Disclaimer: Kensuke Nakahara, Square Enix
_________________________________________________________________________________
"Ringabel, ini kopi hitam yang kau minta."
Aku menoleh, dan Edea tiba di sampingku dengan segelas kopi hitam yang mengepulkan uap-uap tipis, beserta lipatan selimut di tangan satunya. Tidak biasanya ia jauh-jauh membawakan minumanku dari bar ke geladak kapal. Biasanya ia akan berteriak-teriak memanggilku dari pintu bar dan ujung-ujungnya akan memarahiku yang seringkali membiarkan kopi seduhannya mendingin di atas meja.
Aku mengambil gelas dari tangannya dan tersenyum. "Trims, Edea. Ini benar kopi pesananku, 'kan? Tidak tertukar dengan kopi susu pesanan Tiz lagi?"
"Astaga, Ringabel... aku baru saja membuatkannya untukmu dan Tiz sedang berada di ruang mesin bersama Datz. Kau ini... kita hanya pernah salah tertukar gelas kopi satu kali saja dan kau sudah rewel seperti ini."
Aku tertawa. Edea, Edea... kau benar-benar lucu dan menggemaskan.
Aku lalu menyeruput kopiku. Rasanya panas dan pahit. Rasa yang kental. Sensasi yang biasanya melegakan kerongkonganku, yang kali ini terasa lebih... entahlah, pekat menyesakkan? Aku tidak tahu. Sensasi itu tidak muncul dari pangkal lidahku sekalipun. Rasa itu... muncul jauh dari benak terdalamku.
"Ringabel? Kau pucat... kau tidak apa-apa? Apakah... ingatanmu kembali lagi?"
Aku hanya tersenyum kecut dan menghela napas. Edea, betapa aku tidak bisa memberitahumu tentang apa yang saat ini berputar dalam kepalaku. Sebagai pemuda amnesia yang baru saja mulai berhasil mengingat-ingat potongan memorinya... ingatan yang kumiliki ini ternyata bukanlah hal yang menyenangkan. Sama sekali. Catat itu. Dan aku bersumpah bahwa aku lebih baik kehilangan ingatan se-la-ma-nya, daripada aku harus kembali melihat memori itu.
Ingatanku di hari aku... seolah kehilangan segalanya. Aku, Alternis Dim, salah satu dari enam petinggi Eternia, orang yang paling mencintai seorang Edea Lee di seluruh pelosok Luxendarc--oh ya, aku berani menjamin hal itu--harus berakhir tragis dengan memeluk jasad mendingin satu-satunya gadis yang kucinta.... Jangan salahkan aku jika aku lantas mengambil jalan pintas dan merusak dunia paralel yang lain, merasuk sebagai seorang Ringabel sang pemuda tampan penderita amnesia seraya tidak mengacuhkan adanya eksistensi nyata dan tunggal seorang Alternis Dim pada dunia paralel tersebut.
Oh ya, aku mungkin memang mengacaukan segalanya. Dan aku harus melakukannya, karena aku tidak bisa... aku benar-benar tidak bisa jika aku harus....
Harus....
Sebuah kehangatan tiba-tiba saja menyelimuti. Dan Edea, membentangkan selimut dari tangannya untuk menyelubungi tubuhku, rapat. Betapa jantungku nyaris berhenti berdetak ketika ia kemudian bersandar di pundakku. Terlihat begitu nyaman, begitu menikmati.
Sementara aku hanya bisa diam terpaku.
"Ringabel, ceritakan padaku... apa yang kau lihat? Masa lalu seperti apa yang kau lalui?"
Itu bukanlah masa lalu, Edea. Yang kulihat adalah sebuah dunia yang lain, di mana aku harus kehilangan dirimu dan... dan aku tidak bisa hidup tanpamu.
"Kau dan Alternis... kenapa wajah kalian betul-betul identik satu sama lain? Ah ya, dari pertama kali aku mengenal Alternis dan ia sama sekali tidak pernah membuka topengnya...."
Aku adalah Alternis, Edea. Aku adalah eksistensi yang sama seperti pemuda yang kau rutuki karena loyalitasnya pada ayahmu. Dan aku pernah menjadi eksistensi itu, Edea. Aku pernah mengalami dunia di mana kau membenciku... dan jika aku mengatakannya padamu, apakah kau akan kembali membenciku? Menjauhiku?
"Ringabel, kau ini... sebetulnya siapa?"
Lagi-lagi aku terdiam dan menghela napas. Namun sebelah tanganku yang semula bebas kini bergerak, di luar kesadaranku sendiri, menyusuri pinggang Edea dan menariknya dalam rangkulanku.
"Ri--Ringabel...?"
Aku tidak mempedulikan reaksi tubuhnya yang kaku, setengah hati ingin menolak meski setengahnya yang lain, aku tahu, sama-sama ingin semakin memperkecil jarak yang ada di antara aku dan dirinya. Aku tidak peduli apakah setelah sisi temperamen dan keras kepalanya berhasil melampaui situasi melankolis romantis seperti ini, ia akan kembali memukuli kepalaku atau mencubiti lenganku. Karena yang berputar dalam kepalaku kini hanyalah eksistensi tentang dirinya.
Sudah empat kali aku mengulang siklus dunia paralel yang sama. Yang pertama adalah satu-satunya dunia di mana aku kehilangan Edea. Dan jika dunia keduaku adalah dunia di mana aku tidak tahu siapa aku namun bidadari kecil ini masih bisa tersenyum dan tertawa... maka aku rela menukarnya. Akan berapa kali lagi? Aku tidak tahu, silakan tanya pada Agnes atau si peri mencurigakan itu.
Yang pasti, sumpahku hanya satu. Edea akan kupastikan selamat, tidak peduli ratusan atau ribuan kali lagi aku harus mengulang siklus dunia.
****
"Hey, Ringabel...."
"Ya...?"
"Sungguh lucu ketika setiap kali harus aku yang memicu ingatanmu untuk kembali."
"Ahahaha... mungkin karena kaulah dewi cantik yang membunyikan bel dalam kepalaku, Edea."
"... tidak lucu, Ringabel. Aku heran, Alternis tidak pernah sekalipun merayuku, dan kenapa setelah kehilangan ingatan lalu kau menjadi monster tukang tebar pesona seperti ini? Haahhh... aku benar-benar tidak bisa memahami kalian."
"Tidak perlu kau pahami soal yang itu, Edea. Itu urusanku dengan masa laluku. Yang perlu kau pahami cuma satu."
"Hmm? Apa itu memangnya?"
"Ringabel atau Alternis... pilih mana?"
.
.
.
"HOOIII KALIAN BERDUAAA...!!! Jangan bikin ribut di geladak kapal atau kutinggalkan kalian di Funk Francesca bersama hantunya Barbarossa...!!"