A duet fiction
Featuring Freyr and Leon (c) Tasya Aniza
_________________________________________________________________________________
Sejauh apa sih, surga dan neraka itu?
Freyr mengerjap bingung. Di sekelilingnya hanya ada kabut tebal, yang anehnya berwarna kelabu namun beberapa detik memunculkan semburat merah jambu yang lembut. Seperti permen kapas. Juga wangi yang manis. Hangat. Freyr terlena. Tapi ia tidak tahu dirinya di mana.
Di mana sih, letaknya surga dan neraka itu?
Perlahan Freyr melangkahkan kakinya, oh ya, bahkan kakinya pun tertutup asap tipis hingga ia tidak bisa melihat tekstur lunak yang dijejaknya. Tidak menimbulkan suara... ya, seolah ia sedang berjalan di atas tumpukan kapuk padat. Ia berjalan, maju. Dalam stagnansi. Nihil. Tidak ada apa-apa. Ia mulai berteriak, bertanya, mencari, namun yang balik menjawabnya hanyalah gaung suaranya dari kejauhan, membeo setiap suku kata yang diucapnya.
Hal ini tentu saja memaksa Freyr menggunakan otak cemerlangnya untuk berpikir keras. Berpikir. Sedang di mana dirinya berada? Bagaimana ceritanya hingga ia bisa tiba di tempat itu.
Dan satu sengatan di kepalanya menyerang. Tubuhnya limbung. Hampir membutakan matanya.
"I--ini di... aku...."
"... Freyr?"
****
Kabut memudar. Secara ajaib tiba-tiba saja Freyr tengah berdiri di tengah taman kota. Namun asap-asap berwangi manis masih hilir-mudik di ujung hidungnya. Bola matanya lantas menangkap sesosok perempuan yang tengah duduk manis di ayunan di hadapannya.
"Kanami? Kenapa... ada kamu?"
Perempuan itu tertawa. "Kamu kebentur keras ya, Fre? Kita 'kan baru aja tabrakan bis, lupa ya? Sini-sini, duduk dulu, kita cerita pelan-pelan."
Freyr mengangguk, menuruti kata-kata perempuan itu. Sementara perempuan di sisinya itu mulai mengayunkan tubuhnya ke depan dan belakang.
Ada semburat jingga yang menyambut. Freyr rasanya ingat kenangan ini. Taman kota, sore hari, momen yang selalu menjadi rutinitas tersendiri baginya dan perempuan itu untuk saling bercerita tentang hidup. Oh, tidak, bukan... mereka bukan pasangan kekasih, mereka hanya teman yang berbagi satu atap apartemen yang sama dan terkadang saling bertukar lauk makan malam atau botol sake, tidak lebih.
"Udah lama... kita engga ritual kayak gini ya, Fre...."
Freyr tersenyum. "Iya. Semenjak kamu sibuk ngurus kafe dan aku sibuk ngejar kasus."
"Bukannya semenjak kita sama-sama mengejar waktu dan setengah bagian hidup kita yang hilang?"
Freyr terdiam. Lidahnya mendadak kelu. Paru-parunya hanya bisa menarik napas berat. Ada rasa sakit yang tiba-tiba menghujam dadanya. Namun perempuan itu tidak menghiraukannya. Perempuan itu terus menatap langit, memandang mega jingga menggantung. Dari sudut matanya, Freyr mampu menangkap sorot teduh perempuan itu.
"Kamu bilang... kita ini baru kecelakaan bis? Terus, ini di mana?"
"Entah," jawab perempuan itu, mengangkat bahu. "Sepertinya terminal terakhir antara dunia manusia dan dunia bawah."
Freyr bergidik. Dunia bawah, maksudnya neraka. Ya, orang Jepang hanya tahu konsep bahwa orang mati semua dikirim ke dunia bawah, mereka tidak percaya konsep surga dan neraka. Suatu hal yang membuat blasteran sepertinya geleng-geleng kepala dan bingung sendiri untuk memegang konsep kehidupan-setelah-kematian yang mana.
Tunggu. Kalau begitu....
"... aku, sudah mati?"
"Setengah, sepertinya. Masih bisa ngerasa sakit, 'kan?"
Freyr mengangguk. Rasanya aneh, tapi... ya, rasa sakit menyengat di kepalanya hingga rasa sakit di dadanya, dua rasa sakit yang berbeda unsurnya namun masih bisa Freyr rasakan dengan jelas.
"Terus, kenapa kita di sini?"
Sejenak, perempuan itu menghela napas. Ada mendung bersenandung di wajahnya.
"Pilihan, Freyr. Antara pulang, atau lanjut terus tanpa bisa balik lagi."
"Kalau lanjut terus, bakal sampai dunia bawah?"
Freyr menangkap senyum jenaka perempuan itu. "Kenapa? Ada orang yang pengen kamu temui ya, di dunia bawah?"
Pertanyaan telak. Tepat sasaran. Memaksa ingatan Freyr untuk melaju sekencang-kencangnya menembus dinding masa lalu yang telah dibetonnya tebal-tebal. Dan beton itu seketika runtuh. Berguruh dalam benaknya. Monster masa lalunya yang terbangun, mengendus wangi kebebasan di udara, wangi harapan, dalam beberapa saat mematikan fungsi kerja logikanya.
"Aku... a--aku...."
"Kalau kamu udah yakin bahwa engga bakal ada yang nunggu kamu pulang, ya lanjut terus aja, Fre."
Tubuhnya seolah djjerat tali-tali tak kasat mata. Orang yang menunggu? Sekejap bayangan Leon dan adik-adiknya, ibu dan ayahnya, berkelebatan tak henti di otaknya. Semakin membuatnya bimbang. Keluarganya pasti menunggunya untuk membuka mata. Atau mungkin Leon saat ini tengah mendekam di rumah sakit, meninggalkan setumpuk pekerjaannya, dan akan memarahinya habis-habisan ketika ia bangun nanti. Ya, hal-hal normal yang biasa dilakukan keluarga.
Di luar itu, Freyr punya apa? Punya
siapa?
Bahkan sebuah nama yang terbersit dari ujung ingatannya tak mampu menjawab. Ia hanya punya cinta keluarganya. Bentuk cinta yang lain... bahkan yang menunggunya di balik gerbang dunia bawah pun tak sepadan. Itu hanya cinta sepihak. Gelegak napsu dan emosi yang tidak pernah membuatnya bahagia. Cinta hanya menyeretnya ke jurang derita tanpa toleransi dan kompromi. Cintanya pada yang di balik gerbang dunia bawah, maupun pada yang (mungkin) menunggunya di kamar apartemen dengan bau tembakau menyengatnya. Yang mana pun sama saja.
Jadi, Freyr harus ke mana?
"Pulang, Fre."
Freyr melongo. Perempuan itu menggasak habis rambut platinanya, penuh kasih.
"Masih ada urusan yang belum selesai, 'kan? Kalau ke dunia bawah sih, semua roh juga bakal balik ke sana. Mumpung masih ada kesempatan, mendingan kamu pulang ke dunia kita. Gimana?"
Terkadang, Freyr mengutuki dalam diam kemampuan membujuk dan merayu dari tetangga apartemennya ini.
"Kamu sendiri, mau gimana? Urusan kamu juga belum selesai, 'kan?"
"Urusan aku sih, engga bisa aku selesaikan sendiri. Orangnya yang bermasalah, jadi ya cuma dia yang bisa. Aku udah mencoba, bahkan menjanjikan dua puluh empat per tujuh hidupku pun udah kulakukan. Kalaupun pergi sekarang, aku engga bakal nyesel. Eh... nyesel, sih."
"... nyesel apa?"
"Nyesel engga bisa nemenin dia sampai aku tua duluan ketimbang dia."
"Terus kenapa kamu engga pake kesempatan yang sama? Kita sama-sama di sini, terus kenapa kamu mau lanjut?"
Ada senyum terbit di sudut bibir perempuan itu. Hanya untuk membuat dada sesak Freyr diliputi bentuk kesedihan yang lainnya.
"Aku lelah, Fre. Udah cukup. Aku... pengen istirahat."
"Kalau gitu, istirahat di dunia kita aja! Ayolah Kana, pokoknya aku engga terima negosiasi," sembur Freyr sembari melompat dari bangku ayunannya dan menggamit tangan perempuan itu. "Kita dateng ke sini sama-sama, 'kan? Kita jadi korban kecelakaan di bis yang sama, 'kan? Yah, meskipun aku juga engga sadar sih kamu ada di bis itu juga, tapi... kalau kamu pulang, aku juga pulang, dan sebaliknya.
Deal?"
"Tapi... cara aku ke sini engga sama kayak kamu, Fre, aku...."
"Aku udah bilang, engga ada negosiasi. Kita pulang sekarang, ya?"
Tidak ada jawaban dari perempuan itu, hanya sebuah senyuman manis. Dan yang Freyr ingat setelahnya, angin kencang menyapu dan menyerbu tubuhnya, meniup seluruh kenangannya untuk tertidur sementara, dan mendamparkan tubuhnya kembali ke tengah semilir obat kimia dan jarum-jarum menancap di tubuhnya.
'Maaf... dan terima kasih....'
****
"Udah denger beritanya?"
"Kecelakaan bis itu, 'kan? Kasihan supirnya, ikut meninggal padahal bukan salahnya."
"Tapi aku dengar kabar, penabraknya meninggal tadi pagi, ya?"
"Haah?!! Engga bisa didakwa, dong!!"
"Saksi mata yang lihat sih, katanya si penabrak yang emang nyebrang jalur dan nabrakin mobilnya... siapa sih yang bisa selamat setelah aksi bunuh diri kayak gitu?"
"Engga di bawah pengaruh alkohol?"
"Nope
. Denger-denger sih negatif."
"Hahh... dunia makin gila aja."
Gendang telinga Freyr tergelitik. Seiring dengan suara bantingan pintu kamarnya. Dan suara gerutuan kembarannya yang belum pulang menungguinya dari kemarin malam.
"Ngegosip kok di depan pintu kamar orang, gila."
"Leon...."
"Hmm? Mau apa? Minum?"
"Yang nabrak... meninggal, ya?"
"Iya, tadi pagi."
"Yang nabrak... cewek?"
"Ya. Katanya percobaan bunuh diri, spontan nabrakin diri ke pembatas jalan sampai nyebrang jalur, dan kebetulan bis yang kamu tumpangin lagi lewat."
"Keadaannya... gimana?"
"Patah tulang sana-sini, rusuk nembus sampai paru. Yah, baguslah, ganjaran buat orang gila dan semena-mena sama nyawa macem gitu. Kenapa? Penasaran?"
"Tadinya. Sekarang udah engga lagi."
"... heh?"
Freyr tersenyum. Dadanya mendadak terasa panas, menggelegak. Ada tetes air meluncur dari ujung matanya yang terpejam. Dan sekarang ia paham arti senyum terakhir yang Kanami berikan padanya di perbatasan menuju dunia bawah.
.
'Maaf, dan terima kasih, Fre.... Selamat tinggal, dan semoga kamu menemukan kebahagiaan yang tidak pernah sempat aku raih.'