"... iya, Aki. Aku minta, kita putus."
"Hah?! Kok tiba-tiba? Kamu sakit? Galau? Aku ada salah ya sama kamu? Kenapa--"
"Aki, dengerin dulu. Ini bukan masalah kamu ada salah atau apa. Kamu engga pernah salah apa-apa. Ini cuma... kita engga bisa bareng lagi, engga bisa."
"Iya, tapi kenapa?"
"... aku bakal ditunangin, sama calon pilihan ayah. Hari Sabtu nanti aku ketemu sama calon tunanganku itu. Maaf ya, Aki. Maaf...."
****
Akito keras-keras mendentingkan tuts-tuts piano di ruang kesenian. Hatinya gusar. Gundah. Perasaan yang ia sendiri tidak mengerti apa. Membayangkannya saja membuatnya mengigil dalam geram. Lalu bagaimana ia mau mengerti?
Semudah itu Asaka mencampakannya. Semudah itu, dan Asaka berpaling darinya, jatuh pada pelukan seorang pria yang sama sekali belum dikenal. Dan semudah itu ia menyerah. Ia tidak mengatakan apapun. Lidahnya kelu. Tengkuknya mandi keringat dingin. Akito tidak ingin mengakhiri, tapi juga tidak tahu bagaimana caranya.
Karena Asaka, yang ia inginkan hanya kebahagiaan gadis itu. Seorang laki-laki lain pilihan keluarga, Akito yakin bahwa pilihan itu akan membuat Asaka bahagia.
Tapi, benarkah begitu?
Kenyataan bahwa sensasi bibir lembut Asaka yang masih tertinggal di ujung bibirnya itu membelenggunya. Lemah. Untuk pertama kalinya Akito merasa dirinya sedang naik kapal laut yang diombang-ambing badai samudera luas. Gelap. Kosong. Ia tidak bisa melihat daratan. Ia tidak bisa melihat kenyataan.
Ia tidak bisa melihat hari esok.
Meski Akito tahu satu hal...
... seperti ini rasanya dihujam oleh cinta.
****
"Kamu... bener-bener bakal milih dia?"
Diam. Asaka tidak menjawab apapun. Hanya menunduk. Menyembunyikan tangis yang nyaris meluncur ke pipi.
Satu helaan napas dari pemuda di hadapannya itu.
"Oke, kita putus. Tapi, aku minta satu syarat."
Asaka mendongak. Matanya menemukan iris cokelat susu itu menatapnya dalam. Penuh arti. Penuh luka. Tapi juga penuh cinta.
"Syaratnya, kayak gimana pun cowoknya... kamu harus bahagia. Kamu denger aku, Asa? Kamu--harus--bahagia."
Asaka mengangguk pelan. Tenggorokannya tidak lagi bisa mengeluarkan sepatah kata pun. Bagaimana ia bisa bahagia apabila ia--andaikan seekor burung--harus berpisah dengan satu sayap yang selalu mampu membawanya terbang tinggi? Namun itu adalah keinginan Akito untuknya. Agar ia selalu bahagia, ada atau tidak ada pemuda itu dalam hidupnya.
Lantas bulir-bulir air mata itu tak sanggup lagi ia bendung. Bahunya bergetar. Asaka menangis dalam diam.
Dan detik berikutnya, yang ia rasa hanyalah bibir yang mencuri perhatiannya, mencumbu lembut di bibirnya. Ciuman pertamanya, yang penuh luka dan kata perpisahan.
No comments:
Post a Comment