[1] Il giudizio finale sta per essere emesso
Nessuno può emendarsi dal peccato che scorre nelle vene
Di tengah mandi peluhnya, Nandi terjaga. Napasnya tersengal. Kepalanya terasa berat. Sakit. Bergemuruh. Seperti digedor-gedor.
"Kakak?"
Sementara di sampingnya, Nara, wajah yang serupa dengannya itu memandang sarat kecemasan.
"Kakak kenapa? Baik-baik saja? Kakak mimpi buruk?"
Suaranya tercekat, tertinggal tak mau pergi dari tenggorokannya. Nandi hanya memaksakan sebuah senyum. Senyumnya yang biasa.
"Kakak...."
"Aku... baik-baik saja, Nara... jangan khawatir--"
[2] --spepare
ѐ peccato?
Nandi mengerang, kedua tangan memegang sisi kepalanya. Merasakan gaung-gaung dari kejauhan yang memenuhi otaknya. Gema asa yang dikandaskan. Gema mimpi yang tak lagi terjamah. Digantikan gaung-gaung memekik mengerikan yang membakar bara jauh di benaknya. Satu kata;
benci.
Namun betapa Nandi telah mengunci rapat kata-kata itu dalam-dalam.
"... Kak? Kakak? Kakak!!"
[3] Serbare il segreto
ѐ peccato?
Dalam setiap malamnya, mimpi-mimpi selalu bercerita. Tentang manusia. Tentang dusta. Ya, dusta-dusta yang seringkali berhasil bersembunyi di balik topeng-topeng manis berbau harum. Sementara iris hijaunya mampu menelanjangi dusta, secepat apapun mereka berlari. Sedangkan bibirnya yang lantas melukis satu lengkung yang sama, yang biasa.
Sesederhana apapun, dusta selalu menemani. Dan Nandi belajar, bahkan untuk mendustai dirinya sendiri. Dengan topeng senyumnya. Dustanya pada hati kecilnya.
Bahwa ia membenci pendusta. Meski di atas semua itu,
ia membenci kekuatannya, kemampuannya untuk mengejar sedalam apapun dusta bersembunyi.
Dan berlari dari hidup bukanlah jalan keluarnya. Tidak dengan Nara, dan manusia-manusia lain dalam hidupnya yang menawarkan kehangatan. Kehangatan yang ia tahu bukannya dusta. Pribadi-pribadi yang menjadi cahaya baginya, tak peduli titik-titik dusta yang tetap ia temukan di sana.
Andai saja manusia.... Ah, bahkan dirinya sendiri pun seorang pendusta.
[4] Tu sei senza peccato?
Quanto sarà pesante il mio castigo?
Ti accorgi delle voci senza voce?
Ti accorgi dei tuoi peccati?
"Kakak!!"
Nandi mengerjap. Rasa sakit yang berangsur memudar. Dan tubuh mandi peluhnya yang didekap erat wangi laut.
"Sakit, Kak?"
Ia hanya mengangguk, menenggelamkan diri pada wangi laut penuh kehangatan di sekelilingnya. Tangan besar yang membungkus tubuhnya. Ia hanya mampu tersenyum lemah dalam diam. Entah sejak kapan... tangan adik kecilnya bisa sebesar dan sekekar ini?
"Kakak... apa yang--"
"--nanti, Nara. Nanti, aku akan cerita. Sekarang... aku ingin tidur. Aku ingin istirahat."
Tak ada lagi kata yang ditukar. Sebagaimana dirinya, Nara lantas menarik tubuhnya, sedekat apapun jarak sanggup mengikat keduanya. Juga dusta yang Nandi kesampingkan, bersamaan dengan rasa sakit menusuk yang masih membelasah, yang Nandi sembunyikan.
"Selamat malam, Kakak. Selamat tidur."
"Ya... selamat tidur, Nara...."
Il giudizio finale sta per essere emesso
Nessuno può emendarsi dal peccato che scorre nelle vene
_________________________________________________________________________________
author's note:
Short-fiction ini sebenernya bisa dibilang sebagai song-fiction juga. Tulisan bahasa Italia di atas diambil dari lagunya Shikata Akiko yang berjudul Katayoku no Tori (One-Winged Bird), dengan terjemahan bahasa sebagai berikut.
[1] The final judgment shall be delivered.
Nobody can escape the sins that flows their veins
[2] This hope
is it a sin?
[3] This secret
is it a sin?
[4] Are you without a sin?
How heavy is my punishment?
Are you aware of that which has no voice?
Are you aware of your own sins?
No comments:
Post a Comment