20130422

Love Potion #8

"Ki, kamu nyesel engga, jadian sama aku?"

Aki nyaris menyatukan kedua alisnya rapat-rapat. "Ha? Engga tuh. Kenapa emang?"

"Engga. Nanya aja."

"Hmm... engga kok, engga pernah nyesel. Malah aku engga kebayang, gimana jadinya aku kalau dulu pas nonton kembang api aku mutusin untuk engga nembak kamu dan ngebiarin kamu untuk akhirnya berpaling ke Ze."

"Hahaha... segitunya kamu sama Ze?"

"Bukan masalah dia, tapi aku. Engga kebayang aku bakal jadi apa. Aktifis? Orang yang demen nongkrong di himpunan? Orang yang hobi rapat sampai pagi?"

"Terus, kamu rugi engga, setelah pada kenyataannya kamu engga jadi tipe orang yang kamu sebut tadi?"

"Enggalah. Untung banget malah, hehehee.... Makasih ya, Len...."

"...."

"Len? Hei, Alena--yah, malah tidur dia...."


****


"Ki, kopinya cuma ada yang rasa moka dan cappucino--"

Mata Zen membulat maksimal. Sementara percikan api merah biru mulai meliar di dadanya. Melilit perutnya.

Api cemburu yang manis.

"Oh iya, taruh aja di meja. Dan kenapa tampang lo bete, deh?"

"... menurut lo?"

Aki masih tidak sadar--tidak, mungkin Aki hanya terlalu terlarut dalam kenikmatan surga duniawinya yang bahkan belum bisa ia sadari sepenuhnya. Dan betapa kenikmatan surga duniawi itulah yang membuat neraka meletup-letup dalam benak Zen dengan kata-kata terpatri yang ikut mengelana. Cemburu, canggung, dan perih.

Karena Aki berhasil membuat dada bidangnya menjadi seempuk bantal berkualitas mahawahid, dan tentunya berhasil menarik keluar wajah manis kekanakan Alena yang tertidur pulas... raut yang tidak pernah Zen temui, bahkan dalam lima tahun kehidupannya bersama gadis itu.

20130417

Immortality #2

Tempat minum itu penuh sesak. Wangi alkohol yang sudah tidak jelas semilirnya. Wine. Whisky. Vodka. Tuak Cina. Sake. Bloody Mary. Dan sebutlah puluhan nama minuman keras lainnya yang bisa jadi tersimpan rapi di antara rak-rak kayu jati hasil colong dari negara tropis. Botol-botol yang menanti untuk dituangkan isinya dalam gelas-gelas berkaki tinggi maupun berperut lebar.

"Sendirian?"

Andreas berpaling dari sloki sakenya. Ada sosok yang menemaninya di sana. Jangkung tinggi atletis, rambut digelung berantakan hanya dengan sebatang pensil. Meski senyum dan sorot mata bening yang membuat Andreas tersenyum satir... bagaikan melihat sejumput indah surga dari panas jendela-jendela neraka.

"Kamu sendiri?"

"Kalau ada yang nemenin, aku engga akan mungkin nyamperin kamu kayak gini, Andre."

Andreas tersenyum simpul. Dan perempuan itu menarik kursi di sampingnya. Jemari lentiknya menjepit anggun sebuah gelas kristal yang masih setengah terisi. Dari wanginya, ah, silver bullet.

"Udah lama kamu engga ke kampus lagi setelah wisuda." Suara perempuan itu terdengar menggaung manis di daun telinga Andreas.

Andreas terkekeh. "Aku baru selesai sidang di kampusku yang satunya. Wajar kalau selesai wisuda di Toudai aku langsung kabur buat beresin kuliahku yang lain."

"Pantes... sekarang jadi punya waktu buat minum-minum."

"Kamu sendiri, kuliah udah beres?"

Perempuan itu menyesap habis minumannya dalam-dalam, dan dengan satu gerakan tanpa suara meletakkan gelas kosong itu di atas bar. "Belum, tentu aja. Oke, kamu boleh bilang aku perempuan lemah, memang nyatanya begitu. Apalagi yang bisa kulakukan setelah ditinggal selingkuh oleh tunanganku dan ibuku mati gantung diri gara-gara utang suami keduanya yang sialan itu?"

"Aku turut menyesal mendengarnya."

"Engga perlu basa-basi, Andre. Meski untuk orang yang sering kehilangan macam kamu, kalimat tadi aku tahu bukan sekedar basa-basi."

Iris hitam legam Andreas melebar. Menjemput sebuah sensasi menggeletik yang sudah lama tidak hadir dalam benaknya. Ditemani sebuah senyum yang pada detik itu menjungkirbalikkan seluruh logika dan egonya. Mencampurbaurkannya menjadi satu rasa yang hampir saja hilang dari hidup abadinya.

Raut yang tanpa celah. Menembus langsung mengoyak dinding terakhirnya. Sebagaimana yang selama ini Asaka lakukan padanya untuk mengurangi beban traumatisnya, bukti yang tersisa bahwa dirinya masih manusia. Dan betapa perempuan di sisinya itu telak mengatakan padanya,

<Bahwa kamu... masih berduka atas kepergiannya....>
<Bahwa kita... sama-sama orang yang selalu ditinggalkan, dan selamanya tidak akan pernah meninggalkan.>

"Darimana kamu...?"

"Intuisi wanita? Dan, hey... kamu harus percaya, bahwa yang namanya mata ketiga itu memang ada, loh! Dan bahkan, ada saja manusia yang memang terlahir memiliki mata ketiga...."

Kata-kata perempuan itu terputus. Andreas sontak merebahkan kepala di atas pundak si perempuan. Tanpa aba-aba.

"Hey, Andre...!"

"Selalu ditinggalkan, tapi tidak meninggalkan, eh...?" Andreas tertawa, parau. "Mau coba bertaruh? Aku bisa ngasih kamu pengalaman, gimana rasanya 'meninggalkan'...."

"... yang bener aja. Memangnya siapa yang bakal aku tinggalkan--"

"Aku."

Sepatah kata yang meluncur begitu saja tanpa ragu. Perempuan itu tertegun. Cengkeramannya masih belum lepas dari kedua sisi lengan Andreas. Bahkan semakin erat.

"Kalau kamu minta aku percaya tentang cerita-mata-ketigamu, maka malam ini aku bertaruh untuk meyakinkanmu tentang sebuah cerita lain dariku."

"Dan, cerita itu adalah...?"

Andreas tersenyum. Bibir dinginnya lantas menyentuh leher jenjang yang begitu lembut di inderanya. Tak ada kata kembali. Dan Andreas pun sudah tak ingin menyesali.


****


"Kamu, gila... Andreas."

Pagi menjemput, mengintip malu-malu dari tirai kelambu yang belum berani disingkap. Sementara Andreas tersenyum pada pemilik wajah lelah yang tubuhnya masih terbungkus selimut di sisi tempat tidurnya yang selama ini selalu sepi sendiri.

"Kamu udah gila, engga waras... kamu...."

Satu cumbuan lagi. Menenggelamkan setiap kata demi menjawab seluruh makian yang nyaris akan merepet setelahnya.

"Gila, memang, tapi engga bikin kamu mau mundur, 'kan?"

"Intinya, sama-sama cari pelarian, hmm?"

"Hmm, boleh juga. Pelarian seumur hidup. Sampai aku lihat kamu mati nanti?"

Satu gelak tawa. Dan bunga-bunga manis yang mulai bersemi setelah bertahun-tahun Andreas tenggelamkan dalam kubangan sedingin es.

"Deal. Sampai kamu lihat aku mati duluan ketimbang kamu."

20130411

Immortality

Iris biru Leyka melebar sejadi-jadinya, sementara Asaka nyaris memuntahkan lagi seluruh koloid kecokelatan beraroma mocca di mulutnya dari hidung. Bagaimana tidak? Para pasangan masing-masing izin pergi dalam keadaan tertawa-tawa, lalu tiba-tiba saja mereka pulang dengan sesosok tubuh lunglai dengan wajah merah matang terbopong di sisi kiri-kanan pundak mereka.

"Andre kenapa...."

"Tenang aja, Le. Dia cuma mabuk sake lima gentong."

"Ap--apa?! Dia DEWA dan dia BISA mabuk sake?! Astaga...."

"Menurut kamu aja, Sa. Engga mentang-mentang dia titisan dewa terus dikasih sake seratus gentong juga engga mabuk. Metabolisme tubuhnya masih manusia, masih punya limit, toh?"

"Terus... gimana ceritanya sampai dia bisa...."

"Entah. Tapi yang pasti sih, kata si kakek yang punya bar, sambil mabuk dia terus-terusan ngucapin sepatah kalimat."

"... yaitu?"


****


Andreas mencari. Tanpa henti.
Meski di sekelilingnya hanyalah laut penuh keheningan, tak peduli betapa  tubuhnya dijerat rasa panas menusuk, Andreas tetap mencari.

Mencari apa? Mencari siapa?
Yang jelas, ia telah lelah berlari mencari malaikat mautnya.
Toh malaikat mautnya hanya akan datang di waktu fajar, dan tetap kedua tangannya yang menebas leher malaikatnya di setiap penghujung mimpi-mimpinya.

Bukan. Bukan itu. Andreas sudah lama berhenti mencarinya.

Yang Andreas cari kini... adalah ujung dunianya.
Akhir waktunya.
Di mana halte pemberhentian terakhir jarum jamnya yang kini hanya bergulir di tempat.
Dalam stagnansi. Tanpa arti.

"Apa yang kamu inginkan, Ndre?"

Suara Asaka mengalun pelan dalam benaknya. Ah, jadi rupanya ia tidak sendirian di sana. Asaka sudah jauh-jauh meluangkan waktu untuk menemaninya bercengkerama dalam sepi.

"Apa yang kamu cari? Apa yang kamu inginkan?"

"Keinginanku? Cuma satu...."



'Izinkan aku mati sebelum aku harus melihat kalian pergi terlebih dahulu.'