20120420

Untold


Dalam setiap malam-malam gelapnya, lelaki itu tidak pernah berhenti bercerita. Bercerita ia pada bintang-bintang tak kasatmata tentang luka. Bercerita ia pada bulan yang kerap kali terhalang malam tentang perih. Bercerita ia pada awan yang menghitam tentang tangis yang telah mongering namun dirindunya. Setiap malamnya, dan cerita itu akan selalu berulang, hingga ia terlelap dalam lelah berselimutkan kubangan peluhnya.

Dalam setiap malam-malam panjangnya, lelaki itu tidak pernah berhenti bermimpi. Pada langit luas ia bermimpi tentang angin yang meniup helai demi helai hitam dan manik hijau yang hangat. Pada bias lampu gedung-gedung menjulang ia bermimpi tentang suara lembut yang memanjakannya untuk terus berada di alam mimpi. Dan pada malam menjelang fajar ia bermimpi akan malaikat maut yang mengalungkan sabit kematian di lehernya. Meski dalam mimpinya, sabit itu tidak pernah membelah lehernya. Seakan waktu berhenti. Ia dan sang malaikat maut hanya terpaku di sana, dengan pemandangan sebuah altar yang telah hancur menjadi puing.

Dan dalam setiap fajarnya, lelaki itu selalu mengutuk pagi. Ia membenci pagi. Ia membenci hari. Ia membenci waktu. Karena waktu tidak pernah sudi ikut berduka bersamanya. Karena pagi tetap menjemput tak peduli selama apa ia membasuh luka-lukanya. Karena hari selalu berganti, seolah menertawakannya yang tidak pernah lagi melangkah dari mimpinya.

Karena ia ingin bermimpi. Karena hanya di dalam mimpi-mimpinya, maka malaikat maut itu akan menjadi nyata. Malaikat maut berparas cantik, bermata garang namun air mata tidak pernah berhenti mengaliri sisi wajahnya. Betapa lelaki itu mengenalnya. Betapa ia ingin merengkuh sang malaikat maut dalam dekapan. Betapa ia ingin sang malaikat maut menjemputnya agar mereka selalu bersama.

Hal klise. Juga menjadi hal yang paling diinginkannya. Malaikat mautnya tidak pernah membawanya pergi ke dalam keabadian. Ia ditinggalkan dalam hampa yang nyata.

Dalam setiap akhir malamnya, lelaki itu selalu melihatnya.

Sabit itu tidak pernah memenggal kepalanya. Sabit itu beralih ke tangannya untuk memenggal leher malaikat mautnya itu.

No comments:

Post a Comment