20140612

Ring-a-Bell

Bravely Default: Flying Fairy, a fanfiction
Disclaimer: Kensuke Nakahara, Square Enix
_________________________________________________________________________________

"Ringabel, ini kopi hitam yang kau minta."

Aku menoleh, dan Edea tiba di sampingku dengan segelas kopi hitam yang mengepulkan uap-uap tipis, beserta lipatan selimut di tangan satunya. Tidak biasanya ia jauh-jauh membawakan minumanku dari bar ke geladak kapal. Biasanya ia akan berteriak-teriak memanggilku dari pintu bar dan ujung-ujungnya akan memarahiku yang seringkali membiarkan kopi seduhannya mendingin di atas meja.

Aku mengambil gelas dari tangannya dan tersenyum. "Trims, Edea. Ini benar kopi pesananku, 'kan? Tidak tertukar dengan kopi susu pesanan Tiz lagi?"

"Astaga, Ringabel... aku baru saja membuatkannya untukmu dan Tiz sedang berada di ruang mesin bersama Datz. Kau ini... kita hanya pernah salah tertukar gelas kopi satu kali saja dan kau sudah rewel seperti ini."

Aku tertawa. Edea, Edea... kau benar-benar lucu dan menggemaskan.

Aku lalu menyeruput kopiku. Rasanya panas dan pahit. Rasa yang kental. Sensasi yang biasanya melegakan kerongkonganku, yang kali ini terasa lebih... entahlah, pekat menyesakkan? Aku tidak tahu. Sensasi itu tidak muncul dari pangkal lidahku sekalipun. Rasa itu... muncul jauh dari benak terdalamku.

"Ringabel? Kau pucat... kau tidak apa-apa? Apakah... ingatanmu kembali lagi?"

Aku hanya tersenyum kecut dan menghela napas. Edea, betapa aku tidak bisa memberitahumu tentang apa yang saat ini berputar dalam kepalaku. Sebagai pemuda amnesia yang baru saja mulai berhasil mengingat-ingat potongan memorinya... ingatan yang kumiliki ini ternyata bukanlah hal yang menyenangkan. Sama sekali. Catat itu. Dan aku bersumpah bahwa aku lebih baik kehilangan ingatan se-la-ma-nya, daripada aku harus kembali melihat memori itu.

Ingatanku di hari aku... seolah kehilangan segalanya. Aku, Alternis Dim, salah satu dari enam petinggi Eternia, orang yang paling mencintai seorang Edea Lee di seluruh pelosok Luxendarc--oh ya, aku berani menjamin hal itu--harus berakhir tragis dengan memeluk jasad mendingin satu-satunya gadis yang kucinta.... Jangan salahkan aku jika aku lantas mengambil jalan pintas dan merusak dunia paralel yang lain, merasuk sebagai seorang Ringabel sang pemuda tampan penderita amnesia seraya tidak mengacuhkan adanya eksistensi nyata dan tunggal seorang Alternis Dim pada dunia paralel tersebut.

Oh ya, aku mungkin memang mengacaukan segalanya. Dan aku harus melakukannya, karena aku tidak bisa... aku benar-benar tidak bisa jika aku harus....

Harus....

Sebuah kehangatan tiba-tiba saja menyelimuti. Dan Edea, membentangkan selimut dari tangannya untuk menyelubungi tubuhku, rapat. Betapa jantungku nyaris berhenti berdetak ketika ia kemudian bersandar di pundakku. Terlihat begitu nyaman, begitu menikmati.

Sementara aku hanya bisa diam terpaku.

"Ringabel, ceritakan padaku... apa yang kau lihat? Masa lalu seperti apa yang kau lalui?"

Itu bukanlah masa lalu, Edea. Yang kulihat adalah sebuah dunia yang lain, di mana aku harus kehilangan dirimu dan... dan aku tidak bisa hidup tanpamu.

"Kau dan Alternis... kenapa wajah kalian betul-betul identik satu sama lain? Ah ya, dari pertama kali aku mengenal Alternis dan ia sama sekali tidak pernah membuka topengnya...."

Aku adalah Alternis, Edea. Aku adalah eksistensi yang sama seperti pemuda yang kau rutuki karena loyalitasnya pada ayahmu. Dan aku pernah menjadi eksistensi itu, Edea. Aku pernah mengalami dunia di mana kau membenciku... dan jika aku mengatakannya padamu, apakah kau akan kembali membenciku? Menjauhiku?

"Ringabel, kau ini... sebetulnya siapa?"

Lagi-lagi aku terdiam dan menghela napas. Namun sebelah tanganku yang semula bebas kini bergerak, di luar kesadaranku sendiri, menyusuri pinggang Edea dan menariknya dalam rangkulanku.

"Ri--Ringabel...?"

Aku tidak mempedulikan reaksi tubuhnya yang kaku, setengah hati ingin menolak meski setengahnya yang lain, aku tahu, sama-sama ingin semakin memperkecil jarak yang ada di antara aku dan dirinya. Aku tidak peduli apakah setelah sisi temperamen dan keras kepalanya berhasil melampaui situasi melankolis romantis seperti ini, ia akan kembali memukuli kepalaku atau mencubiti lenganku. Karena yang berputar dalam kepalaku kini hanyalah eksistensi tentang dirinya.

Sudah empat kali aku mengulang siklus dunia paralel yang sama. Yang pertama adalah satu-satunya dunia di mana aku kehilangan Edea. Dan jika dunia keduaku adalah dunia di mana aku tidak tahu siapa aku namun bidadari kecil ini masih bisa tersenyum dan tertawa... maka aku rela menukarnya. Akan berapa kali lagi? Aku tidak tahu, silakan tanya pada Agnes atau si peri mencurigakan itu.

Yang pasti, sumpahku hanya satu. Edea akan kupastikan selamat, tidak peduli ratusan atau ribuan kali lagi aku harus mengulang siklus dunia.


****


"Hey, Ringabel...."

"Ya...?"

"Sungguh lucu ketika setiap kali harus aku yang memicu ingatanmu untuk kembali."

"Ahahaha... mungkin karena kaulah dewi cantik yang membunyikan bel dalam kepalaku, Edea."

"... tidak lucu, Ringabel. Aku heran, Alternis tidak pernah sekalipun merayuku, dan kenapa setelah kehilangan ingatan lalu kau menjadi monster tukang tebar pesona seperti ini? Haahhh... aku benar-benar tidak bisa memahami kalian."

"Tidak perlu kau pahami soal yang itu, Edea. Itu urusanku dengan masa laluku. Yang perlu kau pahami cuma satu."

"Hmm? Apa itu memangnya?"

"Ringabel atau Alternis... pilih mana?"

.

.

.

"HOOIII KALIAN BERDUAAA...!!! Jangan bikin ribut di geladak kapal atau kutinggalkan kalian di Funk Francesca bersama hantunya Barbarossa...!!"

20140608

If I Were A....

Project [K], a fanfiction
Disclaimer: GoRA & GoHands
_________________________________________________________________________________

Desing nyaring pedang yang menggasak roda papan seluncur. Berkali-kali. Tanpa henti. Entah sudah yang ke berapa kali atau sudah berlangsung selama berapa jam. Izumo dan Seri bahkan sudah jengah dan terlalu lelah untuk menghentikan adu jotos kelas kakap imbisil tersebut.

Ditambah lagi, hari ini pertengkaran 'Monyet vs. Gagak' itu konon katanya ditengarai oleh lontaran kalimat seenak jidat dari si tersangka Monyet Bodoh yang tiba-tiba saja bertandang ke apartemen Gagak Temperamen, khusus untuk menyampaikan patah-patah katanya dalam bentuk bisikan di daun telinga si Gagak.

"Ne, Misaki... seandainya kau perempuan, kau sudah kunikahi sejak dulu."

Maka jangan heran kalau satu detik setelahnya seorang Fushimi Saruhiko lantas dihujani lemparan sendok, garpu, pisau daging, penggorengan, katel, penanak nasi, sampai kompor listrik. Tidak puas dengan aksi melempar-seisi-apartemen pada si tersangka yang melarikan diri dengan setelan wajah mesum, Misaki menyambar papan seluncurnya dan mengejar Saruhiko ke jalan.

Terjadi lagi. Ya, entah sudah berapa kali, dan warga Kota Shizume sendiri sepertinya sudah terbiasa dengan 'kiamat kecil' di kota mereka.


****


'Seandainya kau perempuan....'

Misaki menggeleng-gelengkan kepala, bahkan hampir bermaksud membenamkan kepalanya ke tembok terdekat. Karena kalimat bisikan penuh gelegak menggairahkan yang terus menghantuinya, tanpa ampun.

'Seandainya kau perempuan, kau sudah....'

....

"AAAAAAAAARRGHHH MONYET SIAALLAAAAANNN...!!!!"

--bugh!!

Kepalanya telak menghantam sesuatu. Sayangnya benda empuk, bukan benda keras semacam tembok atau meja.

Oh, rupanya ada yang sengaja melemparkan bantal padanya agar tembok apartemennya tidak jadi berlubang seukuran kepala batunya.

"Berisik, Mi--sa--kiiii~~... kau tidak lihat aku sedang kerja?"

"TAPI KENAPA KAU HARUS KERJA DI APARTEMENKU, DASAR KAU MONYET--"

Dan Misaki tidak bisa melanjutkan kata-katanya. Berterima kasih pada eksistensi benda lembut yang dingin dan menyegel erat bibirnya rapat-rapat. Jarak di antara ia dan Saruhiko yang raib dalam satu manuver dari Saruhiko. Misaki tidak bisa bernapas. Wajahnya merona sejadi-jadinya.

Namun Misaki juga tidak melawan. Tidak bergerak. Hanya terdiam. Membisu.

Menikmati.

....

"Sa--Saru... sudah, ah.... Kau 'kan sedang kerja...."

"Heeee... mengaktifkan mode tsundere-mu ya, Mi--sa--kiiii? Lagipula, siapa tadi yang menggangguku terlebih dahulu dengan niatan membuat tulang tengkorak retak sembari meneriakkan nama salah satu penghuni kebun binatang? Kau jahat sekali, Mi--sa--kiiii...."

"Haaaahh.... Iya, iyaaa, aku minta maaf.... Sudah, aku mau berangkat kerja sambilan. Kalau kau mau pulang ke asramamu, kuncinya letakkan saja di pot bunga seperti biasa. Jam kerjaku sampai toko tutup jam sebelas, jadi kau tidak perlu menungguku."

"Hmmm...."

"... ne, Saru?"

"Ya?"

"... tidak. Tidak jadi. Nanti saja. Sudah, ya...!"

--blam!!


****


Misaki ingin menyangkalnya. Menyangkal segala rasa manis dan pahit yang menggeliat di benaknya, yang melahirkan jutaan kepakan kupu-kupu yang melilit di perutnya. Rasa yang selalu hadir dan menyeruak setiap kali pemuda itu hadir dalam dunianya, tersebut namanya dari sudut otaknya, maupun imaji yang kerap kali memenuhi isi otaknya, mematri figur itu ke manapun Misaki menoleh dan melangkahkan kaki.

Yang jadi pertanyaan... bolehkah?

Atau malah... bisakah?

Karena pada kenyataannya, ketika Misaki pulang kerja begitu larut seusai ritual pertengkaran mereka siangnya, tidak seperti biasanya, Saruhiko belum beranjak dari apartemennya. Dan pemuda itu menyambutnya, dengan lengkung hangat di antara kulit pucat itu, disertai aroma menggoda sup miso dan ramen rasa kari yang Misaki ingat betul belum tercium ketika ia pergi dari apartemennya tadi.

Rasa itu kembali menyeruak. Membutakan matanya. Mengisi jiwanya. Menguapkan lelah raganya.

Misaki tidak bisa menahan bibirnya untuk melengkungkan sebuah senyum yang sama.


****


"Jadi, tadi kau mau tanya apa?"

"Heh? Tanya... yang mana?"

"Yang sebelum kau berangkat kerja."

"... ha? Memang tadi aku mau tanya apa?"

"...."

"...?"

"... Misaki, kau ini benar-benar...."


****


'Kau janji, tidak akan pernah meninggalkanku, lagi?'

'Ya.'

'Kita akan memulai semuanya lagi, bersama, tanpa peduli akan status klan kita?'

'Ya. Dan aku ingin kau berjanji satu hal padaku.'

'Apa?'

'Jangan pernah tinggalkan aku, lagi.'

'Ya.'