20130115

Love Potion #2

A duet fiction
Featuring Shin Takamori from Jigoku, (c) Alamanda Hindersah, (soon to be) 2013
_________________________________________________________________________________

CRASSHH!!

PYARR!!

Bulatan berwarna biru keperakan yang menyelubungi Asaka pecah berkeping-keping. Asaka terpental, tubuh gemulainya menabrak pohon di belakangnya. Shin mendecak, setengah marah, kebanyakan lelah.

"Masih belum! Kekkai-mu masih terlalu lemah dan terlalu gampang ditembus! Lagi...!"

Matahari sudah semakin condong menggantung di ufuk Barat, tapi Asaka masih belum mau menyelesaikan sesi latihan nerakanya. Dan Asaka tidak tahu, sepasang mata cokelat susu memandangnya dari undakan tangga Kuil Takamori. Sorot mata yang digenangi rasa iba, tidak tahan, tidak tega... dan segala hal yang bisa disiratkan seorang laki-laki yang sedang dimabuk lima huruf.

C, i, n, t, a.

Asaka terlalu tega. Tega membiarkan Akito yang meringis nyeri setiap kali tubuhnya dipelantingkan di setiap sesi latihannya bersama seorang Shin Takamori, ahli kekkai paling tersohor di seantero Pulau Honshu.

****

Sebenarnya, Shin tidak sejahat itu. Selaiknya seorang kakak laki-laki mapan, dewasa, namun sedikit urakan dan keras kepala pada adik perempuannya yang tak kalah keras kepalanya merepet minta latihan efektif setiap akhir minggu, selalu ada takoyaki, okonomiyaki, atau soft cream matcha gratis untuk Asaka di penghujung latihan. Padahal tidak ada ikatan darah yang sama yang mengalir di antara keduanya.

Shin yang mengagumi Asaka sebagai gadis remaja yang sadar akan tugasnya, takdir yang diembannya, tali nasibnya yang berputar tidak seperti remaja seusianya, acuh tak acuh dengan latar belakang dan semua tetek bengek yang dimiliki Asaka. Dan Asaka yang menghormati Shin sebagai seorang guru yang baik, keras dan tegas, namun selalu menghargai setiap titik peluh yang ia kucurkan untuk usahanya.

Hanya sebatas itu.

Tapi selama Akito belum tahu pasti apa isi hati Asaka yang sebenarnya, api cemburu itu masih menari-nari dengan liar dalam dadanya.

****

"Terus, kapan mau nembak Asaka?"

Mengangkat bahu. "Menurut lo, enaknya kapan?"

Toyoran di kepala. "Nyeh, ditanya malah nanya balik. Buruaaaan...! Yang ngincer Asaka di sekolah itu banyak, tahu!"

"Gue lebih khawatir sama yang di kuil."

"Di kuil? Oh, Takamori-san? Huahahahahaaaaa!! Jangan bilang lo selama ini cemburu sama om-om macem dia? Buahaha... BUAHHAHAHAHHAA--"

Cklik.

Wataru menghentikan tawa gilanya. Selain ia baru saja kehabisan napas akut, ia baru sadar kalau di kepalanya sudah menempel moncong dingin beretta yang selalu bertengger di saku Akito setiap saat.

Wataru harus belajar untuk tidak cari-cari masalah dengan anak seorang pemimpin yakuza.

****

"Jagain tuh Asaka."

Akito menaikkan sebelah alisnya. Shin hanya terkekeh geli. Sore itu Asaka sedang numpang mandi, membiarkan dua laki-laki itu membereskan urusan mereka yang belum selesai.

Akito memang punya urusan dengan Shin. Tapi Shin juga punya urusan dengan Akito.

"Malah bengong. Eh, denger, ya... tugasku di sini cuma sebagai pelatihnya Asaka doang. Tugas buat ngejagain dan bikin dia bahagia, semuanya ada di pundakmu."

"... kemarin Wataru ngomong gini, sekarang Anda."

Shin tergelak. Puas.

"Jadi, kapan mau nembak Asaka?"

****

Obrolan hampir satu bulan yang lalu....

"Banyak orang yang nyangka kita jadian ya, Ki?"

"Hmm... iya, sih. Bahkan anak-anak orkestra juga pada nanyain, kita dari kapan jadiannya. Pas gue bilang engga, mereka nyuruh gue jadian sama lo aja."

"Ahhahahaa... Wataru juga, tuh. Emangnya, kita sedeket itu ya?"

"Engga tau juga. Gimana ya, Sa? Mungkin karena selama ini gue terlalu nge-diffuse perasaan gue, gue jadi bingung sendiri...."

"Kalau bingung, cari pegangan."

"Huahahahaa! Asa belajar ngelawak."

"...."

"...."

"... Aki...."

"... hmm?"

"Thank you for always be there for me. Would you mind to stay forever? Even if it's just a friend?"

"I will, Asa. Always."

.

Obrolan lima menit yang lalu, di belakang panggung, tepat setelah drama musikal murid-murid kelas satu Lazura High Academy dipentaskan....

"Gue suka sama lo, Sa."

"Hmm... udah engga bingung? Udah ngerti sama perasaan sendiri, sekarang?"

"Udah."

"...."

"Ngg... gue engga minta dijawab sekarang, sih...."

"Stop. Gue juga sayang lo, Ki."

Sumringah. "Ja--jadi...."

"Jadi? Jadian engga, nih?"

"... kok malah lo yang nanya, Sa?"

"Ya abisnya lo kelamaan!"

"Oke, oke. So, Asaka, would you be my girl?"

Senyum manis. Terlalu manis sampai Akito hampir pingsan di tempat karena diabetes mendadak.

"I do."

No comments:

Post a Comment