataan untuk sampai dan mendarat pada… entahlah, ketiadaan? Kehampaan?

Yang pasti, Saruhiko tidak akan pernah kembali lagi pada akal sehatnya. Karena….

“Yang terpilih menjadi Raja Merah yang baru adalah sang vanguard HOMRA….

Deg!

“… Yata Misaki.”

Saruhiko mendadak merasa dikungkung kegelapan dan dicekik udara penuh karbondioksida.


****


We're attracted to each other again
Yet we'll end up comparing and insulting each other


"Saruhiko! Sudah kubilang jangan makan sendirian di halaman belakang begini!"

"Lalu? Aku harus makan di atap, mengikuti kebiasaanmu, di antara kerumunan orang berisik itu, Misaki?"

"Jangan sebut nama depanku! Dan--maksudku... kau 'kan bisa, maksudku... mengajakku untuk menemanimu makan di sini."

"...."

"Oi! Katakan sesuatu--"


No matter how many nights pass
Somewhere in this pitch black


"--kau bodoh, Misaki."

"... ap--puaaaa...?!!"

"Hehe... si bodoh."


There's a piece of myself I'm missing
So I'll search, and kiss, and destroy


****


Big wave
A twisted impulse in this tantalizing echo
Am I... shaking?


"Yata-san, selamat...!"

"Semoga bisa jadi raja yang sehebat Mikoto-san!"

"Jangan meleng lagi kalau pakai skateboard di jalan...!"

"Sebagai tanda selamat, buatkan aku nasi goreng Yata-rice... ya, Yata-san?"

"Jadi... aku harus memanggilmu dengan Yata-san atau masih boleh Yata-chan?"

Yata Misaki geleng-geleng kepala dan menghela napas pasrah dengan rentetan konveti dan komentar teman-teman satu klannya. Klan Merah. Klan peninggalan raja terdahulu, yang baginya yang terhebat, dan yang kini harus ia lindungi dengan segenap jiwa raga. Cih, memikirkannya saja membuatnya merinding. Ia tidak ingin jadi raja. Ia merasa pundaknya mendadak dibebani berton-ton karung beras.

Ia bukan raja. Ia tidak mungkin jadi seorang raja. Rajanya hanyalah Suoh Mikoto, seorang. Dan kenapa tidak Kusanagi Izumo saja yang jadi raja? Secara kekuatan, Izumo masih menjadi yang nomor dua setelah Mikoto dan dirinya hanyalah nomor tiga.

Kenapa Pedang Damocles memilihnya? Apa yang jadi dasarnya untuk menjadi seorang raja?

Dipikir-pikir... ia juga tidak pernah tahu mengapa Mikoto naik sebagai Raja Merah. Yang ia lihat hanyalah keagungan sosok Mikoto di hadapannya; wajah garang meliar dengan punggung selebar sabana dan lengan sekuat baja untuk melindungi anggota klannya... imaji yang kemudian membuatnya selalu melupakan sepenggal kalimat yang diucapkan mendiang rajanya itu beberapa tahun lalu, dalam sorot lelah Mikoto yang, saat itu, tidak ia mengerti apa artinya.

"Yata, aku tidak ingin jadi raja. Aku tidak tahu kenapa aku jadi raja. Dan aku tidak pernah berlaku layaknya seorang raja."

Tuh, 'kan? Teringat lagi. Misaki tahu hiruk-pikuk di sekelilingnya, namun raganya lelah. Baru beberapa jam ia menopang tubuhnya dengan titel baru itu, dan ia merasa sudah hidup ratusan tahun lamanya.

Ah... mungkin seperti ini perasaan Mikoto dahulu. Memilih diam namun memperhatikan satu-satu di sekeliling. Apakah ia juga harus jadi seperti itu? Mengawasi, tidak lagi bersikap gegabah... dan seakan-akan melakukan segalanya sendirian? Mikoto dulu kerap kali terlihat pergi sendiri, tanpa ditemani Izumo, Tatara, ataupun Anna sekalipun. Sendiri... padahal ia yakin Mikoto pun tahu bahwa tanpa diminta pun anggota HOMRA akan siap menemaninya ke manapun, kapanpun.

Sendiri? Seperti itukah? Haruskah raja bergerak dalam kesendirian seperti itu? Kenapa...?

"Yata-chan, Mikoto juga tidak pernah ingin jadi raja."

Ucapan Izumo membuyarkan lamunannya. Ia lalu memandang lekat-lekat segelas jus jeruk dingin yang disodorkan sang bartender padanya. Setengah berharap, tanpa harus berkata-kata, Izumo akan melanjutkan kalimatnya dengan jawaban lain yang tengah ia butuhkan.

"Dan Mikoto sadar ia tidak pernah sendirian. Bagaimana denganmu?"


Big bang
A barbaric impulse in this cold conflict
Do I press on until there's blood?


Misaki mengumpat dalam hati. Ia tahu apa yang salah. Ia tahu mengapa ia tidak bisa menegakkan kepala dengan bangga untuk menyambut julukan barunya. Ia tahu mengapa riuh di sekitarnya bisa tersamarkan-nyaris-tertulikan hanya dengan sebuah perasaan ambigu. Ya, pertanyaan terakhir Izumo itu sama efeknya seperti menghantamkan kepalanya ke tembok. Isi kepalanya jernih seketika.

Masalahnya adalah pada orang itu. Pria bodoh sekelas monyet yang seharusnya ada di sampingnya, mendukungnya, berdiri berdampingan sebagai partnernya... sebagaimana algoritma fungsi seorang Kusanagi Izumo terhadap Suoh Mikoto.


I want to make sure
I want to hold your hand
But am I... actually scared?


Cepat atau lambat, Misaki tahu ia harus menyelesaikan segala urusannya dengan Saruhiko.


****


They say we have a lot of things in common, so
I can't help but keep you in my sight


"Oi, Saru...! Itu kotak bekalku!!"

"Hmm? Oh, aku sisakan untukmu juga, kok."

"... TAPI INI ISINYA SAYUR SEMUAAAA--"

"--Misaki, itu bagian ganti rugi karena aku selalu meminum jatah susu yang tidak suka kau minum. Kalau kamu tidak mau minum susu, kapan kamu bertambah tinggi?"

"Kamu sendiri juga engga suka makan sayur...!!"

"... tch."


We're all just people who flock to a conflicting justice
And snuggle together for one last moment


"Kamu... suka sekali berperan sebagai pembela kebenaran, ya?"

"Pembela kebenaran itu keren...! Berperang melawan yang jahat, melindungi yang lemah... memangnya kamu tidak suka, Saru?"

"Tapi 'kan tidak ada pembela kebenaran yang cebol."

"Pembela kebenaran juga engga ada yang pilih-pilih makanan dan engga suka makan sayur."

"... karena aku tidak bisa jadi seperti itu...."

"Ha? Kamu bilang apa, Saru?"

"Bukan apa-apa. Oh ya, game yang kamu pesen udah sampai. Kapan mau main ke rumahku?"

"Hari ini! Langsung! Pulang sekolah! Yeaaahh...!!"


I realize the future is uncertain and the past can't be changed
So I'll search, and kiss, and destroy


****


Kedai tempura dan okonomiyaki. Orang ketiga Scepter 4 dan yang sebelumnya juga merupakan orang ketiga HOMRA berbagi meja. Tidak ada pedang. Tidak ada skateboard. Tidak ada hawa peperangan. Tidak ada agenda permusuhan.

Tidak ada Pedang Damocles Merah menari di langit malam itu.

Patah-patah kata yang kaku. "Selamat atas... err, promosimu?"

"... Saru, kamu pikir HOMRA itu sejenis lembaga pemerintahan seperti Scepter 4? Jangan bercanda. Dan... yah, terima kasih."


I want to compete againts you
I want to feel excited
Are you... secretly scared?


"Aku sudah bilang pada Raja Biru untuk menghentikan penangkapan terhadap Anna. Anna anggota kami, tidak peduli dia strain. Aku... berani menjamin tidak perlu ada yang dikhawatirkan tentang Anna."

"Hmm...."

"...."

"...."

"Oi, Saru... katakan sesuatu--"


Though we have no wounds to lick
Our prides will make fools out of us


"Katakan... apa?"

"Tch... kau tahu? Aku tidak suka situasi sulit serba canggung dan kau membuatnya jadi seperti itu...! Sama seperti ketika aku menghadapi perempuan dan...."

"...."

"Saru...! Berhenti diam dan--memakilah seperti biasa, atau mengutukiku untuk mati seperti biasa, atau--"


Can I feel? Can't you feel?
I want to know you
But I can't
And never could....


"Daripada menungguku bicara... kau punya sesuatu untuk dikatakan padaku, Misaki?"

Terdiam. Tenggelam dalam emosi. Larut dalam ego. Telapak yang digenggam erat hanya untuk dilepaskan pada akhirnya.

Satu tarikan napas. "Tidak bisakah... kau kembali pada HOMRA?"

Bibir yang melengkung, melecehkan. "Apa yang terjadi pada harga dirimu setelah kau jadi raja, Mi--sa--kiii~~?"

Dengus napas yang lain. "Peduli setan, Saru. Aku bicara bukan sebagai raja. Bukan sebagai anggota HOMRA. Aku bicara, sebagai seorang Yata Misaki...."

'... maukah kau kembali berjalan di sampingku?'

Tertegun. Penggal kalimat itu tidak perlu diucap lantang hingga didengar udara.


Life is a moment
I want to break free
Just to hug you


Senyum yang lain. Kali ini lengkungnya sederhana.

 Tulus.

"Misaki, aku...."


Worries slowly come and kiss
Search, and kiss... and destroy


****