20130130

Raindrops

Ragnarok online, a fanfiction
Disclaimer : Lee Myoung Joon and Lyto corp.
_________________________________________________________________________________

"Pulang, Ka."

Hujan masih bengis membasahi New World. Sebengis ratusan rasa yang berkecamuk dalam benak sang guillotine cross muda. Dan ia pun tidak repot-repot untuk menggubris celoteh menyebalkan dari royal guard di hadapannya, yang juga digenangi dengan ribuan rasa tak biasa. Genangan raut cemas dan sorot mata sarat kekalutan yang tidak seharusnya.

Sama-sama menggila dalam diam dan sejuta persepsi dalam otak masing-masing.

"Pulang. Om Ru sama Tante Siren khawatir. Magus juga lagi engga bisa ke sini. Makanya, pulang."

Dengus melecehkan. Leon langsung gatal ingin menguyek habis perempuan di depannya itu.

"Apa peduli lo?"

"Peduli gue? Demi Odin, astaga, Aka... gue peduli sama lo atas nama kedamaian dunia baru ini!"

Rintik hujan. Semakin deras. Hujan yang hanya guyuran air sedingin esnya saja. Tanpa angin. Tanpa guruh di langit.

Akachi mengacungkan katarnya. Manik birunya yang berubah menjadi semerah darah. Sadis. Sementara rahang Leon mengeras. Mulut mengatup rapat-rapat.

"Lo mau bawa gue pulang. Baik. Pulangin gue dalam keadaan apapun."

Selamatkan aku dari kegilaan yang merusak isi kepalaku ini, Leon....

****

"Leon! Aka--"

"HEH!! Cewek gue BUKAN KARUNG GONI!! Ngapain lo ngebopong dia kayak gitu--"

"Kamu luka, Leon. Kamu engga apa-apa?"

Senyum satir. "Cuma beberapa kali rolling cutter dan sekali cross ripper slasher... kalau dua kali, mungkin saya yang melayang, Om, Tante...."

"Mungkin kalau dia lagi waras, dia bisa ngalahin kamu, ya?"

"Ahaha... Om Ru bisa aja...."

"... thanks, Leon."

"Heh. Makanya, jagain tuh cewek lo. Kalau udah ngamuk gini, susah nanganinnya."

Susah, iya... nanganin sisa perasaan gue aja susah, terus gue masih aja kena getah buat nanganin dia?

"Hahaaa... masih bersyukur tapi, 'kan... isi hati lo masih selamat, engga seancur armor lo?"

"Brengsek lo jadi orang, Magus. Dan--OUCH...!! Woi yang di situ--MAGUS LO MAU NGAPAIN LUKA GUE?!!"

20130124

Exile

A song fiction
Featuring Style - EXILE
_________________________________________________________________________________


Kawaranai de, kawaranai de
Kimi no koe ga kikoeru
Sono koe wo tayori ni hashiri tsuzukeru



Jangan berubah. Jangan pernah. Bahkan untuk sekelebat kedipan mata. Jangan pernah. Jangan....
Karena sepasang kaki yang selalu membawaku berlari... menuju jernih tawa di ujung rinduku.


DOR! DOR! DOR!

JDAR!!

"Kapten--Andreas!! Minggir dari situ!"

"Sialan!! Wataru...!"

"Heaaaaaarrgghh!!!"

Syuuu...

BRAK!!

DOR! DOR!

"Asaka...!"

"Aki, Leyka, back-up Andre! BACK-UP KAPTEN BURUAN!!!"

"Andreaaasss...!! Woooiii cari mati lo, apaaa?!!"

KABOOOMM!!

Prak... Prak...




Jangan pernah berubah. Bahkan untuk setiap tetes darah di atas Bumi. Jangan pernah. Jangan....


"Andreas! Minggir--"

JLEGAARR!!


****

Kawaranai yo, kawarenai yo
Sono kotae ga kikoeru
Ano chikai wa kesenai



Dan tidak akan pernah dapat berubah....
Jawaban dari segala tanya di sorot mata, janji-janji yang pernah terucap di bibir, hingga terpatri perihnya ke dasar hati.
Tidak akan pernah berubah, tidak.


"Bego...!! Lo cari mati ya, barusan?"

"... maaf, Ley... maaf...."

"Yang barusan itu...."

"... baru separuh kekuatan Shiva."

"SEPARUH?!! Dan bisa apa kita ngadepinnya... terlebih lagi... dia...."


Betsubetsu no michi wo yuku demo kotae wa hitotsu to
Kanashigaru hitomi ni nani mo iezu ni
Uratsuita kono boku wo kesshite kuyamitakunai


"Beruntung kita bisa lolos."

"Yeah... berkat Ndre, sebetulnya...."

"... Ndre...?"


Kawaranai de, kawaranai de
Kono mune mo sakenderu
Kimi mo ima dokoka wo hashiri tsuzukeru



Ke mana pun, di mana pun, jangan pernah....
Hingga aku tiba di tempatmu kelak, maka jangan pernah....


"Jangan khawatir. Biar gue sendiri... yang maju ngelawan Shiva nantinya."

Stupidity, Beyond Comparison

Ragnarok Online, a fanfiction
Disclaimer : Lee Myoung Joon and Lyto corp.
_________________________________________________________________________________

Freya Lincarge, seorang pewaris darah warlock kenamaan. Berparas jelita dengan kulit putih merona, helai demi helai biru langit bermega yang selalu mengundang embusan angin menyapu di sekeliling, manik biru langit malam yang kerap kali menenggelamkan pasang-pasang mata yang berebut sesuap kerling mata tanda cinta atau hanya goda manis sekejap semata. Atau juga seorang gadis sembilan belas tahun yang tengah dipersiapkan untuk menjadi pengantin yang sempurna bagi sang mempelai pria, dengan pelatihan memasak dari sang kakak kedua, kursus menjahit kilat dari sang kakak sulung, tak lupa seni berkebun dan merangkai bunga dari sang ibu.

Banyak mata demi mata kelaparan menatap dirinya? Oh, jangan pernah berani untuk bertanya.

Meski sayangnya, setiap kali para entitas yang dinamakan laki-laki itu bernyali untuk mengajaknya berkencan, dapat dipastikan hari esoknya Freya tak akan pernah lagi menemukan wajah laki-laki yang bersangkutan... setidaknya tidak untuk satu tahun ke depan.

Freya pun tidak peduli. Toh matanya berhasil menangkap figur dambaan dari sang rune knight muda, tak peduli meski pujaan hatinya alih-alih menambatkan hidup pada, ehm, adik angkatnya. Sakit? Tentu saja. Apa yang kurang darinya? Cantik, pintar, berbakat di profesinya sebagai pengguna kekuatan sihir kelas profesional. Dibandingkan Echo yang punya tubuh lemah, yang hanya berprofesi sebagai boneka kesayangan para petarung istana dengan kekuatan penyembuh-di-jalan-Tuhannya.

Namun, takdir tinggal takdir. Bahkan ketika sang adik bungsu meninggalkan Rune Midgard untuk selamanya, Freyr tidak pernah satu detik pun mengalihkan pandang padanya, bahkan untuk sekedar pelarian semata. Tidak pernah.

Freyr yang selamanya menjadi Freyr, mencintai Echo dalam dukanya.

Freya yang selamanya... mencintai Freyr dalam perih cemburu mengusik di hati? Oh, maaf saja.

Midgard masih punya segudang pria-pria tolol-lapar-cinta yang mampu bertekuk lutut di hadapannya dalam hitungan waktu setengah jam saja.

Yang jadi masalah... mengapa selama ini semuanya tidak pernah berjalan semudah perkiraannya?

****

Malam hari. Pintu rumah yang dibuka. Berpasang-pasang mata yang akrab di ingatan. Awalnya Freya berjengit. Magus wajar saja berada di sana--apalagi kalau bukan atas alasan mengapel sang kakak sulung? Faux? Ah, kurang bosan apa ranger satu itu untuk terus membuntuti dirinya, menghujaninya dengan bergalon-galon rasa cinta, perhatian, dan curahan rindu tiada terperi? Tapi sampai ada si kembar Leon dan Freyr...

... wajah Freya disengat panas membakar seketika.

Sapa hangat Magus. "Hei, Frey... gimana kencannya hari ini?"

Dengus gerutu Faux. "Kamu engga diapa-apain sama si whitesmith-baru-jadi itu, 'kan?"

"Eng--engga kok. Seperti biasa, sih... makan malem, di tengah-tengah dia permisi, katanya mau bawa kejutan buat aku... dikasih tiaranya Maya, sih, lumayan, tapi habis itu tampangnya pucet, terus buru-buru nganter aku pulang, Kutawarin masuk dulu buat minum teh juga engga mau."

"Hmm.... Jadi, masih lebih mending Faux dong ya, ketimbang cowok ingusan barusan?"

Kalau melihat mantan pujaan hati hanya sebatas menimbulkan sensasi panas menggeletik di wajah, celetukan tengil-penuh-kesengajaan Leon berhasil membuat jantung Freya berdebar tiga kali lipat dari biasanya. Satu gerakan cepat, gerak mulut yang tidak dapat ditangkap gendang telinga, dan Freya menghilang dari kaki tangga, buru-buru masuk ke dalam kamarnya, demi mendinginkan wajah merah padamnya dalam pelukan bantal raksasa dengan aroma wangi mawar yang memabukkan.

****

"BUAHHAHAAHAHAHAAA--"

Satu lemparan bantal duduk. Pelakunya adalah seorang guillotine cross wanita yang duduk menyilangkan tangan dengan raut wajah yang tak bisa dibaca. Korbannya adalah seorang royal guard tampan dengan seringai maut-yang-sebetulnya-membuatnya-berkali-kali-lebih-tampan bertengger menghiasi wajah.

"Magus, Magus... berani bener lo, nanya dengan intonasi sok polos kayak tadi?"

"Sorry, Guys. Tangan gue bersih kali ini. Gue dateng telat, bahkan hampir engga kebagian kejadian serunya. Dan kalian masih bisa bilang ini ulah gue?"

Satu cubitan menyengat di pinggang sang sorcerer dari sang kekasih tercinta.

"Tapi itu 'kan ide lo, gila! Masih berani mungkir--"

"Hey...! Gimana Freya barusan?"

"Woi, barusan bukan ide gue! Itu ide gila si om mesum yang baru aja dateng, tuh!"

"Harap maklum... otak om biasanya langsung encer kalau menyangkut komplikasi cinta para anak laki-laki om."

"Yang pasti ini membuktikan kalau cowok barusan cuma pecundang sok jago yang engga pantes buat Freya. Ditakutin pake katar karatan dapet minjem punya Aka aja ngibrit."

"Yoi, Faux anakku... belum kayak calon guild master-nya minstrel yang gigih berjuang selama sebulan sebelum akhirnya dia dilempar ke Pulau Dewata buat dapet tanda tangannya Leak. Dan kamu masih hutang satu buah Yggdrasil atas jasa warp-portal-tepat-di-depan-mata-Leak, layanan khusus ayah gantengmu ini."

"... bapak sama anak sama gilanya."

"Apa, Freyr??"

"Err... engga, lupakan."

"Jadi, tuan putri kita masih aman, nih?"

"Tinggal tunggu waktu aja, sampai tuan putri mau membuka hatinya untuk Faux, sang pangeran berkuda putih yang dipastikan akan memenangkan hati sang putri...."

"... dengan cara apapun."

Satu desah napas. Akachi melengos dari tempat duduknya.

Ternyata bukan cuma kakak sulung keluarga Lincarge yang mati-matian menjaga sang adik bungsu dari ancaman serangga-serangga nakal....

20130122

Cross Impact

Ragnarok Online, a fanfiction
Disclaimer : Lee Myoung Joon and Lyto corp.
_________________________________________________________________________________

Pintu masuk sphinx, dan hamburan tornado pasir hampir saja menerjang pintu Barat kota Morroc.

"Lincarge, tunggu--hey, kubilang tung--"

JDAR! JDAR!

"Jangan asal tebas--HEY!! Berhenti sekarang atau--"

Syuuu...

JDAARR!!!

"Akachi!! Berhenti--BERHENTI!! Berhenti atau aku sebagai--"

Pisau beracun bergagang keemasan melayang, nyaris menyerempet satu milimeter di samping telinga Az. Kepulan debu dan pasir yang mulai menipis, memperlihatkan sosok salah satu antek Satan Morroc--yang baru saja lepas dan mengamuk di kota--menggelepar, bersimbah cairan lengket hijau kebiruan, dan seorang wanita muda bertubuh tegap. Matanya nyalang menatap Az. Ganas.

"Sebagai guild master tidak segan-segan untuk menebas kepalamu, begitu, Az?" cemooh Akachi. Bibirnya tertarik beberapa sentimeter, melengkung sinis penuh ancaman. Nada bicaranya merendah lagi satu oktaf. "Butuh dua setengah tahun menggantikan posisiku untuk membuatmu merasa, di atas angin?"

"Akachi! Sudah kubilang kalau aku akan menyelesaikannya sendiri, lalu mengapa--"

Tepukan di pundaknya, nyaris membuat Az menancapkan jamadhar pada si pemilik tangan tersebut--seorang sorcerer pria yang setengah tubuhnya ditutupi pasir, diikuti seorang rune knight di belakangnya.

"Tahu waktumu, Az," keluh Freyr, menyisir rambutnya dari sisa pasir yang menghujani. "Siapapun yang tidak tahu kapan waktunya Aka marah...."

"... harus bersyukur masih bisa hidup di tempat."

Sayangnya, Az tetap tidak mengerti apa yang membuat mantan guild master-nya semurka itu. Apakah karena ia membiarkan Inkarnasi Morroc tanpa sengaja lepas dan berkeliaran mencari makan siang di dalam kota, atau karena ia menghalangi jalan sang superior yang hendak berburu Pharaoh?

****

"Masih ngambek sama Az, Ka?"

"... kayak gini, udah keliatan damai?"

"Kalian emang ada masalah apa, sih? Gue sebagai sepupunya, jadi engga enak, tahu!"

Satu hela napas. Berganti dengusan. "Kalau engga gini, kapan dia punya waktu santai untuk ngasih surat pembebasan pengasingan gue?"

"... terus lo sekarang di sini, muter-muter nyari Pharaoh...."

"... hidup lo sendiri juga sama aja engga nyantainya, Ka...."

Evolusi Kukre

Ragnarok Online, a fanfiction
Disclaimer : Lee Myoung Joon and Lyto Corp.
_________________________________________________________________________________

Ketika frase kata tolol ternyata tidak cukup untuk mendefinisikan seringai-seringai polos tiga bocah laki-laki berumur tujuh tahun seusai kelas, seorang gadis berambut biru langit malam lantas berkacak pinggang dengan satu pisau pendek siap menghunus di tangan kirinya, sementara tangan kanannya menggondol satu kantung kecil yang diduga berisi sejumlah zeny.

"Kalian, ngerencanain apalagi kali ini, heh?"

Tiga senyum selebar gerbang sekolah novice di sisi Barat Laut Prontera, yang balas ditandas dua pitam besar tambahan di kepala Akachi.

"Engga mau ngomong? Oke, duit ini aku kasihin ke Kepala Sekolah--"

"--JANGAAAANN...!!!"

****

Sudah jadi legenda tentang anak-anak perempuan keluarga Lincarge yang terkenal dengan keelokan paras dan keanggunan tingkah laku mereka, dari generasi ke generasi. Kali ini, Siren berhasil mewariskan seluruh kecantikan imortal Lincrage pada anak bungsunya, Freya, dengan bukti telak peperangan para assassin dan warlock sebagai hasil salah-mantra-ramuan-cinta dari si anak gadis bersangkutan. Semua itu belum menghitung berapa ribu pria dari seantero Midgard yang berbondong-bondong mengirimkan sebuket witherless rose, permata 17 karat, hingga seperangkat gaun pengantin tak lupa cincin kawin--yang pada akhirnya mereka hanya berakhir sebagai sasaran tembak mesin-mesin tempur baru keluaran Rudolph....

... atau seperti itulah yang orang luar lihat. Namun tidak bagi Freyr, Magus, dan Orion.

Kutukan valkyrie-turun-ke-Midgard sudah mereka rasakan bahkan dari sebelum si bungsu jelita pertama kali melihat dunia. Hanya dengan seorang Akachi Lincarge, dan ketiga laki-laki itu merasakan neraka yang membakar seisi perut mereka.

Bukan. Bukannya bisa dibilang cinta. Dulunya, ini cuma cerita tentang obsesi anak-anak kecil semata.

Akachi, murid paling pintar di sekolah novice, paling gesit dan paling... segalanya. Yang kurang dari gadis mungil itu hanyalah senyum, tawa, dan segala rupa ekspresi yang menunjukkan kegembiraan. Sederhana, tapi betapa hal itu selalu menjadi taruhan-pengisi-jam-istirahat bagi Freyr, Magus, dan Orion. Ah, tidak, Freyr sebetulnya hanya ikut-ikutan diseret saja oleh dua kawan 'seperjuangan'nya. Toh Freyr tidak menolak. Toh Freyr akan dapat jatah hadiahnya sendiri dari sang ayah jika ia berhasil membuat si gadis sulung keluarga tetangga berhasil menarik sudut bibirnya barang satu detik saja.

Dan ritual Akachi bermain kucing-kucingan sepulang sekolah hingga malam menjelang, sudah jadi rutinitas harian yang tidak lagi bisa dihindarkan dan dilerai... bahkan oleh seorang ayah-terlalu-cinta-anak-perempuannya macam Rudolph Lincarge sekalipun.

****

"Leon ngaku sama lo, kalau dia suka Aka?"

Freyr mengangkat bahu. "Entah. Emang udah rusak kali otaknya? Lo sendiri, ngincer Aka juga, 'kan?"

"Abis lucu. Manyun-manyun imut gimana gitu, deh~"

"Ah, Magus emang masokis jadi orang. Atau sado? Gue sih, seneng liatnya pas dia lari dikejer-kejer kukre... buahahahahaaa!! Mukanya ampe merah gitu... lo-lo perhatiin, engga?"

"Engga. Gue sih fokus mikirin gue bakal dikasih makan malem apa sama bokap kalau berhasil bikin dia ketawa kejer."

"Monyong, lu! Mikirin makan mulu! Jadi, target hari ini, bikin Aka ketawa?"

"Sip! Pasang berapa?"

"Gue, atas nama Orion Lexar, bertaruh... TIGA MENIT!! Nih taruhan gue hari ini, tiga belas zeny."

"Cupu. Gue yakin bisa bikin dia tahan ketawa sekitar lima menit, dua puluh lima zeny."

"Err... gue yang aman, semenit aja cukup. Hmm... enam belas zeny--"

"--jadi total Kepala Sekolah bisa dapet hari ini sekitar lima puluh empat zeny, hmm? Lumayan, bisa beli satu daging buat makan malem."

Selama sisa hari itu, tidak perlu bertanya lagi jika para novice tidak berhasil menemukan poring dan lunatic untuk naik level.

****

Dan frase kata tolol kemudian menjadi karma bagi Freyr, Magus, dan Orion. Tolol karena menyumpahi kutukan keluarga Lincarge dengan segenap tawa pongah bocah kecil, dan tolol ketika bunga cinta musim semi yang menghinggapi masing-masing benak terdalam mereka, tanpa luput dari dinding ego setebal apapun. Ah, tidak, tentu saja, kali ini pun Freyr hanya 'ikut-ikutan', toh Echo bukan anak kandung keluarga Lincarge. Dan... ah, realita memang terasa pahit di lidah... Echo pada akhirnya lebih memilih Leon, si kakak kembar, ketimbang dirinya.

"Jadi, lo dulu suka Aka karena...?"

"Manyun-manyun imut, dan itu engga berubah ampe sekarang."

"Tambah parah, sebenernya. Bahkan rambutnya pun ikutan ubanan satu kepala penuh, ckckckck. Cuma cowok yang satu ini aja, yang buta-karena-cinta."

"Leon, berhenti noyor kepala gue."

"Heh, udah lama engga liat Magus ngambek."

"... kakak edan."

"Apa, Freyr? Mau disodorin golden thief bug lagi, eh?"

"Err... engga, makasih."

"Terus sekarang, masih mau lanjut taruhan kita?"

"Jelas~ tantangan dari Om Raya buat hari ini, apa?"

"Hmm... gimana caranya supaya Aka mau... pake ini!!"

Bunny band. Tiga pasang mata yang kemudian membelalak, untuk kemudian tergelak pada detik berikutnya.

"Gue pass, Leon. Gue masih sayang nyawa."

"Freyr, ikut taruhan, atau kamu kulempar ke Prontera culvert--"

"--OK OK!! Satu menit, err... tiga ratus zeny."

Magus mengangkat tangan. "Setengah menit cukup, gue cuman pengen liat after effect-nya doang. Lima ratus zeny."

"Gue, atas nama penerus keluarga Lexar yang bentar lagi bakal lahir, tiga menit, empat ratus lima puluh zeny!!"

"Heh, cupu lo semua. Gue yakin, bisa maksa dia pake ini LIMA MENIT, tujuh ratus dua puluh lima zeny--"

Mata katar tipis, dingin menempel di leher Leon. Cairan lengket berwarna keunguan, dan para lelaki yang duduk mengelilingi satu meja bundar di salah satu kafe di sudut Payon mendadak tahu kalau Akachi baru saja menemukan spesies racun-serangga-pembuat-impotensi terbaru.

"Total semuanya seribu sembilan ratus tujuh puluh lima zeny. Bahkan engga cukup untuk biaya gue hidup selama satu minggu di pedalaman Gunung Mjolnir...."

Setelah ada legenda mengenai Satan Morroc, para penduduk yakin bahwa Payon pun memiliki satu legenda tersendiri mengenai Assassin Payon yang siap membumihanguskan kota, detik itu juga.

Irato

"Bapak tua itu engga bakal kenapa-kenapa, jangan khawatir."

"Kakak! Bisa-bisanya Kakak ngomong kayak gitu! Engga cemas kalau beliau terlibat kecelakaan? Engga cemas kalau--"

"Engga lah, ngapain? Kalau emang udah waktunya mati ya, mati aja. Hidup jangan dibikin susah, Ran."

"...."

"Rana?"

"... setelah kita sama-sama kehilangan ibu, terus Kakak berani bicara gini tentang Bapak?! Padahal Kakak yang paling tahu gimana sakitnya rasa yang disebut 'kehilangan' itu, terus kenapa--"

"--karena aku TAHU makanya aku BEGINI...!"

"Engga. Kakak cuma lari, lari dari kenyataan tentang mereka. Kakak lari, cuma untuk melabuhkan diri Kakak ke perasaan Kakak tentang aku! Kalau aku yang pergi, kalau aku yang mati...."

"... diam dan jangan ngomong apa-apa lagi, Rana! Ran? KIRANA, BALIK KE SINI KAMU...!!"

****

"Itu yang terjadi?"

Rehan mengangguk. Mulutnya terasa begitu kering seusai bercerita. Menenggak segelas teh hijau di hadapannya pun tak menghilangkan dahaga yang membakar kerongkongannya, pahit di pangkal lidahnya.

Satu helaan napas, dan lawan bicaranya, sekali lagi, merebahkan tubuhnya di sandaran sofa. "Setelah tiga tahun Asha pergi, dan Kak Rehan baru cerita hal ini sama aku, sekarang?

"Kenapa?"

"Karena kupikir, kamu yang sekarang udah bisa maafin Airlangga, atas semua kejadian ini."

Pemuda itu menyesap kopi robustanya dalam-dalam. Rehan melihat dengan jelas, kilat perih merayap melewati manik cokelat susu si lawan bicaranya. Rehan tidak bisa berharap, tidak akan pernah bisa. Menjadi penyambung lidah tidak akan membawanya pada konklusi yang semula ia inginkan. Seolah bertaruh di atas papan judi, Rehan telah mengeluarkan seluruh langkah dan wajah dadunya, tanpa sekalipun dipertunjukkan permainan apa yang digenggam wajah dadu lawannya.

"Kalau gitu, biar kata-katanya Airlangga aku ucapin balik," tukas Aksara. Raut wajah pemuda itu mengeras. "Kalau memang udah waktunya mati ya, mati aja. Tolong sampaikan hal itu ke Airlangga... meski sebenernya aku bakal lebih puas kalau ngomong langsung ke depan muka orangnya."

Rehan mau tidak mau tersenyum. Ya, ia telah kehabisan langkah. Lawannya hanya punya satu sisi dadu untuk menggulingkannya dari arena permainan.

"Kamu... membenci Airlangga?"

Satu senyum sinis. Aksara berdiri dan merapikan jaket parasut hitamnya.

"Engga ada yang perlu dibenci atau disesali, Kak. Toh Asha akan lebih bahagia di tempatnya sekarang. Dunia ini... udah terlalu penuh polutan, udah engga bisa lagi dia sinarin dengan sinar-sinar kecilnya yang hangat."

****

'Sha, kamu bahagia, 'kan? Bahagia dengan tempat kamu sekarang?'

                                                                           'Apa? Aku engga bisa denger jawaban kamu....'

                   'Aku? Masih berusaha untuk bahagia, Sha....'

_________________________________________________________________________________

Irato, in music terminology, it means 'angrily'

20130117

Raven

A collaboration fict
Featuring Ciel, (c) Tasya Aniza, 2013
_________________________________________________________________________________

"Apa sih, yang bikin kalian, entitas yang dinamakan cowok ini bersitegang cuma untuk seseorang macem gue?"

"Kenapa, ya? Gue sendiri engga tau, dan gue juga engga tahu isi otaknya Shiozaki bersaudara. Kalau buat gue sih, karena elo ya elo. Udah."

"Gue adalah gue? Heh, engga waras lo, Ciel. Dan siapa gue? Entitas yang lebih engga jelas lagi apaan. Cuma jadi benalu yang numpang idup doang di badan orang."

"Stop, engga ada kata-kata sarkas lagi. Seenggaknya engga untuk diri lo sendiri, Noir."

"Cih. Emang apa peduli lo?"

"Apa peduli gue? Gue peduli sama lo, Mulut Cabe! Atau, kalimat gue yang tadi perlu gue ulangin lagi? Bahwa gue su--"

"Diem dan jangan bawel dan gue-udah-denger! Dan, sorry, gue engga bisa sama lo."

"...."

"... toh gue bakal pergi, Ciel."

"... kapan?"

"Entah. Sampai Lyra siap, mungkin?"

"Kalau lo mau pergi, pastiin kalau lo pamit dulu sama gue, oke?"

"Engga janji."

****

Jimat itu berbercak darah kehitaman, sudah mengering. Jimat dari Kuil Kiyomizu yang sengaja Ciel belikan jauh-jauh di Kyoto, bahkan Ciel sendiri masih ingat jelas ketika ia mengalungkan jimat tersebut di leher jenjang Lyra. Jimat untuk penolak bala, jimat untuk keselamatan. Toh gadis itu sudah mentah-mentah menolak dirinya. Apalagi yang bisa Ciel lakukan sebagai bukti rasa yang selalu menari-nari dalam senyap rindunya?

Dan jimat itu kembali padanya. Lusuh dan--ya, berbercak noda kehitaman. Diserahkan padanya oleh tangan dingin dan gemetar seorang Shiozaki Shinji. Ciel menggeram. Nyaris saja ia butuh kelas manajemen emosi tambahan jika ia memutuskan untuk melayangkan tinjunya ke wajah Shinji saat itu juga.

Meski Ciel tidak bisa.

"Lyra... mana?"

Tak ada jawaban. Tak perlu melihat raut wajah Shinji pun, Ciel sudah tahu jawabannya.

Dan kali ini, Ciel tidak tahan. Detik berikutnya Shinji telah terpuruk di tanah. Tanpa perlawanan.

Sial... sial sial siaal...!

Ciel menendang dan memukul. Membati buta. Sementara Shinji membiarkan pukulan-pukulan itu menghujani dirinya. Pertarungan dua entitas bernama laki-laki dalam kekalutan, duka, dan nyeri tak terperi. Tak perlu adanya kata-kata yang ditukar, teriakan amarah dan luka yang dibiarkan menjerit di sisi terdalam sang jiwa. Ciel yang tidak tampak mau mengampuni. Begitu pula Shinji yang tidak butuh diampuni.

Siaaall...!! Aaaaaaakkhh!!!

Jimat yang semula berwarna biru itu kini semakin pekat menghitam. Diguyur bercak kemerahan baru yang masih segar. Ciel tidak lagi melihatnya. Ciel tidak lagi mau memedulikannya. Memento terakhirnya dengan gadis itu, Lyra--atau juga Noir, biar saja Shinji yang merengkuhnya erat dalam dekapan. Biar saja Shinji yang menanggung sakitnya, bahkan untuk bagian Ciel sekalipun.

Semua salah Shinji. Semua gara-gara keluarga Shiozaki yang tidak melindunginya....
Mereka bilang itu cinta. Tapi kenapa Lyra dan Noir harus....

Sosoknya yang berbalik pergi, sedikit demi sedikit hilang di tengah guyuran hujan. Membasuh satu-satu imaji dan kenangannya.

Dan Ciel membiarkan hujan membaurkan hangatnya air mata yang membasahi sisi-sisi wajahnya.

****

"Lo--masih belum jera juga?"

"Ada juga cowok yang engga kenal kata nyerah, tau."

"Dan lo termasuk salah satunya? Hobi bener lo nyiksa diri."

"Heheh... siapa dulu dong gurunya?"

"Ah, bawel! Dan engga pake enggol-senggol!"

"Marah apa marah? Kok senyum-senyum? Ih, coba lo banyak senyum deh, pasti cantik...."

"... basi banget lo jadi cowok, Ciel...."

20130116

Love Potion #6

"Apa sih yang bikin lo masih belum ngomong juga?"

Andreas tersenyum kecil, menampilkan guratan wajah halusnya yang begitu tampan. Beberapa helai rambut yang menjuntai menutupi dahinya lantas tertiup angin malam.

Dan Leyka di sebelahnya. Menggembungkan pipi dengan gemas.

"Ndre...! Lo denger 'kan gue daritadi ngomong apa?"

"Aduh! Jangan dicubit dong, Ley! Iya iya, gue denger...."

"Terus, kenapa pertanyaan gue belum dijawab? Ndre, ibaratnya kata-kata lo itu udah tinggal di ujung lidah doang, aduuuuhh!!!"

"Kok jadi lo yang gemes sih, Ley? Guenya aja perasaan kalem--"

"--eh, yang engga kalem bukan cuma gue, ya! Obvious banget, Ndre... tapi apa sih yang bikin lo masih engga mau nyatain juga sampai-detik-ini ke Nandi? Bahkan Wataru--atau Chiharu deh yang super lemot sekalipun udah pada nyadar, tau!"

"Hmm... gue harus jawab banget nih, Ley?"

Satu jitakan kecil di pundak Andreas. Tidak bisa di kepalanya kecuali Leyka mau memakai wedges setinggi sepuluh sentimeter.

"Oke, oke.... Yah, gue nunggu sampai waktunya Nara bisa ngakuin keberadaan gue sebagai orang yang cinta mati sama kakaknya."

"...."

Slap!

****

"Leyka, Andre... makan malem udah siap...!"

"Tuh, udah dipanggil Nandi."

"... ampe mati juga engga bakal deh lo bisa ngaku, Ndre!"

Leyka melengos. Menjemput sejumput tanda tanya di wajah Nandi, dan meninggalkan Andreas di balkon taman asrama dengan senyuman khas pemuda itu.

Hangatnya yang memerih.

'Sampai mati ya, Ley....'

20130115

Love Potion #5

Festival musim gugur, suatu rangkaian acara tahunan wajib bagi setiap sekolah di seluruh pelosok Jepang. Paling terkenal dengan rumah hantu, rumah ramal, terutama maid cafe-nya. Bedanya dengan Lazura High Academy, yang menjadi legenda bukanlah tiga menu yang telah disebutkan pada kalimat sebelumnya.

Sekolah swasta internasional sinting ini punya tradisi yang dinamakan Cupid's Down to Earth. Ya, seperti yang kelihatannya, kontes ini tidak lain adalah perebutan gelar pasangan terbaik yang dinilai berdasarkan mawar terbanyak yang diperoleh dari setiap pengunjung maupun penghuni sekolah. Tahun ini, dari lima belas pasangan yang mendaftarkan diri, lima di antaranya merupakan pasangan tolol yang didaftarkan secara paksa oleh sang ketua acara.

.

Pasangan pertama, Akito dan Asaka.

Pasangan lawas ini dijebloskan ke dalam lingkaran samsara oleh Kaito atas permintaan anggota klub orkestra dan teater, dengan alasan mengejar kebenaran akan berita miring di telinga mengenai status keduanya yang telah sampai ke tahap lanjut, dari status 'pacaran' sampai ke 'korban-omiai-keluarga' yang sampai saat itu belum juga ada konfirmasi dari kedua belah pihak yang bersangkutan. Jelas saja, Akito dan Asaka langsung ambil langkah seribu selesai pagelaran kolaborasi orkestra dan teater sebagai hidangan pembuka acara....

... dan sampai festival berakhir, keduanya berhasil menyembunyikan diri dengan penyamaran sebagai yuki onna dan karasu tengu di wahana rumah hantu. Tapi tentu saja, tidak melupakan empat puluh satu tangkai bunga mawar yang tidak berhasil mereka tolak tepat setelah keduanya turun dari panggung pagi tadi.

.

Pasangan kedua, Rio dan Leyka.

Pasangan dengan tagline 'cebol kuadrat' yang sering salah disangka sebagai murid-murid Lazura Junior Academy oleh seantero penghuni sekolah ketika hari pertama kedatangan mereka di sana. Hebatnya lagi, Kaito si ketua acara berhasil mengiming-imingi Rio dengan berbagai macam atraksi yang melibatkan ketahanan fisik, olahraga, dan hadiah makin gratis sampai puas agar, setidaknya, wajah tampannya selamat dari tendangan berputar kebanggaan Rio.

Ketika melihat ajang tandingnya, Rio mulai menyadari bahwa si ketua acara alias Ketua Dewan Siswa Lazura High Academy itu sepertinya memang punya disfungsi otak yang cukup akut. Bagaimana tidak? Pertandingan lari rintangan lima ratus meter, dengan rintangan seperti panjat tebing, lompat kangkang, melompati papan di atas kolam renang, panjat jaring, mengelilingi hampir seluruh area sekolah dan dilakukan bersama sang pasangan... Rio bersyukur ketua acaranya belum memasukkan flying fox sebagai salah satu rintangan.

"Yo... lo serius--"

Rio tidak membiarkan Leyka meneruskan kata-katanya. Dan sedetik kemudian, Leyka sudah mulus mendarat dalam dekapan Rio--bridal style.

Ya, hanya bermodalkan dua kakinya, Rio berhasil menyabet gelar juara lari-rintangan-bersama-pasangan, dengan lima puluh tiga tangkai mawar disodokkan dalam pelukan Leyka dari para penonton yang histeris melihat aksi nekat pacarnya itu.

.

Pasangan ketiga, Luke dan Chiharu.

Pasangan paling damai dan tidak peduli dengan perlombaan--atau sepertinya Chiharu terlalu lemot untuk mengerti bahwa dirinya tengah dijadikan taruhan beramai-ramai seluruh massa yang mengunjungi festival. Keduanya malah asyik berkeliling stand, mencicipi ikayaki, es serut rasa susu stroberi, pisang cokelat, gulali apel, bertanding di wahana tembak dan pancing bola air.

Dua puluh sembilan tangkai mawar sebagai perolehan mereka, dengan seluruhnya diberikan oleh para penjaga stand yang mereka kunjungi. Bagaimana tidak? Luke terlihat begitu romantis setiap kali ia berusaha mati-matian menembak dan memancing apapun benda yang ditunjuk telunjuk mungil Chiharu.

.

Pasangan keempat, Yuuji dan Lyra...

... atau seperti itulah nama kontestan yang dengan yakin Kaito daftarkan satu minggu yang lalu.

Karena nyatanya, Shinji berhasil mengekor kemanapun adik dan pasangannya itu melangkah pergi, seolah berusaha menjauh dari jangkauannya. Dan betapa pengunjung menemukan komplikasi hubungan rumit mereka menjadi begitu menggelitik, menggemaskan, dan mendebarkan. Lyra yang kemudian diapit kanan-kirinya oleh kedua putra keluarga Shiozaki yang memang punya ketampanan di atas rata-rata... ah, impian seluruh wanita rasanya, diperebutkan oleh laki-laki seperti mereka. Yang satu tipikal bad boy kelas kakap dengan hati seromantis cassanova, sementara yang satunya lagi tipe seorang ksatria berarmor emas yang selalu hadir kapanpun dibutuhkan.

Tujuh puluh dua tangkai mawar, dengan papan skor tambahan di dekat gerbang masuk yang berisi angka taruhan untuk Shinji dan Yuuji. Dari tujuh puluh dua, ternyata Shinji berhasil memenangkan lima puluh lima mawar yang kini masih dipeluk Lyra erat-erat di dadanya.

Sepertinya, istilah 'bad-boy-memang-lebih-menarik-perhatian' itu memang benar adanya....

.

Pasangan kelima, Andreas dan Nandi.

Kali ini, untuk mengatasi masalah si adik kembar yang mengidap posesif dan sister-complex akut pada si kakak kembar, Kaito memutuskan untuk mengurung Nara dan mendandaninya menjadi butler di maid cafe, tak lupa ancaman akan memisahkan kelas mereka ketika saudara kembar itu naik kelas nanti sebagai harga mati agar Nara tidak mangkir dari kurungannya.

Dan juga kali ini, Kaito ikut turun tangan sendiri mengacaukan kedua (calon) sejoli itu.

Gosip santer memang sudah beredar, cerita yang diragukan kebohongannya mengenai sang ketua dewan siswa yang hati dan pikirannya berhasil dijungkirbalikkan atas nama cinta oleh seorang murid pindahan dari Indonesia, dengan ciri-ciri manik teduh hijau zamrud dan rambut hitam panjang berkilau layaknya bidadari turun dari langit ketujuh. Cerita hampir non-fiktif itu lantas ditangkis dengan sempurna oleh kehadiran Andreas, sang pangeran berkuda putih dari sang malaikat elok, meski sayangnya seluruh lapisan sekolah juga tahu bahwa Kaito merupakan tipe sebelum-bel-gereja-berdentang-berarti-masih-ada-kesempatan. Maka jangan heran, ketika pagi tadi Kaito mengumumkan seluruh kandidat perlombaan Cupid's Down to Earth, ia juga memproklamirkan dirinya sebagai setan yang akan merenggut salah satu pasangan perlombaan itu.

Ini yang menarik. Untuk para pengunjung dan penikmat acara. Tapi tentu saja tidak bagi Andreas dan Nandi sendiri.

Pertarungan kejar-kejaran yang lebih alot dari pasangan Shinji-Lyra-Yuuji pun berlangsung (karena memang Nandi tidak mau menyerah, tidak seperti Lyra yang pada akhirnya mengizinkan Shinji untuk ada di sampingnya), dan para panitia acara--terutama Wataru sebagai ketua seksi logistik--hanya geleng-geleng pasrah ketika papan skor taruhan untuk Kaito melawan Andreas ikut bertengger di sebelah papan skor milik Shiozaki bersaudara yang sudah mulai memasuki titik jenuh. Kalau kemenangan Shinji di atas Yuuji bisa dibilang nyaris telak, maka Andreas dan Kaito bertaruh atas ketatnya perolehan mawar untuk mereka.

Kaito empat puluh. Andreas empat puluh satu.

Andreas empat puluh tiga. Kaito empat puluh empat.

Kaito lima puluh satu. Andreas lima puluh satu.

Sampai Nandi yang gemas, pada tujuh menit sebelum tiba di penghujung perlombaan mengejar cinta tolol tersebut, melakukan hal yang--kemudian diakuinya--paling ekstrim seumur hidupnya.

Nandi mencium Andreas. Hangat. Lembut. Penuh rasa. Penuh cinta. Di tengah kerumunan massa. Sampai Andreas merengkuhnya dalam pelukan dan ia balas memeluk pemuda itu begitu erat. Tak ingin lepas. Rasa yang tidak pernah bisa terucap oleh kata-kata dengan berbagai alasan klise. Menyesap detik demi detik yang begitu manis. Menghilangkan lelah di raga keduanya.

Lima setengah menit berikutnya, kedua wajah yang tersipu--dan baru saja kembali dari nikmatnya rasa surga--berhasil memenangkan pertandingan secara mutlak, dengan perolehan total mawar murni untuk Andreas sebanyak seratus tiga tangkai.

****

"Sompreeett!! Ketua Dewan Siswa Lazura emang sintiiing!!"

"Ah, Ndre menangnya pake cara licik! Tau gitu si Ule gue cium juga di depan umum--"

JDAK!!

"Le...!! Sumpah ampun, Le!! Leykaaaa jangan putusin gueeee...!!"

"Haaaah... capeknyaaa...."

"Guys, bagi makanan dong--"

"AAAARRGHH!!! TOLOOOONNGG!!! ADA KARASU TENGU SAMA YUKI ONNA!! SYUH SYUH!! Mana Asaka?!! MANA ASAKAAAA WOOIII PANGGIL PAWANG SETAAAANN!!!"

BLETAKK!! DUAGGH!!

DOR!! DOR!! DOR!!

BRAKK!!

"Asaka-senpai, Akito-senpai, nih ada sisa cola sama kentang keriting dari cafe."

"Ah, thanks, Nara.... Bentar lagi hanabi. Yuk nonton bareng."

****

"Ndre, yang tadi... maaf, ya?"

"Hmm? Oh... engga apa-apa."

"Bentar lagi kembang apinya mulai! Ayo kita itung sama-sama!! Sepuluh...!"

"Tuh, hanabi-nya udah mau mulai."

"Sembilan...!"

"Mau gabung ke atap sama yang lain?"

"Delapan...!"

"Hmm... engga usah, deh. Di sini aja, engga apa-apa?"

"Tujuh...!"

"Oke...."

"Enam...!"

Diam. Sama-sama menunggu.

"Lima...!"

Dua pasang mata yang memandang ke luar jendela. Tapi hati yang saling menatap satu sama lain.

"Empat...!"

"Ndi...."

"Tiga...!"

"Ya?"

"Dua...!"

"Boleh, engga?"

"Satu...!"

Mengangguk. Tanpa ragu.

Bunyi letusan kembang api, merepet dilatarbelakangi gelayut gelapnya malam. Sepasang tangan kekar yang melingkar sempurna di pundak si gadis, memeluknya dari belakang. Dan suara berat mendesah yang tertempel di telinga Nandi. Meremang bulu kuduk dan terasa amat memabukkan.

"Engga baca pikiranku 'kan, Ndi?"

Nandi tertawa. Derai tawanya sejernih percikan air sungai yang mengalir di daun telinga Andreas. Menyusup hingga sukma.

"Engga mau. Nanti aja, setelah kamu bilang sendiri sama aku."

Love Potion #4

"Jadi, mau pasang berapa?"

"E--senpai, ini seriusan mau dijadiin taruhan?"

"Ahou! Ini namanya k-o-n-s-p-i-r-a-s-i, bukan taruhan! Siapa yang mau pasang duluan?"

"Tapi kalau ketauan...."

"... masih untung kita peduli, betul engga?"

"Yoi, Akito emang paling ngerti. So, siapa duluan, nih?"

"Gue pasang, tiga minggu dari sekarang!"

"Haha, punya nyali juga lo, Wataru. Yang lain?"

"Hmm, satu tahun?"

"Kelamaan, Luke... si Nandi keburu disamber Kaito kalau gitu ceritanya, sih."

"Lo sendiri pasang berapa, Shinji?"

"Gue? Seminggu cukup."

"Eh gembel...! Huahahahaaa!!"

"Rio?"

"Taruhan paling spesifik, pas Nandi ulang tahun!!"

"Artinya sebulan lagi, ya? Orisinil dan sangat memungkinkan untuk terjadi, apalagi buat cowok macem Andreas. Wah, bisa-bisa kamu kalah, Aniki."

"Bodo. Gue sih penganut aliran makin-cepat-makin-baik-toh-cowoknya-pun-udah-kebelet, jadi yaaa--"

"Kalian ngapain?"

Senyum-senyum tolol, seringai pongah, tak lupa lembar maupun keping lima ratus sampai seribu yen yang kemudian disembunyikan. Sempurna. Membuat Andreas, Nandi, Leyka, dan Asaka saling mengerutkan kening.

"Gimana Lyra?"

"Udah baikan, masih demam tapinya. Chiharu yang nemenin di ruang kesehatan."

"Ooh...."

"Terus, kalian barusan ngapain? Kok pada mesam-mesem-mesum gitu?"

Belum sempat ada yang menjawab, wajah Nandi keburu merona matang sementara Asaka mengacungkan bogemnya, satu pitak urat menyembul di pelipis.

Para lelaki yang punya gangguan otak kronis itu sepertinya harus bersiap-siap untuk memasuki stadium empat penyakit mereka.... Dan mereka menyebut reaksi Nandi dan Asaka tadi sebagai, ehm, intuisi wanita.

Betapa intuisi wanita merupakan suatu kata benda yang sakral dan sederhana, namun bisa berbalik menjadi sangat, sangat berbahaya.

Love Potion #3

Shinji tidak terima jika dirinya diberi julukan sebagai setan pedofilia penakluk anak kecil. Oh, tolong... sasaran cintanya toh hanya lebih muda tiga tahun darinya. Masih pantaskah dia dikatai sebagai preman pasar pengidap pedofilia?

Yang sakit jiwa itu bukan dirinya--orang lain tidak tahu saja. Yang sakit jiwa itu Lyra. Yang punya kepribadian ganda itu Lyra. Ia sih merasa dirinya masih normal. Punya satu kepribadian dengan mulut sinis setajam silet saja sulit diurus, untuk apa capek-capek menambah lagi?

Lalu? Dirinya masih mencintai gadis itu mati-matian?

Hey, Bung... itu tandanya kau sama sakit jiwanya dengan pujaan hatimu itu....

****

Lima huruf picisan itu ada, bernaung dan tumbuh, mengajari makna hidup yang lain bagi Shinji. Dan perasaan yang dibalas serupa oleh yang manapun diri Lyra yang sebenarnya, membuatnya merasa utuh. Menjadi satu pribadi nyata. Melawan semua getir dan pilu yang selalu membelenggu lengan dan kakinya.

Meski saingannya adalah adiknya sendiri, Shinji tak peduli. Toh adiknya hanyalah bayang-bayang, sosok pemuda tanggung yang sok jago mengaklamasikan diri untuk menjadi saingan cintanya... padahal nyawa pemuda itu sepenuhnya ditanggungkan di pundak Shinji.

Yang tidak mudah adalah mengapresiasi setiap rasa dalam jiwanya.

Lyra boleh saja takluk olehnya, tapi untuk menaklukkan Noir? Hey Bung, betapa dunia ini berputar dengan begitu adil dan sempurna.

****

"Mau ke mana?"

"Cari angin."

"Jam segini? Nanti sakit."

"Apa pedulimu?"

Shinji mendesah. Gatal ingin menguyek habis gadis bermata merah di hadapannya itu.

"Jaket? Heh, aku engga butuh--"

"Diem dan pake. Dan ini karena gue peduli--"

Terlambat. Jaket jins lusuh miliknya habis dikoyak dalam hitungan detik. Shinji menepak jidat. Besok ia mau tak mau harus ke tukang jahit langganan untuk minta dibuatkan jaket baru.

****

"Ada bagusnya 'kan, jaket yang kemarin aku sobek?"

"... heh?"

"Jaket yang sekarang lebih bagus. Dan berhenti ngerokok. Kamu mau mati muda?"

Tangan Noir yang cekatan merebut puntung rokok dari mulut Shinji, melemparkannya ke tanah dan menginjaknya hingga hilang abu-abu merah terbakar.

Satu batang lagi yang dikeluarkan Shinji... untuk batang tersebut termasuk sisa batang-batang yang lain dalam bungkusnya, yang diremas Noir dan kembali diinjak-injak di atas tanah, tanpa ampun hingga bungkusan putihnya carut-marut mengeluarkan isi daun-daun tembakau kering.

"O--oy!! Lo gila--"

"Diem dan jangan bawel. Dan ini karena aku peduli."

Satu desir menggila, menggelegak di benak Shinji. Adrenalinnya terpacu, meningkat dua ratus persen, namun juga diimbangi guyuran rasa hangat yang menyelinap pekat di jiwanya, selalu hadir untuk menjawab setiap pertanyaan yang sebetulnya tak perlu lagi ia tanyakan.

Pertanyaannya tentang cinta.

****

"Kak... Kakak lebih suka aku atau Noir?"

"Hush... ngigau kamu, ya? Udah, istirahat sana. Nanti demamnya tambah tinggi...."

"Engga mau. Jawab dulu...."

Desah napas. "Dua-duanya. Toh kalian sama-sama aja. Engga ada bedanya, dan ngapain dibeda-bedain?"

"Hihihi... Kak Shinji, emang baik, ya...."

Desiran hangat. Yang sekarang miris. Shinji nyaris tidak bisa bernapas.

"Kak... kalau aku mati, Kakak bakal sedih?"

"... engga. Kamu bakal kucupu-cupuin seumur hidup. Kamu bakal kumarahin, kucaci maki tiap aku dateng ke kuburanmu, engga akan kubawain dupa apalagi bunga. Lagian, enak aja bilang kayak gitu. Jangan pernah lagi bilang, jangan pernah...."

"...."

"... sorry."

"... malem ini, temenin aku di sini, ya...?"

"Iya. Tapi kamu janji, jangan mati dulu."

... jangan mati dulu sebelum aku bisa bikin kamu bahagia....

Love Potion #2

A duet fiction
Featuring Shin Takamori from Jigoku, (c) Alamanda Hindersah, (soon to be) 2013
_________________________________________________________________________________

CRASSHH!!

PYARR!!

Bulatan berwarna biru keperakan yang menyelubungi Asaka pecah berkeping-keping. Asaka terpental, tubuh gemulainya menabrak pohon di belakangnya. Shin mendecak, setengah marah, kebanyakan lelah.

"Masih belum! Kekkai-mu masih terlalu lemah dan terlalu gampang ditembus! Lagi...!"

Matahari sudah semakin condong menggantung di ufuk Barat, tapi Asaka masih belum mau menyelesaikan sesi latihan nerakanya. Dan Asaka tidak tahu, sepasang mata cokelat susu memandangnya dari undakan tangga Kuil Takamori. Sorot mata yang digenangi rasa iba, tidak tahan, tidak tega... dan segala hal yang bisa disiratkan seorang laki-laki yang sedang dimabuk lima huruf.

C, i, n, t, a.

Asaka terlalu tega. Tega membiarkan Akito yang meringis nyeri setiap kali tubuhnya dipelantingkan di setiap sesi latihannya bersama seorang Shin Takamori, ahli kekkai paling tersohor di seantero Pulau Honshu.

****

Sebenarnya, Shin tidak sejahat itu. Selaiknya seorang kakak laki-laki mapan, dewasa, namun sedikit urakan dan keras kepala pada adik perempuannya yang tak kalah keras kepalanya merepet minta latihan efektif setiap akhir minggu, selalu ada takoyaki, okonomiyaki, atau soft cream matcha gratis untuk Asaka di penghujung latihan. Padahal tidak ada ikatan darah yang sama yang mengalir di antara keduanya.

Shin yang mengagumi Asaka sebagai gadis remaja yang sadar akan tugasnya, takdir yang diembannya, tali nasibnya yang berputar tidak seperti remaja seusianya, acuh tak acuh dengan latar belakang dan semua tetek bengek yang dimiliki Asaka. Dan Asaka yang menghormati Shin sebagai seorang guru yang baik, keras dan tegas, namun selalu menghargai setiap titik peluh yang ia kucurkan untuk usahanya.

Hanya sebatas itu.

Tapi selama Akito belum tahu pasti apa isi hati Asaka yang sebenarnya, api cemburu itu masih menari-nari dengan liar dalam dadanya.

****

"Terus, kapan mau nembak Asaka?"

Mengangkat bahu. "Menurut lo, enaknya kapan?"

Toyoran di kepala. "Nyeh, ditanya malah nanya balik. Buruaaaan...! Yang ngincer Asaka di sekolah itu banyak, tahu!"

"Gue lebih khawatir sama yang di kuil."

"Di kuil? Oh, Takamori-san? Huahahahahaaaaa!! Jangan bilang lo selama ini cemburu sama om-om macem dia? Buahaha... BUAHHAHAHAHHAA--"

Cklik.

Wataru menghentikan tawa gilanya. Selain ia baru saja kehabisan napas akut, ia baru sadar kalau di kepalanya sudah menempel moncong dingin beretta yang selalu bertengger di saku Akito setiap saat.

Wataru harus belajar untuk tidak cari-cari masalah dengan anak seorang pemimpin yakuza.

****

"Jagain tuh Asaka."

Akito menaikkan sebelah alisnya. Shin hanya terkekeh geli. Sore itu Asaka sedang numpang mandi, membiarkan dua laki-laki itu membereskan urusan mereka yang belum selesai.

Akito memang punya urusan dengan Shin. Tapi Shin juga punya urusan dengan Akito.

"Malah bengong. Eh, denger, ya... tugasku di sini cuma sebagai pelatihnya Asaka doang. Tugas buat ngejagain dan bikin dia bahagia, semuanya ada di pundakmu."

"... kemarin Wataru ngomong gini, sekarang Anda."

Shin tergelak. Puas.

"Jadi, kapan mau nembak Asaka?"

****

Obrolan hampir satu bulan yang lalu....

"Banyak orang yang nyangka kita jadian ya, Ki?"

"Hmm... iya, sih. Bahkan anak-anak orkestra juga pada nanyain, kita dari kapan jadiannya. Pas gue bilang engga, mereka nyuruh gue jadian sama lo aja."

"Ahhahahaa... Wataru juga, tuh. Emangnya, kita sedeket itu ya?"

"Engga tau juga. Gimana ya, Sa? Mungkin karena selama ini gue terlalu nge-diffuse perasaan gue, gue jadi bingung sendiri...."

"Kalau bingung, cari pegangan."

"Huahahahaa! Asa belajar ngelawak."

"...."

"...."

"... Aki...."

"... hmm?"

"Thank you for always be there for me. Would you mind to stay forever? Even if it's just a friend?"

"I will, Asa. Always."

.

Obrolan lima menit yang lalu, di belakang panggung, tepat setelah drama musikal murid-murid kelas satu Lazura High Academy dipentaskan....

"Gue suka sama lo, Sa."

"Hmm... udah engga bingung? Udah ngerti sama perasaan sendiri, sekarang?"

"Udah."

"...."

"Ngg... gue engga minta dijawab sekarang, sih...."

"Stop. Gue juga sayang lo, Ki."

Sumringah. "Ja--jadi...."

"Jadi? Jadian engga, nih?"

"... kok malah lo yang nanya, Sa?"

"Ya abisnya lo kelamaan!"

"Oke, oke. So, Asaka, would you be my girl?"

Senyum manis. Terlalu manis sampai Akito hampir pingsan di tempat karena diabetes mendadak.

"I do."

20130114

Love Potion #1

Leyka umur empat belas tahun. Dan Rio pun sama-sama berumur empat belas tahun.

Keduanya telah sama-sama menyimpan rasa. Sejumput manis di sudut benak terdalam yang menanti untuk meretas menjadi bunga-bunga merah jambu dengan wangi memabukkan. Sayangnya, alamat tujuan mereka tidak pernah sama.

Atau mungkin... belum sama.

Rio yang tak pernah berhenti terpukau oleh polah polos Leyka, setiap lemparan kata pedas maupun ledak tawa hasil guyonan kebanggaannya sendiri. Leyka yang selalu apa adanya, ribut dikejar kecoak dan semenit kemudian cekikikan dijilati Ringgo si kucing hitam-putih campuran persia-angora.

Sementara Leyka dan rasa manisnya yang memerih terhadap Andreas. Sang senior berotak secanggih prosesor komputer teranyar, tubuh atletis yang jago bela diri, ketua OSIS kebanggaan SMP Lazura, dan sikap gentleman memesona yang berhasil menaklukkan hati para wanita... bahkan guru-guru dengan setengah kepala ditumbuhi uban sekalipun.

Dan alamat tujuan lima huruf picisan Andreas? Tentu saja bukan Leyka.

Inilah yang membuat Rio panas dingin pada malam sebelum kelulusan Andreas. Tentang rencana yang Andreas bisikkan padanya siang tadi. Tentang keterlibatan Leyka, juga Nandi--si gadis berparas elok seolah malaikat yang harus selalu ada di setiap cerita-cerita novel maupun komik yang berhasil menyita segenap hati dan pikiran Andreas.

Malam itu, Rio disodori dua pilihan.

Bilang. Atau diam.

Yang memiliki arti lain : peduli pada perasaan Leyka, atau tidak peduli.

Rio tidak bisa tidur. Gelisah dan resah. Padahal bukan ia yang besok akan dipanggil menaiki podium untuk mengucapkan pidato pelepasan.

****


"... gue jadi Kak Ndre juga… kalau gue mau sekalian nembak Nandi, gue juga pasti pengen ngobrol berdua aja, bahkan engga ada Nara kalau bisa.”

“Terus, lo masih cemburu? Masih sedih?”

“Kalau sama Nandi sih, gue rela kalah, Yo. Beneran. Ketimbang Kak Ndre jadian sama cewek yang lebih engga jelas dan gue engga kenal, masih mending Nandi ke mana-mana. Lagian, kayak kata Kak Ndre, dia udah anggep gue kayak adik, dan lama-lama pun gue anggep dia udah kayak kakak gue sendiri.”

“Hoo…. Jadi, gue punya kesempatan dong, Le?”

“Kesempatan? Maksud lo?”

“Kalau gue bilang gue suka sama lo, dan sekarang gue tawarin lo jadi cewek gue, lo mau engga?”

Leyka nyaris tersedak es campurnya. Dan gedoran di dada Rio semakin meliar. Rahangnya sampai ikut-ikutan mengeras. Seringai selebar pintu aulanya yang membeku--ia agak khawatir kalau-kalau setelan wajahnya tidak bisa kembali normal lagi seumur hidupnya.

“Hahahaa… becanda ya lo, Yo? Becanda banget.”

Rio bergeming. Untuk sepersekian detik, hatinya serasa busa sabut cuci yang diperas hingga kering kerontang.

“Iya, Le. Gue cuma bercanda, wahhahahahahaaaa!! Ya ampun, muka lo, Le… muka lo… BUAHAHAHAHAHAAAAA!!!!”

Kali itu, Rio tertawa. Memilih konsekuensinya untuk diguyur semangkuk es campur tepat di atas kepala cepak-hampir-botaknya. Memilih yang ia yakini sebagai pilihan terbaik dalam hal peduli-akan-perasaan-Leyka. Toh Leyka tertawa. Toh Leyka akan punya waktunya sendiri untuk membenahi isi hatinya. Menata ruang baru yang bisa ia susupi nanti... atau mungkin yang memang Leyka bereskan untuk dirinya huni, dalam hitungan satu kata : selamanya.

Yang jadi pertanyaan, kapan?

****

Rio umur tujuh belas tahun. Dan Leyka yang sama-sama berumur tujuh belas tahun.

Sudah ada rona merah menggemaskan di pipi Leyka setiap kali mereka bertatap mata. Dan Rio pun semakin nyata menempelkan tulisan "Hanya-Ada-Cinta-Bang-Rio-Buat-Neng-Ule" di jidat lebarnya. Hari-hari seperti drama sinetron kejar-daku-kumakin-kabur-kaumakin-maksa-tapi-aku-suka tak pernah berhenti barang sedetik saja. Membuat teman-teman mereka yang lain semakin gemas--terlebih lagi Andreas, yang semakin dipanasi sang ego untuk memulai aksi serupa pada sang pujaan hati.

"Le, udah tiga tahun...."

"Hmm? Tiga tahun apanya?"

"... ah, lo lupa, Le? Parah bener. Katanya punya fotografi memori...."

"Apaan sih? Kalau ngomong yang jelas, ah! Tiga tahun yang lalu itu selama tiga ratus enam puluh lima hari, banyak banget hal yang kita lalui sama-sama, tau! Apa, yang lo makan gehu dari idung?"

"Yah, giliran gue cacat aja lo inget, Le. Bukan itu. Yang pas kelulusan Ndre."

"Hah? ... ooh, yang lo gue siram pake es campur?"

"He-eh... sebelumnya lagi ada apa, Le?"

Satu semburat merona di pipi, kentara membuat Rio mengulum senyum penuh kemenangan.

"Hahaha... yang... yang lo becanda itu, 'kan?"

"Emang gue becanda apa, Le?"

Leyka menahan napas. Ludah yang tercekat di tenggorokan. Seringai Rio yang sama lebarnya seperti tiga tahun lalu.

Dan satu pertanyaan dari suara kecil Leyka yang membisik. Gemetar. Seisi perut Rio yang lantas serasa dijungkir balik.

"... masih berlaku engga, Yo? Tawaran dan becandaan lo yang waktu itu...."

"Apa, Le? Lo kalau ngomong yang keras, engga kedengeran!"

Bohong. Padahal kedua indera pendengaran Rio menangkap satu per satu rentetan huruf itu dengan jelas. Sangat jelas. Egonya hanya tak tahan untuk mendengarnya sekali lagi, terucap dari mulut Leyka.

Satu jitakan mampir di kepalanya. Leyka memonyongkan bibir, membuang muka. Untuk satu gerakan yang tak pernah disangka-sangka. Bahkan gagak Wataru yang numpang hinggap di tiang listrik dengan tujuan awal untuk memata-matai pun bisa mati jantungan melihatnya.

Kecupan kilat. Bibir ke bibir. Rio dan Leyka. Sepasang manik yang membelalak dan sepasang lagi yang terpejam. Kedua wajah yang lantas merona merah. Latar belakang mega jingga senja matahari terbenam. Kurang apa lagi? Oh ya, kurang backsound disertai burung-burung merpati yang menari-nari di angkasa.

"Menurut lo sendiri, Le? Yang kayak gini, masih bisa dibilang engga berlaku?"

"...."

"... Le? Err... kok nangis? Le... sorry, Le... sumpah gue engga maksud--"

PLAK!!

BRUKK!!

Tato berbentuk telapak tangan di pipi Rio. Dan jarak di antara mereka yang semakin menipis dengan Leyka menubrukkan tubuh mungil di dadanya, membenamkan tangis sesengukan sambil menyumpahinya, membuat seragam sekolahnya basah seketika. Tapi Rio tak mampu menghentikan tawanya. Tawa lepasnya yang begitu bahagia. Adrenalin rush-nya yang baru saja berhenti dan menimbulkan sensasi melayang hingga langit ke tujuh.

Kalau sudah begini, Rio harus siap dipalak pajak jadian oleh makhluk-makhluk-lapar-gersang-cinta yang menunggunya di asrama nanti.

20130107

Awaken

"Ndi... masih inget gue? Masih... bisa denger suara gue?"

Kugenggam tangan pucat itu seerat mungkin. Membiarkannya merasakan gemetar yang menjalar di sekujur tubuhku. Sementara mata hijau itu menatapku, lama sekali, sampai akhirnya Nandi tersenyum dan mengangguk. Tangan dinginnya yang kemudian balas menggenggamku, meski terasa begitu lemah.

Kupaksakan seulas senyum mampir di wajahku. Kenapa rasanya begitu perih?

"Ndi, gue sama Nara pergi dulu, ya. Prosesi pembangkitan kekuatan para Vishnu sekitar dua malem lagi. Gue yakin Asaka-senpai pun pasti udah berangkat ke sana," aku menelan ludah, rasanya tenggorokanku sangat kering, "Lo... baik-baik di sini, ya. Masih ada Lyra dan kakak beradik Shiozaki. Kalau ada apa-apa, minta tolong sama mereka aja. Inget, Ndi... bahkan Lyra sekalipun engga mau lo kalah. Peduli amat dewa macem apa yang ada di dalem tubuh lo, lo engga boleh kalah... janji sama gue, Ndi, janji?"

Namun Nandi hanya menundukan kepalanya. Menyembunyikan wajahnya dari pandanganku. Entah berapa lama, sampai akhirnya ia mengangkat lagi kepalanya dan menatapku lekat-lekat.

Lalu kudengar suaranya menggema di kepalaku. Ya, Nandi tak lagi bisa menggunakan pita suaranya untuk berkomunikasi. Betapa dewa kematian yang menaungi dirinya itu tengah memakan habis-habisan jiwa raganya untuk bertahan hidup dan kembali terbangun. Ironis. Sungguh.

"Hati-hati di jalan ya, Rio. Titip Nara...."

Aku mengangguk. "Iya, Ndi. Pokoknya... setelah prosesi selesai, gue sama Nara langsung pulang.... Lo tungguin kita, harus--nanti kita juga bakal ketemu lagi sama Ndre, Leyka, dan yang laen...."

Nandi sekali lagi tersenyum. Senyum yang perih, membuat ujung lidahku terasa begitu pahit. Kembarannya lalu beringsut di sampingku. Tangan Nara yang kemudian meraih tangan Nandi yang sedari tadi kugenggam erat. Ah, suasanya yang begitu sendu dan pilu, menyedihkan.... Sementara Nara mengecup lembut punggung tangan Nandi, lalu membungkuk untuk mengecup pipi dan dahi Nandi.

"Kak, aku pergi dulu. Seandainya saja, aku juga bisa membawa Kakak ikut bersamaku--"

Kata-katanya tercekat. Aku sendiri tidak tahu kenapa.

"Aku sayang Kakak. Siapapun Kakak, selamanya, aku akan selalu melindungi Kakak."

Kulihat Nandi bersusah payah menggerakan lengannya hanya untuk membelai rambut adiknya, wajahnya yang berjengit nyeri menahan sakit. Astaga Tuhan... ini miris sekali. Separah itu Shva di dalam tubuhnya memakan dirinya dari dalam, dan Nandi sendiri yang memang sudah tak bisa lagi bangun dari futon-nya selama dua hari ke belakang ini. Suaranya yang berangsur-angsur menghilang, telinganya yang semakin terbatas menangkap bunyi-bunyi, juga kesadarannya yang berangsur-angsur digantikan sosok lain.

Lo harus bertahan, Nandi... harus.... Demi lo sendiri, demi Nara, demi Leyka yang pasti bakal nangis kejer kalau lo kalah... demi Andreas yang mati-matian mencintai lo selama ini....

"Ayo pergi, Yo."

Nara menepuk pundakku sembari berdiri. Aku mengangguk pelan. Kutatap Nandi sekali lagi, dan yang bersangkutan hanya memberikanku senyuman manisnya yang biasa. Yang kali ini rasanya begitu damai. Seolah-olah memang disiapkannya untuk mengantarkan kepergian kami.

"Kita cabut dulu ya, Ndi. Paling lama empat hari, dan kita udah ada di sini lagi. So, sama-sama berjuang, oke?"

Dan ketika aku berdiri, berjalan keluar dari kamar bersama-sama Nara untuk perjalanan kami yang lain... aku tidak pernah tahu bahwa senyum damai penuh kasih sayang itu merupakan senyum terakhir yang Nandi berikan pada kami... pada dunia.

****

Satu ledakan besar di Pulau Katora. Satu ledakan energi yang terasa menyengat bagi Andreas, Rio, Nara, dan Asaka. Tepat beberapa menit setelah kekuatan Brhma dan Vshnu terbangun, ledakan energi itu terasa dari arah Pulau Katora.

"Nandi...."

Meskipun Rio dan Nara secepat kilat memacu kecepatan mereka, menguras habis energi dewa yang baru saja keduanya terima, namun mereka tetap terlambat.

Di tengah aula penelitian, masih terbungkus asap yang kian memudar, tampak Kyte berlutut dan membungkukan tubuhnya, sementara Lyra dan Shiozaki bersaudara di sisi ruangan, tampak pucat dan gemetar sekujur tubuh.

Rio dan Nara tahu, semuanya sudah terlambat. Tak ada kata kembali. Tak ada kompromi. Kekuatan baru mereka yang lantas harus diadu dengan takdir.

Sosok itu berdiri di sana. Tegap. Rambut hitam panjang terjuntai, Raut wajah keras. Sorot mata bengis. Dan iris hijau zamrud yang lantas menatap keduanya. Dan satu senyum tipis, yang lantas melebar menjadi seringai sinis.

Shva tersadar. Mulutnya perlahan bergerak, mengalunkan gema suara halus Nandi bercampur gelegar serak dan rendah milik sang dewa.

<Ah, selamat datang kembali, Vshnu. Perlukah kita ulangi lingkaran karma chaos malam ini tanpa menunggu lebih lama lagi?>

20130106

Blue Feather #part2

Berita mengenai berakhirnya hubungan kedua senior mereka lantas menjadi topik perbincangan makan siang hangat di atap sekolah siang hari itu. Ya, tepat satu hari setelah tragedi pemutusan cinta yang dilakukan sepihak oleh Asaka, hingga gosip santer tentang Akito yang lantas menggerayangi mantan pacarnya itu sebagai salah satu bentuk protes kekecewaan karena tidak bisa memiliki Asaka seutuhnya di masa depan.

Dan kedua tokoh utama berita hangat itu tak ada di tempat untungnya, tentu saja.

"Serius Asaka-senpai dan Akito-senpai putus?"

"Mereka 'kan serasi banget! Kok Inoue-san tega sih misahin putrinya sama orang yang jelas-jelas disayangin banget dan malah dijodohin sama laki-laki lain?! Aaaahh engga tega lah, engga tega!!"

"Aaaaaarrghhh!! Sia-sia udaaaah usahaku selama tiga tahun nyomblangin mereka berdua!! Dasar sinting emang si bapak tua satu itu!!"

"Tapi Akito-san berani juga, ya... langsung ambil langkah destruktif begitu, mueheheheheheee~"

"... yang destruktif itu ketawa lo, cebol mesum."

"Lagian lo percaya aja. Kagak mungkin lah tampang-sekuriti-hati-hello-kitty macem si Akito gitu berani."

"Lalu, sekarang keduanya ada di mana?"

Satu senyum damai dari Nandi yang kemudian menjawab pertanyaan Andreas. Satu raut yang sangat kontras berada di antara kicauan para penggosip tersebut. "Mereka engga bakal bareng makan siang sama kita sampai... at least Senin depan."

Shinji lantas nyengir lebar, sembari menyapu helaian rambut yang menyapa dahinya. "Pede amat. Tau dari mana?"

Sekali lagi, Nandi hanya tersenyum. Senyum yang--tentu saja--hanya Andreas, Nara, Leyka, dan Rio yang berhasil mengetahui maknanya.

"Intuisi perempuan, Senpai...."

****

Sementara dua hari setelahnya, pada Sabtu siang setelah bel bubar kelas dibunyikan, telah tercium aroma manis yang lembut dari ruang PKK.

Tak perlu ditebak... karena Asaka dan Akito nyatanya siang itu tengah menghabiskan sisa waktu terakhir mereka. Waktu kebersamaan mereka, untuk terakhir kalinya. Kali ini, Asaka meminta tolong Akito untuk mengajarinya membuat kue untuk diberikannya pada calon tunangannya itu.

Rasa miris yang menjalari dada dan isi perut Akito hingga jungkir balik? Tentu saja.

Meski Akito tetap tersenyum dan menyanggupinya. Entah memang hujaman cinta yang telah membutakannya... atau dirinya memang telah ditinggalkan sang logika.

"Apelnya panggang dulu... sip. Cowok biasanya engga terlalu suka manis... gulanya kamu ganti pakai madu aja, toh lebih sehat juga.... Jangan lupa tambahin kayu manisnya...."

Dan dalam waktu kurang lebih satu jam, di salah satu meja ruang PKK telah tersaji apple pie lezat cokelat keemasan. Betapa Asaka dan Akito tidak tahu bahwa murid-murid lain telah berbondong-bondong mengintip dari jendela buram ruangan tersebut untuk setidaknya mengintip benda apa yang telah berdosa menggelitik indera penciuman, indera perasa, tak lupa membunyikan orkestra di perut mereka.

"Selesai juga. Thanks ya, Aki...."

"Sama-sama. Akhirnya bisa bikin kue kayak gini juga kamu, Sa."

Asaka mengangguk. Dalam benaknya berkecamuk berbagai macam rasa. Namun ia tak ingin menunjukannya. Tidak di depan Akito. Akito memintanya untuk bahagia. Akito menginginkannya untuk terus tersenyum. Maka untuk Akito... hanya untuk laki-laki itu saja....

Tanpa sadar, satu kecupan hangat mampir di puncak kepalanya. Membuat wajahnya memerah seketika.

"Barusan yang terakhir. Aku... akan selalu di sini. Jadi kamu harus inget janji kamu ya, Asa."

Matanya yang lantas memanas, dan Asaka pun berani bersumpah bahwa kilat yang sama baru saja melintas dan bersembunyi secara sempurna dari manik cokelat susu Akito... ah, kalau saja tetes itu boleh membasahi pipinya....

... hanya untuk yang terakhir kalinya. Ia berjanji. Yang terakhir.

****

Sore hari, Asaka dalam balutan furisode merah dengan motif kupu-kupu hitam berpadu dengan obi berwarna keemasannya... sementara raut wajahnya yang menajam--setengah murka akibat kalimat yang baru saja diungkapkan Wataru dan Rio.

"Kalian... UDAH BOOKING RUANGAN JUGA DI GENMYUJI?!! Dan di SEBELAH ruangan omiai-ku?! Astaga... KALIAN MAU NYEBAR GOSIP APA LAGI, HEH?!!!! Lagian Restoran Genmyuji itu kan mahaaaalll!! Kalian mau bayar pake apa?? Jangan bilang duit orang tuanya Andre--"

"--Asa... kalem, kalem... kalau engga kalem, entar cantiknya ilang, loh. Sayang, udah make-up-an cantik kayak gitu...."

Sayangnya bujuk rayu Wataru nyatanya tak berhasil meluluhkan amarah Asaka. Bergegas ia berbalik dan mencari Nandi, yang ternyata tengah bercengkerama bersama Andreas, Leyka, Nara, dan Luke di ruang rekreasi.

"Nandi, kasih-tau-aku-sekarang-juga," perintah Asaka, lambat-lambat mengucapkan setiap katanya, juga dalam nada yang mengerikan. "Beri tahu aku, apa-yang-ada-dalam-kepalamu-itu, Nandi!"

Namun kali ini Asaka salah sasaran, karena Nandi... diancam bagaimanapun juga gadis beriris hijau zamrud itu hanya akan tersenyum. Dan kata-kata terakhirnya yang begitu mengusik Asaka. Semakin membuat lubuk hatinya tenggelam dalam berbagai perasaan kalut, cemas, dan takut untuk melangkah menghadapi setiap detik-detik waktunya. Semakin membayang-bayangi isi kepalanya dengan satu nama dan satu wajah yang semakin sulit untuk dimusnahkan.

"Senpai jangan khawatir. Karena Senpai orang yang beruntung... Senpai bakal dapetin tunangan yang memang... jodohnya Senpai. Makanya, sekarang Senpai siap-siap aja, bentar lagi dijemput loh sama Inoue-san."