Disclaimer: GoRa and GoHands
Also a little bit from K - Lost Small World
_________________________________________________________________________________
"Merah...."
Misaki menoleh pada Anna, sementara gadis kecil itu tengah mengamatinya lekat-lekat tanpa perlu mengintip dari kelereng merahnya.
"Yata... merah...."
"Oh... errr... mungkin karena aku sudah jadi... raja?"
Misaki gelagapan. Ia masih tidak suka mengucapkan kata terakhir dalam kalimatnya itu.
"Merah... seperti Mikoto...."
... eh?
Sontak tawa Izumo memecah dari balik bar, diikuti teriakan panik Kamamoto yang nyaris memecahkan gelas wine mahal dan antik koleksi pribadi sang pemilik bar.
"Tuh, 'kan, Yata-chan? Anna sudah bilang, loh... lalu apa lagi yang bisa kau sangkal?"
Misaki mendecak lidah. Semburat kemerahan mampir di tulang pipinya yang sama sekali tidak menonjol. Perlu berapa lama lagi sampai ia bisa membiasakan diri dengan titel barunya itu?
****
"Fushimi-kun, laporan pengejaran strain kemarin...."
"Ini, Ma'am."
"Fushimi-kun, dokumen tentang perdagangan senjata ilegal dari blok sembilan...."
"Sedang diunduh, Ma'am."
"Fushimi-kun, Domyouji-kun bilang kau belum menandatangani laporan yang ia kerjakan...."
"Sudah ditaruh di meja Kapten, Ma'am."
"... Fushimi-kun...."
"Iya, Ma'am?"
"... bisakah kau melepaskan pandanganmu dari layar komputer? Aku berbicara di sebelahmu, bukan dari dalam layar. Oh, bahkan kau memberikan laporanmu dengan--tangan--kirimu. Kau mulai tidak sopan, Fushimi-kun."
"... tch."
"Perlu kuberitahu Kapten Munakata tentang kondisimu supaya kau dibebastugaskan untuk menyelesaikan segala permasalahan di kepalamu itu?"
"... maaf, Ma'am?"
"Iya, isi kepalamu sedang kacau. Dan jangan kau pikir aku tidak tahu, Fushimi-kun."
... heh, jangan ngawur. Kau memang tidak tahu apa-apa, perempuan cerewet.
"Ah ya, dan jika kau sedang senggang, aku sudah menaruh pasta kacang merah dan bubur kacang hijau di kulkas kamar asramamu. Jangan lupa kau makan atau aku akan memberi porsi yang lebih banyak lagi."
"...."
"Fushimi-kun, jawabanmu?"
"... iya. Terima kasih banyak, Ma'am."
****
"Fushimi, kenapa kau memilih jalan ini?"
Kenapa? Kenapa... apakah penting untuk kau ketahui, Totsuka-san? Dan kenapa kau yang bertanya? Kenapa kau yang mengejarku dan bertanya... dan bukannya....
Oh ya. Dia sudah pernah bertanya. Hanya saja aku tidak memberikan jawaban yang sebenarnya. Aku berbohong.
Hahaha....
"Jawaban pertanyaan itu bukan untukku. Kau simpan saja, untuk kau jawab pada seseorang, suatu saat nanti."
Tch, senior hobi ikut campur yang dengan mudahnya mati tertembak calon raja gila.
Mati... kau memang sudah mati, ya, Totsuka-san? Bersama dengan Mikoto-san... sehingga dia kini harus menjadi raja.
"Fushimi, kenapa kau memilih jalan ini?"
Tch.
Sial.
Sial. Sial. Siaaaall...!!
"Kenapa... Saruhiko...?!!"
****
"Birunya... memerah...."
Kali ini Anna mengintip dari balik kelereng merahnya. Misaki hanya memperhatikan, setengah tidak tertarik, kebanyakan bosan. Yang menangkap maknanya adalah Izumo.
"Biru? Menjadi merah?"
Gadis kecil itu mengangguk. "Ia bimbang. Antara merah... dan biru. Masa lalu... atau masa sekarang. Tidak mau membuang... tapi tidak mau meraih....
"Saruhiko itu...."
Sekejap Misaki membeku, tubuhnya menggigil ngilu sebagai reaksi dari nama yang Anna ucapkan dengan lirih. Misaki tidak percaya. Tidak ingin percaya. Ia menatap Anna. Lekat-lekat. Ia ingin tahu lebih banyak akan apa yang Anna lihat. Kalau bisa, ia ingin melihatnya sendiri. Dengan kedua matanya.
Namun Anna tidak mengatakan apa-apa lagi. Ia menyimpan kelerengnya dan berjalan anggun menaiki tangga menuju kamarnya di lantai dua. Misaki terdiam, dihampiri juluran tepukan pemberi semangat dari Izumo.
"Yata-chan, terakhir kau bertemu si monyet itu, dia bilang apa?"
Ditanya seperti itu, lidah kelu Misaki tidak bisa berkata apapun, satu patah kata pun.
****
"Misaki, aku... tidak bisa."
"... alasanmu?"
"Yang kau lihat dari Mikoto-san, itu pula yang kulihat dari Kapten Munakata."
"... hanya itu?"
"...."
"Jangan bohong, Saru. Aku tahu kapan kau berbohong dan tidak."
"Karena aku tidak bisa jujur, Misaki. Aku tidak sepertimu."
"... heh. Setelah apa yang aku lakukan selama ini? Mengikutimu? Kau bilang kau tidak suka SMA karena itu aku tidak masuk SMA. Setelah kau membenci rumahmu, selalu terngiang-ngiang atas virus tentang ayahmu dan aku mengajakmu tinggal bersamaku? Bahkan setelah--setelah Aya merutuki dirinya sendiri karena tidak pernah jujur terhadapmu... sekarang kau masih melakukan hal yang sama?
"Butuh lebih banyak alasan untuk menjawab pengkhianatanmu, Saru."
"... tch."
"Saruhiko...!"
"...."
"...."
.
.
.
'Karena kau pernah jadi duniaku. Dan aku menghancurkannya dengan kedua tanganku. Karena itu aku tidak berhak menyusunnya kembali, seberapapun kau memintaku untuk melakukannya... ataupun egoku yang berteriak untuk menjadikanmu duniaku lagi... sekali lagi....'
No comments:
Post a Comment