Disclaimer: GoRa and GoHands
also a song fiction
featuring Kings by Angela, translated
_________________________________________________________________________________
Worries slowly come and kiss
Tell me what's your name?
Raja Merah baru telah terpilih. Pedang Damocles merah menari-nari di langit Kota Shizume tepat delapan jam yang lalu. Sementara Fushimi Saruhiko masih belum bisa mempercayai telinganya atas informasi tak masuk akal dari atasannya yang juga diragukan tingkat kewarasannya.
“Raja Merah baru telah ditentukan. Kini kita tidak bisa lagi sembarangan menangkap anggota Klan Merah dengan keberadaan raja baru mereka,” ujar Munakata Reishi dengan datar di awal pembukaan pidato singkatnya, “terlebih lagi untuk menangkap strain di antara mereka, Kushina Anna.”
“Jadi, segala perintah untuk menangkap Kushina Anna, dibatalkan?”
Reishi mengangguk menjawab pertanyaan Awashima Seri. Saruhiko sendiri sudah gatal ingin melontarkan sebuah pertanyaan dari ujung lidahnya.
“Dan? Yang beruntung menjadi raja baru HOMRA?”
Jeda singkat. Mungkin bagi anggota Scepter 4 lainnya, wajah Reishi masih sama datarnya. Namun Saruhiko bersumpah baru saja melihat sudut bibir atasannya tertarik sekitar beberapa millimeter dengan kilat biru menyala melintasi matanya, tertancap di kedua bola mata Saruhiko.
Saruhiko juga tidak mungkin pernah menyangka bahwa jawaban yang diluncurkan Reishi satu detik kemudian akan memutarbalikkan dunianya, melontarkannya dari kenyataan untuk sampai dan mendarat pada… entahlah, ketiadaan? Kehampaan?
Yang pasti, Saruhiko tidak akan pernah kembali lagi pada akal sehatnya. Karena….
“Yang terpilih menjadi Raja Merah yang baru adalah sang vanguard HOMRA….
Deg!
“… Yata Misaki.”
Saruhiko mendadak merasa dikungkung kegelapan dan dicekik udara penuh karbondioksida.
“Raja Merah baru telah ditentukan. Kini kita tidak bisa lagi sembarangan menangkap anggota Klan Merah dengan keberadaan raja baru mereka,” ujar Munakata Reishi dengan datar di awal pembukaan pidato singkatnya, “terlebih lagi untuk menangkap strain di antara mereka, Kushina Anna.”
“Jadi, segala perintah untuk menangkap Kushina Anna, dibatalkan?”
Reishi mengangguk menjawab pertanyaan Awashima Seri. Saruhiko sendiri sudah gatal ingin melontarkan sebuah pertanyaan dari ujung lidahnya.
“Dan? Yang beruntung menjadi raja baru HOMRA?”
Jeda singkat. Mungkin bagi anggota Scepter 4 lainnya, wajah Reishi masih sama datarnya. Namun Saruhiko bersumpah baru saja melihat sudut bibir atasannya tertarik sekitar beberapa millimeter dengan kilat biru menyala melintasi matanya, tertancap di kedua bola mata Saruhiko.
Saruhiko juga tidak mungkin pernah menyangka bahwa jawaban yang diluncurkan Reishi satu detik kemudian akan memutarbalikkan dunianya, melontarkannya dari kenyataan untuk sampai dan mendarat pada… entahlah, ketiadaan? Kehampaan?
Yang pasti, Saruhiko tidak akan pernah kembali lagi pada akal sehatnya. Karena….
“Yang terpilih menjadi Raja Merah yang baru adalah sang vanguard HOMRA….
Deg!
“… Yata Misaki.”
Saruhiko mendadak merasa dikungkung kegelapan dan dicekik udara penuh karbondioksida.
****
We're attracted to each other again
Yet we'll end up comparing and insulting each other
"Saruhiko! Sudah kubilang jangan makan sendirian di halaman belakang begini!"
"Lalu? Aku harus makan di atap, mengikuti kebiasaanmu, di antara kerumunan orang berisik itu, Misaki?"
"Jangan sebut nama depanku! Dan--maksudku... kau 'kan bisa, maksudku... mengajakku untuk menemanimu makan di sini."
"...."
"Oi! Katakan sesuatu--"
No matter how many nights pass
Somewhere in this pitch black
"--kau bodoh, Misaki."
"... ap--puaaaa...?!!"
"Hehe... si bodoh."
There's a piece of myself I'm missing
So I'll search, and kiss, and destroy
****
Big wave
A twisted impulse in this tantalizing echo
Am I... shaking?
"Yata-san, selamat...!"
"Semoga bisa jadi raja yang sehebat Mikoto-san!"
"Jangan meleng lagi kalau pakai skateboard di jalan...!"
"Sebagai tanda selamat, buatkan aku nasi goreng Yata-rice... ya, Yata-san?"
"Jadi... aku harus memanggilmu dengan Yata-san atau masih boleh Yata-chan?"
Yata Misaki geleng-geleng kepala dan menghela napas pasrah dengan rentetan konveti dan komentar teman-teman satu klannya. Klan Merah. Klan peninggalan raja terdahulu, yang baginya yang terhebat, dan yang kini harus ia lindungi dengan segenap jiwa raga. Cih, memikirkannya saja membuatnya merinding. Ia tidak ingin jadi raja. Ia merasa pundaknya mendadak dibebani berton-ton karung beras.
Ia bukan raja. Ia tidak mungkin jadi seorang raja. Rajanya hanyalah Suoh Mikoto, seorang. Dan kenapa tidak Kusanagi Izumo saja yang jadi raja? Secara kekuatan, Izumo masih menjadi yang nomor dua setelah Mikoto dan dirinya hanyalah nomor tiga.
Kenapa Pedang Damocles memilihnya? Apa yang jadi dasarnya untuk menjadi seorang raja?
Dipikir-pikir... ia juga tidak pernah tahu mengapa Mikoto naik sebagai Raja Merah. Yang ia lihat hanyalah keagungan sosok Mikoto di hadapannya; wajah garang meliar dengan punggung selebar sabana dan lengan sekuat baja untuk melindungi anggota klannya... imaji yang kemudian membuatnya selalu melupakan sepenggal kalimat yang diucapkan mendiang rajanya itu beberapa tahun lalu, dalam sorot lelah Mikoto yang, saat itu, tidak ia mengerti apa artinya.
"Yata, aku tidak ingin jadi raja. Aku tidak tahu kenapa aku jadi raja. Dan aku tidak pernah berlaku layaknya seorang raja."
Tuh, 'kan? Teringat lagi. Misaki tahu hiruk-pikuk di sekelilingnya, namun raganya lelah. Baru beberapa jam ia menopang tubuhnya dengan titel baru itu, dan ia merasa sudah hidup ratusan tahun lamanya.
Ah... mungkin seperti ini perasaan Mikoto dahulu. Memilih diam namun memperhatikan satu-satu di sekeliling. Apakah ia juga harus jadi seperti itu? Mengawasi, tidak lagi bersikap gegabah... dan seakan-akan melakukan segalanya sendirian? Mikoto dulu kerap kali terlihat pergi sendiri, tanpa ditemani Izumo, Tatara, ataupun Anna sekalipun. Sendiri... padahal ia yakin Mikoto pun tahu bahwa tanpa diminta pun anggota HOMRA akan siap menemaninya ke manapun, kapanpun.
Sendiri? Seperti itukah? Haruskah raja bergerak dalam kesendirian seperti itu? Kenapa...?
"Yata-chan, Mikoto juga tidak pernah ingin jadi raja."
Ucapan Izumo membuyarkan lamunannya. Ia lalu memandang lekat-lekat segelas jus jeruk dingin yang disodorkan sang bartender padanya. Setengah berharap, tanpa harus berkata-kata, Izumo akan melanjutkan kalimatnya dengan jawaban lain yang tengah ia butuhkan.
"Dan Mikoto sadar ia tidak pernah sendirian. Bagaimana denganmu?"
Big bang
A barbaric impulse in this cold conflict
Do I press on until there's blood?
Misaki mengumpat dalam hati. Ia tahu apa yang salah. Ia tahu mengapa ia tidak bisa menegakkan kepala dengan bangga untuk menyambut julukan barunya. Ia tahu mengapa riuh di sekitarnya bisa tersamarkan-nyaris-tertulikan hanya dengan sebuah perasaan ambigu. Ya, pertanyaan terakhir Izumo itu sama efeknya seperti menghantamkan kepalanya ke tembok. Isi kepalanya jernih seketika.
Masalahnya adalah pada orang itu. Pria bodoh sekelas monyet yang seharusnya ada di sampingnya, mendukungnya, berdiri berdampingan sebagai partnernya... sebagaimana algoritma fungsi seorang Kusanagi Izumo terhadap Suoh Mikoto.
I want to make sure
I want to hold your hand
But am I... actually scared?
Cepat atau lambat, Misaki tahu ia harus menyelesaikan segala urusannya dengan Saruhiko.
****
They say we have a lot of things in common, so
I can't help but keep you in my sight
"Oi, Saru...! Itu kotak bekalku!!"
"Hmm? Oh, aku sisakan untukmu juga, kok."
"... TAPI INI ISINYA SAYUR SEMUAAAA--"
"--Misaki, itu bagian ganti rugi karena aku selalu meminum jatah susu yang tidak suka kau minum. Kalau kamu tidak mau minum susu, kapan kamu bertambah tinggi?"
"Kamu sendiri juga engga suka makan sayur...!!"
"... tch."
We're all just people who flock to a conflicting justice
And snuggle together for one last moment
"Kamu... suka sekali berperan sebagai pembela kebenaran, ya?"
"Pembela kebenaran itu keren...! Berperang melawan yang jahat, melindungi yang lemah... memangnya kamu tidak suka, Saru?"
"Tapi 'kan tidak ada pembela kebenaran yang cebol."
"Pembela kebenaran juga engga ada yang pilih-pilih makanan dan engga suka makan sayur."
"... karena aku tidak bisa jadi seperti itu...."
"Ha? Kamu bilang apa, Saru?"
"Bukan apa-apa. Oh ya, game yang kamu pesen udah sampai. Kapan mau main ke rumahku?"
"Hari ini! Langsung! Pulang sekolah! Yeaaahh...!!"
I realize the future is uncertain and the past can't be changed
So I'll search, and kiss, and destroy
****
Kedai tempura dan okonomiyaki. Orang ketiga Scepter 4 dan yang sebelumnya juga merupakan orang ketiga HOMRA berbagi meja. Tidak ada pedang. Tidak ada skateboard. Tidak ada hawa peperangan. Tidak ada agenda permusuhan.
Tidak ada Pedang Damocles Merah menari di langit malam itu.
Patah-patah kata yang kaku. "Selamat atas... err, promosimu?"
"... Saru, kamu pikir HOMRA itu sejenis lembaga pemerintahan seperti Scepter 4? Jangan bercanda. Dan... yah, terima kasih."
I want to compete againts you
I want to feel excited
Are you... secretly scared?
"Aku sudah bilang pada Raja Biru untuk menghentikan penangkapan terhadap Anna. Anna anggota kami, tidak peduli dia strain. Aku... berani menjamin tidak perlu ada yang dikhawatirkan tentang Anna."
"Hmm...."
"...."
"...."
"Oi, Saru... katakan sesuatu--"
Though we have no wounds to lick
Our prides will make fools out of us
"Katakan... apa?"
"Tch... kau tahu? Aku tidak suka situasi sulit serba canggung dan kau membuatnya jadi seperti itu...! Sama seperti ketika aku menghadapi perempuan dan...."
"...."
"Saru...! Berhenti diam dan--memakilah seperti biasa, atau mengutukiku untuk mati seperti biasa, atau--"
Can I feel? Can't you feel?
I want to know you
But I can't
And never could....
"Daripada menungguku bicara... kau punya sesuatu untuk dikatakan padaku, Misaki?"
Terdiam. Tenggelam dalam emosi. Larut dalam ego. Telapak yang digenggam erat hanya untuk dilepaskan pada akhirnya.
Satu tarikan napas. "Tidak bisakah... kau kembali pada HOMRA?"
Bibir yang melengkung, melecehkan. "Apa yang terjadi pada harga dirimu setelah kau jadi raja, Mi--sa--kiii~~?"
Dengus napas yang lain. "Peduli setan, Saru. Aku bicara bukan sebagai raja. Bukan sebagai anggota HOMRA. Aku bicara, sebagai seorang Yata Misaki...."
'... maukah kau kembali berjalan di sampingku?'
Tertegun. Penggal kalimat itu tidak perlu diucap lantang hingga didengar udara.
Life is a moment
I want to break free
Just to hug you
Senyum yang lain. Kali ini lengkungnya sederhana.
Tulus.
"Misaki, aku...."
Worries slowly come and kiss
Search, and kiss... and destroy
****
...urang lanjutin Silvery Miracles apa... biar sekalian Mikoto sama Reishi galau?
ReplyDeletekamu bikin Reishi-Mikoto, aku bagian Misaki-Saruhiko, gimanaa?? biar nampol galaunya... atau mau sekalian post di ff.net sebagai duet fict?? X3
Delete.........bisa gila sih huahahaha. tapi aku gatau kapan updatenya nih hahaha *orang labil*
ReplyDelete