20140401

Re:trace #6 ~Even if We We're so Close~

A song fiction
Featuring: Konna ni Chikaku de by Crystal Kay, translated
_________________________________________________________________________________

Malam itu, di ruang belajar asrama, Andreas terpekur menatapi segunung pekerjaannya. Bundel makalah, slide presentasi, proposal kegiatan pentas seni... mungkin sudah saatnya ia memikirkan ulang mengenai sifatnya yang tidak pernah tanggung dalam menjadi panutan sosial. Jabatan ketua kelas, ketua OSIS, bahkan hingga penanggung jawab pentas seni... ya, untungnya ia tahu kalau dirinya bukan manusia biasa. Oh, ayolah, mana ada manusia normal yang tahan tidur hanya 5 jam sehari hanya karena pikiran yang disita onggokan laporan?

Andreas memilih untuk membiasakan dirinya. Beban tugas-tugas sekolah dan keorganisasian hanyalah sebutir debu dibandingkan tanggung jawab lain yang dipikulkan secara paksa di pundaknya. Hal ini menyangkut nyawa manusia lainnya. Sedikit terbersit di pikiran saja bisa membuatnya kehilangan waktu tidur 5 jam yang berharga karena dihantui mimpi buruk.

Untungnya, sebagaimana fiksi-fiksi roman yang--biasanya--akan berakhir bahagia, Andreas masih memiliki oasenya sendiri di belantara sahara rutinitas yang mengekang. Angin sejuk akan membelainya lembut setiap kali dentang suara lembut itu terdengar dari ruangan sebelah atau dari lantai bawah asrama. Kerongkongan keringnya akan serasa dibasuh bergalon-galon air suci menyejukkan setiap kali sosok itu melintas cepat di sudut matanya, membujuk mesra tatapannya untuk mengikuti ke mana gadis itu akan pergi selanjutnya.


Love is so sad
I realized it that night you were next to me
Cause better than anybody else
I know you so well


Dan jantungnya akan berlari dua kali lebih kencang setiap saat Nandi membawakan makan malam--khusus--untuknya yang hampir selalu menghabiskan malam di ruang belajar asrama.

"Masih banyak yang dikerjain, Ndre?"

"Hmm, lumayan," gumam Andreas, masih menancapkan sorot mata pada perbaikan makalah di layar laptopnya sementara hasrat mengajaknya bermain untuk memandang lekat wajah di sisinya. "Makan malem hari ini apa, Ndi?"

"Cah brokoli jamur dan tumis sosis kecap cabai hijau. Maaf seadanya, sekarang akhir bulan dan Lady belum ngasih uang belanja."

Andreas tertawa. Akhirnya ia mengalah pada jalaran rasa di benaknya. Ia melepas kacamatanya dan beralih menatap manik hijau itu. Hidungnya mendadak menangkap wangi yang dikenal namun nampak tidak biasa. "Ekstra bawang bombay?"

"Kamu tahu Nara engga bisa hidup tanpa bawang bombay setiap kali aku masak sesuatu yang ada cabainya. Aku bahkan engga paham kenapa hidung tajamnya toleran banget sama semua jenis bawang."

Ia tertawa lagi. Setelah mengucap kata terima kasih, ia mulai menyuap nasi dan lauk-pauk yang dibawakan Nandi untuknya. Nandi selalu punya waktu sendiri untuk menyiapkan sarapan, bekal makan siang, hingga hidangan makan malam a la empat sehat lima sempurna di sela-sela rutinitas sekolah. Ia tahu Nandi akan selalu terjaga lebih awal untuk menyiapkan semuanya, dibantu oleh Nara. Ia tahu bahwa Nandi akan selalu menyediakan waktu untuk memanjakan dirinya, Nara, Rio, juga Leyka di atas kepentingan yang lain.

Ia tahu. Dan desir di dadanya akan semakin menguat. Meliar. Menggeliat.


Even your casual kindness
Makes my chest tighten


"Kalau ada yang bisa aku bantu, kasih tau aja."

Kata-kata yang seolah tergelincir begitu manis dan sempurna itu hampir membuatnya menenggak bulat-bulat potongan brokoli tanpa dikunyah.

"Thanks, Nandi. Bakal lebih baik kalau kamu bisa keterima jadi anggota OSIS... tapi kamu maunya di MPS, ya?"

Gadis itu kemudian tertawa lepas. "Aku dan Nara berusaha untuk yang terbaik. Hasil akhirnya tetap di kamu, Ndre. Dan mungkin sedikit campur tangan Kak Dityo, hehehe...."

Tidak peduli masalah sekolah, masalah organisasi, sampai urusan nyawa, harus selalu dirinya yang menjadi penentu nasib, pemegang komando hingga kartu hasil akhir. Dan beban berat di pundaknya itu yang membuat Andreas tidak lagi bisa meraih hal-hal yang menjadi impiannya. Yang menjadi hasratnya. Yang menjadi keinginan dan kepuasannya. Bahkan untuk mengutarakan ribuan kupu-kupu yang melilit di perutnya... apa lagi yang harus ia bayar untuk memenuhi ego yang selalu ia kesampingkan tapi tetap tidak bisa dilupakan?

Andreas mulai merasa ingin menjadi manusia. Biasa. Saja.


****


This, this close I'm watching you
Why, why are we only friends?
No matter how, no matter how strong my feelings are
They don't reach you, you don't understand
I'm so in love in you


Sorak riuh di lapangan. Sore hari. Terik. Pertandingan persahabatan antara sekolahnya dan SMA tetangga. Andreas merasa tenggorokannya mulai panas terbakar dan pandangan di sekelilingnya berputar--

"--ANDREAS AWAS BOLA--"

BUAGH!!!

Terlambat. Bola karet yang melayang cepat dari striker sekolah tetangga itu telak mengenai pundak--

--seorang gadis berambut panjang dibuntut kuda yang jelas-jelas menghalangi tubuh Andreas dari hantaman mendadak itu.

Tiupan peluit panjang. Nyaring. Kedua bola matanya melebar dan lengannya yang sontak terjulur ke depan, meraih dan menangkap tubuh limbung itu ke dalam dekapnya.

"Nandi--oi, Nandi...!"

Kemudian satu tawa lirih, kentara menyembunyikan nyeri yang menjalar.

"Jangan maksain... kamu lagi sakit... kamu--"

"--Dityo, medik...!! Petugas medik!! CEPET ENGGA PAKE LAMA!!!"

"... Ndre, aku--"

"--udah, Nandi. Kita ke UKS dan tolong, kamu juga jangan maksain...."

Andreas tahu. Sekujur tubuhnya gemetar. Kedua lengan yang mendadak mati rasa. Kehilangan kendali bahkan hanya untuk membopong tubuh Nandi ke ruang kesehatan. Karena egonya yang menari liar untuk terus mendekap tubuh itu. Merasakan detak jantung itu. Beradu bersama detaknya yang semakin mengguruh.

Untuk pertama kalinya, Andreas tahu ia tidak ingin melepaskan.


****


Every day, every day my heart is in pain
Countless, countless sleepless nights overcome
That first, that first day we met
It'd be so great if I could return to it

I'm so in love with you


"Ndre, pertandingannya...?"

"Dilanjut. Masih ada Dityo yang ngawas. Dan Rio di lapangan udah gemes buat adu penalti."

Lalu diam. Hanya ada suara Andreas yang menenggak bulat-bulat obat demamnya dan wangi balsam dari balik salah satu bilik bersekat pembatas, dan tak lama Leyka keluar dari bilik tersebut, memamerkan dengusan kecut dan sorot tajam pada Andreas.

"Kalau sampai Nandi masih ngerasa sakit sampai dua-tiga hari ke depan, kita harus bawa dia ke dokter, atau minimal tukang urut. Tulangnya engga masalah tapi gue engga tahu sendi-sendi engsel atau ototnya ada yang kena apa engga."

"... thanks... dan maaf banget, Ley."

"Jangan minta maaf sama gue. Tuh sama Nandi. Dan nanti gue siapin kompres lebam deh, kali-kali lo jadi sasaran latihan tinju Nara lagi. Udah, gue keluar dulu, bawain barangnya Nandi ke sini."

Debam pintu yang setengah dibanting. Lalu hening lagi.

.
.
.

"...."

"... Ndi, maaf--"

"--jangan, Ndre. Aku yang minta maaf."

"... kenapa?"

"Karena kamu dan isi kepala kamu. Ada aku di sana, 'kan?"

'Ah... lagi-lagi... selalu saja....'


If I confess that, "I love you"
I probably won't be able to smile again



"Dan kenapa kamu nolong aku, Ndi? Karena memang kamu tahu ini yang akan terjadi... atau kamu memang akan selalu tahu segala hal?"

"...."

"...."

"... kita, udah sedekat ini, Ndre."

"Aku tahu...."

"Dan selamanya akan tetap ada tirai yang menghalangi, kayak sekarang kita ngobrol gini?"

"...."


The current me, who keeps pilling up
The lies to my most important person


"Ndre, harus selalu aku yang bilang kalau--"

Sraakk!!


But to continue as friends, with fake smiles
I can't take it anymore


"--stop, Ndi. Oke, aku bilang nih, ya. Sebenernya aku selama ini--"

--brakk!!

"Ayam! Abis ngapain lagi lo sama kakak gue?!"

"Woy!! Ribut sih nanti aja di asrama!! Jangan di sekolah atau gue gundulin juga kepala lo!!"

"Beke macem lo engga usah ikutan rewel atau--"

"--ya tapi lo juga engga usah apa-apa nyerang Andreas gitu sih, Ra."

"Pasangan beke, bisanya ikut campur."

"Ap--barusan lo bilang apa?!"

"UDAAAAHH...!!! Ayo pulang atau GUE BOTAKIN KALIAN SEMUA SATU-SATU...!!!"


****

No comments:

Post a Comment