20131207

Hutan (di ujung) Sumur #2

Untuk sesaat, ia berpikir danau teratai dengan gazebo di tengahnya itu akan selamanya menjadi surga kecil yang harus ia jaga di ujung belantara hutannya.

Namun ternyata tidak. Sayang sekali.

Karena ketika suatu hari, badai salju mengguruh dari bibir sumur, menyembur dan meniupkan bulir-bulir putih dingin menghujam ke seluruh penjuru hutannya. Ia lalu melawan dengan derak pasukan kuda merahnya. Hutannya selamat. Pohon-pohonnya akan sekali lagi meranggas terbakar untuk menghasilkan tunas-tunas segar baru...

... meski tidak untuk surga kecilnya. Danau teratai dan gazebo mungilnya. Istananya yang seharusnya ia jaga dalam keabadian.

Danau teratai itu membeku, berubah menjadi hutan dengan daun-daun es menjuntai indah tak lupa air terjun beku tinggi membentang. Sementara di puncaknya, dalam sekejap berdiri sebuah istana. Istana kristal megah dari balok-balok es membeku, terukir indah walau dinginnya menusuk bahkan hingga ke hutannya.

Mata merahnya membelalak. Dari ujung belantaranya, ia lantas berlari secepat mungkin menuju ujung satunya; pintu masuk menuju hutannya, gerbang sumur.


****


Ia tersenyum dari bibir sumur. Matanya menangkap riak air sumur dari kedalaman, lalu seorang gadis berparas serupa balas menatapnya dari dalam sumur. Tatapan mata murka. Amarah meledak-ledak. Dan ia hanya tersenyum, semakin lebar.

"Kau... hutan terataimu... APA YANG KAU LAKUKAN?!"

Teriakan gadis itu menggaung dari dasar sumur. Sementara ia tertawa. Tawanya lepas, dengan getir tersembunyi sempurna di setiap dentang nada tawanya.

"Maaf, ya. Aku tidak bisa membekukan gubuk kecil beserta taman dan tamu-tamu sialanku di sini, jadi... kutitipkan musim dingin tak berujung di tepi hutan kenanganmu."

"... kau tidak cukup dengan merah bara yang selalu kukorbankan untuk menakut-nakuti tamu-tak-tahu-dirimu itu dari sini?! Atau harus kulelehkan istana esmu dengan lidah-lidah apiku--"

"--jangan mencoba. Kau tahu kau tidak bisa melelehkannya."

Beberapa detik berlalu dalam hening, sampai gaung jawaban itu terdengar lagi dari dasar sumur. Yang kini, suaranya terdengar berat.

"... dan apa yang menjadi alasanmu?"

"Alasan?" Ia terkekeh. Ada rasa manis yang meliar, menggeliat dalam benaknya, diiringi perih mengiris yang mencoba meruak memperlihatkan taringnya.

.

"Aku lelah jadi orang baik. Jadi, tolong jangan halangi aku untuk mengubur segalanya jauh di kedalaman salju, ya?"

20131202

Re:trace #2

Selasa sore yang panas terik. Untungnya Nara tidak harus menghabiskan sore dengan penuh keringat di luar ruangan atau di lapangan sepak bola sekolahnya, berterima kasih pada rumah salah satu teman sekelasnya yang full AC di setiap penjuru ruangan.

Teman barunya, yang baru saja keluar rumah sakit gara-gara penyakit demam berdarah, tepat tiga hari setelah masa orientasi siswa berakhir. Sejujurnya, Nara belum mengenal temannya itu dengan baik. Pemuda itu tidak berasal dari SMP yang sama dengannya, dan dalam waktu tiga hari... oh ayolah, bisa apa kau untuk menghapal isi satu kelas hanya dalam waktu tiga hari? Bahkan masa orientasi siswa yang katanya bertujuan untuk mengakrabkan para anak baru pun dirasa olehnya begitu banyak membuang waktu dan sangat tidak efektif.

Buktinya, Nara tidak tahu seperti apa seorang Ato di hadapannya itu. Hanya sebatas pipi tirus, wajah yang masih pucat, dan tubuh jangkung kurus layaknya tiang listrik dengan kacamata bingkai tebal bertengger di hidung mancungnya.

"Sorry banget, ya... lo jadi harus repot-repot nyempetin buat dateng ke sini. Gue engga enak banget, ada tugas presentasi pas gue masuk tapi gue sama sekali engga ngerjain apa-apa."

Nara memicing sesaat, mengamati ekspresi wajah Ato yang segan, sebelum menjawab, "Tenang aja. Yang lain juga engga ada yang ngontak gue buat ngerjain bareng."

"... err, jadi?"

Nara mengangkat bahu. Pasrah. "Makalahnya udah beres gue kerjain, tinggal slide presentasinya aja."

"Oh, gitu? Oke, sip... gue yang kerjain slide-nya sekarang, ya!"

Dan hanya dalam waktu satu jam, Nara berhasil mempelajari hal baru dari temannya itu. Rupanya Ato memang punya otak berprosesor tidak kalah seperti yang dimiliki Andreas maupun Leyka... yang hanya dengan membaca makalahnya sekilas saja dan jari-jarinya tidak berhenti mengetik dan menambahkan animasi sana-sini di setiap lembar presentasi mereka besok.

****

"Atooo...!! Anjir ke mana aja looo?!! Kebanyakan mikir, sih... digigit nyamuk langsung, 'kan!"

"Hush. Demam berdarah sama kebanyakan belajar engga ada hubungannya, Ze."

"Tapi kalau lo engga kebanyakan duduk dan banyak aktifitas, mana ada nyamuk yang mau nempel di badan lo? Anyway, ini Nara, ya? Dari kelas satu B, 'kan? Kenalin, gue Zen, anak kelas satu C, sekelas sama Rio."

"Oh, ya... salam kenal."

"Lo adiknya Nandi, 'kan? Nandi sekelas juga sama lo, 'kan?"

"... iya. Terus?"

"Kapan-kapan, gue boleh kenalan engga, sama kakak lo?"

"...."

****

18:56 Kamu mau dijemput jam berapa?


18:57 Engga usah. Kakak jangan jemput aku.


19:00 Eh? Kan udah malem... engga apa-apa?


19:01 Pokoknya Kakak engga boleh ke sini, titik.


19:05 Hmm... aku minta tolong Rio atau Andreas aja, gimana?


19:07 Terserah


19:08 Rio aja yang ke sini. Tks.

****

Beranda rumah Ato, dan Rio sudah menjemputnya dengan CBR kesayangan pemuda itu.

"Thanks banget, ya... sampai ketemu besok di kelas."

"Iya. Uh, sampai besok."

"Gue juga balik dulu ya, To! Oh ya, Rio~ Sabtu nanti, jadi, ya!"

"Serius mau, Ze? Nanti deh, gue tanya dulu sama orangnya, dia mau atau engga."

"Sip. Duluan, semuanya!"

Derum motor Zen melaju kencang. Ato berbalik dan masuk ke dalam rumahnya. Sementara rasa penasaran yang tersulut membuat Nara berhenti sejenak sebelum naik ke atas motor Rio.

"Sabtu nanti, apaan?"

"Oh? Zen belum ngomong sama lo?"

Nara menggeleng. Rio langsung pasang cengiran.

"Kencan buta. Dia juga ngajak gue, Leyka, sama... Nandi. Gue pikir, dia udah bilang sama lo, jadi gue tinggal tanya Nandi mau atau engga--"

Krak!

Sukses besar. Kaca spion kiri Rio sampai patah dicengkram Nara. Dan yang bersangkutan tidak bisa marah... tidak setelah melihat wajah Nara yang memerah matang hingga telinga.

"Hee... ngerusak spion gue nih, ceritanya? Berarti, sebagai ganti rugi, gue bebas dong ya, bawa Nandi ke kencan buta hari Sabtu--"

Krek!

Kali ini spion kanan, disertai satu tatapan bengis dari Nara dengan matanya yang menyipit layaknya pupil kucing.

"... Over my dead body, Satrio."

20131201

Re:trace #1

"Yooo...!!"

Rio menoleh, mulutnya penuh sobekan roti krim keju.

"Ape?"

"Hehe... pinjem PR Sejarah."

Rio mendengus geli. Kunyahan roti di mulutnya hampir saja meloncat keluar dari hidung.

"Heh... katanya mau jadi ketua OSIS, hari gini masih nyontek?"

****

Namanya Zen. Orangnya supel dan terkadang bandel. Tidak pernah terlambat masuk kelas tapi tidak jarang juga lupa mengerjakan PR. Katanya ia lahir dari keluarga penyandang gelar spesialis dokter bedah dan dokter kandungan, meskipun hobinya tetap saja miring: balapan liar di akhir minggu. Dan darimana asalnya hobi gila itu?

Salahkan semuanya pada Rio.

Rio memang tidak bisa menolak kedekatannya dengan pemuda ini, bahkan sampai ikut-ikutan mengajari Zen segala macam teknik balap dan bertahan hidup di arena balap liar.... Kalau Leyka tahu, mungkin kepalanya bisa putus di tempat (setelah gagang sapu menghajar sisi lengannya begitu Leyka tahu alasan Rio yang sering pulang malam adalah demi uang hadiah balap liar).

"CBR lo hasil modif, Yo? Di bengkel mana? Keren punya, gitu! Murah, engga? Kalau lebih murah dari bengkel modifnya si Teru, gue mau dong!"

Rio nyengir kuda. Ia tidak bisa bilang kalau motornya merupakan hasil modifikasinya sendiri... sedikit-banyak dibantu oleh mekanis-mekanis handal di markasnya. Alhasil, Rio pun berusaha bersilat lidah, sebisanya.

"Yah... ada senior gue di asrama yang hobi modif motor, tapi dia engga buka orderan. Ngemodif motor gue pun cuma iseng-isengannya doang."

"Haha, tapi boleh lah kapan-kapan kenalin ke gue. Eh tapi, apa sih enaknya hidup di asrama, Yo?"

Cengiran Rio semakin lebar. Dari masalah modif motor sampai kehidupan pribadi. Hanya saja sayang, Rio tidak mungkin bisa menceritakan kemampuannya berlari satu kilometer dalam waktu sepuluh detik saja pada pemuda itu.

****

"Lo... pacaran sama Leyka ya, Yo?"

Rio hampir tersedak es kelapa jeruknya.

"Hahaha~ strike! Kalau reaksi lo kayak gini, pasti beneran--"

"--gue nembak dia pas kelas dua SMP, tapi ditolak. Puas?"

"Yah... ternyata gitu, toh? Abis lo berdua deket banget."

"Ya mau gimana lagi, Ze? Apalagi gue tinggal seasrama gitu sama dia. Gue emang masih nyimpen perasaan, tapi nunggu dianya sadar sendiri, deh. Toh dia juga belum mau suka lagi sama orang lain setelah pupus dari cinta pertamanya."

"Heee.... Kalau Nandi, kosong engga, Yo?"

Kali ini, sedotan minumannya nyaris meluncur menginvasi kerongkongannya.

"Ap--apa, Ze?"

"Gue tanya, Nandi kosong apa engga? Cantik sih, kayaknya gue suka.... Seasrama juga 'kan sama lo? Bantuin gue kenalan sama dia, dong! Canggung gue, beda kelas soalnya...."

Rio lantas menepuk-nepuk pundak Zen. Tatapan matanya penuh rasa iba.

"Kalau lo sayang nyawa, mendingan cari cewek lain, deh. Kecuali lo mau abis dikulitin sama Nara dan dibakar hidup-hidup sama... ehm, si kakak ketua OSIS."

"... Nara itu, adik kembarnya Nandi, 'kan? Terus apa hubungannya sama Kak Andreas...? Oi, Yo, jangan bilang kalau... WOY SATRIOOOOO BALIK SINI LOOO!!! GUE BELUM SELESAI BICARA OOOOIIII!!!!"

Immortality #9

A duet fiction.
Featuring Freyr (c) Tasya Aniza
_________________________________________________________________________________

Harus berapa kali lagi, aku menggapaimu dengan langkah terseok?
Harus berapa kali lagi, aku menjadi tulang-belulang untuk bisa sekedar berjalan di sisimu?


Shinji menemukan Freyr, termangu sendiri di pinggir pantai yang memanjang hingga Barat.

"Freyr? Freyr...!!"

Namun suara lantangnya tidak terdengar. Entah terhalang gemerisik pasir dan kerang-kerang yang pecah dihempas ombak, atau memang lelaki itu tidak mau mendengarnya.

"Freyr? Hey... kamu kenapa basah kuyup begini? Ini jaket siapa?"

"... jaket Andreas."

"Andreas? Kamu ketemu sama dia? Freyr, ada apa?"


Harus berapa kali lagi, aku terseret oleh detik jam pasirmu dan aku jatuh ke dalamnya?
Harus berapa kali lagi, aku terjatuh dan terjatuh setiap kali tanganku berhasil menggenggam tanganmu yang kemudian hanya akan berubah menjadi butiran pasir bisu?


Yang Shinji temukan hanyalah tatapan kosong pria itu. Memandang jauh. Menembus tatapannya. Menembus logikanya. Bahkan bisa menembus cakrawala.

"Freyr, ayo pulang. Kamu basah kuyup, kamu harus mandi...."

"Shin...?"

"... hmm?"

"Yang sekarang kamu lihat... aku, atau Andreas?"


Harus berapa lama lagi, aku menunggu agar irama detik arloji kita sama?
Harus berapa lama lagi, aku menunggumu menoleh ke arahku, dan menjulurkan tangan kekar kesepianmu untuk kugenggam erat?

Ataukah... aku memang bukan satu-satunya?
Dan aku memang tidak akan pernah jadi sesuatu?
Bahkan untuk menjadi sesuatu yang satu... aku sudah berhenti mengharapkannya.


"Tanpa Andreas, kamu masih bakal mencari dia, atau aku?"

Shinji menggeram. Tangannya mengepal, mungkin kuku-kukunya sampai menancap di telapaknya. Sementara sekujur tubuhnya membeku, dibelenggu erat rantai-rantai tak kasatmata. Bisik lirih Freyr menghujam hingga dasar batinnya. Ia tidak bisa lagi mengelak. Ia tidak bisa lagi berlari. Ia tahu tidak lagi ada gunanya ia mencari alasan.

Karena alasannya untuk tetap hidup kini runtuh. Pergi meninggalkannya. Punggung itu telah hilang. Hanya dari bahasa tubuh, dan Shinji tahu Freyr tengah menyampaikan padanya bahwa Andreas tidak akan kembali lagi.

Namun bersamaan, seolah cahaya tiba-tiba saja menerangi matanya yang selama ini dibutakan oleh lukanya. Terang. Hampir menyilaukan. Di satu sisi ia kehilangan, namun kehilangannya itu melahirkan sesuatu yang baru. Menghadirkan rasa-rasa manis yang sudah lama tidak terkecap.

Rupanya butuh tumbal lain lagi untuk menyadarkannya akan arti hidup.

"Shin...?"

Shinji tersenyum. Lengkung luar biasa damai yang telah belasan tahun tidak pernah mampir barang sepersekian detik dalam hari-harinya.

"Freyr... boleh aku minta tolong satu hal padamu?"

"... apa?"

Ibarat gemuruh badai yang menyurut, Shinji tahu langitnya sebentar lagi akan dihiasi sinar mentari yang merembes di antara awan-awan putih. Matanya terasa perih. Dadanya sesak... ya, sesak janggal namun melegakan.

"Tolong... ajari aku caranya meraih kebahagiaan."


Dan bahagia....
Di saat kamu berbalik dan meraih tanganku, apakah itu artinya bahagia?
Jika aku berjanji untuk mengajarimu arti kebahagiaan, maukah kamu menjanjikan satu hal untukku?
Bahwa jangan pernah berubah dan berarak menjadi pasir yang tertiup angin. Jangan pernah... karena jemari ini ingin terus menggenggam tanganmu. Selamanya.


****

Sebagaimana kau mencabut hak hidupmu di sisi mereka yang menyayangimu
kau membawa pergi luka yang terlalu berat untuk kami tanggung.
Mungkin lautan hingga penjuru Bumi tidak cukup untuk mengungkapkan kata 'maaf' dan 'terima kasih' dari kami.
Karenanya, selamat tinggal, Kawan.
Sampai kita bertemu lagi, tanpa pernah melawan takdir, di waktu yang lain, di dunia yang lain....

20131130

Immortality #8

A duet fiction, featuring Freyr (c) Tasya Aniza
_________________________________________________________________________________

Wangi laut. Desir angin dan sapuan ombaknya. Nyanyian pelikan yang tidak lagi terdengar di ujung telinganya. Adalah sebuah kenangan tentang sang malaikat maut berparas elok setiap kali ia berhadapan dengan pemandangan itu.

Laut. Terekam jelas di ingatan. Nandi mencintai laut, keindahannya, ketenangannya....

... juga amarah murkanya.

Andreas mendesah. Wangi laut yang menyesakkan dadanya. Matanya terasa panas dengan warna-warni di sekelilingnya. Sementara gambaran itu selalu hadir di mimpi penghujung paginya, dengan lengannya yang selalu berusaha menggapai sosok itu di seberang jurang.

Dan selalu berakhir sama. Sama. Tidak pernah berubah.

Andreas ingin sekali menghentikan laju waktunya. Terlebih setelah seorang wanita berhasil mengorban nyawa karenanya, karena egonya, karmanya yang selalu ia putar seorang diri, menghasilkan chaos dan mengembalikan segalanya pada titik nol. Bagai seekor keledai yang selalu terjerembab dalam lubang yang sama... bahkan kata imbisil sudah tidak bisa lagi mewakilkannya.

Ia ingin berhenti. Ia lelah. Peluhnya tak kasat mata yang menjadi duri-duri membebani tengkuk. Namun bagaimana caranya? Dihantam rentetan peluru gatling gun atau potong kepala sekalipun tidak mampu membuat jantungnya berhenti berdetak.

Tolonglah... siapa saja. Ia ingin menyerah pada hidup. Ia ingin bertemu malaikat mautnya. Ia ingin tenang bersama malaikatnya itu, entah di surga ataupun neraka....

'Tolong....'

Andreas mengerjap. Manik hitamnya membulat di balik kacamata tanpa bingkainya. Daun telinganya menangkap sebuah suara. Pilu. Penuh asa berarak. Api jiwa yang nyaris padam ditiup sisa waktu.

'Tolong... aku masih... ingin hidup... bersamanya.'

Diiringi debur ombak memecah ganas di kaki karang, Andreas melepaskan jaketnya dan menceburkan dirinya ke laut. Menjemput sejumput harap yang mungkin meminta pengampunannya.

****

Jika pada akhirnya ceritaku tidak pernah bahagia... ah, jika pada akhirnya aku tidak pernah bisa meraih kebahagiaan seperti Kana, maka aku....

Aku....

Akankah aku tetap tenggelam? Terbawa ombak? Terseret arus? Mati terbentur-bentur batu karang? Akankah aku diam? Ataukah aku harus melawan? Haruskah aku berenang ke permukaan?

Menggapai cahaya. Ah... hangat. Mungkin mereka akan datang menjemputku, menuju pintu penghubung dunia bawah....

'Freyr....'

Ada yang memanggilku. Siapa? Di mana?

'Freyr... jangan mati. Kamu belum boleh mati....'

Dadaku sesak. Napasku....

... tangan ini... ada yang menarikku....

Siapa...?

"FREYR...!!"

****

"... kenapa kamu malah nyelametin aku, Andre?"

"Karena kamu belum siap mati."

Andreas menemukan senyum masam di bibir Freyr yang kemudian dianggapnya sebagai ucapan terima kasih yang tidak pernah terlontar dari mulut pria basah kuyup itu. Andreas lalu melemparkan jaketnya, menutupi sebagian tubuh Freyr.

"Gara-gara kamu... Kana mati."

"... iya. Aku engga akan menyangkal soal itu."

"Dan gara-gara kamu... Shinji...."

Andreas terhenyak. Ada bulir-bulir keperakan mengalir dari sudut mata pria itu. Perih dan sakit yang tumpah-ruah... Andreas memang sudah siap untuk dijadikan pelampiasan sedemikian rupa.

Hela napas panjang. Matanya kembali menangkap warna jingga menggelap jauh di seberang.

"Karena alasan itulah aku nolong kamu, Freyr. Kamu harus hidup. Dan aku yang harus pergi."

"... kamu mau pergi? Kemana? Kenapa?"

"Kemanapun. Kenapa? Supaya Shinji engga terus-terusan mencari punggungku, supaya dia akhirnya bisa ngelihat hal-hal lain di sekelilingnya, termasuk kamu. Dan...."

"... dan?"

"Kamu pasti udah pernah denger tentang aku dari Kanami atau Shinji. Dan karena itu, aku menolak untuk menjadi orang terakhir yang hidup untuk melihat kalian menua dan mati duluan daripada aku."

Diam. Menggantung. Menjadi canggung. Debur ombak yang bagaikan nyanyian penghantar tidur masih menemani. Sementara telinganya menangkap derap-derap langkah terburu-buru yang begitu ia kenal, beriringan perlahan menuju tempat itu. Masih begitu jauh, namun Andreas mampu mendengarnya. Merasakannya. Satu senyum terbit di bibirnya. Lengannya terjulur, menepuk lembut puncak kepala Freyr.

"Titip Shinji. Dia pantas untuk bahagia, dan cuma kamu yang bisa."

"... lalu kamu? Kamu engga mau bahagia?"

Teriakan pelikan menyapa, seolah menggantikan separuh isi jiwanya yang ikut meraung bersama dengan pertanyaan Freyr.

"Aku udah cukup banyak mengambil kebahagiaan mereka. Aku engga pantas... dan sekarang biar kuambil satu lagi kebahagiaan mereka dengan kepergianku."

"...."

"Tolong ya, Freyr."

"... engga, Andre, kamu harus--

"--Andre...?"

****

Kata-kata Freyr terputus. Angin berhembus. Pelikan masih menari-nari di atas kepalanya. Debur ombak memecah masih mengisi kepalanya. Sementara ia sendiri di sana. Pria yang menjadi lawan bicaranya itu telah menghilang. Tak terasa bagai angin yang menyapu pasir untuk kemudian mengaburkan jejaknya.

Seolah sejak awal, Freyr hanya seorang diri di sana. Yang tertinggal hanya jaket hitam dan wangi parfum pria itu. Dan kekosongan melanda isi jiwanya.

Kalau sudah begini, Freyr harus putar akal untuk menjelaskan pada Shinji. Tentang salam perpisahan terakhir Andreas, tentang dirinya, tentang Shinji....

... dan tentu saja, tentang arti kebahagiaan itu sendiri.

20131108

Immortality #7

A duet fiction
Featuring Freyr (c) Tasya Aniza
_________________________________________________________________________________

Perjalanan terbang tujuh jam ternyata bukan suatu pengalaman yang ramah dan menyenangkan. Belum lagi jika Shinji harus menghitung jumlah peluru nyasar yang nyaris bersarang di tubuhnya akibat rasa posesif dan tidak rela seorang bapak-komisaris-besar-kepolisian ketika ia meminta izin untuk membawa serta Freyr dalam liburannya. Tak lupa berbagai alasan miring yang mau tidak mau harus dicerna indera pendengarannya. Astaga, memangnya Freyr masih bocah berumur tujuh tahun?

Tidak sampai di situ saja penderitaan Shinji selama dikurung dalam burung besi berbaling-baling tersebut. Begitu banyak hal berpacu dalam otaknya, lari dari ujung sel satu ke yang lainnya, sementara matanya seolah menangkap gambar-gambar masa lalu yang seharusnya sudah ia kubur dalam-dalam di suatu tempat.

Di saat begini, ia sebal mengapa Freyr bisa tertidur dengan lelapnya. Pulas dan mendengkur pelan dengan tarikan napas stabil. Sebal, tapi juga lega.

Karena Freyr hidup. Bernapas di sampingnya.

Ia tidak tahu akan segila apa dirinya jika Freyr sampai bernasib sama seperti tetangga apartemen pria itu... tidak.

Shinji sudah lelah kehilangan. Bahkan awalnya, Shinji sudah tidak lagi mau meraih. Tidak jika apapun yang ia raih nantinya hanya akan ia hancurkan dalam sekejap mata saja.

... meraih? Menghancurkan?

Kenapa tiba-tiba ia teringat Andreas?

****

Ada yang tidak pernah Shinji sampaikan pada Freyr, mengenai alasannya bergabung dalam setiap misi 'penyelamatan' yang dilakukan Andreas. Alasannya simpel, karena semata-mata Shinji hanya ingin punggung kesepian pria itu berjalan di depannya, sebagai papan berjalannya untuk mengingatkan bahwa....

... bukan dirinya yang menanggung beban paling berat dari masa lalu. Bukan, setidaknya bukan ia.

Shinji tidak akan pernah tahu seberapa dalam Andreas masuk ke dalam sumur neraka dunianya. Shinji tidak tahu, karena ia hanya menyaksikan kematian-karena-serangan-mendadak dan kematian-karena-ia-dilindungi. Ya, Shinji hanya melihat, dengan mata kepala sendiri, betapa kejadian yang hanya berlangsung kurang dari dua menit itu ternyata berhasil menyita seluruh waktunya, mungkin, hingga ajal menjemput.

Yang Shinji tidak tahu adalah bagaimana rasanya menjadi Andreas, yang mengalami sendiri kematian-karena-kau-membunuhnya. Tubuhnya dibanjiri ciprat kemerahan ketika tangan kekarnya menggapai dua tubuh limbung yang jatuh ke tanah itu, mungkin sama seperti Andreas. Tapi tak ada pisau miliknya yang harus Shinji tarik dari kedua tubuh itu... tidak seperti Andreas.

Shinji tidak akan pernah mengerti. Yang Shinji mengerti hanyalah penyesalan... dan sebuah karma.

Karmanya, karena jatuh terlalu dalam untuk Lyra... karena tidak pernah mau mengerti Yuuji... dan yang sekarang, karena tidak mau merangkak keluar sumur deritanya, untuk Freyr.

Mungkin Andreas juga sama. Karmanya, hingga kini lelaki itu harus kehilangan satu lagi perempuan yang selama dua tahun ini, Shinji yakini, selalu menari riang dalam benak Andreas.

Liburan ini tidak akan semenyenangkan seperti perkiraannya. Ia tidak akan destruktif memaki-maki Andreas seperti yang akan Rio dan Leyka lakukan. Ia juga tidak akan memohon-mohon lelaki itu untuk kembali ke Jepang seperti yang akan Asaka dan Akito lakukan. Alih-alih, Shinji tidak tahu apa yang akan dilakukannya ketika ia berhasil bertemu dengan lelaki itu. Marah? Kesal? Melempar kata-kata penghiburan? Semua terasa palsu baginya.

Lalu apa? Apa yang menjadi dasar bagi Shinji, untuk jauh-jauh datang ke negara itu dan kembali menemui punggung kesepian lelaki itu?

****

Shinji mungkin mengira ia tertidur pulas selama perjalanan. Tentu saja tidak. Dan untuk pertama kalinya, Freyr bangga akan kemampuan berakting yang diturunkan oleh ibunya.

Auranya kentara sekali. Shinji ada di sampingnya, tapi seolah pria itu berdiri berpuluh-puluh kilometer darinya. Jauh. Bukan untuk pertama kalinya, namun Freyr tahu bahwa di antara saat-saat kebersamaan mereka, Shinji terkadang menarik diri dengan berbatang-batang rokoknya, mengunci diri, tidak pernah sekalipun membiarkan Freyr masuk.

Padahal Freyr tahu persis jawaban dari pertanyaan paling mendasar yang sering dilontarkan batin pria itu. Freyr tahu, hanya dengan menebak perilakunya, ditambah bumbu cerita manis dari Kanami....

Ah, perempuan itu... sedang apa dia sekarang di dunia bawah?

Seketika Freyr teringat percakapannya belum lama ini bersama Kanami. Di kamar apartemennya. Malam itu Kanami menawarkan sepotong tuna tataki untuk ditukar dengan semangkuk sup bening asparagus kesukaannya.

"Sebagaimana kita yang deketnya sampai kayak gini tapi engga pernah saling suka satu sama lain... pasangan kita juga sama loh, Fre."

"Err... maksudnya?"

"Hush, jangan mikir macem-macem! Intinya sih, yah... Andreas dan  Shiozaki-kun itu mirip-mirip... eh, sama malahan!"

"Oh, ya? Mirip darimana? Emang Andreas hobi ngomong sarkas, sinis, susah senyum, dan hobi ngerokok?"

"Engga. Tapi dua-duanya punya kecenderungan menarik diri, balik ke sumur gelap masing-masing meski engga pernah lagi turun ke dasarnya."

"Kayak monyet, gitu? Gelantungan di bibir sumur?"

"Hahaha...!! Bisa jadi."

Freyr tersenyum tipis. Kalau memang ia sedang tidur, mimpinya barusan berhasil menghangatkan sekujur tubuhnya, dibalut kenangan.

.

"Karena menurut aku ya, Fre... Shiozaki-kun itu bukan ngejar punggung Andreas. Dia ngelihat... dirinya sendiri dalam Andreas. Dirinya yang engga mau maju, engga mau ngejar kebahagiaan. Dan kalaupun bener-bener ngejar, itu semua demi mengembalikan dirinya sendiri, seutuhnya, jawabannya dalam mencari caranya meraih kebahagiaan."

Immortality #6

A duet fiction
Featuring Freyr (c) Tasya Aniza
_________________________________________________________________________________

Pintu menjeblak terbuka. Sorot terkejut dan keheranan Shinji yang dibalas tatap murka Freyr. Tidak biasanya.

Ya.

Tidak biasa.

"Kamu... udah keluar dari rumah sakit? Kapan? Tumben engga minta jemput--"

"Mana Andreas?"

Shinji mengangkat sebelah alisnya. Ia tahu ada yang salah.

Semakin. Tidak. Biasa.

"Freyr, kalem--"

"Shin, tolong... di mana dia? Ada yang harus kukatakan, tentang dia... tentang Kanami...."

Satu hela napas. Shinji meraih batang rokok dan memantikkan ujung sumbunya. Asapnya lagi-lagi membuat Freyr berjengit. Kesal.

Berusaha, untuk terlihat biasa saja.

Menjadi. Keadaan. Biasa.

"Andreas, udah pergi."

....

'Eh?'

Isapan tembakau lainnya menyusul. Shinji tidak tahu, asapnya membakar perih hingga paru-paru Freyr. Hal yang seharusnya biasa saja, namun hanya untuk momen itu menjadi tidak biasa.

"Iya, pergi... balik ke negaranya kemarin malem. Kalau mau lihat, kamarnya udah kosong... bahkan aku engga ngerti gimana caranya dia bawa anjing sialannya masuk ke pesawat."

Kata-kata sinis yang biasa. Yang tidak biasanya adalah raut wajah Freyr, menggelap.

Isapan yang terakhir, disertai satu lengkung bibir sinis khasnya.

"Tenang, Freyr. Kamu adalah orang terakhir dari daftar temen-temennya dia yang dateng ke sini cuma buat capek-capek nyariin dia."

.

"So, berhubung kamu udah keluar dari rumah sakit... kamu mau ikut aku 'liburan' ke negara tropis, Freyr?"

20131107

Home

A duet fiction
Featuring Freyr and Leon (c) Tasya Aniza
_________________________________________________________________________________

Sejauh apa sih, surga dan neraka itu?

Freyr mengerjap bingung. Di sekelilingnya hanya ada kabut tebal, yang anehnya berwarna kelabu namun beberapa detik memunculkan semburat merah jambu yang lembut. Seperti permen kapas. Juga wangi yang manis. Hangat. Freyr terlena. Tapi ia tidak tahu dirinya di mana.

Di mana sih, letaknya surga dan neraka itu?

Perlahan Freyr melangkahkan kakinya, oh ya, bahkan kakinya pun tertutup asap tipis hingga ia tidak bisa melihat tekstur lunak yang dijejaknya. Tidak menimbulkan suara... ya, seolah ia sedang berjalan di atas tumpukan kapuk padat. Ia berjalan, maju. Dalam stagnansi. Nihil. Tidak ada apa-apa. Ia mulai berteriak, bertanya, mencari, namun yang balik menjawabnya hanyalah gaung suaranya dari kejauhan, membeo setiap suku kata yang diucapnya.

Hal ini tentu saja memaksa Freyr menggunakan otak cemerlangnya untuk berpikir keras. Berpikir. Sedang di mana dirinya berada? Bagaimana ceritanya hingga ia bisa tiba di tempat itu.

Dan satu sengatan di kepalanya menyerang. Tubuhnya limbung. Hampir membutakan matanya.

"I--ini di... aku...."

"... Freyr?"

****

Kabut memudar. Secara ajaib tiba-tiba saja Freyr tengah berdiri di tengah taman kota. Namun asap-asap berwangi manis masih hilir-mudik di ujung hidungnya. Bola matanya lantas menangkap sesosok perempuan yang tengah duduk manis di ayunan di hadapannya.

"Kanami? Kenapa... ada kamu?"

Perempuan itu tertawa. "Kamu kebentur keras ya, Fre? Kita 'kan baru aja tabrakan bis, lupa ya? Sini-sini, duduk dulu, kita cerita pelan-pelan."

Freyr mengangguk, menuruti kata-kata perempuan itu. Sementara perempuan di sisinya itu mulai mengayunkan tubuhnya ke depan dan belakang.

Ada semburat jingga yang menyambut. Freyr rasanya ingat kenangan ini. Taman kota, sore hari, momen yang selalu menjadi rutinitas tersendiri baginya dan perempuan itu untuk saling bercerita tentang hidup. Oh, tidak, bukan... mereka bukan pasangan kekasih, mereka hanya teman yang berbagi satu atap apartemen yang sama dan terkadang saling bertukar lauk makan malam atau botol sake, tidak lebih.

"Udah lama... kita engga ritual kayak gini ya, Fre...."

Freyr tersenyum. "Iya. Semenjak kamu sibuk ngurus kafe dan aku sibuk ngejar kasus."

"Bukannya semenjak kita sama-sama mengejar waktu dan setengah bagian hidup kita yang hilang?"

Freyr terdiam. Lidahnya mendadak kelu. Paru-parunya hanya bisa menarik napas berat. Ada rasa sakit yang tiba-tiba menghujam dadanya. Namun perempuan itu tidak menghiraukannya. Perempuan itu terus menatap langit, memandang mega jingga menggantung. Dari sudut matanya, Freyr mampu menangkap sorot teduh perempuan itu.

"Kamu bilang... kita ini baru kecelakaan bis? Terus, ini di mana?"

"Entah," jawab perempuan itu, mengangkat bahu. "Sepertinya terminal terakhir antara dunia manusia dan dunia bawah."

Freyr bergidik. Dunia bawah, maksudnya neraka. Ya, orang Jepang hanya tahu konsep bahwa orang mati semua dikirim ke dunia bawah, mereka tidak percaya konsep surga dan neraka. Suatu hal yang membuat blasteran sepertinya geleng-geleng kepala dan bingung sendiri untuk memegang konsep kehidupan-setelah-kematian yang mana.

Tunggu. Kalau begitu....

"... aku, sudah mati?"

"Setengah, sepertinya. Masih bisa ngerasa sakit, 'kan?"

Freyr mengangguk. Rasanya aneh, tapi... ya, rasa sakit menyengat di kepalanya hingga rasa sakit di dadanya, dua rasa sakit yang berbeda unsurnya namun masih bisa Freyr rasakan dengan jelas.

"Terus, kenapa kita di sini?"

Sejenak, perempuan itu menghela napas. Ada mendung bersenandung di wajahnya.

"Pilihan, Freyr. Antara pulang, atau lanjut terus tanpa bisa balik lagi."

"Kalau lanjut terus, bakal sampai dunia bawah?"

Freyr menangkap senyum jenaka perempuan itu. "Kenapa? Ada orang yang pengen kamu temui ya, di dunia bawah?"

Pertanyaan telak. Tepat sasaran. Memaksa ingatan Freyr untuk melaju sekencang-kencangnya menembus dinding masa lalu yang telah dibetonnya tebal-tebal. Dan beton itu seketika runtuh. Berguruh dalam benaknya. Monster masa lalunya yang terbangun, mengendus wangi kebebasan di udara, wangi harapan, dalam beberapa saat mematikan fungsi kerja logikanya.

"Aku... a--aku...."

"Kalau kamu udah yakin bahwa engga bakal ada yang nunggu kamu pulang, ya lanjut terus aja, Fre."

Tubuhnya seolah djjerat tali-tali tak kasat mata. Orang yang menunggu? Sekejap bayangan Leon dan adik-adiknya, ibu dan ayahnya, berkelebatan tak henti di otaknya. Semakin membuatnya bimbang. Keluarganya pasti menunggunya untuk membuka mata. Atau mungkin Leon saat ini tengah mendekam di rumah sakit, meninggalkan setumpuk pekerjaannya, dan akan memarahinya habis-habisan ketika ia bangun nanti. Ya, hal-hal normal yang biasa dilakukan keluarga.

Di luar itu, Freyr punya apa? Punya siapa?

Bahkan sebuah nama yang terbersit dari ujung ingatannya tak mampu menjawab. Ia hanya punya cinta keluarganya. Bentuk cinta yang lain... bahkan yang menunggunya di balik gerbang dunia bawah pun tak sepadan. Itu hanya cinta sepihak. Gelegak napsu dan emosi yang tidak pernah membuatnya bahagia. Cinta hanya menyeretnya ke jurang derita tanpa toleransi dan kompromi. Cintanya pada yang di balik gerbang dunia bawah, maupun pada yang (mungkin) menunggunya di kamar apartemen dengan bau tembakau menyengatnya. Yang mana pun sama saja.

Jadi, Freyr harus ke mana?

"Pulang, Fre."

Freyr melongo. Perempuan itu menggasak habis rambut platinanya, penuh kasih.

"Masih ada urusan yang belum selesai, 'kan? Kalau ke dunia bawah sih, semua roh juga bakal balik ke sana. Mumpung masih ada kesempatan, mendingan kamu pulang ke dunia kita. Gimana?"

Terkadang, Freyr mengutuki dalam diam kemampuan membujuk dan merayu dari tetangga apartemennya ini.

"Kamu sendiri, mau gimana? Urusan kamu juga belum selesai, 'kan?"

"Urusan aku sih, engga bisa aku selesaikan sendiri. Orangnya yang bermasalah, jadi ya cuma dia yang bisa. Aku udah mencoba, bahkan menjanjikan dua puluh empat per tujuh hidupku pun udah kulakukan. Kalaupun pergi sekarang, aku engga bakal nyesel. Eh... nyesel, sih."

"... nyesel apa?"

"Nyesel engga bisa nemenin dia sampai aku tua duluan ketimbang dia."

"Terus kenapa kamu engga pake kesempatan yang sama? Kita sama-sama di sini, terus kenapa kamu mau lanjut?"

Ada senyum terbit di sudut bibir perempuan itu. Hanya untuk membuat dada sesak Freyr diliputi bentuk kesedihan yang lainnya.

"Aku lelah, Fre. Udah cukup. Aku... pengen istirahat."

"Kalau gitu, istirahat di dunia kita aja! Ayolah Kana, pokoknya aku engga terima negosiasi," sembur Freyr sembari melompat dari bangku ayunannya dan menggamit tangan perempuan itu. "Kita dateng ke sini sama-sama, 'kan? Kita jadi korban kecelakaan di bis yang sama, 'kan? Yah, meskipun aku juga engga sadar sih kamu ada di bis itu juga, tapi... kalau kamu pulang, aku juga pulang, dan sebaliknya. Deal?"

"Tapi... cara aku ke sini engga sama kayak kamu, Fre, aku...."

"Aku udah bilang, engga ada negosiasi. Kita pulang sekarang, ya?"

Tidak ada jawaban dari perempuan itu, hanya sebuah senyuman manis. Dan yang Freyr ingat setelahnya, angin kencang menyapu dan menyerbu tubuhnya, meniup seluruh kenangannya untuk tertidur sementara, dan mendamparkan tubuhnya kembali ke tengah semilir obat kimia dan jarum-jarum menancap di tubuhnya.

'Maaf... dan terima kasih....'

****

"Udah denger beritanya?"

"Kecelakaan bis itu, 'kan? Kasihan supirnya, ikut meninggal padahal bukan salahnya."

"Tapi aku dengar kabar, penabraknya meninggal tadi pagi, ya?"

"Haah?!! Engga bisa didakwa, dong!!"

"Saksi mata yang lihat sih, katanya si penabrak yang emang nyebrang jalur dan nabrakin mobilnya... siapa sih yang bisa selamat setelah aksi bunuh diri kayak gitu?"

"Engga di bawah pengaruh alkohol?"

"Nope. Denger-denger sih negatif."

"Hahh... dunia makin gila aja."

Gendang telinga Freyr tergelitik. Seiring dengan suara bantingan pintu kamarnya. Dan suara gerutuan kembarannya yang belum pulang menungguinya dari kemarin malam.

"Ngegosip kok di depan pintu kamar orang, gila."

"Leon...."

"Hmm? Mau apa? Minum?"

"Yang nabrak... meninggal, ya?"

"Iya, tadi pagi."

"Yang nabrak... cewek?"

"Ya. Katanya percobaan bunuh diri, spontan nabrakin diri ke pembatas jalan sampai nyebrang jalur, dan kebetulan bis yang kamu tumpangin lagi lewat."

"Keadaannya... gimana?"

"Patah tulang sana-sini, rusuk nembus sampai paru. Yah, baguslah, ganjaran buat orang gila dan semena-mena sama nyawa macem gitu. Kenapa? Penasaran?"

"Tadinya. Sekarang udah engga lagi."

"... heh?"

Freyr tersenyum. Dadanya mendadak terasa panas, menggelegak. Ada tetes air meluncur dari ujung matanya yang terpejam. Dan sekarang ia paham arti senyum terakhir yang Kanami berikan padanya di perbatasan menuju dunia bawah.

.

'Maaf, dan terima kasih, Fre.... Selamat tinggal, dan semoga kamu menemukan kebahagiaan yang tidak pernah sempat aku raih.'

20131029

Immortality #5

Jika wangi bunga plum putih di antara sentuhan jemari lembut itu hanya sebatas gerbang mimpi masa depan, maka jangan pernah bangunkan aku dari tidur lenaku.


"... Andre?"

Lelaki itu menggigil dalam tidurnya. Tubuh meringkuk di sudut tempat tidur. Bibir dinginnya yang seolah komat-kamit membaca mantra... yang tak ayal menjadi secercah harap bagi waktunya yang tak tahu di mana ujungnya.

Mengerang dan merintih. Peluh membanjir sana-sini. Dan Kanami tidak tahu lagi apa yang harus dilakukannya.

"Andre... Andreas...."


Jika surai-surai hitam legam di antara sibak tirai jendela itu hanya sebatas jalan setapak menuju masa lalu, maka jangan pernah tarik lenganku untuk kembali.


Satu tetes air mata, meluncur dan telak mendarat di pipi lelaki itu. Namun Kanami tahu, Andreas tak akan merasakan apapun. Bahkan pendaran kehangatannya pun tak pernah sampai hingga kalbu lelaki itu. Kanami tidak pernah lagi berharap. Ia sudah tahu... bahkan untuk seratus tahun ke depan, Andreas tidak akan pernah menjadi miliknya, seutuhnya.

Ada malaikat maut yang telah jauh membawa pergi setengah bagian dari Andreas. Dan yang setengahnya lagi ditinggalkan, terpuruk, entah untuk Kanami miliki atau hanya dibiarkan saja tersapu sisa-sisa asa yang semakin menguap. Kanami memilih untuk merawat dan menjaganya, meski usahanya sama saja seperti mencairkan padang bunga yang terlanjur membeku dikepung hawa dingin Kutub Utara.

Kanami terisak. Mulutnya masih belum berhenti memanggil lirih nama lelaki itu. Merembeskan segala bentuk luapan cinta yang tidak pernah akan terbalas. Hanya untuk Andreas. Hanya untuknya. Dengan begitu, Kanami tidak butuh lagi arti kata bahagia.


Jika suara semerdu kicau pelikan berpadu debur ombak itu yang akan membawaku menuju bentang dunia bawah, maka jangan pernah halangi aku untuk berlari... menggapainya....

... tidak. Bukan.... Aku....

Jika pada akhirnya kedua tangan ini hanya tetap berlumur merah di antara senyumnya yang menjemput mentari pagi, maka aku....


Satu nama, dibisikkan lelaki itu di tengah pertarungan melawan hidupnya. Satu nama, ditangkap begitu jelas di ujung telinga Kanami. Satu nama, memerangkap keduanya dalam labirin keabadian; luka yang abadi, duka yang selamanya tidak mengenal caranya berganti menjadi suka.

Harus sampai mana Andreas berjalan dalam lelah dosa masa lalunya? Dan harus sampai kapan Kanami berkorban dalam cintanya yang dibalas kata hampa?


****


Jika pada akhirnya tubuh ini tetap berlumur merah yang semakin menggelap, maka aku....

Ah, cahaya.... Sudah berapa lama aku berbalik, memunggungi cahaya itu?

Dan jika memang pijar cahaya hangat ini mampu menanggung harap yang tidak lagi kuucap, pantaskah aku untuk merengkuhnya, dan menjanjikan kata keabadian untuknya?

20131006

Endless Darkness

Senar-senar shamisen dan koto mengalun di ujung telinganya bagaikan gemerincing genta tertiup angin, menemani hentak berirama kaki jenjangnya dan kibasan sayap furisode-nya. Jemarinya lentik meliuk kanan-kiri, ke sana kemari, sesekali membentang kipas lipat yang kerap mengeluarkan bunyi gesek mesra.

Asaka menari. Seorang diri. Melenggok di antara melodi lembut senar terpetik. Bahasa tubuhnya yang menceritakan legenda seribu kelopak Sakura. Di satu sisi keindahannya menjerumuskan. Di sisi lain, ada yang tak kasat mata yang membuatnya kerap kali kehabisan napas setiap kali ia mendarat dari lompatan anggunnya.

'Asaka-senpai... sejauh apa gerbang neraka itu?'

Asaka memejamkan mata. Berusaha mengembalikan fokusnya. Bulir-bulir keperakan mulai menyapa membasahi kerah furisode-nya.

'Asaka-senpai... aku ingin kembali. Perjamuan penuh api mendidih ini bukan untukku.'

Hawa di sekelilingnya memanas. Napasnya tercekat. Ia nyaris tidak lagi bisa membedakan oksigen dari sesak penuh karbon yang seolah mengurungnya erat.

'Asaka-senpai... apakah aku memang tidak bisa kembali? Hanya untuk sekedar bertemu dengannya? Hanya sekedar untuk... membalas perasaannya?'

Panggung beraksen kayu itu kini lembab oleh peluhnya. Sekujur tubuhnya basah kuyup. Dan ia yakin ia melihat dunia berputar di sekelilingnya. Perlahan. Namun Asaka tidak berhenti. Tidak sampai nada terakhir menabuh gendang telinganya.

Asaka menari. Seorang diri. Melenggok di bawah lampu sorot meredup.


****


Pesta ini bukan sekedar pesta kelulusan baginya, maupun bagi Asaka, Akito, Wataru, dan Andreas sekalipun. Ini adalah perhelatan perpisahan. Satu gerbang hidup lainnya yang harus ia lalui untuk melangkah maju. Yang jadi pertanyaan... sanggupkah ia melangkah ke dalam hitam tak berujung di balik gerbang hidupnya?

Hitam yang tak berujung... atau memang itulah harapnya sejak awal.

Ia sudah tidak mampu menghitung berapa puluh batang rokok yang habis dalam waktu tiga jam itu, atau wangi sake yang hilir-mudik menyapa ramah indera penciumannya. Ia tidak peduli dengan bising celoteh di sekelilingnya, ataupun hardik kesal Kaho akan sikap arogannya. Ia tidak mau ambil pusing.

Toh waktu juga telah lama berhenti mengacuhkan dirinya.

Yang tidak bisa ia lupakan adalah kilasan manis pertunjukan Asaka. Bukan, bukan Asaka yang membuatnya termangu dan berhasil melupakan batang rokoknya selama tiga setengah menit. Yang membuat lidahnya kelu dan punggungnya dibanjiri keringat dingin adalah siluet yang hadir menemani Asaka menari. Siluet seorang gadis berparas teduh yang tidak pernah pergi dari ingatan terdalamnya....

... tak lupa sirat manik biru siluet itu yang menusuk perih hingga jantungnya.

Sedih. Penuh luka. Sementara lukanya sendiri tertoreh kian dalam hanya dengan menyaksikan siluet itu berputar-putar lincah di sisi Asaka.

Ia yakin Asaka mengetahuinya, merasakan kehadiran siluet itu dengan nyata. Atau malah Asaka yang mengundangnya kemari melalui gerbang neraka di antara lenggokan tubuhnya. Ia ingin bertanya pada gadis itu. Sungguh. Namun dengan raganya yang lelah, apa lagi yang sanggup ia lakukan?

Di bawah pohon Sakura yang mulai meranggas, Shinji merebahkan tubuhnya. Meninggalkan hiruk-pikuk pestanya. Menenggelamkan imaji-imaji berkeliaran dalam otaknya untuk terus ia perangkap agar tidak pernah lagi pergi meninggalkannya.


****


"Kamu sudah pergi sampai sejauh mana?"

'Sejauh neraka yang tidak punya batas, Senpai....'

"Lalu, kenapa kamu kembali?"

'Karena aku ingin bertemu dengannya. Tapi ternyata tidak bisa. Dia tidak ada lagi di sini....'

"Apa maksudmu, Lyra? Jelas-jelas Shinji ada di sini. Dia datang dan dia tadi melihat pertunjukan kita dan--"

'Itu bukan Shinji, Senpai.... Ternyata benar. Shinji... sudah terlanjur mencariku hingga ke dasar neraka.'

"...."

'Aku menemukannya. Bayangan dirinya. Aku berdiri di hadapannya. Tapi ia terus berteriak mencariku. Aku menggapainya. Namun bahkan suaraku tidak pernah lagi sampai ke dasar hatinya. Ia mengubur dirinya jauh ke dasar neraka... satu lapisan lain yang tidak pernah bisa kugapai.'

"Lyra...."

'Ternyata... perjamuan ini bukan untukku, tapi untuknya. Karena jika seperti ini... ia tidak akan pernah bisa menemuiku lagi.'

.

'... dan aku akan selamanya terjebak dalam labirin neraka yang mengisi penuh setiap sel-sel otaknya....'


20130911

K.E.P.O

私がいなくなったら、誰もが悲しくないだろう?



"Nulis apa lo?"

"Menurut lo?"

Gemerisik daun digesek angin. Satu hela napas. Satu embus rokok.

"Lo tuh ya, gagal banget jadi karakter orang jahat."

"... terus? Urusan lo?"

"Kalau lo dan Lyra sampai mati karena ulah lo, ya, urusan gue."

Satu lagi embus rokok. Kali ini asapnya mengambang di tempat, tak mau terbang tinggi.

Satu telapak tangan mendarat di puncak kepalanya.

"Jangan mati...."

Satu senyum, Mencemooh.

Untuk digantikan debaran lembut yang tidak bisa disembunyikan. Rasanya manis dan perih. Hangat dan menusuk.

"Kalau gue mati, seumur hidup juga lo engga bakal maafin gue, toh?"

Tawa lain. Terkekeh berat.

"Hahh... engga manis banget sih lo jadi cewek, Noir."



私が死んだら、どんな顔見せてるかい。何か考えてるかい。
私がいなくなったら、悲しくなるかい。私の死ぬほど泣かされるかい。



"Hah. Lo sendiri mendingan berhenti deh untuk jadi orang kepo."

"...."

"...."

"Maksud lo?"



君が望めなかったら、私も死にたくない。
君が臨んだら、君と一緒に生きていたい。

20130828

Immortality #4

Satu gebrak di meja makan. Atau tidak biasanya Rio seganas itu pada anak gadis sematawayangnya.

Bagaimana tidak? Punya sepupu imortal yang hobi tebar pesona saja sudah membuatnya mengurut dada, ditambah lagi feromon penuh dosa dari pria-mapan-berusia-akhir-kepala-tiga-namun-tampang-tampan-di-penghujung-kepala-dua itu (ngakunya) tanpa sengaja berhasil menyentil dan menjungkirbalikkan isi otak hingga ke dasar jiwa dari gadis kesayangannya itu.

Dunia sudah gila. Memang.

Bahkan sudah dari dua puluh tahun yang lalu, Rio mengucapkan selamat tinggal pada kata waras akan hal-hal yang berputar dalam otaknya.

"Astaga, Nandi! Ayah harus bilang berapa kali lagi sampai kamu ngerti kalau--"

"--aku--udah--ngerti!! Aku cuma engga setuju--"

"--apa lagi yang harus kamu engga setujuin?! Andreas itu PAMAN KAMU dan Andreas sendiri sekarang--"

"--udaaaah!! Aku engga mau denger!! Ayah sama Haru sama aja! Aku benci kalian semua!!"

BRAKK!!

"Nandi!! NANDI BALIK KE SINI KAMU...!!"


****

"Jadi gitu masalahnya?"

Satu embusan rokok. Asapnya tebal. Napas Rio nyaris tercekat.

Shinji terkekeh. "Terus, urusannya sama gue?"

"Gue butuh tau di mana Andreas."

Satu isapan lagi. Rio gatal ingin memotong-motong batang tembakau itu sampai habis.

"Terus, kalau udah tau, mau lo labrak?"

"Engga. Gue butuh bicara aja sama dia. Supaya dia bisa sedikit jaga jarak sama anak gue...."

Gendang telinga Rio lantas menangkap satu dengus tawa yang disembunyikan sempurna. "Andreas udah jarang pulang ke apartemennya, bahkan dari berbulan-bulan sebelum hubungan lo sama anak lo memburuk, dan lo masih pengen dia jaga jarak? Sejauh apa jarak yang lo minta itu emangnya, hmm?"

"... lo bisa ngomong gini karena lo engga punya anak, Shin."

Satu tawa lainnya, terkekeh. "Memang. Dan yang butuh jarak itu anak lo, atau sebatas ego lo sendiri, yang bahkan buta kalau Andreas udah punya hidupnya sendiri sekarang?"

Rio merasa tangan tak kasat mata tiba-tiba saja menghajar sisi wajahnya. Telak.

Ia hanya tinggal menyiapkan tangan besarnya sebagai seorang ayah... jika sewaktu-waktu Nandi pulang untuk bergelayut dan menangis semalam suntuk di dadanya.

Ya. Rangkul hangat seorang ayah. Dan hati besar seorang ayah.

Yang membuatnya gelisah tinggal satu... sejauh mana hati besar kebapakannya mampu memaafkan si brengsek yang tega membuat anak gadisnya merapuh sejadi-jadinya... tanpa memperhitungkan bahwa si brengsek itu nyatanya memiliki darah persaudaraan yang begitu erat dengannya?

****

"Andreee~!! Kamu ada di dalam, 'kan? Ayo buka pintunya...."

Cklek.

"Ah, halo. Cari Andreas, ya? Tunggu bentar, ya... Andreas lagi mandi."

"Kamu... siapa...?"

"Aku Kanami. Salam kenal. Ah, kamu pasti Nandi ya, keponakannya Andreas? Dia sering cerita soal kamu... waaah dilihat-lihat ada miripnya juga kamu sama dia. Ayo masuk dulu, kebetulan aku lagi bikin sarapan. Nandi mau sarapan apa?"

"A--"

Krak!

Hutan (di ujung) Sumur

Ada ceritanya tentang sebuah sumur tua. Yang tak seperti sumur pada umumnya. Ia tak memiliki atap maupun katrol untuk menimba ember. Ia tidak didirikan di sebuah kamar mandi umum yang juga bisa dipakai mencuci piring. Ia juga tidak selegendaris sumur Sadako hingga bisa memunculkan makhluk cantik gentayangan dari dalamnya.

Meski demikian, berbicara tentang wanita cantik... dialah yang menjadi jantung sumur itu.

Sumur itu didirikan di taman belakang sebuah rumah kecil tak berpagar, di mana rumah itu sering menjadi tempat singgah  jiwa-jiwa kelam nyaris berputus daya, yang hanya sekedar mampir untuk minum teh di beranda atau bermain air di kolam ikan di halaman depan. Sang pemilik rumah, seorang gadis manis berpipi tembem dengan kacamata kotak bertengger di tulang hidung melesaknya pun tak pernah terlihat letih untuk menyapa setiap tamu-tamunya yang datang silih berganti.

Atau mungkin... seperti itu yang bisa dilihat.

Kenyataan bahwa setiap manusia pasti punya batas kewajaran dan kesabarannya sendiri itu membelenggunya erat. Ia tidak ingin terlihat mengecewakan. Ia ingin menjadi sosok sempurna dalam dunianya, yang berkontradiksi dengan raga manusianya. Ironis. Sungguh.

Untungnya ia tahu ke mana harus pergi.

Sumur itu. Sumur tua di taman belakang rumahnya, taman yang tidak pernah diketahui keberadaannya oleh tamu-tamunya. Toh ia tidak pernah mengizinkan jiwa-jiwa lalu-lalang itu untuk masuk, bahkan hanya melongok melewati jendela teras sekalipun. Rumahnya terkunci rapat. Tertutup gelap-gulita. Ia hanya menyuguhkan asri dan damai muka rumahnya.

Di sumur itu ia mengadu. Ia menjerit. Meneriakkan pilunya. Menyandarkan peluhnya. Membisik lukanya. Menggemakan setiap tanya yang tidak pernah dijawab dunianya.

Untuk menunggu jawaban dari balik sumurnya....

... jawaban?

Oh ya, tentu saja. Toh ada yang selalu menjawab setiap penatnya. Masih ada suara yang selalu bergaung dari dasar sumur. Dari ujung sumur yang lain. Dari sebuah dimensi yang lain.

Suara yang sama, menggaung dan terasa begitu dekat. Dan riak air yang menampakkan wajah yang serupa dengannya, yang selalu membalas celoteh asanya.

****

Kembarannya boleh tinggal dan menjadi tuan rumah yang ramah bagi napas-napas yang diundangnya. Namun tidak baginya.

Ia sang penjaga hutan, yang kemudian dinamainya sebagai Hutan Kenangan. Hutan yang lebat dan gelap tanpa sedikitpun cahaya Matahari mampu menyelusup hingga ke tanah, dan hanya melalui sumur tua itulah satu-satunya pintu menuju hutan tersebut.

Bahkan kembarannya itu tidak pernah mampir barang sejenak. Ruang dan waktu yang berbeda untuk dijaga, dan keduanya memang ditakdirkan untuk tidak pernah saling meninggalkan tempat mereka masing-masing.

Anehnya, tetap saja ada deru napas yang berhasil lolos dan menceburkan diri ke dalam sumur, hingga berakhir di tepi Hutan Kenangannya.

Awalnya, ia mengira itu suatu kesalahan. Tak mungkin kembarannya sebodoh itu sampai membiarkan tamunya berkelana hingga dimensi yang berbeda. Tapi ternyata, disfungsi mental cukup akut ia yakini tengah menggerogoti kembarannya. Mereka yang lalu-lalang di Hutan Kenangannya adalah orang-orang bodoh dan tak tahu terima kasih. Mereka menjarah sana-sini, menebang habis kayu-kayu sekokoh jatinya, menanggalkan daun-daun hijau lebarnya untuk mendirikan pondok, bahkan menguras sungai jernihnya dari hulu hanya untuk peredam dahaga semenit saja.

Mereka boleh bilang Hutan Kenangan adalah surga. Namun ia bersumpah untuk membuktikan bahwa mereka adalah neraka baginya.

Maka ia mengutuk dalam dendamnya. Ia bersumpah untuk membumihaguskan siapa saja yang sudi menjulurkan tangan untuk keluar dari sumur tua itu. Dan ia membakar habis semuanya... jiwa-jiwa itu, pohon-pohon meranggasnya, gunung dan hulu sungainya... ia membakar habis dan melumatkan segalanya hingga tak berbekas abunya sekalipun.

Nihil. Kosong. Tinggal sumur tua di sana. Dan air sumur yang tidak pernah mengering yang kemudian menjadi benih barunya untuk menciptakan Hutan Kenangan yang baru.

Seperti itu. Terus berulang. Dan berulang. Berkali-kali.

Sampai kapan? Ia sendiri tidak tahu jawabannya.

Yang ia tahu pasti, tawanya selalu menggelegar setiap kali kuda merah berderak dan berlomba menghanguskan benci di dasar sukmanya.

****

"Ada sejumput abu yang ia kubur di dasar sumur."

"Oh, ada?" Seorang pemuda berambut ikal tersenyum tipis. Kilat penasaran mengambang di iris cokelatnya. "Kupikir, sudah tidak ada lagi yang tersisa."

Seorang gadis bertubuh mungil di samping pemuda itu lantas meninju pelan pundak si pemuda. "Jadi intinya, kamu engga boleh kalah!"

"Malu-maluin banget kalau sampai kalah. Pintu masuk ke dalem rumah udah dikasih, jangan sampai harus ngebakar isi sumur," gurau satu pemuda terakhir. Rambutnya mencuat ke sana kemari.

Pemuda berambut ikal itu terkekeh pelan. Ada rasa mengambang di matanya. Yang si gadis bertubuh mungil bilang itu cinta. Yang si pemuda berambut jabrik bilang itu tulus.

"Jadi, kapan aku boleh nyelam masuk sumur?"

Gadis si pemilik rumah hanya mampu menggemakan tawanya... hingga ke dasar sumur.

20130807

Seashore

A song fiction
Featuring Tomadoi - Fujita Maiko
_________________________________________________________________________________

Di antara seluruh pemandangan alam yang ada di Bumi, kelima inderaku yang luar biasa tajamnya ini hanya mampu menangkap tenang dan lembut alunan suara laut. Ya, laut, suatu pemandangan yang begitu akrab di ingatan bahkan semenjak kali pertama otakku mampu dipakai mengingat hal-hal di sekitarku. Sudah bertahun-tahun lamanya? Ya, dan aku tidak pernah bosen dengan bunyi debur ombak dan riaknya memecah batu karang yang selalu berbeda, tertangkap oleh gendang telingaku.

Dua belas tahun aku dibuai wangi laut, dininabobokan nyanyian angin darat setiap malamnya....

... bersama-sama dengannya, Kakak, yang sosoknya berdiri di salah satu tebing sisi laut itu begitu mesra menggelayut di dalam ingatanku.



Kaihin kouen no yuuhodou
Futari aruite
Itsumo yori sukoshi
Gouin ni kanjiru no wa ki no sei



Karena seringkali, waktu-waktu berdua yang tercipta di antara mereka,
Nara tidak pernah bisa mengerti artinya.
Rasa itu menggeliat, bergejolak, terkadang mendidih hingga ke ubun-ubun
bahkan sanggup mendisfungsikan kelima inderanya yang bagai hewan pemangsa itu.
Dan semakin ia merutuki diamnya, bahasa tubuhnya, sorot matanya,
ia hanya akan menemukan sorot sendu Nandi, menembus hingga pembuluh nadi terkecilnya.



Terkadang, aku ingin tahu hal apa saja yang selalu bercokol dalam kepala Kakak.

Kakak boleh saja memasang senyum untuk setiap detik napasnya di Bumi, tapi artinya tidak pernah sama bagiku. Aku mulai tahu setiap arti dari senyumannya. Senyum gemasnya setiap kali Rio mencomot ayam asam manis yang belum disajikan di meja makan, senyum maklumnya setiap saat Leyka meminta masukan tentang kisah cintanya yang bertepuk sebelah tangan... serta senyum manisnya yang selalu ia berikan setiap kali Andreas melempar satu bentuk senyum apapun, tak lupa disertai oleh semburat merah jambu di pipi keduanya.

Cih, menceritakan sedikit saja tentang Andreas membuatku sedikit mual.

Tapi yang tidak pernah kumengerti adalah setiap senyum yang Kakak berikan padaku. Tentu saja aku tahu senyum tipe mana... eits, aku tidak akan memberitahumu, enak saja. Yang tidak kuketahui adalah alasan mengapa Kakak memberikan senyum itu padaku.

Bahkan semenjak kali pertama aku bisa mematri segala hal tentang Kakak dalam kepalaku, senyum itulah yang kemudian berkenalan denganku.



Tomadou riyuu wa
Kowai no hikarete
Guuzen ni fureru dake de
Kodou wa myaku wo utsu
Suki ni natte mo ii no?



Nara memang tidak pernah tahu, tapi tidak sama halnya dengan Nandi.
Nandi sudah membacanya. Nandi mampu melihatnya.
Ada ruang yang tercipta di sudut hati Nara. Penuh warna. Penuh rasa. Penuh musik dan tarian indah,
dan semua itu ditujukan hanya untuknya.
Awalnya kecil, namun titik demi titik yang terajut menenggelamkan Nandi dalam kalut.
Ruang tinggalnya yang semakin melebar... namun Nandi tidak mampu menerimanya.
Karena itulah, satu senyum sendunya, dan hanya bagi Nara seorang.
Nandi memang tidak pernah bisa tahu masa depan, meski Nara pun tidak akan pernah tahu
arti di balik senyum pertama dan (mungkin) terakhirnya untuk Nara.



Kikitai kotoba
Hagurakasu you na henji
Motto shiritaku no ni



"Aku suka Kakak."

Dan Kakak tersenyum. Rambut hitam mengilapnya disibak angin laut.

"Aku juga sayang Nara."

"... tapi bukan itu jawaban yang aku ingin dengar, Kak."



Kuuki mo, anata mo
Itsumo to chigau
Dare ni demo konna modokashii
Kimochi ni naru wake janai
Kidzuite hoshii kokoro

Susunde shimau kokoro



Hati yang ingin disadari keberadaannya,
hati yang ingin disadarkan dari segala jerat lika-liku napsunya
dan satu lagi hati yang ingin melangkah jauh, bebas.
Dan untuk memilih...
Nara merasa lebih baik waktunya berhenti saja.



Shizumaru oto
Takanaru mune
Chikadzuku kyori
Toki ga tomaru



****

"Nara... Nara...!! Ra, jawab gue... please... maafin gue... maafin gue...."


Ah... Rio nangis. Kenapa?
                                              Sakit... panas....
                                                                          Waktuku... sudah mau berhenti, ya?
                                   ... tapi... Kakak engga di sini....
                                                                                      Kakak... di mana?


"Lo bedebah.... bajingan!! Bisa-bisanya... bisa-bisanya lo... DIA ADIK LO SENDIRI...!!"

"Rio...!"


Ada suara tawa... memekik...
                                                ... siapa?
                                                                                Kakak... Kakak.... Di mana--
                             --ah iya... Kakak... udah lama pergi... ninngalin aku, ya?
                                                                                                              Yang di sini... bukan Kakak...
                       ... dia neraka....
Tapi di ujung sana... ada suara laut...
                                                                ... suara Kakak... dan Kakak tersenyum....
                                                                               Ah... senyum itu....


"Ri... o...."

"Ra... Nara?! Nara lo engga--"

"--ma... af...."

"...."

.

.

.

Jangan nangis, Beke....
                                      Kalau lo nangis, gue engga bisa denger suara laut...
                ... dan bikin gue engga bisa pulang ke tempat Kakak...
... dan senyum manisnya itu terbit juga buat gue... di tempat ini... yang penuh debur ombak
                                                             ... dan wangi laut....

                                                                                                           Jadi, sampai ketemu lagi....

20130804

Immortality #3

A duet fiction
Featuring Freyr Halverg (c) Tasya Aniza
_________________________________________________________________________________

"Kana-chaaan...! Oh, ayolah... sebotol lagi engga akan bikin kamu mati, 'kan?"

Kanami tersenyum memaklumi. Segala rengekan tetangga apartemennya itu telah menjadi angin lalu baginya. Padahal keduanya sudah sama-sama menjejak tengah-tengah rentang kepala dua mereka, dan Kanami masih sering saja dibuat geleng-geleng oleh perilaku kekanakan seorang Freyr Halverg.

Toh Kanami percaya, hanya pada dirinyalah lelaki balsteran Jepang-Eropa itu bisa menunjukkan wajah lain dari segala bentuk topeng yang dimiliki.

Ah ya, semua orang memang bertopeng. Dan apakah keluguan lelaki di hadapannya ini juga merupakan salah satu bentuk topeng yang lain?

Kanami tertawa lepas. Tangannya mengulur satu botol sake besar dan menggoyang-goyangkannya tepat di depan kedua mata Freyr. "Minggu depan, traktir aku makan sampai puas di kaitenzushi*) di Funabashi, oke? Tanpa botol sake terakhirku, aku engga tahu malam ini aku akan berakhir jadi apa."

"Sudahlah... biasanya si dia akan mengajakmu keluar untuk minum-minum dan akan kembali berakhir di tempat tidur, toh? Dan kau juga masih berhutang satu perkenalannya denganku," kilah Freyr, namun tanpa ragu mengambil botol hitam itu dari genggaman Kanami.

"Sekalian malam ini saja, bagaimana? Toh pacar barumu itu juga akan datang menjemputmu sekarang, 'kan? Meski aku heran, Freyr... perempuan mana yang hobi menghabiskan sebotol sake setiap kali berkencan denganmu, bahkan sampai bolak-balik menjemputmu ke apartemen? Aku tidak habis pikir...."

Dan Kanami tidak pernah mendapatkan jawaban berupa kata-kata dari bibir lelaki itu. Atau setidaknya, tidak untuk selang waktu tiga puluh empat menit ke depan.

****

"Kamu ngapain di sini?"

Shinji melempar pandang singkat sebelum menjawab pertanyaan dan sirat keheranan Andreas yang baru saja turun dan mengunci pintu mobilnya. "Hmm? Oh, jemput temen. Lo sendiri?"

"Sama. Jemput juga."

"Hmm...."

"Kok lucu, ya? Kita baru selesai misi, pulang ke kamar apartemen masing-masing... dan sekarang ketemu lagi di sini."

Shinji menyalakan rokoknya. Asap membumbung tinggi, menjawab pertanyaan Andreas.

Derap langkah menuju lobi. Guruh tawa dan langkah lain tergesa-gesa dari tangga. Untuk berikutnya dijemput empat bola mata membelalak dan tentang kemelut kenyataan yang... entah untuk ditangisi atau untuk ditertawakan.

"Malem, Shin. Udah lama nunggu?"

"Baru dateng. Itu... botol sake?"

"Yup. Aku dapet ini dari Kana-chan, tetanggaku. Kana-chan, kenalin, ini Shinji. Loh? Kamu dateng sama Andreas, Shin?"

"...."

"... Nami... ini...?"

"... err, Freyr... kenalian, ini Andreas... pacar baruku."

****

"... kamu engga pernah bilang kalau Freyr itu pacarnya... partner kerjamu."

"Kamu sendiri engga pernah bilang kalau kamu dan Freyr itu tetanggaan."

Diam yang tidak biasa, dan menggantung.

"... terus... cowok tulen...?"

Andreas menaikkan sebelah alisnya. "Bukannya kamu seharusnya udah biasa dengan hal-hal berbau percintaan sejenis? Kamu dicampakkan tunanganmu juga alasannya karena--"

"--karena tunanganku menyukai teman sesama jenisnya, oke, dan tolong jangan ingatkan aku akan hal itu, Andre! Astaga... ini gila. Gila, sungguh... rasanya kepalaku mau meledak. Iya, gila, sangat...."

Satu senyum melengkung. Dan bibir Andreas yang menempel tepat di daun telinga Kanami, embus napas yang terasa bagai racun memabukkan.

"Kamu sendiri yang mencintai seorang makhluk imortal dan menyiksanya untuk menonton kematianmu nanti, bukankah kamu juga sama gilanya, Nami?"

_________________________________________________________________________________

*) conveyor sushi

20130422

Love Potion #8

"Ki, kamu nyesel engga, jadian sama aku?"

Aki nyaris menyatukan kedua alisnya rapat-rapat. "Ha? Engga tuh. Kenapa emang?"

"Engga. Nanya aja."

"Hmm... engga kok, engga pernah nyesel. Malah aku engga kebayang, gimana jadinya aku kalau dulu pas nonton kembang api aku mutusin untuk engga nembak kamu dan ngebiarin kamu untuk akhirnya berpaling ke Ze."

"Hahaha... segitunya kamu sama Ze?"

"Bukan masalah dia, tapi aku. Engga kebayang aku bakal jadi apa. Aktifis? Orang yang demen nongkrong di himpunan? Orang yang hobi rapat sampai pagi?"

"Terus, kamu rugi engga, setelah pada kenyataannya kamu engga jadi tipe orang yang kamu sebut tadi?"

"Enggalah. Untung banget malah, hehehee.... Makasih ya, Len...."

"...."

"Len? Hei, Alena--yah, malah tidur dia...."


****


"Ki, kopinya cuma ada yang rasa moka dan cappucino--"

Mata Zen membulat maksimal. Sementara percikan api merah biru mulai meliar di dadanya. Melilit perutnya.

Api cemburu yang manis.

"Oh iya, taruh aja di meja. Dan kenapa tampang lo bete, deh?"

"... menurut lo?"

Aki masih tidak sadar--tidak, mungkin Aki hanya terlalu terlarut dalam kenikmatan surga duniawinya yang bahkan belum bisa ia sadari sepenuhnya. Dan betapa kenikmatan surga duniawi itulah yang membuat neraka meletup-letup dalam benak Zen dengan kata-kata terpatri yang ikut mengelana. Cemburu, canggung, dan perih.

Karena Aki berhasil membuat dada bidangnya menjadi seempuk bantal berkualitas mahawahid, dan tentunya berhasil menarik keluar wajah manis kekanakan Alena yang tertidur pulas... raut yang tidak pernah Zen temui, bahkan dalam lima tahun kehidupannya bersama gadis itu.

20130417

Immortality #2

Tempat minum itu penuh sesak. Wangi alkohol yang sudah tidak jelas semilirnya. Wine. Whisky. Vodka. Tuak Cina. Sake. Bloody Mary. Dan sebutlah puluhan nama minuman keras lainnya yang bisa jadi tersimpan rapi di antara rak-rak kayu jati hasil colong dari negara tropis. Botol-botol yang menanti untuk dituangkan isinya dalam gelas-gelas berkaki tinggi maupun berperut lebar.

"Sendirian?"

Andreas berpaling dari sloki sakenya. Ada sosok yang menemaninya di sana. Jangkung tinggi atletis, rambut digelung berantakan hanya dengan sebatang pensil. Meski senyum dan sorot mata bening yang membuat Andreas tersenyum satir... bagaikan melihat sejumput indah surga dari panas jendela-jendela neraka.

"Kamu sendiri?"

"Kalau ada yang nemenin, aku engga akan mungkin nyamperin kamu kayak gini, Andre."

Andreas tersenyum simpul. Dan perempuan itu menarik kursi di sampingnya. Jemari lentiknya menjepit anggun sebuah gelas kristal yang masih setengah terisi. Dari wanginya, ah, silver bullet.

"Udah lama kamu engga ke kampus lagi setelah wisuda." Suara perempuan itu terdengar menggaung manis di daun telinga Andreas.

Andreas terkekeh. "Aku baru selesai sidang di kampusku yang satunya. Wajar kalau selesai wisuda di Toudai aku langsung kabur buat beresin kuliahku yang lain."

"Pantes... sekarang jadi punya waktu buat minum-minum."

"Kamu sendiri, kuliah udah beres?"

Perempuan itu menyesap habis minumannya dalam-dalam, dan dengan satu gerakan tanpa suara meletakkan gelas kosong itu di atas bar. "Belum, tentu aja. Oke, kamu boleh bilang aku perempuan lemah, memang nyatanya begitu. Apalagi yang bisa kulakukan setelah ditinggal selingkuh oleh tunanganku dan ibuku mati gantung diri gara-gara utang suami keduanya yang sialan itu?"

"Aku turut menyesal mendengarnya."

"Engga perlu basa-basi, Andre. Meski untuk orang yang sering kehilangan macam kamu, kalimat tadi aku tahu bukan sekedar basa-basi."

Iris hitam legam Andreas melebar. Menjemput sebuah sensasi menggeletik yang sudah lama tidak hadir dalam benaknya. Ditemani sebuah senyum yang pada detik itu menjungkirbalikkan seluruh logika dan egonya. Mencampurbaurkannya menjadi satu rasa yang hampir saja hilang dari hidup abadinya.

Raut yang tanpa celah. Menembus langsung mengoyak dinding terakhirnya. Sebagaimana yang selama ini Asaka lakukan padanya untuk mengurangi beban traumatisnya, bukti yang tersisa bahwa dirinya masih manusia. Dan betapa perempuan di sisinya itu telak mengatakan padanya,

<Bahwa kamu... masih berduka atas kepergiannya....>
<Bahwa kita... sama-sama orang yang selalu ditinggalkan, dan selamanya tidak akan pernah meninggalkan.>

"Darimana kamu...?"

"Intuisi wanita? Dan, hey... kamu harus percaya, bahwa yang namanya mata ketiga itu memang ada, loh! Dan bahkan, ada saja manusia yang memang terlahir memiliki mata ketiga...."

Kata-kata perempuan itu terputus. Andreas sontak merebahkan kepala di atas pundak si perempuan. Tanpa aba-aba.

"Hey, Andre...!"

"Selalu ditinggalkan, tapi tidak meninggalkan, eh...?" Andreas tertawa, parau. "Mau coba bertaruh? Aku bisa ngasih kamu pengalaman, gimana rasanya 'meninggalkan'...."

"... yang bener aja. Memangnya siapa yang bakal aku tinggalkan--"

"Aku."

Sepatah kata yang meluncur begitu saja tanpa ragu. Perempuan itu tertegun. Cengkeramannya masih belum lepas dari kedua sisi lengan Andreas. Bahkan semakin erat.

"Kalau kamu minta aku percaya tentang cerita-mata-ketigamu, maka malam ini aku bertaruh untuk meyakinkanmu tentang sebuah cerita lain dariku."

"Dan, cerita itu adalah...?"

Andreas tersenyum. Bibir dinginnya lantas menyentuh leher jenjang yang begitu lembut di inderanya. Tak ada kata kembali. Dan Andreas pun sudah tak ingin menyesali.


****


"Kamu, gila... Andreas."

Pagi menjemput, mengintip malu-malu dari tirai kelambu yang belum berani disingkap. Sementara Andreas tersenyum pada pemilik wajah lelah yang tubuhnya masih terbungkus selimut di sisi tempat tidurnya yang selama ini selalu sepi sendiri.

"Kamu udah gila, engga waras... kamu...."

Satu cumbuan lagi. Menenggelamkan setiap kata demi menjawab seluruh makian yang nyaris akan merepet setelahnya.

"Gila, memang, tapi engga bikin kamu mau mundur, 'kan?"

"Intinya, sama-sama cari pelarian, hmm?"

"Hmm, boleh juga. Pelarian seumur hidup. Sampai aku lihat kamu mati nanti?"

Satu gelak tawa. Dan bunga-bunga manis yang mulai bersemi setelah bertahun-tahun Andreas tenggelamkan dalam kubangan sedingin es.

"Deal. Sampai kamu lihat aku mati duluan ketimbang kamu."

20130411

Immortality

Iris biru Leyka melebar sejadi-jadinya, sementara Asaka nyaris memuntahkan lagi seluruh koloid kecokelatan beraroma mocca di mulutnya dari hidung. Bagaimana tidak? Para pasangan masing-masing izin pergi dalam keadaan tertawa-tawa, lalu tiba-tiba saja mereka pulang dengan sesosok tubuh lunglai dengan wajah merah matang terbopong di sisi kiri-kanan pundak mereka.

"Andre kenapa...."

"Tenang aja, Le. Dia cuma mabuk sake lima gentong."

"Ap--apa?! Dia DEWA dan dia BISA mabuk sake?! Astaga...."

"Menurut kamu aja, Sa. Engga mentang-mentang dia titisan dewa terus dikasih sake seratus gentong juga engga mabuk. Metabolisme tubuhnya masih manusia, masih punya limit, toh?"

"Terus... gimana ceritanya sampai dia bisa...."

"Entah. Tapi yang pasti sih, kata si kakek yang punya bar, sambil mabuk dia terus-terusan ngucapin sepatah kalimat."

"... yaitu?"


****


Andreas mencari. Tanpa henti.
Meski di sekelilingnya hanyalah laut penuh keheningan, tak peduli betapa  tubuhnya dijerat rasa panas menusuk, Andreas tetap mencari.

Mencari apa? Mencari siapa?
Yang jelas, ia telah lelah berlari mencari malaikat mautnya.
Toh malaikat mautnya hanya akan datang di waktu fajar, dan tetap kedua tangannya yang menebas leher malaikatnya di setiap penghujung mimpi-mimpinya.

Bukan. Bukan itu. Andreas sudah lama berhenti mencarinya.

Yang Andreas cari kini... adalah ujung dunianya.
Akhir waktunya.
Di mana halte pemberhentian terakhir jarum jamnya yang kini hanya bergulir di tempat.
Dalam stagnansi. Tanpa arti.

"Apa yang kamu inginkan, Ndre?"

Suara Asaka mengalun pelan dalam benaknya. Ah, jadi rupanya ia tidak sendirian di sana. Asaka sudah jauh-jauh meluangkan waktu untuk menemaninya bercengkerama dalam sepi.

"Apa yang kamu cari? Apa yang kamu inginkan?"

"Keinginanku? Cuma satu...."



'Izinkan aku mati sebelum aku harus melihat kalian pergi terlebih dahulu.'