20120805

Frozen Forest

Di ambang sebuah jendela, bibir pemuda itu menggumam sebuah lagu, tidak peduli suara seraknya yang terdengar janggal di telinga. Sorot mata elangnya mengelana, mencari-cari sejauh batas ufuk. Sementara jemari tak henti memainkan helai rambut kecokelatan seorang gadis yang tertidur lelap di pangkuannya.

Pemuda itu menghela napas. Pendek. Alunan nada janggalnya terhenti. Dan iris cokelat keemasannya berlari.

Pada gadis itu. Pada raut lelah dan derak napas teratur pendek-pendek. Pada peluh yang sempat menempel di kulit. Pada luka-luka yang tak kunjung menutup. Pada bibir yang tak urung dicumbu setiap malamnya.

Pemuda itu menggeram. Ada getir mampir di geramnya. Dan kepalan tangan yang kebas sehabis ia daratkan dengan telak pada sebuah wajah, wajah dengan garis yang mirip dengannya.

"Aku mencintainya, Aniki. Aku yang akan ada di sampingnya, menjadi penjaganya. Aku tidak akan kalah darimu."


Menjaga? Jangan sinting. Sudah berapa kali ia menemukan si gadis terbaring tak sadarkan diri di atap sekolah, kafetaria, dapur, atau bahkan di depan pintu kamar sendiri?


"Tidak selamanya kamu bisa mengambil semua hal yang kupunya, Aniki."


Mengambil? Jangan gila. Sudah berapa banyak yang ia rela pertaruhkan demi separuh nyawa-nyawa di pundaknya?

Dan pemuda itu lantas mengulas satu senyum sinis. Perih.

Punya adik laki-laki dengan nyawa dibebankan padanya, dan si adik dengan besar kepalanya memutuskan untuk menjadi saingan cintanya?

Tahu apa dia?




****


"Aniki...."

Satu-satu butir asap rokok membumbung tinggi hingga hilang ke langit.

"Aku akan membawa Lyra pergi."

Satu suara. Dingin dan melecehkan. "Ke mana?"

"Sejauh yang aku bisa."

Satu bogem mentah yang detik berikutnya melayang menghajar telak wajahnya.

Yuuji nyaris terjatuh. Matanya menatap tak percaya. Sementara Shinji hanya melempar dan menginjak puntung rokoknya, sembari berjalan meninggalkannya yang mematung ditemani angin.

Yang Yuuji tidak percaya bukanlah alasan mengapa ia ditonjok....

... yang ia tidak percaya adalah mengapa kilat perih itu menggenang di mata sang kakak. Bahu yang gemetar. Tangan terkepal yang lantas disembunyikan di kantung celana. Dan langkah gontai Shinji ditemani punggung yang baginya selalu terlihat menjauh.

Dan menjauh, hilang ditelan hutan harapan yang membeku.

No comments:

Post a Comment