20120707

Silver Wings

Hanya lewat mimpi aku dapat menyentuhnya. Hanya lewat mimpi aku mampu membelai rambut hitam bulu gagak yang halus itu, merasakan sentuhan lembut jemari lentik itu. Hanya lewat mimpi aku sanggup mendengar gemuruh napas itu, detak jantung itu, desah itu. Hanya lewat mimpi, dan senyum itu kembali menyapaku.

Mungkin Sang Brahma memberiku kekuatan. Atau Sang Shiva memberiku pengampunan. Atau juga Sang Vishnu memberiku kehidupan.

Aku mencumbu bibir itu berkali-kali. Dingin, dan aku tak peduli. Rasa rindu tumpah-ruah dari sekujur tubuh. Kulitku beradu dengan miliknya yang kuning langsat. Dingin, dan setiap jengkal sentuhan itu terasa membakar di kulitku. Rasa cinta menari dan bernyanyi dari setiap derak tarikan napas putus-putus. Mulutku memanggil namanya. Berkali-kali.

Nandi... Nandi....

Dingin, dan telingaku menangkap suara lirih itu. Memanggil namaku. Berkali-kali.

Andre... Andreas....

... ahh....


Gelora itu menggelegak. Aku dan dirinya. Segala rasa yang sudah tak terbendung. Aku dan dirinya, menumpahkannya malam itu. Lewat mimpi yang begitu nyata. Mimpi yang memperlihatkan segala tentangnya yang tak pernah kuketahui sebelumnya.

Nandi... Nandi....

Aku mencintaimu....



.


Dan baginya, suatu pengampunan tersendiri bahwa ia dapat turun ke Bumi, merasuk sebagai roh ke dalam mimpi lelaki itu. Andreas.

Andreas. Andreas-nya tercinta.

Setetes air mata jatuh di pelupuknya. Bukan. Bukan karena rasa sakit dari cinta. Itu bukan air mata kesedihan. Air mata itu adalah tangis terakhir yang sanggup Nandi berikan pada lelaki itu. Air mata kebahagiaan. Di antara wangi peluh yang menyatu. Di antara erang yang beradu.

"Kamu menangis, Nandi? Kenapa?"

"Bukan apa-apa," jawabnya, menghapus segala kecemasan dalam sorot mata Andreas. "Aku menangis karena bahagia. Aku menangis... karena aku telah dicintai olehmu."

Lelaki itu tersenyum mendengar jawabnya.

"Tidak pernah ada kata telah bagiku, Nandi. Untuk saat ini, aku ingin kata selamanya."

Dan bibir dinginnya kembali dilumat oleh lelaki itu. Nandi tak peduli. Nandi tahu, tak ada kata yang bernama selamanya bagi mereka, insan saling mencintai yang telah terpisah jarak dan waktu. Hanya saja, Nandi ingin sepenuhnya menikmati saat itu. Belum tentu Sang Brahma memberinya lagi kekuatan. Belum tentu Sang Shiva memberinya lagi pengampunan. Belum tentu Sang Vishnu memberinya lagi kehidupan.

"Aku mencintaimu, Nandi...."

"Aku juga, Andreas."

No comments:

Post a Comment