disclaimer : Arakawa Hiromu, saya cuma numpang satu OC (original character) yang bakal muncul di akhir cerita :p
_________________________________________________________________________________
Jendral Roy Mustang duduk gelisah di kursi kulit hitam kebesarannya. Tidak tenang. Iris hitam legamnya sesekali melirik gugup, bergantian pada pintu dan jendela ruang kerjanya. Jemarinya yang selalu terbungkus sarung tangan putih bersih bermain-main di atas meja, memilin-milin pulpen atau mengetuk meja demi membuat sebuah irama janggal di telinga. Ada keringat sebesar biji jagung mengaliri dahi dan tengkuknya.
Sementara Letnan Satu kesayangannya, Kain Fuery--yang pada akhirnya berhasil naik pangkat setelah dua tahun berjibaku dengan kabel radio bawah tanah di Area Selatan--memandang cemas pada sang atasan.
"Jendral, apa... Anda baik-baik saja?"
Satu hentakan tangan--tidak sengaja, tentunya--dari Roy yang lantas membuat Fuery nyaris tersedak onderdil radionya.
"Ba--baik. Tentu saja. Aku baik, Fuery. Lanjutkan saja pekerjaanmu."
Pemuda berkaca mata itu pada akhirnya hanya sanggup menghela napas, sebelum kembali pada pekerjaannya mereparasi radio panggil di ruang sang atasan. Meski berkali-kali Fuery menangkap suara-suara aneh, gumam-gumam menggelitik, bukan dari objek reparasinya melainkan dari bibir Roy.
"... baik. Aku... baik-baik saja.... Ini bukan apa-apa.... Oke, Roy... tenang, tarik napas... tenaaangg...."
Kemungkinan pertama yang terbersit di otak Fuery: jendralnya ini sedang sembelit. Kemungkinan kedua: jendralnya ini sedang bertransmutasi menjadi wanita yang mau melahirkan. Kemungkinan ketiga: dalam beberapa hitungan ke depan jendralnya akan berubah menjadi homunculus--
"--TENTU SAJA TIDAK, ROY MUSTANG!! KAMU--TIDAK--BAIK--BAIK--SAJA!!"
Atau tidak. Menurut Fuery, Roy tidak akan berubah menjadi homunculus. Roy yang lantas menggebrak meja dan pergi meninggalkan ruang kerjanya dengan terburu-buru itu sepertinya baru saja berubah menjadi seekor chimera ganas kelaparan.
Yang Fuery tidak tahu hanyalah alasan di balik transmutasi tidak beres dari sang jendral chimera-nya itu.
***
"Umurmu sudah tiga puluh dua tahun, Jendral. Kapan kau akan menikah?"
"Sampai kapan aku harus memiliki seorang Jendral muda berbakat, tapi masih melajang? Astaga, kau mau jadi perjaka tua?"
"Ini, secangkir modal pernikahan untukmu, Jendral. Carilah gadis yang baik, atau dalam dua puluh empat jam maka satu bintang di bahumu itu akan kucopot."
Hanya saja, siapa? Siapakah gadis nan cantik jelita, berparas bagai bidadari kahyangan turun ke Amestris, yang beruntung menerima pinangannya?
Kalau saja melamar gadis itu semudah membeli kacang, maka sudah ia lakukan bertahun-tahun yang lalu.
Roy memutar otak, memaksakan sel-sel yang selama ini bekerja untuk Ishval dan Area Timur kini berganti fungsi, secara paksa. Pikir, Roy, pikir. Apa yang menyebabkannya tidak membutuhkan wanita dalam hidup? Bahkan Havoc sudah menggaet jabatan veteran menyangkut masalah gonta-ganti pacar, sementara Breda dan Falman saja bisa mendapatkan istri hanya dengan setengah tahun masa 'perkenalan'. Apa yang salah dengan dirinya. Pikir, Roy, pikir. Kenapa dirinya tidak perlu wanita?
Karena sudah ada wanita di sampingku. Wanita yang siap menembakiku kapan saja aku melenceng dari jalur hidupku. Wanita yang siap mengikuti bahkan sampai ke ujung neraka sekalipun. Wanita yang....
Roy lantas menangkap sesuatu yang salah pada laju kerja logikanya. Salah, namun menjadi jalan keluar di saat yang bersamaan. Wanita itu, dialah masalahnya.
Riza Hawkeye.
****
"Kau mencintai Jendral?"
Riza melebarkan bola matanya, bulat-bulat, membidik tepat sorot jenaka dari Brigadir Jendral Jean Havoc, pada suatu sore di meja sudut kafetaria.
Detik berikutnya, Riza hampir tertawa terjungkal. "Kau gila?"
"Ditanya malah balik bertanya. Jawab dulu, Letnan Riza Hawkeye, apakah kau mencintai Jendral Roy Mustang?"
Havoc menatapnya dalam-dalam, kali ini penuh makna. Membuat Riza sedikit merasakan panas membakar pipi hingga tengkuknya.
Tanpa pertimbangan, Riza menjawab mantap. Kepalanya mengangguk dengan anggun. Dan satu senyum puas terbit di bibir Havoc.
"Kalau Jendral melamarmu, kau akan menerimanya?"
Satu jawaban spontan yang lain. Sama mantapnya. Namun kali ini jelas menenggelamkan segala rupa ekspresi di wajah si laki-laki berambut pirang.
Riza menggelengkan kepalanya.
"Kenapa--"
"Kau tahu benar jawabannya, Brigjen Jean Havoc. Pernikahan sesama tentara dalam tubuh militer itu dilarang. Dan... apabila aku memutuskan untuk mundur dari militer, maka aku tidak bisa lagi menepati janjiku untuk terus mengikutinya hingga ke lubang neraka sekalipun."
Beberapa detik bisu, dan Havoc lantas tertawa tergelak. Riza ikut tersenyum. Meski Riza tidak melihat, Roy membeku di depan pintu kafetaria. Mendengar apa yang tidak ingin didengar logikanya. Meruntuhkan egonya.
Lalu pada siapa lagi ia harus berharap?
****
Sisa waktu Roy hanya kurang dari satu jam. Kotak beludru merah darah itu masih tergenggam erat di tangannya. Dan selama tiga jam, Roy habiskan waktunya dengan terduduk diam di sebuah kapel di sisi utara bagian Central. Roy bukan penganut suatu sekte, hanya saja kafe, rumah makan, dan markas militer sudah menjadi nuansa yang satir bagi dirinya saat itu.
Bisa saja ia menganggap main-main apa yang dikatakan Fürher. Bisa saja ia berlari. Tapi harga dirinya tidak akan pernah mengizinkannya.
Roy tertawa. Parau. Sesuatu dalam dadanya menggelegak. Perih. Bukan karena 'modal' konyol yang seenak jidat dibebankan Grumman di pundaknya. Bukan karena waktunya yang tinggal satu jam. Bukan karena itu, seorang homunculus bernama 'Putus Asa' lantas menyerang logika dan egonya bertubi-tubi.
Karena penolakan. Bukan, kenyataan.
Bahwa Riza Hawkeye mencintainya. Dan Riza telah membuat pilihan untuk selalu berada di sisinya.
Bukankah seharusnya itu sudah cukup?
Lalu, untuk apa fungsinya wanita? Wanita sebagai peneman lelahnya, pasangan hidupnya, teman hidup hingga matinya. Apa bedanya dengan Riza? Mengapa Havoc begitu berbinar setiap kali pacar-entah-yang-mana-nya mengirimkan makan siang untuknya? Bahkan dulu Hughes... ah, betapa Hughes begitu mengagung-agungkan Gracia, bahkan di tengah medan perang sekalipun.
Roy menengadah. Patung dewa dengan rambut dan jenggot panjang berdiri kokoh di hadapannya. Tak sadar, bibirnya melengkung sebuah senyum tipis, mulutnya berbisik,
Jika Tuhan memang ada, kali ini, kupikir aku boleh minta jawaban dari pertanyaan tololku ini....
"Siapa di sana?"
Sebuah suara lembut, menyapa Roy dari balik keremangan kapel. Dan suara langkah kaki yang mendekat. Roy menoleh, menajamkan matanya. Hanya untuk menemukan satu sosok berparas manis dengan iris biru safir balas menatapnya dengan teduh.
Ada satu senyum yang menyapa.
Dan Roy merasa dunia di sekelilinginya berhenti berputar.
Dan terbalik.
"Maaf, apakah Anda masih butuh pelayanan? Mungkin saya bisa panggilkan Pastor untuk memberikan pelayanan--"
"Akubutuhsecangkirpernikahan."
Iris biru safir itu mengerjap kebingungan.
"Ap--apa? Maaf, saya tidak begitu mengerti...."
"Aku... kamu. Maksudku... kamu mau menikah denganku?"
Bau manis mengambang di udara. Jarum jam dunianya yang berhenti kini kembali berputar. Lebih cepat dalam debar gemuruh yang nyata. Karena sejak detik itu, Roy tahu hidupnya tak akan lagi sama.
Roy tertawa. Parau. Sesuatu dalam dadanya menggelegak. Perih. Bukan karena 'modal' konyol yang seenak jidat dibebankan Grumman di pundaknya. Bukan karena waktunya yang tinggal satu jam. Bukan karena itu, seorang homunculus bernama 'Putus Asa' lantas menyerang logika dan egonya bertubi-tubi.
Karena penolakan. Bukan, kenyataan.
Bahwa Riza Hawkeye mencintainya. Dan Riza telah membuat pilihan untuk selalu berada di sisinya.
Bukankah seharusnya itu sudah cukup?
Lalu, untuk apa fungsinya wanita? Wanita sebagai peneman lelahnya, pasangan hidupnya, teman hidup hingga matinya. Apa bedanya dengan Riza? Mengapa Havoc begitu berbinar setiap kali pacar-entah-yang-mana-nya mengirimkan makan siang untuknya? Bahkan dulu Hughes... ah, betapa Hughes begitu mengagung-agungkan Gracia, bahkan di tengah medan perang sekalipun.
Roy menengadah. Patung dewa dengan rambut dan jenggot panjang berdiri kokoh di hadapannya. Tak sadar, bibirnya melengkung sebuah senyum tipis, mulutnya berbisik,
Jika Tuhan memang ada, kali ini, kupikir aku boleh minta jawaban dari pertanyaan tololku ini....
"Siapa di sana?"
Sebuah suara lembut, menyapa Roy dari balik keremangan kapel. Dan suara langkah kaki yang mendekat. Roy menoleh, menajamkan matanya. Hanya untuk menemukan satu sosok berparas manis dengan iris biru safir balas menatapnya dengan teduh.
Ada satu senyum yang menyapa.
Dan Roy merasa dunia di sekelilinginya berhenti berputar.
Dan terbalik.
"Maaf, apakah Anda masih butuh pelayanan? Mungkin saya bisa panggilkan Pastor untuk memberikan pelayanan--"
"Akubutuhsecangkirpernikahan."
Iris biru safir itu mengerjap kebingungan.
"Ap--apa? Maaf, saya tidak begitu mengerti...."
"Aku... kamu. Maksudku... kamu mau menikah denganku?"
Bau manis mengambang di udara. Jarum jam dunianya yang berhenti kini kembali berputar. Lebih cepat dalam debar gemuruh yang nyata. Karena sejak detik itu, Roy tahu hidupnya tak akan lagi sama.
No comments:
Post a Comment