Disclaimer: GoRa and GoHands
_________________________________________________________________________________
Bar HOMRA sedang tutup. Katanya merayakan satu bulan hari jadi raja kecil mereka yang baru. Padahal bilang saja hari itu Izumo sedang kehabisan persediaan alkoholnya dan Kamamoto Rikio yang diduga mengalami ritual akhir musim dinginnya... ya, ritual beruang kutub hibernasi.
"King, mau minum apa?" Izumo menawarkan raja kecilnya dengan santai, setelah membagikan sisa eggnog pada anggota HOMRA yang lain... yang tentunya sudah mencapai umur ilegal untuk mengkonsumsi alkohol.
Dari ujung ruangan, terdengar suara serak Eric Surt bergumam dalam Bahasa Inggris-nya.
"Cihuahua tidak minum alkohol, Kusanagi-san."
Maka jangan heran kalau si raja kecil, Yata Misaki, langsung menggebrak meja dan memburu Eric dengan aura merahnya yang meletup-letup.
"Kau--berhenti berbicara denganku dengan bahasa asingmu itu...!! Kau pikir aku TIDAK MENGERTI apa yang kau ucapkan, hah? HAH?! Kusanagi-san, dia tadi mengejekku, 'kan...?!"
"Yata-chan~ kalau marah-marah kau jadi makin mirip cihuahua, loh...."
"JANGAN IKUTAN NGEJEK JUGA, KUSANAGI-SAN--"
"Tapi bukannya King belum legal buat minum alkohol, ya?" tambah Chitose sambil menyeruput dalam-dalam minumannya, membuat si raja kecil menggaruk-garuk bagian belakang kepalanya.
""Heeiii... tujuh bulan lagi umurku dua puluh tahun...!" sembur Misaki, semakin kesal. Izumo lantas tertawa dan menepuk-nepuk punggung rajanya.
"Jadi, Yata-chan mau minum apa?"
Misaki terdiam sesaat, sampai ia memberikan jawabannya yang--
"... susu."
--membuat hampir separuh isi bar menyemburkan isi minuman yang telah dikulum di mulut masing-masing, ditambah Rikio yang jatuh terjungkal dari kursinya.
"Yata-san...."
"... cihuahua...."
"... minum...."
"... SUSU...???!!!!"
Lalu hening yang melanda. Antara Misaki yang mendadak kehilangan akal untuk menanggapi reaksi berlebihan para bawahan ataupun para bawahan yang tidak tahu lagi ekspresi apa yang harus ditunjukkan menghadapi jawaban maut sang raja kecil.
"Yata-chan, kamu sakit?"
Tidak butuh satu detik lebih lama lagi untuk membuat Misaki berteriak kesal dan berjalan menghentak-hentak kaki penuh amarah, kembali ke kamarnya di lantai dua. Namun tidak butuh satu menit lebih lama bagi Izumo untuk mengantarkan segelas susu hangat ke kamar rajanya... tentunya dengan menyembunyikan cengiran lebar agar wajah tampannya tidak habis terbakar emosi labil sang raja cilik.
****
Kantin Scepter 4. Benzai Yuujirou dan Hidaka Akira yang saling berpandangan dalam gugup.
"Fushimi-san...."
"... sayurnya...."
Fushimi Saruhiko menoleh. Berdecak. Meninggalkan bekas makan malamnya dan melangkah keluar dari kantin dalam langkah terburu-buru.
Cukup lima menit jeda waktu yang dibutuhkan sampai kabar burung tersebut tiba di gendang telinga Munakata Reishi.
"Jadi, kamu sudah bisa makan sayur?" tanya Reishi, tanpa nada interogasi, pada Saruhiko di ruang minum teh pribadi milik ketua Scepter 4 itu.
"Tch. Urusan Anda?"
"Tidak ada," jawab Reishi, menyodorkan segelas teh hijau ekstra pekat ke hadapan Saruhiko. "Aku hanya berpikir, perubahan signifikan ini akan berujung pada persimpangan jalan yang membawamu pada... persimpangan lain yang telah kau lalui."
"... jadi intinya...?"
Reishi menyesap teh hijaunya. Bibirnya melengkung sempurna dalam beragam makna.
"Kau mau pergi, Fushimi-kun?"
Membelalak mata. Disusul decakan berikutnya.
"Tidak berniat, Kapten."
"Tapi kau tahu separuh dirimu tertinggal di persimpangan jalan itu."
.
.
.
Decakan lain. Saruhiko menenggak cepat-cepat tehnya dan mohon pamit pada Reishi. Ia harus cepat kembali ke kamar asramanya. Kepalanya sakit. Perutnya melilit. Mungkin efek terlalu banyak makan sayuran....
... atau terlalu dalam jatuh pada masa lalu yang mati-matian tengah menggapainya untuk kembali.
No comments:
Post a Comment