20120213

Happy Unbirthday

“Jadi, minggu depan ya. Makan enak nih, gue.”

“… gue sih mau-mau aja, Ley, tapi….”

“Tapi apa, hemm? Ada yang udah bikin janji sama lo?”

“… iya….”

“Ooh…. Hah?? Siapa? Nara?”

“Bukan. Itu Ley, Andre….”

“….”

“… sorry, Ley. Nanti gue bawa pulang makanan sama kue, deh, biar seasrama juga bisa makan enak.”

“Ah, emang lo ya. Padahal kelas gue udah bakal selesai jam sebelas loh.”


****


Satu janji yang tidak pernah bisa kamu tepati. Satu senyum penuh rasa bersalah yang saat itu kamu berikan padaku. Dan satu ucapan selamat yang satu minggu setelahnya tidak sanggup aku sampaikan padamu.

Bagaimana tidak? Tepat satu hari sebelum hari ulang tahunmu, kamu malah melenggang pergi, diculik cecunguk-cecunguk sialan itu.

Aku tidak peduli dengan traktiran. Aku tidak peduli dengan makanan enak apapun yang akan kamu bawa pulang ke asrama sehabis kencan manismu dengan si dia. Aku juga sudah tidak peduli lagi dengan sebungkus boneka lumba-lumba besar yang telah kusiapkan jauh-jauh hari sebelum hari ulang tahunmu. Aku tidak peduli lagi dengan kartu ucapan yang dibubuhi tanda tangan teman-teman lain, tanda bahwa hadiah itu kami siapkan murni untukmu.

Tidak. Karena nyatanya, kamu tidak pernah kembali.

Bahkan untuk satu menit saja bertemu kembali denganku, menyapaku dengan senyum lugumu itu, kamu tidak pernah….

Nandi….

.

.

.

“Ley, boneka lumba-lumba yang waktu itu mau kita kasih ke dia, masih ada di kamu?”

“Hmm? Masih, Ndre. Kenapa? Mau kamu bawa?”

Satu gerakan kepala. Dan senyum getir yang disamarkan dengan lihai. “Engga usah. Buat anakmu aja nanti. Karena aku engga yakin, Rio bakal sanggup beliin boneka besar seperti itu kalau anak kalian nanti kepingin.”

Wajahku memerah. Aku mencibir. Andreas tertawa dan menepuk pelan kepalaku. Lalu melenggang pergi.

Dan aku? Ditinggal sendiri bersama kenangan tentang si boneka lumba-lumba biru.

Ah, rasanya aku jadi ingin menangis….

No comments:

Post a Comment