20121122

Swan Legend: Cygnia #prolog1

Scorpus pagi itu cerah. Derak gemeratak kereta kuda, deru mesin-mesin uap, dan derap langkah prajurit kerajaan telah terdengar dari seluruh pelosok kota. Memang, pagi hari di Scorpus tidak lagi ditandai kicau mesra burung-burung dari atap rumah… tidak, tentu saja, mengingat Scorpus adalah ibukota Kerajaan Acrusian, sebuah kerajaan subtropis di dataran Benua Demetrious yang cukup maju akan teknologi dan kekuatan militernya.

Bahkan dari pinggiran kota sekalipun, Leon dapat mendengar kebisingan kota kelahirannya itu.

Pemuda itu menghela napas. Tangan kanannya lantas merogoh arloji emas yang talinya terkait di saku kemejanya. Pukul enam pagi, dan ia sudah berada di perbatasan kota, lengkap dengan sebuah pedang tersarung manis di pinggang dan seekor kuda hitam besar gagah dengan tali kekang tergenggam sempurna di tangan kirinya.

“Hendak bertualang ke mana lagi hari ini, Pangeran?”

Leon mendongak. Salah seorang prajurit penjaga pintu masuk Scorpus, menyapanya ramah—atau malah terlalu ramah untuk ukuran seorang prajurit yang menyapa pangerannya di pagi hari.

Pangeran? Ah ya, tentu saja. Leon, atau lengkapnya Leonard von Acruxias IV, merupakan pewaris tahta Kerajaan Acrusian berikutnya. Calon raja, atau apalah itu namanya, meski sifat urakannya yang sering meninggalkan istana lantas membuat seluruh lapisan kerajaan mempertanyakan kapabilitasnya untuk menjadi seorang raja.

“Seperti biasa, mengunjungi teman di Dabien,” jawab Leon sembari meregangkan tubuhnya. “Katanya di pusat pelabuhan hari ini akan dilakukan lelang senjata antik. Menarik, bukan? Kau mau ikut, Dave?”

Dave, si prajurit itu lantas tertawa kecil, “Lelang? Pangeran jauh-jauh melintas keluar Acrusian hanya untuk lelang senjata antik? Lelang seperti itu juga ada di Ophus, Pangeran….”

“Kalau aku pergi ke Ophus, aku bisa-bisa ditangkap si guru tua itu dan dijebloskan kembali ke istana! Ayolah, Dave… beri aku kesenangan sedikit!”

“Baiklah, baiklah,” ujar Dave, masih berusaha menahan kikik tawa akibat rajukan sang pangerannya itu. Dave lantas mengeluarkan secarik kertas yang telah dibubuhi sebuah cap lambang Kerajaan Acrusian. “Ini surat untuk melewati perbatasan negara. Dan seperti biasa, Pangeran, Anda berhutang satu kepala saya di tangan Anda karena surat izin ilegal ini.”

Dengan senyum puas merekah lebar, Leon menerima surat izinnya. “Kubayar dengan satu pedang bermanik lapis lazuli, bagaimana?” tawarnya, sembari menggoyangkan kantong emas di hadapan muka Dave.

“Maaf, Pangeran… hamba sejujurnya lebih tertarik dengan tombak ketimbang pedang. Ah ya, dan hamba dengar permata sepertinya mampu memotong lebih tajam ketimbang logam.”

“… sementara harga tombak di Dabien itu berlipat kali lebih mahal daripada pedang dan kamu masih meminta permata, dasar prajurit kere tapi matre!”

“Maaf, Pangeran. Selera hamba hanya terlalu tinggi untuk seorang prajurit kelas bawah.”

“Ya ya, sesukamu saja, Dave,” potong Leon, sudah cukup bosan mendengarkan cerocos Dave tentang senjata. Toh memang pengetahuan Dave akan senjata jauh lebih matang dari Leon, tentunya sering membuat Leon sebal sendiri dibuatnya. “Oke, Dave. Aku pergi dulu. Kalau ada orang istana yang mencari….”

“Cukup bilang Anda pergi ke Dabien untuk menghadiri lelang senjata, bukan? Tenang saja, kejujuran hamba sudah menjadi mesin otomatis tahap pertama untuk menyelamatkan kepala hamba sendiri dari tebasan guillotine Paduka Raja.”

Leon nyengir, yang dibalas dengan senyum satir Dave, dan dengan lincah pemuda itu naik ke punggung kuda hitamnya, Eques. Ia menghela kudanya. Eques lantas meringkik lantang.

“Sampai nanti, Dave!!”

Leon melaju secepat kilat. Lambaian tangan dan teriakan nyaringnya masih membekas di pos penjagaan Dave. Sementara Dave hanya mendesah. Mata pemuda itu yang berbicara.

‘Ah, kelakuan calon raja….’


..oo00oo..


Pagi hari, pukul tujuh lebih lima belas menit, di Istana Acrusian….

“Pangeran? Pangeran! Pangeran Leon, Anda di mana?!”

Seluruh istana panik. Rusuh. Gempar. Meski ini bukan kali pertama sang pangeran lenyap di pagi hari buta dari kastilnya sendiri. Hulu balang lalu-lalang, para pelayan tergopoh-gopoh mencari dari satu ruangan ke ruangan lainnya. Mungkin mereka berpikir bahwa pangeran mereka itu masih merupakan bocah berumur sepuluh tahun yang hobi bermain petak umpat karena tidak mau sarapan pagi. Ya, mungkin saja.

Sementara itu di salah satu kamar, seorang gadis hanya mendecak gemas dan menggeleng-gelengkan kepala atas keributan pagi hari itu.

“Hilang lagi? Dasar otak monyet,” umpatnya pelan, membangunkan satu gelak tawa hebat dari seberang ruangan, dari seorang pemuda berparas tampan yang tengah memandang ke luar jendela.

“Jangan sebut Leon dengan sebutan seperti itu dong, adikku sayang…. Kalau dia otak monyet, lalu aku sebagai adik kembarnya punya otak apa? Otak udang? Otak sapi?”

“Otak-otak! Huh, kalian berdua sama saja! Di saat seperti ini masih tidak bisa serius.”

Lilica, gadis itu, menggembungkan kedua pipinya tanda tak suka. Sedangkan sang kakak, Lion, tetap tertawa lepas sembari berjalan menuju Lilica, mengusek habis rambut Lilica yang masih mencuat ke sana kemari.

“Justru kamu yang terlalu serius, adik kecil. Yah, memang sih… satu setengah tahun lagi adalah penobatan Leon menjadi raja, dan kelakuan malfungsinya itu masih ia gunakan di mana-mana. Satu setengah tahun memang waktu yang lama, sih….”

“Bukan itu, aku mengkhawatirkan hal lain.”

Lion terdiam. Sejenak, ia memperhatikan baik-baik raut wajah adiknya. Cemas, getir, takut. Semua tergambar dengan jelas di wajah polos Lilica. Lion tersenyum, betapa adiknya itu tidak bisa berbohong di saat seperti apapun. Begitu transparan dan nyata.

“Kamu mengkhawatirkan agresi Ursian belakangan ini?”

Dengan enggan, gadis itu mengangguk. “Memang belum bisa dipastikan serangan belakangan ini disebabkan oleh Ursian atau bukan, tapi… kalau orang-orang tahu putra mahkota Kerajaan Acrusian hobi berkeliaran seenak jidat bahkan sampai menyebrang perbatasan negara dan bermain di negara dagang… bukankah Kak Leon bisa habis dalam hitungan detik?”

“Hahaha… jangan khawatir. Leon itu ganas, disenggol sedikit pasti langsung balas membacok. Pertahanan dirinya bagus, dan Leon jago menyamar plus melarikan diri. Bukan hanya otaknya yang monyet, otot-ototnya juga mirip otot monyet.”

Namun gadis itu masih ragu. Masih terdiam. Membuat Lion lama-lama kasihan. Lilica adalah segalanya bagi Lion, kupu-kupu kecilnya yang selalu ingin Lion lihat dalam senyuman. Namun bagi Lilica, segalanya bukanlah Lion. Masih ada Leon. Masih ada ayah dan ibu. Masih ada hal-hal lain. Lion tersenyum hangat, terlalu hangat untuk hatinya yang miris.

“Makanya, kamu sekarang mandi, dan kita cari Leon sama-sama, oke?”

Barulah dengan begitu, Lion dapat melihat satu senyuman baru terbit di wajah Lilica, begitu manis.


..oo00oo..


Suara Lilica memekik, melengking nyaring dari atas kudanya.

“Pergi?! Lewat sini?! Dua setengah jam yang lalu?! Ke Dabien?! UNTUK LELANG SENJATA?!! Astaga Dave… sebegitunya kamu bosan hidup sampai berulang kali membiarkan Kak Leon menyebrang batas negara begitu saja?!”

Dave menggaruk-garuk bagian belakang kepalanya yang sebenarnya terasa gatal pun tidak. Ya, ritual lain yang hampir pasti Dave alami setiap kali pangeran mudanya itu meminta izin menyebrangi perbatasan adalah mendengar cerocos dan umpatan tuan putri kerajaannya yang tercinta. Sang putri yang polos, manis, lugu, tapi bibirnya bisa sepedas cabai bila hal-hal—yang dirasa buruk—menimpa dua calon raja itu.

Dan tentunya, adik kembar sang pangeran selalu hadir di sana untuk meredam kemurkaan sang putri kecil.

“Sudah, sudah… kamu tenang dulu. Dabien ‘kan tidak jauh, tidak sampai menyebrangi Danau Piccana. Leon akan baik-baik saja,” ujar Lion menenangkan. Dan pemuda itu kembali beralih pada Dave. “Ada lagi hal-hal lain yang Leon katakan?”

“Tidak ada, Pangeran Lion. Paling-paling Pangeran Leon hanya menawari hamba sebuah pedang bermanik lapis lazuli, yang hamba tolak karena hamba sejujurnya lebih menyukai tombak ketimbang pedang.”

“Begitu? Baiklah, kami akan mengejarnya dan menyeretnya kembali ke istana. Sore hari ini akan ada perjamuan, dan Leon sudah harus kembali sebelum tengah hari. Dave, bisa beri kami surat izin untuk menyebrang perbatasan?”

Dave mengangguk. Lagi-lagi hal yang telah diantisipasinya. Dikeluarkannya dua carik kertas yang sama seperti yang ia berikan pada Leon sebelumnya. Satu untuk Lion dan satu untuk Lilica. Lion sudah berumur sembilan belas tahun dan Lilica lima belas, sementara penduduk di atas lima belas tahun diwajibkan membawa surat izin kenegaraan apabila ingin memasuki kawasan negara lain.

Diserahkannya dua carik surat itu pada Lion. Dave lantas membungkuk dalam-dalam di hadapan Lion dan Lilica.

“Mohon maaf karena hamba telah lancang mengeluarkan Pangeran Leon dari negara ini, Pangeran Lion, Putri Lilica. Bahkan tidak mengetahui bahwa beliau memiliki agenda penting untuk hari ini. Mohon maaf yang sebesar-besarnya.”

Lion mengibaskan tangannya tak sabar, menyuruh Dave untuk cepat-cepat menegakan tubuhnya. “Sudahlah, namanya juga Leon. Kalau dia tidak begini, kurasa besok dunia akan kiamat. Meskipun, yah… sebagai teman seperguruan semasa kecilnya, kau juga tidak seharusnya terlalu memanjakannya seperti ini, Dave.”

“Hamba mengerti. Salah hamba, hamba selalu memanjakan Pangeran Leon bahkan semenjak beliau masih sering memukuli pantat hamba dengan pedang kayu setiap sore seusai latihan.”

Lion terkikik geli, sementara dengus kesal keluar dari bibir Lilica. “Baiklah. Terima kasih surat izinnya, Dave. Kami berangkat sekarang.”

Prajurit penjaga itu membungkuk hormat, sekali lagi. “Semoga selamat dalam perjalanan Anda, Pangeran dan Tuan Putri.”

Lion mengangguk lalu melompat ke atas kudanya. Ia lantas menghela kuda cokelatnya, sementara Lilica mengeratkan dekapan pada pinggangnya. Keduanya melaju, secepat mungkin, menembus hutan dan semak belukar sebagai jalan pintas yang Lion ketahui sebagai jalan tercepat menuju perbatasan Acrusian dan Capprice, kota selanjutnya, Orin.

“Dabien, ya? Aku heran kenapa Kak Leon sering sekali ke sana.”

“Wajar saja… Capprice ‘kan negara dagang bebas tanpa penguasa, hanya ada penegak hukum perdagangannya saja. Orang-orang baik dari Acrusian maupun Ursian bebas keluar masuk dan berbelanja di sana, syaratnya hanya membawa surat izin negara untuk melintas. Dan kenapa Dabien? Daripada Nashira, Dabien lebih mudah dijangkau karena Nashira terletak di seberang Danau Piccana yang membelah dua dataran Demetrious ini.”

“Hanya itu saja? Hanya letak yang strategis untuk membeli barang yang tidak ada di Acrusian? Kalau soal daratan sih, aku juga sudah belajar, Kak….”

Lion terdiam. Wajahnya terlihat berpikir, sebelum ia lantas tertawa dan membuat Lilica kebingungan.

“Ah, ya. Kalau Dabien, pasti masih ada alasan lain kenapa Leon rajin sekali mengapel ke sana.”

“… yaitu?”

Sang kakak tidak menjawab, hanya menoleh sejenak pada Lilica dengan cengiran lebar menghiasi wajah. Dan pada detik yang sama, Lilica lantas mengerti jawabannya.

“Kakak-adik Caellum, ya?”

Dan gelak tawa Lion terdengar membahana, memecah keheningan hutan belantara.

No comments:

Post a Comment