20120709

Dynasty Xan~Red Deep Sea

"Kamu nolak untuk jadi cenayang istana?"

"... yang nawarin juga engga ada."

Han Yao tergelak, terpingkal jatuh dari kursinya, melupakan mangkuk nasi dan ikan saus bawang di mejanya. Menurutnya ini sangat lucu. Seorang gadis pintar dan berbakat, selaiknya seantero negeri telah mengenalnya dengan baik, kini menolak tawarannya--sebagai pelajar senior di akademi perawatan dan pengobatan--untuk bekerja di istana. Begitu banyak tingkah tak terduga dari gadis ini, pikirnya. Dan ia suka tantangan. Apalagi menghadapi gadis ini, hidupnya terasa lebih berwarna.

Sama dengan setiap detik yang dilalui Han Yao bersama putra mahkota. Selalu berbeda. Selalu tak terduga. Bahkan sebagai sahabat terbaik putra mahkota, ia tidak pernah bisa menebak kapan waktunya sang calon raja akan tenggelam dalam gelisah politik atau tertawa setelah gagal berburu burung dara.

Sedikit banyak, gadis yang dipanggilnya hanya dengan sebutan 'Mei' ini... begitu mirip dengan Xiao Lan.

"Serius engga mau?" Nada bicara Han Yao berubah, menggoda, di balik senyum jenaka yang menawan. Namun tetap saja, Mei menggeleng untuk keseribu kalinya.

Ditambah hari ini, Mei sedang pasang wajah dingin. Wajar saja, salju pertama musim dingin baru turun beberapa jam yang lalu di ibukota, Changyuan.

"Kalau masalah susah dana, itu bisa dicariin, kok."

"Kenapa kamu maksa?"

Mata gadis itu menatap tajam iris cokelat susu Han Yao. Biasanya jika dalam keadaan seperti ini, Mei malah balas mengatainya dengan canda-canda segar, atau tanpa basa-basi menjejalkan acar buah plum ke mulut bawelnya. Namun untuk pertama kalinya, Han Yao ditodong kejujuran. Karena gadis itu lain. Tidak manipulatif. Tapi juga tidak sederhana sama sekali. Mei selalu mengukir setiap makna di dalam kata-katanya.

Dan yang terpenting, Mei tidak suka kebohongan.

Berat hati, Han Yao menghela napas. Ada semburat merah jambu di pipi. Mendadak isi perutnya serasa dijungkir balik.

"Ini klise, sungguh. Tapi aku cuma ingin kamu selalu ada di dekatku."

"... maksudmu?"

"Aku suka padamu, Mei."

****

Malam itu malam gelap bulan mati. Di salah satu balkon taman istana, Xiao Lan berdiri dengan tatapan lurus menatap langit. Mulutnya mengulas satu senyum sinis.

"Kamu, nembak Mei?"

Sahabat karibnya, dengan bekas tamparan merah di pipi, mengangguk sambil tersenyum jenaka, khasnya.

"Mau engga mau, Paduka. Tau sendiri, 'kan? Gadis yang satu itu engga suka dibohongi. Kebetulan tadi mood-nya mungkin lagi jelek, jadi saya ditodong jawaban jujur."

Seringai di bibir Xiao Lan semakin melebar.

"Terus? Ditolak?"

"Sayangnya saya ditampar dulu, Paduka... baru diterima."

Xiao Lan lantas tertawa. Sahabatnya itu pun ikut tertawa. Namun detik berikutnya, tawa Han Yao tercekat oleh suara desing tipis yang menggantikan tawa Xiao Lan. Sebuah pedang pendek, dingin menempel pada tenggorokan Han Yao.

Putra mahkota melihat, ada keringat sebesar butir jagung muncul di dahi sahabat karibnya. Padahal hawa begitu dingin, penanda sebentar lagi akan turun hujan salju.

"Kalau begitu, sekarang kamu mengaku menjadi kekasih Mei, eh, Han Yao? Satu tetes darah atau air mata keluar darinya karena kamu, maka satu sentimeter pedang ini akan menancap di lehermu."

Pemuda itu mengangguk, setengah ngeri. Xiao Lan menarik kembali pedangnya, dalam satu sapuan anggun memasukannya kembali dalam sarungnya. Tanpa sadar, tatapan mata sahabat karibnya menempel lekat, penuh tanya.

"Kenapa Paduka bersikap seperti ini--jangan bilang kalau Paduka juga menyukainya?"

"Perasaan yang kupunya terhadap gadis itu berbeda denganmu, idiot."

"... lalu, kenapa--"

Sejenak, Xiao Lan balas menatap Han Yao. Sorot mata yang sama-sama tidak bisa diartikan. Ada luka. Ada kenangan. Seakan rasanya manis dan pahit. Xiao Lan mengigit bibir. Tangannya mengepal erat.

"Karena Xiao Mei Xan, sang cenayang muda berbakat di seantero Chinling itu adalah adikku, adik kembarku, yang dibuang oleh Raja delapan belas tahun yang lalu karena tidak ingin ramalan tentang hancurnya negeri ini sampai terjadi."

Butir salju kemudian turun dari langit. Sama seperti siang tadi.

.

Dan mulai saat itu, Han Yao menjawab sendiri pertanyaan-pertanyaan menggelitik dalam benaknya. Disangkal sebagaimanapun, logikanya tetap berteriak keras-keras. Mei dan Xiao Lan begitu mirip. Bahkan terlalu mirip. Tak peduli setengah wajah Mei yang berbekas luka bakar yang bahkan entah mengapa tidak mengalihkan keelokan paras yang memiliki bentuk dan warna mata... ah bahkan bingkai wajah yang serupa.

Mei dan Xiao Lan bersaudara. Mereka kembar di rahim yang sama. Kakak dan adik yang selalu menangis dan tertawa di waktu yang sama, meski jurang takdir memisahkan keduanya dalam jarak.

Tapi itu artinya... ia sedang berpacaran dengan seorang yang sebenarnya... putri kerajaan?

Han Yao mendadak pingsan di tempat.

No comments:

Post a Comment