Kugenggam tangan pucat itu seerat mungkin. Membiarkannya merasakan gemetar yang menjalar di sekujur tubuhku. Sementara mata hijau itu menatapku, lama sekali, sampai akhirnya Nandi tersenyum dan mengangguk. Tangan dinginnya yang kemudian balas menggenggamku, meski terasa begitu lemah.
Kupaksakan seulas senyum mampir di wajahku. Kenapa rasanya begitu perih?
"Ndi, gue sama Nara pergi dulu, ya. Prosesi pembangkitan kekuatan para Vishnu sekitar dua malem lagi. Gue yakin Asaka-senpai pun pasti udah berangkat ke sana," aku menelan ludah, rasanya tenggorokanku sangat kering, "Lo... baik-baik di sini, ya. Masih ada Lyra dan kakak beradik Shiozaki. Kalau ada apa-apa, minta tolong sama mereka aja. Inget, Ndi... bahkan Lyra sekalipun engga mau lo kalah. Peduli amat dewa macem apa yang ada di dalem tubuh lo, lo engga boleh kalah... janji sama gue, Ndi, janji?"
Namun Nandi hanya menundukan kepalanya. Menyembunyikan wajahnya dari pandanganku. Entah berapa lama, sampai akhirnya ia mengangkat lagi kepalanya dan menatapku lekat-lekat.
Lalu kudengar suaranya menggema di kepalaku. Ya, Nandi tak lagi bisa menggunakan pita suaranya untuk berkomunikasi. Betapa dewa kematian yang menaungi dirinya itu tengah memakan habis-habisan jiwa raganya untuk bertahan hidup dan kembali terbangun. Ironis. Sungguh.
"Hati-hati di jalan ya, Rio. Titip Nara...."
Aku mengangguk. "Iya, Ndi. Pokoknya... setelah prosesi selesai, gue sama Nara langsung pulang.... Lo tungguin kita, harus--nanti kita juga bakal ketemu lagi sama Ndre, Leyka, dan yang laen...."
Nandi sekali lagi tersenyum. Senyum yang perih, membuat ujung lidahku terasa begitu pahit. Kembarannya lalu beringsut di sampingku. Tangan Nara yang kemudian meraih tangan Nandi yang sedari tadi kugenggam erat. Ah, suasanya yang begitu sendu dan pilu, menyedihkan.... Sementara Nara mengecup lembut punggung tangan Nandi, lalu membungkuk untuk mengecup pipi dan dahi Nandi.
"Kak, aku pergi dulu. Seandainya saja, aku juga bisa membawa Kakak ikut bersamaku--"
Kata-katanya tercekat. Aku sendiri tidak tahu kenapa.
"Aku sayang Kakak. Siapapun Kakak, selamanya, aku akan selalu melindungi Kakak."
Kulihat Nandi bersusah payah menggerakan lengannya hanya untuk membelai rambut adiknya, wajahnya yang berjengit nyeri menahan sakit. Astaga Tuhan... ini miris sekali. Separah itu Shva di dalam tubuhnya memakan dirinya dari dalam, dan Nandi sendiri yang memang sudah tak bisa lagi bangun dari futon-nya selama dua hari ke belakang ini. Suaranya yang berangsur-angsur menghilang, telinganya yang semakin terbatas menangkap bunyi-bunyi, juga kesadarannya yang berangsur-angsur digantikan sosok lain.
Lo harus bertahan, Nandi... harus.... Demi lo sendiri, demi Nara, demi Leyka yang pasti bakal nangis kejer kalau lo kalah... demi Andreas yang mati-matian mencintai lo selama ini....
"Ayo pergi, Yo."
Nara menepuk pundakku sembari berdiri. Aku mengangguk pelan. Kutatap Nandi sekali lagi, dan yang bersangkutan hanya memberikanku senyuman manisnya yang biasa. Yang kali ini rasanya begitu damai. Seolah-olah memang disiapkannya untuk mengantarkan kepergian kami.
"Kita cabut dulu ya, Ndi. Paling lama empat hari, dan kita udah ada di sini lagi. So, sama-sama berjuang, oke?"
Dan ketika aku berdiri, berjalan keluar dari kamar bersama-sama Nara untuk perjalanan kami yang lain... aku tidak pernah tahu bahwa senyum damai penuh kasih sayang itu merupakan senyum terakhir yang Nandi berikan pada kami... pada dunia.
****
Satu ledakan besar di Pulau Katora. Satu ledakan energi yang terasa menyengat bagi Andreas, Rio, Nara, dan Asaka. Tepat beberapa menit setelah kekuatan Brhma dan Vshnu terbangun, ledakan energi itu terasa dari arah Pulau Katora.
"Nandi...."
Meskipun Rio dan Nara secepat kilat memacu kecepatan mereka, menguras habis energi dewa yang baru saja keduanya terima, namun mereka tetap terlambat.
Di tengah aula penelitian, masih terbungkus asap yang kian memudar, tampak Kyte berlutut dan membungkukan tubuhnya, sementara Lyra dan Shiozaki bersaudara di sisi ruangan, tampak pucat dan gemetar sekujur tubuh.
Rio dan Nara tahu, semuanya sudah terlambat. Tak ada kata kembali. Tak ada kompromi. Kekuatan baru mereka yang lantas harus diadu dengan takdir.
Sosok itu berdiri di sana. Tegap. Rambut hitam panjang terjuntai, Raut wajah keras. Sorot mata bengis. Dan iris hijau zamrud yang lantas menatap keduanya. Dan satu senyum tipis, yang lantas melebar menjadi seringai sinis.
Shva tersadar. Mulutnya perlahan bergerak, mengalunkan gema suara halus Nandi bercampur gelegar serak dan rendah milik sang dewa.
<Ah, selamat datang kembali, Vshnu. Perlukah kita ulangi lingkaran karma chaos malam ini tanpa menunggu lebih lama lagi?>
No comments:
Post a Comment