Hari itu hujan deras. Seharian tiada ampun. Seolah langit
tengah menganga dan lantas dibanjuri bergalon-galon ember bocor.
Sama seperti Zen. Mulutnya menganga. Mangap lebar.
Jantungnya nyaris berhenti berdetak hampir satu detik lamanya. Kalau saja
terjadi, ia sudah bisa mengucap selamat tinggal pada dunia ini.
Bagaimana tidak? Satu bungkusan kotak berwarna merah terang
dengan pita baby pink tiba-tiba saja disorongkan padanya. Dan senyum dua orang
yang merekah. Yang satu begitu manis hingga mampu melelehkan hatinya…
… sementara yang satunya lagi, senyum jahil penuh kelicikan
yang seolah menantang Zen menghadapi penderitaan.
“I—ini… apaan—”
“Cokelat,” jawab Alena dan Aki bersamaan. Pasangan sejoli
itu lantas nyengir lebar.
“Cokelat? Kalian berdua… ngerayain Valentine?”
“Kagak,” jawab Aki, menaikkan bahu, “Alena diminta bikinin
cokelat sama kakak sepupunya….”
Kedua mata Zen memicing. Curiga. Dengan kata-kata yang di
telinganya seolah penuh tipu muslihat. “Terus?”
“Berhubung sisa bahannya banyak, ya udah deh, gue sama Alena
mutusin bikin cokelat buat lo. Lo sebenernya termasuk cowok yang suka cokelat ‘kan,
Ze?”
“Terus? Kenapa kalian kasih ini buat gue? Kenapa engga
kalian saling bikinin buat kalian aja?”
Kali ini, gadis itu yang menjawab. Wajahnya masih cerah dan
berbinar, membuat debar kesal Zen menguap seketika. Ah, selalu saja, akan
selalu Alena yang menjadi titik lemah baginya. “Engga boleh, kita ngasih
cokelat ini sebagai rasa sayang kami buat kamu, Ze?”
Dan Zen dapat merasakannya. Wajahnya panas seketika.
Tangannya terkepal erat. Ia mengumpat dalam diam. Tapi juga tidak sanggup
menyembunyikan senyum yang malu-malu menyembul manis di bibirnya.
.
.
.
Hujan sore itu sudah berhenti mengguyur. Sementara brownies
cokelat itu terbagi tiga bagian. Kertas pembungkusnya yang berwarna merah
terang dan pita berwarna manis itu telah terlupakan begitu saja. Dan di bangku
taman di sudut kampus, Zen tertawa sembari sesekali mengumpat. Ada hangat yang
memanjakan monster dalam benaknya, semanis rasa cokelat di mulutnya.
“Jadi, gimana? Rasa sayang dari gue sama Alena, diterima
engga?”
Aki dan Alena tersenyum. Bagi Zen, itu saja sudah sama
manisnya.
“… emang sialan lo jadi orang, Ki….”
No comments:
Post a Comment