“Jadi gimana, Se? Kamu udah nemu yang baru, nih?”
“Nemu sih udah, tapi….”
“… tapi? Beda agama lagi?”
“… iya.”
“Yah, sabar aja ya, Se. No offense, tapi, penganut agama
kamu di negeri ini ‘kan emang minoritas banget.”
“Ada masalah lagi selain itu, Len.”
“Hmm… yaitu?”
“Aku suka sama perempuan yang udah punya pacar.”
“Astaga Wisesaaaa!! Engga ada perempuan lain, apa?!”
“Nah itu dia, Len. Abis mau gimana lagi? Ini perempuan emang
sering banget ngobrol sama aku, baik banget sama aku, udah deket juga sama aku.
Tapi ya mau digimanain lagi? Aku deket sama perempuan ini juga karena… pacarnya
si perempuan ini ya temen baikku juga.”
….
Daun telinga Aki memerah. Genggaman di pulpennya terasa kian
erat. Sontak kepalanya terasa begitu penuh oleh percakapan menyebalkan yang ia
dengar di punggungnya itu.
Aki berbalik. Menemukan teman satu jurusannya, Wisesa,
sedang melakukan ritual curhat colongan seperti biasa pada Alena.
Mulut Aki lantas melukis satu senyum sinis.
“Se, lo engga sekalian aja pengakuan ke Alena soal perasaan
lo?”
Dan Aki tidak mau lagi peduli. Peduli dengan Wisesa yang
jelas-jelas berargumen panjang lebar menutupi tingkah kikuknya. Peduli dengan
Alena yang kemudian bertanya-tanya dengan semburat merah di pipi. Aki tidak mau
peduli.
Wisesa boleh saja jadi partner di segala tugas kuliahnya.
Tapi ia tidak sudi kalau ada lagi “Zen” lain yang menganggu hidup-damai-bersama-Alena-nya.
No comments:
Post a Comment