"Hmm? Tentang apa?"
"Kenapa kamu manggil Shinji pakai sebutan 'kakak' tapi engga dengan Yuuji? Padahal secara umur, Yuuji juga 'kan lebih tua dari kamu...."
"Hmm... kenapa, ya? Kayaknya...."
"Aku tahu! Itu pasti karena kamu udah nganggep aniki sebagai calon kakak ipar kamu... bener 'kan, Lyra?"
Dari jauh, terdengar gaduh suara perabot kaca yang pecah.
****
Musim dingin. Salju belum turun. Ingin rasanya Shinji melelehkan ego langit agar salju turun dengan cepat. Atau jadi hujan atau apalah. Ia tidak tahan dengan dinginnya. Ia tidak tahan dengan hawa yang membuatnya membeku tapi ia tidak tahu apa yang menyebabkannya membeku.
Ia lalu merogoh sakunya. Umurnya memang baru dua belas tahun, tapi ia sudah berhasil mencuri satu-dua dus linting tembakau dari lemari rahasia ayahnya yang juga dipenuhi oleh minuman keras. Peduli setan dengan umur. Peduli setan dengan legalitas. Peduli setan dengan kesehatan indera pernapasannya. Tidak pernah ada yang mengacuhkan. Bahkan pasangan yang secara hukum dan norma masyarakat menuntut untuk dipanggilnya sebagai 'orang tua' itu malah menghabiskan dua puluh empat per tujuh di laboratorium dengan hasil percobaan mereka, tertawa-tawa gembira dalam permainan mereka yang menggulirkan nyawa tak berdosa sebagai dadu di atas papan taruhan.
Peduli setan. Shinji tidak mau lagi ambil pusing.
Yang membuatnya pusing, seperti biasa, adalah Yuuji. Adik kecilnya yang tidak tahu apa-apa akan dunia di sekelilingnya. Adik kecilnya yang terjerumus lingkaran setan yang sama dan tak tahu di mana pintu keluar. Adik kecilnya yang harus ia jaga dan lindungi, tidak peduli sikap sang adik yang semakin bandel dan tak tahu aturan.
Seringkali Shinji ingin meninggalkan adiknya, membiusnya, membungkusnya dalam kotak besar berpita merah terang, lalu membuangnya di taman, panti asuhan, atau tenggelamkan saja di Teluk Tokyo. Sayang, Shinji masih tidak tega.
Dan satu lagi yang membuatnya pening adalah perempuan itu. Iya. Gadis kecil cengeng yang harus disogok bunga agar tidak terus-terusan menangis.
Ah, perempuan ini. Perempuan yang entah sejak kapan sudah berdiri di sampingnya. Manik birunya menatap jauh hingga ke seberang danau... tidak, lebih jauh lagi.
"Kamu ngapain di sini? Udah malem, nanti sakit."
Perempuan itu tidak menjawab. Atau malah dirinya tidak dianggap ada di sana?
"Hei, Lyra--"
Tangannya ditepis perempuan itu. Ada sorot mata melayang ke arahnya. Sinis. Tajam. Bukan binar ceria yang biasa Shinji temukan.
Shinji terkekeh. Kepalanya tambah pusing.
"Noir, eh? Tumben keluar. Ada apa?"
"... kamu tahu?"
"Heh. Cuma orang bego dan buta macem Yuuji yang bisa sukses lo bodoh-bodohin dengan berpura-pura jadi Lyra."
Dua kepribadian dalam satu tubuh. Jiwa yang satu yang kini menjadi dua, oh, berterima kasihlah pada percobaan-percobaan gila yang dilakukan orang tuanya pada perempuan itu. Manifestasi dewa, menanam entitas dewa pada perempuan itu, atau katakanlah berbagai macam alasan lainnya agar Shinji peduli.
Mereka hanya tidak tahu. Yang tersayat ngilu bukan hanya isi kepalanya. Tapi juga sesuatu dalam dadanya.
Sementara salju mulai turun. Mencarikan kebekuan kata di antara mereka berdua.
****
"Lyra bilang, Kaho itu kakaknya...."
"Bukan. Kakak kandungnya peranakan Indo-Belanda yang sekarang tinggal di Indonesia."
"Hee... lo inget?"
"Inget. Aku inget semuanya. Dan cuma aku yang inget. Kalau Lyra tahu, dia bakal merengek pulang ke Indonesia buat ketemu sama Leyka."
"Kalian deket banget dulu?"
"Lebih deket dari Lyra sama Kaho sekarang. Dan yang deket sama Leyka itu Lyra. Engga ada urusan sama aku."
"Ada. Lo itu dia-dia juga, 'kan?"
"... kata siapa?"
"Kata gue barusan, hahahaha...!"
"Cowok bereng--"
"--ups, terlalu lambat buat nampar gue. Semakin lo marah, semakin nunjukin kalau lo sebenernya pengen disamain sama dia~"
"Aku engga--"
"--engga perlu nyangkal, Noir. Engga ada entitas dewa terus labil dan galau kayak lo. Lo harus kejam, dan ngebayangin lo kejam? Heh, bahkan semut di piring makan lo pun engga lo sentil dan malah lo turunin ke lantai dan lo biarin pergi dengan remah makanan lo."
"Tapi kamu engga tahu apa jadinya kalau aku menyerah atas eksistensi ini, 'kan?"
"Tahu. Kalian bakal jadi satu. Engga bakal ada Lyra yang sekarang tapi juga engga bakal ada lo yang kayak gini."
"... dan kamu, engga akan kehilangan...?"
"Heh. Gue udah biasa. Kalem aja."
"...."
****
"Seribu lima ratus yen, karena yang lo pecahin tadi adalah mug limited edition punya gue."
Shinji mendengus membalas uluran tangan Kaho, menagih ganti rugi mug yang ia pecahkan hanya dalam satu genggaman penuh emosi.
Shinji merogoh saku blazer seragamnya. Mengeluarkan keping-keping kuning dan menjatuhkannya di atas telapak tangan Kaho yang masih terbuka. "Tiga ratus tujuh puluh lima yen, dan itu uang gue sampai bulan depan."
"Makanya, jangan ngerokok melulu."
"Eh, sorry, semua rokok gue gratisan, dapet nyolong dari lemari si tua."
"Ya, ya, whatever," ketus Kaho seraya mengembalikan uang-uang koin itu ke saku Shinji. "Bayarnya pake jasa aja."
"Heh. Jasa apaan?"
"Jagain adik gue."
"... ha?"
"Jagain Lyra. Jagain Noir. Dari apapun. Dari siapapun. Oh, terutama dari adik lo sendiri."
"... tch. Hobi banget sih lo, ngerepotin orang?"
"Lo-nya sendiri, mau-mau aja 'kan, direpotin?"
Shinji menarik sudut bibirnya. Sebagian bangga. Separuhnya kalut dicampur gamang. Sisanya?
.
.
.
"Lyra...! Udah malem, jangan keluar--eh... oh! Err... Noir? He--hei, tunggu... kenapa kamu marah--"
--blam!!
.
.
.
"Tuh, 'kan... baru aja dibilangin...."
Shinji menghela napas. Lengkung di bibirnya belum hilang, justru semakin lebar. Ia beranjak dari sofa, membiarkan kakinya melangkah, digiring hawa dingin yang menyelimuti setiap saat salju hendak turun menyapa Bumi.
No comments:
Post a Comment