“Pulang.”
“….”
“Pulang, Sha.”
“Pulang ke mana?”
“Terserah. Yang pasti
pulang. Kalau kamu belum bisa melakukannya untuk kamu, lakukan untuk orang
lain… untuk aku, untuk kakak juga.”
“… iya.”
“Janji, Sha. Janji
kamu bakal pulang untuk kami, untuk dia. Janji karena kamu orang yang
dicintainya, karena dia engga akan mencintai perempuan lemah. Janji?”
“Iya. Aku janji, aku
pasti pulang.”
“Untuk aku juga, Sha.”
“… ya?”
“Karena kamu juga
bukan siapa-siapa lagi dalam hidupku.”
****
Satu janji, pertama dan terakhir, yang Lakia tahu tak akan
pernah ditepati.
Satu janji, yang membuat Aksara meraung memeluk sebuah nisan
dingin membeku.
Satu janji, yang Lakia yakin tak akan pernah terucap dari
bibirnya di hadapan Aksara. Karena rasa tak ingin menyakiti. Tak ingin
disakiti. Oleh rasa benci yang mengalir. Sekaligus sesal yang tak dapat sirna.
Oleh waktu sekalipun.
Ah, penyesalan memang selalu datang terlambat….
Karena keduanya begitu serupa. Kakak adik yang terikat
perasaan yang sama. Rasa yang konon katanya bernama cinta. Bahasa universal
untuk menyatakan kasih dan sayang. Yang bagi Lakia, berubah menjadi benci
ketika tulus tak diikutsertakan dalam kamus katanya.
Setidaknya, waktu berlalu. Bagi Lakia. Dan bagi Aksara.
Waktu dapat menyembuhkan, begitu kata orang bilang.
“Kak….”
“Hmm?”
“Kakak sudah tidak membencinya?”
“Tidak.”
“Kakak sudah tidak melupakannya?”
“Tidak.”
“Kakak… masih mencintainya?”
“… masih.”
Ada angin yang membelai. Meniup mesra. Bulir-bulir rindu
menjelma. Ada hangat. Dan ada perih. Semua berbaur. Kali ini, Lakia berusaha
menikmatinya. Ia tersenyum.
Lalu telapak tangan hangat mendarat di kepalanya. Ia menoleh.
Aksara ikut tersenyum di sampingnya.
“Kamu sendiri… sudah bisa merelakan kepergiannya, ‘kan?”
Lakia mengangguk. Dipejamkan matanya. Dan untuk sesaat, ia
mampu melihat sebuah senyum yang lain. Senyum manis yang nyaris terlupa. Senyum
yang pernah merenggut kebahagiaan Aksara, yang memenjarakan keduanya dalam rasa
benci, yang kini mengajarkan keduanya pula terhadap apa artinya kata tulus.
****
“Terima kasih….”
“Sama-sama, Sha. Sampai ketemu lagi.
“… iya.”