A duet fiction
Featuring Leon, (c) Tasya Aniza
_________________________________________________________________________________
"Ishana, berisik! Kamu engga lihat aku lagi baca--"
"--oh, ayolah Kak Deva...! Kita lagi liburan, sampai Jepang, dibayarin Zen-jiichan dan sekarang kamu masih nguyek sama diktat IPS? Kita ujian kelulusan 'kan masih tahun depan...."
"Enak aja. Siapa yang bayarin? Dan kamu, kutu buku ingusan, ayo sana main sama adikmu sebelum jiichan culik dia ke toko cosplay dan jiichan dandanin dia jadi Hatsune Miku."
"... iya, iya. Dasar paman mesum."
Dan Alena hanya bisa tertawa dengan opera sabun dadakan yang diperankan oleh kedua anak kembarnya dan sahabat semasa sekolahnya dulu. Entah sudah berapa tahun Alena tidak pernah lagi bertemu muka dengan lelaki itu, Zen, dan hanya sebatas surat elektronik saja. Entah juga suatu keberuntungan yang disengaja atau salah satu intrik suaminya ketika Alena tiba-tiba saja diminta menemani Aki untuk mempublikasikan penelitiannya dalam sebuah seminar bergengsi di kalangan para ilmuwan muda di jantung kota Tokyo. Kota tempat tinggal Zen kini. Juga kesempatan yang jatuh bertepatan dengan liburan kedua anak mereka.
Terkadang Alena masih merinding sendiri dengan setiap kejutan yang sanggup Aki berikan padanya. Terutama menyangkut tentang Zen. Tentang bagaimana Aki akan menggunakan setiap kesempatan yang ada di dunia untuk membuktikan bahwa bukan lagi Alena yang kini bernaung di bawah tempurung otak Zen.
"Jiisan, kembalikan bukuku atau aku akan--"
"--apa? Lapor sama ayahmu? Oke, oke... berarti engga tanggung ya kalau buku ini kejatuhan saus okomiyaki."
Alena tertawa dari bangku taman. Hujan salju tengah turun menghiasi kota, merayap mengisi taman distrik Ueno bagaikan butir-butir melayang jatuh dari surga. Atau mungkin inilah surga. Melihat Deva dan Ishana yang tertawa-tawa gembira, dikejar atau mungkin mengejar Zen yang kini lari tunggang-langgang berusaha menghindari terjangan bola-bola salju demi bekal okonomiyaki-nya yang nyaris jatuh ke gundukan salju.
"Okaasaaaan~!! Ayo siniii...! Kejar Jiichan sama-sama--"
"--woooy!! Dua lawan satu aja udah curang...!!"
Alena lantas membalas lambaian tangan Ishana dari kejauhan. Seandainya saja Aki berada di sana, bukan di kamar hotel karena kelelahan begadang menyelesaikan bahan presentasinya, mungkin surganya akan terasa semakin lengkap. Atau mungkin... seandainya saja pendamping hidup Zen juga duduk di sisinya, ikut menertawakan kebodohan residen muda itu....
"Permisi. Kamu... Alena, ya?"
Terkejut, Alena menoleh ke belakang. Seorang pria tinggi tegap dengan winter coat berbahan kulit berwarna pasir, celana jeans, syal warna kulit tikus, dan rambut sedikit ikal dengan tepian membingkai sempurna sisi wajah lonjongnya. Alena terpaku. Mengapa pria ini bisa tahu namanya?
"Oh, sorry... kaget, ya? Kupikir Zen udah pernah cerita," dan pria itu kemudian mengulurkan tangan dengan senyum terlukis di bibir, "perkenalkan, namaku Leon."
"Emm... salam kenal, aku Alena... meski kamu juga udah tahu namaku," balas Alena kikuk. "Iya, Zen sebetulnya udah cerita. Tapi aku, err... engga nyangka kalau kamu datang. Zen bilang, kamu hari ini ada urusan, jadi...."
"Urusanku selesai di luar jadwal, jadi aku buru-buru ke sini. Lagipula," ada satu senyum lain di wajah pria itu yang membuat bulu kuduk Alena mendadak meremang, "aku sekalian ingin tahu, seperti apa perempuan bersuami dan beranak dua yang sering banget diceritain Zen. Ternyata...."
Alena sedikit ragu untuk mengucapkan kalimatnya, "... dan, ternyata...?"
Senyum ramah pria itu kembali lagi. Atau mungkin untuk menyembunyikan tujuan yang sempat tergambar polos kasatmata di antara kedua manik biru tuanya. "Ternyata memang cantik. Ayahku selama ini ternyata benar, perempuan itu semakin cantik kalau sudah berkeluarga."
.
.
.
cplok!
"Oy, Om Mesum, ngapain Anda sama ibu saya--"
"--Kak Deva, yang sopan!"
"Loh? Kok kamu di sini, Le? Katanya ada janji sama klien jam dua?"
"Tadi orangnya dateng ke kantor jam sebelas. So, siapa yang tadi lempar om mesum ini pakai bola salju, hmm?"
"Bukan aku. Aku tadi lempar ke Jiichan."
"Aku sih engga suka basa-basi pake bola salju. Langsung aja tenggelemin di danau, lumayan kan suhunya lagi di bawah nol derajat."
"Hush, Deva...."
"Lah, aku juga engga. Aku daritadi pegang bukunya Deva sama kotak bekel. Nah terus, siapa...?"
"...."
****
"Salahmu, Zen. Aku datang ke tempat itu dan bola saljunya masuk nembus sampai kerah."
"... bahkan aku engga tahu siapa yang ngelempar."
"Suaminya engga ada 'kan?"
Satu gerakan kepala. "Engga. Dia di hotel, tidur. Dia 'kan kalau tidur kayak adikmu, Faux, banguninnya setengah mati."
"Hmm hmm."
"Terus? Kesan kamu?"
"Tentang siapa? Alena."
Gerakan kepala yang lain. Diikuti satu dengusan.
"Bikin nostalgia sama masa lalu, waktu jaman-jaman aku masih suka dijadiin manusia salju oleh penyihir perak judes yang hobi merengut dan marah-marah kalau ketahuan malu."
"... ha?"
****
"Jadi tadi, kamu yang ngelempar?"
"Yaa, siapa lagi?"
"Boleh aku tahu, kenapa?"
Pria berkacamata bingkai hitam itu pun terkekeh. "Suami mana sih, yang engga gerah lihat istrinya ditatap kayak gitu sama cowok lain? Jadi, dia orangnya?"
Alena mengangguk. Udara dingin di sekelilingnya semakin menusuk, dan Alena semakin menyeret dirinya untuk tenggelam dalam peluk kehangatan Aki.
"Intinya, seharian ini kamu ngikutin ke mana pun kami pergi, gitu?"
"Yaa kalau ada aku, mana mungkin dari awal Ze mau nyuruh, ehm, pasangannya buat bela-belain dateng ketemu kamu?"
Alena tertawa. Dingin yang merapat menjadi alasannya untuk mendaratkan satu cumbuan di bibir Aki. "So, no other escape for Ze?"
"Nah. Biarkan aku punya kesenangan dikit, Len. Ini caraku untuk mengungkapkan rasa kangen aku sama dia, oke?"