20120814

Sloka

<Sampaikan seruanku pada Brahma, aku tidak takut meskipun kau mampu menghancurkan sekutuku sekalipun!>

<Langit dan Bumi memang miliknya, tapi waktu dan kematian ada di tanganku!>



****


"Engga ada cara sama sekali, Yo?"

Rio menunduk dalam-dalam, menyembunyikan bulir-bulir keringat besar yang menghujani dahinya, sebagaimana gusar dan gemetar yang ia tutup rapat-rapat di hadapanku.

Aku mengulang pertanyaanku,

"Tidak ada jalan lain, Satrio? Tidak ada satu pun?"

Di antara asa yang menguap tinggi, ia menjawab, lirih. Kepalanya menggeleng lemah.

"Engga ada, Ndre.... Engga ada."

Aku menghela napas--tanpa sadar. Kurebahkan tubuhku di atas sofa hitam berlengan di belakangku. Bunyinya berdebam keras, seolah beban tubuhku melipat ganda dari yang kelihatannya. Ah, tentu saja. Betapa pundak ini terasa jauh... jauh lebih berat dari sebelumnya. Dan sesuatu dalam diriku yang meraung-raung kesakitan, penuh luka.

"Ndre?"

Aku tak menjawab. Hanya kutatap nanar pemuda di depanku itu. Rio yang tak lagi berusaha menenggelamkan gelisahnya mati-matian terhadapku... meski sorot matanya begitu ragu dan takut-takut.

"Ndre... maaf."

Bola mataku sedikit melebar. Dan Rio yang kembali berkutat dengan segala rasa dalam dirinya. Aku tahu, bukan hanya aku yang dikekang perih ini. Rio juga sama. Tidak, mungkin Rio lebih parah. Ia yang pulang dalam keadaan babak belur, harga yang harus dibayarnya untuk membawa pulang kenyataan padaku. Rio yang tak lepas dari mimpi buruk dan kubangan peluh di malam harinya. Rio yang melihat lebih banyak lagi tentang mereka.

Nama-nama yang sering diteriakan Rio dalam mimpinya. Nara. Dan... Nandi.

Nandi....

Sesuatu dalam dadaku seolah diperas.

"Lo... engga perlu minta maaf, Yo," ucapku pada akhirnya. Aku berdiri, melangkah ke hadapannya, meninju pelan bahunya. "Lo udah berusaha yang terbaik. Lo masih bisa pulang juga gue udah bersyukur banget. Sekarang lo istirahat aja. Urusan langkah selanjutnya, gue butuh mikirin lebih lanjut malem ini."

Rio lantas menatapku. Ada sorot matanya yang berusaha menguliti isi otakku habis-habisan.

"... jangan terlarut dengan cerita yang gue sampein tadi. Tentang dia... tentang Nandi...."

Aku terhenyak. Sepertinya Rio tahu apa isi kepalaku.

Pemuda itu lantas membungkuk hormat padaku singkat, sebelum membalikan tubuhnya dan pergi meninggalkanku seorang diri dalam ruangan itu. Tanpa sedikit pun melihat ke belakang. Tanpa memastikan raut wajah apa yang menggenangi mukaku saat itu.

Aku? Ya....

Dan sisa malamku lantas kuhabiskan hanya dengan satu nama berlarian di otakku. Nama yang manis, seindah aku melihat seekor angsa putih berenang elok di danau berteratai dan nyanyian kodok. Begitu manis dan rindu, bahkan hingga mampu mengeringkan tenggorokanku.

Nama itu... Nandi. Nandi....


"Ndre, Nandi udah engga ada. Jiwanya yang habis dimakan manifestasi Shiva, Ma Kali... gue lihat sendiri. Dan engga ada yang bisa kita lakuin. Kita cuma bisa kalahin Shiva, tapi Nandi engga bisa kita tolong lagi."

"Nandi engga akan balik lagi sama kita, Ndre. Engga akan...."


Malam itu, suara parauku hanya sanggup meneriakan satu nama. Membiarkan perih yang terus bermain dalam jiwa, tanpa pernah mengizinkan satu tetes air mata turun membasahi sisi wajahku.


****


"Ndre gimana?"

"... haha, engga tau. Kayak mayat idup, Ley."

Satu jitakan mampir di kepala Rio.

"Jangan ngomong gitu! Lo engga tau, segimana Andre berusaha bertahan di sini, masih berusaha berpikir positif, masih berusaha nyari cara-cara lain, masih berusaha--"

"--karena dia engga lihat apa yang gue lihat, Ley."

Kali ini, sebuah tamparan menyengat mampir di pipi Rio.

"Tugas lo, Satrio... tugas lo untuk jadi mata bagi Ndre, untuk melihat hal-hal yang engga bisa dia lihat... hal-hal yang engga sanggup untuk dia lihat. Kita udah janji, bahkan sama diri sendiri, kita akan saling ngejaga satu sama lain. Lo lupa akan hal itu, Yo? Terus kalau lo lupa, buat apa lo nekat pergi ke Sarang Naga? Buat apa lo bela-belain--"

Kepala Rio mendarat di bahu Leyka. Ada helaan napas berat. Lelah.

"Maaf, Ley. Maaf.... Maaf...."

"... Rio."

"Haha... lo ikutan marahin gue. Lo jadi kesel gara-gara gue...."

Dan kedua tangan yang dilengkung, hangat mendekap Rio.

"Bego. Ini namanya saling ngejaga, tau."

Air mata yang lantas jatuh dari kedua pasang mata. Satu-satu. Untuk menggantikan bagian luka yang tidak bisa dialirkan.

No comments:

Post a Comment