Yang sakit jiwa itu bukan dirinya--orang lain tidak tahu saja. Yang sakit jiwa itu Lyra. Yang punya kepribadian ganda itu Lyra. Ia sih merasa dirinya masih normal. Punya satu kepribadian dengan mulut sinis setajam silet saja sulit diurus, untuk apa capek-capek menambah lagi?
Lalu? Dirinya masih mencintai gadis itu mati-matian?
Hey, Bung... itu tandanya kau sama sakit jiwanya dengan pujaan hatimu itu....
****
Lima huruf picisan itu ada, bernaung dan tumbuh, mengajari makna hidup yang lain bagi Shinji. Dan perasaan yang dibalas serupa oleh yang manapun diri Lyra yang sebenarnya, membuatnya merasa utuh. Menjadi satu pribadi nyata. Melawan semua getir dan pilu yang selalu membelenggu lengan dan kakinya.
Meski saingannya adalah adiknya sendiri, Shinji tak peduli. Toh adiknya hanyalah bayang-bayang, sosok pemuda tanggung yang sok jago mengaklamasikan diri untuk menjadi saingan cintanya... padahal nyawa pemuda itu sepenuhnya ditanggungkan di pundak Shinji.
Yang tidak mudah adalah mengapresiasi setiap rasa dalam jiwanya.
Lyra boleh saja takluk olehnya, tapi untuk menaklukkan Noir? Hey Bung, betapa dunia ini berputar dengan begitu adil dan sempurna.
****
"Mau ke mana?"
"Cari angin."
"Jam segini? Nanti sakit."
"Apa pedulimu?"
Shinji mendesah. Gatal ingin menguyek habis gadis bermata merah di hadapannya itu.
"Jaket? Heh, aku engga butuh--"
"Diem dan pake. Dan ini karena gue peduli--"
Terlambat. Jaket jins lusuh miliknya habis dikoyak dalam hitungan detik. Shinji menepak jidat. Besok ia mau tak mau harus ke tukang jahit langganan untuk minta dibuatkan jaket baru.
****
"Ada bagusnya 'kan, jaket yang kemarin aku sobek?"
"... heh?"
"Jaket yang sekarang lebih bagus. Dan berhenti ngerokok. Kamu mau mati muda?"
Tangan Noir yang cekatan merebut puntung rokok dari mulut Shinji, melemparkannya ke tanah dan menginjaknya hingga hilang abu-abu merah terbakar.
Satu batang lagi yang dikeluarkan Shinji... untuk batang tersebut termasuk sisa batang-batang yang lain dalam bungkusnya, yang diremas Noir dan kembali diinjak-injak di atas tanah, tanpa ampun hingga bungkusan putihnya carut-marut mengeluarkan isi daun-daun tembakau kering.
"O--oy!! Lo gila--"
"Diem dan jangan bawel. Dan ini karena aku peduli."
Satu desir menggila, menggelegak di benak Shinji. Adrenalinnya terpacu, meningkat dua ratus persen, namun juga diimbangi guyuran rasa hangat yang menyelinap pekat di jiwanya, selalu hadir untuk menjawab setiap pertanyaan yang sebetulnya tak perlu lagi ia tanyakan.
Pertanyaannya tentang cinta.
****
"Kak... Kakak lebih suka aku atau Noir?"
"Hush... ngigau kamu, ya? Udah, istirahat sana. Nanti demamnya tambah tinggi...."
"Engga mau. Jawab dulu...."
Desah napas. "Dua-duanya. Toh kalian sama-sama aja. Engga ada bedanya, dan ngapain dibeda-bedain?"
"Hihihi... Kak Shinji, emang baik, ya...."
Desiran hangat. Yang sekarang miris. Shinji nyaris tidak bisa bernapas.
"Kak... kalau aku mati, Kakak bakal sedih?"
"... engga. Kamu bakal kucupu-cupuin seumur hidup. Kamu bakal kumarahin, kucaci maki tiap aku dateng ke kuburanmu, engga akan kubawain dupa apalagi bunga. Lagian, enak aja bilang kayak gitu. Jangan pernah lagi bilang, jangan pernah...."
"...."
"... sorry."
"... malem ini, temenin aku di sini, ya...?"
"Iya. Tapi kamu janji, jangan mati dulu."
... jangan mati dulu sebelum aku bisa bikin kamu bahagia....
No comments:
Post a Comment