20120214

Cokelat-Merah Jambu


Hari itu hujan deras. Seharian tiada ampun. Seolah langit tengah menganga dan lantas dibanjuri bergalon-galon ember bocor.

Sama seperti Zen. Mulutnya menganga. Mangap lebar. Jantungnya nyaris berhenti berdetak hampir satu detik lamanya. Kalau saja terjadi, ia sudah bisa mengucap selamat tinggal pada dunia ini.

Bagaimana tidak? Satu bungkusan kotak berwarna merah terang dengan pita baby pink tiba-tiba saja disorongkan padanya. Dan senyum dua orang yang merekah. Yang satu begitu manis hingga mampu melelehkan hatinya…

… sementara yang satunya lagi, senyum jahil penuh kelicikan yang seolah menantang Zen menghadapi penderitaan.

“I—ini… apaan—”

“Cokelat,” jawab Alena dan Aki bersamaan. Pasangan sejoli itu lantas nyengir lebar.

“Cokelat? Kalian berdua… ngerayain Valentine?”

“Kagak,” jawab Aki, menaikkan bahu, “Alena diminta bikinin cokelat sama kakak sepupunya….”

Kedua mata Zen memicing. Curiga. Dengan kata-kata yang di telinganya seolah penuh tipu muslihat. “Terus?”

“Berhubung sisa bahannya banyak, ya udah deh, gue sama Alena mutusin bikin cokelat buat lo. Lo sebenernya termasuk cowok yang suka cokelat ‘kan, Ze?”

“Terus? Kenapa kalian kasih ini buat gue? Kenapa engga kalian saling bikinin buat kalian aja?”

Kali ini, gadis itu yang menjawab. Wajahnya masih cerah dan berbinar, membuat debar kesal Zen menguap seketika. Ah, selalu saja, akan selalu Alena yang menjadi titik lemah baginya. “Engga boleh, kita ngasih cokelat ini sebagai rasa sayang kami buat kamu, Ze?”

Dan Zen dapat merasakannya. Wajahnya panas seketika. Tangannya terkepal erat. Ia mengumpat dalam diam. Tapi juga tidak sanggup menyembunyikan senyum yang malu-malu menyembul manis di bibirnya.

.

.

.

Hujan sore itu sudah berhenti mengguyur. Sementara brownies cokelat itu terbagi tiga bagian. Kertas pembungkusnya yang berwarna merah terang dan pita berwarna manis itu telah terlupakan begitu saja. Dan di bangku taman di sudut kampus, Zen tertawa sembari sesekali mengumpat. Ada hangat yang memanjakan monster dalam benaknya, semanis rasa cokelat di mulutnya.

“Jadi, gimana? Rasa sayang dari gue sama Alena, diterima engga?”

Aki dan Alena tersenyum. Bagi Zen, itu saja sudah sama manisnya.

“… emang sialan lo jadi orang, Ki….”

20120213

Happy Unbirthday

“Jadi, minggu depan ya. Makan enak nih, gue.”

“… gue sih mau-mau aja, Ley, tapi….”

“Tapi apa, hemm? Ada yang udah bikin janji sama lo?”

“… iya….”

“Ooh…. Hah?? Siapa? Nara?”

“Bukan. Itu Ley, Andre….”

“….”

“… sorry, Ley. Nanti gue bawa pulang makanan sama kue, deh, biar seasrama juga bisa makan enak.”

“Ah, emang lo ya. Padahal kelas gue udah bakal selesai jam sebelas loh.”


****


Satu janji yang tidak pernah bisa kamu tepati. Satu senyum penuh rasa bersalah yang saat itu kamu berikan padaku. Dan satu ucapan selamat yang satu minggu setelahnya tidak sanggup aku sampaikan padamu.

Bagaimana tidak? Tepat satu hari sebelum hari ulang tahunmu, kamu malah melenggang pergi, diculik cecunguk-cecunguk sialan itu.

Aku tidak peduli dengan traktiran. Aku tidak peduli dengan makanan enak apapun yang akan kamu bawa pulang ke asrama sehabis kencan manismu dengan si dia. Aku juga sudah tidak peduli lagi dengan sebungkus boneka lumba-lumba besar yang telah kusiapkan jauh-jauh hari sebelum hari ulang tahunmu. Aku tidak peduli lagi dengan kartu ucapan yang dibubuhi tanda tangan teman-teman lain, tanda bahwa hadiah itu kami siapkan murni untukmu.

Tidak. Karena nyatanya, kamu tidak pernah kembali.

Bahkan untuk satu menit saja bertemu kembali denganku, menyapaku dengan senyum lugumu itu, kamu tidak pernah….

Nandi….

.

.

.

“Ley, boneka lumba-lumba yang waktu itu mau kita kasih ke dia, masih ada di kamu?”

“Hmm? Masih, Ndre. Kenapa? Mau kamu bawa?”

Satu gerakan kepala. Dan senyum getir yang disamarkan dengan lihai. “Engga usah. Buat anakmu aja nanti. Karena aku engga yakin, Rio bakal sanggup beliin boneka besar seperti itu kalau anak kalian nanti kepingin.”

Wajahku memerah. Aku mencibir. Andreas tertawa dan menepuk pelan kepalaku. Lalu melenggang pergi.

Dan aku? Ditinggal sendiri bersama kenangan tentang si boneka lumba-lumba biru.

Ah, rasanya aku jadi ingin menangis….