20140401

Re:trace #7 ~Dear You~

A song fiction
Featuring Dear You~Cry by Yudzuki
_________________________________________________________________________________

"Oniichaaan, di manaaa...??"

Teriakan sember adik bungsunya membuat Shinji kecil menggerutu kesal. Sudah berkali-kali ia melarang-nyaris-membentak si adik untuk tidak mengekornya kemanapun ia pergi. Sudah berkali-kali pula Yuuji kecil akan berjalan masuk ke hutan kota untuk mencarinya, yang hanya akan berakhir menjadi sasaran sengatan segerombolan lebah atau serudukan kumbang tanduk yang protes kawannya terinjak.

Shinji kesal. Punya adik laki-laki tidak melulu tentang bermain perang-perangan dan tendang-kaleng sepulang sekolah. Shinji kecil pun punya ritme hidupnya sendiri. Shinji kecil sudah senang menyendiri di atas pohon, menatap biru langit di sela-sela gemerisik dedaunan yang membuatnya jatuh tertidur hingga malam menjemput... atau karena teriakan cengeng Yuuji dari kejauhan.

Pokoknya hari ini ia tidak mau ambil pusing soal Yuuji. Tidak mau. Enak saja.

Pada salah satu pohon favoritnya tak jauh dari tepi danau di Ueno Park, Shinji memanjat naik menuju dahan tertinggi dan merebahkan tubuhnya. Angin sore mulai menyapanya. Angsa-angsa danau mulai menenggelamkan paruhnya di permukaan danau dan mematuk-matuk ikan di sekeliling. Shinji kecil tersenyum.

Shinji kecil yang periang dan banyak temannya, jago bermain bola sepak dan digandrungi banyak gadis kecil di sekolahnya. Siapa yang sangka hobi lainnya adalah menikmati pemandangan hutan kota ataupun taman kota seperti ini.

Kelopaknya mulai meredup. Memberat. Ah, ia mulai mengantuk....

"Huu... huuu... hik...."

... yang benar saja. Baru ia naik ke atas pohon dan kupingnya sudah menangkap suara tangis? Secepat itukah Yuuji menyerah karena kehilangan jejaknya.

"Huuu... oneechan...."

Eh? Tadi dia bilang apa? Oneechan? Kakak perempuan? Shinji tidak ingat Yuuji pernah salah memanggilnya seperti itu.

Dan suaranya... kecil dan lembut, begitu tipis. Jauh dari suara Yuuji yang nyaring dan sember menyebalkan hingga menusuk ke gendang telinganya.

Shinji menghela napas kesal. Ia melongok ke bawah, hanya untuk menemukan seorang gadis kecil berjongkok dan menyembunyikan wajah di antara kedua lututnya, tepat di kaki pohon tempatnya bernaung. Gadis kecil itu mungkin seumuran Yuuji, atau mungkin lebih muda lagi. Pandangannya lalu mengedar ke sekeliling. Tidak ada orang. Gadis kecil itu memanggil-manggil kakak perempuannya, dan tidak ada siapa-siapa di sana.

Intinya satu. Gadis kecil itu tersesat. Tinggal Shinji menunggu ada orang lewat untuk mengantarkan gadis itu ke pos polisi terdekat atau harus ia yang turun dari pohon untuk menolongnya.

Shinji menggaruk-garuk bagian belakang kepalanya. Selalu saja berakhir seperti ini. Waktu luangnya yang terusik. Menyebalkan.

Satu gerakan, Shinji melompat dari dahan pohonnya dan mendarat tepat di hadapan gadis kecil itu.


****

The steady rising of the summer's scent
I want to feel it next to you


"Nama kamu?"

Gadis kecil itu menatapnya nanar. Manik birunya berkilat sembab dibasahi air mata.

"Hei, jangan nangis terus. Aku mau nolong kamu. Umm... kamu luka? Bisa berdiri?"

Gadis kecil itu menggeleng. Masih terisak.

"Oh, lutut kamu berdarah? Sini lihat bentar."

Gadis kecil itu ragu. Sementara bocah di hadapannya itu menarik cepat kaki kanannya dan membungkus luka di lututnya dengan saputangan cokelat susunya.

"Ayo naik ke punggungku. Aku anter kamu ke pos polisi."

Gadis kecil itu menurut. Punggung itu sama kecilnya. Tapi hangatnya luar biasa. Ia sampai melupakan isak tangis dan perih di lukanya.

"Nama kamu?"

Pertanyaan yang sama. Gadis kecil itu masih membisu.

"Aku Shinji."

"Shin...ji...?"

"Oh, bisa ngomong ternyata? Jadi, nama kamu? Jangan sampai aku harus nanya empat kali, ya."

"... Lyra...."

"Hee... kamu bule?"

"Bule...?"

"Bukan orang Jepang maksudnya."

Gadis kecil itu menangis lagi. Ia tidak bisa menjawab pertanyaan si bocah yang menggendongnya.


Please don't cry
Please listen to me
Please don't be afraid, I won't do anything


"Aaargh, kok kamu nangis lagi, sih? Cengeng banget, sama aja sama Yuuji."

"... Yuu... ji...?"

"Adik cowokku. Anaknya cengeng dan manja, kemana-mana maunya ngekor terus. Bikin pusing. Bikin capek. Kamu sendiri, punya kakak?"

"Iya. Perempuan...."

"Hoo...."

Gadis kecil itu sampai di pos polisi. Dilihatnya bocah kecil itu menyampaikan sesuatu pada polisi yang berjaga, kalimat-kalimat yang tidak begitu ia mengerti artinya. Dan ketika bocah itu berbalik hendak pergi dari pos, tanpa sadar kedua tangannya mencengkeram erat ujung kaos oblong si bocah.

"Jangan... pergi...."

"LYRAAAA~~!!!!"

"Tuh, udah ada yang nyariin kamu. Aku pergi, ya. Oh, ya... anak perempuan emang manis sih kalau pakai bunga."

Gadis kecil itu tertegun. Sorot mata si bocah memang galak pada awalnya, membuatnya takut. Tapi bocah itu juga tertawa. Hangat. Sehangat punggung kecilnya tadi. Dan ketika bocah itu berlari meninggalkannya, yang bisa ia lakukan hanyalah mengusap setangkai bunga yang bersarang sederhana di telinganya.


Please stay shining
Stay and smile here for always


****


"Kak Shinji...! Di atas sana ternyata... dicariin Yuuji, tuh!"

"Berisik, Lyra. Aku mau tidur."

"Terus...? Di atas pohon?"

"... urusan kamu?"

"Kalau Kak Shinji engga turun, aku yang naik!"

"Heh, bercanda. Mana bisa kamu manjat pohon--LYRA JANGAN INJEK DAHAN YANG ITU--"

Krakk--

--brukk!!

.
.
.


The cicadas said it was too late
But I still reach out to you
Please, believe in me


Dua tubuh beradu. Lyra sukses mendarat di atas tubuh Shinji.

"... kamu...."

"Kak Shin... maaf, aku--"

"--jangan lagi... jangan sekali-kali lagi...."

"... maaf...."

Lalu tubuhnya yang dipeluk erat Shinji. Lyra tertegun. Diamnya melayangkan ingatan pada saat Shinji kecil mengaitkan bunga di telinganya, bertahun-tahun yang lalu.


The cry of the summer
Drowns out my voice
Even a small bit is alright, please don't cry


"Kak...."

"Dasar bego. Jangan suka bikin orang lain takut.... Kamu engga apa-apa?"

"Justru aku yang harusnya tanya! Kak Shinji... luka?"

"Engga."

"Terus kenapa engga bangun?!"

"... biarin aku kayak gini, bentar...."

"...."


Please, believe in me
I want to say,
"You don't have to cry anymore."

I'll forgive you, please don't cry


"Jangan nangis. Aku paling sebel lihat kamu nangis."

"Abisnya... gara-gara aku...."

"Lagian kamu pake acara naik pohon. Ayo senyum! Aku udah babak belur gini dan masih harus liat kamu nangis, bah, mimpi buruk apa aku semalem?"

"... anak perempuan, lebih manis kalau senyum, ya? Kalau gitu... mana bunganya?"

Shinji lalu tersenyum. Senyum yang masih sama seperti empat tahun yang lalu. Senyum hangat yang sehangat dekapannya pada Lyra.

"Tch. Repot banget sih kamu jadi cewek...."


Those moments that might feel like nothing
are treasures worth more than jewels
Let this moment be enveloped in soft sunlight
and be protected for always


****

No comments:

Post a Comment